Showing posts with label Agama. Show all posts
Showing posts with label Agama. Show all posts

17 December 2018

Memberi Itu Harus Memberdayakan

Memberi Itu Harus Memberdayakan

“Hai orang-orang beriman, janganlah kamu menghilangkan (pahala) sedekahmu dengan menyebut-nyebutnya dan menyakiti (perasaan si penerima), seperti orang yang menafkahkan hartanya karena ria kepada manusia dan dia tidak beriman kepada Allah dan hari kemudian. Maka perumpamaan orang itu seperti batu licin yang di atasnya ada tanah, kemudian batu itu ditimpa hujan lebat, lalu menjadilah dia bersih (tidak bertanah). Mereka tidak menguasai sesuatu pun dari apa yang mereka usahakan; dan Allah tidak memberi petunjuk kepada orang-orang yang kafir,”  (QS. Al-Baqarah [2]: 264).

PERILAKU mulia nan indah tapi serasa sulit dilaksanakan ialah “memberi”. Berbeda dengan menerima. Setiap orang pasti berebut bila saja mengurusi segala hal yang berkaitan dengan penerimaan. Entah itu ketika menerima jabatan, harta kekayaan, atau materi yang disedekahkan orang lain.

Di dalam Islam, amal kebajikan yang tinggi ialah praktik memberi melalui perintah zakat, infaq dan sedekah. Bahkan, memberi tidak harus menunggu kita menjadi orang yang kaya raya. Ini telah dicontohkan oleh panutan umat Islam, Rasulullah SAW, sepanjang hayatnya. Betapa tidak, saking gemarnya memberi, baginda Rasulullah sampai menangis saat menyaksikan seorang yatim dan miskin terlantar di jalanan. Beliau pun dengan sigap langsung menawarkan istrinya, Aisyah, untuk menjadi ibu angkat bagi anak yatim yang terlantar tadi.

Bahkan, tak jarang demi kegiatan memberi ini, Rasulullah SAW rela mengganjal perutnya dengan batu kerikil untuk menahan lapar. Padahal, manusia sekelas Nabi, bukan tak punya makanan. Tetapi makanan itu diberikan kepada fakir miskin.

Di dalam ayat di atas, setinggi apa pun keinginan untuk memberi tetap saja kita sebagai pemberi perlu mengindahkan perasaan hati si penerima. Memberi dengan cara menghardik atau memamer-mamerkan apa yang telah kita berikan merupakan perilaku yang dapat mengundang rasa sakit hati si penerima. Karena itu, alangkah bijaksana apabila memberi dilakukan dengan niat ikhlas, menolong orang ke luar dari rasa sedih, khawatir, dan resah. Inilah yang membuat perilaku memberi menjadi tidak mudah. Sebab, sedikit saja tergelincir dari niat, kita malah akan terjebak pada perilaku riya (ingin terlihat baik oleh orang lain).

Praktik memberi laksana matahari menyinari bumi. Bayangkan, dengan cahayanya yang kadang terasa menyengat, matahari melepaskan seluruh makhluk bumi dari ancaman kematian. Tanpa matahari, alam semesta akan kehilangan energi yang mampu memberikan kekuatan untuk bergerak. Hebatnya, sebanyak apa pun matahari melepaskan cahayanya, ia tak pernah meminta balasan.

Dalam konteks filantrofis, maka si penerima, kurang pantas jika menolak pemberian orang atau meminta lebih dari apa yang orang lain berikan. Sebab, menolak rezeki lewat tangan orang lain juga tidak disukai oleh Rasulullah. “Janganlah me­nolak permintaan seseorang, walaupun kamu melihatnya memakai se­pasang gelang emas,” begitulah salah satu sabda Rasulullah SAW.

Hanya, satu catatan perlu diingat; jangan sampai membuat orang keasyikan dengan kebiasaan menerima pemberian. Sebab, dalam ajaran Islam, praktik meminta-minta tidak begitu disenangi. Rasulullah Saw. berwasiat: “Siapa yang meminta guna memper­banyak apa yang dimilikinya, maka se­sungguh­nya ia hanya mengumpulkan bara api (ne­raka).” Karena itu, pemberi yang baik adalah pemberi yang sekaligus mampu memberdayakan si penerima hingga mampu hidup mandiri, seperti matahari.

Hal ini dikatakan Moeslim Abdurrahman dalam bukunya Islam sebagai Kritik Sosial (1996: 41) sebagai Muslim “organik”. Yakni kegiatan tolong menolong antarsesama yang dapat menciptakan ikatan masyarakat yang teguh di tengah kondisi lemah. Dalam arti lain; masyarakat yang mampu memaksimalkan segala sumber daya manusia (SDM) dan sumber daya alam (SDA) yang ada untuk menopang kebutuhan hidup.

Karena itu kita kerap kali memandang sepele praktik memberi. Notabene masyarakat kita begitu asyik memaknai bahwa memberi sekadar memberi; bukan memberi dengan cara memberdayakan. Karena itu, gagasan konsepsional Moeslim Abdurrahman dalam rangka membangun Muslim “organik” patut menjadi petunjuk guna mewujudkan kesejahteraan hidup. Artinya, tidak ada alasan lagi bagi kita berkeluh kesah dan mengharap belas kasih orang lain. Akan tetapi menanamkan keyakinan bahwa kita harus menjadi pemberi yang tak sekadar memberi; tetapi memberi dengan cara yang memberdayakan.

Rasulullah SAW bersabda, “Tangan di atas (pemberi yang memberdayakan) lebih baik daripada tangan yang di bawah (peminta)?”

Allah SWT berfirman, ”Dan carilah pada apa yang telah Allah karuniakan kepadamu (kebahagiaan) negeri akhirat, dan janganlah kamu melupakan bagianmu dari (kenikmatan) duniawi, dan berbuat baiklah (kepada orang lain) sebagaimana Allah telah berbuat baik kepadamu, dan janganlah kamu berbuat kerusakan di (muka) bumi. Sesungguhnya Allah tidak menyukai orang-orang yang berbuat kerusakan,” (Q.S. Al-Qashas [28]: 77). Wallahua’lam

30 November 2018

Kesulitan Hidup Harus Dihadapi Secara Optimis

Kesulitan Hidup Harus Dihadapi Secara Optimis


Hidup yang kita jalani, dipenuhi rintangan dan membutuhkan kekuatan diri untuk keluar dari rintangan yang mengadang. Kesulitan ekonomi, penderitaan, dan ketidakse suaian harapan dengan kenyataan adalah bentuk konkrit rintangan tersebut. Bagi orang yang lemah jiwanya, rintangan di pahami sebagai 'batu sandungan' yang sulit dilalui.

Fenomena bunuh diri, misalnya, nota bene diinisiasi kelemahan jiwa semacam ini. Karena impitan ekonomi, tak sedikit bunuh diri menjadi jalan menyelesaikan masalah kehidupan. Allah SWT berfirman: "Sesungguhnya manusia diciptakan ber sifat keluh kesah lagi kikir. Apabila ia di tim pa kesusahan ia berkeluh kesah, dan apabila ia mendapat kebaikan ia amat ti d ak mau menyampaikannya kepada orang lain (kikir)." (QS. Al-Maa'arij [70]:19-21)

Ayat di atas mengindikasikan bahwa kerapuhan jiwa dapat mengakibatkan lahir nya keluh kesah yang tak produktif. Ketika kesusahan hidup menerpa, tali ke kang moral agama menjadi longgar. Tak ayal lagi, kehidupan menjadi barang mu rah yang sedemikian tak berharga untuk dijaga kelangsungannya.

Seorang gadis, rela melompat dari gedung bertingkat hanya diakibatkan masalah sepele: putus dengan kekasih nya. Seorang pengusaha melakukan hal yang sama, karena sedang menghadapi kemelut masalah di perusahaannya. Me reka memahami hidup hanya dengan meng gunakan rumus keinginan mesti berbuah kenyataan.

Padahal, rumus kehidupan tidak se per ti itu. Adakalanya keinginan melahir kan kegagalan atau ketidaksesuaian de ngan realitas hidup. Maka, sewajibnya mo ralitas agama diperkokoh kembali dalam diri kita. Sehingga hidup mewujud dalam bentuk yang asyik-masyuk.

Ruang dan waktu yang dijalani dengan keikhlasan penuh bahwa Dia (Allah) se dang menguji kadar keimanan kita pada-Nya. Ingat, lemparan batu tentu saja tidak se mua nya akan mengenai target yang sama. Artinya, pengharapan adakalanya ti dak sesuai dengan yang kita rancang. Pada posisi ini, kesabaran dan ketabahan merupakan benteng pertahanan yang su per-duper efektif meredam keinginan mengakhiri hidup kala masalah menerpa.

Seorang Muslim sejati, adalah individu yang dapat mengoptimalkan potensi diri untuk mewujudkan harapan, tanpa terpa ku pada hasil. Dia (Allah) akan membe ri kan berkah tak terkira meskipun harapan itu gagal terwujud. Karena dengan ke ga galan itu, kita dapat mempela jari kekurangan sehingga di lain waktu dapat dikurangi. Inilah letak keberkahan tak ter kira. Kita, dengan kegagalan yang menim pa akan membentuk jiwa hingga menjadi kokoh.

Alhasil, muncul sikap hati-hati, awas dan waspada ketika menyusun program kerja kehidupan. Dalam pepatah disebut kan, seorang manusia bijaksana adalah orang yang tidak akan terperosok pada lubang yang sama. Di dalam Alquran pula dijelaskan: "Dan jiwa serta penyempur na annya (ciptaannya), maka Allah mengil hamkan (memberi potensi) pada jiwa kefasikan (pengingkaran terselubung) dan ketakwaan. Sesungguhnya beruntunglah orang yang menyucikan jiwa dan merugi lah orang yang mengotorinya." (QS. Asy- Syams [91]: 7-10).

Term takwa memiliki arti dasar, se buah ketakutan jiwani. Ketika rasa takut dikelola secara bijak, positif dan siste matis, tentunya lahirlah sebuah kondisi psikologis yang awas dan waspada. Na mun, ketika perasaan takut tidak dikelola secara bijak, positif dan sistematis akibat nya akan melahirkan keluh kesah, putus asa, dan bosan menjalani kehidupan.

Tak heran kalau bunuh diri menjadi solusi favorit orang semacam ini. Kekuat an dalam dirinya telah hilang dan berang sur-angsur membawanya jadi zombie yang tak sadar antara ide dan realitas ka dang tidak sesuai.

Kita mesti memompa potensi diri se hingga terbentuk 'modal spiritual' agar dapat memahami hidup sebagai ladang beramal saleh. Tanpa memiliki modal se perti ini, mind set kita akan menempatkan hidup sebagai barang murah yang dapat diakhiri dengan bunuh diri. Pola pikir se perti inilah yang mesti ditumpurludeskan dari dalam diri. Sebab, pesimisme dalam Islam tak dianjurkan. Islam hanya me ng ajarkan doktrin kehidupan optimisme.

Masa depan merupakan 'bumbu kehi dupan' yang dapat melecut gairah menja lani realitas kehidupan. Kewajiban kita se bagai manusia beragama salah satunya menabur benih-benih optimisme guna meng gapai keberkahan hidup. Bukankah Alquran mengingatkan: "Hai orang-orang yang beriman, bertakwalah kepada Allah dan hendaklah setiap diri memperhatikan apa yang telah diperbuat nya untuk hari esok (akhirat); dan bertak walah kepada Allah, sesungguhnya Allah Maha menge tahui apa yang kamu kerja kan." (QS. Al- Hasyr [59]:18). Wallahua'lam.

29 November 2018

Shalat for Succes

Shalat for Succes

Buku ini memuat rahasia di balik shalat dalam Islam. Selain sebagai sebuah kewajiban, shalat lima waktu, misalnya, kalau ditunaikan secara konsisten berdampak pada munculnya potensi sukses. Betapa tidak, shalat di dalam bacaan dan gerakannya menyimpan energi dahsyat untuk mengubah kehidupan si pengamal.

Satu alasan yang mesti dicamkan ketika menunaikah shalat, yakni menguatkan rasa cinta kepada-Nya. Itulah kenapa Allah mewajibkan shalat bagi hamba-Nya. Karena Allah ingin bertegur sapa dengan ummat yang mencintai-Nya, maka disediakanlah waktu khusus, lima kali dalam sehari. Bukti shalat adalah cinta-Nya, dipenuhilah shalat itu dengan energi yang dahsyat, yang mampu membendung semua kejahatan dari diri pelakunya, dan membawa mereka menuju kebahagiaan.

Dengan syarat: Jika shalat itu dikerjakan juga dengan penuh cinta: ikhlas hanya pada-Nya. Di dalam Al-Quran dijelaskan, “ Sesungguhnya Shalat itu mencegah dari perbuatan keji dan munkar”. (QS. Al-Ankabuut: 45). Ayat ini mengindikasikah shalat memiliki potensi pengubah. Bagi yang ingin sukses dunia dan akhirat, shalat adalah satu jalan menggapainya selain berusaha sungguh-sungguh.

Derajat shalat seperti itulah yang harus dicapai oleh kita! Tetapi, ternyata banyak dari kita yang gagal mencapainya, lebih karena ”sekedar gugur tanggung jawab” saja, tidak serius dengan upaya ”mendirikan” shalat. Padahal, cinta-Nya tak akan sampai kepada orang-orang yang tidak bersungguh-sungguh. Apalagi untuk orang yang sama sekali tidak pernah melakukannya.

Buku ini mengajarkan satu hal, bahwa karena shalat merupakan tanda cinta-Nya. Marilah kita shalat dengan penuh cinta, sehingga Dia, sang pemilik kerajaan langit dan bumi ini, berkenan menemui kita dan melimpahkan cinta-Nya. Buku ini terbilang unik dan menghadirkan perspektif baru tentang shalat. Sebab, shalat meskipun berdampak positif terhadap hidup, mesti diinisiasi dengan cinta berbalut keikhlasan. Tak hanya ritual, shalat juga merupakan obat jiwa dan sarana pelatihan menuju puncak kesuksesan.

Testimoni di bawah ini menjadikan buku popular dan memandu ini layak Anda miliki.

"Buku ini menegaskan shalat bukan hanya sekadar ritual, tapi juga syifa' (pengobatan spiritual) dan riyadhah (pelatihan) untuk meraih kesuksesan dan kebahagiaan.” --Prof. DR. K. H. Miftah Faridl, Cendekiawan.

"Hal baru tentang shalat dikaitkan dengan cinta. Buku ini bermanfaat untuk menaikkan derajat cinta kita." --H. Roni Tabroni, penulis Mukjizat Shalat Malam for Teens.

"Shalat akan semakin khusyuk dan penuh cinta." -- Ayi Yunus, penulis Dahsyatnya Istikharah.

Silakan rasakan energi shalat dalam hidup Anda dengan membeli dan membaca buku ini. Dijamin mencerahkan dan memuaskan dahaga jiwa!

Judul: Energi Shalat; Bangkitkan Potensi Suksesmu Melalui Shalat Lima Waktu
Penulis: Sabil el-Ma'rufie
Penyunting: Doel Wahab
Penerbit: Mizania, 2009
Harga: 31.000
Santun Berislam Kunci Kedamaian

Santun Berislam Kunci Kedamaian

MENJALANI kehidupan di tengah perselisihan, pertengkaran, peperangan, dan kecamuk nafsu egois memang sangat menjengahkan. Pluralitas menjadi patologis dalam pandangan warga. Kebenaran (al-haqq) didominasi kaum mayoritas, yang kadang mengejawantahkan arogansi pikir, sikap, dan laku. Manusia yang sejatinya selalu mendamba kedamaian membumi di kehidupan sehari-hari tak lagi memenuhi setiap ruang di kedalaman jiwa.

Kita menjadi manusia yang merasa paling benar dan paling shaleh; paling layak memonopoli ruangan mewah nan indah di alam surgawi. Bahkan, Tuhan yang paling berhak menunjuk apakah seorang hamba layak memasuki surga ataukah tidak; digantikan secara paksa oleh kepongahan kita. Singgasana peradilan Tuhan direbut manusia yang berteriak “Akulah yang Maha benar” di medan kehidupan hingga tidak menyisakan ruangan untuk peace, shalom, shanti, dan salam, seperti yang diajarkan dalam Kekristenan, Yudaisme, Hindu, dan Islam kepada para penganutnya.

Islam mengajarkan umatnya untuk meluapkan kesantunan dalam aktivitas hidup. Kedamaian merupakan Realitas Ilahi yang membumi karena memantulkan keindahan mutlak yang bermuara dari kebenaran Ilahi (al-haqq). Kedamaian, harmonitas atau ketentraman berarti wujud Tuhan di muka bumi. “Tiada ketentraman kecuali di dalam Kebenaran Ilahi (al-haqq)”, ujar Rumi. Karenanya, ketika seorang manusia mencoba menghancurkan kedamaian, harmonitas, dan ketentraman; mereka berarti telah menghancurkan realitas Tuhan di muka bumi.

Kedamaian ialah hasil dari upaya perdamaian yang diupayakan umat manusia. Namun, karena manusia kerap mengklaim kebenaran secara “hitam putih” akibatnya lahirlah kekerasan dan penyesatan yang mencederai kedamaian dan perdamaian itu sendiri. Kebenaran beragam wajah dan plural bentuknya. Bukan milik manusia yang serba terbatas, serba emosional, dan rentan terganggu saluran ketika berkomunikasi (noise) dengan teks-teks keagamaan. Kebenaran merupakan potret keindahan ilahi, yang sejuk dan tenang serta damai (salam); sehingga tidak pernah menyisakan ruang untuk kebencian dan kekerasan.

Di dalam Al-Quran dan sebuah hadis Nabi, para penghuni surga diriwayatkan selalu mengucapkan salam atau damai di dunia maupun di akhirat. Kaum Sufi Asia Tengah menyebutnya dengan perdamaian universal (shulh-i kull), yang diraih ketika dualisme, kondisi berlawanan atau ketegangan bertemu (coincidentia oppositorum).

Kedamaian yang dihasilkan dari berislam ini perwujudan dari nama Allah, as-salam, yang berarti pemberi kedamaian karena Dia adalah sumber keindahan dan kebenaran. “Dialah yang telah menurunkan ketenangan (al-sakinah) ke dalam hati orang-orang mukmin.” (QS. Al-Fath [48]:4), yang menginisiasi seorang hamba memancarkan kedamaian berbalut rahmat yang bersifat surgawi. Terma sakinah sinonim dengan shekinah, yang menurut Kabbalis, berarti kedamaian bersifat surgawi dan berpadu dengan rahmat, karena Allah ialah sumber langsungnya. (Seyyed Hossein Nasr, The Garden of Truth, Mizan, 2010: 105-107).

Karena itulah – meminjam istilah Seyyed Hossein Nasr – keberislaman yang hakiki ialah keberislaman yang mengaktualkan rahman dan rahim Allah, di mana kesantunan sikap, pikir, dan laku lampah merupakan visi kebumian yang diemban seorang muslim. Fenomena ISIS dan bermunculannya umat Islam intoleran, merupakan wujud dari patologis keberislaman, karena mereka menjustifikasi kekerasan dengan balut teks yang sudah menjadi ideologi.

Kekerasan atas nama apapun kalau tidak ditanggulangi secara proaktif akan menjadi bom yang dapat meletus kapan saja dan merusak praktik hidup berbangsa dan bernegara. Keberlainan yang niscaya dimiliki bangsa-negara (nation-state) dipandang sebagai “anomali sosial” yang harus diberantas.

Saya pikir, ketika umat atau bangsa tidak meyakini, tidak mengakui, tidak menghargai dan tidak memelihara keragaman; kekerasan akan menjalar di tubuh bangsa. Akibatnya, arogansi laku bakal mengotori Indonesia yang plural, majemuk, dan dihiasi keberbedaan.

Secara kemanusiaan setiap agama tidak pernah melegitimasi praktik kekerasan. Apalagi dalam konteks keragaman yang menghiasi negeri ini. Si “liyan” adalah fartner yang mesti diajak bekerjasama melakukan kerja praksis emansipatoris dalam membebaskan bangsa dari impitan ekonomi yang menyengsarakan.

Kebajikan itulah, saya pikir, yang masih bisa menyatukan kita!

Jalan menuju kebenaran memang beragam dan kita sebagai manusia sejatinya tidak mudah mengklaim bahwa kebenaran mutlak ialah milik kita, sedangkan pemahaman orang lain sesat dan menyesatkan. Kesadaran bahwa perbedaan merupakan anugrah tak terkira dari Tuhan mesti dijaga dan dipelihara demi terwujudnya kedamaian di negeri plural Indonesia ini. ***
Sari Kebijaksanaan di Taman Kebenaran

Sari Kebijaksanaan di Taman Kebenaran

DOKTRIN sufi yang terkenal adalah mengenal proses penciptaan sebagai ketetapan dan Entifikasi-Diri dari nama dan Sifat Tuhan ke dalam ranah arketifal (al-a’yan al-tsabitah) yang kekal dari semua ciptaan. Inilah yang disebut Seyyed Hossein Nasr dengan al-fayadh al-aqdas (pancaran tersuci) dalam setiap makhluk Tuhan. Kemudian arketif kekal tersebut, menurut Nasr dimasuki “ruh Maha Penyayang” Tuhan, sehingga lahirlah segala bentuk-wujud yang ada di muka bumi.

Alam semesta, termasuk apa yang ada di dalamnya (manusia, hewan, tumbuhan, bebatuan, dsb) adalah hasil dari tiupan Tuhan dengan nafas al-rahman. Oleh karena itulah, semua yang ada di alam semesta hakikatnya merupakan nafas Allah. Realitas kealaman, bagi Nasr, merupakan pantulan dari kesucian ilahi (teofani) yang sejatinya mendapat perlakuan yang bijaksana dan arif dari sang khalifah fi al-ardh (umat manusia). Secara indah, Seyyed Hossein Nasr, dalam buku ini menyitir rangkaian sastrawi Matsnawi karya Jalaluddin Rumi: Andaikan segala yang ada memiliki lidah/Maka akan tersingkaplah seluruh tirai dari segala yang ada//.

Seyyed Hossein Nasr, adalah guru besar studi Islam di Universitas George Town. Ia seorang akademis yang berpuluh tahun mereguk ilmu-ilmu tradisional dan modern dari Barat. Bagi dunia, Nasr ialah juru bicara utama ikhwal spiritualitas dan filsafat Islam dengan bahasa modern, kontemporer nan canggih. Baginya, tradisi tasawuf telah dilestarikan selama berabad-abad dengan memadukan daya inisiasi (wilayah/walayah) dan berkat (al-barakah) yang diperlukan untuk bekal perjalanan spiritual umat manusia.

Yang menarik dari buku ini. Selain bahasanya yang reflektif dan spiritualistis; Seyyed Hossein Nasr – seperti ditulis Prof. Komaruddin Hidayat – mampu mengangkat kebenaran perennial tasawuf secara modern. Tak hanya itu, di tengah krisis lingkungan yang mendera muka bumi ini dengan beragam atribut: pemanasan global (global warming), bencana (natural disaster), dan perilaku merusak alam oleh segelintir umat manusia. Nasr, menyadarkan kita bahwa sesungguhnya hakikat alam, baik makrokosmos maupun mikrokosmos adalah pancaran ruh ilahi. Segala yang ada di muka bumi, dalam bahasa lain, sebagai “wujud lain” Tuhan.

Hal itu mengindikasikan laku eksploitatif dan destruktif yang kita lakukan pada ekosistem kehidupan (alam sekitar) – untuk dalih pembangunan – merupakan bentuk pengkhianatan terkejam pada eksistensi Tuhan. Ini dikarenakan manusia terhijab keangkaramurkaan, keangkuhan, dan kesombongan. Dengan gamblang, ia menopang hipotesis kesufiannya secara modern dengan pendekatan filsafat analitik-religius. Ia – dalam buku ini – memandang bahwa wujud memiliki tingkatan-tingkatan yang menandai bentuk realitas tertinggi. Realitas terbawah (alam ini), bagi pakar Sufisme ini, diselubungi hijab tetapi sekaligus mengungkapkan realitas tertinggi (sang Pencipta).

Tujuan dari kehidupan spiritual untuk mengangkat atau mendobrak tabir yang menyelubungi kesadaran manusia atas realitas yang sedang dijalaninya. Maka, tasawuf eksistensinya adalah sebagai alat dobrak yang dirancang secara spiritual. Tasawuf, dalam buku ini, seperti diungkapkan Seyyed Hossein Nasr, berbicara tentang yang tampak (al-zahir) dan yang tersembunyi (al-bathin) yang tak hanya menyangkut hubungan manusia dengan Tuhan, akan tetapi dengan seluruh Makhluk-Nya (hlm. 69).

Beliau (Nasr) pun mengutip syair sastrawi psikospiritual dari filsuf dan penyair Persia abad 11, Nashiri Khusraw: Pandanglah kenyataan batiniah dunia dengan mata/yang memandang ke dalam/Karena dengan mata yang memandang ke luar engkau takkan pernah/dapat melihat yang di dalam//. Tabir yang menyelubungi kesadaran perennial manusia dapat disingkapkan (kasf al-mahjub) dengan menjelajahi taman kebenaran. Segala yang ada, termasuk Hadirat Yang Satu akan tersingkap.

Buku versi Indonesia yang diterbitkan penerbit Mizan ini tak berlebihan jika menjadi koleksi bacaan buku-buku spiritualitas Anda. Sebab, di dalamnya terkandung intisari kehidupan yang dibutuhkan manusia modern yang serba sibuk. Seyyed Hossein Nasr, dalam buku ini, berhasil mengetengahkan khazanah sufistik dalam bahasa yang canggih. Selamat mereguk sari tasawuf yang nikmat untuk dikonsumsi ruhani Anda.

dimuat Harian Republika, Jumat 09 April 2010.

Judul                : The Garden of Truth; Mereguk Sari Tasawuf
Judul Asli         : The Garden of Truth; The Vision and Promise of Sufism, Islam’s Mystical Tradition
Penulis             : Seyyed Hossein Nasr
Penerjemah    : Yuliani Liputo
Penerbit          : Mizan, Bandung
Cetakan           : I, Januari 2010
Tebal               : 304 hlm
Harga              : Rp. 57500

28 November 2018

"Fatihah" Bencana

"Fatihah" Bencana

SILIH bergantinya bencana di bumi Indonesia, kendati tidak sehebat gempa di Jawa Barat, Padang, dan Tsunami di Aceh; bukan berarti optimisme hidup kita mesti berhenti. Masih segar dalam ingatan kolektif, longsor di Kabupaten Bandung beberapa minggu ke belakang. Beberapa hari ini, guyuran hujan lebat dibarengi kilatan petir dan gemuruh angin juga, sejatinya tak membuat kita dipenuhi kegelisahan dan putus asa. Bencana, dalam doktrin ajaran Islam, ialah ”kiamat shugra” yang dapat menyadarkan kita ikhwal substansi kehidupan yang kerap kita abaikan.

Bencana dalam kehidupan dapat berfungsi sebagai pemantik kesadaran ekologis sekaligus kesadaran teologis dalam diri umat manusia. Kesadaran yang sempat mengendap menjadi reflika tak tersentuh refleksi itu, ketika bencana ujug-ujug muncul ke alam sadar tanpa kendali. Adakah perilaku destruktif umat manusia yang mengakibatkan alam kembali menyemburkan aneka bencana?

Pakar sufisme, Seyyed Hossein Nasr, dalam buku “The Garden of Truth; Mereguk Sari Tasawuf” (Mizan, 2010) mengetengahkan penafsiran maknawi terhadap surah al-Fatihah. Surah Al-Quran yang sering dibaca minimal 17 kali oleh umat Islam tersebut, katanya, mengandung konsep tauhid yang bersifat ekologis. Manusia yang menyadari bahwa Tuhan pencipta alam raya, ia akan memahami hubungan yang dibina dengan alam haruslah bersifat keilahiyan. Ini artinya, memosisikan alam sejajar dengan eksistensi dirinya sebagai makhluk Tuhan yang perlu dihormati.

Kesadaran eco(teo)logis

Pendapat Seyyed Hossein Nasr itu berpijak pada kalimat “alhamdulillahi rabbi al-alamin” dalam surah al-Fatihah sebagai inti pentingnya kesadaran ekologis yang bersifat ilahiyah (eco-teologis). Kalimat pujian “alhamdulillah” kemudian dilanjutkan dengan kalimat “rabbi al-alamin” menunjukkan umat manusia sejatinya menempatkan alam sebagai bagian dari-Nya. Sebab “rabbi al-alamin” secara etimologis berarti: pemelihara, penjaga, atau laiknya ibu yang melahirkan alam ini. Menghormati alam berarti menghormati sang pemelihara, sang pemilik atau sang penjaga alam (Allah).

Namun, keserakahan umat manusia menyebabkan alam ini mulai mengidap kesakitan di setiap rusuk, sehingga ekosistem tidak berjalan seimbang. Ketika musim hujan tiba, tumpukan sampah mengakibatkan aliran air tak mengalir di tempat semestinya. Alhasil, banjir dan longsor tentunya merebak pada musim ini sebagai pemantik kesadaran kita bahwa mesti mewaspadai labilitas topografi alam. Seandainya surah al-Fatihah dipahami secara maknawi oleh ratusan juta umat Islam Indonesia. Entah itu oleh pejabat, tokoh masyarakat, rakyat, agamawan, dan yang lainnya. Di dalamnya ada pemantik yang siap menyalakan kesadaran umat manusia: membina hubungan yang harmonis dengan alam adalah misi suci ajaran Islam.

Di kedalaman jiwa umat manusia tersimpan reflika kesadaran yang terpendam. Tuhan, sang pemilik alam raya, sebelum umat manusia lahir ke muka bumi meniupkan ruh “kesadaran” untuk berelasi seharmonis mungkin dengan alam sekitar. Namun, karena syahwat atau nafsu keserakahan sedemikian kuat dalam diri manusia akhirnya kesadaran tersebut terpendam, kemudian menghilang. Manusia, pada posisi ini, mengagungkan peradaban material sehingga alam menjadi objek eksploitasi “seksis” yang berujung pada kerusakan ekologis.

Tugas suci kita, sebagai makluk-Nya adalah memperjuangkan ide, harapan, cita-cita, resolusi diri, dan imajinasi kesejahteraan bangsa agar mewujud dalam bentuk nyata. Dalam bahasa lain, memungut kembali ”reflika kesadaran” sebagai manusia berkesadaran ekologis harus mulai dicamkan tanpa henti di sanubari. Bukan lantas menjadi angan yang bersifat fana dan tiada. Apalagi di tengah ketidakseimbangan ekosistem, cuaca yang tak terprediksi, bencana alam terjadi di hampir setiap daerah; kita sejatinya bahu membahu membenahi ”relasi tak seimbang” untuk menghormati saudara kita (alam sekitar).

Peradaban

Indonesia memiliki potensi besar menjadi negara hebat di dunia kalau ditopang dengan konstruksi peradaban utama. Tentunya tanpa mengabaikan tradisi ketimuran (misalnya local wisdom, spiritualitas dan immaterial), peradaban yang kita bangun sejatinya tak bersifat eksploitatif dan dekonstruktif.

Dalam upaya mewujudkan peradaban utama, ormas dan tokoh Islam sepatutnya mengejawantahkan visi pembebasan. Ketika pengrusakan alam merajalela, agama sejatinya memberikan advokasi yang membebaskan alam dari tangan-tangan tak bertangungjawab manusia. Al-quran, khususnya surah Al-Fatihah, me­negaskan individu harus berterima kasih atas pemberian alam oleh Tuhan dalam kehidupan ini. ”Fatihah bencana” bagi kita ialah melakukan pendobrakan atas logika pembangunan bangsa ini dari yang mengeksploitasi alam ke arah logika pemeliharaan agar pembangunan menjadi berkelanjutan (sustainable).

Kesadaran seperti itulah yang sepatutnya kita punguti bersama. Tuhan menempatkan manusia sebagai faktor penentu kelahiran sebuah perubahan dalam se­jarah kehidupan. Hancur dan bangkitnya peradaban manusia ditentukan sikap, mental, dan paradigma yang kita bangun dalam menggulirkan pembangunan. Karena itu, sebuah keniscayaan bagi umat manusia kembali meresapi tujuan diciptakan dirinya ke muka bumi.

Selain menebarkan benih ”rahmat” bagi alam sekitar (rahmatan lil alamin), dalam surah Al-Fatihah tujuan kita diciptakan ialah bersyukur atas pemberian-Nya berupa alam (alhamdulillahi rabbi al-alamin), di mana hidup kita bergantung kepadanya. Tak heran jika Tuhan sangat mencela manusia yang melakukan pembunuhan (terhadap manusia) dan merusak (alam sekitar). Wallahua’lam
Pesantren Dan Tantangan Era Modern

Pesantren Dan Tantangan Era Modern

M Dawam Rahardjo (1995: 3) mengungkapkan bahwa pesantren adalah lembaga yang mewujudkan proses wajah perkembangan sistem pendidikan Nasional. Secara historis pesantren tidak hanya mengandung makna keislaman an sich, melainkan menampakkan keaslian (indegeneous) daerah Indonesia; sebab lembaga yang serupa sudah terdapat pada masa kekuasaan Hindu-Budha, sedangkan Islam meneruskan dan mengislamkannya.

Pondok pesantren Islam sebetulnya banyak berperan mendidik sebagian bangsa Indonesia sebelum lahirnya lembaga-lembaga pendidikan lain yang cenderung mengikuti pola “Barat” yang modern. Oleh karena itu, lembaga pendidikan pesantren acapkali dijuluki sebagai basis pendidikan tradisional yang khas Indonesia. Pondok pesantren berkembang pesat dan lebih dikenal kegiatannya kira-kira sejak tahun 1853 dengan jumlah santri sekitar 16.556 dan tersebar pada 13 kabupaten di pulau Jawa (Z. Dhofier; 1994).

Dari tahun ke tahun jumlahnya mengalami peningkatan yang signifikan, hingga pada tahun 1981 terdaftar hampir sekitar 5.661 pondok pesantren dengan jumlah santri 938.597 yang diasuh dan dididik pesantren (A. Syamsuddin, 1989). Dan, sudah dapat dipastikan jika pada tahun 2000-an jumlahnya telah mencapai ratusan ribu pesantren di seluruh Indonesia dengan puluhan juta santri yang telah dan sedang dididik oleh pesantren.

Lantas, pertanyaan yang patut diajukan dalam tulisan ini adalah: bagaimana peta tantangan yang akan dihadapi oleh lembaga pendidikan warisan dari perpaduan budaya asli Indonesia dan khazanah keislaman dalam menjawab tantangan modernitas? Apakah mesti menyesuaikan (ngigeulan) zaman ataukah sampai pada mengelola tantangan era modern yang cenderung menggusur manusia pada pemahaman positivistik?

Sebab, sebagai satu-satunya lembaga pendidikan swasta, pesantren memiliki kekuatan yang teramat dahsyat hasil dari motivasi dari para pendirinya (founding fathers) untuk mencerdaskan bangsa tanpa mengurusi “tetek bengek” keuntungan ekonomis. Melainkan menjalankan amanat pendidikan pofetik yang digariskan oleh ajaran Islam sebagai penghantar terwujudnya manusia yang memiliki harkat, derajat dan martabat yang sangat urgen untuk dimiliki oleh setiap manusia di era modern ini. Seperti yang terdapat dalam sebuah pepatah Rasulullah yang memerintahkan setiap muslim untuk mencari dan mengajarkan ilmu dari mulai lahir sampai desah nafas tidak lagi terdengar (baca: wafat).

Pesantren dan Santri

Menurut catatan sejarah, pesantren merupakan lembaga pendidikan Islam yang diwariskan oleh Syeikh Maulana Malik Ibrahim sekitar abad 16-17 M, seorang guru “walisongo” yang menyebarkan ajaran Islam di tanah Jawa. Sedangkan secara kebahahasaan, pesantren berasal dari kata “santri” yang berarti guru mengaji (bahasa tamil) dengan awalan “pe” dan akhiran “an” yang berarti tempat tinggal (mondok moe) para santri. Dengan demikian, pesantren merupakan mesin copy-an yang bertugas mem-print out manusia yang pintar agama (tafaquh fi al-din) dan mampu menyampaikan keluhungan ajaran Islam serta populer disebut dengan “santri”.

Sebagai ladang penghasil santri, tentunya pesantren harus menghasilkan santri (output) yang berkualitas dan bermanfaat bagi masyarakat sekitar. Output tersebut selain berimplikasi secara personal, juga berdampak positif secara sosial. Adapun hasil implikasi tersebut dapat dilihat dari intensitas keuntungan yang besar yang diproduksi pesantren terhadap lingkungan sekitar, di antaranya berupa keuntungan pragmatis bagi aspek yang berdimensi budaya, edukatif dan sosial.

Dalam dimensi kultural, kehidupan seorang santri di pesantren ternyata seringkali dihiasi dengan prinsip hidup yang mencerminkan kesederhanaan dan kebersamaan melalui aktivitas “mukim”. Kalau saja “abdi negara” ataupun masyarakat modern mampu melakukan hal seperti mereka, akan muncul solidaritas sosial terhadap sesama manusia. Lalu, dari aspek edukatif pesantren juga mampu menghasilkan calon pemimpin agama (religious leader) yang piawai menaungi kebutuhan praktik keagamaan masyarakat sekitar, hingga aktivitas kehidupannya mendapat berkah dari Tuhan. Sedangkan dalam aspek sosial, keberadaan pesantren seakan telah menjadi semacam “community learning centre” (pusat kegiatan belajar masyarakat) yang berfungsi menuntun masyarakat hingga memiliki life style agar hidup dalam kesejahteraan.

Namun, kendati secara output tidak selalu sesuai dengan kebutuhan, setidak-tidaknya secara ideal pendidikan di Pesantren mampu mencetak calon-calon ahli agama yang siap diterjunkan ke masyarakat. Tidaklah heran jika pesantren sebagai “laboratorium sosial” banyak membidani kelahiran tokoh-tokoh yang dihormati serta ikut andil dalam pembangunan bangsa lewat sumbangsih pemikiran yang brilian.

Misalnya saja, K.H.A.Dahlan (pendiri Muhammadiyah), K.H.A.Hasan (tokoh Persatuan Islam), Hasyim Asy’ari (pendiri NU), H.O.S Tjokroaminoto (pencetus SI), Muhammad Natsir (bekas Perdana menteri), Dien Syamsuddin, Abdurrahman Wahid, Nurchalis Madjid dan yang lainnya merupakan aktor intelektual yang dididik oleh lembaga pendidikan Islam seperti Pesantren.

Dalam Al-Quran dijelaskan bahwa: “ Hendaklah ada di antara kamu sekalian segolongan ummat yang menyeru kepada kebaikan, menyeru kepada yang ma’ruf dan mencegah dari yang mungkar, merekalah orang-orang yang beruntung” (Q.S. Ali-Imran, 3 : 104). Artinya, dengan kreasi kultural berupa pendirian pesantren dalam khazanah Islam Indonesia merupakan misi profetik untuk mengaplikasikan kebaikan-kebaikan hingga dapat bermanfaat bagi tegaknya nilai-nilai kemanusiaan di tubuh dan jiwa umat, bangsa dan warga masyarakat.

Tantangan Modernisasi

Jika mencari lembaga pendidikan yang asli Indonesia dan berakar kuat dalam masyarakat, tentu akan menempatkan pesantren di tangga teratas. Namun, ironisnya lembaga yang dianggap merakyat ini ternyata masih menyisakan keberbagaian masalah dan diragukan kemampuannya dalam menjawab tantangan zaman, terutama ketika berhadapan dengan arus modernisasi. Untuk mengubah image yang agak miring ini tentunya memerlukan proses yang panjang dan usaha tidak begitu mudah.

Proses modernisasi telah menguatkan subjektivitas individu atas alam semesta, tradisi, dan agama. Manusia dalam subjektivitas dengan kesadarannya dan dalam keunikannya telah menjadi titik acuan pengertian terhadap realitas. Manusia memandang alam, sesama manusia, dan Tuhan mengacu pada dirinya sendiri. Manusia juga menjadi bebas dalam merealisasikan kehidupannya tanpa campur tangan kekuatan lain di luar dirinya sendiri. Modernitas sebagai periode sejarah yang khas dan superior telah membuat orang percaya bahwa zaman modern lebih baik, lebih maju, dan memiliki referensi kebenaran lebih banyak dari zaman sebelumnya. Selain itu, modernitas menciptakan sikap optimisme dan berbagai kualitas positif tentang masa depan serta kemajuan menjadi tema utama peradaban sejarah umat manusia (Fahrizal A. Halim, 2002: 19-20).

Dalam tradisi pesantren terdapat kaidah hukum yang menarik untuk diresapi dan diaplikasikan oleh pesantren sebagai lembaga pendidikan yang mesti merespon tantangan dan “kebaharuan” zaman. Kaidah itu berbunyi, “Al-Muhafadzatu ‘ala al-qadim al-ashalih wa al-akhzu bi al-jadid al-ashlah”, artinya: melestarikan nilai-nilai Islam lama yang baik dan mengambil nilai-nilai baru yang lebih baik. Hal ini berarti pesantren patut memelihara nilai-nilai tradisi yang baik sembari mencari nilai-nilai baru yang sesuai dengan konteks zaman agar tercapai akurasi motodologis dalam mencerahkan peradaban bangsa.

Ulil Abshar Abdalla (2000) mengatakan bahwa jika tradisi besar Islam yang direproduksi dan diolah kembali, umat Islam akan memeroleh keuntungan yang besar sekali, di antaranya adalah memiliki “tradisi baru” yang lebih baik. Pesantren ketika tampil dengan wajah baru akan menimbulkan apa yang disebut oleh Cak Nur dengan psychological striking force (daya gugah baru).

Untuk itu, tidak layak kiranya jika para pengelola pesantren mengabaikan arus modernitas sebagai penghasil nilai-nilai baru yang baik – meskipun ada sebagian yang buruk – kalau pesantren ingin maju untuk mengimbangi perubahan zaman. Namun, jika tidak mau maju sedikit pun di era yang serba maju ini, silahkan menutup diri dari nilai-nilai baru dan peliharalah nilai-nilai lama yang telah ketinggalam zaman (out of date).

Persoalan ini tentu saja berkorelasi positif dengan konteks pengajaran di pesantren. Di mana, secara tidak langsung mengharuskan adanya pembaharuan (modernisasi)-kalau boleh dikatakan demikian-dalam pelbagai aspek pendidikan di dunia pesantren. Misalnya, mengenai kurikulum, sarana-prasarana, tenaga administrasi, guru, manajemen (pengelolaan), sistem evaluasi dan aspek-aspek lainnya dalam penyelenggaraan pendidikan di pesantren.

Jika aspek-aspek pendidikan seperti di atas tidak mendapatkan perhatian yang proporsional untuk segera dimodernisasi, atau minimal disesuaikan dengan kebutuhan dan tuntutan masyarakat (social needs and demand), tentu akan mengancam survival pesantren di masa depan. Masyarakat (baca: kaum muslimin Indonesia) akan semakin tidak tertarik dan lambat laun akan meninggalkan pendidikan pesantren, kemudian lebih memilih institusi pendidikan yang lebih menjamin kualitas output-nya.

Pada taraf ini, pesantren berhadap-hadapan dengan dilema antara tradisi dan modernitas. Ketika pesantren tidak mau beranjak ke modernitas, dan hanya berkutat dan mempertahankan otentisitas tradisi pengajarannya yang khas tradisional, dengan pengajaran yang melulu bermuatan al-Qur’an dan al-Hadis serta kitab-kitab klasiknya, tanpa adanya pembaharuan metodologis, maka selama itu pula pesantren harus siap ditinggalkan oleh masyarakat.

Pengajaran Islam tradisional dengan muatan-muatan yang telah disebutkan di muka, tentu saja harus lebih dikembangkan agar penguasaan materi keagamaan anak didik (baca: santri) dapat lebih maksimal, di samping juga perlu memasukkan materi-materi pengetahuan non-agama dalam proses pengajaran di pesantren.

Dengan tidak meninggalkan ciri khas lokal, pesntren juga mesti merespon perkembangan zaman dengan cara-cara yang kreatif, inovatif, dan transformatif. Alhasil, persoalan tantangan zaman modern yang secara realitas seakan menciptakan segala produk yang menyibakkan tirai-tirai batas ruang dan waktu seperti dalam gejala global media infromasi dapat dijawab secara akurat, tuntas dan tepat. Wallahua’lam

Kepustakaan

1. M. Dawam Rahardjo; Pesantren dan Pembaharuan, PT Pustaka LP3ES, Jakarta: 1995.

2. Fahrizal A. Halim; Beragama dalam Belenggu Kapitalisme, Penerbit Indonesia Tera, Magelang, 2002.

3. Karel A Steenbirk; Pesantren Madrasah Sekolah, LP3ES, Jakarta, 1994.

4. Sukron Abdilah; Pesantren, Santri dan Modernitas, Surat Kabar Mingguan Medikom, edisi 182 Tahun III 3-9 Juli 2006.

5. H.M. Yacub; Pondok Pesantren dan Pembangunan Masyarakat, Penerbit Angkasa, Bandung, 1985.

6. Zamakhsyari Dhofier; Tradisi Pesantren Studi Tentang Pandangan Hidup Kyai, LP3ES, Jakarta, 1994.

27 November 2018

Penjara, HAMKA, dan Al-Azhar

Penjara, HAMKA, dan Al-Azhar

Aku menyisir rambut yang tergurai laiknya nyiur kelapa dengan sisir ompong berwarna kemerahan. Rambut hitam yang sedari tadi melambai-lambai kini terlihat mengkilat dan setia mengarah ke kiri dan ke kanan membentuk simbol cinta. Kalau saja diolesi minyak rambut LaVender warisan ayahku pasti terlihat seperti Alpacino yang terkenal itu. Ya, andai saja tak ada merek minyak rambut selain Lapender, maka hingga hari ini aku akan memakainya setia sampai mati.

Untungnya kini terdapat banyak merek minyak rambut. Dan, jujur saja; sejak aku menjadi mahasiswa tak pernah memakai minyak rambut. Selain ribet bin susah; aku juga tak mau ambil pusing mengeluarkan biaya buat rambutku. Biarkanlah rambut ini tumbuh sesuai kodrat Ilahi. Soal ketombe. Itu adalah soal estetika dan seni Ilahi. Biarlah Dia bermain-main dengan rambutku. Toh, ada beragam merek shampo cukup terkenal yang siap menyelesaikan pekerjaan. Cukup dengan 500 rupiah dan rambutku sudah bersih dari ketombe.

Kemudian kulihat bentuk wajahku. Hatiku berbisik, alhamdulillah, ternyata Tuhan masih memberikan anugerah dan kenikmatan tak terkira. Lubang hidungku masih mengarah ke arah bawah. Coba saja kalau lubangnya menganga ke atas. Boleh lah kalian bayangkan kalau aku akan kelimpungan menjaga agar hidungku ndak kemasukan air hujan. Tapi teman disampingku unjuk pendapat, “pake payung saja bos”.

Selesai bercermin, aku pergi ke warung untuk membeli panganan kecil, kopi hitam, dan beberapa batang rokok. Kemudian ku lihat matahari hari ini dari jalanan. Terlihat malu-malu dan agak pelit bersedekah karena tak seperti biasanya; matahari unjuk rasa tak mau memberi cahaya. Ndak tahu marah atau kesal dengan manusia. Yang pasti hari ini cahaya matahari terlihat sedikit saja. Hanya mendung kelabu brader!
***
“Sampurasun…”

“Rampes…” jawab temanku, yang tadi mengusulkan untuk membawa payung ketika air hujan turun. Sayang sekali, usulnya tak pernah ku gubris. Sebab, lubang hidungku masih mengarah ke bawah.

“Dari mana saja euy?” lanjutnya sambil membuka halaman Koran Kompas.

“Udah tahu nanya. Dasar urang Sunda. Senangnya basa-basi.”

Temanku hanya “seri koneng” karena begitulah kondisi sebenarnya. Suku yang terkenal senang basa-basi adalah suku Sunda. Ketika menawari makanan saja, hanya di mulut. Tapi tidak semua orang Sunda begitu. Aku termasuk urang Sunda yang tak senang berbasa-basi. Kalau punya uang dan kesempatan akan kutawari. Tetapi giliran sedang bokek, berubah menjadi manusia sombong.
***
Hari ini aku berjumpa lagi dengan HAMKA lewat Tafsir Al-Azhar jilid satu. Tak tahu berapa jilid jumlahnya, yang jelas aku mendapat kabar bahwa tafsir tersebut disusun ketika beliau sedang mendekam di penjara. Gaya penafsiran HAMKA menggunakan model tafsir tematis dan kontekstual. Inilah yang mengakibatkan aku sedemikian mengagumi tafsir beliau.

Bayangkan. Pengapnya penjara, kotor, jorok, sempit, dan tak ada fasilitas mesin tik ternyata tak menghalangi HAMKA untuk berkarya. Ketika dirinya dijenguk sang keluarga, kerabat, dan sahabat; ia selalu memesan dibawakan buku dan kitab. Beliau tidak meminta amnesti dari pemerintah. Di tengah sepi dan gelapnya malam, di dalam penjara dia merenung dan memeras pikirannya untuk bertafakur membedah kehidupan yang hipokrit.

Ia kemudian mengingat kisah tragis ulama pujaannya, Syeikh Ibn Taimiyah, yang menghasilkan karya berupa kitab dari balik terali besi. Motivasi berkhidmat untuk umat dan bangsa menyeruak ke alam karsa Buya HAMKA. Dari sanalah keinginan menyusun kitab tafsir hadir kembali setelah bertahun-tahun beliau tak memperoleh kesempatan untuk menyusunnya.

Seperti yang beliau ungkapkan dalam sebuah karyanya, “Apa jadinya pabila aku tak mendekam di penjara. Sangat boleh jadi Tafsir Al-Azhar tak akan pernah aku selesaikan. Terima kasih karena Engkau telah memberikan tempat yang sepi dan intim untuk menyusun ilmu pengetahuan Islam dengan mengkaji ilmu-Mu.”

Setelah ia merasa putus asa, ternyata keimanan HAMKA mampu mengalahkan bisikan untuk bunuh diri dari Syetan terlaknat. HAMKA berbeda dengan Socrates, sang filsuf Yunani Kuno, yang memandang bunuh diri sebagai jalan untuk mengakhiri hidup. Coba bayangkan, bisik HAMKA, kalau saja Socrates tak melakukan bunuh diri. Sudah dapat dipastikan karyanya bisa dinikmati hingga kini. Tidak seperti yang dikabarkan Plato dalam berbagai karyanya. HAMKA adalah sang pemegang teguh optimisme dalam hidup. Bukan pemegang filsafat hidup pesimisme seperti yang diajarkan Schopenhuer.

Mulai sejak itu, HAMKA menekadkan diri bahwa penjara bukan akhir dari kreativitas. Bukan akhir dari semangat berkarya. Dan, bukan akhir dari dirinya sebagai manusia. Penjara, demikian tekadnya, mesti menjadi tempat untuk merenungi segala laku pada masa lalu hingga dapat melihat masa depan dengan cerah benderah.
***
HAMKA…..Kini, setiap ku baca karyamu, selalu kusempatkan untuk menciumi sampul bukumu. ku selami pengalaman hidupmu. Ku telusuri jejak langkahmu. Ku simpan setiap wejanganmu yang berharga ini. Ku hormati segala gagasanmu…, HAMKA. 

Dan….., ku sisiri kembali rambutku yang mulai memanjang tak beraturan. Ku semproti badanku dengan parfum kembali karena baunya minta ampun…!
Menyegarkan Intelektualisme IMM

Menyegarkan Intelektualisme IMM


Saya selalu bangga, bahwa dalam catatan histori kehidupan pribadi, pernah merasakan bagaimana suasana intelektualisme yang riuh di salah satu ortom Muhammadiyah, yakni Ikatan Mahasiswa Muhammadiyah (IMM). Saat itu, di sekretariat IMM Korkom UIN Bandung, saya mendapatkan semangat intelektualisme dari para senior, yang selalu mengutip filsuf, pemikir, dan teoritikus dalam berbagai disiplin ilmu ketika sedang mengadakan rapat dan kajian kritis tentang suatu hal.

Tak hanya bercuap-cuap untuk menunjukkan bahwa IMM ialah gerakan intelektual, di IMM Korkom UIN Bandung juga, saya mendapatkan semangat untuk menuliskan pemikiran, ide, dan opini saya tentang fenomena dan noumena. Meskipun, saya tidak dibimbing langsung oleh para senior untuk mampu merangkai kata, tetapi dari mereka lah saya mendapatkan semangat, energi, dan obsesi di dunia tulis menulis. Disinilah, saya mendapatkan skill menulis, dan sampai hari ini, dari menulislah saya dapat hidup berdaya, bermanfaat, dan bermartabat: tanpa bergantung pada belas kasih orang lain.

Sejak tahun 2003 akhir, kalau tak salah, saya mulai merasakan atmosfer kemahasiswaan yang lekat dengan kegiatan intelektual di IMM. Saya banyak belajar teologi pembebasan, fiqh kebhinekaan, filsafat sosial, aktivisme intelektual organik, dan sejumlah wacana pemikiran kiri dari interaksi intelektual saya dengan buku dan senior di sekretariat IMM. Saat itu, saya menjadikan sekretariat sebagai kampus pertama – kampus keduanya adalah kelas di jurusan – untuk mengasah daya analitik keilmuan saya terhadap fenomena sosial.  
Islam bagi saya, saat itu dan hingga kini, berwajah pembebasan, fungsionalisme, fenomenologik, liberatif dan transformatif. Sederhana, Islam adalah agama yang berdampak positif terhadap hidup dan kehidupan manusia di muka bumi. Apabila Islam tidak berdampak apa-apa terhadap kehidupan di muka bumi, hingga hari ini saya meyakini bahwa kita – sebagai penganutnya – telah salah kaprah memaknai intisari keberislaman. Karena Islam diturunkan ke muka bumi, sehingga sebagai penganutnya, kita harus membebaskan bumi dari segala bentuk penindasan dan ketidaktentraman.

Dalam pandangan saya, Islam adalah kebudayaan ilahiyah yang lahir atas kerjasama manusia dengan Tuhan dalam membetulkan struktur kehidupan. Utusan Tuhan (baca: para nabi) adalah segelintir manusia yang mendapatkan kehormatan untuk berdiskusi dengan-Nya tentang bagaimana merancang agar kehidupan tidak karut-marut. Itulah kenapa agama diartikan sebagai “tidak hancur” dan dalam bahasa Inggris berarti religion, yang berarti religere (mengikat).

Ketika umat manusia tidak mampu meresapi saripati keagamaannya dalam hidup, posisinya sama dengan manusia yang lumpuh dan tak berdaya. Islam, ketika dianut dalam kehidupan harus membuahkan karya nyata, sehingga agama ini berfungsi secara manusiawi. Agama serupa garam yang mampu meresap ke setiap sektor kehidupan, menghidupkan semangat kemanusiaan, dan membebaskan manusia dari segala wujud penindasan.

Islam harus menjadi solusi bagi setiap persoalan yang mendera kehidupan, dan hal ini membutuhkan peran para intelektual yang mampu memproduksi pemikiran-pemikirannya untuk melakukan pembaharuan, tajdid, dan ijtihad kemanusiaan. Hal ini dilakukan karena tidak semua persoalan dalam hidup bisa kita temukan jawabannya di dalam Al-Quran dan Hadits, sehingga diperlukan kehadiran generasi ulul al-bab, yang mampu menjawab tantangan zaman dengan bekal kemampuan intelektual yang selalu dibimbing Allah. Kesalehan individual harus selalu menyertai kesalehan intelektual, sehingga dapat menjawab tantangan zaman atas ridha Allah. 

Tak hanya saleh individual dan intelektual saja. Kita juga harus memiliki kesalehan sosial dalam menjalani kehidupan yang serba fana ini. Sebab, hanya dengan kesalehan sosial, setiap persoalan yang berkaitan dengan pelanggaran-pelanggaran kemanusiaan dapat kita tanggulangi bersama.  

Saya pribadi, tidak setuju bila IMM dijadikan sebagai suplier kader politik tanpa menempa mereka dengan analisa sosial politik yang memuat ajaran teologi pembebasan. IMM, harus menjadi suplier kader politik yang tak hanya mengurusi jabatan, tak hanya gila kekuasaan, dan selalu melakukan intrik politik busuk; tetapi suplier kader politik yang selalu mengutamakan rakyat di atas kepentingan partai politik, golongan, dan pribadi.

Coba saksikan realitas kepolitikan di negeri kita yang kian tidak mengutamakan laku politik adiluhung. Kita juga bisa merasakan bahwa kader politik di negeri ini sudah sedemikian rusak karena ketiadaan idealisme murni dalam hatinya. Kita menjadi bangsa yang rabun idealisme, tuna moral, dan tiada tuntunan suci dalam beraktivitas di ranah kepolitikan. Tetapi, kondisi ini, jangan lantas membuat gerakan IMM nihil dari aktus intelektual, nihil idealisme, dan tiada semangat untuk menanamkan nilai-nilai adiluhung dalam berpolitik.

Setiap kader IMM yang terjun di ranah kepolitikan harus menjadi suri teladan bagi kader politik lainnya sehingga kehadiran IMM mewarnai dengan kebajikan laku berpolitik. Sebab, sebagai organisasi otonom, IMM didirikan oleh beberapa tokoh Muhammadiyah untuk memelihara idealisme bermuhammadiyah, merawat aktivisme berislam, dan menanam gerakan sosial untuk kehidupan di Indonesia yang lebih baik. Kader IMM jangan lantas terbawa arus gelombang zaman yang nihil dari kegiatan idealisme, intelektualisme, dan aktivisme sosial karena ruh ber-IMM terletak di dalam tiga ranah tersebut.

Untuk konteks Jawa Barat, kita sangat merindukan suatu masa, di mana IMM telah melahirkan tokoh-tokoh nasional yang memiliki kapasitas keilmuan yang mumpuni di bidang masing-masing. Salah satu tokoh dari Jawa Barat itu ialah Prof Ahmad Mansur Suryanegara, seorang sejarahwan Muslim yang sangat diperhitungkan di benua Asia. Kekuatan nalarnya sungguh luar biasa, dimana usia sepuh tidak mempengaruhi daya ingatnya yang sungguh menakjubkan.

IMM Jawa Barat harus melahirkan tokoh seperti halnya Prof Ahmad Mansur Suryanagara dengan menyegarkan kembali gerakan intelektualisme di tubuh organisasi ini. Saya hanya memberikan saran kepada IMM Jawa Barat, untuk menyegarkan kembali aktivitas intelektualisme di tubuh IMM.

Pertama, Hidupkan kembali lingkar kajian yang dapat memperkaya khazanah keilmuan di IMM Jawa Barat dengan membentuk majelis intelektual cendekia; dimana dalam langkah praktisnya setiap kegiatan harus sesuai dengan silabus pengkajian sesuai prinsip gerakan IMM. Bentuk kajian bersifat intensif agar apa yang telah dijadikan silabus pengkajian dapat menambah khazanah keilmuan para anggotanya. Jangka waktu pelaksanaannya diadakan seminggu sekali selama enam bulan, dengan mengundang alumni yang memiliki kompetensi sesuai dengan silabus pengkajian.

Kedua, ciptakan budaya menuliskan pemikiran ke dalam bentuk artikel, yang dikirim ke berbagai surat kabar atau media lainnya, dimana isi kandungan artikel merupakan hasil dari kajian yang dilakukan oleh lingkar kajian di IMM. Kita juga bisa menerbitkan media sebulan sekali yang memuat pemikiran-pemikiran yang dihasilkan oleh kader IMM Jawa Barat dalam bentuk buku, kemudian disebarkan ke berbagai daerah di Jawa Barat.

Ketiga, para alumni IMM yang tergabung dalam Fokal IMM Jawa Barat, harus memberikan dukungan berupa moril dan material untuk menopang kegiatan lingkar kajian yang dilaksanakan oleh DPD IMM Jawa Barat. Dukungan moril bisa berupa menyediakan pembicara atau pemateri yang siap mengisi diskusi dan kajian di DPD IMM Jawa Barat. Adapun dukungan material bisa dengan cara memberikan kompensasi kepada DPD IMM Jawa Barat untuk menyelenggarakan kegiatannya tanpa harus menengadahkan tangan kepada orang lain.

Untuk saat ini, sekian dulu catatan dari saya. Secara pribadi, saya berhutang budi kepada IMM. Berkat aktif di organisasi ini, saya mendapatkan kekayaan intelektual.

Lantas, kenapa saya berhutang budi?

Sebab, dari IMM lah, saya mendapat suntikan semangat untuk membaca, berdiskusi, dan menulis.

Dari kader senior di IMM juga, saya bisa mengenal media untuk mempublikasikan ide dan pemikiran saya saat menjadi mahasiswa dulu. Bahkan, pekerjaan saya di bidang penulisan juga, sababiyah-nya karena keaktifan di IMM.

Untuk mental, dari IMM lah, saya mendapatkan kepercayaan diri. Dari IMM pula, saya dapat berguru kepada kesalehan sosial KH. Ahmad Dahlan. Bahkan, dari IMM juga, saya merasa menjadi seorang manusia.

Satu hal yang tak saya dapatkan dari IMM.

Apakah itu?

Hehehe...Isteri. ***        

SUKRON ABDILAH
Mantan Ketua Lembaga Pers Ikatan (LPI) PC. IMM Kota Bandung (2005-2006)

26 November 2018

HAMKA; Aku Bukan Pengkhianat Negara!

HAMKA; Aku Bukan Pengkhianat Negara!

Almari buku milik ayahku setelah kewafatannya pada tahun 1987 terlihat kosong molompong. Hanya beberapa buku karangan Buya Hamka yang masih tertata rapi. Kendati seorang kepala sekolah di pelosok perkampungan, ayahku masih sempat membeli buku-buku karangan tokoh Muhammadiyah, NU, dan Persatuan Islam. Mataku tertuju pada tiga buku karangan sastrawan terkemuka yang mendapatkan gelar Doktor honoris Causa dari Universitas Al-Azhar, Cairo dan Universitas Kebangssaan Malaysia; sang ulama dan sastrawan, Buya HAMKA.

Buku pertama adalah roman klasik “Tenggelamnya Kapal Van Der Wijck”, buku kedua “Di Bawah Lindungan Ka’bah” dan buku ketiga “Tasauf Moderen”. Beliau dijuluki sebagai Hamzah Fansuri abad 20 oleh pecinta dan pemerhati dunia sastra. Muhammadiyah, umat, bangsa, dan Negara pasti bangga pernah melahirkan tokoh super kharismatik ini. Dua romannya yang menggugah telah kubaca sejak masa menjadi santri di Pesantren Persatuan Islam No. 19 Garut, 12 tahun silam. Ketika membaca roman “Tenggelamnya Kapal Van Der Wijck” aku menangis, meneteskan air mata, dan mengharu biru. Ya, buku itu merupakan roman yang menggambarkan adanya ketidakadilan hukum adat bagi sepasang kekasih. Cinta terhijabi kasta kelas sosial yang tak menempatkan manusia sebagai makhluk yang memiliki kesamaan derajat.

HAMKA adalah seorang ulama, sastrawan, wartawan, dan pecinta khazanah keilmuan hebat yang dimiliki bangsa ini. Karyanya mencapai 200-an judul buku. Sangat produktif seperti halnya ulama-ulama salaf shaleh pada masa Islam sedang berada di puncak peradaban. Aku tak bisa membaca dan menelaah karya-karyanya semua yang banyak itu. Hanya tiga buku yang tersisa di almari almarhum ayahku - yang pernah kutamatkan - karena ayahku mengidolkan buya HAMKA.

***

Tepatnya saat lebaran kemarin, buku yang sempat hilang, “Tasauf Moderen” mendadak bersilaturahim kembali ke rumahku. Aku pun tanpa berpikir panjang mengambilnya, mengelus dan menciumi buku tersebut. Saat di pesantren dulu, aku tak banyak memahami isi buku ini. Kini, setelah kubaca kembali muncul kesimpulan: HAMKA memang seorang ulama yang berprinsip “ambillah ilmu walaupun datangnya dari negeri Barat”. Terlepas dari kontroversi fatwa haram “Selamat Natal” pada tahun 80-an, aku masih tetap mengaguminya. HAMKA itu bukan pendendam. Bukan pengkhianat Negara seperti yang dituduhkan rezim orde lama kepadanya pada tahun 1964, hingga membuatnya mendekam di balik terali besi. Ketika Presiden Soekarno wafat saja, buya HAMKA memimpin shalat Jenazah.

Pada buku “Tasauf Moderen” cetakan XVII tahun 1980, aku menemukan pendahuluan yang ditulis Buya HAMKA ketika dirinya mendapatkan pengalaman menyakitkan di balik terali besi (Penjara). Pendahuluan itu ditulisnya pada tahun 1970. Aku tahu, bahwa buya HAMKA adalah penggemar Ibn Al-Qayyim Al-Jauziyah. Di dalam pendahuluannya itu aku menemukan beberapa substansi dan redaksi yang dikutip beliau berdasarkan ungkapan Ibn Al-Qayyim Al-Jauziyah dalam kitab Shadir Al-Khatir. Aku baru tahu, buya HAMKA diinterogasi oleh aparat karena dirinya dicurigai sebagai pengkhianat Negara. Delik tuduhannya ialah, HAMKA mengkhianati Negara karena telah menjual Negara kepada Malaysia.

Di dalam penjara itu, beliau mendapatkan beberapa pertanyaan yang diakui Buya sangat diada-adakan. Parahnya lagi, sang integrator yang kejam menanyakan sesuatu yang tidak pernah beliau lakukan. Tak sampai disitu, sang aparat juga memaksa buya HAMKA untuk menandatangani pernyataan telah menjual Negara agar dirinya mendekam di balik penjara. Dalam masa itu, ketika sedang gencar-gencarnya kemerdekaan Malaysia, buya HAMKA seakan telah dikambing-hitamkan. Dengan 1001 pertanyaan selama 15 hari 15 malam itu, ujar HAMKA telah dirancang bahwa dirinya bersalah. Kendati dirinya tidak bersalah, kekuasaan Negara menghendaki HAMKA sebagai orang bersalah yang layak di penjara. Bahkan kalau belum mengaku bersalah, tidur beliau pun diganggu.

Suatu hari beliau pernah dibentak, “Saudara pengkhianat, menjual Negara kepada Malaysia!”

Bagaikan disambar geledek di siang bolong. HAMKA tak menyangka bahwa dirinya akan mendapatkan tuduhan seperti itu. Dengan kesedihan yang mendera, ia pun menjawab tuduhan tersebut.

“Janganlah aku disiksa seperti ini. Buatkan saja satu pengakuan bagaimana baiknya, akan aku tanda tangani. Tapi, tolong, kata-kata demikian janganlah saudara ulangi.”

“Memang saudara pengkhianat.” Balas sang integrator sambil pergi seraya menghempaskan pintu. Gebrakkk….remuk rasanya hati Buya HAMKA saat itu.

***

Selama satu jam lamanya, terjadi peperangan batin (kebajikan dan kebatilan) dalam jiwa Buya HAMKA. Beliau mengaku sudah membuat surat wasiat kepada keluarganya di rumah. SYETAN membisikkan ke dalam hati HAMKA sesuatu yang dilarang Islam: bunuh diri di tengah keputusasaan. Di dalam sakunya waktu itu tersimpan silet, yang akan dijadikan senjata untuk memotong urat nadi. Biar orang tahu, kata HAMKA, bahwa dirinya mati karena tidak tahan menderita (disiksa). Saat itu Alhamdulillah, keimanan HAMKA memenangi pertarungan dahsyat dengan bisikan SYETAN.

Beliau pun berkata dalam hatinya, “Kalau kamu mati bunuh diri karena tidak tahan dengan penderitaan batin, niscaya mereka akan menyusun berita yang indah ihwal kematianmu. Kamu melakukan upaya bunuh diri karena malu kepergok setelah polisi mengeluarkan bukti atas pengkhianatanmu. Maka hancurlah nama yang telah kau ukir dengan segala perjuangan, penderitaan, keringat, dan kerja keras selama berpuluh tahun. Kemudian ada selentingan warga yang berkata: “Dengan bukunya “Tasauf Moderen” dia membimbing orang lain agar sabar, tabah dan teguh bila menderita. Orang yang membaca bukunya itu semua selamat, sedang dirinya sendiri memilih jalan yang sesat. Pembacanya masuk surga karena bimbingannya, dan dia di akhir hayatnya memilih neraka.”

Bahkan, anak-anakmu dan seluruh keluargamu akan menderita serta menanggung malu atas keputusanmu, kemudian menyumpahi kamu. Tetapi, Alhamdulillah perdaya SYETAN itu dapat ditangkis oleh Buya HAMKA, sehingga beliau memenangi pertempuran itu. Saat itu, buya HAMKA merasa memerlukan buku karangannya sendiri, “Tasauf Moderen”. Dan, ketika keluarganya membesuk beliau, diutarakanlah keinginannya untuk dibawakan “Tasauf Moderen” yang fenomenal tersebut.

Setelah buku tersebut berada di tangan Buya HAMKA, beliau menelaahnya, membaca, merenungi, dan mencoba menghayatinya; kemudian tak lupa juga beliau membaca kitab Al-Quran. Sehingga suatu ketika datang seorang kawannya untuk membesuk beliau dan mendapati HAMKA sedang membaca buku “Tasauf Moderen”. Kawannya tersebut seraya berguyon berkata, “Eh, Pak HAMKA sedang membaca (karangan) pak HAMKA.”

Waktu itu, seraya tersenyum teduh nan indah, beliau menjawabnya: “Memang betul..HAMKA sedang memberikan nasihat kepada diri sendiri setelah sekian lamanya memberikan nasihat pada orang lain. Dia hendak mencari ketenangan jiwa dengan buku ini. Sebab telah banyak orang mmeberitahukan kepadanya bahwa mereka mendapat ketenangannya kembali karena membaca buku “Tasawuf Moderen” ini!”

Buya HAMKA dengan curhatnya di dalam buku “Tasauf Moderen” itu seolah menyadarkan kita, keputusasaan tak seharusnya melahirkan teologi bunuh diri yang sesat seperti dilakukan teroris yang mengatasnamakan Islam. Buya HAMKA, kendati pernah dituduh sebagai pengkhianat Negara tidak membuatku mempercayainya sepenuh hati. Aku masih menjadikan dan menempatkan HAMKA sebagai pahlawan kesusastraan dan ilmu-ilmu agama yang mulia. Muhammadiyah, Islam, bangsa dan Negara sangat beruntung memiliki ulama seperti beliau, terlepas dari fatwa haram “Selamat Natal” oleh lembaga MUI, yang diketuainya pada tahun 80-an. Yang jelas, ketika fatwa itu dicurigai dapat memantik kekerasan atas nama agama karena bertentangan dengan prinsip toleransi. Buya HAMKA dengan legowo dan lapang dada bersedia menanggalkan jabatan ketua MUI untuk mengamalkan toleransi dalam kehidupannya. Bagi HAMKA, daripada kepemimpinannya di lembaga tertinggi umat Islam ini dapat merusak stabilitas Negara; mendingan dia turun dari jabatan. Satu bentuk moral sosial yang tak dimiliki ulama-ulama saat ini. Wallahua’lam bishshawwab