Showing posts with label Buku. Show all posts
Showing posts with label Buku. Show all posts

29 November 2018

Shalat for Succes

Shalat for Succes

Buku ini memuat rahasia di balik shalat dalam Islam. Selain sebagai sebuah kewajiban, shalat lima waktu, misalnya, kalau ditunaikan secara konsisten berdampak pada munculnya potensi sukses. Betapa tidak, shalat di dalam bacaan dan gerakannya menyimpan energi dahsyat untuk mengubah kehidupan si pengamal.

Satu alasan yang mesti dicamkan ketika menunaikah shalat, yakni menguatkan rasa cinta kepada-Nya. Itulah kenapa Allah mewajibkan shalat bagi hamba-Nya. Karena Allah ingin bertegur sapa dengan ummat yang mencintai-Nya, maka disediakanlah waktu khusus, lima kali dalam sehari. Bukti shalat adalah cinta-Nya, dipenuhilah shalat itu dengan energi yang dahsyat, yang mampu membendung semua kejahatan dari diri pelakunya, dan membawa mereka menuju kebahagiaan.

Dengan syarat: Jika shalat itu dikerjakan juga dengan penuh cinta: ikhlas hanya pada-Nya. Di dalam Al-Quran dijelaskan, “ Sesungguhnya Shalat itu mencegah dari perbuatan keji dan munkar”. (QS. Al-Ankabuut: 45). Ayat ini mengindikasikah shalat memiliki potensi pengubah. Bagi yang ingin sukses dunia dan akhirat, shalat adalah satu jalan menggapainya selain berusaha sungguh-sungguh.

Derajat shalat seperti itulah yang harus dicapai oleh kita! Tetapi, ternyata banyak dari kita yang gagal mencapainya, lebih karena ”sekedar gugur tanggung jawab” saja, tidak serius dengan upaya ”mendirikan” shalat. Padahal, cinta-Nya tak akan sampai kepada orang-orang yang tidak bersungguh-sungguh. Apalagi untuk orang yang sama sekali tidak pernah melakukannya.

Buku ini mengajarkan satu hal, bahwa karena shalat merupakan tanda cinta-Nya. Marilah kita shalat dengan penuh cinta, sehingga Dia, sang pemilik kerajaan langit dan bumi ini, berkenan menemui kita dan melimpahkan cinta-Nya. Buku ini terbilang unik dan menghadirkan perspektif baru tentang shalat. Sebab, shalat meskipun berdampak positif terhadap hidup, mesti diinisiasi dengan cinta berbalut keikhlasan. Tak hanya ritual, shalat juga merupakan obat jiwa dan sarana pelatihan menuju puncak kesuksesan.

Testimoni di bawah ini menjadikan buku popular dan memandu ini layak Anda miliki.

"Buku ini menegaskan shalat bukan hanya sekadar ritual, tapi juga syifa' (pengobatan spiritual) dan riyadhah (pelatihan) untuk meraih kesuksesan dan kebahagiaan.” --Prof. DR. K. H. Miftah Faridl, Cendekiawan.

"Hal baru tentang shalat dikaitkan dengan cinta. Buku ini bermanfaat untuk menaikkan derajat cinta kita." --H. Roni Tabroni, penulis Mukjizat Shalat Malam for Teens.

"Shalat akan semakin khusyuk dan penuh cinta." -- Ayi Yunus, penulis Dahsyatnya Istikharah.

Silakan rasakan energi shalat dalam hidup Anda dengan membeli dan membaca buku ini. Dijamin mencerahkan dan memuaskan dahaga jiwa!

Judul: Energi Shalat; Bangkitkan Potensi Suksesmu Melalui Shalat Lima Waktu
Penulis: Sabil el-Ma'rufie
Penyunting: Doel Wahab
Penerbit: Mizania, 2009
Harga: 31.000
Sari Kebijaksanaan di Taman Kebenaran

Sari Kebijaksanaan di Taman Kebenaran

DOKTRIN sufi yang terkenal adalah mengenal proses penciptaan sebagai ketetapan dan Entifikasi-Diri dari nama dan Sifat Tuhan ke dalam ranah arketifal (al-a’yan al-tsabitah) yang kekal dari semua ciptaan. Inilah yang disebut Seyyed Hossein Nasr dengan al-fayadh al-aqdas (pancaran tersuci) dalam setiap makhluk Tuhan. Kemudian arketif kekal tersebut, menurut Nasr dimasuki “ruh Maha Penyayang” Tuhan, sehingga lahirlah segala bentuk-wujud yang ada di muka bumi.

Alam semesta, termasuk apa yang ada di dalamnya (manusia, hewan, tumbuhan, bebatuan, dsb) adalah hasil dari tiupan Tuhan dengan nafas al-rahman. Oleh karena itulah, semua yang ada di alam semesta hakikatnya merupakan nafas Allah. Realitas kealaman, bagi Nasr, merupakan pantulan dari kesucian ilahi (teofani) yang sejatinya mendapat perlakuan yang bijaksana dan arif dari sang khalifah fi al-ardh (umat manusia). Secara indah, Seyyed Hossein Nasr, dalam buku ini menyitir rangkaian sastrawi Matsnawi karya Jalaluddin Rumi: Andaikan segala yang ada memiliki lidah/Maka akan tersingkaplah seluruh tirai dari segala yang ada//.

Seyyed Hossein Nasr, adalah guru besar studi Islam di Universitas George Town. Ia seorang akademis yang berpuluh tahun mereguk ilmu-ilmu tradisional dan modern dari Barat. Bagi dunia, Nasr ialah juru bicara utama ikhwal spiritualitas dan filsafat Islam dengan bahasa modern, kontemporer nan canggih. Baginya, tradisi tasawuf telah dilestarikan selama berabad-abad dengan memadukan daya inisiasi (wilayah/walayah) dan berkat (al-barakah) yang diperlukan untuk bekal perjalanan spiritual umat manusia.

Yang menarik dari buku ini. Selain bahasanya yang reflektif dan spiritualistis; Seyyed Hossein Nasr – seperti ditulis Prof. Komaruddin Hidayat – mampu mengangkat kebenaran perennial tasawuf secara modern. Tak hanya itu, di tengah krisis lingkungan yang mendera muka bumi ini dengan beragam atribut: pemanasan global (global warming), bencana (natural disaster), dan perilaku merusak alam oleh segelintir umat manusia. Nasr, menyadarkan kita bahwa sesungguhnya hakikat alam, baik makrokosmos maupun mikrokosmos adalah pancaran ruh ilahi. Segala yang ada di muka bumi, dalam bahasa lain, sebagai “wujud lain” Tuhan.

Hal itu mengindikasikan laku eksploitatif dan destruktif yang kita lakukan pada ekosistem kehidupan (alam sekitar) – untuk dalih pembangunan – merupakan bentuk pengkhianatan terkejam pada eksistensi Tuhan. Ini dikarenakan manusia terhijab keangkaramurkaan, keangkuhan, dan kesombongan. Dengan gamblang, ia menopang hipotesis kesufiannya secara modern dengan pendekatan filsafat analitik-religius. Ia – dalam buku ini – memandang bahwa wujud memiliki tingkatan-tingkatan yang menandai bentuk realitas tertinggi. Realitas terbawah (alam ini), bagi pakar Sufisme ini, diselubungi hijab tetapi sekaligus mengungkapkan realitas tertinggi (sang Pencipta).

Tujuan dari kehidupan spiritual untuk mengangkat atau mendobrak tabir yang menyelubungi kesadaran manusia atas realitas yang sedang dijalaninya. Maka, tasawuf eksistensinya adalah sebagai alat dobrak yang dirancang secara spiritual. Tasawuf, dalam buku ini, seperti diungkapkan Seyyed Hossein Nasr, berbicara tentang yang tampak (al-zahir) dan yang tersembunyi (al-bathin) yang tak hanya menyangkut hubungan manusia dengan Tuhan, akan tetapi dengan seluruh Makhluk-Nya (hlm. 69).

Beliau (Nasr) pun mengutip syair sastrawi psikospiritual dari filsuf dan penyair Persia abad 11, Nashiri Khusraw: Pandanglah kenyataan batiniah dunia dengan mata/yang memandang ke dalam/Karena dengan mata yang memandang ke luar engkau takkan pernah/dapat melihat yang di dalam//. Tabir yang menyelubungi kesadaran perennial manusia dapat disingkapkan (kasf al-mahjub) dengan menjelajahi taman kebenaran. Segala yang ada, termasuk Hadirat Yang Satu akan tersingkap.

Buku versi Indonesia yang diterbitkan penerbit Mizan ini tak berlebihan jika menjadi koleksi bacaan buku-buku spiritualitas Anda. Sebab, di dalamnya terkandung intisari kehidupan yang dibutuhkan manusia modern yang serba sibuk. Seyyed Hossein Nasr, dalam buku ini, berhasil mengetengahkan khazanah sufistik dalam bahasa yang canggih. Selamat mereguk sari tasawuf yang nikmat untuk dikonsumsi ruhani Anda.

dimuat Harian Republika, Jumat 09 April 2010.

Judul                : The Garden of Truth; Mereguk Sari Tasawuf
Judul Asli         : The Garden of Truth; The Vision and Promise of Sufism, Islam’s Mystical Tradition
Penulis             : Seyyed Hossein Nasr
Penerjemah    : Yuliani Liputo
Penerbit          : Mizan, Bandung
Cetakan           : I, Januari 2010
Tebal               : 304 hlm
Harga              : Rp. 57500

17 June 2010

"Blook" = Buku Era 2.0

"Blook" = Buku Era 2.0


Anda tahu apa itu “Blook” (baca: bluk)? Istilah ini menurut Wikipedia, ialah objek yang dibuat guna meniru buku, diterbitkan secara online melalui blog, atau buku cetak yang didasarkan pada konten blog. Istilah “blook” digunakan sejak tahun 1990-an, oleh pustakawan, Mindell Dubansky. “Blook” ialah nama lain dari look like a book (tampak seperti buku). “Blook” juga berasal dari penggabungan “blog” dan “book” sehingga menjadi “Blook”. Tepatnya 2002, Tony Pierce mengompilasi postingan di blog dan mengoleksinya jadi buku yang diberi judul “Blook”. Judul ini diberikan pembacanya, Jeff Jarvis dari BuzzMachine, dalam sebuah ajang bertajuk Pierce Award.

8 April 2010

Dahsyatnya Cinta [Sebuah Buku]

Dahsyatnya Cinta [Sebuah Buku]

Buku ini saya tulis karena kita adalah manusia yang punya rasa cinta. Dan, ternyata cinta kalau tidak kita artikan secara benar dan tepat, akan membahayakanmu. Cinta, dalam buku ini adalah cinta universal, yang melintasi batas kemanusiaan, kemakhlukan, dan ketuhanan. Ternyata, persangkaan kita terhadap cinta selama ini, tidak selamanya baik. Tapi, tak juga selamanya jelek. Pokoknya, baca aza deh, kisah-kisah para pecinta dalam buku ini untuk menemukan kebahagiaan cinta sejati. 

4 April 2010

Novel Muhammad yang Tak Biasa

Novel Muhammad yang Tak Biasa


Judul : Muhammad: Lelaki Penggenggam Hujan
Penulis : Tasaro GK
Penyunting : Fahd Djibran
Penerbit : Bentang Pustaka, Yogyakarta
Cetakan : I, Maret 2010
Tebal : xxvi+546 hlm

***

AKU adalah seorang muslim sejak tubuh ini meringkuk membentuk bulan sabit di rahim ibunda. Ari-ari itu merambat hingga ke pusar bagaikan daun bebadotan yang baunya minta ampun. Selama empat tahun lebih, aku tak mengingat apa pun. Kecuali merengek ingin makan, minum dan menyusu. Aku tak ingat dengan apa pun. Ibadah. Tuhan. Atau dengan utusan-Nya yang terakhir, Muhammad.

16 March 2010

Fiqh Jihad; Upaya Memahamkan Perdamaian

Fiqh Jihad; Upaya Memahamkan Perdamaian

Terorisme bukan ajaran Islam..., lho. Ekstremisme tak dikehendaki juga oleh Islam. Tadi, saya di-tag penerbit Mizania, ada buku baru karya Yusuf Qardhawi. Saya rasa buku ini akan memberikan secercah pemahaman yang damai ketika menafsir teks dari Al-Quran dan Hadits. Manfaat buat Anda juga akan lebih bijaksana memahami perbedaan. Kekerasan ketika dilawan dengan kekerasan juga, tentunya akan melahirkan dendam kesumat. Coba kita baca sinopsis buku ini. Pasti menarik dan baru...bahkan baharu...



25 February 2010

Optimis Memaknai Kematian

Optimis Memaknai Kematian

Judul : Berdamai dengan Kematian; Menjemput Ajal dengan Optimisme

Penulis : Komaruddin Hidayat

Penerbit : Hikmah, Jakarta

Cetakan : I, Agustus 2009

Tebal : 236 hlm


PROFESOR Komaruddin Hidayat merupakan salah satu akademisi yang mampu berkomunikasi dengan menggunakan bahasa awam. Rektor UIN Jakarta ini, telah membuktikannya dengan menulis buku populer bertajuk, Psikologi Kematian dan Psikologi Beragama. Pada Agustus 2009, mas Komeng – begitulah panggilan akrabnya – kembali menerbitkan buku dengan judul, “Berdamai dengan Kematian”. Buku yang diterbitkan penerbit Hikmah ini, merupakan lanjutan dari buku Psikologi Kematian dan Psikologi Beragama, yang mendulang sukses di pasaran (best seller) dengan oplah ratusan ribu eksemplar.

6 October 2009

Gerakan Praksis Antikekerasan

Gerakan Praksis Antikekerasan

Judul Asli : Non-Violence in The World Religions
Judul Terjemah : Agama yang Bertindak; Kesaksian Hidup dari Berbagai Tradisi
Penulis : Hagen Berndt
Penerbit : Kanisius, Yogyakarta
Cetakan : I, 2006
Tebal : 191 hlm

Kekerasan adalah sebentuk pelanggaran terhadap kebutuhan-kebutuhan dasar (basic needs) yang mengakibatkan bertebarannya konflik hingga pada ambang batas yang mengkhawatirkan. Kekerasan juga dapat berproduksi jadi dua stigma yang bertentangan yakni kekerasan “dapat diwujudkan” dan “dapat dielakkan”.

Kekerasan muncul acapkali dibumbui doktrinasi Agama, politik kekuasaan, dan perbedaan etnis. Perdamaian dalam arti keadilan sosial dan implementasi hak-hak manusia jauh melebihi soal tidak adanya perang. Berarti, perdamaian dalam konteks ini adalah tidak adanya kekerasan fisik yang bersifat langsung dan struktural (hlm 7).

Proyek antikekerasan

Proyek antikekerasan tidak semata-mata menjauhkan diri dari kekerasan, tidak juga berarti diam atau non-aktif, bahkan tidak sama sekali mesti pasif. Namun, berupaya aktif menebarkan perdamaian demi tegaknya hak asasi manusia untuk menghirup udara damai. Karena itu, memulihkan relasi sosial tanpa dikungkung aneka macam tindak kekerasan adalah salah satu usaha pengembalian misi profetik yang secara substantif diusung sistem sosial keberagamaan manapun.

Membicarakan sumber antikekerasan dalam seluruh tradisi agama di dunia seperti Yahudi, Kristen, Islam, Hindu dan Budha; barangkali menjadi kewajiban bagi setiap pemeluknya untuk menghindari penyalahgunaan doktrin Agama sebagai sumber legitimasi kekerasan. Sebab, pemahaman agama berulangkali – meski tidak seluruhnya – menjadi mediator kekerasan dan mendorong orang formalistis untuk memercikkan “api” konflik.

Oleh sebab itu, gagasan pemulihan pemahaman berbasis substansialisasi etika religius terhadap tantangan konfliktual di konteks dan ruang-waktu tertentu adalah tema sentral dari gerakan antikekerasan, sebagai hasil dari usaha kritis atas gejala kehidupan yang sedemikian karut marut dengan ragam pertentangan yang dapat memuaikan ikatan persaudaraan antar sesama manusia. Maka, rekonstruksi masyarakat ke arah pemahaman inklusif dan toleran adalah gagasan genius, ketika banyak terjadi peristiwa yang mengindikasikan mencuatnya gejala kekerasan di tubuh bangsa.

Sebab, hembusan konflik yang menyebar ditubuh bangsa banyak bermula dari ketidaksadaran kita akan pluralitas pemahaman, keyakinan dan pandangan hidup. Kendati berbeda pemahaman, namun dalam setiap tradisi agama terkandung nilai-nilai kemanusiaan yang sama, yakni mengharapkan terciptanya realitas kedamaian dan ketentraman. Bukan ide-ide kosong nihil praksis.
Ajaran antikekerasan

Dalam perspektif White Head, sebuah keyakinan doktrinal yang berasal dari Agama ternyata mampu memotivasi perilaku para penganutnya. Maka, ketika Agama dipahami oleh kita sebagai ideologi yang maha benar, akan terjadi “The Clash of Civilization” (meminjam istilah Samuel P Huntington). Tidak salah jika kemudian muncul kekerasan yang mengakibatkan berjatuhannya korban jiwa, imbas dari gerakan radikalisme Agama tertentu.

Hal demikian sangat bertentangan dengan cita-cita praksis para tokoh gerakan agama antikekerasan yang lebih tertarik mengejawantahkan nilai-nilai keyakinannya dengan berpedoman pada stigma bahwa kekerasan “dapat dielakkan”. Oleh sebab itu, merefleksikan dan menjabarkan ajaran antikekerasan adalah jalan pertama menuju terwujudnya wawasan baru yang manusiawi dan terlihat jelas dalam relasi sosial yang dihiasi kedamaian sikap dan tindakan. Itulah sebenarnya wujud dari ajaran kearifan tradisi gerakan antikekerasan. Bersikap toleran tatkala disekelilingnya menggejala perbedaan.

Beberapa tokoh

Tokoh dari tradisi gerakan antikekerasan Islam adalah: Farid Essack, sang pejuang toleransi dan penggagas dialog agama-agama di dunia. Abdul Ghaffar Khan, penganut ajaran sufistik “kiri” yang menghamba pada-Nya dengan cara melakukan perubahan-perubahan kondisi sosial-politik negerinya dengan kebeningan hati.

Sementara itu, tokoh dari kalangan tradisi Agama Kristen adalah: Martin Luther King, bapak reformasi rigiditas ajaran-ajaran Kristen sehingga mengalami ketercerahan peradaban. Dorothy Day, Carlos Filipe Ximenes, Belo, Adolfo Perez Esquivel, Hildegard, merupakan tokoh yang mengkaji dan mengamalkan wacana antikekerasan dan antikemapanan dalam tataran praksis.

Tokoh-tokoh dari tradisi Agama Yahudi seperti Joseph Abileah, Halina Birenbaum, Martin Buber, Natan Hofshi, lalu Jeremy Milgron merupakan tokoh Agama Yahudi yang bervisi dan bermisi memerjuangkan kebebasan dengan jalan damai tanpa menggunakan kekerasan yang dapat memecah belah persatuan antar manusia di seluruh dunia.

Dari tradisi Agama Hindu kita bisa menyebut beberapa nama yang dengan ajaran damainya mampu mengusir kolonialis “asing” tanpa pertumpahan darah yang terus-menerus hingga India sebagai sebuah Negara terjajah dapat melepaskan diri dari kungkungan bangsa “luar”. Diantaranya: Mahatma Gandhi yang berkonsentrasi penuh memerangi kekerasan dengan jalan damai atau lebih terkenal dalam penjabaran gagasan praksis sosial “Swadesi”.

Demikian juga dalam tradisi agama Budha, kita akan menemukan ajaran Budhisme yang menebarkan cahaya damai dalam bentuk sikap dan tindakan sehingga kehidupan tanpa kekerasan nyata terjadi. Misalnya, peran dari seorang Dalai Lama XIV yang mampu memancarkan cahaya keluhungan pribadi dan tentunya menyejukkan jiwa. Wallahua’lam


27 September 2009

Buku Cinta yang Asyik

Buku Cinta yang Asyik


Bagi saya, cinta adalah perasaan suci yang diberikan kepada setiap manusia. Tanpa cinta, mungkin hidup adalah arena pertempuran yang banyak membunuh rasa kemanusiaan. Cinta dalam buku ini hadir dalam berbagai luapan dari sang pecinta. Ada yang suci, ada yang kotor, bahkan ada yang tidak sama sekali memahaminya sebagai cinta, padahal itu adalah cinta.

Di dalam Al-Quran, dijelaskan, "dan mungkin saja kamu membenci sesuatu yang sesungguhnya menjadi sumber kebaikan bagimu, atau mungkin saja kamu mencintai sesuatu yang sesungguhnya merupakan sumber kehancuran bagimu." (QS. Al-Baqarah [2]: 216).

Kita mungkin pernah menderita karena patah hati? Sengsara karena kasih tak sampai? Rapuh karena memendam rindu? Jangan salahkan cinta. Sebab cinta pada hakikatnya adalah damai dan bahagia. Jika kita kemudian terpuruk, mungkin salah kita yang kurang mengenal cinta. Lihatlah, pujangga cinta Kahlil Gibran yang justru melahirkan syair-syair indahnya begitu mengalami kisah kasih tak sampai. Agar tak dibutakan dan dimabuk cinta, kita perlu pemahaman dasar dari makna cinta itu sendiri.

Nah, buku La Tahzan for Teen's Love ini akan mengubah kesedihan cintamu menjadi energi cinta yang bisa membangun dirimu. Bahkan, kamu juga bisa menciptakan kepribadian yang memukau mata. Kelak bakal tertanam di hati kamu bahwa cinta itu tak seperti yang dipahami kebanyakan orang. Ingat, jangan pernah bersedih karena urusan cinta yang belum kamu kenali!

Meskipun buku ini menggunakan embel-embel Teens, tetapi isinya bisa dibaca oleh siapa saja. Selain, memuat kisah para sufi dalam memahami hakikat cinta; buku ini juga memuat kisah-kisah orang teladan seperti KH.Ahmad Dahlan, orang biasa yang luar biasa dan banyak lagi si tokoh dalam buku ini yang patut kita teladani. Utamanya, sang baginda Muhammad Saw.

9 September 2009

Buku Keroyokan Blogger SGD

Buku Keroyokan Blogger SGD


Buku ini lahir dari obrolan kami bersama; saya, Ibn Ghifarie, dan Badru. Substansi buku ini ditulis secara online oleh blogger Sunan Gunung Djati. Tentang persoalan aksi teror yang cendrung menyudutkan agama Islam. Didalamnya tidak dipenuhi kutipan ayat-ayat Al-Quran. Kenapa saya menggagas judul Ayat-AYAT Antiteror? Disebabkan ayat-ayat Allah tidak terbatas hanya berupa teks di dalam AL-Quran.

Buku ini semacam refleksi pemikiran blogger Sunan Gunung Djati tentang aksi teror yang tidak terbatas pada peledakan bom saja. Namun, setiap laku yang mengindikasikan menyebarkan ketakutan massal, itu terkategori aksi teror.

Saya menghaturkan terima kasih kepada saudara Badru yang telah membuat sampul buku ini. Jujur saja, sampul ini membuat saya bersemangat untuk menerbitkan karya-karya blogger Sunan Gunung Djati.

Kebetulan, kita mengusung semangat “Self Publishing” dalam menerbitkan buku ini. Irfanika, adalah divisi penerbitan yang lahir dari obrolan kami yang memiliki kesamaan visi dan misi: menerbitkan karya blogger. Sekarang, buku ini sedang digarap dalam hal penyuntingan isi. Tujuannya supaya tampilan buku terlihat menarik. Insyaallah pada bulan Oktober, kami akan mencetaknya dengan sistem Print of Demand (POD). Kepada pihak yang bersedia mengurus ISBN, atau mengetahui jaringan di Perpustakaan Nasional, silakan mengontak pihak redaksi.

Para penulis di dalam buku ini di antaranya adalah: Ibn Ghifarie (Mbah kebebasan beragama), saya sendiri (penanggung jawab penrbitan SGD), Badru Tamam Mifka (Blogger, Designer, dan penulis novel), serta Amin R Iskandar (wartawan Mimbar Politik). Untuk penajaman konten buku, nanti kiriman kumpulan tulisan yang beruntung diterbitkan, akan dikirim ke e-mail masing-masing. Komplit dengan penjelasan arah tulisan dan sudut pandang yang harus dilengkapi dalam setiap tulisan si penulis. Kepada blogger yang beruntung silakan mengirim alamat e-mail di kolom komentar.

Satu lagi, kepada Prof.Dr.H.Afif Muhammad, MA kami juga meminta alamat emailnya, untuk mengirimkan naskah yang harus diberi pengantar. Punten ah, Prof.., ini cuma karya blogger. Bukan karya ilmiah dan akademis. Terima Kasih!!!! Bravo Blogger UIN SGD Bandung………

3 September 2009

Buku Baru Energi  Shalat

Buku Baru Energi Shalat


Buku ini memuat rahasia di balik shalat dalam Islam. Selain sebagai sebuah kewajiban, shalat lima waktu, misalnya, kalau ditunaikan secara konsisten berdampak pada munculnya potensi sukses. Betapa tidak, shalat di dalam bacaan dan gerakannya menyimpan energi dahsyat untuk mengubah kehidupan si pengamal.

Satu alasan yang mesti dicamkan ketika menunaikah shalat, yakni menguatkan rasa cinta kepada-Nya. Itulah kenapa Allah mewajibkan shalat bagi hamba-Nya. Karena Allah ingin bertegur sapa dengan ummat yang mencintai-Nya, maka disediakanlah waktu khusus, lima kali dalam sehari. Bukti shalat adalah cinta-Nya, dipenuhilah shalat itu dengan energi yang dahsyat, yang mampu membendung semua kejahatan dari diri pelakunya, dan membawa mereka menuju kebahagiaan.

Dengan syarat: Jika shalat itu dikerjakan juga dengan penuh cinta: ikhlas hanya pada-Nya. Di dalam Al-Quran dijelaskan, “ Sesungguhnya Shalat itu mencegah dari perbuatan keji dan munkar”. (QS. Al-Ankabuut: 45). Ayat ini mengindikasikah shalat memiliki potensi pengubah. Bagi yang ingin sukses dunia dan akhirat, shalat adalah satu jalan menggapainya selain berusaha sungguh-sungguh.

Derajat shalat seperti itulah yang harus dicapai oleh kita! Tetapi, ternyata banyak dari kita yang gagal mencapainya, lebih karena ”sekedar gugur tanggung jawab” saja, tidak serius dengan upaya ”mendirikan” shalat. Padahal, cinta-Nya tak akan sampai kepada orang-orang yang tidak bersungguh-sungguh. Apalagi untuk orang yang sama sekali tidak pernah melakukannya.

Buku ini mengajarkan satu hal, bahwa karena shalat merupakan tanda cinta-Nya. Marilah kita shalat dengan penuh cinta, sehingga Dia, sang pemilik kerajaan langit dan bumi ini, berkenan menemui kita dan melimpahkan cinta-Nya. Buku ini terbilang unik dan menghadirkan perspektif baru tentang shalat. Sebab, shalat meskipun berdampak positif terhadap hidup, mesti diinisiasi dengan cinta berbalut keikhlasan. Tak hanya ritual, shalat juga merupakan obat jiwa dan sarana pelatihan menuju puncak kesuksesan.

Testimoni di bawah ini menjadikan buku popular dan memandu ini layak Anda miliki.

"Buku ini menegaskan shalat bukan hanya sekadar ritual, tapi juga syifa' (pengobatan spiritual) dan riyadhah (pelatihan) untuk meraih kesuksesan dan kebahagiaan.” --Prof. DR. K. H. Miftah Faridl, Cendekiawan.

"Hal baru tentang shalat dikaitkan dengan cinta. Buku ini bermanfaat untuk menaikkan derajat cinta kita." --H. Roni Tabroni, penulis Mukjizat Shalat Malam for Teens.

"Shalat akan semakin khusyuk dan penuh cinta." -- Ayi Yunus, penulis Dahsyatnya Istikharah.

Silakan rasakan energi shalat dalam hidup Anda dengan membeli dan membaca buku ini. Dijamin mencerahkan dan memuaskan dahaga jiwa!

29 August 2009

Penerbit Juxtapose Mengirim Buku…Thank You Yach!

Penerbit Juxtapose Mengirim Buku…Thank You Yach!

Hari Sabtu kemarin, redaksi Sunan Gunung Djati mendapat kiriman tiga eksemplar buku dari penerbit Juxtapose. Buku-buku yang diterima dalam keadaan utuh itu adalah sbb: “Menemukan Tuhan dalam Fisika Einstein” (Max Jimmer), “Penyingkapan Kuasa Simbol” (Fauzi Fashri), dan “The Power of Wudhu” (M. Arfah Hap).

Kami beserta jajaran redaksi mengucapkan terima kasih atas kiriman bukunya. Insyaallah minggu depan, buku-buku tersebut akan kami resensi di situs ini.Pada obrolan kopdar malam tadi, saya mengusulkan kepada Ibn Ghifarie untuk membentuk tim resensor buku. Ini dilakukan untuk mengerjakan resensi bisa berupa apa saja tentang buku-buku yang diterima redaksi Sunan Gunung Djati. Dan, resensi buku yang terbaru, sebetulnya bisa dikirimkan ke media cetak. Artikelnya diposting di weblog si peresensi atau di web komunitas lain, yang tidak kebetulan si peresensi termasuk kontributor di media tersebut.

Kepada pihak Juxtapose, khususnya Fahd Jibran, saya beserta tim SGD berharap terjalin kerjasama di bidang keagenan Juxtapose di daerah Bandung. Sebab, membaca substansi buku-buku terbitan Juxtapose, ada semacam kesederhanaan intelektual. Misalnya, lini mpp yang menerbitkan buku-buku agama, melihat potensi pasar di Bandung dan jaringan yang dimiliki Sunan Gunung Djati, memiliki prospek menjanjikan. Dalam tataran praktis, kita bisa mengadakan event berupa bedah buku, pelatihan menulis, dan yang berkaitan dengan promosi buku.

Ketika kiriman buku sampai ke tangan redaksi, pemimpin umum Sunan Gunung Djati terlihat optimis dan sumringah. Ke depan, demikian ungkapnya, media independent ini harus menjadi agen intelektual yang bertugas memasarkan ide atau gagasan mencerahkan ke tengah-tengah masyarakat. Saya menambahkan, kontributor dan pengelola web komunitas ini selain menjadi konsumen semestinya berperan juga sebagai produsen. Istilah di era internet ini, PROSUMEN. Selain memasarkan ide atau gagasan berupa buku yang diterbitkan Juxtapose, kita juga mesti bekerjasama memenuhi kebutuhan penerbit ini terhadap naskah-naskah yang berkualitas. Utamanya, naskah yang khas ditulis dengan gaya menulisnya blogger.

Sakitu wae ti kawula….matur nuwun, hatur nuhun, dan terima kasih kepada penerbit Juxtapose. Semoga kita dapat bekerjasama tak terikat waktu. Hehe….!

14 August 2009

Kisah Hidup Politik Barack Obama

Kisah Hidup Politik Barack Obama


Judul Buku: Dreams from My Father; Pergulatan Hidup Obama
Penulis: Barack Obama
Penerjemah: Miftahul Jannah, dkk
Penyunting: Andityas Prabantoro
Penerbit: Mizan, Bandung
Terbitan: Cetakan I, Mei 2009
Tebal: 493 halaman

Impian adalah sekumpulan ide yang bila dirangkai akan membuat sang pemimpi tergerak menggapainya. Setiap orang, rasanya, tidak ada yang tidak memiliki impian. Keinginan dan harapan, membenihi manusia untuk terus mempertahankan hidup, bahkan menggapai kesuksesan. Dengan impian itulah kita dapat mengukur kadar semangat hidup, sehingga cita-cita secara terencana sesuai rancangan dan pola kehidupan. Masa kecil, dalam merangkai impian menjadi suatu keniscayaan. Peran orang tua dalam menanamkan ide dan nilai yang dapat mengantarkan seseorang mewujudkan mimpinya, tidak bisa dinafikan. Orang-orang besar di dunia, seperti halnya Barack Obama, Presiden Amerika Serikat sekarang, merajut impiannya semenjak ia kecil. Pengalaman hidup Barry – begitu dia kerap disapa – memang membentuk kepribadiannya setangguh jejeran tembok China.
Ann, sang ibu, dalam buku ini berhasil menanamkan impian dan nilai kehidupan yang kuat untuk membentuk kepribadian Barack Obama. Ketika menetap di Jakarta, Barack Obama mendapatkan pelajaran tentang nilai dan mewujudkan impiannya. Sang ibu secara bijak memberi petuah, “Apabila kau ingin tumbuh sebagai manusia. Kau harus memiliki nilai-nilai ” (hlm 73). Empat nilai itu – kebetulan diperolehnya ketika menetap di Indonesia – adalah kejujuran, keadilan, keterusterangan, dan penilaian independent. Sistem nilai yang disebut Barack Obama dalam buku ini sebagai humanisme sekuler. Sebab, ibunya menolak bahwa nilai-nilai itu berkaitan dengan keyakinan sebuah agama.

Secara politis, tidaklah salah kalau Barack Obama menyalurkan aspirasi politiknya secara praktis melalui Partai Demokrat karena partai di AS ini berhaluan liberal. Berbeda dengan lawan politiknya dari Partai Republik yang cenderung konservatif dan masih menyisakan diskriminasi rasial kepada warga berkulit warna-warni.
Nenek (Toot) dan kakeknya juga tidak ketinggalan berperan dalam memberikan filosofi hidup. Dengan mengurai dan menjelaskan ayahnya sebagai figure yang membanggakan, Obama secara psikologis terbentuk kepercayaan dirinya. Kulit hitam, di tengah ekspansi kecurigaan rasial masyarakat Amerika Konservatif, saat itu mengalami diskriminasi yang membuat mereka tidak percaya diri. Kemiskinan juga, kerap mendominasi seseorang sehingga terus berkubang dalam kebodohan akibat tidak dapat mengakses pendidikan.

Namun, ayahnya Barack Obama, membuktikan warna kulit dan kemiskinan tidak menghalanginya untuk menuai prestasi. Kecerdasan, kesopansantunan, dan kebijaksanaan sang ayah menginspirasi Barack Obama dalam mengarungi hidup. Sang kakek suatu ketika setelah selesai berkisah tentang ayahnya Obama berujar “Ada satu hal yang dapat kau pelajari dari ayahmu. Percaya diri. Rahasia kesuksesan manusia.” (hlm 28-29).
Bukan hanya itu, sang nenek menanamkan inti berinteraksi secara harmonis dalam kehidupan. Sehingga membentuk Barack Obama menjadi pejuang atau aktivis pejuang hak-hak sipil, wabilkhusus, penentang segala bentuk diskriminasi rasial. “Aku dan kakekmu hanya memandang kita harus memperlakukan orang dengan santun. Itu saja.” (hlm 42).

Barry – Barack Obama kerap menggunakan nama ini – menuliskan autobiografi secara memikat. Pada bagian satu buku terjemahan ini, ia membahas seputar sikap dan kebijakan warga Amerika Serikat dalam memperlakukan kulit hitam. Tidak ketinggalan tentang asal-usul genetika keturunannya. Buku ini bisa membawa kita memahami tentang suku Lou di Kenya, dan perkawinan antar ras (miscegination), kaum pendukung penghapusan perbudakan (abolisionis), dan sikap rasis masyarakat kulit putih di era 1960-an. Ada semacam kaitan antara antropologi dengan perilaku politik warga Amerika Serikat.

Hal itu bisa dilihat dari diskriminasi yang dialami Barack Obama ketika pindah sekolah dari Jakarta ke Amerika Serikat ketika berusia 10 tahun. Teman-temannya waktu itu memberikan stigma negative kepadanya karena memiliki warna kulit hitam. Dan, sekadar informasi, Barack Obama, tidak mendapatkan perlakuan seperti ini ketika sekolah di Jakarta. Artinya, Indonesia karena dihuni keragaman suku, lebih kurang sekitar 450 suku, menjadikan Obama diperlakukan secara sopan dan santun. Ini juga mengindikasikan – meskipun dari sisi kesejahteraan AS dengan Indonesia sangat timpang – Indonesia adalah negeri yang bijak menyikapi perbedaan suku. Terlepas dari sisi sosial-ekonomi yang morat-marit, warga Indonesia masih memahami perbedaan sebagai kelumrahan yang mesti disikapi bijaksana.

Itulah kesimpulan pertama saya ketika membaca buku Barack Obama pada bagian Satu. Bagian kedua, aktivitas hidupnya dalam politik dan gerakan-gerakan kemanusiaan di masa dia mendekati kedewasaan berpikir. Perkenalan dengan kakaknya, tentang siapa sebenarnya sang ayah sang inspirator hidupnya, dan suara-suara pembebasannya. Pada bagian kedua buku ini Barack berhasil menemukan nilai kehidupannya secara dialogis. Ia memahami ketertindasan harus dibebaskan melalui sebuah gerak penggalangan masyarakat.

Sementara itu, di bagian ketiga buku ini, kedekatan Barack dengan kakanya, Roy dan Aumun terjalin secara kuat. Di sinilah, dia menemukan dan berziarah ke tempat di mana sang inspirator itu dimakamkan. Sampai pada penelusuran antropologis tentang jejak rasnya di Negara Kenya. Tentang kecerdasan dan kelebihan keluarganya serta tentang pengetahuan dan pengalamannya menyaksikan muslim. Selain Indonesia (meskipun beberapa halaman), buku ini juga mengetengahkan kunjungannya ke negeri terbelakang, Kenya.

Sekarang, ketika Barack Obama terpilih menjadi Presiden AS, kita berharap dia dapat mempraktikkan nilai, cita-cita, dan impiannya sejak kecil berdampingan secara harmonis; dunia tanpa kekerasan. Jangan sampai kericuhan terjadi kembali di daerah Timur Tengah, seperti Afganistan, Iran, dan Palestina yang disinyalir AS berada di balik kericuhan tersebut.

Barack Obama, penyuka Nasi Goreng dan Baso – ketika tinggal di Jakarta – semestinya menangkap semangat percampuran dalam kuliner khas Indonesia ini. Meskipun berbeda, kalau disatukan akan menghasilkan rasa yang tak kalah sedapnya dengan McDonald dan KFC. Rasa itu adalah kelezatan meski berasal dari bahan yang berbeda. Pun begitu dengan perbedaan (ras) manusia; berbeda-beda tapi semestinya hidup berdampingan mencipta kedamaian yang memesona.

Itulah suara persamaan di tengah pembedaan yang notabene menggiring sebuah Negara atau bangsa pada terbentuknya kecurigaan-kecurigaan sehingga melahirkan kekerasan. Sebagai Afro-Amerika, dia merasakan secara langsung bagaimana hidup di lingkungan yang penuh diskriminasi dan cenderung rasis. Namun, dengan pendidikan yang diberikan keluarganya; Ibu, nenek, kakek dan ayahnya, ia mampu menjadi manusia percaya diri sehingga sukses menduduki kursi pertama AS, sebagai presiden pertama dari kalangan kulit hitam pada pemilihan yang lalu.

Buku ini, pantas dimiliki mahasiswa yang menyukai bergerak sebagai aktivis, orang tua dalam memberi pendidikan, para pejabat, dosen, pemerhati politik, pengamat politik, dan masyarakat umum yang menggandrungi perubahan nasib lingkungan masyarakatnya. Betapa tidak, dari tulisan Barack Obama ini kita dapat belajar menyikapi hidup secara bijaksana dan legowo sembari berjuang terus mewujudkan kebebasan. Selamat membaca!


19 July 2009

Buku Indie Label dan Kepuasan Eksistensial

Buku Indie Label dan Kepuasan Eksistensial

Daripada kesal, mending melakukan sesuatu yang bermanfaat. Seminggu kemarin saya dibikin kesal karena tidak ada pekerjaan yang harus diselesaikan. Kebetulan teman saya, seorang editor di Mizan, berhenti karena memilih karir sebagai PNS. Praktis tidak ada naskah yang harus saya edit. Saya dibikin kesal deh. Berangkat dari kesal tersebut, saya berinisiatif mengumpulkan tulisan di blog. Termasuk beberapa tulisan di kompasiana.

Berbekal latihan otodidak menggunakan Pagemaker 7.0 dan Corel Draw – hehe masih 12 – saya pun mulai membuat sampul dan me-lay out tulisan-tulisan tersebut menjadi buku.

Ya, karena belum ada ongkos cetak, saya membuat versi e-booknya dulu. Saya memilih file PDF, karena katanya kebal dengan virus. Ke depan, kalau ada biaya, insyaallah dicetak menjadi sebuah buku. Tidak perlu banyak-banyak. Cukup 500 eksemplar saja. Konsep penerbitannya adalah Indie Label. Dijualnya juga di komunitas saya saja. Dengan modal 3 juta, 500 eksemplar sudah bisa saya pasarkan secara online maupun offline.

Satu kesan mendalam kenapa saya harus memberi judul kumpulan tulisan itu dengan
Total Blogging. Sebagai seorang blogger saya bebas mengekspresikan pendapat tentang satu persoalan secara apa adanya. Saya tidak tunduk pada kebijakan redaksional sebuah media massa atau penerbitan. Kadang, inilah yang menghalangi saya untuk mengirimkan artikel atau naskah buku ke suatu penerbit. Dan, ini juga yang dikritik teman saya, seorang mantan editor buku Remaja Mizan, Doel Wahab. Saya tidak bisa memutuskan apakah isi tulisan seseorang itu sesuai dengan keinginan pasar atau tidak. Karena dalam pemahaman saya, sejelek-jeleknya tulisan adalah buah karya seseorang. Dan, saya harus menghargainya.

Insyaallah bulan September naskah buku berjudul Total Blogging akan saya cetak.
Tentunya dengan penerbitan indie, Irfani-Kreativa, yang sedang saya rancang minggu-minggu ini. Tak terasa kalau tulisan saya dikumpulkan, sekarang sudah ada tiga naskah yang siap cetak. Bagi kawan-kawan yang ingin memberikan pandangan, pendapat dan opininya tentang naskah Total Blogging, silakan kirim e-mail ke sukron.abdilah@gmail.com. Karena naskah ini sebagian besar telah diposting di web komunitas blogger, kompasiana.

Saya akan merasa senang mengirim file PDF-nya kepada kawan-kawan. Ngeblog bagi saya adalah untuk menggali kepuasan eksistensial. Aku ngeblog, maka aku ada. Itulah kesan saya hari ini terhadap bagian dari dunia mayantara ini. Perkara laku-tidaknya buku itu. Saya serahkan kepada pasar pembaca. Hehe…, karena saya menganggap tulisan di blog – meskipun remeh temeh – dapat mengubah dunia ini.

Hmmm, saya jadi berpikir, bagaimana kalau tulisan kawan-kawan juga dikumpulkan. Diedit sendiri, dilay out sendiri, dan dibikin sampulnya oleh diri sendiri. Saya juga akan merasa gembira kalau komunitas blogger memolopori dan menggawangi penerbitan karya anggotanya yang layak dibukukan. Dengan jaringan anggota komunitas, itu akan menjadi kekuatan bagi pemasaran buku.

Teknis pengurusan redaksinya, kan, bisa diatur. Pokoknya, hari ini saya menghimbau penulis kompasiana DO IT YOUR SELF! Sayang rasanya kalau tulisan kawan-kawan yang inspiratif dan mencerahkan hanya terpampang di monitor. Kalau menganggap buku sebagai sesuatu yang konvensional, apa salahnya kalau tulisan kawan-kawan dijadikan e-book saja. Itu akan bermanfaat bagi pembaca di Indonesia.

Sekian dulu ah. Kapan-kapan kita ngobrol lagi tentang penerbitan indie secara lebih mendalam ya.

From “Kamar Sempit” at 16 Juli 2009 pukul 04.30-04-45 WIB.


2 July 2009

Pilih Judul Buku Dong

Pilih Judul Buku Dong


Saat Kejadiannya saya tidak begitu mengingatnya. Kebetulan saya ditelpon berkali-kali sama Editor Mizan, Dian Hartati. Setelah di Searching pake google, saudari Dian Hartati sastrawati juga. Hebat!!! Sebab, dunia sastra adalah dunia yang saya suka. Maksud nelponnya, ya, tadi ada naskah pibukueun saya yang nongkrong beberapa bulan di redaksi DAR!Mizan. Belum diterbitkan karena tersandung judul yang kurang "ngeh". Sore harinya saya kirim beberapa judul alternatif buat buku tersebut. Kira-kira mana judul yang akan dijadiin judul buku saya selanjutnya?

Dibawah ini kiriman email saya ke sastrawati plus editor itu.

Salam sejahtera sastrawati..., ini saya serahkan tawar-menawar balon judul buat buku tea.


1. Super Energi Shalat for Teens; Suplemen Pembangkit Kecerdasan

2. Shalat Shalat Cerdas; 15 Penuntun Menjadi Remaja Sukses dan Cerdas

3. Shalat Smart for Teens; Kunci Kesuksesan dan Kebahagiaan Hidup

4. Ajaibnya Shalat Sunah; Dahsyatnya Keajaiban Shalat Sunah

5. Rahasia Shalat; 15 Kunci Menuju Kesuksesan

6. Happy With Shalat; Menjadikanmu Sukses dan Bahagia

7. The Secret of Shalat; Damai Hati, Sukses, dan Bahagia


Segitu dulu...imajiku susah untuk terus terbang mencari mangsa.

Wassalam

Sukron Abdilah


22 June 2009

Ngeblog…Nulis…Ngoment

Ngeblog…Nulis…Ngoment


Oleh SUKRON ABDILAH

Ngeblog yang sekarang bukan mainan purba lagi adalah keniscayaan buat anda yang ingin pandai menulis. Banyak orang yang rela mengeluarkan duit untuk ikut pelatihan agar dirinya bisa menulis. Sebuah koran harian di Jawa Bara saja, mematok Rp. 300.000 untuk dua hari pelatihan menulis. Animo masyarakat terhadap dunia tulis menulis memang mengagumkan. Duit pun dirogoh agar ia bisa menulis. Meskipun ada beberapa peserta yang mengikuti pelatihan tersebut hanya untuk mendapatkan sertifikat. Setelah itu, mereka absen dari dunia tulis menulis. Satu hal yang pasti keuntungan adanya blog di dunia maya.

Kita, bisa belajar menulis secara otodidak. Nggak perlu ribet dengan pertemuan tatap muka dengan dosen atau guru yang gede ambek. Apalagi kalau tanggal sudah menampakkan wajahnya yang tua.Tua-tua, semakin tua; maka tuanya semakin jadi. Suatu ketika teman saya, Ibn Ghifarie pernah ngobrol ngetan-ngulon tentang blog. Di sana saya menemukan keterkaitan antara ngeblog…nulis…dan ngoment. Betapa tidak eksistensi blog ditentukan oleh seberapa menariknya konten bagi pengunjung. Dengan ketertarikan pengunjung ini, blogger bisa belajar giat terus untuk meningkatkan kualitas tulisannya.

Saya pernah ditelpon berkali-kali oleh pembaca setia blog saya http://sakola-sukron.blogspot.com. Kebetulan ia menyukai tulisan-tulisan saya yang sederhana menggambarkan pengalaman sehari-hari. Disini saya — jujur saja — ada motivasi untuk terus menulis. Apalagi yang nelponnya Cewek. hehe. Selain itu menulis di blog juga kita menjadi manusia yang independen. Tidak diselangkangi oleh ideologi mainstream yang banyak mengayomi sebuah media massa. Kita, tidak pernah ribet menyiasati tulisan agar sesuai dengan visi-misi media. Dalam bahasa Sunda, “Kumaha Aing lah”. Namun, tetap independensi itu bisa berubah kalau ada orang yang ngoment. Contohnya, saya pernah mengubah pendapat saya tentang suatu hal, karena ada yang ngomentar dan argumentasi dia lebih kuat daripada saya.

Bagi pemula, kalau belum piawai menulis, bisa memanfaatkan kolom komentar yang tersedia di setiap blog atau weblog berbasis komunitas. kawan saya, Novita Savitri, sekarang blogger kompasiana.com, dulunya sering banget ngasih komentar. Tapi, komentarannya, bo, hebat banget. Akhirnya, kang Pepih Nugraha, menjadikan salah satu komentarnya menjadi tulisan di website jaringan jurnalis tersebut. Sekarang, setiap kali saya membuka website tersebut, nama Novita Savitri — kalau tidak salah ya — kerap menulis berbagai hal.

Jadi, kalau mau bisa dan konsisten menulis. Silakan membuat blog…, nulis terus…, kemudian ngoment; akhirnya menulis bakal menjadi kebiasaan seperti halnya ketika anda berbicara. Kalau tidak dibiasakan, menulis — begitu pun berbicara — tidak akan pernah bisa kita lakukan. Tiga rumus belajar menulis secara mandiri adalah: Ngeblog, Nulis, dan Ngoment. Syukur-syukur tulisan di blog kita naik pangkat ada yang sudi menerbitkan. Si Radithya Dika saja menerbitkan buku KambingJantan dari pengalaman sehari-hari yang dituliskan di blog.

Sekarang yang sedang rame di dunia perbukuan adalah menerbitkan blog perjalanan, wisata, dan segala hal yang berkaitan dengan refresing. Seperti buku teranyar, The Naked Traveler (Catatan Seorang Backpaper Indonesia Keliling Dunia), diterbitkan Bentang Pustaka dan ditulis Trinity. Dua buku itu diambil dari blog lho. Sok…mangga atuh ngeblog biar nggak goblog. Nulis biar nggak jadi oportunis. Ngoment biar kayak dengan segudang argument. hehehe

21 June 2009

Shalat Hajat

Shalat Hajat

Judul : Shalat Hajat; Kunci Meraih Kesuksesan; Penulis : Ghaida Halah Ikram;
Editor : Doel Wahab; Penerbit: Mizania, Bandung; Cetakan : Pertama, Mei 2009;Tebal : 152 halaman


Ini adalah buku panduan beribadah bagi seorang muslim. Buku ini saya peroleh dari penerbit Mizania, hari Sabtu kemarin. Dengan kemasan bahasa yang sederhana saya menjadi nikmat membaca bagian-bagian dari buku ini. Seperti yang diungkapkan Prof. Dr. KH. Miftah Faridh, buku ini menyajikan bahasan seputar shalat hajat sebagai energi, ruh, spirit, power untuk bangkit, maju, menjadi tangguh dan sukses.

Saya menyoroti kaitan shalat dengan kesuksesan seseorang. Ternyata, seperti dikatakan Haidar Bagir, bahwa dalam shalat ada semacam pelatihan diri untuk selalu disiplin dan memanfaatkan waktu sebaik-baiknya. Shalat hajat adalah salah satu dari ibadah sunah yang tidak terikat waktu. Dalam bahasa lain, ketika kita memiliki kebutuhan, menunaikan shalat bisa menjadi perantara menggapai kebutuhan tersebut. Bagi seorang karyawan, misalnya, Shalat ini akan berefek positif terhadap kinerjanya selama menjalankan tugas dari atasan. Hebatnya lagi, seperti disitir Ghaida Halah Ikram, shalat hajat dapat membangkitkan energi positif dari dalam diri. Energi inilah yang sangat dibutuhkan oleh setiap orang agar dapat menggapai kesuksesan di dunia, maupun di akhirat.

8 November 2008

Buku Cinta Universal

Buku Cinta Universal



Wah, alhamdulillah. Akhirnya, buku saya terbit juga. Buku ini saya tulis karena kita adalah manusia yang punya rasa cinta. Dan, ternyata cinta kalau tidak kita artikan secara benar dan tepat, akan membahayakanmu. Cinta, dalam buku ini adalah cinta universal, yang melintasi batas kemanusiaan, kemakhlukan, dan ketuhanan. Ternyata, persangkaan kita terhadap cinta selama ini, tidak selamanya baik. Tapi, tak juga selamanya jelek. Pokoknya, baca aza deh, kisah-kisah para pecinta dalam buku ini untuk menemukan kebahagiaan cinta sejati.

…dan mungkin saja kamu membenci sesuatu yang sesungguhnya menjadi sumber kebaikan bagimu, atau mungkin saja kamu mencintai sesuatu yang sesungguhnya merupakan sumber kehancuran bagimu. (QS. Al-Baqarah [2] : 216).

Menderita karena patah hati? Sengsara karena kasih tak sampai? Rapuh karena memendam rindu?

Jangan salahkan cinta. Sebab cinta pada hakikatnya adalah damai dan bahagia. Jika kita kemudian terpuruk, mungkin salah kita yang kurang mengenal cinta. Lihatlah, pujangga cinta Kahlil Gibran yang justru melahirkan syair-syair indahnya begitu mengalami kisah kasih tak sampai. Agar tak dibutakan dan dimabuk cinta, kita perlu pemahaman dasar dari makna cinta itu sendiri.

Nah, buku La Tahzan for Teen’s Love ini akan mengubah kesedihan cintamu menjadi energi cinta yang bisa membangun dirimu. Bahkan, kamu juga bisa menciptakan kepribadian yang memukau mata. Kelak bakal tertanam di hati kamu bahwa cinta itu tak seperti yang dipahami kebanyakan orang. Ingat, jangan pernah bersedih karena urusan cinta yang belum kamu kenali!