Showing posts with label Informasi. Show all posts
Showing posts with label Informasi. Show all posts

17 December 2018

Ramainya "Twit War" SARA

Ramainya "Twit War" SARA


Situs microblog sekelas twitter di era demokrasi dapat dijadikan medium menciptakan iklim kedamaian dan perdamaian, sekaligus mengundang malapetaka bagi ajegnya perdamaian di Indonesia. Dengan karakter postingan twitter yang tidak lagi personal — kecuali diatur pengguna twitter untuk melindungi privacy dirinya — setiap kicauan tentunya akan menjadi konsumsi publik. Kicauan tweeps dapat dibaca oleh siapa saja, tanpa kecuali.

Karena itu, menyerang seseorang dengan update status bernuansa suku, agama, ras, dan antargolongan (SARA) ialah tindakan yang menggambarkan bahwa seseorang tidak memiliki wawasan kebangsaan yang mumpuni. Apalagi bila kicauan SARA dilakukan pejabat Negara. Seperti yang terjadi baru-baru ini dunia maya diramaikan dengan sebuah kicauan di twitter yang mencederai iklim positif perdamaian dan kebebasan beragama.

Melalui akun twitternya @dipoalam49 itu, Dipo Alam, yang menjadi pejabat Negara seolah tidak memiliki wawasan kebangsaan dengan kicauan tendensius dan SARA ketika menanggapi keberatan Romo Franz Magnis Suseno (FMS) atas rencana penghargaan kepada SBY oleh. Dipo Alam pun sewot. Alhasil, dua kicauan di twitter yang diupdate pada Selasa, 21 Mei 2013 mengindikasikan ketidakdewasaan berbangsa dan bernegara, “Masalah khilafiyah antar umat Islam di Indonesia begitu banyak, jangan dibesarkan oleh non-muslim seolah simpati minoritas diabaikan.” Kicauanya.

Satu lagi kicauannya di twitter yang menyinggung prinsip toleransi di Indonesia, yakni “umaro, ulama, dan umat Islam di Indonesia secara umum sudah baik, mari lihat ke depan, tidak baik pimpinannya dicerca oleh non-muslim FMS”. Kalimat “dicerca oleh non-muslim” dalam kicauan Dipo, tentunya mengundang tanda tanya besar, pantaskah pejabat Negara diskriminatif?

Kasus yang dilakukan Dipo Alam, juru bicara presiden SBY, dengan menulis twit SARA via akun @dipoalam49 ketika menanggapi protes Romo Franz Magnis Suseno atas rencana pemberian anugrah World Statesman Award kepada SBY oleh lembaga Asing, Appeal of Conscience Foundation (ACF) yang berdiri di New York, Amerika Serikat.

Bagi Romo FMS, surat terbuka keberatan kepada Appeal of Conscience Foundation (ACF), berdasarkan pada ketidakseriusan SBY selama 8,5 tahun masa kepemimpinannya membenahi hubungan antar dan intra umat beragama. Kasus bernuansa SARA seperti pengusiran, pengrusakan, dan kekerasan terhadap jamaah Ahmadiyah dan Muslim Syiah di Indonesia tidak diselesaikan secara serius.

Alasan ketidaksetujuan Romo Magnis, memang logis. Sebab menurut catatan Komnas HAM, kasus pelanggaran kebebasan beragama mengalami peningkatan pada 2012. Dari 541 pelanggaran kebebasan beragama, sekira 274 kasus terjadi tahun 2012. Bahkan, dalam sidang empat tahunan Evaluasi Periodic Universal dewan HAM PBB, pada bulan Juli 2012, Indonesia mendapat rapor merah sebagai Negara yang angka pelanggarannya tinggi.

Twit atau kicauan di twitter ialah representasi diri. Ketika seorang pejabat memutuskan membuat akun di twitter, sebetulnya harus siap bahwa apa yang dikicaukannya akan selalu menyita perhatian publik. Azas kehati-hatian berkicau mesti dipegang teguh sang pejabat. Sebab, apa saja yang dikicaukan akan berdampak secara sosial di kehidupan riil.

Ketika Dipo Alam berkicau seperti itu, akhirnya muncul penilaian bahwa seorang pejabat Negara lemah wawasannya tentang pluralitas yang tumbuh di Indonesia, sehingga lahir penilaian bahwa ia merupakan sosok manusia intoleran yang hanya memilah hubungan sosial kebangsaan menjadi “mayoritas-minoritas”.

Tak hanya kasus yang menimpa Dipo Alam, di negeri ini juga beberapa kasus perang kicauan (twit war) meramaikan jagad twitter. Dari mulai penetapan sebagai tersangka Farhat Abbas, karena melalui akun twitternya menyebut Ahok, wakil gubernur DKI Jakarta dengan sebutan rasial.

Kemudian, serangan frontal kicauan juga terjadi antara Marissa Haque kepada Joko Anwar, melalui twit yang kasar dan tak pantas dilakukan seorang publik figur. Twitter juga, sebagai media untuk mengungkapkan kebebasan berpendapat telah menjadikan iklim hukum di Indonesia berubah. Atas nama pencemaran nama baik, misalnya, Misbakhum melaporkan akun twitter @benhan, karena telah menuduh dan mencercanya melalui situs microblog twitter.

Fenomena twit SARA dan perang kicauan atau twit war di dunia maya — meminjam istilah Prof Yasraf Amir Piliang — ialah wujud kekerasan dan kekejaman digital. Dalam konteks social media, dengan karakternya yang mudah digunakan setiap orang demikian mudah melakukan kekerasan bahasa (language violence), kekerasan citra (image violence), dan kekerasan digital (digital violence).

Di dalam buku berjudul Sebuah Dunia yang Menakutkan (2001), istilah “kekerasan” menurut Prof Yasraf, yakni “perlakuan dengan cara pemaksaan”, sehingga apa pun bentuk pemaksaan dapat dikategorikan sebagai kekerasan. Oleh sebab itu, tidak hanya kekerasan fisik dengan senjata dalam memaknai “kekerasan”; di era yang lebih internet dan budaya teknologis ini, wujud kekerasan dapat berubah menjadi kekerasan non-fisik.

Kekerasan yang jauh lebih besar dampaknya bagi kehidupan seseorang. Sebab, ragam kekerasan dalam wujud kekerasan bahasa (language violence), kekerasan simbolik (simbolic violence), kekerasan citra (image violence), dan kekerasan digital (digital violence), semuanya dapat menghancurkan jiwa dan kepribadian seseorang.

Jadi jangan mentang-mentang twitter itu bebas, kita pun bebas berkicau tanpa panduan nilai, moralitas, dan etika sosial. Sebagai bangsa plural, sejatinya kita saling menghargai dan bijak menyikapi perbedaan. Termasuk bijak menggunakan media sosial, dengan status yang tidak menyerang seseorang. ***

Artikel ini dimuat di Rubrik @Jejaring HU Pikiran Rakyat Edisi Senin 27 Mei 2013
Gerakan "Petisi Online" Babakan Siliwangi

Gerakan "Petisi Online" Babakan Siliwangi


HARI Jumat pekan lalu (31/05), smartphone berbunyi karena ada pesan masuk ke kotak masuk. Ternyata undangan penandatanganan petisi online menolak komersialisasi Babakan Siliwangi (Baksil). Ketika saya mengklik laman situs http://www.change.org/SaveBaksil pada hari itu juga ternyata sudah terkumpul 5.751 tanda tangan netizen yang mendukung petisi penolakan komersialisasi Baksil yang digagas Forum Warga Peduli Babakan Siliwangi (FWBS). Empat hari kemudian terkumpul sekitar 7.550 tanda tangan.

Di era digital ini, setiap aktivis dapat memulai kampanye ketidakadilan dengan mengetengahkan abstraksi permasalahan sebagai pesan kritis publik kepada pemerintahan melalui new media.

Situs change.org — sebagai new media — dapat digunakan publik atau aktivis menuntut kebijakan yang tidak pro-rakyat. Gerakan petisi online sebagai upaya memanfaatkan teknologi media sosial tentunya harus kita ramaikan sebab ini merupakan pertanda tingkat melek media warga yang tinggi. Ketika di tataran praksis sosial, gugatan warga kepada pemerintah tidak begitu dihiraukan, dengan dukungan dari pengguna internet maka gerakan sosial diharapkan dapat dijalankan agar segala kebijakan pemerintah menjadi pro rakyat.

Petisi online Babakan Siliwangi yang bertajuk, “Selamatkan Hutan Kota Dunia dari Ancaman Komersialiasi” ini dalam konteks demokrasi ialah salah satu bentuk kebebasan berpendapat warga kota Bandung melakukan gugatan pada pemerintah untuk tetap menjaga kelestarian alam. Sebab, sebagai “hutan kota”, daerah Baksil harus bebas dari beton dan bangunan.

Forum Warga Peduli Babakan Siliwangi pun menjelaskan alasan kenapa harus mengeluarkan petisi online di change.org. Mereka menuntut Pemerintah Kota — sebagai abdi rakyat — seharusnya menyediakan Ruang Terbuka Hijau (RTH) Publik minimal 30 persen dari seluruh wilayah. Namun pada kenyataannya, Kota Bandung yang luasnya sekitar 17.000 hektare baru memenuhi sekitar 7 persen RTH.

Demi masa depan bersama, petisi online di situs change.org itu harus efektif dan efisien untuk melahirkan perubahan bagi Kota Bandung yang lebih baik dan lestari. Kehadiran situs http://www.change.org di tengah masyarakat demokratis, menjadi media kampanye sosial efektif untuk menggalang kekuatan sosial yang mewakili suara publik. Situs ini merupakan social media yang banyak digunakan sebagai media demonstrasi online publik atas kebijakan pemerintah di berbagai daerah. Tak heran jika user atau pengguna situs terdiri dari warga biasa, aktivis LSM, aktivis sosial, dan netizen yang memiliki basis gerakan sosial.

Situs change.org didirikan pada tahun 2007, oleh Ben Rattrey (31) dan berhasil menyabet penghargaan sebagai B Corporation – sebuah hibrida perusahaan nirlaba dan amal, yang berusaha membuat keuntungan untuk kebaikan sosial – dan pada tahun 2011 situs ini menembus harga 5 juta dollar AS. Tahun 2012, sekira 20 juta pengguna dari 196 negara mendaftar menjadi user.

Ben Rattray, pendiri change.org, seperti ditulis Nicholas D. Kristof dalam kolom di nytimes.com bertajuk, “After Recess: Change the World” (4/02/2012) mendirikan situs ini untuk memudahkan warga biasa menggugat korporasi dan pemerintahan melalui dukungan online. Kristof menjelaskan bagaimana peran social campaign situs change.org, mampu mengubah sikap korporasi ketika 14 anak-anak siswa kelas 4 SD di Brookline, Massachusets; berhasil memenangkan petisi mereka yang ditujukan kepada studio film, Universal Studios.

Melalui internet, mereka menyuarakan ketidaksetujuan ketika membaca cerita “The Lorax”, karya Dr. Seuss, yang akan difilmkan Universal Studios dan dirilis pada bulan Maret 2012. Ketidaksetujuan mereka ketika membuka laman situs Universal Studios tidak mencantumkan pesan lingkungan; di mana “The Lorax”  ialah pelindung alam. Sebulan kemudian, anak-anak memulai sebuah petisi di Change.org, menuntut agar Universal Studios “membiarkan Lorax berbicara untuk pohon.” Petisi itu dengan cepat beredar dan berhasil mengumpulkan lebih dari 57.000 tanda tangan. Kemudian pihak Universal Studio pun memperbarui situs film dengan pesan lingkungan seperti yang dituntut oleh anak-anak.

Lantas, bagaimana dengan petisi online yang dilakukan Forum Warga Peduli Babakan Siliwangi? Akankah pemerintah kota Bandung – dalam hal ini Walikota – mengabulkan tuntutan mereka untuk membatalkan izin mendirikan bangunan dengan PT EGI? Mungkin, pihak pemerintah dan korporasi harus menonton film bertajuk, The Lorax, sehingga akan menyadari bagaimana keserakahan korporasi berbahaya bagi lingkungan sekitar. Kalau diizinkan membangun beton di Baksil, akan tumbuh seribu beton lagi ke depannya. Maju terus kang Tisna Sanjaya, untuk Kota Bandung yang hijau, resik dan sejuk. []

Sumber:Rubrik Jejaring, 10 Juni 2013 di HU Pikiran Rakyat

26 November 2018

Informasi yang Serba Digital

Informasi yang Serba Digital

PERKEMBANGAN teknologi digital merangsek tiadahenti ke tiap penjuru kehidupan umat manusia. Informasi pun kena imbasnya.Koran berkonvergensi dengan media online (epaper). Radio menjadi lebih mudahdengan menggunakan teknologi internet (i-radio). Televisi jugamenyertakan teknologi digital sehingga bisa dinikmati tanpa menggunakan antena(TV internet). Salah satu TV LCD merek Samsung, misalnya, telah menanamkanjaringan internet didalamnya sehingga aktivitas bowsing, berjejaring,dan mengirim surat elektronik bisa dilakukan dari perangkat televisi denganmenyentuh layar (touchscreen). Mengakses informasi pun tidak meluluhanya menggunakan komputer, notebook dan mobile phone.

Itulah realitas informasi yang semakinmengarah pada kemudahan, instan dan “mendigital”. Tak heran jika teknologimanual mulai berganti dengan teknologi digital. Kita tidak bisa menolakkemajuan ini. Kita harus beradaptasi dengan perkembangan teknologi. Realitasmembuktikan setiap individu tidak mau berlepas diri dari gadget-gadget cerdasketika mengakses informasi. Cukup dengan menyentuh ikon bergambar surat, makahanya dalam hitungan detik, teks dapat terkirim ke tujuan. Di sekitar pusatkota kita dengan mudah menyaksikan “generasi menunduk” yang begitu piawaimenggunakan perangkat teknologi digital.

Media informasi dalam kehidupan kitajuga terkena imbas. Kalau sepuluh tahun lalu, kita tidak begitu akrab denganmedia online. Kini kita tengah berada di dua arus kebudayaan dalam halmengakses informasi, antara kebudayaan masyarakat digital dengan kebudayaan masyarakatanalog.

Bagi masyarakat digital tidakmembutuhkan energi lebih untuk melipat kertas, ketika perangkat Ipad digunakanuntuk mengakses koran elektronik. Begitu juga tidak perlu menggunakan bersusahpayah menekan tombol keyboard untuk memutar chanel radio di mobile phone.Dalam masyarakat digital, seorang individu menjadi terintegrasi dengan segalahal berbau teknologi sehingga kehidupan serasa instan dan mudah ketika hendak mengaksesinformasi.

Sementara itu karakter masyarakat analogmasih tidak bisa meninggalkan segala hal yang bersifat manual. Mereka masihmenyenangi lipatan kertas, bersusah payah memutar perangkat analog di televisi,dan gerak tubuhnya lebih energik ketimbang masyarakat digital. Karena kitasedang berada di ruang perkembangan dan perubahan hidup, dari “manual” menuju“digital”. Perubahan ini tentunya menciptakan generasi baru ketika mengaksesinformasi.

Tak heran jika kita seolah tidak mampumemisahkan diri dengan kode-kode digital, yang dibenamkan ke dalam gadgetcerdas untuk digunakan mengonsumsi informasi tanpa menggunakan kertas.Koran-koran online begitu ramai berseliweran di internet memburu gaya hidup “masyarakatdigital” dengan sejumlah inovasi teknologis berbasis rekayasa kode yang dapatdibaca gadget dan smartphone. Entah itu berupa aplikasi, situs mobile,dan sistem operasi untuk program lintas gadget seperti Android.  

Akhirnya, membaca dan mencariinformasi pun tidak sepenuhnya bergantung pada keberadaan kertas. Tanpa kertas,seluruh teks informasi masih bisa dinikmati karena perangkat digital mampu memenuhidahaga informasi dari masyarakat digital. Kebangkitan internet dan mulailunturnya ketergantungan umat manusia pada alat baca kertas (cetak),mengokohkan keyakinan kita bahwa mesti ada upaya konvergensi agar perusahaanmedia cetak tidak mati. Perkembangan teknologi yang terjadi harus disiasatiseluruh perusahaan media agar tidak ketinggalan dan mati ditelan zaman.

Pada era serba digital inilah, bisnismedia dipenuhi tantangan sekaligus peluang dalam menghadirkan inovasi untukmenyambut kebudayaan masyarakat digital yang mengakrabi kultur digital. Dalam perspektifsosiologis, realitas perkembangan teknologi digital selalu berjalan beriringandengan kultur masyarakat setempat. Migrasi kebudayaan masyarakat dari “analog” menuju“digital” merupakan iklim positif bagi tumbuh-kembangnya bisnis media diIndonesia dalam memproduksi informasi.

Di era digital, seluruh informasitentu akan menjadi serba digital dan cepat disajikan; kecuali makanan danminuman saja yang tidak serba digital. Selamat menikmati menu informasi! ***

Dimuat di HU Pikiran Rakyat, Senin 2 September 2013 @ rubrik JEJARING.

9 April 2010

Internet dan Mahasiswa BPI UIN Bandung

Internet dan Mahasiswa BPI UIN Bandung

Kehadiran internet wajib direspon secara kreatif oleh mahasiswa Bimbingan Penyuluhan Islam UIN Bandung. Dalam unsur-unsur bimbingan konseling ada yang disebut media, yakni sebuah alat untuk menghantarkan tersampainya materi bimbingan konseling. Media dalam konteks era cyber adalah kemajuan teknologi informasi dan komunikasi (TIK). Muhammad Surya, menyebut aktivitas konseling di dunia maya dengan “cybercounseling”. Di mana konselor atau pembimbing memanfaatkan akses internet dalam melakukan bimbingan dan konseling kepada khalayak banyak.
Tambahlah Wawasan tentang “Life Motivation”

Tambahlah Wawasan tentang “Life Motivation”


Semangat belajar bagi siswa/siswi Sekolah Menengah Atas (SMA) mutlak diperlukan. Bagi lulusan jurusan Bimbingan Penyuluhan Islam UIN Bandung, itu merupakan tantangan yang perlu disikapi dengan pengadaan pelatihan-pelatihan motivasi. Dengan demikian, siswa/siswi dapat melaksanakan proses pembelajaran dengan menyenangkan. Islam, sebagai landasan pemberian konseling di lembaga pendidikan mengajarkan umatnya untuk menuntut ilmu secara sungguh-sungguh (mujahadah).

7 April 2010

Menyoal Kompilasi Tulisan Mbak Lince (Gagasan #1)

Menyoal Kompilasi Tulisan Mbak Lince (Gagasan #1)

Maaf tulisan ini saya bikin bukan berarti menghamba pada mbak Lince. Siapakah mbak Lince? Heueh…mbak Linda Djalil tea. Kenapa saya memanggilnya mbak Lince? Sebab saya ingin menjadi orang kedua di dunia ini, yang memanggilnya dengan Lince. Hmm, entah pelafalannya seperti apa. Lin cekatan atau cerdaskah? Bagaimana dengan Lin cewek? Atau Lince dalam bahasa Sundakah? Bahkan bisa juga Lince dalam lisan suku Batak? Saya tak tahu persis..soalnya belum pernah mendapat konfirmasi ikhwal gonjang-ganjing namanya ini. Hehe…seperti dunia politik saja; pake gonjang-ganjing segala. Capeee deh!

6 April 2010

Membaca Postingan Linda Djalil di Kompasiana

Membaca Postingan Linda Djalil di Kompasiana

Sosok mbak Linda Djalil, di Rumah Sehat Kompasiana, akhir2 ini memenuhi benak. Saya tak pernah mengikuti perkembangan tulisan2 mbak Lince secara berkala. Hanya beberapa kali membaca tulisan-tulisannya. Selain Omjay, kang Pep, Nurtjahjadi, Kate Raj, Mukti Ali, Teh Pipiet; mantan wartawati ini tak pernah saya komentari tulisannya. Ingat, tidak memberi komentar bukan berarti saya tidak membaca postingan mbak Linda dan barudak Kompasiana lainnya. Ada berbagai alasan. Entah itu, limit di billing warnet sudah melebihi isi dompet. Atau, laptop saya low battery - karena hanya tahan 1,5 jam - saking  jadulnya. Mau beli yang baru…mana tahan keuangannya. Hehehe…

26 February 2010

Mewaspadai Kejahatan Mayantara

Mewaspadai Kejahatan Mayantara

Situs jejaring sosial Facebook, kini menjadi ikon pergaulan generasi abad 21 di Indonesia. Komunikasi, interaksi, bergosip, dan membina cinta juga banyak dilakukan melalui situs jejaring terbesar di dunia ini. Namun, terbongkarnya kasus pengedar obat terlarang, sindikat human traficking, prostitusi, penculikan, dan kejahatan lain pertanda sisi negatif jejaring sosial mesti kita waspadai.

10 February 2010

Waspada dengan Plagiarisme

Waspada dengan Plagiarisme

Wah.., saya terperanjat kaget setengah mati. Ketika baru-baru ini santer diberitakan media cetak dan online tentang kasus plagiasi tulisan orang lain oleh seorang profesor muda dari Universitas Parahyangan. Profesor ini, sering menulis di media massa cetak nasional maupun daerah. Saya pernah membaca tulisannya di Harian Pikiran Rakyat, Kompas, Tempo, Media Indonesia, dan media lainnya. Kalau tulisannya yang di The Jakarta Post, saya belum membacanya. Hanya tahu, bahwa sang profesor terbukti sudah memplagiasi tulisan ilmiah profesor dari luar negeri.

Kasus ini, sebetulnya bukan kali pertama. Pada tahun 2008, katanya, dia pernah memplagiasi tulisan dua orang profesor dari Filipina. Data lengkapnya saya punya.

9 February 2010

Menyoal Ulah Hacker

Menyoal Ulah Hacker

Hari ini, Selasa, 9 Februari 2010 saya membuka lembaran Koran HU Pikiran Rakyat.
Pada halaman 23, ada berita yang membuat saya tertarik membacanya. Ya, judul berita itu, “Cina Menutup Bisnis Pelatihan Peretas”. Pelaku bisnis peretas (hacker) itu mengajarkan materi tentang trik melakukan serangan di internet dan menyebarkan virus. Masih dalam berita tersebut, keuntungan material dari bisnis ini mencapai lebih dari satu juta dolar AS, yang diambil dari sekira 17.000 yang masuk menjadi anggota. Black Hawk Safety Net (BHSN), dikabarkan merekrut anggota sebanyak 12.000 yang bersedia membayar secara online (daring).

1 February 2010

Mengolah Tulisan Kompasianer (Omjay) Jadi Buku

Mengolah Tulisan Kompasianer (Omjay) Jadi Buku


Ribuan artikel sejak www.kompasiana.com diluncurkan telah menghiasi dunia maya. Satu di antara kompasianer yang cukup rajin memposting tulisan adalah Omjay. Dan, tentunya dengan tulisan itulah omjay sudah meninggalkan jejak pemikirannya di dunia maya. Sebagai seorang guru TIK, ia patut dihargai oleh siapa saja. Termasuk saya! Karena itulah, beberapa minggu ke belakang saya mengumpulkan tulisan Omjay yang diposting pada kategori edukasi.

Cukup memuaskan, saya mendapatkan sekitar 32 artikel tentang pendidikan yang menurut saya pantas dikumpulkan. Padahal jumlahnya sekitar 100an lebih. Puluhan artikel lainnya, karena saking banyak, tak mampu saya kumpulkan. Alhasil, hanya 32 artikel saja yang saya edit, lay out, dan dikasih sampul.

28 January 2010

Ngeblog Itu…Kompasiana; Lebih Beretika Dong!

Ngeblog Itu…Kompasiana; Lebih Beretika Dong!

Teman: “Dari mana saja kamu. Kemarin, kok, nggak datang ke kantor?”

Saya: “Maaf, kang, saya ketiduran. Ngeblog sampai subuh!”

Teman:“Ah..kamu memang kurang kerjaan. Mendingan menulis di media cetak daripada di blog. Selain terkenal….dapet honorarium lagi.”

Saya : “Ini soal idealisme, kang. Bagi saya eksistensi di dunia maya juga penting. Ini era internet. Semua orang telah terintegrasi dengan dunia maya ini. Lihatlah kekuatan dunia maya yang mampu mengumpulkan sekitar satu milyar untuk Prita Mulyasari. Soal materi adalah nomor kesekian…”

14 November 2009

Silaturahim Produktif Khas PIKI

Silaturahim Produktif Khas PIKI

Silaturahim dalam konteks masyarakat modern bisa beragam bentuk dan wujud. Diskusi, sharing pemikiran, kerjasama, kencan, makan bersama, dan sebagainya. Meskipun, kita tidak dapat menafikan dalam “silaturahim” itu kerap bersemayam kepentingan tertentu. Yang pasti, sebagai manusia beradab, aktivitas “silaturahim” mesti menelurkan peradaban baru yang mencerahkan.

Hari Kamis kemarin (13/11/2009), pengurus Harian Online Blogger Sunan Gunung Djati diundang oleh Pusat Informasi dan Kajian Islam (PIKI) UIN Sunan Gunung Djati Bandung. PIKI mengaku memiliki konsep dan gagasan tentang pengembangan Kampus, namun sampai sekarang sulit terlaksana karena berbagai kendala. Maka untuk mewujudkan gagasan tersebut, pihak PIKI menjajaki kerjasama dengan komunitas Blogger yang dikelola alumni dan mahasiswa, yakni www.sunangunungdjati.com.


Lembaga yang dipimpin Drs.H. Darun Setiadi, M.Si, ini merasa perlu melakukan hearing dengan team Sunan Gunung Djati. Sebab, team yang dinakhodai Ibn Ghifarie ini merupakan potret semangat terpendam civitas akademika UIN Bandung dalam membangun UIN Bandung di dunia cyber. “Mereka ini adalah contoh dari the lost generation, yang dapat pergi begitu saja karena berbagai kendala. Oleh karena itu PIKI perlu mengembangkan potensi yang terpendam untuk membentuk citra UIN Bandung ke depan.” Ujar Darun Setiadi di sela-sela silaturahim dengan team Sunan Gunung Djati selama 3,5 jam tersebut.

Pada kesempatan tersebut, 10 orang hadir di Kantor Pusat Informasi dan Kajian Islam (PIKI), lantai I gedung Al-Jamiah UIN Bandung. Kesepuluh orang tersebut masing-masing terdiri dari 5 orang pihak PIKI dan 5 orang dari pengurus www.sunangunungdjati.com. Pada kesempatan itu juga, PIKI berharap komunitas blogger ini dapat mengejawantahkan gagasan besar PIKI untuk menyosialisasikan pemikiran “Madzhab Cipadung”.

“Kita tidak perlu berwacana tentang pendirian Madzhab Cipadung. Kita akan memberikan kontribusi kongkrit tentang madzhab dan pemikiran kita, inilah madzhab kita yang sesungguhnya dan inilah buktinya. ” Ujar Darun Setiadi sambil menunjuk laman web www.sunangunungdjati.com.

Dasar pemikiran pembangunan situs www.sunangunungdjati.com adalah sebagai respons kreatif karena ada tren kecenderungan berkonvergensinya media cetak dan media online. Oleh karena itu, silaturahim PIKI dengan Sunan Gunung Djati mesti diarahkan pada sesuatu yang produktif. Maka pada pertemuan itu terlaksana silaturahim produktif sebagai kontrak kerja awal antara PIKI dengan pihak www.sunangunungdjati.com.

Sebagai langkah awal, Drs.H. Darun Setiadi, M.Si, selaku Ketua PIKI akan mencoba membuka kanal di www.sunangunungdjati.com. Kanal ini untuk dijadikan media interaksi dengan mahasiswanya, baik menyangkut keperluan tugas, materi, ujian, dan lain-lain. Hal ini bagus dilakukan menyosialisasikan pemikiran civitas akademika UIN Bandung agar tidak terus berwacana tentang pendirian madzhab. *** [Sukron Abdilah]

Ayo Ngeblog, Ayo Berkarya!
Siapa yang akan menyusul langkah PIKI? Hehe…mari bercipika-cipiki dengan Sunan Gunung Djati.

1 November 2009

Kaos Grindustrial 2009 “Damn To Decay”

Kaos Grindustrial 2009 “Damn To Decay”


Beberapa Minggu lalu, saya dikirim gambar kaos via facebook. Sang pengirimnya, adalah seorang teman saya di pesantren dulu. Semasa di pesantren, dia adalah guru saya di bidang musik-musik Underground. Dari dia saya mengenal genre musik Punk Rock, Hard Core, OI, SKA, Trash Metal, Alternative, Grind Core, Black Metal dan genre yang lainnya. 8 tahun lamanya, saya tak pernah melirik musik-musik beraliran “cadas” ini. Sebab, saya ingin lebih memusatkan perhatian pada pendidikan saya di UIN Bandung.

Saya baru tahu, teman sesama di pesantren itu, sampai sekarang masih menjadi bagian dari aliran musik Underground. 8 tahun berlalu, sekarang ia masih menggandrungi musik-musik “cadas” itu dengan mendirikan band bernama “Damn To Decay”. Tak tanggung-tanggung, dia mengambil musik jalur keras, yakni aliran musik Grind Core. Saya tahu band ini darinya dan sempat mendengarkan demo musiknya di situs myspace.

Ternyata, demo lagu Bad System (ini adalah nama band saya dengan dia waktu di pesantren) berjudul “Friendship” diaransemen ulang ke dalam format musik Grind Core. Hasilnya, sungguh menghentak. Ada perubahan yang radikal, meskipun kunci gitarnya tak banyak perubahan. Masih menggunakan kunci grip yang digunakan pada masa kami aktif di Bad System. Band ini, dulu mengambil genre musik Punk Rock. Di mana saya hanya sekitar dua tahun menjadi pembetot bass.

Setelah itu, saya bersama kawan-kawan yang lain – sesama santri – mendirikan band beraliran Oi! Dengan nama “Teuing”. Inilah band terakhir saya….karena setelah selesai nyantri saya harus meneruskan kuliah di UIN Bandung. Dengan alasan itulah, sampai sekarang saya tidak pernah memainkan gitar dan bass. Dalam istilah urang Sunda, “Karaku…pararoho deui”. Saya sempat menolak keinginan teman saya untuk bergabung dengan Damn To Decay. Hehehe, tidak bisa lagi memainkan nada-nada bass dengan cepat, Om. Pokoknya, taluk ah….! Jawab saya ketika itu.

Nah dari pengalaman itulah, teman saya yang bernama alias Oncom padahal Asep Saefurahman, menitipkan kaos hasil kreasinya. Tak tanggung-tanggung, dia menyebut usahanya itu sebagai Grindustrial Production 2009. Kaos hitam yang dibandrol 65 rebu itu memiliki nilai artistik, utamanya pada desain huruf berwarna kuning keemasan disertai gambar di depannya. Sementara itu, pada belakang kaos, ada tulisan yang menggambarkan semangat menempuh aliran musik Grind Core.

Tulisan itu, “GRINDCORE OR GO FUCK YOURSELF” dengan gambar kepalan tangan yang sedang meninju not balok dari nada musik. Mungkin, filosofi gambar ini adalah keindahan bermusik bukan hanya pada musik yang ditata apik dengan not balok nada yang ribet. Tapi, adanya suara protes yang mesti disuarakan. Seperti dibilang seorang personil Sex Pistols, engkau tak perlu jago bermusik; tapi ada atau tidak suara yang mesti engkau sampaikan.

Tertarik dengan kaos ini, silakan hubungi 085294415207. Asli dari kreasi barudak Bandung lho…!


1926 Aisyiyah Berjuang Lewat Pena

1926 Aisyiyah Berjuang Lewat Pena

“Deradjat kaoem iboe di tanah Arab zaman dahoeleoe orang telah mengetahoei boeroeknja. Orang perempoean disamakan dengan binatang ternak dan sesamanja. Pada zaman itoe orang Arab soedah djadi kebiasaannja memboenoeh anaknja jang keloear perempoean meskipoen ta’berdosa.” (Soeara Aisyiyah, No.1-4/ September 1929).

Kutipan di atas saya peroleh dari artikel Soedarmah Solo berjudul, Kemoeliaan Kaoem Iboe. Saya bersyukur karena beberapa bulan yang lalu, Syafaat R Selamet, alumni IMM Jawa Barat memberikan naskah mentah penelitiannya tentang kiprah ’Aisyiyah di dunia pers. Coba Anda bayangkan, sebegitu besar peran perempuan Muhammadiyah bagi bangsa ini. Di tengah dominasi pemahaman maskulin suara pena ’Aisyiyah menjadi gerbang awal memasuki kesadaran perempuan di Indonesia.


Artikel dalam Soeara ’Aisyiyah itu ditulis sebelum negeri ini merdeka. Perempuan di era prakemerdekaan eksistensinya masih tak dihargai. Karena itulah kemudian KH Ahmad Dahlan meningkatkan gerak perempuan Muhammadiyah, yang waktu itu dikenal dengan perkumpulan Sopo Tresno. Perkumpulan kaum perempuan ini kemudian berubah menjadi ‘Aisyiyah pada 22 April 1917.

Di bawah ini saya sertakan ringkasan yang dihasilkan teman saya, Syafaat R Selamet, tentang kiprah Soeara ‘Aisyiyah dalam dunia pers. Semoga saja, hasil penelitian ini dapat menyadarkan bangsa atas peran perempuan pada masa prakemerdekaan sampai negeri ini merdeka. Untuk menghemat kavling atau ruang bagi artikel ini saya ringkas seringkas-ringkasnya. Silakan anda nikmati, telaah dan resapi, peran ‘Aisyiyah bagi pengokohan nasionalisme perempuan di negeri ini.
***

Perkumpulan Aisyiyah adalah organisasi otonom Muhammadiyah yang bercita-cita ‘memperbaharui’ aspek pemahaman dan pengembangan agama Islam di dalam masyarakat untuk dikembalikan pada ajaran Islam murni yang bersumber dari Al-Qur’an dan Sunnah. Dalam rentang waktu 3 tahun (1917-1920), Aisyiyah bergerak menyertai gerakan Muhammadiyah. Utamanya setelah bergerak di Pulau Jawa sejak tahun 1920. Aisyiyah mengalami perkembangan sangat pesat bukan saja di Yogyakarta. Tapi juga di luar itu. Terutama perkembangan ini setelah Kongres Muhammadiyah ke-11 tahun 1923 di Yogyakarta.

Pada kongres tersebut, setiap cabang dan groep Muhammadiyah wajib mengadakan bagian Aisyiyah, sehingga perkembangan organisasi perempuan Muhammadiyah ini semakin pesat. Anggota-anggotanya tidak saja gadis-remaja. Melainkan juga ibu-ibu rumahtangga. Bahkan dua tahun setelah Aisyiyah berdiri (1919), Aisyiyah sudah merintis Pendidikan Anak Usia Dini (PAUD) semacam Play Group. Yang kemudian berkembang menjadi Taman Kanak-Kanak bernama TK Bustanul Athfal yang tersebar di seluruh Hindia Belanda. Selain itu pula mendirikan Siswo Proyo Wanito, sebuah perkumpulan murid-murid puteri di luar sekolah. Perkumpulan ini kemudian tahun 1930 berkembang menjadi Nasyi’atul ‘Aisyiyah (NA).

Tahun 1922 Aisyiyah berkembang pesat terutama di daerah kelahirannya. Kondisi ini mendorong pengurusnya untuk semakin intensif melakukan pertemuan, rapat-rapat persiapan untuk melakukan kegiatan-kegiatan. Aisyiyah berhasil mendirikan tempat pertemuan dan pendidikan khusus kalangan perempuan, yang dikenal dengan Masjid (Mushala) Isteri. Sebagai satu-satunya Masjid Perempuan pertama di Indonesia.
Mushala ini menjadi sentral kegiatan Aisyiyah dalam merencanakan kegiatan-kegiatannya. Dari sinilah muncul ide-ide baru untuk membuka amal usaha organisasi.
Setahun kemudian, Aisyiyah mengadakan pemberantasan buta huruf. Baik pemberantasan buta huruf Latin ataupun Arab. Upaya ini diharapkan dapat menghilangkan kebodohan, karena dengan membaca dan menulis, orang dapat menggali ilmui-ilmu yang bermanfaat. Upaya buta huruf yang dilakukan Aisyiyah memberikan bukti bahwa Aisyiyah memang benar-benar berperan dalam memajukan bangsa. Setelah 9 tahun berdirinya, tahun 1926, Aisyiyah berkembang pesat. Aisyiyah mengiringi perkembangan Muhammadiyah selama 9 tahun (1917-1926).

Maka pada bulan Oktober tahun 1926 yang bertepatan dengan bulan Jumadil Akhir tahun 1345 H, Aisyiyah menerbitkan majalah organisasi yang bernama Soeara Aisyiyah.
Majalah organisasi yang sederhana, menggunakan bahasa daerah (bahasa Jawa). Dengan menerbitkan majalah ini berarti Aisyiyah benar–benar memahami perlunya alat komunikasi yang dengan cepat sampai kepada umat, karena pada waktu itu Aisyiyah sudah mulai berkembang jauh dari Yogyakarta. Dengan demikian Aisyiyah dapat memberikan informasi kemajuan organisasi ataupun penjelasan–penjelasan kepada umat lewat media massa Majalah Soeara Aisyiyah tersebut. Majalah ini berisi tentang penyebaran agama Islam, misalnya, agar kaum wanita menutup aurat, memakai kerudung, menjauhi pergaulan bebas, menaati adat sopan santun keislaman, dan sebagainya.
Majalah ini juga dijadikan alat dakwah melalui media massa dan menjadi bacaan bagi ibu–ibu murid atau pengikut Aisyiyah Maghribi School (AMS).

Menarik dicermati, waktu itu belum ada sebuah penerbitan yang dikelola langsung oleh sebuah organisasi kaum wanita. Kalau pun ada sebelumnya yang bergerak dalam dunia pers, itu belum berbentuk organisasi dalam pengertian modern. Tetapi perkumpulan sederhana belum memiliki tata aturan organisasi, Anggaran Dasar dan Rumah Tangga serta Program Organisasi. Misalnya koran Poetri Hindia (PH) yang terbit tahun 1908 itu karena dirintis RM. Tirto Adhi Soerjo, bukan oleh sebuah organisasi wanita.

Disinilah letak keistimewaan gerakan pena yang digagas ’Aisyiyah, di mana organisasi ini merupakan fartner dari gerakan Muhammadiyah yang lahir karena ingin memberikan pendidikan dan kesadaran kepada kaum perempuan. Dengan wahana sebuah penerbitan berkala Majalah Soeara ’Aisyiyah cita-cita itu dapat tersampaikan ke setiap pelosok di bumi nusantara, sehingga terjadi semacam pembentukan kesadaran kolektif, bahwa perempuan juga mesti berperan dalam kebangunan negara Indonesia, di mana pada masa prakemerdekaan perempuan nasibnya masih di dominasi kaum laki-laki.
***

Itulah ringkasan penelitian tentang majalah Soeara ’Aisyiyah yang dilakukan Syafaat R Selamet dan D. Anindita. Bagi yang berminat untuk menyegarkan kembali gerakan perempuan di tubuh Muhammadiyah, jelang seabad, naskah yang sudah saya edit ini dapat dijadikan telaah awal dalam merancang gerak perempuan di Muhammadiyah.





24 October 2009

Kompasiana Makin Seksi

Kompasiana Makin Seksi


Dewi Persik ataukah Sharah Azhari wanita terseksi di jagad mayantara? Jawaban pribadi saya, ya, Dewi Persik dong. Tapi, jawaban Anda bisa beragam. Luna Maya kah, Cinta Laura kah, atau Zaskia Meeca. Itu terserah Anda. Yang jelas setiap orang memiliki ukuran masing-masing untuk menyebut wanita terseksi. Pun begitu dengan tren media baru (new media) di dunia cyber.

User terus disuguhi tarian seksi media baru. Media baru itu di antaranya Friendster, Facebook, Twitter, Plurk, dan masih banyak lagi. Masing-masing media menari di depan netter agar dapat menarik perhatian mereka. Tarian seksi media baru, tentu saja menyedot perhatian bangsa Indonesia. Pengguna facebook di Indonesia saja mencapai 9,6 juta. Dari 55 juta pengguna Twitter, bangsa kita menempati posisi kelima. Hebat bukan?

Namun, bagaimana dengan nasib media bikinan bangsa kita sendiri, misalnya, situs sosial www.koprol.com? Sepertinya bisa dianalogikan penyuka wanita luar negeri ketimbang asli pribumi. Tapi, soal selera tidak ada larangan. Semakin dilarang, selera itu akan semakin kuat keinginan untuk memenuhinya. Menarik tidaknya media baru dapat diukur dari interaktivitas dan kemudahan menggunakannya. Orang sekarang lebih menyukai kemudahan karena ingin segalanya serba instan.

Dengan kreativitas media baru yang kian melesat, tampilan baru kompasiana sekarang terlihat seksi. Praktisi media, seperti halnya kang Pepih, mampu menangkap itu semua. Sampai tulisan ini dibuat, www.kompasiana.com menghadirkan rasa baru sehingga merangsang blogger, penulis, akademisi, profesional, pejabat, dan kalangan lainnya untuk bertukar informasi. Di Kompasiana inilah kita menemukan usaha serius kang Pepih dkk untuk menciptakan media “super seksi”. Usahanya itu berhasil karena beberapa kontributor yang tadinya “berpaling” ke media lain, kembali melirik. Sesekali bersuit-suit ria (ngoment) dan bahkan mencolek-colek kompasiana (memposting).

Kompasiana menjadi semacam blog social network sebuah gabungan weblog dengan jejaring sosial di internet. Ketika saya mengklik profil, misalnya, wah photonya keren banget. Deskripsi profilnya juga menghadirkan semacam penjelasan untuk mengetahui siapa sih si pembikin artikel itu. Ada daftar teman segala, sehingga agak mirip Facebook dan Friendster. Tak hanya itu, tulisan saya sudah berjejer rapi secara hirarkis di laman http://kompasiana.com/sukron. Saya merasa dihormati, dihargai, dan diakui oleh kompasiana. Dengan inilah mungkin, interaktivitas kontributor dengan pembaca akan terjalin secara jujur, sopan, intelek, dan saling menghargai.

Mungkin, tidak akan ada kasus, si pemberi komentar bentak-bentak emosional sembari menyembunyikan identitas. Seperti halnya di multiply.com orang yang ingin memberi komentar mesti mendaftarkan diri menjadi pengguna kompasiana.com. Ah, tidak menutupkemungkinan hal itu akan tetap ada sebab netter kan bisa mengisi biodata palsu. Kalau itu, sih, kembali kepada hati nurani masing-masing. Dikembalikan pada etika sosial masing-masing. Masihkah perlu menyembunyikan identitas di dunia yang sekarang menuju kenyataan hiperrealitas? Walahua’lam saya kira!

Kenapa saya memberi judul “Kompasiana Makin Seksi”? itu ada sebabnya lah. Ini standar keseksian sebuah media baru menurut saya. Karena saya bukan ahli media, mohon dimaafkan kalau ada kesalahan dan kekurang-tepatan.

1. Aksesable…..mudah digunakan dan diakses oleh siapa pun.

2. Interaktif……dapat berfungsi secara interaktif.

3. Menguntungkan…..kalau tidak secara materi, ya saya sih, mengharapkan ada keuntungan secara eksistensial.

4. User Friendly…..bersahabat dalam hal konten ataupun bentuk perwajahan. Mudah dimanfaatkan oleh orang awam sekalipun.

5. Promotif….mampu menjadi media mempromosikan diri, pemikiran, dan gagasan. Meskipun terlihat seperti gejala orang yang narsis, di era Cyber narsis adalah bukti dari eksistensi.

6. Silakan tambah lagi oleh Anda. Saya tidak akan menuntut anda meskipun mencaci kriteria kenapa media bisa dibilang “super seksi”.

Benarkah Kompasiana makin seksi? Ya, dibandingkan tampilan yang dulu, sekarang terlihat lebih seksi…bahkan super..super seksi. Namun, ukuran keseksian sebuah media baru akan terus berkembang dan bertambah. Tidak hanya aksesable, interaktif, menguntungkan, user friendly, dan promotif. Ada standar-standar baru yang terus diminati para pengguna internet, khususnya blogger dan berbagai kalangan yang menggandrungi budaya tulis-menulis. Hari ini kompasiana terlihat seksi, entah beberapa tahun ke depan, mungkin kalau tidak melakukan inovasi dan kreativitas, akan terlihat menua. Dan, kang Pepih bersama kawan-kawan di kompas.com sudah membuktikan bahwa ide dan gagasan kreatif memegang peranan penting dalam melahirkan media baru.

Mari berkreasi, mengalirkan gagasan terus-menerus, karena seperti diungkapkan pemilik Kompas Group, Jacoeb Oetama, ide tidak akan pernah habis kecuali kematian hadir. Bahkan, meskipun sudah mati, ide dan gagasan kreatif akan terus dikonsumsi untuk melahirkan ide dan gagasan baru yang sesuai dengan perkembangan zaman.

Bravo kompasiana…bravo kang pepih…bravo saya sendiri. Ooo…bravo untuk Anda sekalian.

Saya Mengelola http://sakola-sukron.blogspot.com

http://www.sunangunungdjati.com

http://kompasiana.com/sukron

15 October 2009

Dakwah Cyberspace

Dakwah Cyberspace

REALITAS peradaban hari ini mengindikasikan kemajuan yang sangat pesat, terutama dalam hal teknologi informasi dan komunikasi. Di dunia maya (cyberspace) arus komunikasi dan informasi umat manusia mengalami perkembangan mencengangkan. Saat ini, praktik komunikasi tidak hanya terpaku pada pengertian tatap muka secara fisik saja. Dalam hitungan detik atau menit, bahkan tanpa hitungan, setiap orang bisa bertatap wajah dengan lawan bicaranya meskipun keduanya saling berjauhan jarak. Sehingga format dakwah di era ini harus dirumuskan sesuai dengan ruang dan waktu yang berlaku. Sebab, di dalam ajaran Islam kita mengenal pepatah shalih likulli zaman wa makan.

Dengan kemajuan sisi teknologi internet dalam kehidupan berkomunikasi manusia modern, keniscayaan bahwa dakwah harus mulai memasuki kehidupan masyarakat "melek internet" yang mempraktikkan komunikasi virtual. Dalam keseharian masyarakat model ini, arus informasi sedemikian cepat dapat diakses, sehingga membentuk pola hidup yang serba instan. Maka, model dakwah juga mestinya diformulasikan secara cepat dengan memanfaatkan akses internet agar dapat memeroleh informasi seputar keislaman secara cepat.

Namun, ketika internet telah dimasuki oleh laman website yang menghadirkan hal-hal pornografis dan pornoaksionis, tentunya akan membuat para pemakainya terkurung abjeksi moral. Sikap dan keterampilan moral yang ada dalam dirinya akan tergerus ke arah degradatif. Maka, proteksi berbasis nilai-nilai normatif berbasis agama melalui pembentukan etika literacy bagi pengguna internet harus dilakukan oleh organisasi Islam seperti NU dan Muhammadiyah. Sebab, merespon perkembangan atau kemajuan teknologi informasi dan komunikasi adalah keniscayaan, tetapi kita juga harus menggunakan batas-batas etika dalam memanfaatkannya.

Paradigma dakwah

Ketika Rancangan Undang-Undang Informasi dan Transaksi Eleketronik (RUU-ITE) disahkan menjadi Undang-Undang (25/03/2008), banyak pihak pro dan kontra. Pihak pertama, pro karena alasan banyak munculnya kriminalitas di dunia maya (cyber crime) sehingga penting melakukan pencegahan protektif lewat jalur konstitutional (cyber law). Sementara itu, pihak yang kontra beralasan bahwa UU ITE akan mengancam kebebasan pers sehingga upaya demokratisasi sebagai wacana nation-state akan terjegal karena sensor yang berlebihan dari pemerintah. Lantas, bagaimana dengan tanggapan umat Islam atas lahirnya UU ITE ini?

Sejatinya, kita mengapresiasi kelahiran UU ITE secara kritis. Di satu sisi kelahiran UU tersebut memang perlu, tetapi dengan menelurkan garis-garis konstitutional tanpa adanya upaya praksis membentuk moral pengguna internet, UU tersebut eksistensinya akan sia-sia. Sebab, ada sekitar 13.422.659.310.152.401 kombinasi situs yang dapat dibuat, dan laman situs porno akan terus merebak karena diakali dengan cara penggantian domain yang baru. Maka, kehadiran UU ITE ini akan memeroleh aneka penggagalan dari internet provider service (ISP) yang memberikan liberalisasi seksual, sehingga diperkirakan jumlah situs porno akan terus berkambang biak.

Jadi, selain payung hukum di dunia maya (cyber law), kita membutuhkan bentuk dakwah berbasis etika praksis yang dijejalkan pada generasi muda, karena ke depan mereka akan menjadi warga "melek internet". Caranya, Departemen Komunikasi dan Infromasi (Depkominfo) menggalang kerjasama dengan organisasi Islam atau agama lain untuk melakukan upaya sosialisasi dan pelatihan praktis menggunakan internet dengan "akal sehat". Pihak ormas Islam pun pada posisi demikian, mestinya tanggap terhadap arus globalisasi informasi yang sedemikian cepat meracuni pola pikir manusia modern.

Salah satunya dengan cara melakukan upaya penyadaran kolektif lewat pelatihan internet sehat untuk setiap jamaahnya. Alhasil, ketika mereka menggunakan akses internet di rumahnya, akan melakukan bimbingan kepada anaknya agar memanfaatkannya secara sehat. Mengapa hal ini harus dilakukan? Sebab, -- mengutip istilah Yasraf A Piliang – bahwa di era cyberspace, setiap bentuk seksualitas bisa saja dijadikan alat pemenuhan kebutuhan ekonomi oleh kaum kapitalis atau dikenal dengan "libidonomics". Sehingga, setiap orang yang tidak memiliki landasan etika pemakaian internet, ia akan terjebak pada konsumer pasif dunia "esek-esek" dan meracuni pola sikap, tindakan dan pemikirannya ke arah liberalis-individualis.

Maka, saya pikir kita (umat Islam) perlu melakukan upaya-upaya pembentukan gerakan internet sehat dikalangan jamaahnya. Tujuannya agar kita tidak terjebak pada reifikasi (pemberhalaan) seksualitas demi mencari keuntungan ekonomis lewat bisnis yang menggerus umat manusia ke arah abjeksi moral. Allah SWT berfirman, sbb: "Maka pernahkah kamu melihat orang yang menjadikan hawa nafsunya sebagai Tuhannya dan Allah membiarkannya sesat berdasarkan ilmu-Nya" (Q.S. Al-Jaasiyah: 23).

Menggelorakan "etika literacy"

Term etika berasal dari bahasa Yunani ethikhos yang berarti adat-kebiasaan, namun seiring perkembangan zaman, istilah ini berkembang dan ekuivalen dengan moralitas. Kalau mengacu pada pengertian etimologis, etika adalah serentetan perilaku yang telah mendarah daging pada diri manusia. Perilaku etis sangat berkaitan dengan mempraktikkan nilai-nilai yang baik dan benar dalam kehidupan sehari-harinya. Secara filosofis, etika mempertanyakan bagaimana sebaiknya manusia bertingkah laku (how men ought to act in general)?

Etika harus dimasukkan ke benak para pengguna internet, yang punya peluang besar memanfaatkan internet sebagai media mengakses hal-hal pornografis. Tugas organisasi Islam di Indonesia adalah membuat pertahanan diri lewat penggodogan format etika bagi masyarakat "melek internet". Apalagi bagi pengguna internet dari kalangan remaja, gagasan pemblokiran situs porno adalah langkah awal untuk mencegah terdegradasinya moralitas generasi muda. Namun, akan lebih kokoh lagi jika ulama atau tokoh masyarakat memberikan arahan kepada mereka seputar nilai-nilai etis dalam menggunakan internet.

Sebab, kemajuan teknologi informasi global mengakibatkan sistem komunikasi bersifat praktis, individual, private, bahkan masuk ke benak kaum "melek internet" tanpa ada sensor nilai-nilai sosial-kultural dan sosial-religius. Alhasil, dengan watak teknologi yang memiliki produktivitas tinggi ini berpengaruh pada terbentuknya pola sikap sekuler-hedonistik (Suparlan Suhartono, Filsafat Ilmu Pengetahuan, 2005). Para pengguna internet tentunya akan bersikap hedonistik ketika secara kultural berselancar (surfing) tanpa ada pegangan nilai-nilai normatif, baik diambil dari etika normatif maupun yang diambil dari etika kreatif (metaetika).

Andreas Harefa dalam bukunya Menjadi Manusia Pembelajar (2002: 101) mengatakan, internet bisa dimanfaatkan untuk mengubah "sikap hidup" dan "keterampilan untuk hidup" setiap pemakainya. Ia membaginya ke dalam tiga bentuk pembelajaran. Pertama, para pengguna internet (user) sedang "belajar melakukan". Kedua, mereka sedang menambah pengetahuan dengan cara mencari informasi tanpa beranjak dari meja dan kursi (belajar tentang). Dan, ketiga, dengan menggunakan internet mereka sedang belajar mempraktikkan dan belajar tentang pelbagai teori, sehingga dapat dipastikan jika itu akan mengubah sikap dan keterampilan hidup pemakai internet.

Maka, menggelorakan etika literacy di Indonesia adalah suatu keniscayaan. Mari kita gagas "etika literacy" buat pengguna internet, supaya kita tidak jadi manusia yang dilingkari ketakberadaban sikap dan laku. Akhirnya, layak saya pikir jika kita merenungi pepatah-petitih Ali Syari'ati, sang filosof Iran, "….semakin tinggi perkembangan sains dan teknologi, maka semakin tinggi pula manusia menuju kebiadaban". Agar kemajuan teknologi dan sains tidak menjadikan kita sebagai manusia biadab, UU ITE sejatinya dibarengi dengan pemberian langkah-langkah etis dan moralistik ketika berselancar di dunia maya. Wallahua'lam

3 September 2009

Ngabuburit sambil Ngeblog

Ngabuburit sambil Ngeblog

Bulan Ramadan bagi umat Islam adalah bulan penuh berkah. Segala aktivitas di bulan ini akan berbuah pahala. Menjadi keniscayaan bagi seluruh umat Islam yang akil-baligh untuk memanfaatkan moment Ramadan dengan aktivitas bermanfaat.

Menahan lapar, haus, dan nafsu jasadi, untuk saat sekarang bisa dilakukan dengan cara yang beragam. Bagi masyarakat kampung, mengisi Ramadan seringkali diisi dengan acara ngabuburit.

Teknis ngabuburit-nya di setiap daerah akan berebeda. Ada yang sekadar jalan-jalan, mengikuti pengajian sore, tadarus Al-Quran atau sekadar ngobrol ngalor-ngidul dengan tetangga sekitar.

Dengan latar belakang pendidikan umat Islam yang beragam, maka acara ngabuburit juga akan diisi dengan cara yang sesuai dengan hobi dan minat masing-masing. Salah satunya dengan melakukan aktivitas ngeblog (blogging). Meskipun bagi masyarakat di perkampungan ngeblog adalah entri aneh untuk dipahami, namun, bagi sebagian masyarakat kota, ngeblog telah menjadi bagian hidupnya.

Jauh sebelum bulan Ramadan tiba, generasi muda Islam telah terbiasa mengupdate blog dengan tulisan, photo, gambar atau sekadar catatan pengalaman hidup. Era internet (cyberspace) ini telah mengubah cara anak muda mengisi waktu menjelang Maghrib dengan menongkrongi layar monitor PC atau notebook. Seperti yang dilakukan sebagian anak-anak muda Islam, mahasiswa Universitas Islam Negeri (UIN) Sunan Gunung Djati dalam mengisi acara ngabuburit. Mereka sebagai generasi muda Islam “melek internet” menunggu waktu Maghrib tiba dengan cara ngeblog. Dengan ngeblog, waktu yang terus berjalan pelan seakan tak terasa karena sedang terkoneksi ke dunia luar (internet).

Ponggawa website Sunan Gunung Djati (web komunitas Blogger Kampus UIN SGD Bandung), Ibn Ghifarie malah telah menjalani aktivitas ngabuburit sambil ngeblog sejak 2006. Melalui laman blognya, http://www.boeldzh.blogspot.com, ia mencurahkan minat studinya terhadap gerakan antikekerasan dan studi agama-agama. Dengan ngeblog, ujarnya, dia bisa menjalin relasi ke berbagai pelosok di Indonesia. “Pemikiran-pemikiran saya tentang projek agama yang antikekerasan dapat diakses dan dikritisi oleh pembaca blog di luar Bandung.” Jawabnya, ketika ngobrol dengan saya ihwal rencana Blogshop Sunan Gunung Djati dengan tema kampanye Ayo Ngeblog, Ayo Berkarya.

Berbeda halnya dengan Cecep Hasanuddin, ia baru setahun rajin mengupdate blog-nya karena motivasi senior di Ikatan Mahasiswa Muhammadiyah UIN SGD Bandung. Sekarang, dengan rajin memposting tulisan, ada semacam kepuasan yang tak kalah hebat ketika artikel dimuat media cetak. “Dulu, saya susah sekali menuangkan ide menjadi sebuah tulisan. Alhamdulillah setelah terbiasa menuliskannya di weblog kesayangan, saya sudah bisa menulis. Meskipun tidak sepenuhnya bagus.” Ujarnya seraya memberikan alamat blognya http://iramakata.blogspot.com.

Lain halnya dengan Reza S Nugraha, mahasiswa jurusan Bahasa dan Sastra Arab ini memiliki blog karena tuntutan aktivitasnya di dunia pers kampus. Selama menjadi Pemimpin redaksi majalah Suaka, ia menjadi akrab dengan media online ini. Karena tren media mengarah ke interaktivitas dan kecepatan mengakses informasi, ia tidak bisa tidak, mesti mampu menguasai media cyber. Tuturnya yang bisa dilihat tulisannya di laman http://elfarizi.wordpress.com.

Sementara itu Dasam Syamsuddin, Amin R Iskandar, Jajang Badruzaman dan Badru Tamam Mifka merasakan hal yang sama dengan generasi muda “melek internet” lainnya. Mereka merasa telah mendapatkan kepuasaan yang sulit digambarkan ketika tulisan di blognya dikomentari pengunjung dan dengan itulah terjadi diskusi yang hangat. Namun, ketika ditanya ihwal publikasi tulisan di media cetak, mereka belum merasa percaya diri untuk mengirimkan tulisan ke media cetak. Meskipun dari beberapa anggota komunitas blogger kampus UIN SGD Bandung, tulisannya ada yang dimuat Koran.

Dengan alasan itulah, web komunitas Blogger Kampus UIN SGD Bandung lahir. Mereka semua berharap, media tempat berkumpulnya pemikiran civitas akademika UIN SGD Bandung dapat diakses setiap orang. Apalagi ketika sedang menunaikan ibadah puasa di bulan Ramadan ini. Boleh jadi, aktivitas memposting tulisan di blog pribadi atau web komunitas, www.sunangunungdjati.com, bernilai pahala di sisi Allah SWT.

Manfaat blog di Bulan Ramadan

Bagi generasi muda Islam “melek internet” blogging di bulan Ramadan ini banyak dimanfaatkan untuk mengisi waktu dengan kegiatan bermanfaat. Kalau dahulu kala, orang tua kita ngabuburit dengan cara mengunjungi sebuah tempat yang ramai dijejali orang-orang. Sekarang, bagi generasi cyber, ngabuburit tidak hanya dilakukan secara berkelompok atau berjamaah. Dengan bekal notebook atau ngerental di warnet saja, mereka sudah bisa ngabuburit dengan menjalankan aktivitas ngeblog.

Alhasil, kegiatan nongkrong yang banyak tidak bermanfaatnya ketimbang manfaat, di bulan Ramadan ini diarahkan ke dalam bentuk yang bermanfaat. Adapun secara empiris, manfaat blog di bulan Ramadan adalah sebagai berikut:

1. Kemampuan menuangkan ide menjadi tulisan akan terasah

2. Dapat menjadi wahana bertukar ilmu pengetahuan dengan sesama blogger

3. Catatan online yang memiliki potensi untuk dijadikan pelajaran oleh kita dan pengunjung

4. Tempat mencari dan berbagi informasi seputar trik dan tips meningkatkan kualitas puasa kita

5. Sebagai ruang untuk katarsis (pembebasan) jiwa dari segala bentuk tekanan

6. Dan manfaat lainnya yang tak akan habis ditulis

Akhirul kalam, mengisi aktivitas ngabuburit dengan ngeblog dapat membentuk dan memperkokoh kualitas puasa kita. Itu juga kalau kita mendasarkan aktivitas ngeblog pada suara keilahiyan. Nusyuki, mahyaya, wa mamati lillahirrabilalamin (segala aktivitas, hidup, dan mati hanya diserahkan bagi Allah pemelihara alam raya). Artinya, ngeblog di bulan Ramadan dan bulan-bulan selanjurnya mesti didasari niat untuk menggapai ridha Allah SWT. Inilah yang saya sebut hasil dari ngabuburit sambil ngeblog seorang generasi muda Islam “melek internet”.

29 August 2009

Pertemuan SGD Blogger Bahas Tim Susur Facebook

Pertemuan SGD Blogger Bahas Tim Susur Facebook

Oleh SUKRON ABDILAH

Hari Sabtu (15/08), pukul 21.05 WIB bertempat di Ruang an Diskusi Lembaga Pengkajian Ilmu Keislaman (LPIK) Bandung, Gedung Student Centre (SC) UIN Bandung Lantai II Blok J2, Jl A H Nasution No 105 Cipadung Bandung 40614 Sunan Gunung Djati menggelar Kopdar sekaligus bahas Tim Susur Facebook.

Pemimpin Umum Sunan Gunung Djati, Ibn Ghifarie memberikan pengarahan kepada pengelola baru.

Alhamdulillah, setelah menginformasikan di Facebook, tentang lowongan tim susur Facebook, redaksi disambangi Cecep Hasanuddin. Ia adalah blogger yang berasal dari jurusan Bahasa dan Sastra Arab UIN Bandung semester enam.

Saudara Cecep pun didaulat mengelola dan mengurusi penelusuran tulisan atau catatan yang diposting civitas akademika UIN Bandung seperti dosen dan mahasiswa. Selain mereka, tidak ketinggalan juga postingan artikel di facebook yang berasal dari alumni UIN SGD Bandung.

Ibn Ghifarie mengatakan bahwa di web komunitas blogger UIN SGD Bandung, pengelolaan diserahkan secara murni kepada alumni dan mahasiswa UIN Bandung. Web komunitas blogger Sunan Gunung Djati, seperti dikatakan Buledzh (panggilan akrab Ibn Ghifarie) tidak berada pada garis pengelolan pihak kampus UIN Bandung.

Website ini adalah wadah independent bagi mahasiswa, dosen, dan alumni menuangkan ide-gagasan, pemikiran, refleksi, dan pengalaman secara bebas. Ke depan, tepatnya, Januari 2010, website ini akan melakukan prombakan konsep dalam menyajikan konten sehingga lebih menarik dan interaktif. Itu yang ngomong adalah buledz atau lebih dikenal Ibn Ghifarie.

Pada kesempatan itu juga, hadir Tim (pengelola) Sunan Gunung Djati, saya (Sukron Abdilah), Jajang Badruzaman dan Amin R Iskandar. Saudara Amin R Iskandar yang baru pulang dari Jakarta pada malam itu memberikan satu eksemplar buku yang ditulis kang Hawe Setiawan, Atep Kurnia, dan saudara Amin R Iskandar.

Buku itu adalah biografi ajengan Engkin (almarhum EZ Muttaqin), seorang ulama dari Tasikmalaya yang pernah menjabat rektor Universitas Islam Bandung (UNISBA). Satu lagi blogger UIN SGD Bandung yang telah berkecimpung di ranah penerbitan buku. Ya, dia adalah Amin R Iskandar, yang sekarang disamping menjadi mahasiswa jurnalistik UIN SGD Bandung, dia juga adalah seorang wartawan majalah mingguan Mimbar Politik.

Pada malam minggu itu juga – ketika mahasiswa sedang asyik ngapel dan bercengkrama dengan sang kekasih – pengelola Sunan Gunung Djati, malah asyik ngobrol ngalor-ngidul tentang upaya memajukan web komunitas blogger ini. Saya, yang diserahi tugas melaporkan kegiatan malam tadi, harus rela menulis dengan gaya menulis saya sendiri.

Ya…namanya juga blogger, menulis adalah ekspresi kebebasan. Tidak ada aturan ketat di media ini. Media yang sekarang banyak disalahpahami sebagai antek pihak kampus UIN SGD Bandung. Dengan senang hati harus kami beritahukan bahwa www.sunangunungdjati.com merupakan media murni dari kepentingan politik kampus. Itulah yang saya katakan pada kawan-kawan yang hadir (Agung TW, Amin R Iskandar, Jajang Badruzaman, dan Cecep Hasanuddin).

“Eh…ari “Guru” Badru kamana nya? Saya mau mengucapkan terima kasih karena sudah memberikan pakaian yang pantas buat tampilan web ini. Hatur nuhun…syeikh. Ana min sunangunungdjati…untuk sekarang hanya bisa berterima kasih. Ke depan, kalau sudah membesar, ada…lah buat jajan-jajan mah. Oleh karena itu, mari kita rintis bersama-sama.”

Sekian dulu…saya menulis laporan kopdar mingguan ini. Kalau tidak setuju dengan gaya laporan saya…NULIS MAH BEBAS…..kumaha ngaing!!!!

14 August 2009

Ayo Berkarya ala Komunitas Blogger

Ayo Berkarya ala Komunitas Blogger

Sunan Gunung Djati merupakan Komunitas Blogger Kampus Universitas Islam Negeri (UIN) Sunan Gunung Djati (SGD) Bandung yang sudah bisa diakses mulai 9 Februari 2009 di alamat www.sunangunungdjati.com. Meski tekanannya pada Civitas Akademik UIN SGD Bandung, Sunan Gunung Djati juga diisi para blogger dan jurnalis dalam bingkai Perguruan Tinggi Islam (STAIN, IAIN, UIN).

Bermula dari obrolan senja sekaligus Kopdar (Kopi Darat) dua tahun yang lalu (27 Desember 2007) di Sekretariat Ikatan Mahasiswa Muhammadiyah UIN SGD Bandung. Ibn Ghifarie, Sukron Abdilah, Amin R Iskandar, Jajang dan Zarin Givarian terbentuklah Komunitas Blog Sunan Gunung Djati pada layanan blogspot (www.sunangunungdjati.blogspot.com). Kemudian, pasca penetapan Hari Blogger Nasional (27 Oktober 2007) oleh Menteri Komunikasi dan Informatika (Menkominfo) Mohammad Nuh saat Pesta Blogger 2007, gelombang ngeblog merasuki dunia kampus. Tak terkecuali kampus UIN SGD Bandung.

Kendati, jauh sebelum maraknya media online, para pegiat dunia Cyber menginginkan ada satu kumpulan blogger UIN SGD saat Chating. Namun, terhalang pelbagai kendala ikhtiar itu diurungkan kembali. Melalui, pertemuan singkat itu terciptalah Sunan Gunung Djati. Nama Sunan Gunung Djati, diusulkan Ibn Ghifarie. Pasalnya, icon UIN Bandung sekaligus membedakan dengan UIN lainya adalah Sunan Gunung Djati. Selain itu, dengan penamaan tersebut, mengingat kebaikan tokoh Wali Songo dalam mensiarkan Islam yang rahmatan lil alamin. Semoga dengan membudayakan menulis di Sunan Gunung Djati dapat memberikan manfaat bagi dirinya dan halayak banyak.

Tak semua dosen, mahasiswa, alumni dan karyawan UIN SGD Bandung akrab dengan blog. Jangankan punya, membaca blog orang saja barangkali belum pernah. Jadi, merupakan langkah maju dan terobosan tak terduga manakala sejumlah civitas akademik UIN SGD Bandung menyatakan diri ingin menjadi bagian dari Sunan Gunung Djati dan bahkan sudah langsung mencurahkan pandangan dan gagasannya.

Adalah sebuah keniscayaan bila civitas akademik ikut ngeblog. Perguruan Tinggi lain tengah menyediakan layanan secara cuma-cuma buat civitasnya, mulai dari email sampai blog. Kehadiran Sunan Gunung Djati yang berada di luar struktur UIN SGD Bandung tak lepas dari pelbagai kendala. Penamaan Sunan Gunung Djati pun sempat menuai protes dari pemangku kebijakan. Ya memang diakui keberadaan Komunitas Blogger ini tak resmi berasal dari kebijakan Kampus UIN SGD Bandung.

Namun, keinginan mentradisikan menulis menjadi kekuatan dalam membangun Sunan Gunung Djati. Pasca perbedaan pendapat tersebut, antara dijalur kampus dan di luar kampus, komunitas ini sempat gonta-ganti rumah. Berganti rumah www.sunangunungdjati.multiply.com dan www.sunangunungdjati.wordpress.com www.blog-uinsgd.blogspot.com pula menjadi aktivitas ngeblog kami. Kini, dengan biaya swadaya dari beberapa pihak terkait, komunitas ini resmi mempunyai domain sendiri dengan nama Sunan Gunung Djati di www.sunangunungdjati.com.

Sunan Gunung Djati merupakan wahana diskusi dan ruang kuliah berisi gagasan mencerahkan, demokratis, konstruktif, dan bertanggung jawab. Pembaca atau pengunjung diajak urun rembug dengan mengomentari setiap artikel yang masuk. Setiap komentar terbaru para pembaca dengan sendiri akan tampil di halaman muka Sunan Gunung Djati. Untuk kegiatan tambahan, komunitas ini juga untuk saat ini sedang mengadakan lomba resensi buku Soliloquy, dengan hadiah yang menarik. Pada saat ramadhan juga, komunitas ini mengadakan berbagai kegiatan seperti buka bareng, bedah buku, obrolan seputar filsafat sehari-hari, sampai isu-isu kebebasan beragama.

Dengan adanya wadah bagi blogger ini, diharapkan tradisi menulis, diskusi, dan penelaahan masalah sehari-hari bisa disikapi secara dewasa. Sebab, ketika seseorang telah terbiasa menulis di sebuah web komunitas akan terjadi apa yang diistilahkan dengan “interaktivitas” antara penulis (blogger) dan pembaca. Disinilah letak kedewasaan tersebut. Kita ngeblog dengan wawasan kita sendiri, dan pembaca mengomentari dengan wawasan yang dimilikinya juga. Maka, akan terjadi apa yang dinamakan dengan sharing pengetahuan. Sehingga blogger dapat terus menjejali wawasannya dengan pengetahuan.

Ayo Ngeblog, Ayo Berkarya.