Showing posts with label Cerpen. Show all posts
Showing posts with label Cerpen. Show all posts

30 November 2018

Orang Tamak Mah Begini ya

Orang Tamak Mah Begini ya


Tuhan dipenjara seluruh ketamakanmu. Dia menjadi tak berarti apa-apa di kedalaman sinabarmu. Tempat suci-Nya kini menjadi panggung politik kepentingan. Pertunjukan atraktif di gedung-gedung masjid yang sejatinya bersih dari nafsu-nafsu berkuasa. Kita seolah menjadikan bebangunan beratap menara bulan bintang itu sebagai rebutan orang-orang. Madjid berkata, “Islam Yes!” sementara “Partai Islam No”.

Adalah kepicikan ketika ruh coba-coba dilumuri nenafsu manusiawi berbalut angkara murka. Nilai agama menjadi jualan politik yang tak lagi seseksi Dewi Persik. Se-ngetren Ahmad Dani dan Luna Maya. Laiknya Ariel yang tak lagi percaya diri untuk berkarya: Agama menjadi mati suri. Mati dari keberfungsian hakikinya sebagai mesin penggerak umat manusia untuk mentransformasi.

Tak usah kau salahkan Agama. Salahkan saja manusia-manusia yang lunglai ketika menafsir mesin penggerak Agama. Matilah jiwa. Matilah rasa. Matilah sinabar di otak kepalamu. Daya dobrak Agama pun tak lagi seperkasa Hercules menghancurkan benteng-benteng yang dibangun ayahnya, Zeus.

Mereka hanya bisa berkata, “Negaraku”, seraya menerawang ke angkasa, “adalah jamrud khatulistiwa yang mencekam.” Tak ada lagi harapan yang tersimpan di dada setiap insan negara: “Aku berteriak: Matilah Agama”...Matilah engkau di dunia ini akibat ulah manusia bermental raksasa angkara murka.

Engkau kini tertindih nyeri. Menggerinjal ingin membebaskan diri jerat tali temali besi. Namun si dia hanya tertawa senang, kadang riang. Gigi bergerigi dan mulutnya yang penuh keserakahan terlihat menyebalkan. Sangat menyebalkan serupa orang dewasa yang mengambil ludo, monopoli, dan ular tangga milik adiknya secara paksa. Sementara itu, di luar, orang-orang keparat hanya bernyanyi riang tak kenal lelah. Rasa dan jiwanya tak bergelinjal keluar ubun-ubun kesadaran manusiawi. Membiarkan suara engkau menjadi parau...sangat parau...dan lambat laun tak terdengar segemercik apa pun.

Bebatuan itu terasa berat menindih lekat. Memberati tubuh ringkih berkalung derita. Penderitaan yang dirangkai secara sengaja oleh babi-babi berdasi. Rakyat kini tak lagi berpunya kedaulatan. Semuanya habis digerus keserakahan kaum dewa yang bermuram durja.  Merana dan merona tak ada bedanya. Blur dengan suara isak tangis engkau yang terus-terusan mengeras. Membahana. Dan menghiasi alam ini. Semakin keras dan membahana; semakin tak terdengar teriak penderitaan. Petani, guru honorer, pengangguran, tukang angkot, pemboseh becak, dan si dekil hanya bisa berteriak hingga parau, serak dan lantas meringkuk kikuk di pembaringan.

Engkau bersuara seperti halnya si bisu yang tak sudi berkata-kata. Meracau karena engkau dianggapnya super gila bagi orang-orang yang kini duduk tersenyum di kursi empuk kekuasaan. Tak lupa dibalik senyum dan simpati mereka, terselip sebatang cerutu yang mengepulkan asap kemunafikan.

Bandung, Juni 2011

8 April 2010

Mataku

Mataku

Larut sudah malam ini. Aku masih belum dapat terlelap. Menutup rapat mata ini hanya usaha sia-sia. Serasa ada yang mengganjal. Menahan. Bahkan, menaburinya dengan bubuk lada. Mataku hanya berkedi-kedip; perih! Silvia malam itu menggerutu tanpa henti. Tape recorder di kamarnya berkali-kali memuntahkan suara-suara musik terapeutik. 

23 March 2010

Kado Ulang Tahun Barack Obama

Kado Ulang Tahun Barack Obama

Hari ini, Senin, 22 Maret pada 28 tahun lalu aku terlahir sungsang. Sebulan setelah kelahiranku, 22 April 1982 terjadilah ledakan gunung Galunggung di Tasikmalaya. Meskipun aku lahir di Garut dan berjauhan dengan tempat ledakan gunung Galunggung; kepanikan menyelimuti ibuku yang malang. Tubuhku yang lemah karena berusia 1 bulan digendongnya menuju tempat pengungsian. Sebuah tempat yang berada tak jauh dari kampungku.    

20 March 2010

Berhaha hihi dengan Komedi SMS

Berhaha hihi dengan Komedi SMS

BEBERAPA hari ini selalu saja ada orang iseng mengirim pesan singkat pada saya. Entah iseng ataukah hanya menghibur. Atau kurang kerjaan. Yang pasti bunyi SMS itu bagi saya bukan sekadar teror. Tapi, agak mengganggu. Bayangkan saja. Ketika Anda terlelap tidur, datang SMS dari nomor yang tak dikenal. Bukan kabar penting yang Anda dapatkan.

27 February 2010

Romantika Cinta...(First TIme)

Romantika Cinta...(First TIme)

"Aku berjalan di pinggir pantai. Ombaknya...gede amat bo!!! Namun, aku tetap menghormatimu sebagai tinta emas yang dulu mencoba melukis hatiku dengan cinta."

Itulah simpulan yang saya ambil ketika temanku, meluapkan rasa cintanya. Meskipun aslinya dia tak berucap-kata seperti itu, saya berijtihad saja; temanku memang begitu.

23 February 2010

Mengenang “Bad System”

Mengenang “Bad System”

Menyambung notes (catatan) saya kemarin, barudak “Bad System” jadi kawan menambah wawasan seputar “Punk N Skins”. Asep “Oncom” saat itu jadi guru pertama yang menjejali otak saya dengan genre Punk Rock. Karakter musik “BS” saat saya masih menjadi pembetot bass, memang agak nyantai. Hit song (hehe seperti band label saja) yang kerap kami bawakan pada saat latihan adalah, wah...lupa lagi nih. Pokoknya dibawakan band Keparat dan Runtah.

Keras, anarkis, chaos, dan memberontak! Itulah kesan pertama saya saat berinteraksi dengan demo mereka. Apalagi kalau mendengarkan kembali demo Runtah berjudul, “Mega”. Demo band asal Bandung ini menjadi menu pembuka dan penutup kala latihan di studio Mega.

18 February 2010

Nostalgia Underground Movement #1

Nostalgia Underground Movement #1

Saya sering lupa. Ini risiko jadi manusia. Tuhan, sih, bikin manusia yang cenderung berbuat salah dan lupa. Jadi ketika Kaka Jibril (saya usulkan namanya ditambah Mikail) meminta tulisan biographi, lupa bahwa 1998an pernah jadi pemain band. Susah sebetulnya mengembalikan pikiran saya ke ruang dan waktu 12 tahun ke belakang. Saya tidak ingin terjebak pada romantisme historis. Seperti halnya agamawan yang menganggap penafsiran ulama berabad-abad sebagai sumber pijakan. Apalagi ini pengalaman yang coba saya kubur dalam-dalam beberapa tahun ini.

19 November 2009

Anjing Pengabdi

Anjing Pengabdi

Marwati suaranya terdengar merintih nikmat. Aku saat itu hanya mendengkur di belakang rumah. Di atas kubangan lumpur yang mengering saat kemarau. Telingaku kembali mendengar rintihan itu. Semakin lama semakin keras. Hingga bikin aku tak bisa tertidur. Lama suara itu diakhiri dengan kata yang tak kumengerti, “oh yes”.

Bahasa manusia yang satu-satunya kumengerti adalah apa yang diucapkan Sumardi. Selain itu, aku hanya bisa mendengus, sesekali menggelengkan kepala, menjulurkan lidah, bahkan harus lari terbirit-birit ketika ada batu kerikil melesat ke arah tubuhku.

Malam ini, aku baru mendengar suara yang agak aneh Marwati dari balik jendela. Kata Sumardi, dia adalah istrinya dan sedang menginginkan seorang anak. Kau tahulah, sejak pernikahannya, dia kerap dimarahi tanpa alasan jelas oleh Marwati. Tak heran jika Sumardi sering menghabiskan waktu mengobrol denganku.

Aku menjadi tahu segala masalah yang menggelisahkan majikanku itu. Dia sering mencurahkan isi hatinya kepadaku. Aku dan Sumardi laiknya dua sosok makhluk berbeda yang akrab menjalin persahabatan. Hebatnya, tanpa sekat kemanusiaan dan kebinatangan. Aku adalah anjing terbahagia yang pernah ada di muka bumi. Merasakan betapa perhatiannya Sumardi padaku. Bahkan, dia tak segan meminta pendapatku ketika ditempa pelbagai masalah.

Siang tadi Sumardi tertunduk lesu. Matanya terlihat sayu. Ia terlihat letih.

***

“Guk..guk…guk.” Aku bertanya kepada Sumardi malang.

“Oh..tidak ada apa-apa, Ziko. Aku hanya kurang tidur tadi malam.”

“Guk..guk…guk…guk.” Aku kembali bertanya padanya.

“Hehe ini namanya emosi Ziko. Setiap manusia yang berbalut masalah hidup kerap terlihat tak semangat. Kesedihan memang satu emosi yang banyak melahirkan pembunuhan absurd. Tak heran jika banyak orang yang melakukan bunuh diri.” Ujar Sumardi menjawab pertanyaanku tadi secara rinci.

“Guk..” Terdiam aku menatapnya sendu. Sesekali kukibaskan ekorku yang pendek terpotong sebilah golok. Kata Sumardi, ekorku dipotong sejak kecil guna menambah stamina. Bukan karena dia membenciku.

“Hahaha..tak usah khawatir Ziko. Aku tak akan melakukannya. Aku masih memiliki keimanan. Meskipun Tuhan jadi sandaran hidup, tak pernah terbersit setitik pun untuk mengakhiri hidup ini. Keputusasaan hidup adalah petanda kepengecutan.”

“Guk…guk”, aku terdiam tanda mengerti. Namun, tiba…tiba.

Kuhentikan langkah kaki. Hidungku mencium bau yang asing dari arah perkebunan. Ya, tidak salah lagi bau itu berasal dari bangunan tua di sebelah Timur kebun milik Sumardi. Asing dan aneh karena bau ini berbeda dengan manusia lain. Sangat berbeda dengan bau badan Sumardi, Marwati, pak Ijo, bahkan si Dukok yang sering melempariku dengan batu.

Tanpa pikir panjang. Aku berlari mengejar bebauan asing ini. Tak kupedulikan teriakan dan jerit Sumardi yang membahana. Aku, kadung dengan janji seiya semati ketika beberapa tahun ke belakang, Sumardi memercayakan keamanan kebun ini padaku.

Rumput ilalang yang tinggi pun diterabas tanpa alih perhatian. Pepohonan dan batu kulompati bagai di dalam pacuan kuda. Nafas kebencianku memuncaki ubun-ubun. Mengejar bau, yang kusangka berasal dari keringat para pencuri. Atau, keringat para pejabat korup. Bau amisnya menyengat sampai ke dalam perutku yang ramping. Mengocok isi perut hingga tak enak berasa. Namun aku harus mengusir bau ini dari kebun Sumardi. Jangan-jangan dia adalah ketua gerombolan pencuri kekayaan alam Sumardi yang tersesat.

Singat cerita, bau itu semakin mendekat. Mendekat. Dan kembali mendekat. Aku merasakan punggung dipenuhi semilir hawa ketakutan. Bergejolak dengan gen keberanian yang angkara murka dalam diriku. Mereka bertarung untuk menentukan siapa yang menang dan kalah. Kalau gen keberanianku kalah. Bisa engkau bayangkan. Aku akan telungkup di samping Sumardi ketika ada bebauan yang membahayakan nyawa majikanku ini. Lantas berteriak lantang. Aku akan berkorban demi majikan. Biarlah mati berkalang kepahlawanan daripada hidup menyisakan kepedihan.

Kuterobos rumput ilalang kembali. Sekitar sepuluh meter kulihat sosok manusia sedang termangu. Dia membelakangiku. Menyisakan ketakutan bercampur rasa benci.

“Guk…guk…guk…!” aku berteriak lantang kepadanya.

Setelah mendekat, sang kakek tua itu pun membalikkan tubuhnya yang kering kerontang. Kemudian dia berujar padaku, “Ada apa Ziko? Ini aku…majikanmu. Sedang di mana anakku, Sumardi.”

“Guk..guk…guk!”

“Apa…kau tak mengenaliku sekarang Ziko? Lihatlah baik-baik. Aku ini majikanmu yang dulu. Ingatkah kau tentang kisah peri seribu bayangan? Kisah dewa yang hidup di kahyangan?”

“Guk…!”

“Oh ternyata kau ini anjing pelupa Ziko. Aku kecewa denganmu. Bagaimana mau menjaga Sumardi dan kebunnya, kalau saja kau anjing pelupa.”

“Grrrrrrrrrrrrrrrrrr”

“Walah..walah. Kau ini memang sudah pikun. Apa maksudmu tak memercayai omonganku? Nanti kalau Sumardi sudah berada di sini, aku akan bilang padanya untuk memecatmu. DASAR ANJING KURAP!!!”

Tanpa pikir panjang. Kaki belakangku ditekan kuat. Pundukku sedikit ditarik ke arah bawah. Kubuka mulutku yang dipenuhi jajaran taringan gigi-gigi yang super tajam. Sesekali kuhenduskan nafas dari hidungku mirip pertunjukan Rodeo di Mexico. Kulihat sekeliling. Pohon berjejer laksana penonton yang bersorak-sorai.

“Tunggu dulu”, bisik hatiku pelan, “kenapa orang tua ini tahu namaku. Dia juga bilang bahwa Sumardi adalah anaknya”.

Hmm.., rasa-rasanya kukenal suara kakek peyot ini. Dasar tak tahu malu. Batinku meradang. Dia adalah Ki Sudji. Tapi kenapa dia ada di sini. Bukankah dia sudah mati sejak lima tahun yang lalu? O iya, Ki Sudji adalah ayahnya Sumardi yang meninggal karena dibunuh perompak kampungan. Kulenturkan syaraf-syaraf amarahku. Sebab, tahu bahwa Ki Sudji adalah majikan ibuku.

Tanpa basa-basi kupeluk Ki Sudji dengan haru.

“Hehehe…begitu dong Ziko. Kau memang bukan anjing amnesia. Kau adalah anjing hebat yang pernah kupelihara dan kubantu kelahiran ke dunia ini. Itu baru anjingku yang manis.” Ujar Ki Sudji sembari mengelus-elus tubuhku yang basah karena tadi menerobos ilalang yang masih basah dipenuhi embun.

***
[Bersambung....!]

15 November 2009

Mati Lampu

Mati Lampu

Ah, baru satu hari saja tinggal di kampung halaman, listrik sudah mati. Hmmm, sepertinya ngaji kali ini terancam bubar. Padahal,pemakaian listrik di rumah dan kampung kami tidak boros2 amat. Mungkin, dapat giliran pemadaman kali. Nah, ini sudah menyala kembali. Segitu dulu laporan dari liburan saya di kampung. Meskipun sudah dialiri listrik, malam hari biasanya super duper gelap.

Tapi, yang namanya kampung kelahiran, meskipun gelap gulita tentunya sangat membetahkan. Aduh…, kok mati lagi lampunya…..Hehe, hidup lagi nih lampunya. Beberapa menit lagi pasti mati lagi. Betulkan, ini lampunya mati lagi.

Biasanya kakak saya dan adik saya bakal berujar, “Ya Allah, kenapa PLN ini. Kok mainin lampu kayak anak kecil. Hidup. Mati. Hidup. Mati. hidup. mati.”

Saya jawab saja, “PLN nggak ada kerjaan. Rumah rakyat yang jarang menghabiskan pemakaian listrk sampai seribu wat, kok mudah begini mati lampunya. Apakah kami harus membayarnya dengan ratusan juta. Seperti perusahaan yang memakai listrik berlebihan itu?”

Belum lagi sambungan internet yang luplep. Ah, saya tidak habis berpikir, “orang kampung kok betah hidup di daerah yang serba kekurangan ini.” Seperti saya. Betah tinggal disini karena sejuk dan nikmat.

Tapi, pas giliran mati lampu begini dan sulit akses internet, waduh akhirnya nggak betah.Semoga tulisan ini bisa diposting. Beberapa menit listrik di kampung kami harus dihidupkan. Kp. Waruga 2 Ds. Binakarya Kec. Banyuresmi Kab. Garut 44191. No kontak saya 081322151160. Ayo PLN kamu bisa!!!

Alhamdulillah, akhirnya kampung saya kembali terang nih. Terima kasih...terima kasih....

13 November 2009

Perempuan (IQRA' 4)

Perempuan (IQRA' 4)

Tak terasa, waktu pun bergulir cepat. Kami bertiga telah menyelesaikan shalat subuh. Seperti biasanya, pendaran masalah yang menghantui pikiran kami akan dibahas dan ditanyakan kepada kyai Ilman Nusyifa. Tiga tahun lamanya kami berinteraksi dengan beliau membedah persoalan agama dengan sejuta wawasan Qur’ani yang tidak memihak salah satu jenis kelamin.

Aku, Askar dan Ibnu hari itu tengah mendiskusikan film berjudul, “Perempuan Berkalung Sorban”. Film layar lebar yang diangkat dari novel karya Afifah Afra itu menyisakan pertanyaan bagi kami. Betulkah sedemikian tertindasnya perempuan di bumi Nusantara ini? Bagaimana pendapat Al-Quran tentang kedudukan perempuan? Sebab, banyak yang mengatakan perempuan di dalam masyarakat Islam banyak yang ditindas? Seperti yang diceritakan film tersebut.

Perempuan, telah menjadi korban dari eksploitasi pemahaman keagamaan yang bias gender. Mengerdilkan peran perempuan dengan legitimasi dalil-dalil hadits dan Al-Quran. Kami memerlukan tafsir Quran yang memihak perempuan!

***

“Hmm…ada persoalan apa sekarang anak-anak?” tanya Kyai Ilman kepada kami.

Selain pengusaha, ia juga pandai dalam ilmu keagamaan. Itulah sebabnya kami sering memanggilnya dengan sebutan Kyai. Ceritanya biar agak lebih ngeindonesia. Lebih enak memanggilnya Kyai daripada ustadz. Meskipun seringkali dia tidak setuju dipanggil kyai oleh kami bertiga.

Askar waktu itu menjawab pertanyaan Kyai Ilman, “Hari ini kita sedang membahas perempuan yang banyak ditindas dengan legitimasi dalil naqli.”

“Iya, nih, apakah pemahaman tersebut berbahaya bagi kelangsungan peradaban Islam?” aku menambahkan pertanyaan untuk memperjelas duduk persoalan.

“Oke kalau begitu, mari kita telaah ayat Quran ini. Hai sekalian manusia, bertakwalah kepada Tuhanmu yang telah menciptakan kamu dari jenis yang sama dan darinya Allah menciptakan pasangannya dan dari keduanya Allah memperkembangbiakkan lelaki dan perempuan yang banyak. (QS Al-Nisâ’ (4) : 1).”

Islam memberikan perhatian sangat besar dan menghormati perempuan. Di dalam film The Message, saya mendapatkan dialog yang pantas untuk menggambarkan kedudukan perempuan dalam Islam. Ketika sahabat berdialog dengan raja Habasyah, mengatakan bahwa perempuan itu berbeda dengan lelaki, tetapi memiliki derajat yang sama.

Muhammad Al-Ghazali, salah seorang ulama besar Islam, Mesir, menulis, “Kalau kita mengembalikan pandangan ke masa sebelum seribu tahun, maka kita akan menemukan perempuan menikmati keistimewaannya dalam bidang materi dan sosial yang tidak dikenal oleh perempuan-perempuan di kelima benua. Ke­adaan mereka ketika itu lebih baik dibandingkan dengan keadaan perempuan-perempuan Barat dewasa ini, asal saja kebebasan dalam ber­pakaian serta pergaulan tidak dijadikan bahan perbandingan.”

Ada ketidakpahaman terhadap ajaran Islam sehingga menyebabkan kedudukan perempuan ditempatkan di bawah laki-laki. Pandangan itu dibantah Al­Quran, melalui ayat pertama surah Al-Nisa’, Hai sekalian manusia, bertakwalah kepada Tuhanmu yang telah menciptakan kamu dari jenis yang sama dan darinya Allah menciptakan pasangannya dan dari keduanya Allah memperkembangbiakkan lelaki dan perempuan yang banyak.

Ayat di atas berisi bantahan terhadap orang yang mem­bedakan (lelaki dan perempuan) secara tegas. Ayat tersebut mengatakan perempuan dan laki-laki berasal dari jenis yang sama dan dari keduanya bakal berkembang keturunan baik laki-laki maupun perempuan. Benar bahwa ada hadis, Saling pesan-memesanlah untuk berbuat baik kepada perempuan, karena mereka diciptakan dari tulang rusuk yang bengkok. (Diriwayat­kan oleh Bukhari, Muslim dan Tirmidzi). Tapi bukan berarti kedudukan perempuan lebih rendah ketimbang laki-laki. Hadits ini hanya menggambarkan karakter psikologis perempuan.

Dalam Al-Quran ditegaskan, Sesungguhnya Kami telah memuliakan anak-anak Adam. Kami angkut mereka di daratan dan di lautan (untuk memudahkan mencari kehidupan). Kami beri mereka rezeki yang baik-baik dan Kami lebih­kan mereka dengan kelebihan yang sempurna atas kebanyakan makhluk-makhluk yang Kami ciptakan. (QS Al-Israa’[17]: 70). Kalimat “anak-anak Adam” mencakup laki-laki dan perempuan, lho. Dan penghormatan Tuhan diberikan kepada seluruh anak Adam, baik perempuan maupun laki-laki.

Pendapat ini dipertegas ayat, Sesungguhnya Allah tidak menyia-nyiakan amal orang-orang yang beramal, baik lelaki maupun perempuan (QS Âli Imrân [3] : 195). Maka, Al-Quran sangat mengecam orang yang bergembira dengan kelahiran anak laki-laki, tetapi bersedih ketika istrinya melahirkan anak perempuan. Informasi ini bisa dilihat dari ayat berikut, Dan apabila seorang dari mereka diberi kabar dengan kelahiran anak perempuan, hitam-merah padamlah wajahnya dan dia sangat ber­sedih (marak). Ia menyembunyikan dirinya dari orang banyak disebab­kan “buruk “-nya berita yang disampaikan kepadanya itu. (Ia berpikir) apakah ia akan memeliharanya dengan menanggung kehinaan ataukah menguburkannya ke dalam tanah (hidup-hidup). Ketahuilah! Alangkah buruk apa yang mereka tetapkan itu (QS (16) : 58-59).

Al-Quran berbicara tentang perempuan dalam berbagai ayat. Pembicaraan tersebut menyangkut berbagai sisi kehidupan. Ada ayat yang berbicara tentang hak dan kewajiban, ada pula yang mengurai­kan keistimewaan tokoh perempuan dalam sejarah agama atau kemanusiaan.

Salah satu ayat yang seringkali dikemukakan berkaitan dengan hak kaum perempuan adalah yang tertera dalam surah Al-Taubah ayat 71, Dan orang-orang yang beriman, lelaki dan perempuan, sebagian mereka adalah awliya’ bagi sebagian yang lain. Mereha menyuruh untuk mengerjakan yang ma’ruf, mencegah yang munkar, mendirikan shalat, menunaihan zakat, dan mereka taat kepada Allah dan Rasul-Nya. Mereka itu akan diberi rahmat oleh Allah. Sesungguhnya Allah Maha­perkasa lagi Mahabijaksana.

Secara umum, ayat di atas dipahami sebagai gambaran bekerja sama antara laki-laki dan perempuan di ber­bagai bidang kehidupan. Pesan ini disampaikan kalimat “menyuruh mengerjakan yang ma’ruf dan mencegah yang munkar”. Jadi, bisa disimpulkan laki-laki dan perempuan memiliki hak yang sama, karena tidak ditemukan satu ketentuan agama yang melarang perempuan beraktivitas di berbagai bidang kehidupan. Bahkan sebaliknya, sejarah Islam menunjukkan betapa kaum perempuan terlibat dalam berbagai bidang kemasyarakatan, tanpa kecuali. [Bersambung]

12 November 2009

Cinta (IQRA’ 3)

Cinta (IQRA’ 3)

Askar minggu-minggu ini terlihat murung. Tak seperti biasa, wajahnya diselimuti mendung yang menggunung. Sesekali matanya dipenuhi asap hitam menggumpal hingga tetesan air matanya membasahi pipi. Aku dan Ibnu hanya tersenyum. Kadang mengejek. Kadang juga memotivasinya agar tetap semangat.

Tahukah kamu, begitu kata Askar, aku begini karena cintaku kandas di tengah jalan. Si Fitri ternyata menolak mentah-mentah perasaan cintaku padanya.

Sebagai teman, aku dan Ibnu merasakan kesedihan yang dialami Askar. Tapi apa daya, kami berdua tak mau dan tak mampu memaksa Fitri untuk menerima lamaran cinta Askar. Tidak ada paksaan dalam cinta, Kar! Hehehe

“Katanya cinta bukan sekadar rasa sayang kepada lawan jenis saja, Kar.” Aku memulai topik pembicaraan selepas shalat Isya.

“Kalau begitu, tolong jelaskan makna cinta menurut kamu? Sebab, banyak yang menggunakan kata cinta hanya untuk menyebutkan jalinan kasih antara wanita dan laki-laki.” Askar bertanya kepadaku dengan nada kesal.

“Tidak selalu begitu, Kar!” Ibnu menimpal.

“Makna cinta itu seluas samudera tak berbatas. Setiap objek ciptaan-Nya adalah tempat bermuara cinta. Salah dong kalau kamu hanya memahami cinta sebagai perasaan kangen pada wanita saja.” Lanjut Ibnu berapi-api.

“Sudah-sudah kalau begitu mari kita lihat apa yang bisa diberikan Al-Quran dalam menjawab tentang cinta yang multipemahaman ini.” Ujarku sambil mengambil kitab Al-Quran, menciumnya, dan membuka halamannya dengan khidmat.

Ketika tiba pada surah Ali ‘Imran [3] ayat 31, aku pun menemukan sepenggal ayat sbb, “Kalau kamu mencintai Allah, maka ikutilah aku, niscaya Allah mencintai kamu.”
Setelah membaca dan menuliskannya di papan tulis, kami bertiga mulai asyik membincangkan makna di balik cinta.

“Cinta adalah dasar dan prinsip perjalanan menuju Allah. Semua keadaaan dan peringkat yang dialami oleh pejalan, adalah tingkat-tingkat cinta kepada-Nya, dan semua peringkat (maqâm) dapat mengalami kehancuran, kecuali cinta. Ia tidak bisa hancur dalam keadaan apa pun selama jalan menuju Allah tetap ditelusuri.” Saya menyimpulkan diskusi waktu itu yang terhenti karena harus segera membuka gawean dari sekolah.

***

Singkat cerita, waktu subuh tiba. Askar, yang saat itu sedang tergila-gila pada Fitri mengumandangkan adzan. Suaranya lembut, indah, dan merdu; gambarkan jiwanya yang sendu akibat cinta bertepuk sebelah tangan. Ilman Nursifa terlihat memasuki serambi masjid. Menyalami Ibnu dan aku. Tangannya lembut. Tidak kasar seperti tanganku yang sejak kecil sering bekerja kasar. Sampai sekarang, deterjen itu menghancurkan tanganku. Kulitnya mengelupas dan pecah-pecah. Namun, meskipun tangannya lembut, dia tidak pilih kasih menyalami orang, sekalipun pengemis yang mangkal di depan masjid.

“Laa ilaaha illallah”, Askar mengakhiri suara merdunya.

Kami pun mengulangi adzan yang dikumandangkan Askar, kecuali pada kalimat “hayya ala shalah” dan “hayya ala falah”. Kenapa tidak diucapkan? Hatiku berbisik, “mungkin shalat dan menggapai kebahagiaan bukan kerja lisan. Tapi kerja seluruh anggota jasad: dilaksanakan.” Setelah mengucapkan kembali “laa ilaaha illallah”, kami serempak membaca doa selepas adzan. Kemudian, menunaikan shalat sunah qabla subuh alias shalat fajar.

“Allahu Akbar. Asyhadu anla ilaaha illallah. Asyhadu ana muhammadarrasulullah. Hayya alash sahalah. Hayya alal falah. Qadqamati shalah. Qadqamati shalah. Allahu Akbar. Laa ilaaha illallah.” Itu yang iqamat adalah Askar.

Aku, Ibnu dan Askar seolah hanyut dengan bacaan Ilman Nursifa, tepatnya, surah Ar-Rahman dan rakaat kedua surah At-Tiin. Selesai menunaikan shalat, selepas zikir secukupnya; Ilman Nursyifa bertanya kepada Askar.

“Ada apa, Kar? Kok terlihat murung begitu.”

“Hehe…????” Askar setengah malu-malu tersenyum pilu.

“Ah…paling si Askar masih kecewa dengan sikap Fitri pak Kyai!”, ujar Ibnu sambil setengah cekikikan.

“Memangnya ada apa dengan Fithri, Bil?” tanya Ilman sembari menengok ke arah ku yang saat itu sedang tertunduk menulis di karpet, dengan jari tanpa tinta.

“Eu…ini pak kyai,” sambil menengok ke arah Askar, “Askar ditolak cintanya oleh Fitri. Hihihi” jawabku sambil diakhiri tawa yang tertahan beban.

“Iya nih…pak kyai. Aku kecewa. Mau obatnya biar tidak kecewa. Ya, kalau bisa mohon penjelasan tentang cinta menurut Al-Quran.” Timpal Askar setengah emosi karena ketahuan oleh pak kyai.

“Pertanyaan tadi memang jarang dilontarkan anak muda. Remaja seumuran kamu, bahkan saya sekalipun, akan berbeda memaknai cinta. Apalagi dengan makna cinta menurut Al-Quran. Sebetulnya, pertanyaan bagaimana makna cinta menurut Al-Quran, sangat sulit dijawab. Cinta, tergantung kepada orang yang sedang mengalaminya dalam kehidupan secara real time (nyata). Perlu kamu ketahui, deretan kata atau kalimat dalam Al-Quran akan dipahami secara berbeda oleh setiap orang. ”

“Bagi saya,” lanjut Ilman, “cinta adalah salah satu dorongan dalam hidup manusia. Tanpa memiliki perasaan cinta, kamu akan berada pada ketidakpastian. Semangat hidup juga tidak akan nampak ke permukaan. Cinta, objeknya berbeda-beda. Bisa harta benda, suami, istri, anak, atau kekasih. Cinta seperti ini berkaitan dengan kesenangan duniawi. Dan, saya rasa setiap manusia pasti memiliki cinta terhadap kesenangan duniawi.” Jelas Ilman seraya berhenti sebentar menghela jeda berbicara.

Dengan semangat membara, Ilman Nursyifa, melanjutkan kembali ceramahnya sbb, “Hal itu diinformasikan Al-Quran sebagai berikut, Dijadikan indah pada pandangan manusia kecintaan kepada apa-apa yang diingini, yaitu: wanita-wanita (dan pria-pria), anak-anak lelaki (dan anak-anak perempuan), harta yang banyak dari jenis emas, perak, kuda pilihan, binatang-binatang ternak, dan sawah ladang. Itulah kesenangan hidup duiniawi; dan di sisi Allahlah tempat kembali yang baik (surga dan kenikmatan hidup ukhrawi) (QS Âli ‘Imrân [3]: 14).”

“Nah, cinta juga bisa terhadap segala hal yang telah berjasa besar dalam mengarahkan hidupmu. Misalnya, mencintai Nabi Muhammad Saw., meskipun beliau sudah tidak ada dihadapanmu lagi. Cinta seperti ini muncul dari kekaguman dan penghormatan. Ini juga diinformasikan dalam Al-Quran, Kalau kamu mencintai Allah, maka ikutilah aku, niscaya Allah mencintai kamu (QS Âli ‘Imrân [3]: 31).”

“Kemudian, Allah Swt. memberikan evaluasi terhadap kekuatan cintamu dengan cara membandingkan. Di sini, cintamu diuji. Apakah kamu lebih mencintai harta, jabatan, suami, istri, anak, atau pasanganmu ketimbang Allah dan Muhammad Saw. Kalau saja lebih mencintai objek selain Allah dan Muhammad Saw., kamu termasuk orang fasiq. Mereka mengetahui mencintai Allah dan Rasul-Nya adalah keniscayaan tetapi dalam praktik keseharian tidak menghiraukan ajaran-Nya.”

“Nah, begitulah cinta menurut Al-Quran. Kamu, mesti mencintai hidup untuk mengabdikan secara penuh kepada sang pencipta, Allah Swt. Caranya dengan meneladani kepribadian Muhammad Saw. dalam kehidupan sehari-hari.” Ilman membuka telapak tangannya. Sesekali tersenyum kepada kami. Menggelengkan kepala. Dan, memberikan pandangan yang semenjuk.

“Oooo….begitu ya??” Askar terlihat puas tapi masih terlihat gurat di wajahnya bertebaran rasa kecewa.

“Tuh…makanya, cinta itu jangan berlebihan, Kar” Ibnu terlihat puas dengan uraian Ilman Nursyifa.

Kyai muda itu mengakhiri bedah masalah kehidupan dengan pisau analisis ayat-ayat Al-Quran hari itu. Di dalam Al-Quran dijelaskan, “Katakanlah: Jika bapak-bapak, anak-anak, saudara-saudara, pasangan-pasangan, harta kekayaan yang kamu usahakan, perniagaan yang kamu khawatiri kerugiannya, dan rumah-rumah tempat tinggal yang kamu sukai, lebih kamu cintai daripada Allah dan Rasul-Nya dan (dari) berjihad di jalan-Nya, maka tunggulah sampai Allah mendatangkan keputusan-Nya. Allah tidak memberi petunjuk kepada orang-orang fasiq (QS Attaubah [9]: 24).”

“Puaskah kalian, wahai pemuda Islam?”

“Hmmmm….ya…ya…ya!” aku hanya mengangguk setuju saja. [Bersambung]

11 November 2009

Aborsi? (IQRA’ 2)

Aborsi? (IQRA’ 2)

Cericit burung di pekarangan masjid al-Munawarah terdengar indah mengalun. Kebiasaan kami; dua temanku, aku dan Ilman Nursyifa, selalu berdiskusi selepas shalat subuh. Biasanya, diskusi ini akan berakhir pada pukul 6.00 WIB. Dan, kami bertiga harus bersiap-siap menuju ke sekolah.

“Apakah boleh seseorang melakukan aborsi? Bagaimana pandangan menurut Al-Quran? Tolong jelaskan, karena banyak terjadi praktik aborsi di kalangan anak muda sekarang. Khususnya teman-temanku di sekolah, pak kyai?” tanyaku kepada Ilman Nursyifa mengawali topik diskusi pada waktu subuh itu.

Janggut Ilman Nursyifa terlihat bercahaya keputihan. Air wudhu saya rasa pasti selalu membasahinya. Selain seorang pengusaha, ia juga seorang lulusan sebuah perguruan tinggi. Rajin menulis, berdiskusi dengan kaum muda, dan gandrung akan perubahan. Asyiknya lagi, dia bukan tipe kyai panatis. Sedemikian terbukanya, hingga ringkak polahnya terlihat dinamis.

“Tergantung tempat dan kondisi, Bil.” Jawabnya.

Ooo…iya…namaku Abil Ma’rufie. Kedua temanku, memiliki nama Ibnu Halah dan Askar Madani. Kami bertiga satu sekolah dan kebetulan tinggal di masjid al-Munawarah dekat sebuah perguruan tinggi Islam.

“Jadi boleh dilakukan dan haram dilakukan kalau kondisi menuntutnya” aku mencoba mencerna maksud omongan Ilman Nursyifa.

“Betul. Tapi, asal sebuah pembunuhan dalam agama apapun itu terlarang. Coba kamu buka kitab Al-Quran itu” Dia menyuruhku membuka kitab Al-Quran yang sudah dilengkapi tafsir dan terjemahannya.

Dia mengambil nafas sedalam 3 cm kemudian menuliskan terjemahan ayatnya sbb, “Karena dosa apakah dia (anak perempuan) dibunuh (dikuburkan hidup-hidup)?” (QS At-Takwîr [81]: 9).

“Wah, praktik aborsi ujung-ujungnya sama dengan membunuh. Kalau tanpa ada alasan yang kuat, berkaitan dengan mati atau hidupnya seseorang, aborsi tidak boleh dilakukan. Maksudnya gimana kyai?” Desakku sedikit penasaran.

Ilman Nursyifa tersenyum kecil. Mungkin dia kagum kepadaku karena memiliki rasa ingin tahu yang gede. “Ayat Al-Quran yang saya tulis tadi, sudah jelas, kan, memaparkan membunuh merupakan tindakan yang dibenci Tuhan. Saking tercela dan terkutuknya membunuh, dalam ayat tersebut, Allah Swt. menyusun kalimat berbentuk pertanyaan.”

“Tahu tidak,” lanjutnya, “kenapa Allah menggunakan kalimat pertanyaan dalam redaksi ayat di atas? Yups, karena pelakunya — siapa pun dia — pasti melanggar dan akan mendapat murka-Nya. Ketika dalam ayat Al-Quran redaksinya mempertanyakan tentang perbuatan tercela, ini mengisyaratkan betapa besar murka Allah. Sehingga, si pelaku tidak pantas diajak berdialog oleh Allah. Menurut pakar tafsir, redaksi Surah At-Takwir, “Disebabkan dosa apakah anak perempuan itu dibunuh?” bukan saja mengisyaratkan larangan pembunuhan anak. Tapi, mengajak si pembunuh menyadari keburukan perbuatannya. Bahkan, ia harus memahami mengapa pantas menerima hukuman.”

“Bagaimana Bil, Ibnu, Aksar? Apakah masih harus dilanjutkan tafsiran ayatnya ?” tanyanya.

“Lanjutkan….” Ujar kami bertiga serentak menjawab.

Tanpa pikir panjang, dia pun melanjutkan omongannya, “Maka ketika di Arab jahilyah terjadi penguburan anak-anak perempuan awal surah ini menyebutkan, Tiap-tiap jiwa akan mengetahui dampak baik atau buruk dari apa yang dikerjakannya (QS At-Takwîr [81]: 14). Nah, berarti, pembunuhan bayi atau anak perempuan pada masa turunnya Al-Quran, akan mendapat hukuman di dunia dan akhirat. Kalau saja dahulu perbuatan itu dilarang secara tegas dalam Al-Quran, berarti sekarang juga masih dilarang oleh-Nya, dong.”

“Para pakar berdiskusi tentang boleh-tidaknya mengaborsi kandungan sebelum ditiupkan ruh kepada janin, yakni sebelum 120 hari dari pertemuan sperma dan ovum. Diskusi ini tidak berkaitan dengan masalah dosa atau tidak. Tapi tentang kadar dosa dan sangsi hukum yang harus dikenakan kepada para pelaku. Jadi, jangan menduga bahwa aborsi dibolehkan. Ia tetap dilarang dan dibenci.”

“Hanya saja kadar dosanya bisa berbeda dengan dosa pembunuhan setelah kelahiran.

Sementara itu, sebagian pakar Islam membenarkan praktik aborsi untuk menyelamatkan nyawa ibu, dengan syarat dokter yang tepercaya menduga keras, kehamilan akan membahayakan jiwa seseorang. Misalnya, kalau diduga keras janin akan lahir dalam keadaan cacat berat, atau mengidap penyakit serius. Sehingga kalau kelak lahir dan dewasa, ia tidak berfungsi sebagaimana layaknya seorang manusia.”

“Nah, tanpa ada alasan yang kuat untuk menyelamatkan seseorang dari kematian, praktik aborsi dilarang agama. Jadi, jangan sekali-kali melakukan aborsi tanpa alasan yang kuat. Dan, yang paling penting adalah menjauhi pergaulan bebas karena bisa memicu seseorang menggugurkan kandungannya. Dunia berkata apa dong, kalau tetap melakukan praktik aborsi tanpa alasan yang kuat.”

Penjelasannya itu cukup memuaskan hati kami bertiga. Seraya mendekat kepada kami, dia mengakhiri khutbahnya saat itu. “Bukankah mengandung, melahirkan dan menyusui adalah jihad bagi seorang ibu? Kalau seorang ibu tidak mau menanggung risiko kematian karena mengandung dan melahirkan anak, sama saja dengan tidak memercayai takdir-Nya. Sebab, hidup dan mati berada dalam genggaman Allah Swt. Mahya wa mamati lillahi rabbilalamin!”

“Iya..ya pengecut dong”, ujar si Askar.

“Huss….nggak boleh bilang gitu”, Ibnu menimpali.

“Hmmm….” Aku hanya mengangguk-angguk mendengar penjelasan pak kyai, seorang pengusaha muda yang pintar dan mengagumkan itu. [Bersambung]

6 November 2009

Haji, "Legenda Pribadi" Sang Janda

Haji, "Legenda Pribadi" Sang Janda

Aku tak mau dibilang nepotis ketika menulis cerita ibuku. Tapi, apa boleh buat untuk mewujudkan mimpinya naik haji, aku harus menuliskan kisahnya. Jujur saja, sebagai seorang anak aku merasa gelisah melihat keinginan ibu yang menggebu. Sejak sepuluh tahun yang lalu, ia selalu mengutarakan keinginannya itu padaku. Menginjak usianya yang ke 60, sekarang ia malah terus mengutarakan keinginannya menunaikan ibadah Haji.

Aku hanya bisa melerai kesedihannya dengan sejuta kisah para tamu Allah. Aku juga kerap menjelaskan padanya, bahwa Allah akan memanggil hamba-Nya. Kalau belum saatnya terpanggil, seseorang tidak akan pernah menginjakkan kakinya ke tanah suci. Meskipun ia tergolong kaya raya. Keinginan yang kuatlah yang dapat mengantarkan mereka bercengkrama asyik dengan-Nya di depan Ka’bah.
Itulah kata-kata yang selalu aku sampaikan padanya.

“Ibu ngiri dengan orang-orang kaya. Mereka hampir setiap tahun pergi naik Haji. Bahkan, ada yang sampai sepuluh kali. Umur ibu sudah mendekati 60 tahun. Sebelum ibu menyusul ayahmu, ingin rasanya pergi ke tanah suci. Ibu ingin merasakan bagaimana nikmatnya shalat di Masjidil haram, thawaf, sa’i, dan jumrah.” Jawab ibuku sembari menerawang haru ke tanah suci, Mekkah.

“Sabar saja bu. Kalau sudah saatnya juga nanti dipanggil Allah untuk pergi ke sana.” Ujarku sambil berusaha meredakan kesedihannya.

Aku jadi agak berdosa ketika tidak bisa berbuat apa-apa untuk mewujudkan mimpi ibu. Maafkan aku, bu, sekarang hanya bisa berdoa saja. Untuk mengumpulkan puluhan juta ongkos ke Mekkah aku belum bisa bu. Maafkan aku ibu…! Melihat usiamu yang semakin menua, kadang darah tinggimu kambuh, aku merasa serba salah. Pasti, keinginan pergi ke haji pangkal penyebabnya. Disamping itu pasti juga engkau memikirkan kedelapan anak-anakmu yang belum bisa mandiri.

Akankah ada sepercik keajaiban yang dapat mewujudkan keinginan ibu aku? Jikalau ada, aku rela menjadi budak belian orang tersebut. Sumpah aku akan melakukan apa saja untuk membahagiakan sang ibuku tercinta. Asal, tidak bertentangan dengan nilai-nilai kemanusiaan dan keislaman!

***

Ibadah Haji dalam keyakinan setiap muslim adalah puncak dari segala ibadah. Setiap muslim, tak akan merasa sempurna keislamannya tatkala tidak berhasil pergi ke baitullah untuk berhaji. Meminjam istilah Paulo Coelho, itulah yang dinamakan dengan “legenda pribadi”. Mirip majikannya si Santiago yang terjebak di tengah padang Pasir, berjualan lampu dan barang furniture, ketika dirinya akan pergi menunaikan haji. Majikannya Si Santiago, melupakan keinginannya pergi berhaji karena terbuai nafsu keduniawian. Memunguti serak keserakahan yang terus membentuk fatamorgana mata.

Ketika mengingat kisah dalam novel The Alchemist itu aku terhenyak kaget. Akankah ibu aku bernasib sama dengan sang majikan si Santiago tadi? Oh…tidak! Aku pikir tidak akan pernah terjadi seperti yang menimpa sang majikan itu. Majikan si Santiago kaya raya. Tinggal sebentar lagi mencapai tanah suci.

Sementara ibuku? Ia berada jauh dari Arab Saudi. Jaraknya ribuan kilo meter. Kalau tak ada lautan yang memisahkan negeri ini dengan negeri Arab, dia pasti rela berjalan kaki menempuh ribuan mil perjalanan menuju baitullah. Akung, keinginan menggebu ibu aku hanya terpendam tak asyik di lubuk hatinya yang terdalam. Ketika musim haji tiba dan televisi banyak memberitakan jemaah haji, keinginan itu meledak ke permukaan.

Seperti pesan singkat dari kakak aku kemarin, “Ibu kambuh lagi darah tingginya. Alhamdulillah, sekarang sudah agak mendingan. Ya, si ibu dan keluarga mendoakanmu semoga sukses karirnya.”
Aku baru teringat bahwa ini adalah musim Haji. Sekitar 250 ribu lebih jamaah asal Indonesia pergi ke tanah suci. Pasti, darah tinggi ibu aku kambuh lagi. Ia ingin pergi ke tanah suci sejak sepuluh tahun yang lalu. Sebagai anaknya, yang bekerja serabutan, aku hanya bisa meneteskan air mata kesedihan. Kadang, aku menyalahkan takdir. Kenapa aku tidak dijadikan pejabat partai yang dengan mudah dapat pergi-pulang ke negeri Arab. Astaghfirullahaladzim! Eling ah….! Bisik nuraniku mengingatkan.

Aku terdiam. Rasa kesal itu datang kembali. Kenapa ibuku tak seberuntung tamu Allah lainnya. Si tukang becak, yang pergi haji karena bantuan sebuah lembaga zakat. Si ibu tukang mencuci pakaian yang dimodali pergi haji oleh sang pengusaha. Dan, Haji Pandi yang menjual sawah pemberian ayah angkatnya untuk pergi ke tanah suci. Ah, tapi saya yakin kekuatan doa begitu dahsyat. Seperti dibilang Paulo Coelho, “Barangsiapa yang menginginkan terwujudnya suatu keinginan, segenap alam akan membantu mewujudkannya.”

Terima kasih Coelho, kalimat bijaksanamu mengobati keinginan menggebu ibuku. Seperti darahnya yang mendidih minggu kemarin. Menjadi reda dan agak baik kondisinya ketika aku membalas pesan singkat ibuku dengan menyertakan kalimat saktimu itu.

Satu lagi yang mesti diperhatikan. Pergi ke haji memerlukan kesiapan keimanan, mental, fisik, dan duit.

Tanpa itu semua, banyak orang kaya raya tak bisa pergi haji selama hidupnya. Di sisi lain, ada orang-orang miskin yang berprofesi sebagai kuli bangunan, buruh pabrik, dan warga miskin mampu pergi haji karena mereka rajin menabung. Itulah kekuatan niat. Sebuah dorongan yang mampu menggerakkan setiap orang untuk mewujudkan legenda pribadinya. Legenda pribadi bagi seorang muslim adalah pergi ke haji.

Maka, setelah itu ibuku menukas singkat, “mulai hari ini harus ibu niatkan pergi ke haji dan menyisihkan keuntungan dari bisnis kecil-kecilan. Yang terpenting adalah ibu sudah menekadkan pergi ke haji.”

“Nah begitu dong, bu. Jaga kesehatan, jangan makan daging kambing lagi ya?”

“Hehe…kalau di Arab Saudi banyak daging kambing ya..”

Aku hanya menggelengkan kepala. Ibuku ternyata masih menyimpan kerinduan menggunung di dadanya. Kerinduan untuk bersujud di depan rumah-Mu, ya Allah. Mulai besok aku akan mencari informasi tentang ongkos naik haji di internet. Doakan aku ya bu biar bisa tambah-tambah ongkos naik hajinya?????

30 October 2009

Maaf-Memaafkan (IQRA’ 1)

Maaf-Memaafkan (IQRA’ 1)

Suatu hari aku pernah diejek dan difitnah seorang teman. Aku sakit hati banget. Setelah beberapa bulan, temanku itu meminta maaf. Apa yang harus aku lakukan? Apakah aku harus memaafkannya? Salahkah kalau tidak memberinya maaf? Sebab, aku masih merasa sakit hati.

Selang beberapa hari, aku merasa gelisah. Hati merasa berat untuk memaafkannya.
Kemudian, aku teringat dengan kitab suci Al-Quran. Oh…di sana mungkin aku bisa mencari jawaban atas kebimbangan bersikap ini. Bisikku waktu itu. Ya…, mencari kata “maaf” yang sekarang masih memberatkan hatiku hingga tidak mau memaafkan temanku itu.

Mataku…akhirnya sampai pada ayat suci Al-Quran berikut, “Hendaklah mereka memberi maaf dan melapangkan dada, tidakkah kamu ingin diampuni oleh Allah?” (QS Al-Nûr [24]:22). Hmmm, rasanya Tuhan juga telah memberikan jawaban tentang pentingnya memaafkan ini.

***

Karena ingin lebih jelas tentang makna ayat tadi, aku pun berusaha mencari referensi tentang tafsir ayat itu. Dari beberapa bahan bacaan itu, aku mendengar suara sang guruku, Ilman Nursyifa, suaranya menggelegar mencoba menjelaskan makna ayat di atas.

Beliau dengan sorban putih membelit kepalanya. Bersila, memegang kitab suci Al-Quran dan mencoba mulai menafsirkan ayat tersebut. Wajahnya bercahaya, damai, dan tidak terlihat sangar. Seraya membetulkan sorbannya, dia memulai pembicaraan itu.

“Tahu tidak,” katanya.

“Tidak kyai.” Jawabku sambil menggelengkan kepala, karena jujur tidak tahu jawabannya.

Ilman Nursyifa menghela nafas. Kemudian bangkit dari tempat duduknya dan mulai berceramah sejuk, “Allah Swt. memerintahkanmu agar membina hubungan yang harmonis ketika mengarungi kehidupan ini. Kamu, harus saling membebaskan diri dari segala dosa dan kesalahpahaman. Juga, harus menyadari kesalahan sendiri, kemudian berusaha mendekati orang yang pernah kamu lukai hatinya. Maka, tak salah kalau agama Islam, mensyariatkan melakukan “shilaturrahim” dan saling memaafkan.”

“Bagaimana?” tanya beliau kepadaku.

“Masih tetap berat memaafkannya kyai”, ujarku sambil menundukkan kepala.

Saat itu aku lihat, Ilman Nursyifa, kyai muda berusia 35 tahun, mengerutkan dahi. Memegang dagunya dan sesekali menggaruk dadanya. Kemudian meneruskan lagi ceramah penafsiran ayat yang aku temukan tadi.

“Memberi maaf seharusnya bukan sesuatu yang sulit dilakukan. Apalagi kalau yang pernah menyakiti hatimu sudah meminta maaf. Bukankah memberi maaf kepada seseorang yang bersalah, ada di dalam Al-Quran. Seperti yang terkandung dalam makna “shilaturrahim”. Istilah ini bukan hanya sikap membalas kunjungan atau mempererat hubungan yang telah terjalin saja. Tapi bisa juga menyambung yang telah terputus.”

Dia berhenti sedikit. Mencoba mengingat ayat suci yang mengandung kata “shilaturahrahim”. Dengan wajah yang sedikit berseri sambil menuliskannya di papan tulis dia berujar.

“Di dalam Al-Quran Al-Karim diisyaratkan pentingnya memelihara “shilaturrahim”, seperti pada Surah Al-Nisâ’ [4], ayat 1, Bertakwalah kepada Allah yang dengan mempergunakan nama-Nya kamu saling meminta satu sama lain (dan peliharalah hubungan) rahim. Sesungguhnya Allah selalu menjaga dan mengawasi kamu.”
Sebelum meneruskan…..ia menghela nafas..

“Selain ayat tadi, ada juga ayat yang mengecam orang yang suka memutuskan tali persaudaraan, seperti, Maka apakah kiranya jika kamu berkuasa akan membuat kerusakan di bumi dan memutuskan hubungan kekeluargaan? Mereka itulah orang-orang yang dikutuk Allah; ditulikan-Nya telinga mereka dan dibutakan-Nya pula mata mereka (QS Muhammad [47] : 22-23).”

Kemudian ia meminum air putih yang diletakkan di meja….dan melanjutkannya.

“Bahkan, Al-Quran mewajibkan hubungan yang serasi setelah terjadi keretakan. Cobalah kamu perhatikan ayat berikut, Allah mengetahui bahwa kamu tadinya mengkhianati dirimu sendiri (tidak dapat menahan nafsumu sehingga bersetubuh di malam hari bulan Ramadhan dengan dugaan bahwa hal itu diharamkan), maka Allah memaafkan (QS Al-Baqarah [2]: 187).”

Seraya membuka sebuah buku tebal Ilman Nursyifa kemudian melantunkan ayat yang lain, Balasan dari kejahatan adalah kejahatan setimpal, tetapi siapa yang memaafkan dan berbuat baik, maka ganjarannya ditanggung oleh Allah (QS Al-Syûrâ [42]: 40).

“Nah, tidak ditemukan satu ayat pun yang menggunakan kata harus menunggu permintaan maaf sesama manusia. Yang ada hanya perintah memberi maaf, Hendaklah mereka memberi maaf dan melapangkan dada, tidakkah kamu ingin diampuni oleh Allah?” (QS An-Nuur [24]: 22). Dalam ayat ini, kamu dianjurkan untuk memberi maaf (al-afw) dan berlapang dada (al-shaft), yakni perintah memberi maaf sebelum berlapang dada menandakan pentingnya memberi pengampunan kepada seseorang.”

“Bagaimana sekarang? Apakah kamu masih tidak mau mmaafkan temanmu itu? Kalau kamu tidak mau memaafkannya, berarti kamu mengkhianati pesan suci Al-Quran, dong?”

Aku menghela nafas. Mencoba menekan perasaan agar bersikap bijak. Memaafkan adalah suatu keniscayaan. Tanpa keharmonisan maka dunia ini akan dipenuhi permusuhan.
Kemudian aku menyimpulkan penjelasan sang kyai muda bersahaja itu.

“Ya.., pesan yang dikandung ayat-ayat tersebut juga adalah tidak menanti permohonan maaf dari seseorang, tapi memberinya sebelum diminta.”

“Ya, betul sekali.” Ujar Ilman Nursyifa.

Ia melanjutkan, “Coba kamu amati juga Surah Âli ‘Imrân (3), ayat 134, yang mengemukakan sifat-sifat muttaqiin, antara lain: Yang mampu menahan amarah dan memaafkan manusia (yang bersalah). Allah menyenangi orang-orang muhsin (yang berbuat baik). Dalam ayat ini, kamu dapat melihat tiga bentuk sikap positif terhadap orang yang bersalah. Pertama, sikap terendah adalah “menahan amarah”, karena kamu belum bisa menghapus luka hatinya. Kedua, “memaafkan”, kalau belum bisa memulihkan hubungan harmonis. Ketiga, yang tertinggi dan dicintai Allah Swt. adalah sikap orang muhsin, yakni berbuat kebajikan terhadap yang pernah bersalah.”

Aku menyela sang kyai, “jadi, memaafkan adalah sebentuk laku kebajikan sehingga kita layak dikategorikan muhsinin? Seperti dijelaskan Al-Quran, Maafkanlah mereka dan biarkan mereka, Sesungguhnya Allah menyukai orang-orang yang berbuat baik. (QS Al-Maaidah [5]: 13). “ itulah kesimpulan yang kuketengahkan padanya waktu itu.

Ilman Nursyifa kemudian berpesan, “Nah, kalau begitu, apa susahnya, sih, kamu memberinya maaf, meskipun dia belum datang memintanya. Sebab, yang paling penting adalah terciptanya hubungan harmonis antar sesama. Saya berharap kamu kembali membangun hubungan harmonis sebagaimana seorang insan beriman, hingga kedamaian menyelubungi hidupmu, kalbumu, dan bahkan menaungi semesta alam raya. Kalau masih bermusuhan dan tidak mau saling memaafkan, apa kata dunia!”.

“Hehehe….” Kami berdua tersenyum girang.

“Hahaha….” Temanku dari luar Masjid melompat-lompat kegirangan. [Bersambung]

20 October 2009

Neneng Fatonah

Neneng Fatonah

HARI itu aku hanya bisa terpaku menatap kertas bon utang-utangku di tangan. Wah, bulan ini aku telah berutang ke warung sekitar 400 ribu-an. Tak terasa jumlah itu bisa aku kumpulkan selama tiga minggu. Belum lagi kiriman dari orang tua -- karena telah semester 10 -- dikurangi dengan alasan untuk mendidik kemandirian. Aku hanya bisa melongo memikirkan dari mana dan apa yang bisa aku gunakan untuk membayarnya. Minta ke orang tua.., sudah banyak menanggung malu. Kerja sampingan. Ah, itu tidak mungkin sebab aku tak mau dibentak-bentak bos.


Memang betul jika si Farid bilang waktu kemarin: "Kamu memang tak punya kemampuan me-menej keluar-masuk uang. Tak salah rasanya jika orang tua kamu tidak menaruh rasa percaya lagi".
Aku sih biasa. Tak pernah merasa bahwa aku harus mengatur keluar masuk duit. Wong punya uang itu harus dibelanjakan. Bukan disimpan terus di dalam dompet, nanti bulukan. Tapi, kenapa utang kamu ke Warung bisa membengkak seperti itu.
"Pan Emak tos masihan sasasih sakali".
"Teu Ceukap atuh dua ratus rebu sasasih mah. Pan di kota mah sagala marahal". Aku berusaha merayu sekuat tenaga agar ibuku menambah lagi uang jatah jajanku selama sebulan hidup di Bandung.
Dengan wajah yang tetap sabar sambil "mencubit sayang" pipiku, Emak merogoh dompetnya dan mengeluarkan dua lembar Rp. 50 ribu.
Hehe..., lumayan lah buat nambah-nambah bayar utang ke warung. Bisikku.
Tah Emak mah ngan iasa masihan sakitu. Kirangna mah milarian wae, bari ngiring didameul dilanceuk hideup atuh, geura.
Sip..., sumuhun atuh.
***
SESAMPAINYA di Bandung, 5 lembar uang Rp. 50 ribuan itu pun hanya beberapa menit mampir di dompet. Dibayarkan kepada tukang Warung bernama Mang Karya dari Sumedang. Yang telah menagih utang mulai dari hari Selasa kemarin. Sampai bolak-balik ke kostan di sudut jalan, yang sempitnya minta ampun. Tapi, murah hanya 100 ribu per bulan.
Yang penting aku bisa tidur, membaca, mengetik makalah atau tugas laporan, bahkan bisa belajar menulis artikel. Ngekost di situ juga masih sering nombokan atau ngutang, ketimbang lunas. Kadang nunggak satu bulan, dua bulan, tiga bulan, bahkan pernah empat bulan.
Untung saja si pemilik kostan baik. Ia mau mengerti dan sabar ketika datang menagih uang kostan, aku hanya bisa menjawab sasih payun nya bu?. Dan, ia hanya bisa menegur. Selanjutnya pulang ke rumahnya dengan tangan hampa.
Terbersit dalam benakku untuk nge-kost di Masjid. Tapi, tak leluasa. Bahkan kemarin aku pernah mendengar cerita pengalaman seorang teman yang tinggal di Masjid. Mentalnya down gara-gara ada anggota DKM yang berprofesi sebagai dosen di kampus menghinanya.
Kalau miskin jangan kuliah. Masih untung ada yang ngampihan di Masjid. Pokoknya kamu harus ngajar, mengisi ceramah, dan menjadi muraqqi ketika shalat Jum'atan tiba. Padahal, temanku bolos dari Masjid itu untuk mengerjakan tugas kelompok. Suatu kali pernah dimarahi karena ia bolos lagi, tidak memberitahu kalau pulang kampung. Ah, seperti di pesantren saja. Pake harus izin segala. Emang dunia ini kepunyaan anggota DKM? sanes atuh, kang. ujarku kepada Kang Faat setengah menengok gemas.
***
ENTAH kenapa malam ini aku susah menutupkan mata. Meski rasa kantuk menyergap, aku tak bisa barang sejenak pun tertidur pulas. Tidak seperti si Iwan yang numpang tidur dikamarku malam itu. Ia tertidur pulas sepulas bekicot didalam tempurungnya.
Bayangan si Neneng terus gerayangi otak kananku. Andai orang tuanya memberondong dengan kata-kata, "Ujang teh serius ka si Neneng teh? Upami serius iraha ka bale nyuncungna?".
Wah, cilaka dua belas atuh!
Aku belum juga beres kuliah. Ya, mahasiswa abadi. Nyusun skripsi mandog manyong. Kerja? Itu masalahnya. Aku belum punya pekerjaan tetap. Masih serabutan. Bagaikan tukang ngarit yang mencabuti rerumputan.
Memang aku sudah kerja mulai hari kemarin. Tapi masih dalam status magang, freelance. Belum sepenuhnya jadi karyawan tetap, fulltime. Dengan gaji yang kadang-kadang besar, kadang-kadang kecil, bahkan kadang-kadang tak bergaji. Tergantung ada tidaknya yang harus aku kerjakan. Aku ambil keputusan itu agar tidak diam saja di kamar kostan. Bosan. Suntuk. Stress. Dan defresif.
Lumayan tambah-tambah pengalaman. Daripada hidup nihil pengalaman. Bisa-bisa berabe.Tidak tahu apa yang harus kukerjaan jika tidak memiliki pengalaman hidup. Tak salah jika ada yang pernah berkata, "pengalaman adalah guru yang terbaik".
Tapi, bagaimana dengan hari esok? Kala ibunya Neneng Fatonah meminta kepastian dariku. Aku akan menjawab apa?
Maaf masih menganggur bu! atau berkilah, nanti menunggu beres kuliah, tanggung satu semester lagi, bu.
Tak bisa tenang hati ini. Seakan beban itu makin memberati kepala. Pusing. Aku pusing menjadi-jadi. Halah.., kok ndak bisa tidur begini. Utang ke si Aa warung sudah ku bayar. Kendati belum lunas. Minimalnya tidak sebesar seperti hari kemarin. Wajar kalau tidak bisa tidur juga. Tapi ini. Soal dipanggil calon mertua. Kok bisa-bisanya aku tidak bisa tidur. Ngeyel banget sih!
Tak ingat apa-apa. Akhirnya aku tertidur juga.
***
MATA merah, badan lemah, mulut selalu menguap. Mahasiswa hilir-mudik. Terus kupandangi satu persatu untuk menghilangkan rasa suntuk. Menunggu sang kekasih yang mengajakku pergi ke rumah ibunya di Garut. Neneng pun datang karena telah sedari tadi dia mengajakku untuk bertemu di depan wartel kampus.
"A..., kok kayak yang malamnya begadang. Mata A merah tuh!", ujarnya sambil menunjukkan bahwa dimataku ada sesuatu.
Hehe..!
"A..., naik apaan kita ke Garutnya?", tanya Neneng manja.
"Ya..., naik bus atuh. Emangna bade papah wae?"
"Ih si Aa mah meuni kitu". Matanya memancarkan bahwa ia sudah tak sabar ingin sampai di Garut.
Sudah lima tahun Neneg Fatonah hidup di Bandung. Tapi, ia lahir di Garut kota, tepatnya daerah Bentar Hilir. Karuan saja, ingin bertemu dengan orang tuanya yang telah terlebih dahulu kembali ke Garut dan mengenalkan lelaki pujaannya. Aku si perjaka dari Kampung di daerah pelosok Kabupaten Garut. Terpencil dari keramaian, namun masyarakatnya sudah akrab dengan kehidupan kota. Sebab, masyarakat di kampungku itu banyak yang berprofesi sebagai tukang pangkas rambut. Mereka urban ke kota-kota besar mendagangkan jasanya.
Hal itu secara tidak langsung menciptakan sebuah komunitas yang membawa nilai-nilai kota ke kampung. Apalagi pemuda dan pemudinya. Tidak lagi memakai celana sontog. Tidak lagi ada perempuan berkebaya.
***
GUNTUR...guntur...guntur. Seorang kernet angkot jurusan terminal Guntur-Sukaregang melambai-lambai. Aku dan Neneng berjalan ke arah angkot berwarna hijau itu. 5 tahun yang lalu aku masih sering naik angkot jurusan Guntur-Sukaregang. Pukul setengah tujuh dari terminal dan sampai ke sekolah sekitar pukul tujuh kurang seperempat. Pintu gerbang dikunci kalau sudah lewat dari pukul tujuh. Biasanya kalau terlambat aku tak masuk. Menunggu waktu istirahat tiba. Ya, pintu gerbangnya pasti akan dibuka. Begitulah seterusnya sampai kelas tiga tingkat atas.
Kiri mang...!
Ongkosnya 3 ribu berdua. Kubayar dimuka pak sopir dengan tangan kanan. Biasanya pak sopir juga menerimanya dengan tangan kiri. Aneh. Apa tidak tahu atau pura-pura tidak tahu. Pak sopir kebanyakan mengambil ongkos dari penumpangnya dengan tangan kiri. Ah, itu tidak apa-apa. Mungkin tanggung, karena tangan kanan memegang kemudi stir mobil.
Assalamu'alaikum....?!
Wa'alaikum salam...!!
Aduh si geulis udah datang. Siapa ini teh? tanya bu Ida sambil melirik padaku.
Neneng hanya tersipu malu. Merah wajahnya. Dan, ibunya sudah mengerti. Ia langsung mempersilahkanku untuk masuk ke dalam. Kami mengobrol apa saja dengan kedua orang tuanya. Asyik juga. Ternyata tidak seseram yang aku kira. Arah pembicaraannya ngalor-ngidul. Tidak ada pakem tertentu atau tema pembicaraan khusus seperti yang sering dilakukan peserta seminar.
Aku kaget bercampur gembira. Ya, ibu dan bapak mah tergantung pada si Neneng. Kan yang akan berumah tangga juga si Neneng bukan ibu dan bapak. Tapi, yang terpenting kalian harus siap mengarungi samudera kehidupan ini. Saling mengawasi. Menjaga. Memelihara. Dan, bermusyawarah kala ada persoalan-persoalan yang sedang mengimpit.
"Kalau Ujang udah bulat sebulat-bulatnya untuk lakirabi dengan si Neneng, kapan atuh waktunya?".
"Eu...eu...eu. Insyaallah tilu sasih deui, panginten".
Neneng Fatonah tersenyum sambil menatapku dalam. Aku keder. Teu puguh rampa. Dan, setelah itu aku pun uluk salam kepada tuan rumah. Sekalian mampir ke kampung halaman di Garut, bermusyawarah dengan Emak di rumah yang mengharapkan aku mendapatkan jodoh seperti Neneng Fatonah. Apalagi aku sekarang sudah bekerja kendati serabutan. Emak pasti senang mendengarnya, karena sang anak sudah cukup umur untuk membina rumah tangga. Bilih kausap syetan, pepatahnya ketika Neneng dikenalkan padanya sebulan yang lalu. ***

Ampunku

Ampunku

Hamparan rumput ilalang satu meter lebih hijabi seluruh mata memandang. Kutambatkan hati buat sang kekasih yang tak pernah mau mengerti. Bahkan, tak mau memahami jika aku adalah orang tak berarti dan hampa masa depan. Rona wajahmu bayangi terus kemana arah imajiku menghampar di ketinggian bebukitan dekat gubuk rumah tua. Goresan luka hatiku pun mulai membesar, menganga dan sakitnya tak tertahankan menusuk-nusuk.

Ah, kau ini! Kenapa hidupmu mesti sisakan aneka kepedihan yang tak kunjung mereda, meredup, dan mengecil. Walau secuil!


Pun hingga ketakutan banjiri sebongkah rasa tatkala hadapkan diri pada hari esok yang katanya secerah dan seindah bintang-bintang di langit. Ya, aku kira kau seorang manusia yang tak pernah berharap keelokan hari esok tiba, Sony? Bisik hatiku lirih.
Keputusasaan, ketidakbergairahan, kebencian dan keanekamacaman diksi yang lukiskan ketidaktentraman luluhlantakkan rasa yang berjejalan hendak keluar dobraki kebersemangatan dan kecintaan yang teramat sangat pada hidup.

Lamunan dan amalan imajiku pun buyar seketika manakala dari arah belakang terdengar suara menggelegar dahsyat.

“Duaaar! Ayo melamun saja kamu ini Son!”

Kutolehkan wajah kusut layu tak bersari ini. Terus kudapati wajah cengengesan yang tak lekang sedikit pun darinya meski sesaat.

“O.., kamu Har! Aku kira gemuruh suara bom?”

“Ah, kamu ini ada-ada saja. Suara bagus begini kok dibilang seperti gemuruh bom!” Jawabnya kegatelan.

Hari.., nama yang begitu asing di telinga namun begitu melekat dikedalaman hati sanubari. Maklum, dia satu-satunya teman yang terus-menerus bertamu ke rumah meskipun pemuda di kampung mengisolirku karena aku disangka gila. Huh, kesal dan bosan aku dibikinnya.

Sejak saat itulah, hari – sekumpulan detik, menit dan jam – dalam desah nafas hidupku adalah diksi tak bermakna, tiada ingin didengar dan tak diharap pula kedatangannya.
Namun, Hari.., temanku itu. Longokan wajahnya saja telah menepis segala kerisauan jiwa. Bahkan mempreteli segala aneka keputusasaan dan kesakitan rasa yang selama ini aku tanggung. Ya, semenjak dua tahun lalu, ketika Siti mengatakan bahwa hubungan aku dan dia tak usah diteruskan. Putus!

Sejak tahun itulah, aku seakan terus mengasyiki hidup dalam kesendirian dan kekosongan hati. Akibatnya, aku tak sudi jika harus berbagi rasa dengan orang lain selain dirinya. Untung saja si Hari terus mengajakku berbincang-bincang, hingga beban berat itu terasa ringan. Seringan kapas putih yang terbang terbawa hemilir angin dari Timur.

Tapi hanya sebentar. Setelah si Hari meninggalkan aku sendiri, beban itu menghantam kembali. Membuatku serasa seperti tertimpa batu besar. Sesak, pengap, dan letih. Nama dan wajah Siti terus menggentayangi pikiranku. Kendati diriku adalah laki-laki yang tabu untuk meneteskan air mata. Dua tahun ini aku terus mengotori dua kelopak mata dengan air tangis. Ah, kamu memang wanita satu-satunya yang paling ku cinta.

***

Tak terasa aku pun mencoba mengingat kesakitan rasa yang dua tahun lamanya direpresi hingga laku lampah jadi obsesif dan dijibuni sindrom kesakitjiwaan. Ya, dua tahun yang lalu, pagi itu cuacanya tak seindah yang dibayangkan. Kelam pekat warna lembayung tak tertahankan hijabi setiap sudut mata memandang yang berkunang-kunang akibat tak makan semalaman.

O, malam tadi kucoba menunggu kedatanganmu yang sejak pagi kupunggungi dan kutambatkan hati. Ah, kau pun tak kunjung datang hingga tubuh ini kedinginan, gemetaran dan perut berkeroncongan gaduh tak karuan.

Kesal betul walau hanya untuk menunggu kebebasan diri dan kemerdekaan jiwa yang sedang tertunduk lesu akibat serangan virus yang memekakkan hati, telinga, jiwa dan raga yang kuperoleh dari sang Maha Suci yang tak pernah sucikan diriku dari dosa. Virus itu adalah penantian yang membosankan.

Kukotori hati sanubari yang telah lama dijubeli ragam sampah kemunafikan, ketidakjujuran, dan ketidakcintaan yang dibungkus kata sayang. Sayang! Kata itu tak pernah kupercayai lagi walau hanya untuk sesaat, hanya untuk selima windu berlalu, dan mungkin untuk sepanjang tahun hidupku yang tak pernah bertemu.

Kenapa kau tak mendatangiku malam tadi, sayang? Ada apa denganmu, ibu dan ayahmu? Bertengkarkah kau dengan kedua orang tuamu, yang tak sudi punya mantu dari keluarga yatim-piatu? Ah, tak berarti rasanya hidup ini tatkala kau ambil keputusan yang memekakkan telinga. Keputusan yang aku dengar dari aliran udara (sinyal) handphone pada pagi hari, ketika aku masih asyik terlelap tidur.

Telah satu tahun lamanya hidupku bergantungan pada gajimu. Tiga tahun lamanya kita mengikat keterceceran rasa dalam ujud cinta yang membutakan. Logis sekali bila kau menetaskan cinta pada yang lain, sayang!

Bosan, ya? Pusing, ya? Kesal, ya? Karena aku lemah tak berkutik hanya untuk sekedar melawan derasnya gelombang pasang hidup.

“Ya, aku bosan, pusing dan kesal Son! Kau tak pernah mau berubah jadi dewasa sedikit saja. Kenapa kau ini, Son? Kayak anak kecil saja, tak bisa memandirikan kedirianmu, aku muak. Kita putus saja, Son!” Teriakan itu memekakkan telinga kiri. Dan, memutus kerongkongan hingga tak dapat dialiri gelombang suaraku.

Itulah kalimat terakhir kalinya kudengar dari bibir manis Siti. Seorang perempuan gila kerja dan berdarah biru; tapi baik hati, namun tak mau menghargai jalan hidupku. Bahkan saking darahnya membiru, nasib Siti bagaikan perempuan rigid yang mesti dipersunting hanya oleh orang-orang yang sederajat dengannya.

Maka aku tarik kembali tali tamali hati yang tersangkut di ketinggian ketakberartian hidup yang mengerangkeng jiwa. Tak kuat rasanya jiwa ini meskipun hanya sekadar berlari menemukan ketidakjelasan akan datangnya hari esok.

Aku sakit!

Teramat sakit kasih!

Aku ragu!

Teramat ragu menjalari seluruh tubuh yang kaku serasa seribu tahun tak pernah kunjung berlalu. Naïf betul kau kasih!

Ternyata masih ada pola pikir feodal gerayangi rasa, karsa dan karya-cipta masyarakat modern seperti orang tua si Siti itu. Kasihan kau ini Sitiku terkasih. Coba saja bila aku lahir dari kalangan ningrat. Bisa-bisa orang tuamu beringas mempersilahkan aku ongkang-ongkangan di atas kursi empuk ruang tamu rumahmu. Tapi, kini khayalan itu terkubur bersama kenangan dan terpahat sudah di pusara hati. Karena kita telah memudarkan ikatan cinta. Putus!

***

“Son aku pulang dulu ya!” Setengah berteriak Hari menepuk punggungku yang sedang asyik merangkai dan melukis hati dengan sejuta warna masa lalu yang kelabu. Aku hanya anggukkan kepala, karena malas betul buncahkan kata-kata.

Oh, bayanganmu kembali hadir Siti. Menggendong anak, tertawa riang, dan mencla-mencle menghardik wajahku yang sedang melongo kosong tatap begundal rasa yang mendeterminasi laku lampah. Begundal rasa yang menjajah jiwa selama dua tahun lebih ini. Aku bosan! Aku ingin bebas, tapi susah betul!

Ah, bunuh diri saja. Bisik hati kecilku. Biar jiwaku terbebas dari segala macam rasa yang pahit bagai daun batrawali di belakang rumahku yang menjorok ke arah Barat daya.
Lantas, lirikan mataku hampiri seutas tambang yang menggelantung di atap kamar. Berjinjit aku berusaha menggapai lingkaran tambang yang menganga hendak mengajakku berlari tinggalkan pahit-getirnya kehidupan. Ragu! Aku agak sedikit ragu. Namun, tekadku sedemikian bulat hingga tak ada lagi penjara tata norma dari super ego yang berani menghalangi keinginan-keinginan.

Dan, melayang penuh kebebasan aku tinggalkan hidup ini. Ah, kulihat si Hari termenung di depan pintu kamar melihat tubuh yang terbujur kaku kusut mirip dengan wajahku. Ibu dan ayah juga berteriak sambil memegangi dan menggoyang-goyang tubuh pemuda yang tiada lain adalah aku sendiri. Muncul rasa ibaku pada kedua orang tua, ingin kumasuki kembali tubuh pemuda itu. Namun, tak kuasa kutahan gemuruh angin yang membawaku terbang ke angkasa raya. Meninggalkan dunia yang semestinya kuhadapi. Bukan kuingkari seperti ini.

Ah, andai aku diijinkan oleh-Nya untuk rasuki kembali jasad pemuda itu. Akan terus kuraih dan kugunakan kesempatan ini agar dapat mengabdi pada-Nya. Bukan mengabdi pada kekecewaan-kekecewaan yang kerap kali didramatisir.

O, aku rindu…Tuhan, pada kehidupan yang telah kutinggalkan. Akankah kuhirup kembali segarnya udara kehidupan di dunia?

Andai kau tak bunuh diri, gemerlap sinar mentari dan leganya udara dunia pasti akan kau dapatkan, Sony!

Tapi, semuanya telah terlambat. Dan tak akan berputar seperti lari-lari kecilnya jarum jam pada angka satu dan kembali lagi ke angka satu. Satu detik berlalu pun tak pernah kembali, bahkan hari kemarin tak mungkin terulang dikehidupanmu.
Celaka! Aku berteriak meratapi nasib dan laku lampah yang telah sedemikian kukhianati. Aku hanya bisa menahan rasa sakit yang tak terperikan. Hantaman cemeti mematikan rasaku sebentar saja. Kemudian, aku merasakan kembali sakitnya diinjak dan dibakar.

Awww…ampun?! Teriakan itu tidak menolongku sama sekali.
01: 00 pagi hari kelabu


14 October 2009

Kemiskinan Kudus

Kemiskinan Kudus

Fajar menyingsingkan kegelapan dengan cahaya kemilau yang terpancar dari tubuhnya yang menyala-nyala. Merekahkan dedaunan layu yang kedinginan sedari malam karena diembusi angin semilir sepoi-sepoi. Dan, pagi buta ini. Di sebuah rentang ruang dan waktu, kekudusan-Mu mulai menggerayangi.

“Ashshalatu khairu minannaum”…

“Ashshalatu khairu minannaum”, suara muazin itu terdengar sayup-sayup dari bebukitan yang sepi tanpa penghuni.

Ki Jumantar, dua puluh tahun lalu adalah seorang pengusaha sukses. Rumah luas mentereng dengan halaman seluas lapangan sepakbola menambah kesan laiknya istana keraton di kerajaan Mataram. Istri cantik, dan anak sehat perawakannya adalah karunia Tuhan yang diberikan kepada Jumantar. Jumantar, selain pengusaha, juga seorang manusia yang haus ilmu agama. Setiap hari, aktivitas wirid-nya dihabiskan berjam-jam di depan mihrab masjid.

Ritual agama telah meresapi aliran darahnya hingga terobsesi menjadi setingkat wali yang suci. Sebagai manusia biasa, ia pernah gelisah. Gelisah dengan kondisi tetangganya yang miskin. Miskin akibat tak bisa mengolah potensi alam. Sumber daya manusia di kampungnya juga nol koma sekian.

“Bapak…Bapak…bapak”, suara Syahareza putra pertamanya terdengar memanggil dari luar bangunan masjid.

Kontan saja, wirid Ki Jumantar terhenti seketika. Ia kecewa. Meratap dalam batin. “Kenapa aku menghentikan ritual suci ini”, katanya setengah berbisik pada diri sendiri. Sambil menggeliatkan tubuhnya, yang ringkih dan tinggi. Dengan sorot matanya yang menyala keapi-apian, ia keluar dari ruang suci masjid.

“Ada apa Eza!”, teriaknya memecahkan suasana di tengah hiruk pikuk muslim yang sedang beribadah.

Syahreza ketakutan melihat sorot mata ayahnya yang tajam setajam silet pembedah hatinya. Ia mundur selangkah. Dan, menjawab pelan sekali:

“Itu..tu,” suaranya tersedak tak karuan, “ada mang Jumali datang bertamu ke rumah”, jawabnya sambil menundukkan pandangan ke arah tanah gembur berwarna merah di halaman masjid.

“Memangnya ada keperluan apa dia datang kesini. Mengganggu orang yang sedang beribadah saja”, gerutu Ki Jumantar terlihat kesal.

Syahreza, pemuda berumur 20 tahun hanya bisa tertunduk lesu. Ia merasa bersalah karena telah mengganggu ayahnya yang sedang menghadiri jamuan suci. Sekelebat bayangan putih dengan wajah bersih menakjubkan menengok ke arah Jumantar dan Syahreza. Setelah itu, hilang tak meninggalkan bekas bebauan yang janggal di hidung manusia.

“Ayo…Eza, kita pergi menemui pamanmu itu.”, kata Ki Jumantar melunak.

Kedua orang itu. Ayah dan anak berjalan menelusuri jalan sempit di kampungnya tanpa berbincang-bincang.

“Oh, kenapa engkau ini bapak. Rela berjalan 8 km hanya untuk shalat dan wirid di masjid ini.”, bisik Syahreza pelan-pelan.

Tanpa diduga, Ki Jumantar, pria berusia 43 tahun itu menjawab. Seolah tahu apa yang sedang dipikirkan anaknya.

“Eza.., aku rela berjalan ke masjid ini, karena disinilah ketenangan itu diperoleh.

Di Masjid kampung kita, hal itu tidak aku peroleh. Jamaah hanya sibuk dengan kemiskinan. Orang kaya seolah menyibukkan diri dengan kekayaannya. Alhasil, ritual agama kering dari ikatan primordial yang spiritualistis. Seharusnya, keduniawian tidak melenakan warga kita dari sisi lain Tuhan di muka bumi ini, Za.”

“Dunia ini, kalau kita memburunya, Za.”, ujar Jumantar sambil menengok Syahreza, “akan terus berlari. Dan, kita akan kelelahan mengejarnya, tahu ?”.

“Bapak kamu ini, Za. Tidak ingin menjadi bagian dari makhluk-Nya yang tak bersyukur. Kamu tahu tidak Za, bahwa kekayaan kita yang melimpah, di akhirat sana, tidak akan menolong hukuman yang diberikan-Nya”.

Syahreza saat itu hanya bisa mengangguk pelan, tentunya sambil berbisik kecil dalam hati.

“Kenapa Bapak tidak memanfaatkan harta kekayaan untuk menyelamatkannya di akhirat kelak. Bukankah, di sekitar rumahnya masih ada orang-orang miskin. Meskipun Bapak pergi ke Mekkah puluhan kali, kalau di sekitar masih ada warga yang kelaparan dan miskin, apakah status hajinya menjadi sah?, aku rasa tidak.”

Lagi-lagi Ki Jumantar seolah tahu apa yang dikatakan Syahreza.

“Bapak memang akhir-akhir ini sering merenung, Za. Kamu tahu, kan, kalau Bapak sudah pergi ke Mekkah puluhan kali. Tapi, merasakan ada yang tidak diperoleh dari ibadah haji itu. Setiap kali sedang berada dihadapan Kabah, Bapak melihat jerit tangis tetangga kita yang kelaparan. Setiap kali shalat di masjid al-haram, memang terasa nikmat dan khusuk. Pokoknya, ruh Bapak seakan bercengkrama mesra bersama Tuhan. Akhirnya, bayangan tetangga miskin itu lenyap kembali, Za.”

“Dan, ketika Bapakmu ini pulang ke tanah air, ibu kamu sibuk menggosipkan pengalamannya ketika di Mekkah, Za. Tanpa lirik samping kiri dan kanan. Tidak ada percik pertanyaan bahwa para pendengar setianya itu, dari pagi sudah mendapatkan makan.”

“Kenapa tidak engkau peringati Ibu, malah setiap kali Ibu bersikap seperti itu Bapak masuk ke dalam kamar. Dan, mulai tenggelam dengan kitab Ihya Ulumuddin karya Imam Al-Ghazali.”

“Ingat, Za !”, Ki Jumantar meneruskan perbicangan ruhaniyah dengan Syahreza, “selain kitab Ihya Ulumuddin, Bapakmu ini membaca kitab Risalah Tauhid-nya Ibn Taimiyah, belum lagi kemarin-kemarin sedang tenggelam dengan bulir pemikiran Muhammad Iqbal.
The Reconstruction of Religious Thought in Islam, memang membuka cakrawala pemikiran. Islam, katanya, Za. Bukan hanya gagasan, pengalaman dan pengamalan saja. Tapi, sebuah keseluruhan.”

“Sekumpulan karya, karsa, dan rasa.”, aku menjawab dalam represi batin yang terus bergolak kuat.

“Iya, betul sekali, anakku.”, jawab Ki Jumantar singkat sambil menengok ke belakang di mana aku berjalan setengah berlari terpincang-pincang.
***

Usiaku waktu itu delapan belas tahun. Terpaut dua tahun lebih muda dari Syahreza, kakakku. Aku adalah anak kedua dari lima bersaudara. Bapakku. Begitulah aku sering menyapanya. Sangat menyayangi sebesar gunung Krakatau yang meletus pada tahun 1800-an, yang kepulan asapnya sampai ke benua Eropa. Bahkan, aku kira tidak ada yang menandingi kasih-sayang Ki Jumantar padaku.

Ketika Bapakku sedang berkumpul di ruang tengah keluarga, biasanya aku menyelinap ke dalam kamarnya yang besar dan luas. Mata ini akan tertuju ke sebuah pintu yang tertutup rapat. Di mana didalamnya ada rak setinggi tiga meter, dengan tumpukan buku, kitab, dan catatan kecil Ki Jumantar yang terletak di meja. Biasanya catatan inilah yang akan aku baca sampai selesai.

Dan, waktu malam tadi. Aku menemukan buku terjemahan karya Muhammad Iqbal tergeletak di atas catatan harian Bapakku. Hebat, aku tertarik dengan konsep insan kamil-nya yang memadukan gagasan, pengalaman dan pengamalan dalam memahami Islam.

Belum juga selesai aku membaca pengantar penulisnya, tak terasa waktu seolah tak menghendaki aku berlama-lama di ruangan ini. Aku pun pergi menemui ayah, Ibu,
Syahreza, Maharani, dan dua adikku yang lain. Mereka asyik bercengkrama membincangkan segala soal yang tidak membuatku tertarik.

“Dari mana saja, Nak?”, tanya Bapakku malam itu.

Aku hanya terdiam. Dan, merebahkan tubuh ini di samping Ki Jumantar. Kakiku yang kepincangan dia elus-elusi selembut tangan menyentuh kapas yang ranum.

“Apa yang sudah kamu baca malam ini, anakku?”, tanya Ki Jumantar sambil terus kemudian berpindah membelai rambutku yang keriting keikal-ikalan.

“Pengantar Iqbal dan sepenggal syair puitisnya yang menggugah, Bapak.”

“Coba beritahu aku, anakku”, tanya Ki Jumantar.

“Wahai kawan yang mengembara di angkasa tinggi/Coba engkau sejenak yakin akan dirimu di muka bumi.”, aku membaca kalimat puitis Muhammad Iqbal dengan harapan Ki Jumantar tidak lagi berkeluh putus asa mencari kebenaran melangit.
Kepalanya mengangguk-angguk. Jenggotnya yang basah dengan air wudlu terus bersinar tak rasional dalam sudut pandanganku yang awam.

Dan, pagi buta kali ini. Ketika ia meracau menjawab pertanyaan batin Syahreza. Aku terhanyut dalam ketakmengertian. Baju putih bersih yang kukenakan menjadi basah diwarnai noda kecoklatan dari tanah merah yang berpuncratan dari jalanan becek yang kami lewati bersama. Hanya karamah ataukah mukjizat.

Atau, seperti yang dikatakan Sigmund Freud. Bahwa itu adalah akibat obsesi yang tertekan di kedalaman batin seorang manusia yang gelisah. Ia meracaukan sensasi kenikmatan ruhani yang melangit.

Memang betul bahwa ayahku terobsesi dengan kesatuan wujud dengan-Nya. Tapi di satu sisi ia tidak bisa meninggalkan realitas yang kongkrit. Akibatnya, ia seringkali merasa gelisah. Hingga suatu hari kegelisahannya itu meledak merembesi kebiasaan duniawi sehari-harinya. Ia menjadi duduk berlama-lama di depan mihrab masjid tempat mengasingkan diri dari hiruk-pikuk keduniawian.

Usaha menjual pupuk kepada petani juga, diurus oleh Mang Jumali, adiknya, sehingga hasil penjualannya jarang sampai kepada kami. Ia – Bapakku – menjadi hilang selera menumpuk-numpuk harta kekayaan.

Pernah suatu hari, aku berdiskusi dengannya soal konsep kefakiran dalam Islam. Ia mengartikan kefakiran sebagai jalan menuju penyucian diri. Aku mengartikannya sebagai jalan menuju pengingkaran kepada Tuhan (bahasa kasarnya kekufuran).

“Apa tadi kamu bilang anakku?”, dari arah depan wajah ayahku melebar laiknya duri-duri seekor Landak yang sedang terancam keselamatannya.

Sembari menghentikan langkah kakinya, ia terus memandangiku dari kepala sampai ke kaki.

“Memang benar pendapatmu itu. Tetapi, aku”, ujar Bapakku, “akan terus berada pada kemiskinan kudus ini. Inilah jalan terjal menuju kemuliaan yang tak pernah terkena kenisbian ruang dan waktu, anakku.”

Aku terpukul. Diam. Dan, terus mencari apakah benar apa yang dikatakan Ayahku itu.

“Ah, mana ada Tuhan yang memerintahkan manusia menjadi miskin. Yang ada kita harus berjuang seperti Bunda Teresa dan KH. Ahmad Dahlan, mengangkat manusia dari jurang kemiskinan yang menindas. Sebab, agama mengandung misi pembebasan”, batinku meratap dan merenungi kemiskinan kudus keluargaku ini.
18 Desember 2008

Batinku Berarti Garang!

Batinku Berarti Garang!

MALAM itu jarum jam dipergelangan tanganku terpaku menunjuk pukul 22 lewat 10. Andai saja dijumlahkan, maka akan menghasilkan angka yang teramat pantastik yakni rentang masa keotoriteran “orde baru”. 22+10=32.

Di depan teras toko telentang tubuh kaku bersimbah keringat sembari berusaha menidurkan seorang anak usia dini berumur 8 tahun. Tubuh kering kerontang kakek tua itu menambah kedukaan dan kepiluan diriku kembali bergeliat tanpa kendali, terhadap kondisi bangsa dan Negara yang sedang oleng diterjang pelbagai krisis. Krisis yang memulti akibat serangan bertubi-tubi bencana alam, krisis moneter, dan penggasakkan uang rakyat oleh pejabat jahat dan korup.

Begitulah kondisi Negara Indonesia. Kendati telah berganti pimpinan tetap seperti dulu kala. Ingin rasanya aku berontak melawan sistem yang telah sedemikian melenceng jauh diejawantahkan kaum elit yang tersenyum riang tatkala rakyat jelata menjerit-jerit.

Bahkan di daerah Bandung, perna ada puluhan kepala keluarga kesusahan mencari bahan penjejal perut, karena rawan daya beli dan keacuh tak-acuhan warga. Mereka juga seakan tak berkutik memenuhi tuntutan cacing-cacing yang berteriak kukurubukan.
Berontak!

Mungkin itulah selintas bahasa yang kerap dijadikan ikon sakti pemberontakan terselubung “kaum oposan” yang mencoba mengobrak-abrik segala kepongahan para begundal yang haus akan hasrat kekuasaan. Lima tahun, sepuluh tahun dan seterusnya tak akan pernah bisa merubah nasib si kakek tua yang sedang tidur-tiduran di teras itu. Seorang penduduk yang tak pernah merasakan nikmatnya kekayaan alam, seorang pejalan kaki yang mencari sesuap nasi, dan seorang kakek tak berisikan materi.
Ah..tak jadi kalau aku berontak melawan sistem tiranik, karena aku takut memuaikan ikatan kuat yang mengintegrasi seluruh bangsa di Negara Indungsia.

Ah..tak mungkin pula rasanya kalau aku mesti mengorbankan jutaan nyawa tak berdosa hanya untuk memperjuangkan idealisme buta. Apalagi, mesti memaksakan kehendak bahwa idealisme yang aku pegang wajib dianut oleh seluruh rakyat. Itu namanya pemaksaan sebagai wujud dari sifat kekanak-kanakan yang dahulu kala direpresi sampai ke alam bawah sadar dan sekarang berganti wujud ke bentuk nihilistik, skeptis, pesimistis dan antiintegrasi.

Sekarang juga, egoisku membuncah keluar merayap lewati aliran darah, seakan tak tertahankan menerobos relung-relung jiwa paling dalam untuk berontak. Segera aku nyalakan sebatang rokok, hanya untuk melepas ketertekanan jiwa. Lantas, ku tawari kakek tua berbaju lusuh itu sebungkus rokok, hanya untuk menghangatkan tubuhnya yang kedinginan oleh terpaan angin malam yang maha mengganas. Bukan angin Tornado namanya, melainkan angin malam yang bisa memuncratkan pelbagai penyakit di jasad.

“hatur nuhun, jang! “jawab kakek itu sambil menjulurkan tangan berbalutkan kulit keriput ke arah rokok berbaju kardus (baca: bungkus)”.

“Sepuh…”, bibir kempot nan keriput kakek tua itu mengingatkanku pada ketakabadian hidup. Apalagi ketika dia mulai menghisap dan mengeluarkan kepulan asap rokok ke arah jalan raya yang sesak dipenuhi hilir mudik kendaraan. Sungguh amat terasa guratan wajah yang menggambarkan kegelisahan rasa, kegundahan jiwa dan penuh dengan anasir-anasir keputusasaan itu tervisualkan secara nyata dihadapan.

Andai saja para dedemit jelmaan dan siluman sungai Cimanuk nun jauh di sana berkesadaran, bisa jadi sikap-sikap apologetik ketika melakukan tindakan korup dan jahat akan segera ditanggalkan. Menanggalkan kemilau indahnya mobil Mercy, BMW, Peugeout, dan Kijang kapsul, misalnya, ketika di tengah perjalanan dirinya akan
bertabrakan dengan mobil pengangkut BBM.

“Kenapa Kakek bisa berada di tempat ini?, pada kemana keluarga yang lain? Lantas, berasal dari daerah manakah kakek ini? “rentetan pertanyaanku ini menghentikan kepulan asap dari mulutnya yang kering.

“Kalau kakek, sih, dari daerah Barindung, keluarga kakek hanya tersisa satu”. Sambil melirik ke arah anak kecil berusia 5 tahun yang sedang terlelap tidur memimpikan makanan siap saji di restoran sebelah kirinya yang dikerubuti orang-orang buncit berduit.

Seraya menghisap kembali rokok yang dipegang erat-erat dengan jari jemari yang bergemetaran, kakek itu pun meneruskan jawaban yang tadi terhenti sejenak.

“Wah.., sejak era reformasi bergulir harga minyak dan beras dikampung melambung tinggi, jadi kakek meninggalkan kampung halaman hanya demi sesuap nasi” lirih terdengar dari mulut kakek tua tak berpengharapan itu.

Mempertahankan hidup dari serangan kanibalis yang memakan kesejahteraan rakyat, dan menghindari taring-taring panjang para drakula penghisap darah kebahagiaan rakyat. Begitulah isi rengekan batin pak tua yang dapat aku cerna dan kerap dieksploitasi tiap lima tahun sekali oleh para calon pamingpin yang berkepentingan.

“Huh…” sambil ku hempaskan tubuh gemuk tak berarti ini, lantas setelah itu aku palingkan wajah ke arah kiri ketika terdengar dendang tetabuhan musik keroncongan dari perut sang kakek tua tak berarti itu.

“Kek.., belum makan ya?”

“Ah..sudah nak, tadi jam tujuh pagi. Tapi kalo malam ini sih, kakek puasa saja. Biar beroleh berkah dan pahala dari Tuhan”. Ujarnya.

Waduh.., kakek ini, kok, dalam kondisi kelaparan juga masih bisa berpikir tentang Tuhan. Akankah Tuhan kakek itu bisa menolong dan memberikan makan hingga lantunan musik dari dalam perut kakek hilang seketika?

Tidak…, nak, tentunya tidak akan pernah Dia bisa langsung turun ke bumi untuk memberiku makan. Tapi, kakek masih yakin hanya dengan perantara manusia utusan-Nya, maka perut keroncongan ini akan segera berhenti bernyanyi ria. Maka, ketika aku meminta-minta di depan trotoar juga, itu hanyalah demi mengais sebentuk rasa kasihan dari manusia yang ber(ke)lebihan. Manusia yang tak merasa tahu dan tidak akan pernah mau merasa tahu kondisi manusia lain tak berarti seperti aku ini.

“Oh.., kasihan juga engkau ini kek”. Jawabku lirih dan sendu betul. “Tunggu sebentar ya, kek, aku ke sebrang jalan dulu?”.

Segera aku bergegas menyebrangi jalan hendak membeli tiga bungkus nasi, satu untuk si kakek, satu lagi untuk anaknya, dan satu bungkus untuk aku sendiri.

Kupandangi wajah-wajah para penyantap makanan di warung itu. Seakan mereka tak pernah mau bergeming sedikit pun menggeliatkan diri menyisihkan sebarang satu bungkus nasi saja untuk disantap oleh sang kakek di depan rumah makan ini. Ketakpedulian mereka pun bagai bebatuan di sungai Cimanuk yang tak pernah bergeming sedikit juga ketika terjangan air menggempurnya. Bahkan lebih dari itu. Mereka pun seakan tak pernah menganggap pak tua itu sebagai seorang manusia seperti halnya diri mereka, bagai “zombie” yang dipenuhi ketakberasaan jiwa dan rasa.

“Kenapa kau mesti peduli pada kakek tua itu, Rang?” Bisik hati kecilku yang tergerus arus keserakahan hingga berani memerangi nurani kemanusiaan yang tertancap kuat di kedalaman diri ini.

Garang, begitulah nama asliku. Namun, aku juga agak sedikit ragu-ragu akan makna absolut dari kata Garang. Sebuah perangai yang menggambarkan sisi kejiwaan penuh keamarahan, kebengisan dan segala tetek bengek keangkuhan yang me-maha ganas.

Tertunduk lesu ku tambatkan luka hati akibat serangan bertubi-tubi dari ketakpedulian rasa kecilku ini. Meski ku lawan sekuat tenaga anasir-anasir tak berkepudilan itu, namun, rasa itu masih tetap berseliweran bagai segerombolan burung Walet yang sedang beterbangan kian ke sana kian ke mari mencari sarang untuk tempat beristirahat.

“Jangan belaga sok dermawan, Rang!!!. Kamu ini hanyalah orang kecil yang lunglai-lemah tak berkemampuan. Dia kau tolong, esok lusa kau mampus tertusuk penderitaan”. Sergah sang ego keserakahanku menembakkan misil-misil pertanyaan yang menyudutkan hingga jiwa ini bergolak memanas menggelegar menciptratkan keraguan.

“Sialan, kau masih juga tak puas menggangguku. Apa yang sebetulnya kau harapkan dariku wahai jasad?”. Baju bermerek luar Nagrek kah, sepatu berlabel Negara antah berantah kah, ataukah kilau gemerlap perhiasan dunia kah?

Kontan saja, dia hanya bisa berbisik tersendat-sendat. Pengap, sesak dan jengah akibat impitan kuat rasa kemanusiaanku. Terkelupaslah dia dari kedalaman jiwa, meninggalkan kesucian ruhani untuk menempeli nafsu-nafsu jasadi manusia lain. Bablas angine, aku berseloroh kegirangan.

“Semuanya jadi berapa, mbak?”. Ku rogoh duit yang hanya tersisa 20 ribu, karena ruang dan waktu menggusur pada bulan akhir. Bulan kehampaan dan penderitaan yang berlangsung bagi orang-orang tak berduit seperti aku ini.
“12 ribu saja, mas”.

Kemudian, satu-satunya duit kesayangan itu ku sodorkan kepada si mbak tukang warung nasi. Dia pun seraya mengumbar senyuman, berkata agak sedikit genit: “makacih, mas”. Huh.., dasar !!!

“Wah, kemana perginya kakek itu? Jangan-jangan? Jangan-jangan?”

Setelah sekian ratus jalan, gang dan trotoar ku susuri, kakek tua kusut dan berwajah kalangkabut itu pun tak terlihat batang hidungnya. Bahkan, bau badannya juga menghilang seketika diterpa angin malam Barat yang membuat aku kewalahan tiada tara.
Lelah, letih, lesu, dan lunglai aku terbujur kaku menghadap gedung-gedung tua bertingkat tiga di Kota Barindung yang katanya Agung dan luhung ini.

“Andai saja kuberikan uangnya kepada kakek tua itu, aku kira pasti bermanfaat”. Tidak seperti saat ini. Karena perut gemukku tak akan pernah mampu melalap habis tiga bungkus nasi stelan (baca: gaya) tukang becak seperti ini. Ah, kau ini memang tak pernah berarti Garang!!!”.

Tiba-tiba muncul suara bergetar dalam jiwa dan rasa, menggelegar tak terkira, seakan merobek gendang telinga kiriku yang tuli tak mendengar. Menderu, merembet, dan mendongkrak kesunyian malam yang terputar ulang pada pukul 2 lewat 30. Lagi-lagi, jumlah keseluruhannya adalah 32.

Mungkinkah kalau hal ini pertanda dari keotoriteranku, yang sebentar lagi menginjak usia 32 tahun? Ah, tak mungkin betul. Itu hanyalah bisikan-bisikan kecil saja.
Jangan pernah kau ragukan rasa kemanusiaan ketika uluran tangan itu hendak mengangkat ketersiksaan orang lain. Jangan pernah sekalipun kau perangi rintih pedih suara batin yang menyesatkan dan menghalang-halangimu hingga menghilangkan sepercik rasa kepedulian.

Semestinya, rasa dan jiwa kau saat ini tak sedang berperang. Karena peperangan yang mendahsyat bakal mengganyang rasa kemanusiaanmu dan memperlambat kecekatan jasadmu untuk berbuat baik.

“Siapa lagi kau ini, bangsat?”

“Aku adalah balatentara jiwa yang merasakan kepedihan kaum papa dan mengalami ketersiksaan cemeti bercangkang kepura-puraan. Aku adalah kau dan kau adalah aku. Seharusnya kau bisa menarik ulur posisi kakek itu menghadap ke arah diri sendiri, secepat kilat menyambar tanpa hambatan apa-apa.

Selesaikanlah Rang, perang dibatinmu itu”.


31 July 2009

Main Petak Umpet dengan Tuhan

Main Petak Umpet dengan Tuhan


Tuhanku, Allah yang Maha Super Kebaikan-Nya menciptakan matahari dengan iktikad yang Maha Super Kebaikan juga. Hari-hari ini saya begitu terobsesi dengan matahari. Terobsesi bukan berarti saya penyembah matahari. Hanya mengagumi begitu taatnya matahari pada sang pencipta untuk terbit dan tenggelam sesuai yang diperintahkan Tuhan. 2012 nanti, katanya, matahari bakal pensiun karena ada ramalan yang menggegarkan kalangan cerdas perkotaan. Ya, ramalan itu adalah KIAMAT! Kenapa bagi warga perkotaan?

Sebab, film-film yang diproduksi orang asing, seperti DoomDay, terlihat ada semacam ilmiahisasi KIAMAT ini. Dari mulai penjelasan ilmiah tentang meteor yang jatuh ke bumi dan menghancurkan, sampai pada mencairnya kutub Utara. Itu bisa disaksikan di film-film tentang Kiamat. Ya, perusahaan film menangkap peluang pasar penonton yang notabene masih memercayai bahwa Kiamat benar adanya.

Saya sempat bergurau dengan blogger, Dasam Syamsudin dan Ibn Ghifarie, tentang kiamat 2012. “Wah, harus cepat-cepat menikah nih! Sayang kalau belum menikah. Belum merasakan surga dunia.”

Kembali pada sang matahari yang sebegitu taat menjalankan titah Tuhan. Bisa anda bayangkan kalau matahari seperti manusia. Ketika disuruh A, malah melakukan B. Pun begitu ketika dilarang melakukan B, ia masih main petak umpet dengan Tuhan, melakukan C. Seperti yang terjadi pertengahan juli 2009. Bom meledak di dua hotel, yang malas saya tulis namanya. Tuhan, memerintahkan jangan melakukan itu. Eh, malah ada juga orang yang melakukannya. Kalau betul para pelaku dari kalangan beragama, itu adalah bentuk dari petak umpet tak asyik dengan Tuhan.

Kalau juga betul, muslim ada di belakang kejadian ini. Saya merasa tidak sependapat dengan peneror. Mereka menggusur pemahaman agama ke arena publik yang plural dan majemuk. Sebuah kondisi yang sangat dihargai oleh Al-Quran dengan memuat kalimat “lita’arafuu” (saling kenal-mengenal) dalam teks suci nan kramat. Kenapa Tuhan menciptakan keragaman ialah untuk mempraktikkan “saling kenal-mengenal”. Memang betul kalau jaringan M.Top itu dikenal masyarakat internasional. Namun, dikenal karena merusak citra umat Islam.

Saya baru tahu, kalau M.Top itu singkatan dari Muhammad Top dari Koran Kompas. Tapi, tidak percaya kalau dia asli memiliki nama Muhammad. Nabi Muhammad sudah dijual dan dirusak oleh si M.Top karena ada kesan bahwa junjungan kita melegitimasi teror. Berlakulah hukum Shakespeare, “what’s name?”, apalah arti sebuah nama. Muhammad adalah orang suci, orang yang ramah, sopan, santun, dan tidak gampang emosi. Bahkan ketika ada sahabat yang mencoba melakukan bunuh diri dengan cara terjun langsung ke gerombolan para penyerang atau musuh, dia melarangnya. Saya menemukan ayat berbunyi, “wala taqtulu anfusakum bil bathili”. Artinya, jangan (sekali-kali) kalian membunuh diri sendiri atau orang lain dengan cara-cara yang batil.

M.Top dengan menggunakan nama Muhammad serasa tidak enak di dengar. Nama pavorit umat Islam ini juga, akan sedikit tercoreng dan bahkan ketika ada nama Muhammad di passport, so pasti, dong, bakal terganjal di bandara Amerika sana. Ini akibat ulah peneror yang mencantumkan nama Muhammad. Seperti dalam buku teranyar, Bambang Q-Anees berjudul, “Bila Rasulullah Bertamu ke Rumahmu” (MPP, 2009). Di buku itu saya menemukan sindiran-sindiran kritis bagi pelaku teror. Mereka, seperti dibilang Bambang Q-Anees, piawai mengutip Al-Quran dan Hadits, namun melupakan sunah rasul. Sunah itu adalah kesopanan, menghargai, kesantunan, dan kelemah-lembutan yang dipraktikkan sang rasul. Bahkan, ketika beliau ditimpuki kotoran (maaf) tai unta, tidak membalasnya. Malahan, menjadi orang pertama yang mengunjungi sang pelempar tai unta itu.

Ledakan bom di Kuningan, termasuk cara bathil. Definisi bathil, adalah segala sesuatu yang tidak sesuai dengan garis norma yang berlaku di masyarakat. Yang menyimpang, salah, dan biadab. Makanya shalat akan terkategori batal kalau tidak memenuhi tata aturan yang berlaku. Misalnya, shalat dilaksanakan dengan hanya memakai (maaf) celana dalam saja. Sambil ketawa-ketawa, mencubit orang di samping kita, dan memukul imam yang sedang membelakangi. Itulah ibadah shalat yang batal secara fiqihiyah, sufistik, maupun secara muamalah. Sebab, selain mengganggu kenyamanan dan keamanan; itu pantas dilakukan orang gila yang tidak diwajibkan melaksanakan shalat.

Jaringan teroris di Indonesia, salah kalau ditimpakan kepada masyarakat sebagai orang-orang yang permisif. Membolehkan tindakan teror. Saya pikir itu tidak bijak dikeluarkan oleh pemerintah dengan cara menuduh mereka membiarkan teroris berkembang dilingkungannya. Masyarakat mungkin tidak akan ada yang merasa enak dibilang mendukung - meskipun menggunakan kata permisif - gerakan aksi teror.

Tak arif kalau kita menyalahkan orang lain. Pemerintah juga semestinya mulai membenahi sistem kependudukan yang tidak memberlakukan KTP daerah untuk melakukan transaksi administrasi kepemerintahan. Misalnya, nomor induk KTP saya, seakan tidak berlaku di suatu daerah; sehingga ketika diam di sebuah daerah saya harus rela dipersulit secara administrasi dengan cara harus membuat surat keterangan dari desa. Kalau ada KTP, kenapa penduduk masih dicurigai. Memberlakukan satu KTP untuk satu orang, adalah gagasan tepat. Apalagi, kalau sampai KTP itu bisa dipergunakan untuk mengurus kewajiban membayar PPN.

Selama pemerintah belum memperbaiki sistem kependudukan, jaringan teroris di Indonesia bakal tetap ada. Namun, dengan adanya sistem One Number Identity for all juga bukan berarti teroris bakal terkikis habis. Perlu semacam kerja sama pemerintah dengan pihak organisasi keagamaan untuk merealisasikan pesan-pesan antiteror. Terutama di wilayah pedesaan yang kerap dijadikan tempat persembunyian mereka. Warga jangan disalahkan, dong, wong mereka sudah memercayakan kepemimpinan di Indonesia dengan berpartisifasi di pesta demokrasi. Kewajiban pemerintah membenahi kinerjanya. Politik akal sehat, kok, lain di bibir lain di hati; pasti juga lain di tindakan.

Lagi-lagi, pemerintah yang gampang menuduh masyarakat - padahal sebagian individu masyarakat - sudah melenceng dari prinsip “lita’arafuu”. Mereka tidak mau mengenal warga yang dipimpinnya. Sayang, karena sama bejadnya dengan pelaku aksi teror yang main petak umpet dengan Tuhan. Sekian dulu, Ayat-ayat Antiteror dari saya untuk hari ini. Kapan-kapan disambung surambung lagi.

Mari kita gelorakan blogger antiteror!