Showing posts with label Kebudayaan. Show all posts
Showing posts with label Kebudayaan. Show all posts

29 November 2018

Kekerabatan Urang Sunda

Kekerabatan Urang Sunda

Penelusuran garis keturunan (sakeseler) dalam khazanah kesundaan diistilahkan dengan "pancakaki". Kamus Umum Basa Sunda (1993), mengartikan "pancakaki" dengan dua pengertian. Pertama, "pancakaki" menunjukkan hubungan seseorang dalam garis keluarga (perenahna jelema ka jelema deui anu sakulawarga atawa kaasup baraya keneh). Kita pasti mengenal istilah kekerabatan seperti indung, bapa, aki, nini, emang, bibi, Euceu, anak, incu, buyut, alo, suan, kapiadi, kapilanceuk, aki ti gigir, nini ti gigir, dan sebagainya.
Istilah-istilah di atas merupakan sistem kekerabatan masyarakat Sunda yang didasarkan pada hubungan seseorang dalam sebuah komunitas keluarga. Dalam sistem kekerabatan urang Sunda diakui juga garis saudara (nasab) dari bapak dan ibu seperti bibi, emang, kapiadi, kapilanceuk, nini ti gigir, aki ti gigir.
Menurut Edi S Ekadjati (Kebudayaan Sunda, 2005) urang Sunda memperhitungkan dan mengakui kekerabatan bilateral, baik dari garis bapak maupun ibu. Berbeda dengan sistem kekerabatan orang Minang dan Batak yang menganut sistem kekerabatan matriarchal dan patriarchal, yaitu hanya memperhitungkan garis ibu saja dan garis keturunan bapak.
Sedangkan pada pengertian kedua, "pancakaki" bisa diartikan sebagai suatu proses penelusuran hubungan seseorang dalam jalur kekerabatan (mapay perenahna kabarayaan). Secara empiris, ketika kita menganjangi suatu daerah, maka pihak yang dianjangi akan membuka percakapan: "Ujang teh timana, jeung putra saha?". Ini dilakukan untuk mengetahui asal-usul keturunan tamu, sehingga sohibulbet atau pribumi, lebih akrab atau wanoh kepada semah guna mendobrak kekikukan dalam berinteraksi.
Maka, "pancakaki" pada pengertian kedua adalah sebuah proses pengorekan informasi keturunan untuk menemukan garis kekerabatan yang sempat putus. Biasanya, hal ini terjadi ketika seseorang nganjang ke suatu daerah dan di sana ia menemukan bahwa antara si pemilik rumah dan dia ternyata ada ikatan persaudaraan. Maka, ada pribahasa bahwa dunia itu tidak selebar daun kelor. Antara saya dan anda – mungkin kalau ber-pancakaki – ternyata dulur! Minimalnya sadulur jauh.
"Pancakaki" dalam bahasa Indonesia mungkin agak sepadan dengan istilah "silsilah", yakni kata yang digunakan untuk menunjukkan asal-usul nenek moyang beserta keturunannya. Tapi, ada perbedaannya!
Menurut Ajip Rosidi (1996) "pancakaki" memiliki pengertian suatu hubungan seseorang dengan seseorang, yang memastikan adanya tali keturunan atau persaudaraan. Namun, menjadi adat-istiadat-kebiasaan yang penting dalam hidup urang Sunda, karena selain menggambarkan sifat-sifat urang Sunda yang ingin selalu bersilaturahim, juga merupakan kebutuhan untuk menentukan sebutan masing-masing pihak dalam menggunakan bahasa Sunda.
Mengapa? Sebab, "pancakaki" sebagai produk kebudayaan Sunda, diproduksi oleh karuhun Ki Sunda untuk menciptakan relasi sosial dan komunikasi interpersonal yang harmonis dalam komunitas, salah satunya ajen-inajen berbahasa. Tidak mungkin kan, jika kita tahu si A atau si B itu memiliki hubungan kekerabatan dengan kita, dan lebih tua, tapi kita mencla-mencle berbicara tak sopan.
Kuntowijoyo dalam buku berjudul: Budaya dan Masyarakat (2006: 6), menulis bahwa dalam budaya kita akan ditemukan adanya tiga komponen pokok, yaitu lembaga budaya, isi budaya, dan efek budaya (norma-norma). Lembaga budaya menanyakan siapa penghasil produk budaya, pengontrol, serta bagaimana kontrol itu dilakukan. Isi (substansi) budaya menanyakan apa yang dihasilkan atau simbol-simbol apa saja yang diusahakan. Sementara itu, efek budaya menanyakan konsekuensi apa yang diharapkan.
Maka, anomali budaya (kebudayaan disfungsional) akan terjadi jika simbol dan normanya tidak lagi dijabarkan masyarakat. Akibatnya, muncul kontradiksi dan memicu lahirnya kelumpuhan dasar-dasar relasi sosiologis. Hal ini akan terjadi dalam ruang lingkup relasi sosial-kemasyarakatan urang Sunda jika "pancakaki" sebagai isi kebudayaan lokal tidak mendapat porsi pengamalan.
Efek kebudayaan pun tidak akan dirasakan, seperti menggejalanya keterputusan komunikasi dan relasi antar dulur (kerabat) yang satu dengan yang lain. Ketika tidak memiliki efek budaya, maka akan memicu lahirnya anomali, akibat minimnya keinginan kita untuk mengaktifkan simbol kebudayaan – salah satunya "pancakaki" – dalam hidup keseharian.
Bukankah silaturahim dalam perspektif ajaran agama (Islam) adalah salah satu penentu masuk surga?Layadkhulu al-jannatu qothi'un, tak akan masuk surga bagi orang yang memutuskan tali persaudaraan. Begitulah bunyi hadits dari Rasulullah Saw.
Ah, tak akan pernah habis saya kira, membincangkan sistem sadulur (kekerabatan) masyarakat Sunda sampai tujuh turanan juga. Karena itu, saatnya kita ber-pancakaki. Lirik kiri-larak kanan. Jangan-jangan ada keluarga dekat atau jauh, bahkan orang lain yang miskin dan tak bisa makan. Sebab, dalam ajaran Islam semua manusia itu bersaudara (al-ikhwat). Walahua'lam
Kebijaksanaan Manusia Sunda

Kebijaksanaan Manusia Sunda

Kebenaran Sunda sebagai kebudayaan tak arif bila ditempatkan sebagai kebenaran hidup mutlak. Meminjam analisis Hannah Arendt, kebudayaan-dalam hal ini Sunda ialah rutinitas umat manusia yang dapat diramalkan dan dipelajari. Ini mengindikasikan ketidakmutlakan Sunda sebagai jalan hidup. Dalam bahasa lain, kesundaan dapat ditafsirkan dengan kerangka pemikiran masing-masing, baik dari perspektif subyektivitas maupun intersubyektivitas. Dari sinilah lahir kesundaan yang beragam dan majemuk.

Contoh konkretnya adalah persoalan undak-usuk basa yang terfragmentasi menjadi tiga jenis hierarki berbahasa, yakni kasar, loma, dan lemes. Bagi urang Sunda Priangan, lafal bahasa Sunda akan berbeda dengan Sunda pakidulan seperti penutur basa Sunda di Banten, Sukabumi, dan Bogor. Ketika yang dijadikan acuan keberadaban berbahasa Sunda diarahkan pada dialek Priangan, hal ini tentu menafikan perspektif Sunda yang lian. Tak bijaksana rasanya ketika menafikan perspektif Sunda the other sehingga mengakibatkan lahirnya bentuk Sunda yang tertutup, kaku, bengis, keras, sombong, dan tidak dinamis.

Dalam bahasa lain, pandangan ihwal kesundaan mesti mengakui penafsiran yang berbeda dengan pemahaman kita tentang Sunda. Itulah wujud Ki Sunda sesungguhnya. Manusia asak ku pangalaman sehingga pandangan hidupnya dipenuhi kebijaksanaan, hubungan kolektif-kolegial, sifat mementingkan orang banyak, dan sejumlah perilaku positif lainnya.

Makna Ki Sunda

Saya agak heran mengapa disebut Ki Sunda, bukan Mang Sunda, Jang Sunda, atau Uwak Sunda? Tetapi, keheranan tadi terjawab karena di dalam alur kehidupan, sebutan "Ki" merupakan representasi dari kedewasaan, asak pangalaman, kebijaksanaan, pandangan visioner, dan tidak terjebak pada penilaian "hitam-putih". Term "Ki" adalah sebutan lain dari "Aki" karena dirinya menjadi tokoh masyarakat yang dijadikan pusat kehidupan. Karena telah memahami intisari kesundaan, ia memiliki keluhuran ilmu pengetahuan, kekayaan khazanah, dan perspektif yang majemuk ihwal realitas kebudayaan Sunda.

Alhasil, dirinya menjadi aktor penggerak masyarakat Sunda sehingga memiliki tradisi dan sikap hidup yang santun. Karakter Ki Sunda yang bijaksana tersebut lahir akibat dirinya telah menjalani pengembaraan yang luas di muka bumi hingga mengenal dan memahami berbagai kebudayaan. Sampai hari ini saya masih menempatkan tokoh historis Sunda-siapa pun dan dari daerah mana pun atau dalam naskah apa saja-sebagai manusia biasa yang niscaya terbuka untuk dikritisi. Bahkan, dalam tradisi hermeneutis, seorang nabi tak luput dari kritik. Tanpa mengabaikan penafsiran Sunda sebagai gerakan ideologis, kita juga tentunya tak boleh menutup mata bahwa Sunda merupakan gerak kebudayaan yang dinamis.

Apabila Sunda dipahami hanya sebagai gerakan ideologis, hal itu akan menancapkan stigma Sunda sebagai suku yang kaku, eksklusif, tidak ramah, rasis-fasis, bahkan tertutup terhadap nilai dan budaya baru. Satu tokoh Sunda tidak dapat dijadikan sebagai dasar untuk menjustifikasi bahwa Sunda harus seperti yang diperjuangkan sang tokoh. Alih-alih menjadikan manusia Sunda sebagai manusia neobijaksana, yang terjadi adalah menggusur pemahaman kesundaan pada sikap yang serasa menjauh dari ajen-inajen urang Sunda. Nanjerkeun kesundaan tak harus dengan jalan perang dan keras.

Nanjerkeun kesundaan ialah dengan cara membumikan konsep hidup yang kerap diejawantahkan Ki Sunda secara elegan dan luhung. Ia mampu menyikapi perbedaan secara legowo dan mengakuinya sebagai bagian dari hidup urang Sunda meskipun berasal dari kebudayaan luar Sunda. Itulah yang dikatakan sebagai manusia Sunda genuine.

Memang begitulah seharusnya kebudayaan lahir dan hidup. Itu karena culture lebih dekat secara semantik dengan nature, yang berarti berjalan mengikuti alur alami kehidupan. Sunda itu dinamis dan tidak tertutup terhadap kebudayaan luar. Selama hal itu baik bagi eksistensinya di masa mendatang, urang Sunda sejatinya memahami warisan budaya dan bakal terus berdinamisasi dengan perkembangan zaman.

Penafsiran "hitam-putih"

Penafsiran tunggal terhadap warisan Sunda akan melahirkan fanatisme kesukuan yang akut dalam diri warga Sunda ke depan sehingga Sunda sebagai kebudayaan diklaim milik salah satu elite kelompok tertentu. Karena itu, kajian terhadap Sunda, bila menggunakan penafsiran "hitam-putih", berubah menjadi kebudayaan barbarian, tidak toleran, asa aing, adigung-adiguna, dan tidak respons terhadap kebudayaan luar, apalagi bila menggunakan kacamata radikalisme pemikiran yang menempatkan manusia lian ti urang Sunda sebagai manusia biadab.

Hal itu tidak ada bedanya dengan gerakan ideologis yang kadang memakan korban dari warga am yang tak berdosa. Dalam catatan historis, kerap terjadi "benturan fisik" dan penyelesaian barbarian antarsesama karena diinisiasi perbedaan ideologi. Sunda hari ini adalah cermin dari mental, sikap, dan laku lampah Ki Sunda baheula. Itu memang betul sehingga ada kesimpulan menjadikan tokoh historis Sunda sebagai tolok ukur sikap dan laku manusia dalam konteks kiwari. Itu juga saya pikir agak betul.

Namun, apakah yang harus dijadikan model manusia Sunda kiwari itu hanya tersentralisasi pada satu tokoh historis ataupun tokoh fiktif dalam kajian naskah Sunda? Urang Sunda ternyata majemuk sebagai representasi keunikan manusiawi. Ada yang sahaok dua gaplok, ada yang hare-hare tai hayam, bahkan tak sedikit yang teu langkung kanu dibendo. Memersepsi manusia Sunda sehistoris dan seheroik apa pun mesti dibarengi pendekatan yang kritis dengan mempertanyakan motif apakah yang tersembunyi darinya? Tidak ada yang final dalam memahami kebudayaan yang lahir dari suku apa saja dan di mana saja sehingga kebudayaan akan terus mengepakkan sayap untuk terus berdialektika dengan kekinian zaman.

Ketika ada generasi muda Sunda yang gelagapan dengan bahasa Sunda yang dijadikan patokan keabsahan sebagai urang Sunda asli, sejatinya kita tidak mengklaim bahwa orang tersebut tidak nyunda. Konsekuensi perubahan zaman adalah keniscayaan tak nisbi dalam setiap kebudayaan, termasuk Sunda, yang saya pikir akan terus mencari bentuk akibat perubahan zaman.

Sunda tidak mengklaim dan diklaim sebagai milik orang-orang tertentu, Sunda nu aing, Sunda nu maneh, dan Sunda nu urang kabeh. Namun, celakanya, Sunda nu aing banyak diklaim sebagai Sunda nu urang kabeh. Akibatnya, yang tak sepaham dan tak sehaluan dengannya disebut sebagai "tidak nyunda". Sayang rasanya kalau nasib Sunda seperti ini.

9 February 2018

“Sundamorfosis”, Sunda Kekinian

“Sundamorfosis”, Sunda Kekinian

SWAMI Vivekananda, Arifin India, berujar, “Strength is life; weakness is death.” Betul, bahwa kekuatan ialah (modal) kehidupan, kelemahan adalah (penyebab) kematian. Begitu juga dengan etnik Sunda. Ketika Sunda – sebagai salah satu dari ratusan etnik di Indonesia – kuat, pasti akan terus eksis. Namun, sebaliknya. Ketika Sunda melemah, ia akan sekarat dan pasti mati. Bahkan akan tertimbun lapisan sejarah, dilupakan banyak orang.

Sunda sebagai sebuah komunitas etnik, menyisakan aneka warisan kultural dalam kehidupan masyarakat Jawa Barat; kendati, tidak seluruhnya warga di Jawa Barat bersuku Sunda. Saya secara pribadi lahir di Garut, salah satu wilayah kabupaten yang banyak dihuni etnik Sunda. Dan, hal ini tentunya membuat saya menjadi seorang suku Sunda yang bermetamorfosa, baik secara kultural, sosial, filsafat, dan pandangan hidup ke arah yang lebih sesuai dengan perkembangan zaman.

Urang Sunda zaman dulu tentu saja sangat berbeda dengan generasi Sunda kiwari. Sundamorfosis? Mungkin ya, mungkin juga tidak. Sebab, ada tiga narasi kultural yang berkembang pada masyarakat Sunda.

Pertama, narasi kultural yang diwakili masyarakat Sunda yang masih mikukuh warisan falsafah hidup Ki Sunda. Mereka berada di pelosok-pelosok padusunan yang tidak ngeh dengan kebudayaan dari luar. Biasanya, komunitas urang Sunda seperti ini terdapat di lingkungan masyarakat adat, kampung yang jauh jaraknya dengan perkotaan, dan jika dekat dengan kota, mereka punya peraturan ketat untuk terus mikukuh adat-istiadat.

Kedua, narasi kultural yang diwakili oleh nonoman Sunda yang telah “melek” dengan kebudayaan dari luar. Generasi muda Sunda ini, lahir sebagai etnik Sunda, hidup di wilayah yang banyak dihuni beragam kebudayaan, hingga membentuk pola pikir yang plural dan melahirkan laku yang menjauh dari ajen-inajen kesundaan. Mereka, biasanya, berasal dari pelajar sekolah, mahasiswa, dan kaum tua “yang gila” dengan ideologi kapitalisme yang dibawa arus globalisasi. Mereka terbuai oleh bujuk rayu globalisasi dan meminggirkan ajen-inajen kesundaan dalam hidup kesehariannya. 

Ketiga, narasi kultural – anu dipikareuseup kuring – yang diwakili oleh generasi muda Sunda yang tersebar di seluruh pelosok negeri dan dunia, namun masih menyisakan kerinduan terhadap identitas kultural aslinya. Mereka memiliki pola pikir yang sama dengan generasi Sunda plural, karena melek dengan perangkat globalisasi (seperti HP, internet, video digital, komputer, note book, dll); tapi punya kekhasan kultural seperti yang dipegang secara kukuh oleh masyarakat adat. 

Jujur saja. Secara pribadi, saya lebih senang jika narasi kultural yang ketiga bisa tetap eksis. Istilah sosiologis untuk menyebut narasi ini oleh sosiolog kontemporer Roland Robertson (1992) disebut sebgai glokalisasi. Sebuah gerakan kultural generasi yang bisa memanfaatkan perangkat atau produk globalisasi untuk mengeksiskan identitas kebudayaan lokalnya, seperti menulis konten di website, web blog, dan media sosial di internet, dengan konten kebudayaan lokal.

Mengapa itu harus terjadi? Sebab, perkembangan teknologi – seperti kehadiran komputer dan internet – menjadi keniscayaan untuk dimanfaatkan oleh masyarakat lokal dalam mengeksiskan eksistensi etnik kultural Sunda kepada dunia. Seperti yang dilakukan oleh seorang mahasiswa Unpad, dengan memprakarsai komputerisasi aksara Sunda agar diakui dunia.

Istilah “Sundamorfosis” memang bisa dibilang klise. Istilah ini pun masih bisa kita perdebatkan. Secara akademis, ilmiah, dan mungkin secara filosofis. Akan tetapi, daripada menghabiskan tenaga, mendingan para budayawan sepuh Sunda yang tidak suka dengan istilah ini, melakukan upaya-upaya penanggulangan. Sebelum, generasi muda Sunda bermetamorfosa ke arah laku lampah yang tidak mengindahkan falsafah hidup Ki Sunda.

Sundamorfosis artinya mengacu pada tingkat perubahan meleknya urang Sunda pada falsafah kesundaan, tanpa sekat-sekat. Sebab, kendati kita hidup di zaman yang ditunggangi perkembangan teknologi, justru bakal ada generasi yang menyadari bahwa ia telah melupakan kebudayaannya. Alhasil, muncul gerakan-gerakan kesundaan dalam wajahnya yang baru. Neo-Sunda istilahnya. Anda boleh setuju atau tidak. Terserah. Yang pasti, karena perkembangan zaman ke arah yang berbeda dengan Sunda baheula, menuntut kita untuk ngigeulan dan ngigeulkeun zaman.

Sebab, Sunda – sebagai falsafah hidup – mesti miindung ka waktu, mibapa ka zaman. Tidak terjebak romantisme sejarah masa kejayaan kerajaan Sunda saja, tetapi melihat ke depan (futuris) untuk merumuskan Sunda masa depan yang tetap diakui dunia. Pidua ti simkuring, semoga kita – sebagai generasi muda Sunda – mampu bermetamorfosa hingga menyadari bahwa kearifan lokal di tatar Sunda terserak dan harus mulai kita punguti kembali. Dan, setelah dipunguti, tidak membuangnya ke tong sampah. Tapi, disakuan dina ati sanubari, agar laku dan kata kita saluyu sareung ajen-inajen kesundaan yang diwariskan oleh Ki Sunda.

Punten, bahasanya direumbeuy. Yang penting, saya masih mengaku sebagai suku Sunda, meskipun ada identitas kesundaan – salah satunya ajen-inajen berbahasa – yang jarang saya taati kalau berkomunikasi dengan orang yang sudah lama kenal. Juga, saya berharap para inohong, nonoman, dan kokolot Sunda bekerja ekstra keras mendidik generasi muda agar tercipta sebuah komunitas anak muda yang “Sundamorfosis”. Melek kesundaan, kitu.

Jadi, kita jangan hanya pandai mencipta generasi yang Arabmorfosis dan Inggrismorfosis saja. Sementara, keaslian jati diri tumpur oleh dalih Indonesiamorfosis. Tapi, untuk Indonesiamorfosis bagi generasi muda Sunda memang harus diperhatikan. Sebab, kita yang tinggal di tatar Sunda adalah warga negara yang setia.

“Sundamorfosis”? Hemm.., memang menarik untuk kita arahkan pada jalur yang semestinya dilalui. Ya, jalur penghormatan dan pengaktualisasian nilai-nilai kesundaan dalam kehidupan sehari-hari. Amin ya robbal alamin, anging gusti nu Maha Suci nu ngawidian, and I believe that Allah is will give me a strenght..! untuk menjadi generasi muda “melek kesundaan” dan berjiwa religius-nasionalis.

Oh.., hampir lupa. Ketika saya pulang kampung bulan kemarin (mudik lebaran), seorang kakek berumur 60 tahun ke atas, menyapa: “Iraha ti kota Aa teh?”. Hehe, saking sopan dan santunnya urang Sunda, saya yang baru kemarin sore merasakan hidup (sahandapeun), disanjung dengan sebutan Aa. Memangnya saya kakaknya pangersa? Ah, itu mungkin diucapkan untuk meluapkan rasa hormatnya terhadap saya yang jarang urak-urakan seperti pemuda Sunda yang lainnya di kampung saya.

9 April 2010

Garut dan “Surak Ibra”

Garut dan “Surak Ibra”

Di daerah perbatasan antara Banyuresmi dengan Wanaraja – kampung Sindangsari Desa Cinunuk – hiduplah sebuah seni pertunjukan yang bernilai historis. Dari tahun 1910 hingga kini, seni pertunjukan itu kerap diadakan secara konsisten. “Surak Ibra” adalah nama dari seni pertunjukan yang dimainkan oleh puluhan orang (60) sampai seratus lebih itu. Kesenian khas warga Garut ini, konon, merupakan reproduksi dari kesenian “Surak Ibra” khas warga Cibatu. Penggagasnya adalah putera dari Raden Wangsa Muhammad, penyebar ajaran Islam di daerah Wanaraja dan Banyuresmi. Makamnya hingga kini masih diziarahi warga dari berbagai daerah.  

5 April 2010

Lindu...

Lindu...

Kakara oge ngerejep...jam 14.55 WIB warga di CIpadung, kamari poe Rebo, ngagarorowok....Lini...Lini....Lini....Antukna kuring ngulisik...bari ngagisik manon. Teu make aba-aba geuwat-geuwat kuring ka luar ti kontrakan, nu tembokna kabeneran bareulah.
"Hahahahaha", eta sora ki Dasam. Lucu meurenan ningal kula belek keneh ku cileuh. buuk awut-awutan. nyeker teu make sendal. untung we masih make calana. Teu kawas baheula mun rek sare teh, sok teu make calana panjang. ceukap ku kolor mengbal.