17 November 2010

Kompasiana, Hadiah, dan Kultur Menulis

BAGIKAN
Ketika saya memutuskan untuk bergabung dengan kompasiana, ada satu karir kepenulisan yang saya tinggalkan. Pada tahun 2008, tulisan saya banyak dimuat di Kompas Biro Jawa Barat dan media lokal lainnya. Saya ketagihan dengan tren menulis di blog media sosial seperti kompasiana. Satu hal yang membedakan Kompasiana dengan media cetak. Ketika saya mengirim artikel ke media cetak, paling cepat artikel itu dimuat 3-5 hari sejak pengiriman. Bahkan, ada yang sampai menunggu sebulan lebih.

Berbeda dengan kompasiana, waktu itu. Saya hanya menunggu kiriman artikel beberapa menit saja. Dan, tak lama setelah itu artikel saya muncul. Kini, dengan fitur yang lebih hebat lagi; kompasiana memberikan hak pemilihan kepada kompasianer untuk menerbitkan tulisannya atau tidak (unpublished or publish). Tak hanya itu, fitur kompasiana dengan dashboard baru, yang diliris awal november ini, membuat kompasianer terangsang untuk menyutubuhi kompasiana.  Tak heran apabila sejumlah kompasianer, seperti Omjay, Kate, Nurtjahjadi, Mukti Ali, dan masih banyak lagi menjadi produktif menulis.

Inovasi tim kompasiana yang dinakhodai kang Haji Pepih Nugraha, kini menuai hasil. Ada pergeseran budaya yang saya rasakan dalam hal tulis-menulis. Dulu, sebelum bergabung dengan kompasiana, saya lebih asyik menulis untuk media cetak. Kendati saat itu, saya memiliki blog dan sering berkunjung ke laman blog kang Pepih Nugraha, karena saya sering membaca tulisannya di Kompas Cetak. Kini saya lebih asyik mempublikasikan tulisan via media daring alias online; entah itu weblog personal saya, web komunitas, atau sekadar di media yang saya rancang sekadar hobi saja.

Selama saya bergabung dengan kompasiana, selain kepuasan eksistensial; karena karya saya diakui oleh pemilik media dan pengguna media. Saya juga sudah dua kali — tepatnya beruntung — menjuarai lomba yang diadakan kompasiana.  Lomba pertama adalah tetang sepakbola dan lomba kedua tentang Bank Syariah. Hehe, jujur saja. Sebetulnya saya malu sekali. Sebab, sudah dua kali mendapatkan sejumlah materi dari kompasiana tetapi tidak pernah sowan ke Jakarta. Bukan karena apa-apa. Tetapi karena apakah saya pantas berkumpul dengan kompasianer lain di Jakarta yang pada hebat-hebat. Dalam bahasa sederhana, saya “minder” barangkali. Hahaha

Saya jarang menulis di kompasiana karena sedang membimbing junior saya di organisasi di bidang new media ini. Saya coba-coba mengkampanyekan tentang kompasiana kepada mereka. Dan, saya merasakan perasaan anak-anak muda itu. “Gampang terangsan, tetapi gampang layu juga”. Itu risiko…., sebab mereka masih dalam tahap pencarian. Mencari kepuasan dari suatu aktivitas. Dan, setelah mereka merasakan kepuasan yang nyata dari aktivitas menulisnya, insyaallah mereka akan terus bersemangat.

Dengan tulisan ini, saya hanya ingin mengucapkan terima kasih kepada kompasiana, hadiah, dan kepuasan eksistensial yang sudah saya peroleh. Mari kita ciptakan tren kebudayaan menulis secara daring. Saya berkesimpulan bahwa para blogger, penulis online, dan kompasianer memiliki kualitas keimanan yang berbeda dengan para penulis di media cetak. Kita (Kompasianer) ketika menulis tidak ada pikiran “duit” dalam menuangkan ide. Tetapi, penulis di media cetak; selain “duit” dan kepentingan material lainnya, mereka juga sering bertanya pada saya: “Menulis di internet atau blog itu berapa ratus ribu dibayarnya?”.

“Dasar penulis mata duitan….” bisik saya dalam hati.

Padahal, setiap karya yang dipublikasikan adalah cermin bagi publik. Dan, banyak kasus penulis mata duitan ini. Untuk memenuhi target keuangan segala jalan dan cara dilakukan; termasuk melakukan epigonisme dan plagiasisme. Epigon adalah meniru dengan cara mengubah struktur kalimatnya. Sementara itu, plagiasi adalah mengaku bahwa kalimat itu bikinannya sendiri. Nah, satu lagi yang saya peroleh dari kompasiana. Saya lebih memiliki khas penulisan naratif apabila dibandingkan dengan tahun 2008 yang lebih bersifat tesis-spekulatif. Dengan menulis di Kompasiana, saya juga lebih dapat menuangkan ide-ide secara sederhana. Tidak super duper memusingkan pembaca seperti yang banyak dilakukan Mahasiswa dan dosen di perguruan tinggi.
BAGIKAN

Penulis: verified_user