7 February 2018

Ibu Itu Seperti Madrasah bagi Anaknya!

BAGIKAN
RENTANG masa perkembangan anak mestinya dipenuhi kegembiraan, sehingga berpengaruh positif bagi jiwanya. Akan tetapi, kecemasan dan ketakutan anak-anak sekarang hadir di mana-mana. Di sekolah, di jalanan, bahkan di rumah yang dihuni orang tuanya sekalipun. Kak Seto, dalam suatu kesempatan pernah mengklaim bahwa kekerasan terhadap anak yang dilakukan orang tua mencapai angka 80 persen. Saya pikir, ketika anak-anak akrab dengan kekerasan, ancaman kehilangan jati diri, kepercayaan, dan kemandirian dalam dirinya akan menghilang.

Maka, menciptakan lingkungan yang menentramkan anak-anak adalah keniscayaan yang tak bisa ditawar-tawar. Sebab, tanpa situasi tentram dan tenang; anak akan merasa tertekan sehingga berakibat pada terganggunya perkembangan jiwa. Jangan heran jika pribadi anak di masa mendatang akan memantulkan laku yang keras dan otoriter. Ia akan berubah jadi warga keras, tidak toleran, pendendam, dan antisosial. Bahkan, fanatisme berlebihan terhadap keyakinannya sehingga menyelesaikan konflik dengan cara-cara yang mengarah pada kekerasan.

Kekerasan terhadap anak secara fisik atau psikis, adalah perilaku masyarakat jahiliyah dan tidak berbudaya. Melakukan kekerasan sangat berbahaya bagi perkembangan jiwa anak dan harus kita redam. Mencaci, berkata-kata kotor, tidak sopan, dan menjewer anak akan membentuknya jadi seorang anak yang tidak disiplin. Paling berbahaya lagi, kekerasan fisik dan psikis terhadap anak akan melahirkan suatu generasi yang menyelesaikan sengketa dengan kekerasan juga.

Ibu dan lembaga pendidikan memiliki peran yang hampir sama dalam dunia anak-anak. Setiap anak yang lahir ke muka bumi, tak bisa melepaskan diri dari dua penentu kehidupan tersebut. Seorang ibu mengandung, melahirkan, membimbing, dan mendidik anaknya hingga dapat hidup mandiri. Pun demikian dengan pendidikan. Hampir sama dengan peran seorang ibu; lembaga pendidikan di tiap jenjang (SD, SMP, SMA, dan Perguruan Tinggi) juga berharap mewujudnya kemandirian pada setiap anak didik.

Tak salah kiranya keberhasilan warga negeri ini mengenyam pendidikan hingga perguruan tinggi, ditentukan tingkat kepedulian seorang Ibu atas dunia pendidikan. Dengan kasih dan sayangnya, seorang anak merasakan ketenangan dan ketentraman ketika mengarungi hidup. Betapa besar peran ibu dalam kehidupan seorang anak, hingga ada pepatah mengatakan, al-ummu madrasatun (ibu adalah tempat belajar atau sekolah).

Sekolah di sini artinya ialah pendidikan informal yang memengaruhi karakter, kepribadian, wawasan, life skill dan sikap hidup seorang anak di masa mendatang. Karena itu, semangat belajar seorang anak terletak pada kepedulian ibunya terhadap pendidikan. Peran ibu bagi anaknya bagaikan akar pohon yang menumbuhkan pepohonan hingga tinggi menjulang.

Kebaikan sikap, pengetahuan luas, dan kebijaksanaan seorang anak di masa depan – dalam perspektif behaviorisme – ditentukan lingkungan keluarga. Dalam hal ini, seorang ibu adalah lingkungan pertama yang menentukan kultur, psikologi, keberagamaan, interaksi sosial dan wawasan-pengetahuan anak. Pun begitu, sebagai lingkungan terdekat dengan anak, seorang ibu juga menentukan pandangan anak terhadap pentingnya menimba ilmu di lembaga pendidikan.

Karena itu, menjadi keniscayaan bagi seorang ibu memperkaya anaknya tentang wawasan pendidikan. Sebab – tanpa menapikan peran seorang Ayah – yang paling banyak berinteraksi dengan anaknya ialah sang ibu. Mendidik dan membimbing anak bagi seorang ibu merupakan misi suci yang harus dipegang kuat dalam paradigma pendidikan di rumahnya. Rasulullah Saw. pernah menjawab pertanyaan sahabat tentang siapa yang wajib ditaati dan diprioritaskan dalam hidup dengan menyebut tiga kali kata “ibu” lebih banyak ketimbang kata “ayah”.

BAGIKAN

Penulis: verified_user