2 July 2010

Football Wisdom; POLRI Harus Berguru pada Sepakbola

BAGIKAN
Sepak bola bukan hanya perkara menang-kalah. Bukan tertumpu pada skill dahsyat salah satu pemain bintang. Selain semangat kolektivitas-kebersamaan, sepakbola sarat dengan kearifan hidup. Bagi manusia reflektis permainan dua kesebelasan di lapangan hijau, tentunya bakal menghadirkan makna hidup (meaning of life) yang berharga.

 
Saya berhenti sejenak, ketika tim hebat di Piala Dunia 2010 bermain indah. Meskipun tim tersebut kalah, saya tak pernah berlama-lama memendam kecewa. Tak pernah menggalang massa untuk melakukan demonstrasi meskipun tim yang saya dukung dikibuli wasit. Keyakinan dan kepercayaan saya, ternyata dalam sepakbola bukan kebenaran mutlak. Berbeda dengan agama yang Anda anut. Setiap kali ada diskriminasi, baik lewat kebijakan maupun kekerasan destruktif; saya menjamin jenggot Anda akan kebakaran. Marah, anarkis, bahkan sampai melakukan tindakan chaos yang membabi buta.
 
Di dalam sepakbola, Anda memiliki keyakinan dan kepercayaan bahwa tim yang dijagokan akan menang. Tetapi, ketika kalah – Anda yang berpendidikan – akan mencoba menerima kekalahan tersebut. Piala dunia kali ini, bagi saya merupakan kumpulan kebijaksanaan hidup. Saya akan mencoba mendukung salah satu tim kesayangan sefanatis mungkin. Akan tetapi, akan menerima secara legowo ketika tim tersebut terjungkal dari panggung kompetisi. Nikmat rasanya apabila hidup seperti ini. Kekalahan dalam bentuk apa pun – bisa jagoan politik, aspirasi Anda, dan gagasan – yang tak mendapatkan kemenangan diterima secara legowo.
 
Mungkin, pejabat kepolisian yang memborong habis majalah Tempo, karena takut dikalahkan oleh media tidak akan melakukannya, kalau mereka menghayati sepakbola. Mereka akan berbesar hati kalau toh pada kenyataannya banyak anggota kepolisian yang menggadaikan seragamnya untuk kepentingan pribadi. Mereka akan menyadari bahwa dari sebelas yang menjadi pemain kesebalasan POLRI tidak seluruhnya bermain cantik. Tugas pelatih dan tim manajemen ialah memastikan bahwa pemain yang tak bermain cantik untuk didepak dari kesebelasan POLRI. Bukan lantas menutup “informasi miring” untuk membersihkan diri. Memang kita bangsa yang gandrung pada penampilan “cangkang luar” di mana kebersihan dan profesionalitas kerja hanya memedulikan tampilan luar.
 
Mungkin, alasan yang digunakan untuk memborong informasi pro rakyat dari Majalah Tempo, adalah berkaitan dengan “waham kesucian kolektif” yang mewabah pada mental pejabat kita. Di dalam kepemerintahan sebuah Negara penyakit waham ini tak selayaknya dibiarkan. Lihatlah Negara-negara luar yang berani memecat para pejabat yang terbukti mengotori profesinya dengan laku korup. Mereka telah belajat pada sepakbola, di mana ketika ada salah satu pemainnya yang tak terbukti lagi bermain efektif, akan segera diganti oleh para pemain cadangan. Keputusan tidak menggantinya adalah kesalahan terbesar untuk sebuah tim sepakbola. Pun yang terjadi pada lembaga kepolisian dan apa pun lembaga Negara yang ada di Indonesia. Tunggulah kehancuran citra ketika kemunafikan laku dibiarkan bertebaran di lembaga yang dipimpinnya.     
BAGIKAN

Penulis: verified_user

0 komentar: