Showing posts with label Agama. Show all posts
Showing posts with label Agama. Show all posts

17 December 2018

Memberi Itu Harus Memberdayakan

Memberi Itu Harus Memberdayakan

“Hai orang-orang beriman, janganlah kamu menghilangkan (pahala) sedekahmu dengan menyebut-nyebutnya dan menyakiti (perasaan si penerima), seperti orang yang menafkahkan hartanya karena ria kepada manusia dan dia tidak beriman kepada Allah dan hari kemudian. Maka perumpamaan orang itu seperti batu licin yang di atasnya ada tanah, kemudian batu itu ditimpa hujan lebat, lalu menjadilah dia bersih (tidak bertanah). Mereka tidak menguasai sesuatu pun dari apa yang mereka usahakan; dan Allah tidak memberi petunjuk kepada orang-orang yang kafir,”  (QS. Al-Baqarah [2]: 264).

PERILAKU mulia nan indah tapi serasa sulit dilaksanakan ialah “memberi”. Berbeda dengan menerima. Setiap orang pasti berebut bila saja mengurusi segala hal yang berkaitan dengan penerimaan. Entah itu ketika menerima jabatan, harta kekayaan, atau materi yang disedekahkan orang lain.

Di dalam Islam, amal kebajikan yang tinggi ialah praktik memberi melalui perintah zakat, infaq dan sedekah. Bahkan, memberi tidak harus menunggu kita menjadi orang yang kaya raya. Ini telah dicontohkan oleh panutan umat Islam, Rasulullah SAW, sepanjang hayatnya. Betapa tidak, saking gemarnya memberi, baginda Rasulullah sampai menangis saat menyaksikan seorang yatim dan miskin terlantar di jalanan. Beliau pun dengan sigap langsung menawarkan istrinya, Aisyah, untuk menjadi ibu angkat bagi anak yatim yang terlantar tadi.

Bahkan, tak jarang demi kegiatan memberi ini, Rasulullah SAW rela mengganjal perutnya dengan batu kerikil untuk menahan lapar. Padahal, manusia sekelas Nabi, bukan tak punya makanan. Tetapi makanan itu diberikan kepada fakir miskin.

Di dalam ayat di atas, setinggi apa pun keinginan untuk memberi tetap saja kita sebagai pemberi perlu mengindahkan perasaan hati si penerima. Memberi dengan cara menghardik atau memamer-mamerkan apa yang telah kita berikan merupakan perilaku yang dapat mengundang rasa sakit hati si penerima. Karena itu, alangkah bijaksana apabila memberi dilakukan dengan niat ikhlas, menolong orang ke luar dari rasa sedih, khawatir, dan resah. Inilah yang membuat perilaku memberi menjadi tidak mudah. Sebab, sedikit saja tergelincir dari niat, kita malah akan terjebak pada perilaku riya (ingin terlihat baik oleh orang lain).

Praktik memberi laksana matahari menyinari bumi. Bayangkan, dengan cahayanya yang kadang terasa menyengat, matahari melepaskan seluruh makhluk bumi dari ancaman kematian. Tanpa matahari, alam semesta akan kehilangan energi yang mampu memberikan kekuatan untuk bergerak. Hebatnya, sebanyak apa pun matahari melepaskan cahayanya, ia tak pernah meminta balasan.

Dalam konteks filantrofis, maka si penerima, kurang pantas jika menolak pemberian orang atau meminta lebih dari apa yang orang lain berikan. Sebab, menolak rezeki lewat tangan orang lain juga tidak disukai oleh Rasulullah. “Janganlah me­nolak permintaan seseorang, walaupun kamu melihatnya memakai se­pasang gelang emas,” begitulah salah satu sabda Rasulullah SAW.

Hanya, satu catatan perlu diingat; jangan sampai membuat orang keasyikan dengan kebiasaan menerima pemberian. Sebab, dalam ajaran Islam, praktik meminta-minta tidak begitu disenangi. Rasulullah Saw. berwasiat: “Siapa yang meminta guna memper­banyak apa yang dimilikinya, maka se­sungguh­nya ia hanya mengumpulkan bara api (ne­raka).” Karena itu, pemberi yang baik adalah pemberi yang sekaligus mampu memberdayakan si penerima hingga mampu hidup mandiri, seperti matahari.

Hal ini dikatakan Moeslim Abdurrahman dalam bukunya Islam sebagai Kritik Sosial (1996: 41) sebagai Muslim “organik”. Yakni kegiatan tolong menolong antarsesama yang dapat menciptakan ikatan masyarakat yang teguh di tengah kondisi lemah. Dalam arti lain; masyarakat yang mampu memaksimalkan segala sumber daya manusia (SDM) dan sumber daya alam (SDA) yang ada untuk menopang kebutuhan hidup.

Karena itu kita kerap kali memandang sepele praktik memberi. Notabene masyarakat kita begitu asyik memaknai bahwa memberi sekadar memberi; bukan memberi dengan cara memberdayakan. Karena itu, gagasan konsepsional Moeslim Abdurrahman dalam rangka membangun Muslim “organik” patut menjadi petunjuk guna mewujudkan kesejahteraan hidup. Artinya, tidak ada alasan lagi bagi kita berkeluh kesah dan mengharap belas kasih orang lain. Akan tetapi menanamkan keyakinan bahwa kita harus menjadi pemberi yang tak sekadar memberi; tetapi memberi dengan cara yang memberdayakan.

Rasulullah SAW bersabda, “Tangan di atas (pemberi yang memberdayakan) lebih baik daripada tangan yang di bawah (peminta)?”

Allah SWT berfirman, ”Dan carilah pada apa yang telah Allah karuniakan kepadamu (kebahagiaan) negeri akhirat, dan janganlah kamu melupakan bagianmu dari (kenikmatan) duniawi, dan berbuat baiklah (kepada orang lain) sebagaimana Allah telah berbuat baik kepadamu, dan janganlah kamu berbuat kerusakan di (muka) bumi. Sesungguhnya Allah tidak menyukai orang-orang yang berbuat kerusakan,” (Q.S. Al-Qashas [28]: 77). Wallahua’lam

30 November 2018

Kesulitan Hidup Harus Dihadapi Secara Optimis

Kesulitan Hidup Harus Dihadapi Secara Optimis


Hidup yang kita jalani, dipenuhi rintangan dan membutuhkan kekuatan diri untuk keluar dari rintangan yang mengadang. Kesulitan ekonomi, penderitaan, dan ketidakse suaian harapan dengan kenyataan adalah bentuk konkrit rintangan tersebut. Bagi orang yang lemah jiwanya, rintangan di pahami sebagai 'batu sandungan' yang sulit dilalui.

Fenomena bunuh diri, misalnya, nota bene diinisiasi kelemahan jiwa semacam ini. Karena impitan ekonomi, tak sedikit bunuh diri menjadi jalan menyelesaikan masalah kehidupan. Allah SWT berfirman: "Sesungguhnya manusia diciptakan ber sifat keluh kesah lagi kikir. Apabila ia di tim pa kesusahan ia berkeluh kesah, dan apabila ia mendapat kebaikan ia amat ti d ak mau menyampaikannya kepada orang lain (kikir)." (QS. Al-Maa'arij [70]:19-21)

Ayat di atas mengindikasikan bahwa kerapuhan jiwa dapat mengakibatkan lahir nya keluh kesah yang tak produktif. Ketika kesusahan hidup menerpa, tali ke kang moral agama menjadi longgar. Tak ayal lagi, kehidupan menjadi barang mu rah yang sedemikian tak berharga untuk dijaga kelangsungannya.

Seorang gadis, rela melompat dari gedung bertingkat hanya diakibatkan masalah sepele: putus dengan kekasih nya. Seorang pengusaha melakukan hal yang sama, karena sedang menghadapi kemelut masalah di perusahaannya. Me reka memahami hidup hanya dengan meng gunakan rumus keinginan mesti berbuah kenyataan.

Padahal, rumus kehidupan tidak se per ti itu. Adakalanya keinginan melahir kan kegagalan atau ketidaksesuaian de ngan realitas hidup. Maka, sewajibnya mo ralitas agama diperkokoh kembali dalam diri kita. Sehingga hidup mewujud dalam bentuk yang asyik-masyuk.

Ruang dan waktu yang dijalani dengan keikhlasan penuh bahwa Dia (Allah) se dang menguji kadar keimanan kita pada-Nya. Ingat, lemparan batu tentu saja tidak se mua nya akan mengenai target yang sama. Artinya, pengharapan adakalanya ti dak sesuai dengan yang kita rancang. Pada posisi ini, kesabaran dan ketabahan merupakan benteng pertahanan yang su per-duper efektif meredam keinginan mengakhiri hidup kala masalah menerpa.

Seorang Muslim sejati, adalah individu yang dapat mengoptimalkan potensi diri untuk mewujudkan harapan, tanpa terpa ku pada hasil. Dia (Allah) akan membe ri kan berkah tak terkira meskipun harapan itu gagal terwujud. Karena dengan ke ga galan itu, kita dapat mempela jari kekurangan sehingga di lain waktu dapat dikurangi. Inilah letak keberkahan tak ter kira. Kita, dengan kegagalan yang menim pa akan membentuk jiwa hingga menjadi kokoh.

Alhasil, muncul sikap hati-hati, awas dan waspada ketika menyusun program kerja kehidupan. Dalam pepatah disebut kan, seorang manusia bijaksana adalah orang yang tidak akan terperosok pada lubang yang sama. Di dalam Alquran pula dijelaskan: "Dan jiwa serta penyempur na annya (ciptaannya), maka Allah mengil hamkan (memberi potensi) pada jiwa kefasikan (pengingkaran terselubung) dan ketakwaan. Sesungguhnya beruntunglah orang yang menyucikan jiwa dan merugi lah orang yang mengotorinya." (QS. Asy- Syams [91]: 7-10).

Term takwa memiliki arti dasar, se buah ketakutan jiwani. Ketika rasa takut dikelola secara bijak, positif dan siste matis, tentunya lahirlah sebuah kondisi psikologis yang awas dan waspada. Na mun, ketika perasaan takut tidak dikelola secara bijak, positif dan sistematis akibat nya akan melahirkan keluh kesah, putus asa, dan bosan menjalani kehidupan.

Tak heran kalau bunuh diri menjadi solusi favorit orang semacam ini. Kekuat an dalam dirinya telah hilang dan berang sur-angsur membawanya jadi zombie yang tak sadar antara ide dan realitas ka dang tidak sesuai.

Kita mesti memompa potensi diri se hingga terbentuk 'modal spiritual' agar dapat memahami hidup sebagai ladang beramal saleh. Tanpa memiliki modal se perti ini, mind set kita akan menempatkan hidup sebagai barang murah yang dapat diakhiri dengan bunuh diri. Pola pikir se perti inilah yang mesti ditumpurludeskan dari dalam diri. Sebab, pesimisme dalam Islam tak dianjurkan. Islam hanya me ng ajarkan doktrin kehidupan optimisme.

Masa depan merupakan 'bumbu kehi dupan' yang dapat melecut gairah menja lani realitas kehidupan. Kewajiban kita se bagai manusia beragama salah satunya menabur benih-benih optimisme guna meng gapai keberkahan hidup. Bukankah Alquran mengingatkan: "Hai orang-orang yang beriman, bertakwalah kepada Allah dan hendaklah setiap diri memperhatikan apa yang telah diperbuat nya untuk hari esok (akhirat); dan bertak walah kepada Allah, sesungguhnya Allah Maha menge tahui apa yang kamu kerja kan." (QS. Al- Hasyr [59]:18). Wallahua'lam.

29 November 2018

Shalat for Succes

Shalat for Succes

Buku ini memuat rahasia di balik shalat dalam Islam. Selain sebagai sebuah kewajiban, shalat lima waktu, misalnya, kalau ditunaikan secara konsisten berdampak pada munculnya potensi sukses. Betapa tidak, shalat di dalam bacaan dan gerakannya menyimpan energi dahsyat untuk mengubah kehidupan si pengamal.

Satu alasan yang mesti dicamkan ketika menunaikah shalat, yakni menguatkan rasa cinta kepada-Nya. Itulah kenapa Allah mewajibkan shalat bagi hamba-Nya. Karena Allah ingin bertegur sapa dengan ummat yang mencintai-Nya, maka disediakanlah waktu khusus, lima kali dalam sehari. Bukti shalat adalah cinta-Nya, dipenuhilah shalat itu dengan energi yang dahsyat, yang mampu membendung semua kejahatan dari diri pelakunya, dan membawa mereka menuju kebahagiaan.

Dengan syarat: Jika shalat itu dikerjakan juga dengan penuh cinta: ikhlas hanya pada-Nya. Di dalam Al-Quran dijelaskan, “ Sesungguhnya Shalat itu mencegah dari perbuatan keji dan munkar”. (QS. Al-Ankabuut: 45). Ayat ini mengindikasikah shalat memiliki potensi pengubah. Bagi yang ingin sukses dunia dan akhirat, shalat adalah satu jalan menggapainya selain berusaha sungguh-sungguh.

Derajat shalat seperti itulah yang harus dicapai oleh kita! Tetapi, ternyata banyak dari kita yang gagal mencapainya, lebih karena ”sekedar gugur tanggung jawab” saja, tidak serius dengan upaya ”mendirikan” shalat. Padahal, cinta-Nya tak akan sampai kepada orang-orang yang tidak bersungguh-sungguh. Apalagi untuk orang yang sama sekali tidak pernah melakukannya.

Buku ini mengajarkan satu hal, bahwa karena shalat merupakan tanda cinta-Nya. Marilah kita shalat dengan penuh cinta, sehingga Dia, sang pemilik kerajaan langit dan bumi ini, berkenan menemui kita dan melimpahkan cinta-Nya. Buku ini terbilang unik dan menghadirkan perspektif baru tentang shalat. Sebab, shalat meskipun berdampak positif terhadap hidup, mesti diinisiasi dengan cinta berbalut keikhlasan. Tak hanya ritual, shalat juga merupakan obat jiwa dan sarana pelatihan menuju puncak kesuksesan.

Testimoni di bawah ini menjadikan buku popular dan memandu ini layak Anda miliki.

"Buku ini menegaskan shalat bukan hanya sekadar ritual, tapi juga syifa' (pengobatan spiritual) dan riyadhah (pelatihan) untuk meraih kesuksesan dan kebahagiaan.” --Prof. DR. K. H. Miftah Faridl, Cendekiawan.

"Hal baru tentang shalat dikaitkan dengan cinta. Buku ini bermanfaat untuk menaikkan derajat cinta kita." --H. Roni Tabroni, penulis Mukjizat Shalat Malam for Teens.

"Shalat akan semakin khusyuk dan penuh cinta." -- Ayi Yunus, penulis Dahsyatnya Istikharah.

Silakan rasakan energi shalat dalam hidup Anda dengan membeli dan membaca buku ini. Dijamin mencerahkan dan memuaskan dahaga jiwa!

Judul: Energi Shalat; Bangkitkan Potensi Suksesmu Melalui Shalat Lima Waktu
Penulis: Sabil el-Ma'rufie
Penyunting: Doel Wahab
Penerbit: Mizania, 2009
Harga: 31.000
Santun Berislam Kunci Kedamaian

Santun Berislam Kunci Kedamaian

MENJALANI kehidupan di tengah perselisihan, pertengkaran, peperangan, dan kecamuk nafsu egois memang sangat menjengahkan. Pluralitas menjadi patologis dalam pandangan warga. Kebenaran (al-haqq) didominasi kaum mayoritas, yang kadang mengejawantahkan arogansi pikir, sikap, dan laku. Manusia yang sejatinya selalu mendamba kedamaian membumi di kehidupan sehari-hari tak lagi memenuhi setiap ruang di kedalaman jiwa.

Kita menjadi manusia yang merasa paling benar dan paling shaleh; paling layak memonopoli ruangan mewah nan indah di alam surgawi. Bahkan, Tuhan yang paling berhak menunjuk apakah seorang hamba layak memasuki surga ataukah tidak; digantikan secara paksa oleh kepongahan kita. Singgasana peradilan Tuhan direbut manusia yang berteriak “Akulah yang Maha benar” di medan kehidupan hingga tidak menyisakan ruangan untuk peace, shalom, shanti, dan salam, seperti yang diajarkan dalam Kekristenan, Yudaisme, Hindu, dan Islam kepada para penganutnya.

Islam mengajarkan umatnya untuk meluapkan kesantunan dalam aktivitas hidup. Kedamaian merupakan Realitas Ilahi yang membumi karena memantulkan keindahan mutlak yang bermuara dari kebenaran Ilahi (al-haqq). Kedamaian, harmonitas atau ketentraman berarti wujud Tuhan di muka bumi. “Tiada ketentraman kecuali di dalam Kebenaran Ilahi (al-haqq)”, ujar Rumi. Karenanya, ketika seorang manusia mencoba menghancurkan kedamaian, harmonitas, dan ketentraman; mereka berarti telah menghancurkan realitas Tuhan di muka bumi.

Kedamaian ialah hasil dari upaya perdamaian yang diupayakan umat manusia. Namun, karena manusia kerap mengklaim kebenaran secara “hitam putih” akibatnya lahirlah kekerasan dan penyesatan yang mencederai kedamaian dan perdamaian itu sendiri. Kebenaran beragam wajah dan plural bentuknya. Bukan milik manusia yang serba terbatas, serba emosional, dan rentan terganggu saluran ketika berkomunikasi (noise) dengan teks-teks keagamaan. Kebenaran merupakan potret keindahan ilahi, yang sejuk dan tenang serta damai (salam); sehingga tidak pernah menyisakan ruang untuk kebencian dan kekerasan.

Di dalam Al-Quran dan sebuah hadis Nabi, para penghuni surga diriwayatkan selalu mengucapkan salam atau damai di dunia maupun di akhirat. Kaum Sufi Asia Tengah menyebutnya dengan perdamaian universal (shulh-i kull), yang diraih ketika dualisme, kondisi berlawanan atau ketegangan bertemu (coincidentia oppositorum).

Kedamaian yang dihasilkan dari berislam ini perwujudan dari nama Allah, as-salam, yang berarti pemberi kedamaian karena Dia adalah sumber keindahan dan kebenaran. “Dialah yang telah menurunkan ketenangan (al-sakinah) ke dalam hati orang-orang mukmin.” (QS. Al-Fath [48]:4), yang menginisiasi seorang hamba memancarkan kedamaian berbalut rahmat yang bersifat surgawi. Terma sakinah sinonim dengan shekinah, yang menurut Kabbalis, berarti kedamaian bersifat surgawi dan berpadu dengan rahmat, karena Allah ialah sumber langsungnya. (Seyyed Hossein Nasr, The Garden of Truth, Mizan, 2010: 105-107).

Karena itulah – meminjam istilah Seyyed Hossein Nasr – keberislaman yang hakiki ialah keberislaman yang mengaktualkan rahman dan rahim Allah, di mana kesantunan sikap, pikir, dan laku lampah merupakan visi kebumian yang diemban seorang muslim. Fenomena ISIS dan bermunculannya umat Islam intoleran, merupakan wujud dari patologis keberislaman, karena mereka menjustifikasi kekerasan dengan balut teks yang sudah menjadi ideologi.

Kekerasan atas nama apapun kalau tidak ditanggulangi secara proaktif akan menjadi bom yang dapat meletus kapan saja dan merusak praktik hidup berbangsa dan bernegara. Keberlainan yang niscaya dimiliki bangsa-negara (nation-state) dipandang sebagai “anomali sosial” yang harus diberantas.

Saya pikir, ketika umat atau bangsa tidak meyakini, tidak mengakui, tidak menghargai dan tidak memelihara keragaman; kekerasan akan menjalar di tubuh bangsa. Akibatnya, arogansi laku bakal mengotori Indonesia yang plural, majemuk, dan dihiasi keberbedaan.

Secara kemanusiaan setiap agama tidak pernah melegitimasi praktik kekerasan. Apalagi dalam konteks keragaman yang menghiasi negeri ini. Si “liyan” adalah fartner yang mesti diajak bekerjasama melakukan kerja praksis emansipatoris dalam membebaskan bangsa dari impitan ekonomi yang menyengsarakan.

Kebajikan itulah, saya pikir, yang masih bisa menyatukan kita!

Jalan menuju kebenaran memang beragam dan kita sebagai manusia sejatinya tidak mudah mengklaim bahwa kebenaran mutlak ialah milik kita, sedangkan pemahaman orang lain sesat dan menyesatkan. Kesadaran bahwa perbedaan merupakan anugrah tak terkira dari Tuhan mesti dijaga dan dipelihara demi terwujudnya kedamaian di negeri plural Indonesia ini. ***
Sari Kebijaksanaan di Taman Kebenaran

Sari Kebijaksanaan di Taman Kebenaran

DOKTRIN sufi yang terkenal adalah mengenal proses penciptaan sebagai ketetapan dan Entifikasi-Diri dari nama dan Sifat Tuhan ke dalam ranah arketifal (al-a’yan al-tsabitah) yang kekal dari semua ciptaan. Inilah yang disebut Seyyed Hossein Nasr dengan al-fayadh al-aqdas (pancaran tersuci) dalam setiap makhluk Tuhan. Kemudian arketif kekal tersebut, menurut Nasr dimasuki “ruh Maha Penyayang” Tuhan, sehingga lahirlah segala bentuk-wujud yang ada di muka bumi.

Alam semesta, termasuk apa yang ada di dalamnya (manusia, hewan, tumbuhan, bebatuan, dsb) adalah hasil dari tiupan Tuhan dengan nafas al-rahman. Oleh karena itulah, semua yang ada di alam semesta hakikatnya merupakan nafas Allah. Realitas kealaman, bagi Nasr, merupakan pantulan dari kesucian ilahi (teofani) yang sejatinya mendapat perlakuan yang bijaksana dan arif dari sang khalifah fi al-ardh (umat manusia). Secara indah, Seyyed Hossein Nasr, dalam buku ini menyitir rangkaian sastrawi Matsnawi karya Jalaluddin Rumi: Andaikan segala yang ada memiliki lidah/Maka akan tersingkaplah seluruh tirai dari segala yang ada//.

Seyyed Hossein Nasr, adalah guru besar studi Islam di Universitas George Town. Ia seorang akademis yang berpuluh tahun mereguk ilmu-ilmu tradisional dan modern dari Barat. Bagi dunia, Nasr ialah juru bicara utama ikhwal spiritualitas dan filsafat Islam dengan bahasa modern, kontemporer nan canggih. Baginya, tradisi tasawuf telah dilestarikan selama berabad-abad dengan memadukan daya inisiasi (wilayah/walayah) dan berkat (al-barakah) yang diperlukan untuk bekal perjalanan spiritual umat manusia.

Yang menarik dari buku ini. Selain bahasanya yang reflektif dan spiritualistis; Seyyed Hossein Nasr – seperti ditulis Prof. Komaruddin Hidayat – mampu mengangkat kebenaran perennial tasawuf secara modern. Tak hanya itu, di tengah krisis lingkungan yang mendera muka bumi ini dengan beragam atribut: pemanasan global (global warming), bencana (natural disaster), dan perilaku merusak alam oleh segelintir umat manusia. Nasr, menyadarkan kita bahwa sesungguhnya hakikat alam, baik makrokosmos maupun mikrokosmos adalah pancaran ruh ilahi. Segala yang ada di muka bumi, dalam bahasa lain, sebagai “wujud lain” Tuhan.

Hal itu mengindikasikan laku eksploitatif dan destruktif yang kita lakukan pada ekosistem kehidupan (alam sekitar) – untuk dalih pembangunan – merupakan bentuk pengkhianatan terkejam pada eksistensi Tuhan. Ini dikarenakan manusia terhijab keangkaramurkaan, keangkuhan, dan kesombongan. Dengan gamblang, ia menopang hipotesis kesufiannya secara modern dengan pendekatan filsafat analitik-religius. Ia – dalam buku ini – memandang bahwa wujud memiliki tingkatan-tingkatan yang menandai bentuk realitas tertinggi. Realitas terbawah (alam ini), bagi pakar Sufisme ini, diselubungi hijab tetapi sekaligus mengungkapkan realitas tertinggi (sang Pencipta).

Tujuan dari kehidupan spiritual untuk mengangkat atau mendobrak tabir yang menyelubungi kesadaran manusia atas realitas yang sedang dijalaninya. Maka, tasawuf eksistensinya adalah sebagai alat dobrak yang dirancang secara spiritual. Tasawuf, dalam buku ini, seperti diungkapkan Seyyed Hossein Nasr, berbicara tentang yang tampak (al-zahir) dan yang tersembunyi (al-bathin) yang tak hanya menyangkut hubungan manusia dengan Tuhan, akan tetapi dengan seluruh Makhluk-Nya (hlm. 69).

Beliau (Nasr) pun mengutip syair sastrawi psikospiritual dari filsuf dan penyair Persia abad 11, Nashiri Khusraw: Pandanglah kenyataan batiniah dunia dengan mata/yang memandang ke dalam/Karena dengan mata yang memandang ke luar engkau takkan pernah/dapat melihat yang di dalam//. Tabir yang menyelubungi kesadaran perennial manusia dapat disingkapkan (kasf al-mahjub) dengan menjelajahi taman kebenaran. Segala yang ada, termasuk Hadirat Yang Satu akan tersingkap.

Buku versi Indonesia yang diterbitkan penerbit Mizan ini tak berlebihan jika menjadi koleksi bacaan buku-buku spiritualitas Anda. Sebab, di dalamnya terkandung intisari kehidupan yang dibutuhkan manusia modern yang serba sibuk. Seyyed Hossein Nasr, dalam buku ini, berhasil mengetengahkan khazanah sufistik dalam bahasa yang canggih. Selamat mereguk sari tasawuf yang nikmat untuk dikonsumsi ruhani Anda.

dimuat Harian Republika, Jumat 09 April 2010.

Judul                : The Garden of Truth; Mereguk Sari Tasawuf
Judul Asli         : The Garden of Truth; The Vision and Promise of Sufism, Islam’s Mystical Tradition
Penulis             : Seyyed Hossein Nasr
Penerjemah    : Yuliani Liputo
Penerbit          : Mizan, Bandung
Cetakan           : I, Januari 2010
Tebal               : 304 hlm
Harga              : Rp. 57500