12 June 2010

Ritual Menggiring Bola “Messidona”!

BAGIKAN
Menggiring bola, bagi pesepakbola laiknya ritual dalam sebuah Agama. Mereka harus yakin gocekannya tersebut dapat mengantarkan timnya menjadi pemenang. Messidona yang terlihat malas-malasan, ternyata ketika bola sedang berada diujung kakinya akan dibawa melesat bak lesatan meteor. Tumpuan kaki “Messidona” menggambarkan kekuatan yang penuh irama. Tak heran kalau saya menyebut ritual menggiring bola Messidona sebagai bagian struktural religion football ala Argentina.  “Gaya samba” dari Brazil, misalnya, salah satu saingan terbera ritual ala pesepakbola Argentina dalam religion football ini. Anda pasti sudha tahu, ketika Maradona mendribling bola dari tengah lapang ketika melawan Inggris. Di sana, Anda akan menemukan ritual dari sang penghamba bola.

Tanggal 12 Juni pukul 20.05 WIB tim kesayangan saya, Argentina tampil melawan Nigeria. Hmm.., asyik karena tidak terlalu malam untuk dapat menonton kesebalasan yang sangat disayangi ini. Sejak tahun 1990 hingga kini, “Tim Tango” saya gemari sampai mati. Saya menangis ketika 1994 tim Argentina kalah 3-2 oleh Rumania. Waktu itu, idola saya, Diego Armando Maradona tidak main. Saya tidak tahu kenapa sang bintang tidak diturunkan oleh pelatih. Waktu itu saya menangis sambil mencaci-maki pelatih…”Bodoh…Maradona kok tidak dimainkan…”

Enam tahun setelah itu, saya baru tahu bahwa Diego – sang tangan Tuhan – tersandung kasus pemakaian obat-obatan terlarang. Hmm, pantas saja kalau Argentina tersingkir oleh Rumania yang waktu itu bermain efektif. Tidak seperti Argentina yang tampil opensif tetapi mereka kalah jumlah gol. Dan, saya rasa mereka kalah mental karena sang bintang tidak berada di sisi-Nya. Seperti halnya dalam perang suci (holy war) sebuah Agama, tanpa menyadari Tuhan berada disampingnya, maka tunggulah kekalahan.

Pada tahun 1998 saya kebetulan menonton pertandingan piala dunia di pesantren. Waktu itu, pesantren saya mengeluarkan televisi agar para santri dapat menonton rame-rame. Tahun 2002, karena saya sudah kuliah di PTAIN di Bandung, nontonnya di sekitar kos-kosan teman. Pada tahun 1998 saya masih menggilai “Tim Tango” dengan bintang lapangan Ariel Ortega. Kemudian, di tahun 2002 saya mengagumi kembali Sebastian Veron yang bermain kalem dan tenang. Gaya permainannya Eropanis banget.

Tahun 2006, saya tak bisa menjatuhkan rasa cinta saya pada Tim selain Argentina, dari negeri inilah saya menyukai gaya permainan mereka yang tampil menyerang habis-habisan. Katanya, “Lionel Messi” pada tahun 2006 bermain untuk Argentina, akan tetapi tidak mendapatkan kepercayaan dari sang pelatih. Nah, Lionel Messi saya lihat permainannya di Barcelona dan final Olimpiade dengan mengalahkan Negara Brazil. Briliaan…, saya berteriak ketika Messidona – julukan Messi – mencetak gol dari luar kotak pinalti sekeras tembakan peluru dari senapan. Dar! Wusss!!! Dan Gol…….!

Kini, tahun 2010 Argentina kembali bermain. Setelah terseok-seok pada babak kualifikasi, “Tim Tango” masih saya dukung sepenuh jiwa. Biarlah para pengamat mengatakan bahwa Maradonna dan Messi tidak akan membawa negaranya menjuarai piala Dunia. Tetapi, saya bersama kakak saya mendukung Argentina pada tanggal 12 Juni melawan Nigeria. Melihat kekuatan tim – meskipun saya tak begitu setuju dengan coach Maradonna karena tidak memanggil Cambiasso – Argentina akan mampu melewati Nigeria yang hebat-hebat dan kuat-kuat. Dengan aliran religio-footbal Argentina, warganya dan para penggemar “Tim Tango” harus meyakini kredo, bahwa Maradona ialah kekasih Tuhan yang dapat mengantarkan kemenangan. Kita lihat tarian bola percaya diri dari Messidona, yang dijanjikan akan membawa kemenangan bagi Argentina.

Mampukah Argentina mengalahkan kekuatan foot power dari negeri Nigeria? Kita tunggu saja analisa dan hasil pertandingan di RCTI, televisi yang menyiarkan pertandingan Argentina Vs Nigeria di Afrika 12 Juni nanti malam. Hahahahahahahaha
BAGIKAN

Penulis: verified_user

0 komentar: