Showing posts with label Ekonomi. Show all posts
Showing posts with label Ekonomi. Show all posts

8 February 2018

Optimisme pada Generasi Muda

Optimisme pada Generasi Muda

GENERASI muda di sebuah negara seharusnya memiliki optimisme hidup. Dengan optimisme inilah, kreativitas muda-mudi akan muncul ke permukaan sehingga mereka akan memberikan sumbangsih untuk kemajuan Indonesia. Karena itu, diperlukan sebuah model pendidikan yang mampu mencetak entrepreneur, karena masalah yang melingkari dunia pendidikan seolah menciptakan beban berat bagi mereka.

Hal itu dapat kita lihat dari merebaknya “pengangguran terdidik” -- yang dihasilkan perguruan tinggi – di dunia kerja. Betapa tidak, daya serap kerja lulusan D3 dan S1 oleh perusahaan-perusahaan menempati posisi akhir dalam dominasi pekerja di Indonesia. Menurut data Badan Pusat Statistik (BPS) yang dilansir Agustus 2012, terungkap dari seluruh penduduk Indonesia yang bekerja (110,8 juta orang); lulusan SD mendominasi sebesar 53,88 juta (48,63 persen), lulusan SMP sebanyak 20,22 juta orang (18,25 persen), lulusan universitas hanya 6,98 orang (6,30 persen), dan lulusan diploma hanya 2,97 juta orang (2,68 persen).

Realitas di atas tentunya membuat kita kehilangan kepercayaan terhadap pendidikan perguruan tinggi, karena sebagai instansi pendukung kemajuan perekonomian bangsa, perguruan tinggi sejatinya melahirkan lulusan yang berkualitas dan berdaya saing. Ditengarai, bahwa perguruan tinggi banyak melahirkan generasi bermental pekerja dengan kualitas yang minim, sehingga mengakibatkan tidak tertampung oleh perusahaan. Selain itu juga, karena kualitas lulusan perguruan tinggi tidak memiliki keahlian di dunia kerja sehingga berakibat pada tidak tertampungnya mereka oleh perusahaan.

Tak heran apabila angka pengangguran dari kalangan terdidik ini semakin tinggi. Tak hanya itu, orientasi melanjutkan ke perguruan tinggi juga banyak didasari niat agar dapat diterima menjadi pegawai negeri sipil (PNS), sehingga setelah lulus mereka berusaha melamar kerja ke instansi pemerintahan agar mendapatkan kelayakan hidup. Padahal, kehadiran generasi muda yang kreatif dan inovatif di era serba modern ini sangat dibutuhkan oleh sebuah bangsa-negara (nation-state).

Karena itulah, mendekati hari sumpah pemuda yang jatuh pada tanggal 28 Oktober nanti, pemerintah harus melakukan revolusi mental kepada para generasi muda, yang kini tengah menimba ilmu di perguruan tinggi. Di dalam buku bertajuk Si Anak Singkong (2012: 177), Chairul Tanjung, mengatakan  kekuatan perekonomian bangsa salah satunya harus ditopang dengan kehadiran orang-orang yang memiliki mental berwirausaha. Apabila terdapat sekitar 2,5 persen dari total penduduk sebuah Negara memiliki semangat berwirausaha, bangsa atau negara tersebut akan maju.

Namun, saat ini, kita hanya memiliki sekitar 0,2 persen wirausaha, sehingga perlu lebih banyak dicetak wirausaha baru sebagai lokomotif penggerak perekonomian bangsa. Kita tahu, bahwa seorang Chairul Tanjung (CT) merupakan mahasiswa yang tidak mau menjadi pekerja pada saat kuliah di Universitas Indonesia. Saat mahasiswa, ia pernah membuka usaha fotocopy di bawah tangga kampus, dan pernah juga membuka usaha distribusi alat-alat kedokteran gigi. Kini setelah puluhan tahun berlalu, ia mewujud menjadi seorang pengusaha sukses yang dapat membuka lapangan kerja bagi warga di Indonesia dengan berbagai bidang usaha.

Karena itu, perguruan tinggi banyak menghasilkan sarjana bermental pekerja, bukan pemikir. Padahal pemikir dibutuhkan untuk memperbaiki dan menciptakan peluang kerja. Seorang lulusan perguruan tinggi tidak mungkin menjadi pekerja semuanya. Setiap orang memiliki rencana hidup untuk menciptakan kebahagiaan. Salah satu jalan menciptakan kebahagiaan itu ialah memiliki pekerjaan tetap yang menghasilkan upah untuk digunakan memenuhi kebutuhan hidup sehari-hari.

Karena daya serap perusahaan rendah terhadap lulusan perguruan tinggi tentunya dapat menghalangi seseorang menciptakan kebahagiaan hidup. Pada posisi ini, pemerintah sangat bertanggung jawab dengan kondisi ini, dan sepatutnya memperluas lapangan kerja di berbagai sektor dengan memproduksi lulusan perguruan tinggi, yang memiliki mental berwirausaha. Setidak-tidaknya ada beberapa langkah yang harus ditempuh pemerintah dalam menanggulangi merebaknya pengangguran terdidik di Indonesia.

Pertama, pemerintah mengoptimalkan kementerian pariwisata dan ekonomi kreatif (Kemenparekraf), Kementerian Koperasi dan UMKM, dan Kemendikbud di berbagai kota untuk menghidupkan iklim usaha di berbagai daerah.

Kedua, mendirikan perguruan tinggi, sekolah tinggi, lembaga kursus, atau sekolah yang khusus melahirkan lulusan yang siap berwirausaha.

Ketiga, menjalin kerjasama dengan perusahaan dalam menyalurkan program corporate social responsibility yang digunakan untuk menciptakan kegiatan wirausaha. Seandainya setiap lulusan lembaga pendidikan di setiap kota mampu membangun usahanya di berbagai bidang tentu saja akan menyerap lebih banyak lulusan perguruan tinggi.  Para pengangguran terdidik pun akan mampu diminimalisasi.

Insyaallah Yakin bisa!

7 February 2018

Inilah “Kaum Milenial” yang Bukan Ancaman Demografi!

Inilah “Kaum Milenial” yang Bukan Ancaman Demografi!

BANYAK banget ekonom yang menyebut Indonesia ialah salahsatu Negara yang digadang-gadang akan menikmati bonus demografi dari pertumbuhan generasinya. Tentunya, kabar ini menggembirakan kita karena bonus demografi akan menguatkan posisi bangsa di dunia dalam bidang ekonomi. Tak berlebihan jika pemerintah terus menggencarkan etos inovasi dan kreativitas generasi muda pembangun bangsa sehingga menjadi warga negara yang produktif, berdayasaing, dan mampu berjoget di era global untuk membangun Negara Indonesia.

Namun, disamping kabar gembira tersebut, nyempil kabar tak sedap, karena pada satu sisi jumlah generasi muda yang disebut kaum milenial ini, terdapat wabah ancaman bagi perekonomian di masa mendatang. Kalau generasi milenial mampu bersenyawa dengan perkembangan teknologi, yang mahir menggunakan perangkat teknologi, dan mampu berdaya untuk kreatif di masa depan, tentunya pertumbuhan mereka akan menjadi bonus demografi. Tetapi sebaliknya, apabila generasi milenial tidak mampu bersenyawa dengan zaman dan perangkat teknologi, serta hanya menjadi konsumen dan pengguna produk teknologi; tentunya hadir mereka di Indonesia akan menjadi bonus demografi.

Dalam survei yang dilakukan Asosiasi Penyelenggara Jaringan Internet Indonesia (APJII) menemukan bahwa lebih dari setengah penduduk Indonesia telah terhubung ke internet. Sepanjang 2016, mereka menemukan bahwa 132,7 juta orang Indonesia telah terhubung ke internet; sedangkan total penduduk Indonesia sendiri sebanyak 256,2 juta orang. Mereka notabene menggunakan perangkat telepon genggam dalam mengakses internet; yakni sekira 67,2 juta orang (50,7 persen) mengakses melalui perangkat genggam dan computer; sebanyak 63,1 juta orang (47,6 persen) mengakses dari smartphone; dan sekitar 2,2 juta orang (1,7 persen) mengakses hanya dari komputer. Dari sisi demografik, mayoritas pengakses tersebut berada di Pulau Jawa sekitar 86,3 juta orang (65 persen) dari total pengguna.

Fakta datawi di atas, tentunya membuat kita miris di satu sisi dan gembira di sisi lain, karena telah menjadi fakta sosial bahwa generasi muda kita telah begitu kecanduan dengan perangkat teknologi, yang bisa dilihat dari perkembangan media sosial. Ekpresi dan aktivitas kaum muda lebih intens di Facebook, Twitter, Instagram dan medsos lain. Saking adiktifnya mereka terhadap produk teknologi, ada adagium yang berkembang di kalangan muda, “HIDUPKU TAK BISA BERJAUHAN DENGAN GADGET.”

Prof. Rhenald Kasali, seorang pakar manajemen perubahan dalam buku terbarunya, Strawberry Generation (2017) mengatakan bahwa mereka secara tampilan sangat sedap dipandang, tetapi rapuh di dalam mentalnya, sehingga ada kemungkinan bila dibiarkan, maka pada masa depan mereka akan menjadi loser saat bersaing dengan bangsa lain.

Bila pola digital culture generasi milenial hanya menjadi konsumen, di masa depan mereka hanya akan menjadi seorang warga negara yang tidak bisa ngapa-ngapain, bermental pecundang sebelum bertarung, cerewet di medsos dan menjadi wabah ancaman demografi bagi Indonesia. Jikalau kita membiarkan mereka kehilangan daya kreativitas, inovasi, dan literacy culture dalam merespon perkembangan zaman dan teknologi, insyaallah mereka di masa depan hanya menjadi konsumen saja.


Ada tiga hal yang perlu kita perhatikan mencermati kaum milenial ini. 



Pertama, konsumsi informasi menjadi pokok. Persoalan ini kerap menjebak generasi muda tidak kritis terhadap isi pemberitaan dari media meskipun mereka bisa menjadi seorang pembuat informasi. 



Kedua, persoalan ekspresi generasi milenial. Jika kita tidak visioner hanya latah terhadap perkembangan teknologi, tentunya akan terjebak kepada gaya “tuturut munding”, bukan menciptakan secara inovatif dan kreatif, sehingga yang dikejar ialah dunia citra; seperti kebanyakan selfie yang tak produktif. 



Ketiga, persoalan milenial baper dan caper. Dua kategori ini tak bisa kita tolak pada era medsos sebagai teman karib mereka. Milenial baper, biasanya mereka hanya curhat di dalam media sosial, sedangkan milenial caper, cenderung membuat sesuatu yang kreatif untuk mencuri perhatian si followernya. 


Karena itu, sebagai salah satu kaum milenial yang lahir tahun 82-an, saya imbau wahai kaum milenial, manfaatkan perkembangan teknologi untuk kepentingan memperkaya pengetahuan, daya produktivitas, dan kreativitas dalam diri, sehingga menjadi bekal untuk pertumbuhan ekonomi Indonesia di masa mendatang.  

10 January 2011

Muhammadiyah: Membangun Kerjasama Nyar’I dengan Bank Syariah

Muhammadiyah: Membangun Kerjasama Nyar’I dengan Bank Syariah

Muhammadiyah merupakan salah satu organisasi modern, yang maju dan progresif. Setelah satu abad kehadirannya di Indonesia, Muhammadiyah hampir berperan penuh dalam membangun bangsa ini bila dibandingkan dengan pemerintah. Buya Syafi’i Ma’arif malah pernah berujar, Negara Indonesia harus berguru pada Muhammadiyah karena pengalamannya. Indonesia lahir tahun 1945. Sedangkan Muhammadiyah lahir 1912.

Kelebihan Muhammadiyah adalah amal usaha yang dimiliki setiap Cabang. Ketika mendirikan Cabang Muhammadiyah di suatu daerah, disyaratkan harus memiliki amal usaha. Entah itu sekolah, panti asuhan, apotek, rumah bersalin, koperasi, atau lembaga usaha lainnya. Salah satu cabang Muhammadiyah di Jawa Barat yang maju secara ekonomi adalah Pimpinan Cabang Muhammadiyah (PCM) Sukajadi. Di cabang tersebut terdapat amal usaha seperti mini market (Markaz), penginapan, Cafetaria, ruko, panti asuhan bayi sehat, sekolah, koperasi, dan kompleks perumahan di daerah Subang. Dari amal usaha yang didirikan itu, mampu menghasilkan omzet miliaran per tahun.

Oleh Karena itu, PT Bank Syariah Bukopin (BSB) pernah menyelenggarakan acara Customer Gathering dengan Pengurus Wilayah Muhammadiyah Jawa Barat,  di  Hotel Takashimaya, Jl.Grand Hotel N0.35 Lembang – Bandung. Pada kesempatan itu, dijelaskan bahwa kegiatan ini dilakukan untuk mengali potensi pembiayaan dan penghimpunan dana pihak ketiga, BSB membuat program khusus untuk eksistensi dan potensi amal usaha Muhammadiyah sebagai asset Persyarikatan Muhammadiyah yang banyak tersebar di beberapa wilayah Indonesia.

Program yang ditelurkan oleh BSB itu dirancang untuk pembiayaan amal usaha Muhammadiyah dengan berbagai bentuk program, yakni: pengelolaan keuangan (cash management), payment point, jaringan outlet, di mana BSB sebagai bank operasional Muhammadiyah, pengembangan lembaga keuangan mikro, dan pengembangan dana-dana sosial (CSR dan LAZIS).

Produk Bank Syariah Bukopin di antaranya: Tabungan iB SiAga , Tabungan iB SiAga Bisnis, Tabungan iB Rencana, TabunganKu iB, Tabungan iB Haji, Deposito iB, dan Giro iB.  Sementara layanan pembiayaan bisa melalui iB Jual-Beli (murabahah), iB bagi Hasil (musyarakah), iB bagi hasil (mudharabah), iB investasi terikat (mudharabah muqayyadah), iB K3A Pola Syariah, iB Pemilikan Rumah, iB Pemilikan Mobil,  iB KPPA-Relending, iB Perjalanan Haji, iB Jaminan Tunai, dan iB Istishna parallel.  Sementara produk jasa (service) yang ditawarkan Bank Syariah Bukopin yaitu Kartu ATM SiAga,  Kartu SiAga , Visa Elektron, SMS Banking, Internet Banking, Phone banking, Save deposit box, Transfer, Kliring, Inkaso, RTGS, Payment point, dan SKBDN iB.

Diharapkan dengan kerjasama ini dapat mengembangkan amal usaha Muhammadiyah agar lebih produktif. Suhada, Ketua PCM Sukajadi, mengatakan jumlah amal Usaha Muhammadiyah di Jawa Barat berpotensi secara ekonomi kalau dikelola dengan sungguh-sungguh. “Amal usaha di Muhammadiyah Jawa Barat jumlahnya sekitar 1.343 unit. Kalau dikelola secara profesional akan mendatangkan keuntungan ekonomi bagi warga muhammadiyah dan sekitarnya. Potensi ekonomi dalam amal usaha Muhammadiyah membutuhkan sebuah proses pengembangan (saya – improvement), sehingga lebih diarahkan pada pembentukan korporasi, yang keuntungannya dapat disalurkan untuk kepentingan kemanusiaan. Misalnya, ketika panti asuhan atau sekolah membutuhkan suntikan dana, dapat diperoleh dari keuntungan usaha yang dikembangkan PCM Sukajadi.” Katanya.

Pengelolaan amal usaha di PCM Sukajadi telah mengarah pada profesionalitas. Ini dibuktikan dengan berdirinya amal usaha yang bersifat korporasi dan mendatangkan profit keuntungan bagi Muhammadiyah. Dari sisi permodalan untuk menunjang kegiatan usaha, PCM Sukajadi mengajukannya kepada pihak Bank. Baik Bank yang konvensional maupun Bank syariah dengan mengajukan proposal usaha.

“PCM Sukajadi mendirikan usaha yang bersifat korporasi dilatarbelakangi dengan realitas pemasukan untuk Muhammadiyah yang kecil karena hanya mengelola amal usaha yang bersifat kemanusiaan. Untuk memenuhi biaya operasional amal usaha tersebut, maka dirancang sebuah amal usaha yang memiliki kegiatan ekonomi menjanjikan. Dari situlah kami bersama para pengurus di PCM Sukajadi berinisiatif mengajukan proposal usaha kepada pihak bank. Selain Bank Konvensional, untuk permodalan dua tahun ke belakang, kami mengajukan pinjaman modal kepada Bank Syariah. Dan, Alhamdulillah hingga kini pinjaman tersebut dapat dibayar sesuai dengan akad.” Katanya.

Menurut Iu Rusliana, pemerhati ekonomi kreatif, yang ditemui di sela-sela isirahatnya di Cibiru, Bandung (03/01/2010), organisasi sebesar Muhammadiyah sejatinya mengarahkan sebagian tanah wakafnya untuk usaha-usaha produktif. Hal ini, akan menjadi sokongan perjuangan bagi lembaga-lembaga usaha Muhammadiyah di sektor kemanusiaan. Dan, sebagai salah satu wujud dari kemandirian ekonomi di tubuh Muhammadiyah. PCM Sukajadi, lanjutnya, dapat dijadikan sebagai pilot project kemandirian tersebut. Tanpa mengandalkan bantuan dari pemerintahan, karena sudah memiliki usaha-usaha yang produktif, keuntungannya dapat disalurkan kepada lembaga-lembaga kemanusiaan yang berada dalam naungan Muhammadiyah.

“Lihat saja perkembangan ekonomi di PCM Sukajadi. Dengan pengelolaan yang modern dan manajemen yang agak baik, Muhammadiyah di sana dapat berkembang pesat secara ekonomi. Sehingga tidak salah kalau PCM Sukajadi diberikan penghargaan oleh PP Muhammadiyah sebagai cabang percontohan di Jawa Barat. Apalagi kalau setiap Cabang Muhammadiyah ke depan dapat membangun kerjasama dengan Bank Syariah melalui prinsip mudharabah dan musyarakah, ketika mengelola usahanya. Dapat dipastikan keberkahan ekonomi akan diperoleh karena Bank Syariah tidak hanya memberikan keuntungan material. Tetapi juga keuntungan yang bersifat spiritual.” Ujarnya.

3 January 2011

Tabungan Haji Aman di Bank Syariah

Tabungan Haji Aman di Bank Syariah

Di sebuah pelosok pedesaan. Seorang laki-laki suatu ketika datang kepada pak ustadz hendak mengutarakan niatnya naik haji. Akan tetapi, dirinya merasa tidak mampu untuk membiayai keberangkatan tahun ini. Dengan langkah gontai, sang laki-laki tersebut menuju rumah pak ustadz yang kebetulan hampir saban hari dilewatinya karena berhadap-hadapan dengan Masjid.
 
“Assalamua’laikum?”, si laki-laki itu mengucapkan salam.
 
“Waalaikum salam”, jawab pak ustadz sambil mempersilahkannya untuk duduk.
 
“Ada keperluan apa kamu ke sini?” Tanya pak ustad menelisik.
 
“Ini..pak ustad, saya sangat ingin sekali pergi naik haji. Tetapi karena tidak ada biaya maka saya merasa resah. Tahun ini saya harus berangkat ke tanah suci.”

“Ohh…begitu ya…kemudian?” sambung pak Ustadz.
 
“Iya, saya ingin meminta amalan yang dapat melancarkan saya untuk naik haji. Kira-kira saya harus membaca surat apa pak ustadz?” jawab laki-laki itu bersemangat.

Pak ustadz menjawab, “silakan baca surat Al-Falaq, An-naas, dan Al-ikhlas selama tiga minggu, pasti kamu akan memperoleh jawabannya.”

Tiga minggu berlalu, dan laki-laki tersebut kembali mendatangi pak ustadz dengan muka cemberut. “Pak ustadz, sudah tiga minggu saya membaca surat yang Anda rekomendasikan. Tetapi belum juga ada jawaban.”
 
“Oo..kalau begitu sekarang baca surat Al-Baqarah selama sebulan. Insyaallah akan memperoleh jawabannya.” Ujar pak Ustadz sembari tersenyum gemas.

Sebulan berlalu, ketika pak ustadz sedang bercengkrama di teras rumahnya, laki-laki itu kembali datang. Pak ustadz segera menanyainya. “Bagaimana sekarang? Sudahkah kamu mendapatkan jawabannya?”
Laki-laki itu hanya dapat murung. Kemudian segera menjawabnya, “Ah…boro-boro dapat jawaban. Malahan tambah pusing karena tak kunjung ada jawaban dan panggilan untuk naik haji.”

“Hehehe…sekarang kamu hanya perlu membaca satu surat pamungkas lagi.”
Tukas pak ustadz melerai kesedihan laki-laki itu.

“Surat apaan itu pak ustadz?”
Tanya laki-laki itu penasaran.
 
“Kamu tinggal baca surat tanah. Insyaallah, sekarang kamu akan memperoleh jawaban dan panggilan tersebut”.

***
Pergi ke tanah suci adalah “legenda pribadi” obsesif tiap muslim. Sama dengan laki-laki tersebut di atas. Tanpa pergi ke Mekkah al-mukarromah, serasa tidak sempurna keislamannya. Namun, permasalahan klasik, pergi ke tanah suci memerlukan uang untuk ongkos membeli tiket pesawat, jaminan asuransi, penginapan, dan lain-lain. Kisah di atas, kendati fiktif akan tetapi menggambarkan realitas umat Islam kini – khususnya di pedesaan – yang masih membiayai pergi haji dengan menjual surat-surat berharga. Tak heran ketika kepulangan mereka ke kampung halaman menjadi tidak mempunyai apa-apa.

Sebetulnya di era kini, persoalan biaya atau ongkos naik haji dapat diperoleh dengan cara menabung. Diantara Bank Syariah yang mengeluarkan produk tabungan haji ialah Bank Syariah Mandiri dan Bank Muamalat. Dengan setoran awal yang terjangkau dan cicilan per bulan yang tidak begitu besar, memberikan kesempatan bagi setiap muslim kalangan menengah ke bawah untuk berangkat haji. Tak hanya itu, tabungan haji yang dikeluarkan oleh Bank Syariah dirancang sesuai kemampuan nasabah.
12940672262145723783
Bank Syariah Mandiri, misalnya, menelurkan produk tabungan haji dengan nama BSM Tabungan Mabrur. Bank Syariah Mandiri Tabungan Mabrur, merupakan tabungan dalam mata uang rupiah untuk membantu pelaksanaan ibadah haji dan umrah. Tabungan ini dikelola berdasarkan prinsip syariah dengan akad mudharabah muthlaqah. Kemudian, tidak dapat dicairkan kecuali untuk melunasi Biaya Penyelenggaraan Ibadah Haji/ Umrah (BPIH). Dengan setoran awal yang terjangkau, sebesar Rp 500.000 dan setoran selanjutnya minimal Rp 100.000 menjadikan tabungan ini tepat dipilih umat Islam yang hendak berangkat ke tanah suci.

Ketika saldo telah mencapai Rp. 20.000.000, penabung akan didaftarkan ke SISKOHAT sesuai ketentuan Departemen Agama. Kalau pun batal mendaftarkan diri dan ingin memberhentikan tabungan, biaya penutupan rekeningnya relatif kecil, yakni sebesar Rp. 25.000. Syarat dan ketentuannya juga sangat mudah, yakni hanya membutuhkan Kartu identitas berupa KTP atau SIM dan Paspor nasabah. Keamanan dan keterjaminan saldo dengan fasilitas talangan haji menjadi kelebihan tersendiri dari BSM Tabungan Mabrur ini. Setiap penabung yang telah terdaftar dan kekurangan uang tunai untuk mendaftar, dapat mengajukan dana talangan haji pada Bank Syariah Mandiri dengan ketentuan yang amat mudah.
1294067308801126683
Selain Bank Syariah Mandiri, pada Bank Muamalat juga menelurkan produk Tabungan Haji Arafah. Keunggulan Tabungan Haji Arafah ialah dapat menghimpun dana untuk berangkat ke tanah suci secara terencana. Dengan setoran awal yang terjangkau, yakni sebesar Rp. 250.000 dengan jumlah setoran dan tahun keberangkatan yang direncanakan sesuai dengan kemampuan. Tabungan Haji Arafah Bank Muamalat juga online dengan SISKOHAT Departemen Agama sehingga memberi kepastian untuk memperoleh quota/porsi keberangkatan haji. Bagi para jamaah yang menabung di Bank Muamalat ini, akan mendapatkan perlindungan Asuransi Jiwa Syariah yang memberi jaminan terpenuhinya BPIH kepada Ahli Waris, bila memiliki saldo efektif minimal Rp. 5.000.000.

Tabungan ini menggunakan akad Wadiah, memungkinkan setiap penabung memperoleh bonus menarik. Selain itu tabungan ini bebas biaya administrasi. Nasabah dapat mengubah jangka waktu dan jumlah setoran sesuai dengan paket yang tersedia, baik untuk memperpanjang maupun memperpendek jangka waktu dengan pemberitahuan secara tertulis kepada Bank. Selain photo copy identitas, nasabah yang hendak membuka rekening Tabungan Haji Arafah, disyaratkan mengisi formulir pembukaan rekening yang tidak ribet.

Keberadaan Bank Syariah di Indonesia, sayangnya belum sampai ke pelosok-pelosok pedesaan. Sehingga kasus jamaah yang pergi ke tanah suci di pedesaan yang menggadaikan dan menjual surat sertifikat tanah. Kalau niat suci dan keinginan yang kuat berangkat ke Baitullah direncanakan secara matang, tidak akan terjadi jual-beli surat tanah seperti yang dideskripsikan pada anekdot yang diketengahkan pada awal tulisan ini. Mari menabung di Bank Syariah untuk naik haji bagi umat Islam, yang semenjak lama mengidamkannya dalam kehidupan ini. Karena dengan menyimpan dana ibadah haji di Bank Syariah, dapat mewujudkan impian ke tanah suci dengan terencana.

Selain dua Bank (BSM dan BMI), BNI Syariah, BRI Syariah, Danamon Syariah, BTN Syariah, dan Unit Usaha Syariah dari Bank konvensional lainnya juga menyediakan produk tabungan haji yang berbasis syariah bagi umat Islam. Tertarik mewujudkan mimpi Anda pergi ke Tanah suci? Mulai sekarang menabunglah di Bank Syariah agar tidak berat diongkos. (Dari Berbagai Sumber By SAB)

1 January 2011

Mengejar Berkah Koperasi di Bank Syariah

Mengejar Berkah Koperasi di Bank Syariah

Bank Syariah ke depan, mesti mengalokasikan pembiayaan di sektor microfinance (omzet Rp 50 juta ke bawah) karena sektor ini masih belum tergarap secara maksimal. Realitas membuktikan peningkatan kinerja yang dilakukan BMT di Indonesia. Pada 2009, aset yang diperoleh dari permodalan di level microfinance sebesar Rp. 32 miliar, meningkat sekitar 100 persen menjadi Rp. 60 miliar. Tahun ini (2011) permodalan seperti ini mesti diprioritaskan oleh Bank syariah dalam menelurkan produk perbankan syariahnya.

Tepatnya sebulan yang lalu, hari Rabu (8/12/2010), kami berdua berjalan menuju kantor Bank Syariah di Bandung Timur. Hari itu, semilir angin berembus di kantor Bank Muamalat, Ujungberung, Bandung, serasa menyejukkan tubuh. Keramahan pak Satpam dan karyawan di Bank Syariah pun sejuk laiknya hembusan angin sepoi-sepoi. “Assalamu’alaikum”, pak satpam menyapa kami berdua. “Wa’alaikum salam”, saya dan teman hampir berbarengan menjawabnya. Kebetulan kantor Bank Syariah sedang lengang. Teman saya pun langsung menghadap personalia untuk bertanya ihwal produk yang dikeluarkan Bank Muamalat.

Saya tidak mendengar percakapan teman saya dengan personalia itu. Yang pasti, terlihat asyik bercengkrama. Akhirnya, selesai juga teman saya membuka rekening di salah satu Bank Umum Syariah. Rekening tersebut rencananya digunakan untuk menampung dana iuran koperasi yang didirikan alumni jurusan Bimbingan dan Penyuluhan Islam, UIN Bandung. Hanya dengan KTP dan uang sebesar Rp. 200.000, dalam waktu kurang dari 1 jam rekening pun sudah bisa digunakan, lengkap dengan kartu ATM.

Setelah 4 tahun lebih sejak kami menyelesaikan studi S1 di UIN Bandung, akhirnya pertengahan 2010, kami mengadakan acara reuni. Kendati acara tersebut hanya dihadiri segelintir orang. Namun, berkesan karena lahir gagasan untuk mendirikan koperasi yang beranggotakan teman-teman semasa kuliah dulu. Dari 34 teman semasa kuliah dulu, hanya 12 orang yang bersedia menyisihkan iuran untuk koperasi per bulannya. Pada pertemuan kedua, di Margacinta, Buahbatu, Bandung, kedua belas orang itu – termasuk saya – menyetujui untuk merancang koperasi simpan pinjam serta mendirikan usaha produktif dengan modal awal ala kadarnya.

Dengan iuran wajib sebesar Rp. 15.000 dan iuran bulanan Rp. 50.000 per orang, pada kesempatan itu terkumpul dana awal sebesar Rp. 780.000. Pada awal Januari ini, iuran tersebut harus sudah disetorkan masing-masing anggota via rekening di Bank Muamalat. Rencananya, per tiga bulan kami juga mengadakan pertemuan untuk melaporkan modal koperasi yang sudah terkumpul. Berarti, kalau saja lancar. Pada bulan Maret 2011 nanti, uang yang sudah terkumpul di rekening sebesar Rp. 1.980.000, yang lumayan agak besar. Setelah mencapai masa enam bulan, ketika uang mencapai Rp. 3.780.000, rencananya kami akan mengurus akta notaris untuk pendirian koperasi syariah.

Pendirian koperasi alumni ini diharapkan dapat memupuk mental berwirausaha di kalangan kawan-kawan. Sebab, mayoritas teman-teman seangkatan berprofesi sebagai wirausahawan kecil dan menengah. Dengan jumlah anggota 12 orang yang bersedia menjadi anggota, dapat mengumpulkan dana tabungan sekitar Rp. 600.000 per bulan. Ketika dana tersebut terkumpul dalam jangka 6 bulan dapat digunakan anggota untuk modal usaha mikro, kecil dan menengah (UMKM) dengan menggunakan prinsip-prinsip syariah. Itulah yang mendasari alumni seangkatan, di jurusan BPI UIN Bandung, menyimpan iuran anggota per bulan di Bank Muamalat.

Kendati banyak Bank bertebaran, koperasi kecil-kecilan yang didirikan alumni angkatan lebih memilih Bank Syariah karena secara agama menguntungkan. Koperasi yang akan didirikan oleh alumni seangkatan kami, mungkin hanya bermain di level microfinance bagi permodalan anggotanya yang hendak membuka usaha. Ke depan, ketika dana koperasi sudah terkumpul dalam jumlah yang besar, rencananya akan disalurkan untuk pembiayaan modal usaha di sektor UMKM. Semoga!