29 November 2018

Santun Berislam Kunci Kedamaian

BAGIKAN
MENJALANI kehidupan di tengah perselisihan, pertengkaran, peperangan, dan kecamuk nafsu egois memang sangat menjengahkan. Pluralitas menjadi patologis dalam pandangan warga. Kebenaran (al-haqq) didominasi kaum mayoritas, yang kadang mengejawantahkan arogansi pikir, sikap, dan laku. Manusia yang sejatinya selalu mendamba kedamaian membumi di kehidupan sehari-hari tak lagi memenuhi setiap ruang di kedalaman jiwa.

Kita menjadi manusia yang merasa paling benar dan paling shaleh; paling layak memonopoli ruangan mewah nan indah di alam surgawi. Bahkan, Tuhan yang paling berhak menunjuk apakah seorang hamba layak memasuki surga ataukah tidak; digantikan secara paksa oleh kepongahan kita. Singgasana peradilan Tuhan direbut manusia yang berteriak “Akulah yang Maha benar” di medan kehidupan hingga tidak menyisakan ruangan untuk peace, shalom, shanti, dan salam, seperti yang diajarkan dalam Kekristenan, Yudaisme, Hindu, dan Islam kepada para penganutnya.

Islam mengajarkan umatnya untuk meluapkan kesantunan dalam aktivitas hidup. Kedamaian merupakan Realitas Ilahi yang membumi karena memantulkan keindahan mutlak yang bermuara dari kebenaran Ilahi (al-haqq). Kedamaian, harmonitas atau ketentraman berarti wujud Tuhan di muka bumi. “Tiada ketentraman kecuali di dalam Kebenaran Ilahi (al-haqq)”, ujar Rumi. Karenanya, ketika seorang manusia mencoba menghancurkan kedamaian, harmonitas, dan ketentraman; mereka berarti telah menghancurkan realitas Tuhan di muka bumi.

Kedamaian ialah hasil dari upaya perdamaian yang diupayakan umat manusia. Namun, karena manusia kerap mengklaim kebenaran secara “hitam putih” akibatnya lahirlah kekerasan dan penyesatan yang mencederai kedamaian dan perdamaian itu sendiri. Kebenaran beragam wajah dan plural bentuknya. Bukan milik manusia yang serba terbatas, serba emosional, dan rentan terganggu saluran ketika berkomunikasi (noise) dengan teks-teks keagamaan. Kebenaran merupakan potret keindahan ilahi, yang sejuk dan tenang serta damai (salam); sehingga tidak pernah menyisakan ruang untuk kebencian dan kekerasan.

Di dalam Al-Quran dan sebuah hadis Nabi, para penghuni surga diriwayatkan selalu mengucapkan salam atau damai di dunia maupun di akhirat. Kaum Sufi Asia Tengah menyebutnya dengan perdamaian universal (shulh-i kull), yang diraih ketika dualisme, kondisi berlawanan atau ketegangan bertemu (coincidentia oppositorum).

Kedamaian yang dihasilkan dari berislam ini perwujudan dari nama Allah, as-salam, yang berarti pemberi kedamaian karena Dia adalah sumber keindahan dan kebenaran. “Dialah yang telah menurunkan ketenangan (al-sakinah) ke dalam hati orang-orang mukmin.” (QS. Al-Fath [48]:4), yang menginisiasi seorang hamba memancarkan kedamaian berbalut rahmat yang bersifat surgawi. Terma sakinah sinonim dengan shekinah, yang menurut Kabbalis, berarti kedamaian bersifat surgawi dan berpadu dengan rahmat, karena Allah ialah sumber langsungnya. (Seyyed Hossein Nasr, The Garden of Truth, Mizan, 2010: 105-107).

Karena itulah – meminjam istilah Seyyed Hossein Nasr – keberislaman yang hakiki ialah keberislaman yang mengaktualkan rahman dan rahim Allah, di mana kesantunan sikap, pikir, dan laku lampah merupakan visi kebumian yang diemban seorang muslim. Fenomena ISIS dan bermunculannya umat Islam intoleran, merupakan wujud dari patologis keberislaman, karena mereka menjustifikasi kekerasan dengan balut teks yang sudah menjadi ideologi.

Kekerasan atas nama apapun kalau tidak ditanggulangi secara proaktif akan menjadi bom yang dapat meletus kapan saja dan merusak praktik hidup berbangsa dan bernegara. Keberlainan yang niscaya dimiliki bangsa-negara (nation-state) dipandang sebagai “anomali sosial” yang harus diberantas.

Saya pikir, ketika umat atau bangsa tidak meyakini, tidak mengakui, tidak menghargai dan tidak memelihara keragaman; kekerasan akan menjalar di tubuh bangsa. Akibatnya, arogansi laku bakal mengotori Indonesia yang plural, majemuk, dan dihiasi keberbedaan.

Secara kemanusiaan setiap agama tidak pernah melegitimasi praktik kekerasan. Apalagi dalam konteks keragaman yang menghiasi negeri ini. Si “liyan” adalah fartner yang mesti diajak bekerjasama melakukan kerja praksis emansipatoris dalam membebaskan bangsa dari impitan ekonomi yang menyengsarakan.

Kebajikan itulah, saya pikir, yang masih bisa menyatukan kita!

Jalan menuju kebenaran memang beragam dan kita sebagai manusia sejatinya tidak mudah mengklaim bahwa kebenaran mutlak ialah milik kita, sedangkan pemahaman orang lain sesat dan menyesatkan. Kesadaran bahwa perbedaan merupakan anugrah tak terkira dari Tuhan mesti dijaga dan dipelihara demi terwujudnya kedamaian di negeri plural Indonesia ini. ***
BAGIKAN

Penulis: verified_user