Showing posts with label Kebudayaan. Show all posts
Showing posts with label Kebudayaan. Show all posts

29 November 2018

Kekerabatan Urang Sunda

Kekerabatan Urang Sunda

Penelusuran garis keturunan (sakeseler) dalam khazanah kesundaan diistilahkan dengan "pancakaki". Kamus Umum Basa Sunda (1993), mengartikan "pancakaki" dengan dua pengertian. Pertama, "pancakaki" menunjukkan hubungan seseorang dalam garis keluarga (perenahna jelema ka jelema deui anu sakulawarga atawa kaasup baraya keneh). Kita pasti mengenal istilah kekerabatan seperti indung, bapa, aki, nini, emang, bibi, Euceu, anak, incu, buyut, alo, suan, kapiadi, kapilanceuk, aki ti gigir, nini ti gigir, dan sebagainya.
Istilah-istilah di atas merupakan sistem kekerabatan masyarakat Sunda yang didasarkan pada hubungan seseorang dalam sebuah komunitas keluarga. Dalam sistem kekerabatan urang Sunda diakui juga garis saudara (nasab) dari bapak dan ibu seperti bibi, emang, kapiadi, kapilanceuk, nini ti gigir, aki ti gigir.
Menurut Edi S Ekadjati (Kebudayaan Sunda, 2005) urang Sunda memperhitungkan dan mengakui kekerabatan bilateral, baik dari garis bapak maupun ibu. Berbeda dengan sistem kekerabatan orang Minang dan Batak yang menganut sistem kekerabatan matriarchal dan patriarchal, yaitu hanya memperhitungkan garis ibu saja dan garis keturunan bapak.
Sedangkan pada pengertian kedua, "pancakaki" bisa diartikan sebagai suatu proses penelusuran hubungan seseorang dalam jalur kekerabatan (mapay perenahna kabarayaan). Secara empiris, ketika kita menganjangi suatu daerah, maka pihak yang dianjangi akan membuka percakapan: "Ujang teh timana, jeung putra saha?". Ini dilakukan untuk mengetahui asal-usul keturunan tamu, sehingga sohibulbet atau pribumi, lebih akrab atau wanoh kepada semah guna mendobrak kekikukan dalam berinteraksi.
Maka, "pancakaki" pada pengertian kedua adalah sebuah proses pengorekan informasi keturunan untuk menemukan garis kekerabatan yang sempat putus. Biasanya, hal ini terjadi ketika seseorang nganjang ke suatu daerah dan di sana ia menemukan bahwa antara si pemilik rumah dan dia ternyata ada ikatan persaudaraan. Maka, ada pribahasa bahwa dunia itu tidak selebar daun kelor. Antara saya dan anda – mungkin kalau ber-pancakaki – ternyata dulur! Minimalnya sadulur jauh.
"Pancakaki" dalam bahasa Indonesia mungkin agak sepadan dengan istilah "silsilah", yakni kata yang digunakan untuk menunjukkan asal-usul nenek moyang beserta keturunannya. Tapi, ada perbedaannya!
Menurut Ajip Rosidi (1996) "pancakaki" memiliki pengertian suatu hubungan seseorang dengan seseorang, yang memastikan adanya tali keturunan atau persaudaraan. Namun, menjadi adat-istiadat-kebiasaan yang penting dalam hidup urang Sunda, karena selain menggambarkan sifat-sifat urang Sunda yang ingin selalu bersilaturahim, juga merupakan kebutuhan untuk menentukan sebutan masing-masing pihak dalam menggunakan bahasa Sunda.
Mengapa? Sebab, "pancakaki" sebagai produk kebudayaan Sunda, diproduksi oleh karuhun Ki Sunda untuk menciptakan relasi sosial dan komunikasi interpersonal yang harmonis dalam komunitas, salah satunya ajen-inajen berbahasa. Tidak mungkin kan, jika kita tahu si A atau si B itu memiliki hubungan kekerabatan dengan kita, dan lebih tua, tapi kita mencla-mencle berbicara tak sopan.
Kuntowijoyo dalam buku berjudul: Budaya dan Masyarakat (2006: 6), menulis bahwa dalam budaya kita akan ditemukan adanya tiga komponen pokok, yaitu lembaga budaya, isi budaya, dan efek budaya (norma-norma). Lembaga budaya menanyakan siapa penghasil produk budaya, pengontrol, serta bagaimana kontrol itu dilakukan. Isi (substansi) budaya menanyakan apa yang dihasilkan atau simbol-simbol apa saja yang diusahakan. Sementara itu, efek budaya menanyakan konsekuensi apa yang diharapkan.
Maka, anomali budaya (kebudayaan disfungsional) akan terjadi jika simbol dan normanya tidak lagi dijabarkan masyarakat. Akibatnya, muncul kontradiksi dan memicu lahirnya kelumpuhan dasar-dasar relasi sosiologis. Hal ini akan terjadi dalam ruang lingkup relasi sosial-kemasyarakatan urang Sunda jika "pancakaki" sebagai isi kebudayaan lokal tidak mendapat porsi pengamalan.
Efek kebudayaan pun tidak akan dirasakan, seperti menggejalanya keterputusan komunikasi dan relasi antar dulur (kerabat) yang satu dengan yang lain. Ketika tidak memiliki efek budaya, maka akan memicu lahirnya anomali, akibat minimnya keinginan kita untuk mengaktifkan simbol kebudayaan – salah satunya "pancakaki" – dalam hidup keseharian.
Bukankah silaturahim dalam perspektif ajaran agama (Islam) adalah salah satu penentu masuk surga?Layadkhulu al-jannatu qothi'un, tak akan masuk surga bagi orang yang memutuskan tali persaudaraan. Begitulah bunyi hadits dari Rasulullah Saw.
Ah, tak akan pernah habis saya kira, membincangkan sistem sadulur (kekerabatan) masyarakat Sunda sampai tujuh turanan juga. Karena itu, saatnya kita ber-pancakaki. Lirik kiri-larak kanan. Jangan-jangan ada keluarga dekat atau jauh, bahkan orang lain yang miskin dan tak bisa makan. Sebab, dalam ajaran Islam semua manusia itu bersaudara (al-ikhwat). Walahua'lam
Kebijaksanaan Manusia Sunda

Kebijaksanaan Manusia Sunda

Kebenaran Sunda sebagai kebudayaan tak arif bila ditempatkan sebagai kebenaran hidup mutlak. Meminjam analisis Hannah Arendt, kebudayaan-dalam hal ini Sunda ialah rutinitas umat manusia yang dapat diramalkan dan dipelajari. Ini mengindikasikan ketidakmutlakan Sunda sebagai jalan hidup. Dalam bahasa lain, kesundaan dapat ditafsirkan dengan kerangka pemikiran masing-masing, baik dari perspektif subyektivitas maupun intersubyektivitas. Dari sinilah lahir kesundaan yang beragam dan majemuk.

Contoh konkretnya adalah persoalan undak-usuk basa yang terfragmentasi menjadi tiga jenis hierarki berbahasa, yakni kasar, loma, dan lemes. Bagi urang Sunda Priangan, lafal bahasa Sunda akan berbeda dengan Sunda pakidulan seperti penutur basa Sunda di Banten, Sukabumi, dan Bogor. Ketika yang dijadikan acuan keberadaban berbahasa Sunda diarahkan pada dialek Priangan, hal ini tentu menafikan perspektif Sunda yang lian. Tak bijaksana rasanya ketika menafikan perspektif Sunda the other sehingga mengakibatkan lahirnya bentuk Sunda yang tertutup, kaku, bengis, keras, sombong, dan tidak dinamis.

Dalam bahasa lain, pandangan ihwal kesundaan mesti mengakui penafsiran yang berbeda dengan pemahaman kita tentang Sunda. Itulah wujud Ki Sunda sesungguhnya. Manusia asak ku pangalaman sehingga pandangan hidupnya dipenuhi kebijaksanaan, hubungan kolektif-kolegial, sifat mementingkan orang banyak, dan sejumlah perilaku positif lainnya.

Makna Ki Sunda

Saya agak heran mengapa disebut Ki Sunda, bukan Mang Sunda, Jang Sunda, atau Uwak Sunda? Tetapi, keheranan tadi terjawab karena di dalam alur kehidupan, sebutan "Ki" merupakan representasi dari kedewasaan, asak pangalaman, kebijaksanaan, pandangan visioner, dan tidak terjebak pada penilaian "hitam-putih". Term "Ki" adalah sebutan lain dari "Aki" karena dirinya menjadi tokoh masyarakat yang dijadikan pusat kehidupan. Karena telah memahami intisari kesundaan, ia memiliki keluhuran ilmu pengetahuan, kekayaan khazanah, dan perspektif yang majemuk ihwal realitas kebudayaan Sunda.

Alhasil, dirinya menjadi aktor penggerak masyarakat Sunda sehingga memiliki tradisi dan sikap hidup yang santun. Karakter Ki Sunda yang bijaksana tersebut lahir akibat dirinya telah menjalani pengembaraan yang luas di muka bumi hingga mengenal dan memahami berbagai kebudayaan. Sampai hari ini saya masih menempatkan tokoh historis Sunda-siapa pun dan dari daerah mana pun atau dalam naskah apa saja-sebagai manusia biasa yang niscaya terbuka untuk dikritisi. Bahkan, dalam tradisi hermeneutis, seorang nabi tak luput dari kritik. Tanpa mengabaikan penafsiran Sunda sebagai gerakan ideologis, kita juga tentunya tak boleh menutup mata bahwa Sunda merupakan gerak kebudayaan yang dinamis.

Apabila Sunda dipahami hanya sebagai gerakan ideologis, hal itu akan menancapkan stigma Sunda sebagai suku yang kaku, eksklusif, tidak ramah, rasis-fasis, bahkan tertutup terhadap nilai dan budaya baru. Satu tokoh Sunda tidak dapat dijadikan sebagai dasar untuk menjustifikasi bahwa Sunda harus seperti yang diperjuangkan sang tokoh. Alih-alih menjadikan manusia Sunda sebagai manusia neobijaksana, yang terjadi adalah menggusur pemahaman kesundaan pada sikap yang serasa menjauh dari ajen-inajen urang Sunda. Nanjerkeun kesundaan tak harus dengan jalan perang dan keras.

Nanjerkeun kesundaan ialah dengan cara membumikan konsep hidup yang kerap diejawantahkan Ki Sunda secara elegan dan luhung. Ia mampu menyikapi perbedaan secara legowo dan mengakuinya sebagai bagian dari hidup urang Sunda meskipun berasal dari kebudayaan luar Sunda. Itulah yang dikatakan sebagai manusia Sunda genuine.

Memang begitulah seharusnya kebudayaan lahir dan hidup. Itu karena culture lebih dekat secara semantik dengan nature, yang berarti berjalan mengikuti alur alami kehidupan. Sunda itu dinamis dan tidak tertutup terhadap kebudayaan luar. Selama hal itu baik bagi eksistensinya di masa mendatang, urang Sunda sejatinya memahami warisan budaya dan bakal terus berdinamisasi dengan perkembangan zaman.

Penafsiran "hitam-putih"

Penafsiran tunggal terhadap warisan Sunda akan melahirkan fanatisme kesukuan yang akut dalam diri warga Sunda ke depan sehingga Sunda sebagai kebudayaan diklaim milik salah satu elite kelompok tertentu. Karena itu, kajian terhadap Sunda, bila menggunakan penafsiran "hitam-putih", berubah menjadi kebudayaan barbarian, tidak toleran, asa aing, adigung-adiguna, dan tidak respons terhadap kebudayaan luar, apalagi bila menggunakan kacamata radikalisme pemikiran yang menempatkan manusia lian ti urang Sunda sebagai manusia biadab.

Hal itu tidak ada bedanya dengan gerakan ideologis yang kadang memakan korban dari warga am yang tak berdosa. Dalam catatan historis, kerap terjadi "benturan fisik" dan penyelesaian barbarian antarsesama karena diinisiasi perbedaan ideologi. Sunda hari ini adalah cermin dari mental, sikap, dan laku lampah Ki Sunda baheula. Itu memang betul sehingga ada kesimpulan menjadikan tokoh historis Sunda sebagai tolok ukur sikap dan laku manusia dalam konteks kiwari. Itu juga saya pikir agak betul.

Namun, apakah yang harus dijadikan model manusia Sunda kiwari itu hanya tersentralisasi pada satu tokoh historis ataupun tokoh fiktif dalam kajian naskah Sunda? Urang Sunda ternyata majemuk sebagai representasi keunikan manusiawi. Ada yang sahaok dua gaplok, ada yang hare-hare tai hayam, bahkan tak sedikit yang teu langkung kanu dibendo. Memersepsi manusia Sunda sehistoris dan seheroik apa pun mesti dibarengi pendekatan yang kritis dengan mempertanyakan motif apakah yang tersembunyi darinya? Tidak ada yang final dalam memahami kebudayaan yang lahir dari suku apa saja dan di mana saja sehingga kebudayaan akan terus mengepakkan sayap untuk terus berdialektika dengan kekinian zaman.

Ketika ada generasi muda Sunda yang gelagapan dengan bahasa Sunda yang dijadikan patokan keabsahan sebagai urang Sunda asli, sejatinya kita tidak mengklaim bahwa orang tersebut tidak nyunda. Konsekuensi perubahan zaman adalah keniscayaan tak nisbi dalam setiap kebudayaan, termasuk Sunda, yang saya pikir akan terus mencari bentuk akibat perubahan zaman.

Sunda tidak mengklaim dan diklaim sebagai milik orang-orang tertentu, Sunda nu aing, Sunda nu maneh, dan Sunda nu urang kabeh. Namun, celakanya, Sunda nu aing banyak diklaim sebagai Sunda nu urang kabeh. Akibatnya, yang tak sepaham dan tak sehaluan dengannya disebut sebagai "tidak nyunda". Sayang rasanya kalau nasib Sunda seperti ini.

9 February 2018

“Sundamorfosis”, Sunda Kekinian

“Sundamorfosis”, Sunda Kekinian

SWAMI Vivekananda, Arifin India, berujar, “Strength is life; weakness is death.” Betul, bahwa kekuatan ialah (modal) kehidupan, kelemahan adalah (penyebab) kematian. Begitu juga dengan etnik Sunda. Ketika Sunda – sebagai salah satu dari ratusan etnik di Indonesia – kuat, pasti akan terus eksis. Namun, sebaliknya. Ketika Sunda melemah, ia akan sekarat dan pasti mati. Bahkan akan tertimbun lapisan sejarah, dilupakan banyak orang.

Sunda sebagai sebuah komunitas etnik, menyisakan aneka warisan kultural dalam kehidupan masyarakat Jawa Barat; kendati, tidak seluruhnya warga di Jawa Barat bersuku Sunda. Saya secara pribadi lahir di Garut, salah satu wilayah kabupaten yang banyak dihuni etnik Sunda. Dan, hal ini tentunya membuat saya menjadi seorang suku Sunda yang bermetamorfosa, baik secara kultural, sosial, filsafat, dan pandangan hidup ke arah yang lebih sesuai dengan perkembangan zaman.

Urang Sunda zaman dulu tentu saja sangat berbeda dengan generasi Sunda kiwari. Sundamorfosis? Mungkin ya, mungkin juga tidak. Sebab, ada tiga narasi kultural yang berkembang pada masyarakat Sunda.

Pertama, narasi kultural yang diwakili masyarakat Sunda yang masih mikukuh warisan falsafah hidup Ki Sunda. Mereka berada di pelosok-pelosok padusunan yang tidak ngeh dengan kebudayaan dari luar. Biasanya, komunitas urang Sunda seperti ini terdapat di lingkungan masyarakat adat, kampung yang jauh jaraknya dengan perkotaan, dan jika dekat dengan kota, mereka punya peraturan ketat untuk terus mikukuh adat-istiadat.

Kedua, narasi kultural yang diwakili oleh nonoman Sunda yang telah “melek” dengan kebudayaan dari luar. Generasi muda Sunda ini, lahir sebagai etnik Sunda, hidup di wilayah yang banyak dihuni beragam kebudayaan, hingga membentuk pola pikir yang plural dan melahirkan laku yang menjauh dari ajen-inajen kesundaan. Mereka, biasanya, berasal dari pelajar sekolah, mahasiswa, dan kaum tua “yang gila” dengan ideologi kapitalisme yang dibawa arus globalisasi. Mereka terbuai oleh bujuk rayu globalisasi dan meminggirkan ajen-inajen kesundaan dalam hidup kesehariannya. 

Ketiga, narasi kultural – anu dipikareuseup kuring – yang diwakili oleh generasi muda Sunda yang tersebar di seluruh pelosok negeri dan dunia, namun masih menyisakan kerinduan terhadap identitas kultural aslinya. Mereka memiliki pola pikir yang sama dengan generasi Sunda plural, karena melek dengan perangkat globalisasi (seperti HP, internet, video digital, komputer, note book, dll); tapi punya kekhasan kultural seperti yang dipegang secara kukuh oleh masyarakat adat. 

Jujur saja. Secara pribadi, saya lebih senang jika narasi kultural yang ketiga bisa tetap eksis. Istilah sosiologis untuk menyebut narasi ini oleh sosiolog kontemporer Roland Robertson (1992) disebut sebgai glokalisasi. Sebuah gerakan kultural generasi yang bisa memanfaatkan perangkat atau produk globalisasi untuk mengeksiskan identitas kebudayaan lokalnya, seperti menulis konten di website, web blog, dan media sosial di internet, dengan konten kebudayaan lokal.

Mengapa itu harus terjadi? Sebab, perkembangan teknologi – seperti kehadiran komputer dan internet – menjadi keniscayaan untuk dimanfaatkan oleh masyarakat lokal dalam mengeksiskan eksistensi etnik kultural Sunda kepada dunia. Seperti yang dilakukan oleh seorang mahasiswa Unpad, dengan memprakarsai komputerisasi aksara Sunda agar diakui dunia.

Istilah “Sundamorfosis” memang bisa dibilang klise. Istilah ini pun masih bisa kita perdebatkan. Secara akademis, ilmiah, dan mungkin secara filosofis. Akan tetapi, daripada menghabiskan tenaga, mendingan para budayawan sepuh Sunda yang tidak suka dengan istilah ini, melakukan upaya-upaya penanggulangan. Sebelum, generasi muda Sunda bermetamorfosa ke arah laku lampah yang tidak mengindahkan falsafah hidup Ki Sunda.

Sundamorfosis artinya mengacu pada tingkat perubahan meleknya urang Sunda pada falsafah kesundaan, tanpa sekat-sekat. Sebab, kendati kita hidup di zaman yang ditunggangi perkembangan teknologi, justru bakal ada generasi yang menyadari bahwa ia telah melupakan kebudayaannya. Alhasil, muncul gerakan-gerakan kesundaan dalam wajahnya yang baru. Neo-Sunda istilahnya. Anda boleh setuju atau tidak. Terserah. Yang pasti, karena perkembangan zaman ke arah yang berbeda dengan Sunda baheula, menuntut kita untuk ngigeulan dan ngigeulkeun zaman.

Sebab, Sunda – sebagai falsafah hidup – mesti miindung ka waktu, mibapa ka zaman. Tidak terjebak romantisme sejarah masa kejayaan kerajaan Sunda saja, tetapi melihat ke depan (futuris) untuk merumuskan Sunda masa depan yang tetap diakui dunia. Pidua ti simkuring, semoga kita – sebagai generasi muda Sunda – mampu bermetamorfosa hingga menyadari bahwa kearifan lokal di tatar Sunda terserak dan harus mulai kita punguti kembali. Dan, setelah dipunguti, tidak membuangnya ke tong sampah. Tapi, disakuan dina ati sanubari, agar laku dan kata kita saluyu sareung ajen-inajen kesundaan yang diwariskan oleh Ki Sunda.

Punten, bahasanya direumbeuy. Yang penting, saya masih mengaku sebagai suku Sunda, meskipun ada identitas kesundaan – salah satunya ajen-inajen berbahasa – yang jarang saya taati kalau berkomunikasi dengan orang yang sudah lama kenal. Juga, saya berharap para inohong, nonoman, dan kokolot Sunda bekerja ekstra keras mendidik generasi muda agar tercipta sebuah komunitas anak muda yang “Sundamorfosis”. Melek kesundaan, kitu.

Jadi, kita jangan hanya pandai mencipta generasi yang Arabmorfosis dan Inggrismorfosis saja. Sementara, keaslian jati diri tumpur oleh dalih Indonesiamorfosis. Tapi, untuk Indonesiamorfosis bagi generasi muda Sunda memang harus diperhatikan. Sebab, kita yang tinggal di tatar Sunda adalah warga negara yang setia.

“Sundamorfosis”? Hemm.., memang menarik untuk kita arahkan pada jalur yang semestinya dilalui. Ya, jalur penghormatan dan pengaktualisasian nilai-nilai kesundaan dalam kehidupan sehari-hari. Amin ya robbal alamin, anging gusti nu Maha Suci nu ngawidian, and I believe that Allah is will give me a strenght..! untuk menjadi generasi muda “melek kesundaan” dan berjiwa religius-nasionalis.

Oh.., hampir lupa. Ketika saya pulang kampung bulan kemarin (mudik lebaran), seorang kakek berumur 60 tahun ke atas, menyapa: “Iraha ti kota Aa teh?”. Hehe, saking sopan dan santunnya urang Sunda, saya yang baru kemarin sore merasakan hidup (sahandapeun), disanjung dengan sebutan Aa. Memangnya saya kakaknya pangersa? Ah, itu mungkin diucapkan untuk meluapkan rasa hormatnya terhadap saya yang jarang urak-urakan seperti pemuda Sunda yang lainnya di kampung saya.

9 April 2010

Garut dan “Surak Ibra”

Garut dan “Surak Ibra”

Di daerah perbatasan antara Banyuresmi dengan Wanaraja – kampung Sindangsari Desa Cinunuk – hiduplah sebuah seni pertunjukan yang bernilai historis. Dari tahun 1910 hingga kini, seni pertunjukan itu kerap diadakan secara konsisten. “Surak Ibra” adalah nama dari seni pertunjukan yang dimainkan oleh puluhan orang (60) sampai seratus lebih itu. Kesenian khas warga Garut ini, konon, merupakan reproduksi dari kesenian “Surak Ibra” khas warga Cibatu. Penggagasnya adalah putera dari Raden Wangsa Muhammad, penyebar ajaran Islam di daerah Wanaraja dan Banyuresmi. Makamnya hingga kini masih diziarahi warga dari berbagai daerah.  

5 April 2010

Lindu...

Lindu...

Kakara oge ngerejep...jam 14.55 WIB warga di CIpadung, kamari poe Rebo, ngagarorowok....Lini...Lini....Lini....Antukna kuring ngulisik...bari ngagisik manon. Teu make aba-aba geuwat-geuwat kuring ka luar ti kontrakan, nu tembokna kabeneran bareulah.
"Hahahahaha", eta sora ki Dasam. Lucu meurenan ningal kula belek keneh ku cileuh. buuk awut-awutan. nyeker teu make sendal. untung we masih make calana. Teu kawas baheula mun rek sare teh, sok teu make calana panjang. ceukap ku kolor mengbal.

5 November 2009

Etika dan Moral Ilmu Pengetahuan

Etika dan Moral Ilmu Pengetahuan

Ilmu dalam perspektif Aristoteles tak mengabdi pada pihak lain. Ilmu digeluti umat manusia demi ilmu itu sendiri. Dikenallah ucapan, “primun vivere, deinde philoshopori” berjuanglah terlebih dahulu, baru boleh berfilsafat. Ilmu hadir untuk kepentingan umat manusia. Sehingga dengan tesis inilah, sebuah ilmu memiliki dasar tujuan. Etika dan moral adalah sebuah nilai. Muncul persoalan problematis, “ketika nilai mengerangkeng ilmu pengetahuan, apakah ilmu akan mengalami perkembangan?”

Pertanyaan tersebut, tentunya memiliki ragam jawaban. Tergantung apa yang dijadikan sebagai landasan berpikir seseorang. Bagi kaum materialistik-rasional-dan empirisme murni, ilmu mesti bebas dari berbagai nilai. Dari moralitas dan etika yang mengerangkeng. Jean Paul Sartre, menyebut nilai sebagai penjara bagi kaum berpikir atau seorang ilmuwan.

Akan tetapi, bagi kalangan agamwan atau kaum spiritualis dan humanis, mereka lebih mengedepankan azas kemanfaatan. Dalam khazanah filsafat dikenal dengan moral atau aliran utilitiarisme (mementingkan banyak orang). Dengan landasan berpikir seperti inilah, peran etika dan moral sangat kental sekali sehingga selalu mempertanyakan hasil produksi ilmu pengetahuan bagi umat manusia. Secara sosiologis mungkin kita mengenal madzhab fungsionalisme. Mereka mempertanyakan segala produk manusia, “apakah bermanfaat bagi kehidupan manusia ataukah tidak.”

Filosof beragama biasanya, menempatkan kebenaran berpikir manusia berada di bawah kebenaran transenden. Sebagai sebuah produsen moralitas dan etika, tak bisa disangkal bahwa doktrin agama akan mengarahkan seseorang untuk merefleksikan penemuan atau penciptaan sebuah ilmu. Euthanasia, aborsi, kloning dan penerbangan ke bulan atau produksi tenaga nuklir merupakan beberapa contoh hasil perkembangan ilmu pengetahuan. Untuk menciptakan tatanan manusia yang lebih baik dan beradab, ketidakmanusiaan merupakan pelanggaran terhadap etika seorang ilmuwan. Profesi dokter di Indonesia misalnya, terbatasi oleh etika-aturan yang terakumulasi dalam etika profesi dokter. Tidak dibenarkan, misalnya, seorang dokter yang sedang melakukan penelitian virus HN51 menyebarkannya ke lingkungan masyarakat sekitar untuk mencari obat penawarnya.

Moralitas dalam filsafat ilmu, merupakan wasit yang berfungsi sebagai pembentuk sikap hidup sang ilmuwan. Ini berguna bagi pembangunan hubungan yang harmonis antara dirinya dengan orang lain.

14 July 2009

Pesan Kebudayaan “Sambel Goang”

Pesan Kebudayaan “Sambel Goang”


Sambal atau sambel bagi urang Sunda adalah teman akrab ketika makan yang menjadikan kegiatan santap-menyantap terasa nikmat memikat. Rasa pedas yang menyebabkan keringat menetes dari dahi dan sesekali dari bibir terucap “suhah” tidak membuat kapok urang Sunda mengonsumsinya. Salah satu sambal kesukaan itu adalah “sambel goang” dan bisa dibuat siapa saja tanpa memandang usia. Ketika saya kecil, misalnya, untuk menemani nasi liwet hangat ditemani asin sepat, tumis kangkung dan goreng tempe, selalu menyempatkan diri mengulek “sambel goang”.

Bahan-bahannya sangat merakyat dan tersedia di kebun. Cukup dengan cengek (cabai) ditambah garam, saya sudah bisa menikmati hangatnya tubuh di tengah alam pedesaan yang begitu dingin menggigil. Di setiap perkampungan, sambal hampir pasti dijadikan penambah selera nafsu makan keluarga. Begitu juga di rumah makan atau restoran yang menyajikan makanan khas Sunda, terasa tak komplit kalau sambal tidak dihidangkan di meja pelanggan. Konon, “sambel goang” berasal dari campurbaur antara bahasa Sunda dan Betawi, yakni “sambel” dan “doang”. Ketika diucapkan urang Sunda maka menjadi “sambel goang”.

Kesederhanaan dan harmonisasi

Dari aneka jenis sambal, hanya “sambel goang” yang mencerminkan kesederhanaan hidup. Memikat hati saya – meskipun ada gangguan di pencernaan – untuk membuatnya ketika kebetulan pulang kampung. Tak hanya itu “sambel goang” juga menyimbolkan relasi kosmik yang harmonis antara warga Sunda dengan alam. Dalam bahasa lain, alam beserta manusia Sunda saling membutuhkan. Sederhananya, saya akan mencoba menjaga ekosistem alam agar tetap memberikan bahan dasar pembuatan sambal tersebut. Dari kedalaman hati saya (penggila sambal) – karena membuatnya sendiri – tentunya lahir kepedulian lingkungan kecil-kecilan. Memanfaatkan sepetak halaman untuk menanaminya, mengairi, atau merawat tangkal cengek agar tumbuh sehat dan afiyat.

Upaya refleksi dibarengi aktivitas demikian melahirkan kedekatan emosional. Kemudian, lahirlah kontemplasi alami yang menelurkan sebuah falsafah, sikap hidup dan kebudayaan. Seperti diungkapkan Acep Iwan Saidi, budaya atau “culture” secara semiologis berdekatan dengan kata “nature”. Ini berarti budaya merupakan hasil dialektika manusia dengan alam (nature), dalam hal ini halaman yang ditumbuhi tangkal cengek. Begitulah yang terjadi dengan sambal di dalam kehidupan masyarakat Sunda. Relasi saya (manusia), tangkal cengek (alam mikro) beserta alam makro, berkelindan hingga melahirkan kebudayaan: piawai mengulek bahan dasar alam hingga menjadi sambal.

Tak hanya kepiawaian sederhana tadi. Tedi Muhtadin (2002), seorang pengajar Sastra Unpad menulis artikel tentang keterkaitan “sambel goang” dan produksi bahasa. Katanya, sambel goang merupakan aktualisasi bahasa dari “resep” tentang “sambel goang”. Resep yang digunakan membuat sambal ini saya pikir adalah cita rasa khas Sunda yang memengaruhi sikap dan falsafah hidupnya. Sikap dan falsafah yang bermuara pada kesederhanaan dan keharmonisan hidup.

Tidak bisa dinafikan cita rasa dalam hal meracik menu makanan adalah cermin kepribadian seseorang. Ki Sunda tidak hanya piawai meracik resep makanan an sich. Ia sebegitu pandai melakukan kreasi kebudayaan dari bahan baku alam atau “nature”. Cengek pedas tak hanya menghangatkan tubuh. Garam tak hanya pelengkap rasa semata. Namun juga mencerminkan semangat membara, mandiri, tegas, dan berani.

Kebudayaan itu dinamis

Pelajaran lain dari lidah urang Sunda adalah bahan baku sambal yang tidak statis. Namun bebas sesuai selera atau dinamis. Seperti halnya sifat kebudayaan yang dinamis dan kreatif. Sambal akan berubah bentuk dan rasanya ketika dibikin oleh orang yang memiliki selera berbeda-beda. “Sambel goang” bikinan saya, karena memiliki cita rasa berbeda dengan orang lain, tentunya melahirkan “sambel goang” beraliran Sukronian. Selain rasa pedas, dapat ditambah dengan garam agar terasa asin. Kalau ingin berbeda, boleh ditambah dengan kecap kehitam-hitaman sehingga rasa manis terasa edun di lidah.

Jadi ketika ada generasi muda yang melahirkan wayang ajen, itu adalah potret bahwa kebudayaan sangat beragam dan fleksibel. Dari satu seni pertunjukan wayang saja, lahir beragam jenis pertunjukan wayang yang lumayan banyak. Sama seperti “sambel goang” dan sambal lainnya yang berasal dari satu bahan yang sama, yakni cengek yang super duper pedas kalau dikonsumsi tanpa disertai apa-apa. Dari satu bahan dasar itu, lidah Ki Sunda tidak berhenti merasa dan mencipta. Itulah pesan kesundaan yang dapat saya tangkap dari aktivitas mengulek cengek menjadi sambal yang beragam: salah satunya “sambel goang” nan pedas dan edun. Katanya.., kalau digerus bersama tungkai cabai bisa mengobati sariawan!

Sekadar tambahan. Berkaitan dengan garam dalam komposisi sambel goang, Ki Sunda memproduksi bahasa sebagai hasil refleksi atas kesukaan urang Sunda terhadap rasa asin. Produksi bahasa itu adalah “teu uyahan”, sebutan bagi orang yang tak memiliki tata krama, tidak sopan santun, dan cenderung kriminal. Rasa manis juga ternyata memengaruhi urang Sunda untuk memproduksi bahasa yang menyebutkan budi baik seseorang, yakni “amis budi”. Hal itu mengindikasikan bahwa ketika urang Sunda mencicipi sesuatu dan menyukainya akan melahirkan suatu kerangka nilai yang diyakini sebagai baik dan buruk. Inilah simbolisasi bahasa yang cerdas dan cergas dari Ki Sunda, hingga bahasa Sunda terlihat fleksibel, dinamis, dan selalu berkembang.

Dari rasa sambal lahir ukuran moralitas Sunda seperti di atas (“teu uyahan” dan “amis budi”). Satu lagi yakni “tobat sambel”. Terma ini mengindikasikan bedegong dan keukeuh-nya warga Sunda. Kapok, jemu, bosan, dan tak mengulangi seolah tidak berlaku bagi urang Sunda penggila sambal. Kendati mengakibatkan mencret-mencret, panas dalam, apalagi disantap orang yang sedang sariawan; tak menjadikannya hilang dari menu makanan Sunda. Ketidakjeraan terhadap pedasnya sambal ini mengakibatkan ulama sering menyinggung ketaksungguh-sungguhan bertobat dengan istilah “tobat sambel”. Ketika kita membangun kebudayaan sejatinya berteriak rame-rame: Urang …nyarambel ah!!!

6 June 2009

Sunda dan Kemajemukan Budaya

Sunda dan Kemajemukan Budaya

Oleh SUKRON ABDILAH

(Artikel ini dimuat Kompas Jabar, 06 Sabtu 2009)

Tanah Sunda, gemah ripah/Nu ngumbara suka betah/Urang Sunda sawawa/Sing toweksa perceka/Nyangga darma anu nyata//Seuweu Pajajaran/Muga tong kasmaran/Sing tulaten jeung rumaksa/Miara pakaya memang sawajibna/Geuten titen rumawat tanah pusaka//

Sunda bukan suatu kebudayaan yang saklek, pasti, dan tidak berubah. Ia adalah kebudayaan yang selalu berkembang mengikuti perputaran ruang dan waktu. Dengan demikian kesundaan akan terus hidup apabila urang Sunda memahaminya dengan pengalaman hidup masing-masing. Keragaman memahami inilah yang nantinya melahirkan sikap menghargai atas kebudayaan non-sunda yang berkembang di Jawa Barat.

Meskipun Jawa Barat mayoritas beretnik Sunda, ada daerah yang berbeda dalam hal kebudayaan, terutama dari bahasa tutur keseharian. Maka, memukul rata daerah-daerah yang mayoritas dihuni etnik non-Sunda, sama saja dengan menumpurkan kebudayaan lain. Ingat, keragaman mesti disikapi secara arif dan bijaksana oleh urang Sunda, sebagai tanda bahwa Sunda tidak anti-perubahan.

Seandainya kita memahami Sunda sebagai sebuah bangunan budaya yang saklek dan tidak berubah, sikap seperti itu melenceng dari semangat Ki Sunda yang sedari dulu selalu mencoba menjaga kebudayaan non-Sunda untuk hidup di daerahnya. Pesan damai dan toleran Ki Sunda itu terlihat jelas dari rangkaian larik yang disusun almarhum Mang Koko, yang menjelaskan sikap someah kepada non-Sunda sebagai ciri dari kedewasaan (sawawa) Ki Sunda.

Syair yang dikreasi almarhum mang Koko memang tepat menggambarkan alam tanah Sunda yang gemah ripah lohjinawi, dan membuat kaum urban suka-betah mengumbara di tempat ini. Selain tanahnya yang subur, masyarakatnya pun memiliki solidaritas komunal yang tidak tribalistik, tidak mendiskriminasi suku lain. Bukti ini terlihat dari pemberian gelar kehormatan daeng, aom, aden, habib dan sebagainya kepada etnis luar Sunda yang tinggal di daerah Sunda.

Mengikis fanatisme

Fanatisme saya pikir sangat berbahaya bagi integrasi bangsa ini. Dengan meminggirkan kebudayaan minor di Jabar adalah bentuk fanatisme “berkedok” lokalitas. Tidak arif rasanya kalau kita mengklaim etnik Sunda sebagai kebudayaan yang paling bagus dengan meminggirkan eksistensi kebudayaan lain. Di tubuh Sunda juga saya pikir ada keragaman sehingga terbuka bagi interpretasi. Kesundaan saya hari ini, misalnya, akan berbeda dengan pemahaman urang Sunda generasi 70-an atau 80-an. Begitu juga seterusnya. Generasi 90-an, 80-an, 70-an, dan seterusnya akan berbeda pemahamannya dengan Sunda generasi lebih dulu.

Fanatisme manusia Sunda yang tak berdasar pada kearifan akan mengubahnya menjadi seorang peragu, tak yakin, dan arogan. Merasa diri berkuasa atas alam akan membentuknya jadi manusia ”tidak nyunda”. Raja-raja Sunda dulu, ketika hendak menggapai derajat manusia sempurna sering kali melakukan pengembaraan ke dunia luar. Dengan interaksi yang harmonis bersama kebudayaan luar, lahirlah pemahaman yang toleran dan menghargai. Untuk konteks kekinian, diharapkan manusia Sunda mampu memahami dunia luar yang plural, majemuk, dan dipenuhi diversitas.

Bagi orang yang egois dan fanatis bakal lahir apa yang disebut superioritas sehingga menempatkan orang lain inferior, yang mengakibatkan keretakan hubungan sosial. Maka, memelihara Sunda adalah bersikap ramah (someah) kepada kebudayaan di luar Sunda sebagai ciri dari seorang Sunda sawawa.

Silang budaya

Bahasa adalah salah satu unsur kebudayaan yang mudah melakukan perkawinan silang dengan bahasa lain. Jika ditelisik secara antropologis, keragaman budaya di Jawa Barat, memberi acuan perilaku pada masyarakat untuk menyadari eksistensi kebudayaan lain di tempat tinggalnya. Pengaruh kebudayaan etnik lain – meminjam teori Denis Lombard – adalah semacam “silang budaya” yang membentuk kesundaan kita hari ini. Salah satu indikatornya persilangan budaya itu bisa terjadi apabila setiap kebudayaan di daerah Jawa Barat dipelihara dan dijaga.

Selain bahasa Sunda, misalnya, pemerintah juga harus menjaga kelestarian bahasa lain di tanah pusaka ini. Secara pribadi, saya merasa iri dengan penguasaan bahasa Sunda masyarakat dari luar. Seandainya sewaktu SMP dulu saya memiliki teman yang mampu berbahasa Jawa, Batak, China, dan Padang; saya akan memintanya menjadi guru bahasa ketiga setelah bahasa Indonesia dan bahasa Sunda.

Saya jadi berpikir: mungkinkah siswa SMA harus mengikuti program pertukaran pelajar dengan pelajar di daerah-daerah lain untuk belajar kebudayaan orang lain? Saya rasa gagasan pendidikan bi-cultural juga sangat tepat untuk memberi pemahaman pada generasi muda tentang kemajemukan budaya agar dapat mendidik anak-anak untuk bertukar kebudayaan dengan orang lain. Dengan inilah perkawinan atau persilangan budaya terlihat indah mengemuka. Jadi, betul sekali – seperti disitir Pramoedya Ananta Toer – bahwa Indonesia adalah anak segala bangsa. Begitu juga dengan Sunda. Ia lahir dari interaksi Ki Sunda dengan pelbagai kebudayaan. Indah rasanya, apabila Sunda lahir dari ”silang budaya” dengan kebudayaan di luar Sunda.

8 April 2009

(Si)sindiran buat Caleg

(Si)sindiran buat Caleg

Oleh SUKRON ABDILAH

Mun urang rek ka babatan/kade ulah make taksi/mun urang boga jabatan/kade ulah sok korupsi.

Tinggal hitungan hari pemilihan umum dilaksanakan. Ada pesan menarik yang coba disampaikan masyarakat Sunda kepada mereka yang pada 9 April nanti berlomba memperebutkan kursi jabatan. Sisindiran yang saya kutip di atas, sangat tepat diketengahkan untuk mengingatkan calon anggota legislatif dari tatar Sunda agar tidak memanfaatkan jabatan untuk kepentingan sendiri dan kelompok.

Pesan inti sisindiran itu adalah ketika urang Sunda memiliki jabatan, jangan lantas menganut paham “aji mumpung”, mumpung memiliki jabatan, korupsi pun dilegalkan. Selain mengkritisi perilaku bejad, sisindiran di atas mengandung edukasi atau piwuruk bagi masyarakat Sunda yang sudah menjadi pejabat dan masih menjadi calon pejabat. Dengan sisindiran, rakyat Sunda disadarkan – kadangkala – jabatan bisa menyebabkan seseorang melakukan korupsi. Karena itu, harus hati-hati dan mawas diri.

Melalui sisindiran, sebetulnya urang Sunda mencoba mengkritik perilaku pejabat yang seringkali lupa diri sehingga banyak yang korup. Sisindiran berasal dari kata sindir, yang berarti perkataan yang tidak langsung ditujukan kepada orang yang dimaksud. Sebagai salah satu bentuk sastra lama, di dalam sisindiran ada kritisisme, ucapan memojokkan, dan menyindir seseorang secara halus dengan merangkai kata-kata estetis penuh makna (paparikan dan sampiran).

Sunda antikorupsi

Nah, kepada politisi Sunda, kebersihan laku merupakan keniscayaan sebagai syarat menjadi seorang pejabat. Mereka, berkewajiban menjalankan amanah yang diberikan rakyat agar kepercayaan tidak ditukar dengan pengkhianatan. Korupsi dan buruknya pelayanan publik tidak semestinya dilakukan para pejabat karena demokrasi menjadikan rakyat sebagai tujuan berjalannya roda pemerintahan. Seandainya pada pemilu nanti mereka terpilih menjadi wakil rakyat, uang rakyat jangan diambil dengan cara korup, karena itu merugikan rakyat yang memilihnya.

Dalam falsafah hidup urang Sunda ketika akan mengambil sesuatu harus amit terlebih dahulu, sehingga di daerah pelosok masih bisa mendengar pepatah “amit memeh mipit”. Pesan moral pepatah ini, mesti dicamkan calon pejabat karena di dunia kepolitikan, segalanya bisa dihalalkan kalau tidak disertai dengan panduan etika-moral dalam mengemban jabatan. Nah, untuk konteks pemilu 2009, Sunda tidak setuju dengan praktik korupsi dan itu berlangsung dari dulu, semenjak Negara ini belum merdeka.

Di dalam perbincangan masyarakat Sunda kita pernah mendengar istilah sindir-sampir, yakni kritikan yang didalamnya berisi hal-hal yang menyangkut kelebihan, kekurangan, dan kebejadan perilaku dari orang yang dikritisi. Saya berharap anggota legislatif dari kalangan Sunda menjadikan sisindiran sebagai bahan permenungan agar tidak terjebak pada perilaku korup. Ketika sisindiran yang menganjurkan atau mewajibkan pejabat urang Sunda untuk tidak korupsi itu saya rekam dengan perangkat HP, saya jadi bertanya pada diri sendiri.

Mungkinkah setiap pejabat nanti bisa menjadikan sisindiran itu sebagai reminder atau pengingat ketika akan menandatangani proyek yang tidak pro-rakyat? Saya harap mereka bisa…!

Mengkritisi

Selain kreasi kultural, sisindiran juga adalah media untuk mengkritisi kebijakan diskriminatif yang dikeluarkan pemerintah yang sedang berkuasa. Dalam hal ini, sisindiran acapkali dicipta urang Sunda karena ketidaksetujuannya atas diskriminasi yang dilakukan pemerintah, seperti terjadi pada masa penjajahan Jepang. Sebab, di masa penjajahan bangsa Nippon ini, katanya, banyak terjadi eksploitasi terhadap rakyat nusantara, tak terkecuali masyarakat Sunda.

Kritisisme sebagai ketidakpuasan terhadap kinerja penjajah, khususnya Jepang (Nippon) bisa dibaca dalam sisindiran berikut: Sapanjang jalan cirebon/moal weleh diaspalan/sapanjang dijajah nipon/moal weleh tatambalan. Yang lainnya: Cau raja cau ambon/cau lampung cau batu/boga raja urang Nippon/urang kampong henteu nyatu. Ketika caleg menjadi anggota legislatif, saya pikir tidak pantas kalau memanfaatkan jabatannya untuk mengeruk kekayaan diri sendiri, karena mereka bukan penjajah. Licik kiranya kalau caleg menjadikan jabatan sebagai batu loncatan untuk memperkaya dirinya dan kelompok.

Mungkin, caleg yang mencalonkan di pemilu 2009 harus mendengarkan sisindiran berikut: Miyoto okaino/sora akete/bareto loba kejo/ayeuna hese beleke. Sisindiran ini adalah kritikan urang Sunda terhadap kebijakan diskriminatif negara jepang ketika menjajah Indonesia. Meskipun, ditujukan kepada orang Jepang yang menjajah negeri kita, tidak salahnya kalau caleg yang akan menjadi pejabat merenungkan pesannya.

Kritikan Sunda (sisindiran) memiliki pesan etika-moral untuk berperilaku bersih dari laku jahat dan korup sebagai substansi dari falsafah hidup Ki Sunda. Ketika mereka menjadi pejabat, tidak boleh melakukan tindakan korup karena akan menyebabkan rakyat tertimpa krisis hidup (hese beleke). Sisindiran di atas semoga saja dapat menyindir caleg yang akan mencalonkan diri pada 9 April nanti untuk membenahi niatnya yang tidak baik: memperkaya diri sendiri dan kelompok.

Akhirulkalam, wening ati dari niat-niat yang tidak baik adalah keinginan dan harapan Ki Sunda bagi anak-anaknya yang tertarik menjadi pejabat. Mungkin sisindiran pada awal tulisan perlu dikutip kembali untuk mengokohkan tekad dan niat. Mun urang rek ka babatan/kade ulah make taksi/mun urang boga jabatan/kade ulah sok korupsi. Wilujeng pemilu ah... !

1 April 2009

“Nangka Walanda” Ke Belanda

“Nangka Walanda” Ke Belanda


Oleh SUKRON ABDILAH

Kalau saya boleh berkhayal berkunjung ke negeri Belanda, dari Indonesia akan saya bawa Nangka Sirsak. Buah nangka ini di daerah saya, Garut, lebih populer dengan sebutan nangka “walanda”. Sabab musababnya menurut orang tua saya, buah nangka ini digemari oleh orang-orang Belanda.

Kata “walanda” digunakan untuk menyebut orang-orang Belanda. Jadi, meskipun nangka ini tumbuh di daerah saya, disebutlah nangka walanda. Bahkan, ada kemungkinan besar, nangka walanda juga benihnya dibawa oleh orang-orang Belanda. Itu baru kemungkinan. Karena saya bukan ahli tumbuhan, bukan juga ahli sejarah. Saya hanya seorang blogger dari kalangan warga biasa saja. Tidak lebih. Tidak juga kurang. Emmm…pokoknya gitu lah.

Nah, berkaitan dengan studi di Belanda, kalau saya diberi kesempatan pergi ke negeri kincir angin ini. Tentunya, buah nangka “walanda” bisa saya usahakan agar menyertai perjalanan. Meskipun dengan waktu yang cukup singkat, 2 minggu-an; saya akan menyempatkan diri mempromosikan buah nangka ini. Tapi, bukan untuk dijual. Ya…, dibagi-bagi saja. Kalau pun tidak boleh dibawa, satu buah juga rasanya cukup untuk melepaskan kerinduan saya kepada kampung halaman.

Karena saya hanya bisa berbahasa Inggris, “yes” dan “no” saja, sepertinya khayalan pergi ke negeri Belanda akan ditunda dulu. Nanti, kalau nilai TOEFL saya 550, baru deh saya akan berkhayal kembali. Asyik…pokoknya kalau pernah singgah ke negeri yang ratusan tahun menguasai Indonesia ini.

Saya yakin, di Belanda ada banyak warisan nenek moyang yang masih dilestarikan dengan baik. Utamanya berkaitan dengan kebudayaan Nusantara. Jadi, disamping mengetahui pendidikan di sana, saya bisa juga melihat secara langsung naskah kuno yang masih tersimpan di Belanda.

Studi di Belanda, hari ini, makin terus menancapkan diri di benak saya. Sampai-sampai ketika buang air besar di WC juga, kepikiran….”Belanda itu di mana ya?”
“Pereceeeetttt……..”
Ah…lega…!



14 March 2009

Musik (Berbudaya Sunda) Pop Sunda

Musik (Berbudaya Sunda) Pop Sunda

Musik pop Sunda merupakan representasi dari kreativitas musisi Sunda. Genre musik ini tidak bisa melepaskan diri dari jasa Koko Koswara (alm) yang lebih populer dengan julukan Mang Koko. Ia sempat membidani kelahiran beberapa musisi pop Sunda untuk meramaikan jagat musik Nusantara, di antaranya Nano S, yang menggubah pop Sunda dengan menggabungkan degung kawih dan instrumen musik Barat.

Beliau adalah salah satu pelopor awal musik pop Sunda, yang untuk konteks kekinian pamor musik ini kian meredup seiring dengan gegap gempitanya aliran musik yang lebih kontemporer dan muda. Memang betul musik pop Sunda tidak bisa dibandingkan dengan musik pop Barat dan nasional. Akan tetapi, tidak bisa dimungkiri juga bahwa musik pop Sunda masih dicintai sebagian generasi Sunda, utamanya saya sendiri. Saya sekarang sedang menggandrungi lagu "Hayang Kawin" karena memang enak dan nikmat didengarkan.

Musik pop Sunda merupakan salah satu produk kebudayaan yang dihasilkan dari dialektika musisi suku Sunda dengan pengalaman rakyat Sunda, kemudian dikemas secara estetik untuk menumbuhkan kembali kesadaran akan jati diri kesundaan. Dengan semangat modernisasi, mereka tidak terpaku pada alat-alat musik Sunda semata, tetapi mengolaborasikannya dengan alat-alat musik Barat (diatonik) untuk melestarikan seni dan budaya sehingga melahirkan genre musik pop Sunda.

Secara historis, menurut Edwin Juriens (2006), kelahiran musik pop Sunda dibidani seniman Bandung Nada Kantjana pada tahun 1950-an. Mereka adalah pelopor pengombinasian lirik Sunda dengan instrumen-instrumen musik pop Barat di bawah pimpinan Muhammad Yassin. Setelah itu, tongkat estafet penciptaan musik pop Sunda diteruskan Djuhari dan Mang Koko. Sekarang, dengan perkembangan zaman yang terjadi, lahir musisi muda independen yang mengawinkan nada-nada Sunda dengan nada rock, pop, hip hop, rap, dan sebagainya.

Pelestarian warisan

Fenomena tersebut merupakan wujud dari keikutsertaan kreativitas budaya yang saling memberikan timbal balik. Musik pop Sunda, seiring dengan waktu yang semakin bergulir, pun tentu menemukan muara perubahan. Akan tetapi, yang harus diperhatikan adalah pelestarian budaya Sunda melalui berbagai instrumen musik. Lewat media musik setiap warisan Ki Sunda akan lebih tahan banting menangkal upaya pendegradasian jati diri masyarakat lokal.

Dalam musik pop Sunda, jati diri terlihat lebih terpelihara karena kesyahduan dan kesederhanaan struktur bahasa (baca: syair) yang disajikan. Akan tetapi, bagi anak muda seangkatan saya, misalnya, diperlukan kolaborasi musik Sunda agar terkesan tidak ketinggalan zaman, misalnya kolaborasi instrumen musik khas Sunda dengan instrumen musik rock yang dilakukan anak-anak band. Ini tidak boleh dilarang karena yang terpenting adalah ada kemauan dari kalangan muda untuk melestarikan budaya Sunda dengan membuat lirik berbahasa Sunda.

Mungkin saja saya serta jajaka dan mojang Sunda lain akan lebih menjiwai alunan lagu Barat meskipun tidak kaharti karena ingin terlihat "gaul". Maka dari itu, lahirnya aliran musik pop atau rock Sunda di belantika kesenian musik merupakan gerbang awal untuk melestarikan bahasa, identitas, filsafat hidup, dan produk budaya warisan Ki Sunda lainnya. Kita semestinya mampu menggunakan media kontemporer untuk kepentingan pelestarian khazanah kesundaan yang eksistensinya kini kian mengerucut pada satu jurang, bukan kepunahan tetapi tepatnya ditinggalkan.

Budaya rakyat

Dalam perspektif studi kebudayaan, pengertian pop culture, salah satunya musik pop Sunda, adalah produk kebudayaan yang berasal dari rakyat, diterapkan dari rakyat, dan merupakan budaya otentik rakyat (John Storey, Teori Budaya dan Budaya Pop, 2004). Ini bisa dibuktikan dengan aransemen ulang nyanyian rakyat Sunda, seperti "Cingcangkeuling" dan "Ayang-ayang Gung", pada tahun pertama kemunculan aliran musik pop Sunda. Inovasi kebudayaan ini juga mengindikasikan bahwa pop Sunda berasal dari pengalaman masyarakat Sunda sehingga menghadirkan kesamaan rasa antara pencipta, penyanyi, dan pendengar.

Lagu "Neng Geulis", "Bubuy Bulan", "Es Lilin", "Ayang-ayang Gung", dan masih banyak lagi yang lain adalah gambaran riil pengalaman hidup para pencipta, penyanyi, serta penikmat musik pop Sunda. Tidak mengherankan, kendati lagu pop Sunda telah berusia kepala lima, pendengar seakan menikmati terus-menerus hingga terhanyut pada pengalaman masa lampau yang tersusun menjadi syair sederhana dalam sebuah lagu pop.

Tidak percaya? Mari kita sejenak merenungi lirik Neng geulis/Pujaan akang/Neng geulis/Akang hoyong tepang/Upami teu aya pamengan. Apakah dengan lirik tersebut kita merasakan pengalaman yang sama ketika berhadapan dengan wanita yang disukai? Orang tua sekarang, pada masa muda dulu, saya kira pernah seseredetan hate dan kacida bungahna tatkala cintanya kepada wanoja yang menjadi istri sekarang diterima.

Lirik lagu "Neng Geulis" itu sederhana, tetapi mengindikasikan kesamaan pengalaman antara pencipta lagu, penyanyi, dan pendengar sehingga mereka hanyut dalam suasana psikologis yang terasa sama. Ketika mengikuti alunan suara penyanyinya, suara sumbang terasa berdendang, bahkan aliran nada yang berhamburan dari bibir terasa tersusun rapi merapatkan barisan laiknya tangga nada. Dalam bahasa masyarakat kontemporer, lebih tepat jika dikatakan musik pop Sunda memiliki pengaruh adiktif kendati masih dapat kita perdebatkan.

Jadi, tidak salah jika kita harus betul-betul mengapresiasi genre musik pop Sunda modern untuk sekadar dijadikan media pemelihara seni dan budaya asli warisan Ki Sunda, baik dalam bentuk bahasa, falsafah hidup, identitas, maupun produk budaya lain. Ini untuk meredam "gelombang pasang" kemajuan zaman yang kian menggerus masyarakat Sunda pada sikap tidak berbudaya dan dislokalisasi kesadaran. Wallahualam.

19 February 2009

Menyegarkan (Kembali) Kesundaan

Menyegarkan (Kembali) Kesundaan

Oleh SUKRON ABDILAH

Tanah Sunda, gemah ripah/Nu ngumbara suka betah/Urang Sunda sawawa/Sing toweksa perceka/Nyangga darma anu nyata//Seuweu Pajajaran/Muga tong kasmaran/Sing tulaten jeung rumaksa/Miara pakaya memang sawajibna/Geuten titen rumawat tanah pusaka//

Sebagai produk pemikiran manusia, Sunda bukan sesuatu yang saklek, pasti, dan tidak boleh diubah. Ia (Sunda) adalah kebudayaan yang selalu berkembang mengikuti perputaran ruang dan waktu. Dengan demikian kesundaan akan terus hidup apabila urang Sunda memahaminya dengan pengalaman hidup masing-masing. Keragaman memahami inilah yang nantinya melahirkan sikap menghargai atas kebudayaan non-sunda yang berkembang di Jawa Barat.

Oleh karena itu, pemberlakukan mengajarkan bahasa-bahasa daerah seperti Cirebon dan Betawi bagi siswa sekolah harus diapresiasi. Sebab, meskipun Jawa Barat mayoritas beretnik Sunda, ada daerah yang berbeda dalam hal kebudayaan, terutama dari bahasa tutur keseharian. Apabila pelajaran bahasa Sunda, misalnya, dibebankan kepada daerah-daerah yang mayoritas dihuni etnik non-sunda, sama saja dengan menumpurkan kebudayaan lain.

Laku lampah seperti itu melenceng dari semangat Ki Sunda yang sedari dulu selalu mencoba menjaga kebudayaan orang di luar Sunda yang bermigrasi ke daerahnya. Pesan damai dan toleran Ki Sunda terlihat jelas dari rangkaian larik yang disusun almarhum Mang Koko, yang menjelaskan sikap someah kepada orang luar Sunda sebagai ciri dari kedewasaan (sawawa). Kalau kita mengaku sebagai Sunda sawawa, saya pikir tidak ada salahnya setiap daerah memberikan pelajaran bermuatan lokal yang berkaitan dengan warisan leluhurnya.

Mengikis fanatisme

Syair yang dikreasi almarhum mang Koko memang tepat menggambarkan alam tanah Sunda yang gemah ripah lohjinawi, dan membuat kaum urban suka-betah mengumbara di tempat ini. Selain tanahnya yang subur, masyarakatnya pun memiliki ikatan solidaritas komunal yang tidak tribalistik, tidak mendiskriminasikan suku lain. Bukti ini terlihat dari pemberian gelar kehormatan daeng, aom, aden, habib dan sebagainya kepada etnis luar Sunda yang tinggal di Pasundan.

Seperti menganut agama, kesundaan kita kini cenderung meminggirkan pemahaman manusia Sunda lain tentang kesundaannya. Fanatisme kesundaan saya pikir sangat berbahaya bagi integrasi bangsa ini. Dengan meminggirkan kebudayaan minor di Jabar adalah bentuk fanatisme "berkedok" lokalitas. Tak heran jika ada seseorang yang melenceng dari pemahaman dirinya tentang kesundaan, ia sewot dan bahkan mengklaim mereka sebagai "tidak nyunda". Padahal, Sunda sangat terbuka terhadap ragam interpretasi. Kesundaan saya hari ini akan berbeda dengan pemahaman urang Sunda generasi 70-an atau 80-an.

Sikap manusia Sunda yang tak berdasar pada nilai-nilai kearifan akan mengubahnya menjadi seorang peragu, tak yakin, dan arogan. Merasa diri adalah berkuasa atas alam tidak akan membentuknya jadi manusia sempurna Sunda. Guru Gantangan sebagai seorang putera Prabu Siliwangi, misalnya, untuk menggapai derajat manusia sempurna dengan melakukan pengembaraan ke dunia luar. Dengan cara inilah, diharapkan manusia Sunda mampu memahami dunia luar yang plural, majemuk, dan dipenuhi diversitas.

Bagi orang yang egois dan fanatis bakal lahir apa yang disebut superioritas sehingga menempatkan orang lain inferior, yang mengakibatkan keretakan hubungan sosial. Maka, memelihara tanah Sunda dan bersikap ramah (someah) kepada kebudayaan di luar Sunda adalah kewajiban seorang Sunda sawawa sebagai petanda tidak terjebak pada romantisme seuweu Pajajaran yang fanatis abis!.

Silang budaya

Bahasa adalah salah satu unsur kebudayaan yang mudah melakukan perkawinan silang dengan bahasa lain. Jika ditelisik secara antropologis, keragaman budaya di Jawa Barat, memberi acuan perilaku pada masyarakat untuk menyadari eksistensi kebudayaan lain di tempat tinggalnya. Pengaruh kebudayaan etnik lain – meminjam teori Denis Lombard – adalah semacam "silang budaya" yang membentuk kesundaan kita hari ini. Salah satu indikatornya persilangan budaya itu bisa terjadi apabila setiap kebudayaan di daerah Jawa Barat dipelihara dan dijaga.

Selain bahasa Sunda, misalnya, pemerintah juga harus tetap menjaga kelestarian bahasa Cirebon, Betawi, China, Arab, Batak, Padang di tanah pusaka ini. Sehingga para penduduk dari luar akan merasa suka betah tinggal atau sekadar berwisata ke Jawa Barat. Secara pribadi, saya merasa iri dengan penguasaan bahasa Sunda masyarakat dari luar. Seandainya sewaktu SMP dulu saya memiliki teman yang mampu berbahasa Jawa, Batak, China, dan Padang; saya akan memintanya menjadi guru bahasa ketiga setelah bahasa Indonesia dan bahasa Sunda.

Sayangnya, ketika mereka sekolah ke daerah-daerah di wilayah Sunda, jarang menggunakan bahasanya. Dan, mencetuskan pemberlakukan muatan lokal bahasa daerah selain bahasa Sunda, saya pikir dapat mendidik anak-anak untuk bertukar kebudayaan dengan orang lain. Dengan inilah perkawinan atau persilangan budaya akan terlihat indah mengemuka. Selain itu, anak-anak Sunda di daerah yang di sekolahnya memberlakukan pelajaran bahasa Cirebon, akan lebih pintar dari saya. Minimalnya, empat bahasa sudah dia kuasai. Inggris, Indonesia, Sunda, dan Cirebon.

Sekadar hiburan, mari kita kutip sisindiran, yang didalamnya terjadi semacam hibridasi bahasa yang dipraktikkan masyarakat Sunda: Miyoto okaino/sora akete/bareto loba kejo/ayeuna hese beleke. Dalam sisindiran itu ada nuansa Japanis yang dipadukan dengan bahasa Sunda. Jadi, betul sekali – seperti disitir Pramoedya Ananta Toer dalam novelnya – bahwa Indonesia (termasuk Sunda di Jawa Barat--pen) adalah anak segala bangsa.

Kalau tak percaya silahkan resapi kata-kata kiyak (Yak, berarti kerbau dalam bahasa China), Arde (al-ardhi, bumi dalam bahasa Arab), Pestol (pistol, berarti senajata genggam dalam bahasa Belanda), hyang (hyang, berarti Tuhan dalam bahasa Sangsakerta), dan masih banyak lagi bahasa Sunda yang lahir dari "silang budaya" dengan kebudayaan di luar Sunda. Bahkan saya menebak-nebak sebutan "aceng" untuk seorang pemuda teguh beragama terinspirasi oleh Laksamana Cheng Ho yang sempat berlabuh di Karawang.

7 February 2009

Erotiskah Jaipongan?

Erotiskah Jaipongan?

Beberapa hari ini, seniman Sunda kembali dikejutkan pernyataan Gubernur Jawa Barat, Ahmad Heryawan, tentang jaipongan yang gerakannya harus diperhalus kembali. Dari pernyataan ini menyiratkan beberapa kemungkinan. Gerakan jaipongan itu masuk ke dalam gerakan erotis. Sebab Ahmad Heryawan – dengan pandangan subjektif-nya – merasa bahwa gerakan-gerakan jaipongan bisa membangkitkan seksual. Kadung saja, hal ini membuat gerah beberapa seniman Sunda di Jawa Barat. Termasuk saya.



Secara pribadi saya menyukai jaipongan dan merasa bahwa gerakan-gerakannya tidak erotis. Ketika menyaksikan tari jaipongan ini, saya tidak sampai berpikir macam-macam. Setiap gerak jaipongan sangat indah untuk dinikmati sehingga tidak sampai terpikir hal-hal yang dipikirkan lelaki hidung belang. Ini bukan berarti (maaf) pak
Ahmad Heryawan hidung belang, lho. Sebab, saya percaya Gubernur Jawa Barat ini termasuk orang yang bisa menundukan hawa nafsunya. Mungkin, latar belakang pendidikan beliau, yang lulusan Timur Tengah terbiasa dengan pandangan “hitam-putih” sehingga memandang seni dari sisi fisik dan material.

Padahal, seni adalah petanda dari suatu peradaban. Begitu juga dengan tari jaipongan. Di dalamnya ada berbagai gerak yang dinamis, plural, dan estetis untuk menyadari bahwa pergaulan masyarakat Sunda itu “miindung ka waktu, mibapa ka zaman” atau sesuai dengan perkembangan zaman. Dalam bahasa lain, orang Sunda itu harus dinamis, pluralis, dan menghargai perbedaan. Satu hal yang membuat saya sedikit kecewa dengan pernyataan bahwa jaipongan harus diperhalus lagi gerakannya. Ada semacam intervensi kekuasaan atas kreativitas seni di suatu daerah. Ideologi yang dianut – meminjam Foucault – cenderung mendapatkan kekuatan ketika sebuah kekuasaan diduduki oleh sang penganut ideologi tersebut. Akibatnya, kebebasan berekspresi dalam hal ini, seni tari jaipongan eksistensi keasliannya terancam.

Saya sedikit memberikan saran saja kepada Gubernur Jawa Barat yang bukan berlatar belakang penikmat kesenian. Silahkan bentuk tim yang menciptakan genre baru di dalam jaipongan. Kelincahan para penari jaipongan bukan sebuah cela atau dosa. Seni berkaiatan dengan keindahan. Jadi, saya secara pribadi menganggap jaipongan sah-sah saja, tidak pornografis, apalagi erotis. Ketimbang bermain ke club untuk berdugem ria, lebih baik kita menggelar acara “tayuban”, jaipongan, dan pergelaran seni lainnya. Itu lebih menjaga jati diri kaum muda, kang. Bahkan, bisa menyelamatkan generasi muda dari ancaman narkotika dan obat terlarang. Selain itu, sebagai warga Sunda, jaipongan akan menjadi identitas lokal dan cita rasa khas beraroma Sunda itu bisa disaksikan ketika jaipongan tidak diusik-usik dengan dalih erotis dan pornografis.

Untuk para seniman Jawa Barat juga jangan lantas kebakaran jenggot. Ini tantangan baru untuk menciptakan gerak jaipongan yang sesuai dengan selera masyarakat. Mungkin, banyak masyarakat yang tidak mengapresiasi seni gerak ini dikarenakan alasan yang sama dengan Bapak Gubernur. Ingat, bahwa seni itu terus berkembang dan menciptakan kembali bentuknya yang baru. Dinamis, plural, dan fleksibel; seperti halnya gerak jaipongan yang dimanis itu. Mari kita cari jalan keluarnya bersama-sama.

Kita lihat aliran musik yang jumlahnya ratusan sehingga sampai sekarang, musik masih menempatkan diri di puncak seni yang banyak dinikmati banyak orang. Itu karena musik tidak berhenti berkreasi. Mungkin, pernyataaan Ahmad Heryawan adalah tantangan bagi seniman di Jawa Barat untuk kembali berkreasi menciptakan jaipongan seperti halnya yang dilakukan maestro tari tradisional Gugun Gumbira.

Begitu saja unek-unek dari saya. Seorang warga Sunda yang tidak ingin melihat jaipongan mati dalam hal ragam gerakannya yang indah. Saya tidak tahu teori tentang jaipongan, tetapi ketika menyaksikan jaipongan yang di setiap daerah berbeda-beda, terhanyut untuk ngibing bersama mereka. Tetapi, karena saya hanya duduk di bangku penonton, akhirnya pundak, tangan, dan kaki bergerak-gerak sendiri. Bahkan, hanya di dalam hati saja saya melakukan gerakan yang sama dengan si penari. Walah...mungkin pak Heryawan juga menari dan menginginkan gerakan yang sesuai dengan seleranya. Kalau begitu, mari kita ciptakan aliran baru dalam jaipongan. Sekadar informasi saja.


27 January 2009

"Sambel Goang" Tak Hanya Pedas

"Sambel Goang" Tak Hanya Pedas

Oleh SUKRON ABDILAH

Sambal atau sambel bagi urang Sunda adalah teman akrab ketika makan yang menjadikan kegiatan santap-menyantap terasa nikmat di lidah. Rasa pedas yang menyebabkan keringat menetes dari dahi dan sesekali dari bibir terucap "suhah" tidak membuat kapok urang Sunda mengkreasi beragam sambal. Salah satu kreasi itu adalah "sambel goang" dan bisa dibuat siapa saja tanpa memandang usia.

Ketika saya kecil, misalnya, untuk menemani nasi liwet hangat ditemani asin sepat, tumis kangkung dan goreng tempe, selalu menyempatkan diri mengulek "sambel goang". Bahan-bahannya sangat merakyat dan tersedia di kebun. Cukup dengan cengek (cabai) ditambah garam, saya sudah bisa menikmati hangatnya tubuh di tengah-tengah alam pedesaan yang begitu dingin.

Di setiap perkampungan, sambal hampir pasti dijadikan penambah selera nafsu makan keluarga. Begitu juga di rumah makan atau restoran yang menyajikan makanan khas Sunda, akan terasa tidak komplit kalau sambal tidak dihidangkan di meja pelanggan. Konon, "sambel goang" berasal dari campurbaur antara basa Sunda dan betawi, yakni "sambel" dan "doang". Ketika diucapkan urang Sunda maka menjadi "sambel goang".

Dari beragam jenis sambel yang ada di tatar Sunda, hanya "sambel goang" yang mencerminkan kesederhanaan hidup. Juga menyimbolkan relasi kosmik yang harmonis antara warga Sunda dengan alam sekitar. Dalam bahasa lain, alam dan manusia Sunda saling membutuhkan.

Kapok, jemu, bosan, dan tak akan mengulangi lagi seolah tidak berlaku bagi urang Sunda yang menyukai sambal. Meskipun sambal akan mengakibatkan mencret-mencret, panas dalam, apalagi kalau disantap orang yang sedang sariawan, tidak menjadikannya hilang dari menu makanan khas Sunda. Ketidakjeraan terhadap pedasnya sambel ini juga mengakibatkan ulama pedesaan sering menyinggung ketaksungguh-sungguhan bertobat dengan "tobat sambel".

Rasa cengek yang pedas bisa menghangatkan suhu tubuh sehingga masyarakat yang hidup di daerah dingin dapat mengusir rasa dinginnya. Karena itulah, sambel pada sebagian masyarakat Sunda posisinya bagai dua sisi mata uang. Dalam bahasa lain, tidak dapat dipisahkan dari menu makanan khas Sunda.

Selain rasa pedas, sambel goang juga ditambah dengan garam agar terasa asin. Kalau lebih kreatif, akan ditambah dengan kecap kehitam-hitaman sehingga rasa manis sedikit terasa dilidah. Berkaitan dengan garam dalam komposisi sambel goang, lagi-lagi Ki Sunda memproduksi bahasa sebagai hasil refleksi mendalam atas kesukaan urang Sunda terhadap rasa asin. Ya, produk bahasa itu adalah "teu uyahan", yang dijadikan sebutan bagi orang yang tak memiliki tata karma, kesopansantunan, dan bertindak kriminal.

Rasa manis juga ternyata memengaruhi urang Sunda untuk memproduksi bahasa yang menyebutkan budi baik seseorang, yakni "amis budi". Hal itu mengindikasikan bahwa ketika urang Sunda mencicipi sesuatu dan menyukainya akan melahirkan suatu kerangka nilai yang diyakini sebagai baik dan buruk. Inilah simbolisasi bahasa yang cerdas dan cergas dari Ki Sunda, sehingga bahasa Sunda terlihat fleksibel, dinamis, dan selalu berkembang.

Seperti yang diungkapkan Acep Iwan Saidi bahwa budaya atau "culture" secara semiologis berdekatan dengan kata "nature" yang berarti budaya merupakan hasil dialektika manusia dengan alam (nature). Begitulah yang terjadi dengan sambel di dalam kehidupan masyarakat Sunda. Dari rasa yang terdapat dalam komposisi sambal lahirlah istilah-istilah etika moral Sunda seperti "teu uyahan (tidak punya rasa malu)", "amis budi (sopan santu)", dan "tobat sambel (tidak sungguh-sungguh)".

Tedi Muhtadin, seorang pengajar Sastra Unpad, tahun 2002 pernah menulis artikel tentang keterkaitan "sambel goang" dan produksi bahasa. Katanya, sambel goang merupakan aktualisasi bahasa dari "resep" tentang "sambel goang". Resep yang digunakan untuk membuat sambal ini saya rasa merupakan cita rasa khas Sunda yang memengaruhi sikap dan falsafah hidupnya."Goang" atau "doang" atau "an sich" adalah falsafah hidup yang mencerminkan kesederhanaan, nrimo, dan bersyukur atas nikmat hidup. Sebab, banyak orang yang dilarang oleh dokter untuk mengonsumsi sambal. Di dalam masyarakat Sunda, hari ini "sambel goang" bisa diperoleh di restoran-restoran yang menyajikan ikan bakar, tempe goreng, lalap, dan nasi hangat (liwet) yang aduhai nikmatnya. Siapa ingin mencoba "sambel goang", silahkan bikin sendiri. mudah kok?

20 January 2009

Kritisisme Sunda dalam "Sisindiran"

Kritisisme Sunda dalam "Sisindiran"

Oleh SUKRON ABDILAH

Sisindiran berasal dari kata sindir, yang berarti perkataan yang tidak langsung ditujukan kepada orang yang dimaksud. Sebagai salah satu bentuk sastra lama, didalamnya ada kritisisme, ucapan memojokkan, dan menyindir seseorang secara halus dengan merangkaikan kata-kata estetis (paparikan dan sampiran). Ini mengindikasikan, masyarakat Sunda sangat menghargai eksistensi orang lain, apalagi sisindiran kerap dinyanyikan sehingga menambah kesan kritisisme urang Sunda tidak meminggirkan harga diri orang lain.

Estetika atau keindahan sisindiran laiknya syair yang ditulis seorang penyair, sehingga kita akan menemukan estetika bahasa dalam menyampaikan kritik yang dilakukan urang Sunda. Dalam tulisan ini, saya tidak akan mempersoalkan asal-usul historik sisindiran dan kaitannya dengan bahasa Sunda. Tetapi, mengetengahkan sikap kritis orang Sunda terhadap kondisi dirinya, orang lain, dan masyarakat; baik yang berkaitan dengan kelemahan, kekurangan, atau penderitaannya.

Horizon urang Sunda

Sisindiran adalah kreasi kultural yang menandakan horizon warganya. Sisindiran, yang dahulu menjadi semacam arus utama kebudayaan Sunda di kalangan generasi muda, didalamnya terdapat bahasa, identitas, filsafat hidup, dan kearifan budaya khas Sunda. Itu semua berpengaruh pada pandangan kritis masyarakat Sunda yang tidak disampaikan secara langsung atau togmol, karena disinyalir hal itu bisa merendahkan atau menyakiti hati orang lain.

Maka, ketika mengkritisi sesuatu hal, mungkin karena kelembutan urang Sunda, kita selalu meminta maaf terlebih dahulu agar tidak menyakiti seseorang. Misalnya, bisa kita lihat dari sisindiran berikut: Saninten buah saninten/dibawa ka parapatan/hapunten abdi hapunten/bilih aya kalepatan. Urang Sunda, baik sebagai individu maupun kelompok dengan ini sadar atas potensi kesalahan yang dapat menyinggung seseorang, sehingga meminta maaf sebelum atau setelah melakukan kritik.

Tidak bisa dimungkiri, kritisisme adalah keniscayaan dalam menghidupkan peradaban. Pikiran-pikiran kritis adalah tonggak awal terciptanya peradaban di suatu daerah, komunitas, dan masyarakat. Namun, model manusia kritis yang egois adalah yang tidak menerima bahwa pemikiran seseorang itu berkembang sesuai wawasan. Sehingga, dengan demikian tidak akan terjadi perendahan yang mencibir seseorang dalam mengembangkan ilmu pengetahuannya. Bagi orang yang menganut egoisme, akan lahir superioritas diri dan menempatkan orang lain inferior, akan berakibat pada retaknya hubungan sosial.

Dalam sisindiran, horizon masyarakat kritis Sunda terlihat estetis dan dikemas secara halus sehingga sangat enak untuk didengarkan. Ini mengindikasikan bahwa urang Sunda tidak menempatkan orang lain rendah, bodoh, apalagi sebagai orang yang tak beradab. Meskipun kritikan itu diberikan kepada orang yang tak beradab, tetap saja urang Sunda mengemasnya secara indah dalam bentuk sisindiran. Alhasil, secara sosial tidak terjadi perpecahan karena sindiran itu indah didengar, malahan akan dibalas dengan sindiran yang lain. Kolektivisme di dalam horizon warga Sunda telah menjadi bagian dari falsafah hidupnya, sehingga membentuk kalimat nasihat-menasihati (baca: sisindiran) sebagai wujud dari persamaan derajat (kalimatun sawa).

Mediasi Kultural

Selain kreasi kultural, sisindiran juga adalah media kultural untuk menjalankan fungsinya mengkritisi kebijakan diskriminatif yang dikeluarkan pemerintah yang sedang berkuasa. Dalam hal ini, bunyi sisindiran acapkali dicipta urang Sunda karena ketidaksetujuannya atas diskriminasi yang dilakukan pemerintah, khususnya kaum penjajah Jepang. Sebab, di masa penjajahan bangsa Nippon ini, katanya, banyak terjadi eksploitasi bagi seluruh rakyat nusantara, tak terkecuali masyarakat Sunda.

Kritisisme sebagai luapan tidak puas terhadap kinerja penjajah, khususnya Jepang (Nippon) bisa dibaca dalam sisindiran berikut: Sapanjang jalan cirebon/moal weleh diaspalan/sapanjang dijajah nipon/moal weleh tatambalan. Yang lainnya: Cau raja cau ambon/cau lampung cau batu/boga raja urang Nippon/urang kampong henteu nyatu. Dan, yang paling bagus adalah hibridasi bahasa dalam sisindiran dengan menyertakan bahasa yang agak Japanis, sebagai berikut: Miyoto okaino/sora akete/bareto loba kejo/ayeuna hese beleke.

Ketiga sisindiran yang berisi paparikan dan sampiran atau cangkang dan eusi di atas, adalah mediasi kritikan urang Sunda terhadap kebijakan diskriminatif negara jepang ketika menjajah Indonesia. Maka, tak heran jika dalam perbincangan masyarakat Sunda kita pernah mendengar istilah sindir-sampir. Yakni kritikan yang didalamnya berisi hal-hal yang menyangkut kelebihan, kekurangan, dan kebejadan perilaku dari orang yang dikritisi.

Nah, untuk konteks kekinian juga, Sunda tidak setuju dengan praktik korupsi. Misalnya ini dapat dilihat dari sisindiran berikut: Mun urang rek ka babatan/kade ulah make taksi/mun urang boga jabatan/kade ulah sok korupsi. Selain mengkritisi perilaku bejad, sisindiran ini mengandung edukasi atau piwuruk bagi masyarakat Sunda yang sudah menjadi pejabat dan masih menjadi cikal bakal calon pejabat. Sisindiran ini memediasi rakyat Sunda agar tersadar bahwa kadangkala jabatan bisa menyebabkan seseorang melakukan korupsi. Oleh karena itu, harus hati-hati dan mawas diri.

Kita (urang Sunda) tidak pernah menyetujui praktik bejad yang merugikan Negara ini, meskipun ada banyak urang Sunda yang menjadi pejabat terjerat praktik korupsi, kolusi, dan nepotisme. Dengan melestarikan sisindiran sebagai bentuk kreasi kultural urang Sunda, mudah-mudahan para pejabat sadar dan menyadari bahwa praktik KKN tidak disetujui oleh orang lain dan dirinya. Dan, sekadar usul dari saya, kalau caleg pemilu 2009 nanti berkampanye adakan saja acara sisindiran yang dikemas seatraktif mungkin.

Dengan ini diharapkan para pejabat sadar diri, menyelami persoalan bangsa, dan mampu menyusun kebijakan yang pro rakyat. Lebih bagus lagi, kalau semua itu dikemas dalam bentuk sisindiran. Asyik saya rasa, karena akan meramaikan kampanye pemilu 2009, seperti yang sering dilakukan kalangan muda lewat perang mulut di dunia Rap sebagai subkultur pop Amerika Serikat. Namun, akankah hal itu bisa dilaksanakan pada masyarakat Sunda, apalagi orang tuanya, yang masih sering mudah tersinggung? Saya berharap bisa, karena kita hidup di tengah-tengah arus demokratisasi.



13 December 2008

Sunda Kini dan Bahasa

Sunda Kini dan Bahasa

Oleh SUKRON ABDILAH

(Artikel ini dimuat Kompas Jawa Barat, Sabtu 13 Desember 2008)

Sunda sebagai suatu etnik, menyisakan aneka warisan kultural dalam kehidupan masyarakat Jawa Barat; kendati, tidak seluruhnya warga Jabar ini bersuku Sunda. Perkembangan zaman, tentunya menyebabkan Sunda kiwari bermetamorfosa, baik secara kultural, sosial, filsafat, dan pandangan hidup ke arah yang sesuai perkembangan zaman. Jadi, urang Sunda zaman dulu akan berbeda dengan generasi Sunda kiwari.

Kini, generasi muda Sunda banyak yang tidak mengindahkan warisan kultural Ki Sunda, karena adanya pergesekan Sunda vis a vis kebudayaan luar, sehingga mereka merepresi jati diri kebudayaannya ke alam bawah sadar. Utamanya, nonoman (anak muda) yang lebih tertarik dengan daya tarik kebudayaan yang lebih maju dan trendy, hingga melahirkan generasi Sunda yang gagap dengan kebudayaannya sendiri, utamanya dalam hal berkomunikasi menggunakan bahasa Sunda.

Penurunan bahasa Sunda

Menurunnya jumlah penutur bahasa Sunda, saya pikir disebabkan kurangnya kecintaan warga dan ada kerumitan tata-aturan (undak-usuk) berbahasa. Akibatnya, urang Sunda muda takut berbicara dengan bahasa ibu karena tidak mau dicap sebagai orang tak berbudaya luhur. Saya pikir, bahasa Sunda akan terus mencari bentuknya dan mengikuti perkembangan zaman (berproses), seperti halnya, ketika ia (Sunda) dipengaruhi budaya Budha-Hindu (India), Jawa, Arab, dan Belanda.

Tentunya khazanah kebudayaan luar Sunda itu – terutama bahasanya – banyak diadopsi, dikreasi, dan dihibridasi ke dalam horizon masyarakat lokal Sunda. Misalnya, Muhammad menjadi mad atau mamad, Aisyah jadi Isah, al-ardhi menjadi arde, dan masih banyak lagi contoh kreasi masyarakat Sunda baheula. Mereka tidak bendu, ngambek, marah, ghadab, atau angry pada generasi mudanya ketika dalam keseharian (lisan atau sastra) memasukkan kata dari bahasa luar.

Beberapa bulan ke belakang, ada penelitian yang menggemparkan, karena – katanya – warga Sunda tidak lagi menggunakan bahasa Sunda ketika berkomunikasi dengan sesama Sunda. Tentu saja kita "kebakaran jenggot", apalagi sesepuh, pendidik, guru bahasa Sunda, budayawan, seniman, aktivis kebudayaan Sunda, dan yang lainnya. Akibatnya, generasi muda, orang tua, guru, bahkan aparat pemerintahan dituduh sebagai yang bertanggung jawab terhadap penurunan warga Sunda yang berbahasa ibu dalam berkomunikasi.

Kalau sampel penelitiannya di perkotaan, logis terjadi. Sebab, perkotaan merupakan tempat terbesar kaum urban, yang mengakibatkan sebuah kota dijejali para pendatang dari pelbagai etnik, bangsa, agama, bahkan ideologi. Hal itu akan memengaruhi masyarakat menggunakan bahasa nasional agar lebih dimengerti dan dipahami warga dari pelbagai kalangan. Jadi, jangan heran kalau di Bandung, misalnya, kita akan susah menemukan atau hanya sesekali mendengar ABG atau generasi muda Sunda yang bertutur bahasa ibu.

Kalaupun berbahasa Sunda; saya, generasi muda dan masyarakat Sunda kiwari, banyak yang tidak taat terhadap undak-usuk bahasa dan acap kali disebut urang Sunda yang tidak etis dan tidak bertatakrama. Jadi, jangan menyalahkan kaum muda, yang tidak ngeh dengan bahasa ibunya. Saya yakin generasi muda, baik di kota atau desa, masih ada yang menggunakan bahasa Sunda ketika acara-acara informal tengah berlangsung. Hanya saja, di acara formal, berbahasa Sunda jarang dilakukan.

Ketakutan para aktivis budaya lokal Sunda terhadap hilangnya etnis Sunda di masa mendatang, salah satunya kepunahan bahasa Sunda, memang logis. Namun, memproteksi generasi muda Sunda terhadap kebudayaan luar akan mematikan daya kreatif manusia Sunda ke depan. Alhasil, Sunda – sebagai gerakan kultural – akan meninabobokan dirinya di dalam tempurung yang sempit, kaku, stagnan, dan rigid; sehingga dari sisi peradaban akan tertinggal jauh. Padahal, rumusan utama kebudayaan adalah dinamis. Tidak statis!

Semangat baru Sunda

Pelestarian budaya Sunda juga, tidak pantas kalau terjebak "romantisme" kejayaan masa lalu, tetapi harus melihat ke depan (futuris) untuk merumuskan Sunda masa depan yang tetap diakui dunia. Sebab, kendati hidup di zaman teknologis, misalnya, justru akan ada generasi baru yang menyadari bahwa ia tengah melupakan kebudayaannya. Alhasil, muncul gerak kesundaan dalam wajahnya yang baru. Seperti yang terjadi saat ini, ketika bahasa Sunda banyak ditinggalkan generasi muda, ada sekelompok nonoman Sunda yang masih peduli. Bahkan mereka melakukan upaya-upaya penangkalan atas ancaman kebudayaan global dengan memanfaatkan apa yang dibawa oleh globalisasi.

Misalnya, seorang Dhipa Galuh Purba, salah satu generasi muda Sunda, memposting artikel berbahasa Sunda di website-nya. Online Majalah Cupumanik (www.cupumanik.com) juga adalah tanda bahwa kita tidak usah takut atas kematian bahasa Sunda, yang kerap diangkat di setiap media massa. pokoknya, selama masih muncul entry berbahasa Sunda, tatkala mengetiknya di kolom search engine, selama itu pula bahasa Sunda tidak akan punah. Itulah semangat baru Sunda!

Oleh karena itu, upaya kita ngigeulan dan ngigeulkeun zaman adalah kemutlakan tak nisbi. Sebab, Sunda – sebagai falsafah hidup – khususnya dalam bahasa, mesti miindung ka waktu, mibapa ka zaman. Saya berharap para inohong, nonoman, dan kokolot Sunda bekerja sama dan ekstra keras mendidik generasi muda agar tercipta komunitas anak muda yang melek kesundaan. Utamanya, tidak anti-perubahan guna memberikan sumbangsih pemikiran untuk kelestarian bahasa Sunda ke depan.

Mudah-mudahan – sebagai generasi muda – kita bisa bermetamorfosa hingga menyadari bahwa kearifan lokal di tatar Sunda terserak dan harus mulai dipunguti kembali. Dan, setelah dipunguti, tidak membuangnya ke tong sampah. Tapi, disakuan dina ati sanubari, agar laku dan kata saluyu dengan ajen-inajen kesundaan yang diwariskan Karuhun. Askes interent yang begitu mudah saat ini, tentunya bisa menjaga agar bahasa Sunda – sebagai salah satu kearifan lokal – tetap lestari, meskipun secara bentuk berubah, karena terpengaruh bahasa dari luar.

Untuk melestarikan bahasa Sunda, alangkah tepat rasanya, jika stakholder dari kalangan Sunda mengadakan semacam pembinaan atau pelatihan terhadap warga desa dalam menggunakan internet (khusunya blog). Sebab, mereka masih biasa menggunakan bahasa Sunda dalam percakapan informal maupun formal. Semoga saja hasilnya, mereka (warga kampung Sunda) bisa memposting konten blog, misalnya, dengan menggunakan bahasa Sunda.

Lantas, bagaimana dengan biayanya? Ah…, itu hanya saran ti simkuring, pangersa!


1 November 2008

"Pancakaki", Silaturahim Urang Sunda

"Pancakaki", Silaturahim Urang Sunda

Oleh Sukron Abdilah
Kompas, Sabtu, 1 November 2008

Hari Lebaran lalu, saya kedatangan tamu dari desa lain. Kakak saya yang paling besar (cikal) memperkenalkannya dan melontarkan kata-kata, "Sok, pancakaki heula maneh teh (Silakan berkenalan dulu kamu ini)". Ternyata, setelah mengobrol panjang lebar, tamu itu adalah keponakan (alo) dari ayah saya (alm), yang telah sekian lama tidak bersilaturahim. Sejak kecil, baru sekarang ia ber-pancakaki dengan keluarga saya karena kebetulan bertemu dengan kakak saya di Jakarta. Ternyata tamu itu satu garis keturunan dengan saya.



Penelusuran garis keturunan (sakeseler) dalam khazanah kesundaan diistilahkan dengan pancakaki. Dalam Kamus Umum Basa Sunda (1993), pancakaki diartikan dengan dua pengertian. Pertama, pancakaki menunjukkan hubungan seseorang dalam garis keluarga (perenahna jelema ka jelema deui anu sakulawarga atawa kaasup baraya keneh). Kita pasti mengenal istilah kekerabatan, seperti indung, bapa, aki, nini, emang, bibi, euceu, anak, incu, buyut, alo, suan, kapiadi, kapilanceuk, aki ti gigir, dan nini ti gigir.

Istilah tersebut merupakan sistem kekerabatan masyarakat Sunda yang didasarkan pada hubungan seseorang dalam sebuah komunitas keluarga. Dalam sistem kekerabatan urang Sunda diakui juga garis saudara (nasab) dari bapak dan ibu, seperti bibi, emang, kapiadi, kapilanceuk, nini ti gigir, dan aki ti gigir.

Kedua, pancakaki juga bisa diartikan sebagai proses penelusuran hubungan seseorang dalam jalur kekerabatan (mapay perenahna kabarayaan). Secara empiris, ketika kita mengunjungi suatu daerah, pihak yang dikunjungi akan membuka percakapan, "Ujang teh ti mana jeung putra saha (Adik itu dari mana dan anak siapa)?" Ini dilakukan untuk mengetahui asal-usul keturunan tamu sehingga sohibulbet atau pribumi akan lebih akrab atau wanoh dengan semah guna mendobrak kekikukan dalam berinteraksi dan berkomunikasi.

Maka, pancakaki pada pengertian ini adalah proses pengorekan informasi keturunan untuk menemukan garis kekerabatan yang sempat putus. Biasanya hal ini terjadi ketika seseorang nganjang ke suatu daerah dan di sana ia menemukan bahwa antara si pemilik rumah dan dirinya ada ikatan persaudaraan. Maka, ada peribahasa bahwa dunia itu tidak selebar daun kelor. Antara saya dan Anda, mungkin kalau ber-pancakaki, ternyata dulur. Minimal sadulur jauh.

Asal-usul keturunan

Menurut Edi S Ekadjati (Kebudayaan Sunda, 2005), urang Sunda memperhitungkan dan mengakui kekerabatan bilateral, baik dari garis bapak maupun ibu. Ini berbeda dengan sistem kekerabatan orang Minang dan Batak yang menganut sistem kekerabatan matriarkal dan patriarkal, yaitu hanya memperhitungkan garis ibu dan garis keturunan bapak.

Pancakaki dalam bahasa Indonesia mungkin agak sepadan dengan silsilah, yakni kata yang digunakan untuk menunjukkan asal-usul nenek moyang beserta keturunannya. Akan tetapi, ada perbedaannya. Menurut Ajip Rosidi (1996), pancakaki memiliki pengertian hubungan seseorang dengan seseorang yang memastikan adanya tali keturunan atau persaudaraan. Namun, menjadi adat istiadat dan kebiasaan yang penting dalam hidup urang Sunda, karena selain menggambarkan sifat-sifat urang Sunda yang ingin selalu bersilaturahim, itu juga merupakan kebutuhan untuk menentukan sebutan masing-masing pihak dalam menggunakan bahasa Sunda.

Mengapa? Sebab, pancakaki sebagai produk kebudayaan Sunda diproduksi karuhun Ki Sunda untuk menciptakan relasi sosial dan komunikasi interpersonal yang harmonis dalam komunitas, salah satunya ajen-inajen berbahasa. Tidak mungkin, jika kita tahu si A atau si B memiliki hubungan kekerabatan dengan kita, dan lebih tua, kita mencla-mencle berbicara tak sopan. Jadi, dengan ber-pancakaki sebetulnya kita (urang Sunda) tengah membina silaturahim dengan setiap orang.

Komponen kebudayaan

Kuntowijoyo dalam buku berjudul Budaya dan Masyarakat (2006:6), menulis bahwa dalam budaya kita akan ditemukan adanya tiga komponen pokok, yaitu lembaga budaya, isi budaya, dan efek budaya (norma-norma). Lembaga budaya menanyakan siapa penghasil produk budaya, pengontrol, dan bagaimana kontrol itu dilakukan. Isi (substansi) budaya menanyakan apa yang dihasilkan atau simbol-simbol apa saja yang diusahakan. Adapun efek budaya menanyakan konsekuensi apa yang diharapkan.

Maka, anomali budaya (kebudayaan disfungsional) akan terjadi jika simbol dan normanya tidak lagi diejawantahkan masyarakat. Akibatnya, muncul kontradiksi sehingga memicu lahirnya kelumpuhan dasar-dasar relasi secara sosiologis. Ini akan terjadi juga dalam ruang lingkup relasi sosial kemasyarakatan urang Sunda jika pancakaki sebagai isi kebudayaan lokal tidak mendapatkan porsi pengamalan dan pelestarian. Efek kebudayaan pun tidak akan dirasakan, seperti menggejalanya keterputusan komunikasi dan relasi antar-dulur (kerabat) yang satu dengan yang lain.

Ketika tidak memiliki efek budaya, hal itu akan memicu lahirnya anomali akibat minimnya keinginan kita untuk mengaktifkan simbol kebudayaan, salah satunya pancakaki, dalam hidup keseharian. Tradisi silaturahim atau silaturahim khas Sunda (baca: pancakaki) ini sesuai dengan ajaran agama yang mengajarkan umatnya untuk menyebarkan keselamatan. Silaturahim juga merupakan salah satu penentu masuk surga dan terciptanya keharmonisan interaksi.

Namun, bagi urang Sunda kiwari, ber-pancakaki tidak hanya dilakukan untuk menelusuri garis keturunan, tetapi juga menelusuri dari mana asal diri kita. Karena itu, seorang pengusaha dan pejabat, umpamanya, sadar bahwa sebetulnya mereka berasal dari rakyat.

Karena itu, saatnya kita ber-pancakaki. Lirik kiri-kanan, jangan-jangan ada keluarga dekat atau jauh, bahkan rakyat miskin yang tak bisa makan. Sebab, dalam ajaran agama, semua manusia bersaudara. Semua berasal dari Nabi Adam AS. Jadi, dulur sadayana oge manusa mah! Wallahualam.

SUKRON ABDILAH Pegiat Studi Agama dan Kearifan Lokal Sunda



5 July 2008

Hermeneutika Naskah Sunda

Hermeneutika Naskah Sunda

Oleh SUKRON ABDILAH

(Artikel Ini dimuat di Kompas Biro Jawa Barat, 05 Juli 2008)

Dalam naskah kuno Sunda, kita akan menemukan cerita kejayaan kerajaan Sunda. Naskah itu berbentuk pantun Sunda, babad, wawacan, carita, dan kisah-kisah penuturan dari masyarakat Sunda secara lisan. Hampir di setiap daerah tatar Sunda, ada naskah cerita yang mengaitkan luluhur (nenek moyang) daerah tersebut dengan Prabu Siliwangi. Ini merupakan tanda, orang Sunda memiliki pola pemikiran hampir sama antara satu daerah dan daerah lainnya.

Pemikiran bahwa dirinya merupakan keturunan raja Pajajaran yang heroik, dihormati, ditakuti, dan memiliki kesaktian hampir terdapat dalam naskah berbentuk pantun Sunda, babad, wawacan, dan sebagainya. Pada masa mudanya, dalam pantun Sunda atau wawacan, seorang pangeran keturunan Siliwangi kerap melakukan pengembaraan ke langit untuk bertemu Batara Guru atau Sunan Ambu, dan ke dasar bumi untuk mengalahkan Jonggrang Kalapitung, Buta Hejo, atau dedemit yang rakus.
....
Pengembaraan tokoh dalam naskah Sunda sempat ditafsirkan oleh Jakob Sumardjo secara cerdik. Manusia Sunda dalam perspektif Jakob Sumardjo adalah penyatu dualisme kosmos, dunia atas-langit dan dunia bawah-bumi, sakral dan profan, bahkan yang ilahiyah dan manusiawi adalah dualisme yang bisa disatukan manusia Sunda (Hermeneutika Sunda; Simbol-simbol Babad Pakuan/Guru Gantangan, 2004). Tesis itu dilontarkan Jakob Sumardjo setelah beliau melakukan upaya hermeneutis ketika membaca naskah Sunda sebagai satu dari sekian banyak produk kebudayaan.

Jadi, ketika cerita Sunda telah menjadi mitos, sesungguhnya, melakukan upaya hermeneutis terhadap teks akan terus menghidupkan kembali mitos yang telah mati sehingga dapat berjalan-beriringan dengan konteks masyarakat sekitar. Hal ini ditangkap Jakob Sumardjo dengan menafsirkan Babad Pakuan secara hermeneutis agar masyarakat Sunda sadar bahwa secara genealogis nenek moyangnya pernah menganut agama Hindu-Buddha yang bersifat mistis-spiritual.

Setiap usaha para pemikir dalam menafsirkan kebudayaannya tentu saja tidak bisa dilepaskan diri dari tendensi subyektivitas, yang bisa menggerus produk penafsirannya dalam kubangan relativitas. Nilai keabsahannya tidaklah bersifat absolut. Sebab, budaya senantiasa "mengepakkan sayap" untuk terus terbang atau bertransformasi menyesuaikan diri dengan putaran ruang dan waktu. Begitu juga dengan kebudayaan Sunda yang sampai saat ini akan dan masih terus mengubah wujudnya agar banyak dijadikan falsafah hidup.

Pendekatan hermeneutis

Hermeneutika berasal dari bahasa Yunani, hermeneuies, yang berarti membaca atau menafsirkan. Kata ini sering kali dikaitkan dengan cerita mitologis Yunani kuno, yakni Hermes, utusan dewa yang bertugas menyampaikan pesan dari dewa kepada manusia agar bisa dipahami secara mudah. Kalau Hermes tidak berhasil menyampaikan pesan kepada manusia dengan tepat, akan muncul kehancuran. Indikasi keberhasilan menyampaikan pesan itu adalah adanya manusia yang tidak tahu menjadi tahu (Sibawaihi, 2007: 6).

Maka, untuk memperoleh kesimpulan yang tak melenceng dari makna teks dalam naskah Sunda, kita bisa menelusurinya dengan pendekatan hermeneutis. Itulah cara yang ditempuh Jakob Sumardjo dengan menawarkan pisau analisis berupa konsep tritangtu Sunda ketika menafsirkan naskah-naskah yang dibuat leluhur masyarakat Sunda. Kesimpulannya, salah satu upaya hermeneutik terhadap kebudayaan Sunda adalah dengan mengetengahkan pembacaan tritangtu yang simbolik.

Ia menafsirkan produk kebudayaan Sunda yang mewujud menjadi korpus teks yang jarang ditafsirkan masyarakat Sunda secara cerdik dan ilmiah. Alhasil, makna di balik teks (beyond the text) kisah raja Pajajaran berupa babad, pantun Sunda, atau wawacan menemukan bentuk makna aslinya.

Misalnya, anutan agama masyarakat Sunda buhun (dulu) pernah disinggahi ajaran Hindu dan Buddha. Bahkan, seperti yang dikatakan Jakob Sumardjo, dalam kisah pantun Sunda, misalnya, ketika membaca naskah Sunda akan diketahui, masyarakat Sunda waktu itu menganut pemikiran religi yang mistis-spiritual. Selain itu, pokok pemikiran Sunda juga selalu membentuk pola dualisme-antagonistik (Jakob Sumardjo, Simbol-simbol Artefak Sunda, 2003).

"Tritangtu"

Jakob Sumardjo, meskipun berasal dari Jawa, sadar atas budaya lingkungan sekitarnya (budaya Sunda). Maka, layak kiranya jika ia disebut sebagai "man is an interpreter being", yang menafsirkan kebudayaan Sunda dengan aneka tendensi yang melatarbelakanginya menawarkan konsep tritangtu dalam membaca kesundaan. Arti tritangtu Sunda adalah tiga ketentuan yang harus dipegang masyarakat Sunda ketika menjalani hidup kesehariannya.

Lebih kurang, konsep tritangtu kesundaan ini berkisar pada aktivitas kehidupan masyarakat Sunda yang dibagi-bagi menjadi dua wilayah yang paradoks, seperti dalam konsep teo-kosmologis orang Sunda ada yang dinamakan dunia atas dan dunia bawah. Sebagai konvergensi dari dunia atas dan dunia bawah, ada yang dinamakan dunia tengah. Manusia yang hidup di dunia tengah adalah perwujudan dari dewa atas dan dewa bumi.

Meskipun memiliki perspektif lain ketika menafsirkan Babad Pakuan, saya sangat menghargai tawaran tritangtu kesundaan khas Jakob Sumardjo. Sebab, tiga hal itu mengindikasikan hubungan manusia-Tuhan-alam. Secara hermeneutis, itulah yang ingin disampaikan Jakob Sumardjo kepada masyarakat Sunda. Dalam penafsiran terhadap teks-teks sastra atau karya tulis, dunia si pembaca (the world of reader) sangat menentukan. Maka, ketika kangmas Jakob membaca naskah Babad Pakuan dan menafsirkannya, hasilnya tidak bisa dilepaskan dari pengaruh sosio-religius-budaya kesehariannya.

Lantas, bisakah kita, orang Sunda menafsirkan babad, wawacan, dan pantun Sunda yang mitologis menjadi rasional dan kontekstual dengan zaman Sunda kiwari? Saya rasa kita bisa menafsirkan kisah perjuangan keturunan raja Pajajaran dengan aneka tendensi keilmuan. Secara hermeneutis itu sah-sah saja. Yang pasti, dengan usaha hermeneutis yang dilakukan Jakob Sumardjo, masyarakat Sunda akan tersadar bahwa Sunda tidak seperti yang digagas (alm) Endang S Anshari: Islam-Sunda dan Sunda-Islam.

Dengan adanya penafsiran terhadap naskah warisan leluhur Sunda, kita akan berlapang dada ketika ada orang Sunda yang menganut agama Kristen, Hindu, Buddha, bahkan penganut agama asli Sunda Wiwitan. Nikmat rasanya jika urang Sunda mampu menafsirkan warisan kebudayaannya untuk kepentingan harmonisasi di ranah sosial-keagamaan. Sebab, kita tidak bisa memukul rata: masyarakat Sunda harus menganut salah satu agama. Keyakinan adalah hak prerogatif setiap manusia Sunda.

SUKRON ABDILAH Pemerhati Budaya Sunda, Pegiat Studi Agama dan Kearifan Lokal Sunda


14 June 2008

Glokalisasi Urang Sunda

Glokalisasi Urang Sunda

Oleh Sukron Abdilah

(Artikel ini dimuat H.U. Kompas Biro Jawa Barat, 14 Juni 2008)

Ketika menjelajahi dunia maya atau internet untuk mencari informasi tentang glokalisasi menggunakan search engine Google sampai pada kalimat: Glocalization (or glocalisation) is a portmanteau of globalization and localization. By definition, the term "glocal' refers to the individual, group, division, unit, organization, and community which and is able to "think globally and act locally". The term has been used to show the human capacity to bridge scales (from local to global) and to help overcome meso-scale, bounded, "little box" thinking (Wikipedia.org).
Terjemahan bebasnya, glokalisasi adalah perlabuhan antara globalisasi dan lokalisasi. Secara bahasa, "glokal" berarti individu, grup, divisi, unit, organisasi, dan komunitas yang mampu berpikir secara global dan bertindak lokal. Istilah ini digunakan untuk menunjukkan kapasitas manusia dalam menjembatani skala (dari lokal ke global) dan untuk menanggulangi pikiran-pikiran yang meso-skala, keluar batas, dan sempit.
....
Masyarakat lokal yang memanfaatkan kemajuan teknologi informasi dan komunikasi, menurut penganut teori convergence, telah melakukan glokalisasi. Ya, globalisasi berkonvergensi dengan lokalisasi lewat pemanfaatan teknologi global untuk menghidupkan identitas budaya asli (indigenous culture). Maka, dengan menggunakan media internet, urang Sunda bisa menuangkan pikiran atau pengalaman lokal melalui blog, website, dan mailing list sehingga ikatan lokal menguat dan bisa dilihat serta dirasakan (look and feel).

Medium melestarikan budaya

Urang Sunda yang melek internet merupakan ejawantah dari peribahasa miindung ka waktu mibapa ka zaman. Dengan komputer atau laptop yang terkoneksi ke internet, hal itu bisa kita jadikan alat pengantar pesan (the medium is the message), terutama pesan yang berisi tentang khazanah kebudayaan Sunda. Andai urang Sunda tidak ngigelan dan ngigelkeun perkembangan zaman, jangan heran Sunda bakal termasuk ribuan etnis di dunia yang akan segera punah.

Maka, memanfaatkan teknologi informasi yang diboyong arus globalisasi-salah satunya internet-dalam menginformasikan soal kesundaan merupakan satu usaha guna memelihara kelestarian seni dan budaya Sunda. Oleh karena itu, generasi muda mesti proaktif melakukan penetrasi budaya global (mancanegara) dengan cara meng-upload konten berupa teks, video, dan foto yang berisi kebudayaan lokal masyarakat Sunda di mailing list, blog, dan website.

Apalagi, eksistensi seni dan budaya di Jawa Barat saat ini kian terancam. Menurut informasi, dari delapan cabang seni berjumlah 257 jenis yang terdokumentasikan, sekitar 124 masih berkembang, 100 tidak berkembang, dan 26 jenis kesenian telah punah. Sementara itu, nilai-nilai tradisional yang terdokumentasikan meliputi 145 macam makanan tradisional, 25 permainan rakyat, 12 kampung adat, 20 cerita rakyat, 39 upacara adat, dan sebagainya.

Menjadi keniscayaan bagi kita memanfaatkan perangkat komputer dan internet agar eksistensi seni-budaya Sunda atau budaya lain di Jabar terpelihara. Maka, kita jangan menjadi urang Sunda yang posisinya sama dengan katak dalam tempurung. Ia tidak tahu tentang perkembangan teknologi informasi dan tidak mau menunjukkan kepada orang lain (dengan mengeksiskan Sunda lewat website atau blog) bahwa etnis Sunda itu eksis.

Globalisasi-khususnya di bidang teknologi informasi-tentu saja mesti dimanfaatkan urang Sunda untuk melakukan penetrasi budaya luar. Itulah yang diistilahkan para sosiolog penganut konvergensi dengan glokalisasi, sebagai respons aktif dari segelintir komunitas yang masih memegang nilai-nilai lokal yang merasa bahwa kebudayaannya banyak terpinggirkan oleh kekuatan globalisasi yang cenderung menyeragamkan.

Terputusnya jaringan informasi tentang kesundaan di era virtual mengakibatkan generasi muda Sunda akan pareumeun obor. Namun, dengan internet, budaya Sunda akan ngajowantara ke era tanpa sekat, dan ketika orang Sunda atau non-Sunda di luar negeri mengetik kata "Sunda" di search engine Google umpamanya, peng-upload Sunda telah menyediakan informasi tentang kekayaan budaya Sunda.

Mengakses kesundaan

Dengan internet, tentunya kita bisa menemukan kesatuan antara produksi, reproduksi, dan penyebaran informasi hilir-mudik antara audience dan produsen. Bahkan, yang lebih hebat lagi, selain menjadi consumer, di internet kita bisa menjadi content producer, dan content commentator, dengan audience yang telah ada yakni teman yang berada di jaringan sosial (social networking).

Ketika kita menuliskan isi pikiran tentang kesundaan atau pengalaman hidup urang Sunda serta dipublikasikan di media gratis semacam Blogspot, Wordpress, Multiply, dan yang lainnya, akan ada komentar para pembaca. Setelah itu, akan terjadi diskusi, tukar pikiran, atau sekadar komentar basa-basi berbahasa Sunda.

Globalisasi ternyata telah dihadapi kaum muda Sunda. Misalnya, membuat situs www.urang-sunda.net (website komunitas urang Sunda di internet), www.sundanet.com (portal komunitas Sunda), www.kasundaan.org (menyediakan informasi kesundaan berbahasa Sunda, Indonesia, dan Inggris), www.pasundan.org, www.simpay-wargiurang.com, dan masih banyak blogger yang memublikasikan ide/gagasan kesundaan di Blogspot, Wordpress, Multiply, dan sebagainya.

Pada alamat-alamat itu tersedia berbagai informasi tentang kekayaan seni dan budaya Sunda, yang bisa dijadikan pelepas dahaga kesundaan oleh pengguna (user) layanan internet. Website di atas merupakan gerakan glokalisasi sebagai respons tekanan globalisasi yang cenderung menyeragamkan budaya dalam istilah "desa global". Hadirnya masyarakat Sunda "melek internet" akan membentuk manusia Sunda yang menghargai perbedaan karena di Indoensia atau dunia dipenuhi pluralitas kebudayaan.

Dengan berselancar di internet, kita bisa merengkuh seluruh isi media berupa teks, gambar-gerak, audiovisual, dan realitas virtual dari latar belakang kebudayaan yang berbeda. Namun, jangan lantas kehadiran internet mencipta masyarakat Sunda "melek internet" yang mengamputasi sense of crisis ketika berinteraksi dengan masyarakat, tetapi mesti melakukan relasi praksis ketika berada di tengah-tengah dunia sosial yang nyata.

SUKRON ABDILAH Pemerhati Budaya Sunda