27 November 2018

Penjara, HAMKA, dan Al-Azhar

BAGIKAN
Aku menyisir rambut yang tergurai laiknya nyiur kelapa dengan sisir ompong berwarna kemerahan. Rambut hitam yang sedari tadi melambai-lambai kini terlihat mengkilat dan setia mengarah ke kiri dan ke kanan membentuk simbol cinta. Kalau saja diolesi minyak rambut LaVender warisan ayahku pasti terlihat seperti Alpacino yang terkenal itu. Ya, andai saja tak ada merek minyak rambut selain Lapender, maka hingga hari ini aku akan memakainya setia sampai mati.

Untungnya kini terdapat banyak merek minyak rambut. Dan, jujur saja; sejak aku menjadi mahasiswa tak pernah memakai minyak rambut. Selain ribet bin susah; aku juga tak mau ambil pusing mengeluarkan biaya buat rambutku. Biarkanlah rambut ini tumbuh sesuai kodrat Ilahi. Soal ketombe. Itu adalah soal estetika dan seni Ilahi. Biarlah Dia bermain-main dengan rambutku. Toh, ada beragam merek shampo cukup terkenal yang siap menyelesaikan pekerjaan. Cukup dengan 500 rupiah dan rambutku sudah bersih dari ketombe.

Kemudian kulihat bentuk wajahku. Hatiku berbisik, alhamdulillah, ternyata Tuhan masih memberikan anugerah dan kenikmatan tak terkira. Lubang hidungku masih mengarah ke arah bawah. Coba saja kalau lubangnya menganga ke atas. Boleh lah kalian bayangkan kalau aku akan kelimpungan menjaga agar hidungku ndak kemasukan air hujan. Tapi teman disampingku unjuk pendapat, “pake payung saja bos”.

Selesai bercermin, aku pergi ke warung untuk membeli panganan kecil, kopi hitam, dan beberapa batang rokok. Kemudian ku lihat matahari hari ini dari jalanan. Terlihat malu-malu dan agak pelit bersedekah karena tak seperti biasanya; matahari unjuk rasa tak mau memberi cahaya. Ndak tahu marah atau kesal dengan manusia. Yang pasti hari ini cahaya matahari terlihat sedikit saja. Hanya mendung kelabu brader!
***
“Sampurasun…”

“Rampes…” jawab temanku, yang tadi mengusulkan untuk membawa payung ketika air hujan turun. Sayang sekali, usulnya tak pernah ku gubris. Sebab, lubang hidungku masih mengarah ke bawah.

“Dari mana saja euy?” lanjutnya sambil membuka halaman Koran Kompas.

“Udah tahu nanya. Dasar urang Sunda. Senangnya basa-basi.”

Temanku hanya “seri koneng” karena begitulah kondisi sebenarnya. Suku yang terkenal senang basa-basi adalah suku Sunda. Ketika menawari makanan saja, hanya di mulut. Tapi tidak semua orang Sunda begitu. Aku termasuk urang Sunda yang tak senang berbasa-basi. Kalau punya uang dan kesempatan akan kutawari. Tetapi giliran sedang bokek, berubah menjadi manusia sombong.
***
Hari ini aku berjumpa lagi dengan HAMKA lewat Tafsir Al-Azhar jilid satu. Tak tahu berapa jilid jumlahnya, yang jelas aku mendapat kabar bahwa tafsir tersebut disusun ketika beliau sedang mendekam di penjara. Gaya penafsiran HAMKA menggunakan model tafsir tematis dan kontekstual. Inilah yang mengakibatkan aku sedemikian mengagumi tafsir beliau.

Bayangkan. Pengapnya penjara, kotor, jorok, sempit, dan tak ada fasilitas mesin tik ternyata tak menghalangi HAMKA untuk berkarya. Ketika dirinya dijenguk sang keluarga, kerabat, dan sahabat; ia selalu memesan dibawakan buku dan kitab. Beliau tidak meminta amnesti dari pemerintah. Di tengah sepi dan gelapnya malam, di dalam penjara dia merenung dan memeras pikirannya untuk bertafakur membedah kehidupan yang hipokrit.

Ia kemudian mengingat kisah tragis ulama pujaannya, Syeikh Ibn Taimiyah, yang menghasilkan karya berupa kitab dari balik terali besi. Motivasi berkhidmat untuk umat dan bangsa menyeruak ke alam karsa Buya HAMKA. Dari sanalah keinginan menyusun kitab tafsir hadir kembali setelah bertahun-tahun beliau tak memperoleh kesempatan untuk menyusunnya.

Seperti yang beliau ungkapkan dalam sebuah karyanya, “Apa jadinya pabila aku tak mendekam di penjara. Sangat boleh jadi Tafsir Al-Azhar tak akan pernah aku selesaikan. Terima kasih karena Engkau telah memberikan tempat yang sepi dan intim untuk menyusun ilmu pengetahuan Islam dengan mengkaji ilmu-Mu.”

Setelah ia merasa putus asa, ternyata keimanan HAMKA mampu mengalahkan bisikan untuk bunuh diri dari Syetan terlaknat. HAMKA berbeda dengan Socrates, sang filsuf Yunani Kuno, yang memandang bunuh diri sebagai jalan untuk mengakhiri hidup. Coba bayangkan, bisik HAMKA, kalau saja Socrates tak melakukan bunuh diri. Sudah dapat dipastikan karyanya bisa dinikmati hingga kini. Tidak seperti yang dikabarkan Plato dalam berbagai karyanya. HAMKA adalah sang pemegang teguh optimisme dalam hidup. Bukan pemegang filsafat hidup pesimisme seperti yang diajarkan Schopenhuer.

Mulai sejak itu, HAMKA menekadkan diri bahwa penjara bukan akhir dari kreativitas. Bukan akhir dari semangat berkarya. Dan, bukan akhir dari dirinya sebagai manusia. Penjara, demikian tekadnya, mesti menjadi tempat untuk merenungi segala laku pada masa lalu hingga dapat melihat masa depan dengan cerah benderah.
***
HAMKA…..Kini, setiap ku baca karyamu, selalu kusempatkan untuk menciumi sampul bukumu. ku selami pengalaman hidupmu. Ku telusuri jejak langkahmu. Ku simpan setiap wejanganmu yang berharga ini. Ku hormati segala gagasanmu…, HAMKA. 

Dan….., ku sisiri kembali rambutku yang mulai memanjang tak beraturan. Ku semproti badanku dengan parfum kembali karena baunya minta ampun…!
BAGIKAN

Penulis: verified_user

0 komentar: