Showing posts with label Informasi. Show all posts
Showing posts with label Informasi. Show all posts

17 December 2018

Ramainya "Twit War" SARA

Ramainya "Twit War" SARA


Situs microblog sekelas twitter di era demokrasi dapat dijadikan medium menciptakan iklim kedamaian dan perdamaian, sekaligus mengundang malapetaka bagi ajegnya perdamaian di Indonesia. Dengan karakter postingan twitter yang tidak lagi personal — kecuali diatur pengguna twitter untuk melindungi privacy dirinya — setiap kicauan tentunya akan menjadi konsumsi publik. Kicauan tweeps dapat dibaca oleh siapa saja, tanpa kecuali.

Karena itu, menyerang seseorang dengan update status bernuansa suku, agama, ras, dan antargolongan (SARA) ialah tindakan yang menggambarkan bahwa seseorang tidak memiliki wawasan kebangsaan yang mumpuni. Apalagi bila kicauan SARA dilakukan pejabat Negara. Seperti yang terjadi baru-baru ini dunia maya diramaikan dengan sebuah kicauan di twitter yang mencederai iklim positif perdamaian dan kebebasan beragama.

Melalui akun twitternya @dipoalam49 itu, Dipo Alam, yang menjadi pejabat Negara seolah tidak memiliki wawasan kebangsaan dengan kicauan tendensius dan SARA ketika menanggapi keberatan Romo Franz Magnis Suseno (FMS) atas rencana penghargaan kepada SBY oleh. Dipo Alam pun sewot. Alhasil, dua kicauan di twitter yang diupdate pada Selasa, 21 Mei 2013 mengindikasikan ketidakdewasaan berbangsa dan bernegara, “Masalah khilafiyah antar umat Islam di Indonesia begitu banyak, jangan dibesarkan oleh non-muslim seolah simpati minoritas diabaikan.” Kicauanya.

Satu lagi kicauannya di twitter yang menyinggung prinsip toleransi di Indonesia, yakni “umaro, ulama, dan umat Islam di Indonesia secara umum sudah baik, mari lihat ke depan, tidak baik pimpinannya dicerca oleh non-muslim FMS”. Kalimat “dicerca oleh non-muslim” dalam kicauan Dipo, tentunya mengundang tanda tanya besar, pantaskah pejabat Negara diskriminatif?

Kasus yang dilakukan Dipo Alam, juru bicara presiden SBY, dengan menulis twit SARA via akun @dipoalam49 ketika menanggapi protes Romo Franz Magnis Suseno atas rencana pemberian anugrah World Statesman Award kepada SBY oleh lembaga Asing, Appeal of Conscience Foundation (ACF) yang berdiri di New York, Amerika Serikat.

Bagi Romo FMS, surat terbuka keberatan kepada Appeal of Conscience Foundation (ACF), berdasarkan pada ketidakseriusan SBY selama 8,5 tahun masa kepemimpinannya membenahi hubungan antar dan intra umat beragama. Kasus bernuansa SARA seperti pengusiran, pengrusakan, dan kekerasan terhadap jamaah Ahmadiyah dan Muslim Syiah di Indonesia tidak diselesaikan secara serius.

Alasan ketidaksetujuan Romo Magnis, memang logis. Sebab menurut catatan Komnas HAM, kasus pelanggaran kebebasan beragama mengalami peningkatan pada 2012. Dari 541 pelanggaran kebebasan beragama, sekira 274 kasus terjadi tahun 2012. Bahkan, dalam sidang empat tahunan Evaluasi Periodic Universal dewan HAM PBB, pada bulan Juli 2012, Indonesia mendapat rapor merah sebagai Negara yang angka pelanggarannya tinggi.

Twit atau kicauan di twitter ialah representasi diri. Ketika seorang pejabat memutuskan membuat akun di twitter, sebetulnya harus siap bahwa apa yang dikicaukannya akan selalu menyita perhatian publik. Azas kehati-hatian berkicau mesti dipegang teguh sang pejabat. Sebab, apa saja yang dikicaukan akan berdampak secara sosial di kehidupan riil.

Ketika Dipo Alam berkicau seperti itu, akhirnya muncul penilaian bahwa seorang pejabat Negara lemah wawasannya tentang pluralitas yang tumbuh di Indonesia, sehingga lahir penilaian bahwa ia merupakan sosok manusia intoleran yang hanya memilah hubungan sosial kebangsaan menjadi “mayoritas-minoritas”.

Tak hanya kasus yang menimpa Dipo Alam, di negeri ini juga beberapa kasus perang kicauan (twit war) meramaikan jagad twitter. Dari mulai penetapan sebagai tersangka Farhat Abbas, karena melalui akun twitternya menyebut Ahok, wakil gubernur DKI Jakarta dengan sebutan rasial.

Kemudian, serangan frontal kicauan juga terjadi antara Marissa Haque kepada Joko Anwar, melalui twit yang kasar dan tak pantas dilakukan seorang publik figur. Twitter juga, sebagai media untuk mengungkapkan kebebasan berpendapat telah menjadikan iklim hukum di Indonesia berubah. Atas nama pencemaran nama baik, misalnya, Misbakhum melaporkan akun twitter @benhan, karena telah menuduh dan mencercanya melalui situs microblog twitter.

Fenomena twit SARA dan perang kicauan atau twit war di dunia maya — meminjam istilah Prof Yasraf Amir Piliang — ialah wujud kekerasan dan kekejaman digital. Dalam konteks social media, dengan karakternya yang mudah digunakan setiap orang demikian mudah melakukan kekerasan bahasa (language violence), kekerasan citra (image violence), dan kekerasan digital (digital violence).

Di dalam buku berjudul Sebuah Dunia yang Menakutkan (2001), istilah “kekerasan” menurut Prof Yasraf, yakni “perlakuan dengan cara pemaksaan”, sehingga apa pun bentuk pemaksaan dapat dikategorikan sebagai kekerasan. Oleh sebab itu, tidak hanya kekerasan fisik dengan senjata dalam memaknai “kekerasan”; di era yang lebih internet dan budaya teknologis ini, wujud kekerasan dapat berubah menjadi kekerasan non-fisik.

Kekerasan yang jauh lebih besar dampaknya bagi kehidupan seseorang. Sebab, ragam kekerasan dalam wujud kekerasan bahasa (language violence), kekerasan simbolik (simbolic violence), kekerasan citra (image violence), dan kekerasan digital (digital violence), semuanya dapat menghancurkan jiwa dan kepribadian seseorang.

Jadi jangan mentang-mentang twitter itu bebas, kita pun bebas berkicau tanpa panduan nilai, moralitas, dan etika sosial. Sebagai bangsa plural, sejatinya kita saling menghargai dan bijak menyikapi perbedaan. Termasuk bijak menggunakan media sosial, dengan status yang tidak menyerang seseorang. ***

Artikel ini dimuat di Rubrik @Jejaring HU Pikiran Rakyat Edisi Senin 27 Mei 2013
Gerakan "Petisi Online" Babakan Siliwangi

Gerakan "Petisi Online" Babakan Siliwangi


HARI Jumat pekan lalu (31/05), smartphone berbunyi karena ada pesan masuk ke kotak masuk. Ternyata undangan penandatanganan petisi online menolak komersialisasi Babakan Siliwangi (Baksil). Ketika saya mengklik laman situs http://www.change.org/SaveBaksil pada hari itu juga ternyata sudah terkumpul 5.751 tanda tangan netizen yang mendukung petisi penolakan komersialisasi Baksil yang digagas Forum Warga Peduli Babakan Siliwangi (FWBS). Empat hari kemudian terkumpul sekitar 7.550 tanda tangan.

Di era digital ini, setiap aktivis dapat memulai kampanye ketidakadilan dengan mengetengahkan abstraksi permasalahan sebagai pesan kritis publik kepada pemerintahan melalui new media.

Situs change.org — sebagai new media — dapat digunakan publik atau aktivis menuntut kebijakan yang tidak pro-rakyat. Gerakan petisi online sebagai upaya memanfaatkan teknologi media sosial tentunya harus kita ramaikan sebab ini merupakan pertanda tingkat melek media warga yang tinggi. Ketika di tataran praksis sosial, gugatan warga kepada pemerintah tidak begitu dihiraukan, dengan dukungan dari pengguna internet maka gerakan sosial diharapkan dapat dijalankan agar segala kebijakan pemerintah menjadi pro rakyat.

Petisi online Babakan Siliwangi yang bertajuk, “Selamatkan Hutan Kota Dunia dari Ancaman Komersialiasi” ini dalam konteks demokrasi ialah salah satu bentuk kebebasan berpendapat warga kota Bandung melakukan gugatan pada pemerintah untuk tetap menjaga kelestarian alam. Sebab, sebagai “hutan kota”, daerah Baksil harus bebas dari beton dan bangunan.

Forum Warga Peduli Babakan Siliwangi pun menjelaskan alasan kenapa harus mengeluarkan petisi online di change.org. Mereka menuntut Pemerintah Kota — sebagai abdi rakyat — seharusnya menyediakan Ruang Terbuka Hijau (RTH) Publik minimal 30 persen dari seluruh wilayah. Namun pada kenyataannya, Kota Bandung yang luasnya sekitar 17.000 hektare baru memenuhi sekitar 7 persen RTH.

Demi masa depan bersama, petisi online di situs change.org itu harus efektif dan efisien untuk melahirkan perubahan bagi Kota Bandung yang lebih baik dan lestari. Kehadiran situs http://www.change.org di tengah masyarakat demokratis, menjadi media kampanye sosial efektif untuk menggalang kekuatan sosial yang mewakili suara publik. Situs ini merupakan social media yang banyak digunakan sebagai media demonstrasi online publik atas kebijakan pemerintah di berbagai daerah. Tak heran jika user atau pengguna situs terdiri dari warga biasa, aktivis LSM, aktivis sosial, dan netizen yang memiliki basis gerakan sosial.

Situs change.org didirikan pada tahun 2007, oleh Ben Rattrey (31) dan berhasil menyabet penghargaan sebagai B Corporation – sebuah hibrida perusahaan nirlaba dan amal, yang berusaha membuat keuntungan untuk kebaikan sosial – dan pada tahun 2011 situs ini menembus harga 5 juta dollar AS. Tahun 2012, sekira 20 juta pengguna dari 196 negara mendaftar menjadi user.

Ben Rattray, pendiri change.org, seperti ditulis Nicholas D. Kristof dalam kolom di nytimes.com bertajuk, “After Recess: Change the World” (4/02/2012) mendirikan situs ini untuk memudahkan warga biasa menggugat korporasi dan pemerintahan melalui dukungan online. Kristof menjelaskan bagaimana peran social campaign situs change.org, mampu mengubah sikap korporasi ketika 14 anak-anak siswa kelas 4 SD di Brookline, Massachusets; berhasil memenangkan petisi mereka yang ditujukan kepada studio film, Universal Studios.

Melalui internet, mereka menyuarakan ketidaksetujuan ketika membaca cerita “The Lorax”, karya Dr. Seuss, yang akan difilmkan Universal Studios dan dirilis pada bulan Maret 2012. Ketidaksetujuan mereka ketika membuka laman situs Universal Studios tidak mencantumkan pesan lingkungan; di mana “The Lorax”  ialah pelindung alam. Sebulan kemudian, anak-anak memulai sebuah petisi di Change.org, menuntut agar Universal Studios “membiarkan Lorax berbicara untuk pohon.” Petisi itu dengan cepat beredar dan berhasil mengumpulkan lebih dari 57.000 tanda tangan. Kemudian pihak Universal Studio pun memperbarui situs film dengan pesan lingkungan seperti yang dituntut oleh anak-anak.

Lantas, bagaimana dengan petisi online yang dilakukan Forum Warga Peduli Babakan Siliwangi? Akankah pemerintah kota Bandung – dalam hal ini Walikota – mengabulkan tuntutan mereka untuk membatalkan izin mendirikan bangunan dengan PT EGI? Mungkin, pihak pemerintah dan korporasi harus menonton film bertajuk, The Lorax, sehingga akan menyadari bagaimana keserakahan korporasi berbahaya bagi lingkungan sekitar. Kalau diizinkan membangun beton di Baksil, akan tumbuh seribu beton lagi ke depannya. Maju terus kang Tisna Sanjaya, untuk Kota Bandung yang hijau, resik dan sejuk. []

Sumber:Rubrik Jejaring, 10 Juni 2013 di HU Pikiran Rakyat

26 November 2018

Informasi yang Serba Digital

Informasi yang Serba Digital

PERKEMBANGAN teknologi digital merangsek tiadahenti ke tiap penjuru kehidupan umat manusia. Informasi pun kena imbasnya.Koran berkonvergensi dengan media online (epaper). Radio menjadi lebih mudahdengan menggunakan teknologi internet (i-radio). Televisi jugamenyertakan teknologi digital sehingga bisa dinikmati tanpa menggunakan antena(TV internet). Salah satu TV LCD merek Samsung, misalnya, telah menanamkanjaringan internet didalamnya sehingga aktivitas bowsing, berjejaring,dan mengirim surat elektronik bisa dilakukan dari perangkat televisi denganmenyentuh layar (touchscreen). Mengakses informasi pun tidak meluluhanya menggunakan komputer, notebook dan mobile phone.

Itulah realitas informasi yang semakinmengarah pada kemudahan, instan dan “mendigital”. Tak heran jika teknologimanual mulai berganti dengan teknologi digital. Kita tidak bisa menolakkemajuan ini. Kita harus beradaptasi dengan perkembangan teknologi. Realitasmembuktikan setiap individu tidak mau berlepas diri dari gadget-gadget cerdasketika mengakses informasi. Cukup dengan menyentuh ikon bergambar surat, makahanya dalam hitungan detik, teks dapat terkirim ke tujuan. Di sekitar pusatkota kita dengan mudah menyaksikan “generasi menunduk” yang begitu piawaimenggunakan perangkat teknologi digital.

Media informasi dalam kehidupan kitajuga terkena imbas. Kalau sepuluh tahun lalu, kita tidak begitu akrab denganmedia online. Kini kita tengah berada di dua arus kebudayaan dalam halmengakses informasi, antara kebudayaan masyarakat digital dengan kebudayaan masyarakatanalog.

Bagi masyarakat digital tidakmembutuhkan energi lebih untuk melipat kertas, ketika perangkat Ipad digunakanuntuk mengakses koran elektronik. Begitu juga tidak perlu menggunakan bersusahpayah menekan tombol keyboard untuk memutar chanel radio di mobile phone.Dalam masyarakat digital, seorang individu menjadi terintegrasi dengan segalahal berbau teknologi sehingga kehidupan serasa instan dan mudah ketika hendak mengaksesinformasi.

Sementara itu karakter masyarakat analogmasih tidak bisa meninggalkan segala hal yang bersifat manual. Mereka masihmenyenangi lipatan kertas, bersusah payah memutar perangkat analog di televisi,dan gerak tubuhnya lebih energik ketimbang masyarakat digital. Karena kitasedang berada di ruang perkembangan dan perubahan hidup, dari “manual” menuju“digital”. Perubahan ini tentunya menciptakan generasi baru ketika mengaksesinformasi.

Tak heran jika kita seolah tidak mampumemisahkan diri dengan kode-kode digital, yang dibenamkan ke dalam gadgetcerdas untuk digunakan mengonsumsi informasi tanpa menggunakan kertas.Koran-koran online begitu ramai berseliweran di internet memburu gaya hidup “masyarakatdigital” dengan sejumlah inovasi teknologis berbasis rekayasa kode yang dapatdibaca gadget dan smartphone. Entah itu berupa aplikasi, situs mobile,dan sistem operasi untuk program lintas gadget seperti Android.  

Akhirnya, membaca dan mencariinformasi pun tidak sepenuhnya bergantung pada keberadaan kertas. Tanpa kertas,seluruh teks informasi masih bisa dinikmati karena perangkat digital mampu memenuhidahaga informasi dari masyarakat digital. Kebangkitan internet dan mulailunturnya ketergantungan umat manusia pada alat baca kertas (cetak),mengokohkan keyakinan kita bahwa mesti ada upaya konvergensi agar perusahaanmedia cetak tidak mati. Perkembangan teknologi yang terjadi harus disiasatiseluruh perusahaan media agar tidak ketinggalan dan mati ditelan zaman.

Pada era serba digital inilah, bisnismedia dipenuhi tantangan sekaligus peluang dalam menghadirkan inovasi untukmenyambut kebudayaan masyarakat digital yang mengakrabi kultur digital. Dalam perspektifsosiologis, realitas perkembangan teknologi digital selalu berjalan beriringandengan kultur masyarakat setempat. Migrasi kebudayaan masyarakat dari “analog” menuju“digital” merupakan iklim positif bagi tumbuh-kembangnya bisnis media diIndonesia dalam memproduksi informasi.

Di era digital, seluruh informasitentu akan menjadi serba digital dan cepat disajikan; kecuali makanan danminuman saja yang tidak serba digital. Selamat menikmati menu informasi! ***

Dimuat di HU Pikiran Rakyat, Senin 2 September 2013 @ rubrik JEJARING.

9 April 2010

Internet dan Mahasiswa BPI UIN Bandung

Internet dan Mahasiswa BPI UIN Bandung

Kehadiran internet wajib direspon secara kreatif oleh mahasiswa Bimbingan Penyuluhan Islam UIN Bandung. Dalam unsur-unsur bimbingan konseling ada yang disebut media, yakni sebuah alat untuk menghantarkan tersampainya materi bimbingan konseling. Media dalam konteks era cyber adalah kemajuan teknologi informasi dan komunikasi (TIK). Muhammad Surya, menyebut aktivitas konseling di dunia maya dengan “cybercounseling”. Di mana konselor atau pembimbing memanfaatkan akses internet dalam melakukan bimbingan dan konseling kepada khalayak banyak.
Tambahlah Wawasan tentang “Life Motivation”

Tambahlah Wawasan tentang “Life Motivation”


Semangat belajar bagi siswa/siswi Sekolah Menengah Atas (SMA) mutlak diperlukan. Bagi lulusan jurusan Bimbingan Penyuluhan Islam UIN Bandung, itu merupakan tantangan yang perlu disikapi dengan pengadaan pelatihan-pelatihan motivasi. Dengan demikian, siswa/siswi dapat melaksanakan proses pembelajaran dengan menyenangkan. Islam, sebagai landasan pemberian konseling di lembaga pendidikan mengajarkan umatnya untuk menuntut ilmu secara sungguh-sungguh (mujahadah).