8 February 2018

Waspada Dunia Maya akan Semakin Gaduh

BAGIKAN
KINI, ketika layanan internet merasuki aktivitas kehidupan. Kita seolah menciptakan fragmen kehidupan menjadi: realita dan maya. Bahkan, bagi sebagian orang aktivitas dunia maya telah menjadi realita mengeksiskan diri. Eksis dan non-eksis diukur melalui intensitas keaktifan diri yang narsis di situs jejaring sosial seperti upload photo, update status, kirim tautan, men-tag catatan, dan mengomentari status di wall profil pengguna lain.

Entah itu di situs facebook, twitter, koprol, linkedin, Hi5, dan platform jejaring sosial lain yang kini tengah menjamur di dunia maya. Gossip seputar aktris, misalnya, kini tak hanya dapat disaksikan di televisi. Akan tetapi merambah hingga ke media internet. Irfan Bachdim, Gonzales, dan timnas Indonesia pernah menjadi perbincangan hangat (trending topic) di situs microblogging twitter.

Rahma Azhari juga sama. Bahkan lebih heboh lagi, karena dirinya berbagi link photo syur dengan, Mcmenemy, pelatih Timnas Filipina di sebuah Bar yang sempat menghangatkan suasana mayantara. Syahrini juga, baru-baru ini menuai popularitas ketika photo dirinya dengan seorang pria dipublikasikan di internet. Inilah yang disebut dengan “era cybertainment”, yang kerap menghebohkan dan mengalihkan kesadaran warga atas kenaikan BBM serta kebutuhan pokok.

Kehebohan di dunia maya ternyata menguntungkan kebijakan pemerintah. Ada semacam peralihan konsentrasi rakyat terhadap peneluran kebijakan pemerintah yang tidak pro-rakyat. Efektivitas demonstrasi, yang dulu sempat menjadi senjata terakhir dalam menentang kebijakan pemerintah, kini seolah tak berfungsi efektif. Gerakan massa pun, dikalahkan gegap gempita gerakan-gerakan mayantara pada isu-isu narsistik, entertaint, selebrasi, dan hedonis.

Dalam bahasa lain, bangsa ini seolah tak peduli dengan penindasan struktural yang dilakukan di dunia nyata. Akibatnya, rancangan kebijakan pemerintah dapat melenggang tanpa melewati sensor kerakyatan karena kita asyik mengakses informasi yang menghebohkan itu.

Coba buktikan, seberapa ramaikah topic perbincangan di twitter yang mengangkat isu-isu kebijakan pemerintah yang tidak pro rakyat?  Saya menjamin, isu tersebut tidak akan direspon dan tidak marketable di mata pengguna, sehingga tak pernah menjadi “trending topic”. Realitas ini mengindikasikan generasi muda – karena notabene pemilik akun adalah kalangan muda – meminjam terminologi Paulo Freire, terjebak pada kesadaran magis dan bahkan kesadaran semu.

Mereka terninabobokan kehebatan arus informasi yang cenderung mengeksplorasi kenarsisan, keartisan, dan popularitas seseorang. Alhasil realitas keaslian hidup warga miskin direpresi ke alam bawah sadar.  Inilah konsekuensi telah merajalelanya cybertainment di dunia maya, di mana marketing khas keartisan merasuki internet untuk membuat kita amnesia. Melupakan penderitaan orang di sekitar, karena kita lama terbuai keindahan mayantara.

Padahal secara psikologis kepribadian mayantara merupakan manifestasi dari kehidupan asli dirinya di dunia nyata. Sigmund Freud, misalnya, menawarkan metode “asosiasi bebas” dalam menerapi pasiennya untuk menyembuhkan kesakita jiwanya. Dengan menerapkan langkah-langkah “katarsis diri”, apa yang ada dibalik jiwa individu dapat diekeluarkan ke permukaan alam sadar.

Dalam konteks berjejaring di situs social network, update status, upload photo, komentar, dan menulis catatan merupakan satu bentuk katarsis kejiwaan. Segala kekesalan, rumitnya persoalan hidup, dan suasana jiwa dapat dilihat dari profil pengguna jejaring sosial. Tak heran ketika Rahma Azhari membagikan link photonya di twitter, dan seorang fans member komentar “kurang hot”, ia kembali membalasnya dengan enteng, “Mau….? Upload nggak ya?!!!”.

Nah, ketika para pengguna internet lebih asyik menjelajahi kehidupan di dunia manyantara. Kemudian melupakan realitas asli penderitaan sesamanya di alam nyata. Hal itu merupakan satu bentuk represi semangat kemanusiaan – sebagai inti kehidupan – dengan menenggelamkannya di alam bawah sadar. Dalam posisi ini, kebijakan diskriminatif terhadap kalangan lemah dapat dikalahkan dengan popularitas yang hanya mengantarkan kenikmatan personal. Sehingga terbentuklah kesadaran magis dan kesadaran semu dalam diri setiap warga kota, yang berakibat pada langgengnya laku menindas dari aparat struktural negeri ini.

Mungkin, mengakhiri tulisan ini, kita sejatinya menggenjot diri agar memiliki kesadaran kritis (critical consciousness) ketika menggunakan, memanfaatkan, dan mengeksplorasi segala media yang hadir saat ini. Ketika kita tidak bersikap kritis terhadap informasi yang diberikan oleh media tentunya keaslian sebagai manusia akan tenggelam. Bukankah, keaslian diri sebagai manusia itu dalam agama dijelaskan “Individu yang bermanfaat bagi orang lain”? kalau begitu, manfaatkanlah media yang hadir di internet untuk kemashlahatan orang banyak. Wallahua’lam
BAGIKAN

Penulis: verified_user