Showing posts with label Kolom. Show all posts
Showing posts with label Kolom. Show all posts

17 December 2018

Tahun Baru, Hidup Harus Lebih Baru

Tahun Baru, Hidup Harus Lebih Baru


Tahun baru Masehi bagi saya tidak hanya pesta sesaat dengan meniup terompet dan menyalakan kembang api di tempat-tempat keramaian. Tahun baru bagi saya ialah awal menggantungkan harapan hidup untuk menjadi lebih baik lagi. Harapan hidup ialah modal, capital, mesin, dan daya luar biasa yang mampu menggerakkan aktivitas kita. Ketika tak ada satu pun harapan yang kita susun dalam hidup ini, saya jamin Anda tidak akan lagi betah mengarungi hidup ini. Anda akan putus asa, lemah, tak bersemangat, dan memahami bahwa hidup tak layak dijalani.

Tahun baru diawali dengan nama dewa Janus, yang memiliki dua kepala. Yang satu menghadap ke depan. Satunya lagi mengarah ke belakang. Ini artinya ketika mendekati bulan Januari, kita sejatinya melakukan refleksi diri ikhwal kehidupan yang telah dan akan kita jalani. Masa lalu, memang telah terjadi dan tidak mungkin lagi kembali. Masa depan tidak mungkin terjadi kalau harapan kita tidak ada sama sekali.

Jadi, susunlah harapan untuk memodali semangat hidup kita. Sesekali melihatlah ke belakang untuk dipelajari agar ke depan kesalahan yang pernah kita lakukan tidak terjadi lagi. Tahun Baru, harapan pun harus lebih baru. Setuju bro!

29 November 2018

Lionel Messi “yang dijanjikan”

Lionel Messi “yang dijanjikan”

Seandainya sepakbola adalah “Agama” dan dalam setiap agama mesti ada yang membawa risalah; maka Lionel Messi bisa kita umpamakan sebagai seorang Nabi bagi agama baru sepakbola. Puncaknya pada pertandingan besar di Liga Champion kemarin melawan Arsenal. Lionel Messi, yang terlihat main luar biasa; membuat saya berdecak kagum. Sehingga pelatih Barca Pep Guardiola sesumbar, “Tak ada cara untuk mendeskripsikan penampilan Messi. Tak ada kata yang pas. Anda hanya harus melihatnya sendiri.”

Bayangkan, selama 80 menit pertandian lebih, Messi mencetak empat gol dengan pantastis. Saya yang tak terbiasa menjadi pengamat sepakbola – ketika menonton atraksi Messi – dibikin geleng-geleng kepala. Bukan benci. Melainkan takjub atas skill-kemampuan Messi mengolah si kulit bundar hingga membuahkan gol. Namun, di Piala Dunia mendatang apakah dia mampu mengantarkan negaranya, Argentina untuk menjuarai kembali piala bergensi antar Negara ini?

Tak tahulah. Tapi sebagai pendukung fanatik Argentina, saya sangat berharap prestasi Messi di liga Eropa tersebut dapat mengantarkan negaranya menjadi juara. Apalagi, Maradona “si Tangan Tuhan” ialah pelatih tim nasional. Ketika “si tangan Tuhan” berdampingan dengan “sang messiah sepakbola” bukan tidak mungkin akan mengejutkan publik pecinta sepakbola di dunia. Meskipun, beberapa pengamat dan media massa di Argentina meragukan keberhasilan Maradona dan penampilan Messi; saya tetap mendukung Argentina menjadi juara Piala Dunia 2010.

Pada tahun 90 saja Argentina bisa mengejutkan dunia, meskipun pada awalnya tim nasional Argentina harus melalui babak Playoff untuk menjadi peserta piala dunia 1990. Kini, 30 tahun berlalu. Maka bukan tidak mungkin lagi tim Nasional Argentina akan menjadi juara. Setelah Argentina, saya mengidolakan Spanyol, Perancis, Brazil, dan Portugal. Ah, sepakbola pada Juni mendatang akan menjadi ritual “keagamaan” di berbagai penjuru dunia. Para pemain, ibadahnya adalah mengocek dan mengoper bola; kalau bisa mencetak gol. Sementara itu, bagi penonton atau penggemar, cukup hanya dengan sebungkus rokok, berteriak-teriak, kadang mencaci, bahkan sambil menghisap rokok. Mereka seolah sedang melaksanakan ibadah yang sering memenuhi sistem keagamaannya.

Ah, okelah kalo begitu….    

7 February 2018

Matinya Visi Kerakyatan

Matinya Visi Kerakyatan

PEMBANGUNAN bangsa (nation building) yang dilakukan harus mengarah pada kesejahteraan masyarakat sehingga diperlukan visi yang bersih dari anasir-anasir kekuasan. Dengan visi inilah, kiranya gerak pemimpin menjadi jelas dan terarah karena yang dilakukan hanya untuk membangun dan menyejahterakan rakyat. Secara eksistensial, visi diawali dengan adanya “ide-ide murni” yang berisi harapan atas perubahan dari satu kondisi ke kondisi lain.

Namun, kemurnian ide kerap kali dikotori nafsu, ego, dan obsesi pribadi sehingga penyusunan visi seorang pemimpin tak bisa dilepaskan dari muatan politis. Visi utama  memang luhung dan luhur. Visi dan seorang pemimpin bagaikan dua sisi mata uang tak terpisahkan. Ketika seorang pemimpin hanya merancang visi berdasarkan ego kekuasaan, dapat dipastikan bahwa bangsa ini hanya akan menjadi tempat menciptakan eksploitasi destruktif.

Visi juga, saya pikir, mirip dengan gagasan sang Indonesianis, Benedict Anderson, ikhwal komunitas-komunitas terbayang (immagined communities). Sederhananya, istilah immagined communities, menggambarkan adanya kesatuan kolektif berbangsa dan bernegara. Dalam bahasa lain, menjadi seorang nasionalis adalah memimpin dengan visi yang jelas dan demi kesejahteraan rakyat. Ketika visi dilandaskan pada semangat ini, tentu saja harapan menciptakan sebuah masyarkat maju dan berkeadilan akan terwujud.

Kerja untuk rakyat
Ignas Kleden (2007) mengatakan, kalau demokrasi sebagai sistem politik, maka pemimpin yang demokratis adalah seseorang yang berasal dari rakyat (bukan dari kalangan bangsawan), diawasi rakyat (bukan mengawasi dirinya sendiri), dan bekerja untuk rakyat (bukan untuk dirinya sendiri dan kelompok yang dekat dengan dirinya).

Disahkannya UU Pilkada yang mengembalikan pada pemilihan kepala daerah oleh DPRD tentunya tidak demokratis dan merampas hak politik rakyat. Dengan cara ini, kehadiran mereka sebagai anggota bangsa dan negara seolah menjadi tidak berarti apa-apa. Rakyat menjadi objek kebijakan tidak populis karena peran politik mereka digantikan oleh anggota DPRD yang “menghamba” dan mengekor kepentingan partai politik. Dalam perspektif negara maju, hal ini merupakan wujud dari bangkitnya kekuasaan yang tidak murni mengatasnamakan rakyat.

Kita tahu, bahwa ketidakpekaan atas realitas kerakyatan para anggota dewan mengakibatkan di masyarakat tersebar persepsi: “politik itu kotor”. Padahal, kalau saja mereka lebih memperhatikan rakyat bukan saja saat kampanye, hal itu akan melahirkan kedekatan emosional dan kepercayaan antara warga dengan parpol karena saling memberi dan menerima (take and give). Dan, inilah yang disebut dengan “kampanye bukan tebar janji”; melainkan “tebar bukti kongkrit” yang dapat menjawab kebutuhan warga.

Secara historik, lahirnya parpol di wilayah negara-bangsa (nation-state) ialah untuk mewujudkan aspirasi publik dalam memeroleh kesejahteraan, kedamaian, dan kesentosaan hidup. Maka, dalam konteks kepolitikan, simpati rakyat merupakan tujuan inti (ultimate goal) yang menjadi latarbelakang pendirian parpol. Kendati jumlah parpol di negeri ini beragam, namun tujuannya seragam yakni berdiri untuk dijadikan semacam ruang aspirasi publik yang diperjuangkan demi terciptanya kemajuan bangsa dan Negara.

Tanpa mengurangi rasa hormat kepada para anggota dewan dari Koalisi Merah Putih, karena itulah kita, sebagai rakyat, mesti bergerak menolak pemilihan kepada daerah oleh anggota DPRD. Pemilihan model begini, hendaknya disimpan ke dalam “tong sampah” tatkala dalam mengejawantahkan visi kepolitikan, bila saja memimpin itu ialah sebuah tugas suci mengabdikan diri kepada rakyat. Pemimpin itu ialah budak rakyat, yang mengabdikan diri pada kepentingan kerakyatan. 

Empati pemimpinEmpati yang pasti hadir di dalam diri setiap pemimpin mestinya hadir ke permukaan alam sadar. Seorang pemimpin yang sadar atas realitas kemiskinan yang terjadi, misalnya, pasti akan merajut berjuta visi untuk kesejahteraan di masa depan. Kalau zaman pra-kemerdekaan, ketidaksejahteraan rakyat akan melahirkan semangat heroik “berani mati demi tanah air”; pasca kemerdekaan tentunya berubah menjadi “mencipta visi keadilan bagi negeri hingga mati”.

Kepentingan rakyat bagi seorang pemimpin merupakan keniscayaan tak nisbi, yang harus diprioritaskan dalam memajukan bangsa dan negara. Seorang pemimpin visioner ialah orang yang mampu membayangkan dan mewujudkan masa depan bangsanya menjadi sejahtera.Visinya tidak sekadar janji-janji kosong yang hanya memenuhi imajinasi warga.

O Jeff Harris, dalam buku People of Work (1976) mengatakan bahwa memilih seorang pemimpin harus mempunyai kualifikasi: kemauan memikul tanggung jawab, mampu memahami realitas kehidupan rakyat, mampu melihat persoalan secara objektif, mampu memprioritaskan sesuatu secara tepat, dan memiliki kemampuan berkomunikasi (verbal dan nonverbal).

Kualifikasi pemimpin di atas, lahir dari sebuah proses demokrasi, yang menempatkan kehendak rakyat untuk memilih secara langsung. Memang secara finasial, untuk menemukan pemimpin ideal tersebut sangat besar. Akan tetapi, pilihan rakyat akan menentukan arah kebijakan mereka karena lahir dari keputusan rakyat. Merebaknya kemiskinan, pengangguran, amoralitas, korupsi, kolusi, dan nepotisme; mengindikasikan lemahnya jiwa kerakyatan dalam diri pemimpin.

Dengan pemilihan langsung oleh rakyat, akan menjadikan kejelasan visi setiap pemimpin yang menempatkan rakyat sebagai tujuan kebijakan. Namun, ketika UU Pilkada yang menyerahkan pemilihan kepala daerah kepada anggota DPRD, ini namanya bukti dari matinya visi kerakyatan di Indonesia.

14 November 2010

Belajarlah Pada Induk Ayam Wahai Koruptor!

Belajarlah Pada Induk Ayam Wahai Koruptor!

Siang itu terik matahari menyengat kulitku yang tak seputih dan sehalus Luna Maya. Jalanan yang agak becek membuat saya agak menyingsingkan celana jeans belel ke betis, yang semirip betis Diego Armando Maradona. Kekar, berotot, dan padat berisi laiknya olahragawan. Di depan saya terlihat Mang Adang sedang memberi makan ayam-ayam peliharaannya. Saya pun terus berjalan melewati pekarangan rumah Mang Adang yang dikerubuti sekelompok Ayam itu. Tak jauh dari kerumunan mereka, sekitar setengah meter, berkumpul induk ayam sedang mengasuh putera-puterinya yang dia cintai dan sayangi.

“Assalamu’alaikum, nuju maraban hayam yeuh?” Itu saya yang bertanya basa-basi kepada Mang Adang. 

13 November 2010

Slilit Koruptor

Slilit Koruptor

Saya mencoba meresapi salah satu esay yang ditulis Cak Nun dalam buku berjudul: “Slilit sang Kyai”. Merinding, takut, ngeri, dan lahirlah kesadaran purba bahwa hidup tak seharusnya menjadi budak harta. Slilit, adalah sisa-sisa makanan yang masih menyempil di setiap sudut gigi kita.

12 June 2010

Ritual Menggiring Bola “Messidona”!

Ritual Menggiring Bola “Messidona”!

Menggiring bola, bagi pesepakbola laiknya ritual dalam sebuah Agama. Mereka harus yakin gocekannya tersebut dapat mengantarkan timnya menjadi pemenang. Messidona yang terlihat malas-malasan, ternyata ketika bola sedang berada diujung kakinya akan dibawa melesat bak lesatan meteor. Tumpuan kaki “Messidona” menggambarkan kekuatan yang penuh irama. Tak heran kalau saya menyebut ritual menggiring bola Messidona sebagai bagian struktural religion football ala Argentina.  “Gaya samba” dari Brazil, misalnya, salah satu saingan terbera ritual ala pesepakbola Argentina dalam religion football ini. Anda pasti sudha tahu, ketika Maradona mendribling bola dari tengah lapang ketika melawan Inggris. Di sana, Anda akan menemukan ritual dari sang penghamba bola.

Tanggal 12 Juni pukul 20.05 WIB tim kesayangan saya, Argentina tampil melawan Nigeria. Hmm.., asyik karena tidak terlalu malam untuk dapat menonton kesebalasan yang sangat disayangi ini. Sejak tahun 1990 hingga kini, “Tim Tango” saya gemari sampai mati. Saya menangis ketika 1994 tim Argentina kalah 3-2 oleh Rumania. Waktu itu, idola saya, Diego Armando Maradona tidak main. Saya tidak tahu kenapa sang bintang tidak diturunkan oleh pelatih. Waktu itu saya menangis sambil mencaci-maki pelatih…”Bodoh…Maradona kok tidak dimainkan…”

Enam tahun setelah itu, saya baru tahu bahwa Diego – sang tangan Tuhan – tersandung kasus pemakaian obat-obatan terlarang. Hmm, pantas saja kalau Argentina tersingkir oleh Rumania yang waktu itu bermain efektif. Tidak seperti Argentina yang tampil opensif tetapi mereka kalah jumlah gol. Dan, saya rasa mereka kalah mental karena sang bintang tidak berada di sisi-Nya. Seperti halnya dalam perang suci (holy war) sebuah Agama, tanpa menyadari Tuhan berada disampingnya, maka tunggulah kekalahan.

Pada tahun 1998 saya kebetulan menonton pertandingan piala dunia di pesantren. Waktu itu, pesantren saya mengeluarkan televisi agar para santri dapat menonton rame-rame. Tahun 2002, karena saya sudah kuliah di PTAIN di Bandung, nontonnya di sekitar kos-kosan teman. Pada tahun 1998 saya masih menggilai “Tim Tango” dengan bintang lapangan Ariel Ortega. Kemudian, di tahun 2002 saya mengagumi kembali Sebastian Veron yang bermain kalem dan tenang. Gaya permainannya Eropanis banget.

Tahun 2006, saya tak bisa menjatuhkan rasa cinta saya pada Tim selain Argentina, dari negeri inilah saya menyukai gaya permainan mereka yang tampil menyerang habis-habisan. Katanya, “Lionel Messi” pada tahun 2006 bermain untuk Argentina, akan tetapi tidak mendapatkan kepercayaan dari sang pelatih. Nah, Lionel Messi saya lihat permainannya di Barcelona dan final Olimpiade dengan mengalahkan Negara Brazil. Briliaan…, saya berteriak ketika Messidona – julukan Messi – mencetak gol dari luar kotak pinalti sekeras tembakan peluru dari senapan. Dar! Wusss!!! Dan Gol…….!

Kini, tahun 2010 Argentina kembali bermain. Setelah terseok-seok pada babak kualifikasi, “Tim Tango” masih saya dukung sepenuh jiwa. Biarlah para pengamat mengatakan bahwa Maradonna dan Messi tidak akan membawa negaranya menjuarai piala Dunia. Tetapi, saya bersama kakak saya mendukung Argentina pada tanggal 12 Juni melawan Nigeria. Melihat kekuatan tim – meskipun saya tak begitu setuju dengan coach Maradonna karena tidak memanggil Cambiasso – Argentina akan mampu melewati Nigeria yang hebat-hebat dan kuat-kuat. Dengan aliran religio-footbal Argentina, warganya dan para penggemar “Tim Tango” harus meyakini kredo, bahwa Maradona ialah kekasih Tuhan yang dapat mengantarkan kemenangan. Kita lihat tarian bola percaya diri dari Messidona, yang dijanjikan akan membawa kemenangan bagi Argentina.

Mampukah Argentina mengalahkan kekuatan foot power dari negeri Nigeria? Kita tunggu saja analisa dan hasil pertandingan di RCTI, televisi yang menyiarkan pertandingan Argentina Vs Nigeria di Afrika 12 Juni nanti malam. Hahahahahahahaha

6 June 2010

Benarkah Ini "Sex Narsis" Ala Luna Maya dan Ariel?

Benarkah Ini "Sex Narsis" Ala Luna Maya dan Ariel?

Energik, tinggi semampai, rambutnya terurai panjang, kulitnya putih bersih, hidung, mata, dan bibirnya seindah gemerlap mutiara. Sayangnya penampilan fisik Luna Maya, aktris multi-talenta itu, tidak terseleksi sebagai wanita pujaan hati saya. Hahaha…Makanya, ketika ada kabar dari Mas Iskandar di Kompasiana ikhwal video mesum Luna versus Ariel, saya belum/tidak akan mencarinya. Sebab Luna ialah aktris pavorit saya. Bahkan, Ariel juga musisi yang hingga hari ini saya tunggu karyanya setelah Peter Pan membubarkan diri.

5 April 2010

We Are Kampong Footballers

We Are Kampong Footballers

In the past, other than Volley Ball, Soccer a sports which I liked. It is still fresh in my memory and it is well recorded how to manage ‘the round skin’ to make it a goal. When the sun rays are enlighting the earth with its heat, clothed with salty sweat as the sea water, my friends and I –in the village, were keen to drill the ball.

In my village, the people there used to make use of the dry farm yards to play soccer until the rainy season comes. The habit to play soccer defeated every other kinds of activities. Starting with prayer (like shalat [read: Muslim prayer]) until daily routine activities (such as having a meal) are forgotten just like that. No wonder, if kang Jalal [read: Indonesian a soccer commentator] once said, “soccer has become some kind of a religion of mankind.”

Why do I and my friends prefer this “collective sports”? Collectivism is the reason why it is favored by everyone. 22 players are playing against each other, passing ball, competing to create a goal to the opponent’s. If I may compare, ‘village soccer fames’ are much more festive compared to the national soccer (in which the performance is continuously sliding down). There was one time when my team defeated another team from the same village with definitive win of 12-0. In my village, it was called “a dozen soccer”. It can be called a victory if the opponent has been defeated with an aggregate of 12-0.

I used to play in the left back position. If not as the left back position, I also play as left striker. I even used to be a playmaker for several years. This is not a lie, honestly, before my knee was injured, I had always become a starter in my village team and the pesantren team [read: religion school]. However, since I was only a village soccer player, I had to end my career in soccer when I had my injury. Well, that’s the reason, because when an injury strikes a village soccer player, there is not maximum recovery from the management team. As a consequence, my soccer career had come to an end.

Nevertheless, if there is a soccer game in my village against another village, I still like to play the game eventhough I was not as fast as I used to be. If I get the ball, I can only drill it as far as 3 meters. If I don’t pass it to my team mate, then I’d strike it with my left foot and it often make a goal, but more of a missed kick. Haha.

Now, when I have totally stopped from playing in soccer field, there has been a new hobby, which is to play in the futsal field. It is no longer winning a soccer game, but for health and fit body which caused me to play in futsal field of the Erlangga Stadium in Cibiru, Bandung. Aside from writing, reading, physical health must always be maintained. Well, one of the ways is by make use of this collective game.

By The Way, when playing soccer, a person who may look astute and wise, will easily injure the opponent. There is a proof with my friend. On daily habit, he seems so quiet, cool, astute and wise. But when he is in the field, his eagle technique is oftenly used when kicking the ball or to mark the opponent who is drilling the ball. Poos opponent, because he had to get up with aching leg because my friend tackled him to fall.

Wow, I think that is a player under “tacky” [read: village] category. Agh, but the soccer atmosphere in our is like that. Former national soccer player, Anang Ma’ruf, had an unlucky life when his hand was broken –as he was tackled by a player from the Super League player. Who knows when the Europeans find our soccer players, they may call Indonesian soccer players of being “tacky”. Ha ha... but why did Persipura was defeated by 9-0? I don’t understand our soccer players. They are nasty in their own community, but they are losers when they play in another’s field...especially when they play in another country. The Goal Keeper would become the frequent target of the opponent.

Hahahaha………….(That’s all my note from this village soccer player)…

(Submitted by Sukron Abdilah from Indonesia)

4 April 2010

Salam Penghormatan

Salam Penghormatan

SEJAK kecil ibu saya sering melarang untuk mempelajari ilmu bela diri. sampai pindah2 mempelajari ilmu pencak silat, tenaga dalam, TIFAN, karate; sampai saya tidak menguasai satu pun dari ilmu bela diri tersebut. saya selalu, dimarahinya; bahwa ilmu bela diri tersebut tidak akan berguna di masa depan. IA WAKTU itu hanya berkata, ilmu bela diri yang cocok itu adalah "sopan santun" kepada siapa pun.

11 March 2010

Gini-gini Juga Pesepakbola Kampungan

Gini-gini Juga Pesepakbola Kampungan

Dulu, selain Volly Ball, olahraga yang saya gemari adalah sepakbola. Masih ingat di memori saya tersimpan rapi kenangan bagaimana mengolah si kulit bundar hingga menjadi goal. Ketika cahaya matahari menyoroti bumi dengan panasnya, dibalut keringat yang asin seasin air laut, saya bersama kawan-kawan di desa asyik menggiring bola.

5 October 2009

Jangan Pernah Menyerah

Jangan Pernah Menyerah

We will not go down/In the night, without a fight/You can burn up our mosques and our homes and our schools/But our spirit will never die/We will not go down/In Gaza tonight// (Michael Heart, We Will Not Go Down)

Wow…, menyentuh sekali lagu yang diciptakan dan dinyanyikan Michael Heart ini. Membuat saya merasakan bahwa hidup harus terus dipertahankan. Ya, meskipun segala gempuran masalah hidup terus menerjang. Ketahuilah, kawanku, hikmah dibalik setiap persoalan sulit akan diperoleh ketika berhasil melewatinya. Jadi, jangan pernah menyerah ketika lilitan soal kehidupan terus mengerangkengmu.

Kutipan di atas saya ambil dari sebagian lirik lagu untuk Gaza, yang digempur pasukan Israel selama beberapa minggu. Judul lagunya, “We Will Not Go Down” yang memiliki arti, Kami Tidak Akan Menyerah. Lagu sederhana gratisan ini menggambarkan kegetiran yang diakibatkan perang Israel-Palestina yang sudah berlangsung selama puluhan tahun. Sekadar informasi, dalam situs www.michaelheart.com, selama dua minggu lagu ini banyak yang menayangkan di Youtube sebanyak 750 ribu, 250 ribu mendownload mp3-nya, dan 10 ribu e-mail yang masuk kepada Michael Heart.

Saya jadi terinspirasi dengan lirik ini, kawanku. Setiap hari selalu mendengarkan, memahami, dan menghayati kalimat “We Will Not Go Down”. Indah rasanya kalau kita memiliki semangat tidak pernah menyerah ketika bernafas di dunia ini. Kurang lebih, terjemahan dari sebagian lirik itu adalah, “Kami tidak akan menyerah. Di malam hari, tanpa perlawanan. Kalian bisa membakar masjid kami, rumah kami dan sekolah kami. Tapi semangat kami tidak akan pernah mati. Kami tidak akan menyerah. Di Gaza malam ini.”

Kawanku…, “jangan pernah menyerah”. Teruslah berupaya memahami bahwa hidup itu adalah ruang dan waktu yang harus diisi dengan kerja keras, sungguh-sungguh, dan bertujuan. Ketika kamu menginjakkan kaki di tanah untuk berjalan menuju sekolah, cobalah bayangkan warga di Gaza. Mereka harus berlari dan tertekan karena bangunan sekolahnya terancam. Syukurilah kawan. Dan, bentuk syukur itu adalah membekali diri dengan mental tangguh menghadapi setiap permasalahan yang melilit hidup.

Kalau saja kamu ingin memiliki mental tangguh, cobalah sekali-kali menjalankan syariat yang ditentukan dalam Al-Quran dan Sunah Nabi Saw. Dirikanlah shalat sunah. Sebab, ibadah anjuran ini meskipun tidak akan berdosa meninggalkannya, tetapi ada berbagai manfaat positif bagimu. Salah satunya adalah membentuk mentalmu hingga sekuat baja, setangguh istana kerajaan, dan sekokoh Ka’bah (baitullah).
Tertarik untuk menjadi manusia yang tidak gampang menyerah?


13 September 2009

Bahasa dan dominasi Manusia Kuat

Bahasa dan dominasi Manusia Kuat

Titik sentral kehidupan adalah kata-kata. Sebab melalui kata, seseorang mampu mengekspresikan diri lewat berbagai bentuk protes, orasi, dan tuntutan. Kata merupakan buah pemikiran seseorang. Untuk menyampaikan isi pemikiran kepada khalayak ramai, tentunya kita membutuhkan simbolisasi lisan berupa kata-kata. Tujuannya agar pesan yang tersusun melalui alur pemikiran tersampaikan secara tajam dan akurat.Kita tentu setuju jika dikatakan bahwa kualitas kata-kata berpijak pada dimensi pemikiran (intelektualitas) seseorang. Jika pemikirannya kacau balau, maka kata-kata yang terucap pun tak beraturan.

Dengan demikian, konsistensi pemikiran selayaknya menjadi pijakan utama dalam mengekspresikan kata-kata. Karena ia layaknya seorang nahkoda yang berusaha mengendalikan, mengarahkan dan mengatur laju kapal di lautan. Begitu juga dalam penyampaian pesan. Intelektualitas bakal mengarahkan dan mengatur kata-kata hingga tersampaikan pada orang lain secara sistematis dan logis.

Kata-kata adalah elan vital bagi pencerahan suatu bangsa. Kebebasan berpendapat, beropini dan menulis merupakan cermin dari mulai tercerahkannya suatu peradaban. Alangkah naifnya ketika zaman ini digiring ke "zaman pemberangusan" kata-kata, ketika kita tidak lagi bebas mengekspresikan opini dan curahan pendapat, tidak lagi mampu berkreasi lewat kata-kata dan bahkan tidak lagi menguasai kata-kata. Dengan kata lain, hidup dalam zaman "kebisuan" akan menggusur kita pada sikap masa bodoh, acuh tak acuh, dan tidak kritis terhadap kondisi ekonomi, sosial, politik, dan budaya bangsa. Alhasil, muncul kemunduran atau bahkan kebusukan peradaban.

Mengapa demikian? karena peradaban Barat dan Timur pun merupakan buah hasil dari kata-kata. Ketika kata-kata tidak lagi menjadi sesuatu yang urgen karena telah diberangus, maka tak bisa dipungkiri lagi bahwa peradaban yang muncul adalah peradaban "membeo" saja. Sami'na wa ato'na (kami dengar dan kami taat) secara dangkal dipahami sebagai upaya pasif belaka yang kering dari daya upaya untuk memperbaharui dan mengubah, apalagi memprotes kebijakan-kebijakan yang dianggap sepihak.

Bukan hal mustahil ketika kata-kata sudah dimonopoli oleh salah satu pihak, disinyalir akan melahirkan otoriter bahasa. Menurut dia hanya kata-katanya yang benar, hanya kata-katanya yang ilmiah, hanya kata-katanya yang rasional, dan hanya kata-katanya yang mampu membawa umat ke surga. Dengan demikian, hegemoni kata-kata merupakan keniscayaan yang tidak bisa dipungkiri saat ini. Sebab, kondisi saat ini menggambarkan bahwa masyarakat telah terjebak pada penguasaan sepihak kata-kata, sehingga muncul berbagai arogansi.

Arogansi para petinggi negara yang kerjaannya hanya mengeluarkan kebijakan sepihak. Arogansi para pengusaha yang berusaha menguasai kekayaan bangsa. Dan tentunya arogansi bangsa yang menafsirkan kata-kata orang lain dengan sudut pandang nafsu pribadi. Bahkan arogansi para pejabat negara yang maunya naik gaji terus.

Animo masyarakat terhadap pengungkapan kata-kata mutlak diperlukan. Kalau tidak ada, zaman ini kita namai saja "zaman pemakaman". Banyak orangnya tetapi tidak bisa berbuat apa-apa ketika kesetimpangan merajalela, ketidakadilan mendunia, kebiadaban meracuni massa, dan kemaksiatan sudah menjadi harga mati. Untuk mengubah kondisi ini hingga bisa meraih pencerahan peradaban, tentunya memerlukan peran serta pengolahan kata-kata sesistematis mungkin.

Melalui tulisan kita beropini, melalui mimbar kita menyampaikan nilai-nilai universal, dan melalui media elektronik kita bangun imej positf budaya bangsa. Apalagi di era yang serba canggih ini, segala luapan ekspresi pemikiran yang tercermin dalam kata, mampu menyedot respons masyarakat guna memunculkan kesadaran kolektif.

Apalagi semenjak era reformasi bergulir, tugas kita adalah memanfaatkan pembukaan keran kebebasan dengan mengekspresikan kata-kata secara apa adanya. Tanpa dibarengi dengan topeng kepura-puraan, kemunafikan dan segala bentuk penipuan. Bebas dari kepentingan pribadi dan hawa nafsu keserakahan. JIka saja kata-kata sudah dimanipulasi sedemikian rupa, maka janji-janji palsu pun bakal mengalir dari mulut para manipulator melalui berbagai orasi.

Janganlah heran jika kata-kata hanya didengar dan dipercaya ketika dikumandangkan oleh seorang yang kuat. Kuat segala-galanya. Kuat duitnya, kuat birokratnya, juga orang-orang di belakangnya. Dengan kondisi demikian, maka tak salah jika ada segelintir orang yang ingin membangun imej positif di mata masyarakat dengan menggandeng orang yang kuat segala-galanya. Pengusaha menjabat struktur pemerintahan, orang kaya mendominasi suara dukungan rakyat, bahkan orang jujur yang melarat terbengkalai dari percaturan politik. Semua ini berawal dari kata-kata.

Kalau tak percaya coba saja seorang tukang becak kita calonkan menjadi kepala daerah. Apa yang terjadi, bisa dipastikan suaranya tidak akan memenuhi kuota suara satu persen pun. Karena, di era yang serba materialis ini, suara orang yang tak berduit tentunya hanya tong kosong nyaring bunyinya saja. Ketika mendengarkannya, muncul berbagai sikap pengacuhan terhadap kata-kata yang dibahasakan lewat "suara"-nya.

Gejala ini, seolah menunjukkan bahwa kata-kata telah dimonopoli oleh kalangan tertentu yang punya ambisi dan kepentingan pribadi. Alhasil, ketika mencalonkan diri untuk menjadi seorang pemimpin, tentunya selain harus pandai merangkai kata, harus memiliki uang untuk menyumpal mulut para pendukung. Agar, kebisuan mereka tertutupi oleh diam seribu bahasa, sebagai tanda dukungan penuh.

Kesimpulannya, hegemoni kata-kata bisa berperan penting dalam arena kehidupan. Ketika ingin mulus jalan menuju kursi kepemimpinan, sewalah para manipulator kata-kata. Ketika ingin suaranya didengar, maka kuasailah kata-kata dengan nafsu pribadi. Tetapi, hemat penulis, keadiluhungan kata-kata disinyalir mampu meredam berbagai praktik pembelian dan penjualan suara rakyat oleh segelintir orang yang manipulatif dan hegemonik tentunya.

Lantas, bagaimanakah model kata-kata yang adi luhung tersebut?

Kabuyutanku adalah Hutan

Kabuyutanku adalah Hutan

Berbicara tentang hutan di daerah kita memang menyedihkan. Pada tahun 2000-an, sekira 101, 3 juta hektar hutan dan lahan rusak. Memang manusia makhluk serakah. Segala yang diberikan Tuhan semuanya dihabiskan tanpa pemikiran ke depan. Ah, sebetulnya ini ulah manusia modern yang banyak mengagungkan pendekata positivistik-teknologis. Coba, kalau masih pengkuh memegang ajaran Karuhun bahwa hutan juga merupakan kabuyutan (dalam term urang Sunda). Maka menjaga dan memelihara hutan akan berdengung sampai ke seantero Indonesia.

Kabuyutan seperti ka'bah. Daerah Mekkah -- kata sebagian hadits -- tidak boleh dimasuki oleh orang-orang yang kerjaannya merusak. Bahkan, sang dajjal pun tak bisa memasuki daerah suci ini. Tapi, nasibnya tak sama dengan hutan sebagai kabuyutan yang tak boleh dieksploitasi. Per menit saja, di Indonesia hutan sudah berkurang ratusan meter. Bahkan, ketika saya melihat peta pulau Kalimantan, warnanya tidak hijau lagi. Berubah menjadi putih kehitam-hitaman alias hutannya gundul.

Memang kita -- bangsa -- yang tak menghargai tradisi pemeliharaan hutan yang diwariskan orang-orang terdahulu. Sehingga hutan dari tahun ke tahun terus terdegradasi. Padahal hutan adalah kabuyutan-nya orang Indonesia. Ketika kabuyutan itu tidak dipelihara dan dijaga eksistensinya, tentu saja Negara Indonesia -- seperti yang dikatakan ibu saya -- akan menjadi Negara pertama yang dihancurkan Tuhan ketika sangkakala ditiupkan.

Aktivitas menebang pun tanpa disertai penanaman pohon yang seimbang. Menebang dalam satu hari menghabiskan jutaan ton kubik. Sementara itu, menanamnya tidak sampai jutaan pohon perhati. Kalaupun sampai jutaan, harus menunggu berapa tahun lagi agar berjalan di jalan-jalan tanpa kepanasan karena ada rerimbunan pohon.

Jadi, kabuyutan itu bukan hanya universitas, gedung kebudayaan, dan kampung adat saja; tapi hutan belantara yang rimbun juga adalah kabuyutan. Terserah anda mau menyalahkannya, tapi menurut saya -- bahkan sampai mati -- akan menjadikan hutan di seluruh Indonesia sebagai kabuyutan. Tak akan pernah saya membiarkan dajjal atau perusak hutan terus merajalela mendegradasi alam sekitarnya.

Sebab, dalam hadits yang diperoleh dari ulama-ulama tradisional salafiyah di perkampungan, dajjal itu akan selalu menghancurkan gunung. Dan, akan berhenti menghancurkannya tatkala terdengar suara adzan. Aktivitas merusak hutan yang dilakukan oleh dajjal berwujud manusia bisa berhenti dengan meneriakkan pembelaan terhadap lingkungan sekitar (Adzan). Meneriakkan bahwa merusak hutan itu sama seperti merusak kabuyutan sendiri dan dilarang oleh norma Agama.

"Walaa tufsidu fi al-ardh". Artinya, janganlah kalian semua (umat manusia) merusak dan melakukan upaya-upaya eksploitasi di muka bumi. Ok, dulur?

27 July 2009

Berhenti Menggonggong

Berhenti Menggonggong


Di salah satu rumah, dekat sebuah kolam; dua ekor anjing itu berhenti menggonggong. Dulu, saya memiliki tiga ekor anjing untuk menjaga kebun jeruk Garut dari sergapan maling. Kendati, sudah dijaga tiga ekor anjing masih ada saja yang mencoba mencurinya. Entah itu teman, warga kampung lain atau saya bersama kakak saya, Arif. Namun kedua anjing itu selalu menggongong kepada setiap orang. Termasuk dua kakak-beradik yang akan berangkat sekolah, yang kebetulan melewati rumah bercat putih indah tersebut.

Dalam menghadapinya, kakak beradik itu memiliki metode yang berbeda. Kalau sng adik selalu membawa beberapa potong singkong rebus. Kakaknya, membawa kerikil tajam.
Setiap berangkat sekolah kalau anjing itu menggonggong, sang adik melemparkan sepotong singkong. Sisanya, untuk nanti pas pulang dari sekolah. Alhasil, anjing itu berhenti menggonggong. Nah, anjing yang satunya lagi terus saja menggonggong sang kakak. Sebab, dia melemparkan batu kerikil ke depan anjing itu. Celakanya, sang kakak malah lari sehingga sang anjing mengejarnya. Dia pun terjatuh. Pakaiannya kotor.

Sementara sang adik, malah dijilati anjing yang menjulur-julurkan lidahnya. Dia berlari tidak cepat, karena anjing itu tidak menggonggongnya. Anjing itu sekejap mata menjadi jinak. Akhir cerita, anjing itu menjadi sahabat sang adik dan musuh bebuyutan sang kakak.

Wah, kisah di atas kendati sederhana memuat pelajaran berharga bagi kita. Bagi kaum agamawan, ketika mempraktikkan religiusitas, jangan mudah merendahkan agama lain. Jangan pernah keras dalam membimbing umat. Bahkan, jangan sekali-kali meligitimasi praktik terror. Itu tidak akan mengundang simpati. Melainkan aksi kebencian.

Kemudian, ini tafsir kisah yang sangat saya sukai. Kakak beradik itu kalau diumpamakan pemerintahan, hmmm, seperti praktik politik bapak-bapak kita. Ketika ada partai yang diindikasikan akan menggonggong terus-terusan, jabatan pun ditawarkan kepada mereka. Jabatannya pun yang sangat “basah”. Sehingga, sedikit demi sedikit suara gonggongannya meredup. Bahkan, tidak terdengar. Itulah tindakan elegan seperti yang dilakukan sang adik.

Nah, kalau sang kakak, mirip dengan pemerintahan otoriter. Setiap suara gonggongan ditekan secara keras agar tidak bersuara lagi. Banyak orang yang diculik, bahkan dibunuh, ada juga yang di penjara. Hal itu dilakukan supaya kaum oposan tidak bersuara lagi. Ngomongin pemilu kemarin, saya tak begitu jelas menyimak siapa yang menjadi penjaga suara kiritis rakyat. Sebab, politikus kita bukan satu spesies dengan hewan kesayangan saya ini.

Kita tunggu saja, bulan Oktober. Apakah ada yang terus menggonggong atau malah berbalik haluan mendukung gonggongan pemerintah. Gonggongan yang tidak dibarengi aksi nyata, karena sudah kenyang memakan singkong dari sang adik.


15 July 2009

Ciptakan Keharmonisan

Ciptakan Keharmonisan


Ayam, kucing, dan anjing saya selalu berdekatan mesra. Sang ayam tidak mematuk-matuk punggung kucing. Pun begitu dengan kucing. Tidak pernah mencakar dan mengunyah ayam yang masih hidup. Apalagi dengan si dogy. Dia tidak mengisi hari-harinya dengan mengejar ayam dan kucing. Tahukah kenapa mereka harmonis seperti itu?
Saya selalu memberi makan mereka bersama-sama. Sederhana bukan?

Namun manusia tidak sesederhana itu. Kendati kita hidup berdampingan dengan orang yang berbeda. Bertetangga. Berkawan. Dan berteman akrab. Ada satu hari yang tak bisa dilepaskan dari perkelahian. Karena kita memiliki hasrat, keinginan, dan kepentingan. Tak seperti hewan peliharaan saya. Hasrat ada, keinginan ada; namun kepentingan hanya nol persen. Kepentingan itu adalah membangun peradaban. Hewan tidak pernah berkepentingan untuk membangun peradaban. Sementara manusia, memiliki kepentingan yang mengarah pada pembangunan peradaban. Inilah yang melahirkan persaingan vis a vis.

Sebuah persaingan yang banyak membutakan nurani kita. Persaingan yang banyak melahirkan tindakan makar. Persaingan yang banyak memicu eksploitasi besar-besaran. Persaingan yang memunculkan segala tetek bengek problem dan ketakutan. Inilah yang diistilahkan dengan callenge. Tantangan yang didalamnya ada sejuta peluang. Untuk meyakinkan bahwa manusia harus melawan dan menaklukkan tantangan tersebut.

Mang Udin, si miskin dari kampung; ketika mencoba bekerja harus memutar otaknya untuk melawan eksploitasi bos perusahaan. Karena dia bekerja sebagai buruh tani, tentunya harus tunduk pada aturan yang diberikan sang pemilik sawah. Islam, agamaku sampai mati, mengajarkan relasi sama rata. Relasi yang tidak memilah-milah. Tidak ada istilah kaya-miskin. Tidak berlaku hukum sosiologis homo homoni lupus. Serigala – dalam Islam – semestinya dapat bergandengan dengan domba yang masih hidup.

Namun, itu sulit terealisasi. Harmonis lahir ketika sebelumnya terjadi pertentangan dan konflik. Tuhan selalu membuat manusia tertawa. Menertawakan perilaku yang tidak bisa dijaganya. Perilaku seperti apakah itu? Memberi optimisme hidup kepada orang-orang tak beruntung. Kepada si miskin. Kepada si pengangguran. Kepada siapa saja yang membutuhkan uluran tangan kita. Gitu aja kok repot!!!



14 July 2009

Pendekar Nggak Waras!

Pendekar Nggak Waras!


Pukul 00: 01 saya tertidur. Karena mimpi disabet pedang samurai oleh pendekar, saya jadi terbangun. Sabetan itu tepat mengenai sekitar jantung saya. Saya terkejut dan merasa dada bagai ditusuk beneran. Bangunnya sekitar pukul 02: 13. ih…dingin bener pagi ini. Sampai-sampai tulang saya merasa ngilu dan kulit sedikit gatal-gatal. Mimpi itu aneh. Saya dengan sang pendekar sangat bersahabat. Kenapa tahu bersahabat? Karena perasaan di mimpi itu dia adalah sahabat saya.

Suatu ketika kami bertiga, entah siapa yang satu lagi, burem; sedang mengejar penjahat. Tepatnya penjahat itu adalah dua orang pencuri pedang pusaka. Saya nggak tahu milik siapa pedang itu. Yang jelas, milik orang penting tapi terasa dekat bersama kami berdua (saya dan pendekar itu). Si pendekar, kendati tak pernah ngomong: takut banget pada sang pemilik pedang dengan serangka putih tulang kegadingan itu.

Singkat cerita, kami bertiga melihat sang pencuri itu. Mereka berdua. Tanpa berpikir panjang, mereka dikejar sang pendekar. Karena saya perokok aktif, tentunya tertinggal di belakang. Huhhh capek banget!!!

Sekitar lima meteran jarak kami. Meskipun di dalam mimpi sangat dekat. Sang pendekar dan teman saya yang satunya lagi menyabet dua pencuri itu. Belum juga terjadi pertarungan sengit, sang pendekar berbalik ke arah saya.

“Ciaaatttttt,” pedang itu secepat kilat menusuk dada saya.

“Astaghfirullah. Dasar pendekar nggak waras!” bisikku ketika terbangun dari mimpi.

Itulah itu, saya bilang. Mimpi yang multitafsir. Karena multitafsir itulah, saya jadi ingin menafsirkannya. Mimpi itu bisa persaingan ketat di dunia yang saya geluti. Bisa juga ada orang yang mencoba merebut calon istri saya. Gilanya lagi, boleh jadi ada teman berteriak teman di hadapan. Ketika saya lengah menusuk dari depan. Bukan dari belakang, karena saya tidak pernah bersenjata walau dalam mimpi. Jadi tokoh lain dalam mimpi saya bisa bebas melakukan apa pun.

Itulah itu, saya bilang. Mimpi yang mencoba merespon pengalaman tubuh dan jiwa saya di alam nyata. Malam itu mungkin udara dingin. Kalau dingin, bagi yang memiliki gangguan di sekitar paru-paru bakal terasa pengap. Belum lagi di kamar saya ada debu yang minta ampun membuat sesak nafas. Bisa juga mimpi itu adalah pendaman-pendaman keinginan saya terhadap sesuatu. Beberapa bulan ini saya selalu mengekori seseorang agar bisa bertahan hidup: kerja sampingan. Pedang yang dicuri itu, karena memiliki serangka putih gading, ya, rebutan manusia. Uang alias duit bin pulus! Bahkan boleh jadi serangka itu adalah jabatan atau posisi. Mungkin karena takut direbut saya, akhirnya dada ini tertusuk pedang juga.

Ah…, dasar mimpi. Dasar pendekar gila. Dasar saya juga yang banyak masalah menimpa. Mimpi itu membangunkan saya dari tidur lelap dan panjang, setelah pukul 20.00 WIB saya bersama kawan-kawan di IMM UIN Bandung bermain Futsal. Lelah adalah risiko kehidupan. Kadang ketika kita lelah, kekuatan yang masih terpancar dari dalam diri adalah intuisi. Makanya, sebelum tidur kita dianjurkan berdoa, “Biismika Allahumma ahya wa biismika aamuut”. Itu untuk merehatkan intuisi kita agar tidak segila di alam mimpi. Bingung dengan tulisan ini? Sama dong!!!

From “kamar sempit” 14 Juli 2009, pukul 03.00 WIB – 03.15 WIB.



2 July 2009

Kerja Berpahala

Kerja Berpahala

SELEPAS lulus kuliah, langkah selanjutnya adalah memburu pekerjaan. Tapi, tak menutupkemungkinan ada juga yang lantas meneruskan ke jenjang lebih tinggi. Itu terserah anda. Tak ada larangan! Yang jelas, asal anda mampu membayar uang pangkal dan SPP. Sayangnya, bila kuliah di perguruan tinggi selesai, kita seakan mengabsenkan diri dari kepentingan-kepentingan publik.

Kita sibuk mengurusi diri sendiri – umpamanya menjadi pekerja atau mahasiswa S2 – tetapi, kepekaan untuk menggolkan tuntutan rakyat miskin terlupa kembali. Maka, pekerjaan kita sehari-hari hanya berkutat pada orientasi kepentingan individu. Meskipun, tak seluruhnya para lulusan perguruan tinggi bertindak seperti itu. Masih banyak dong lulusan perguruan tinggi negeri atau swasta yang berkontribusi mengentaskan persoalan yang melilit bangsa.

Teman saya, umpamanya, ada yang masih aktif di sebuah LSM dan bergerak melakukan advokasi kepada para petani di pelosok desa, Kabupaten Bandung. Ada juga yang masih aktif di organisasi kemahasiswaan – kendati telah lulus – di salah satu ormas Islam, untuk mengusahakan perubahan dan pencerahan bagi bangsa. Bahkan, ada juga yang berjuang melestarikan dan menjaga kekayaan ekologis di tiap daerahnya.

Saya pikir, itu adalah pekerjaan berpahala. Syaratnya, jangan menukar derita rakyat dengan kesenangan pribadi. Bekerja tidak hanya untuk sekadar hidup saja. Tapi, untuk memberikan arti pada hidup. Arti hidup itu bisa berbentuk manfaat bagi diri sendiri dan orang di sekitar. Apa pun pekerjaan yang kita lakoni, bila dijadikan media untuk menolong orang lain; itu bernilai ibadah.

Hayatuna kulluha ibadatun, desah nafas kita (hidup) seluruhnya ibadah. Ujar baginda Muhammad Saw 1428 tahun yang lalu. Lantas, sudahkah pekerjaan kita digunakan sebagai media beribadah kepada-Nya?

30 June 2009

Belajar Dari Polisi Tidur

Belajar Dari Polisi Tidur


Biasanya, bagi para pengendara bermotor yang kerap melewati kompleks perumahan atau jalanan dipedesaan, akan begitu akrab dengan istilah polisi tidur. Entah dari mana asal-usul kalimat polisi tidur ini. Yang jelas, tujuan dari pembuatan polisi tidur tersebut, untuk mengatur laju kecepatan kendaraan bermotor yang melintasi jalanan agar tidak cepat.

Seperti yang dikatakan oleh ketua RT sebuah kompleks perumahan di wilayah Bandung, “Kalau nggak dibuat polisi tidur, suka terjadi (kecelakaan) tabrak lari”. Ya, dengan penjelasan bapak RT tersebut, berarti polisi tidur adalah semacam ciptaan manusia yang digunakan untuk mengatur lalu lalang kendaraan bermotor. Agar tidak terjadi kebut-kebutan dan tentunya agar bisa menghindari terenggutnya korban jiwa akibat tabrak lari.

Bentuk topografi polisi tidur juga, berasal dari bahan-bahan yang lazim digunakan untuk membangun sebuah rumah. Diantaranya semen, air secukupnya, dan kalau ingin tahan lama bisa menyertakan pasir dalam proses peramuannya. Kokoh, kuat, dan gagah sehingga tahan banting. Lalu, posisi fisiknya juga terlentang dari kiri jalan ke kanan jalan bagaikan seorang manusia yang sedang tidur-tiduran.

Uniknya, polisi tidur tak pernah sama sekali diberitakan tidur dari tugasnya untuk mencegah para pengendara motor “bebas kebut-kebutan”. Apalagi, tidak pernah ada barangkali polisi tidur yang minta jatah uang bayaran kepada para pengendara yang melintas.

Coba pikirkan, polisi tidur tidak pernah mengais rezeki dan menambah uang sakunya dengan cara-cara yang korup dan jahat. Ya, karena polisi tidur adalah benda yang tak membutuhkan uang. Tulus-ikhlas, sungguh-sungguh bekerja, dan menyadari fungsinya sebagai ciptaan manusia yang harus menjaga keamanan lingkungan sekitar. Meskipun polisi tidur tidak diceritakan bisa berbicara, berpikir, dan bernafsu. Oleh sebab itu, kita jangan pernah mau kalah oleh polisi tidur yang terus-terusan tidur, tapi tetap terbangun untuk membantu lalu lintas di kompleks perumahan sehingga kecelakaan (tabrak lari) bisa diminimalisasi.

Di kampung saya, suatu malam ada orang jahat yang mencoba membobol warung. Ketika pencuri tersebut kepergok masyarakat, mereka langsung lari terbirit-birit dengan menggunakan kendaraan bermotor. Kami pada saat itu, terus mengejar sambil berteriak bersama-sama “maling..maling..maling”. Selang beberapa menit, suara motor itu pun mati. Kemudian, warga menemukan pencuri itu sedang terbaring lemah di selokan depan rumah kakak saya.

Setelah diselidiki, ternyata kendaraan motor yang dikendarai si pencuri itu tidak seimbang ketika harus melalui beberapa Centi meter (cm) tinggi polisi tidur buatan warga. Apalagi saat itu malam gelap gulita. Mereka tidak melihat bahwa didepannya berjejer kuat polisi tidur. Inilah kedisiplinan yang mesti kita renungi dan amalkan dalam kehidupan. Disiplin ketika bekerja, menyelesaikan tugas secara tepat, dan bertanggung jawab atas apa yang kita kerjakan.

Kita tahu bahwa tujuan diciptakannya polisi tidur adalah untuk mengatur dan membenahi kesemrawutan dijalanan. Tidak untuk memungut uang liar atau menyusahkan orang lain. Tak arif rasanya kalau keberadaan polisi tidur banyak dimanfaatkan oleh warga untuk memungut uang liar. Sejenis uang pungutan yang diperoleh dari kantong para pengendara bermotor secara liar. Secara ekologis, kata “liar” ini menunjukkan pada kondisi keliaran seekor hewan yang belum mampu beradaptasi dengan lingkungannya yang baru.

Nah, untuk menjinakkan hewan tersebut butuh kemampuan yang mumpuni. Misalnya, kepiawaian seperti yang dimiliki para cowboy ketika menjinakkan banteng, kuda dan sapi hutan yang liar. Jadi, uang liar secara istilah adalah uang yang berasal dari kantong orang lain yang harus dijinakkan karena belum bisa dibelanjakan. Orang yang mengambilnya secara paksa, bisa disebut juga dengan “maling” atau pencuri.

Biasanya, sih, untuk menjinakkan uang liar itu para oknum di jalan raya, umpamanya, banyak menilang para pengendara bermotor dengan alasan melanggar rambu lalu lintas. Para pengendara nakal yang semestinya membayar denda lebih besar, bisa diturunkan hingga 10 ribu perak, 15 ribu perak, dan 20 ribu perak. Akibatnya mereka (baca: para pelanggar) tidak jera sama sekali. Malahan semakin menjadi-jadi melanggar rambu lalu lintas.

Mengapa? Sebab ketegasan hukum di Negara ini sangat murah sehingga banyak dimanfaatkan oleh para pengendara yang patologis. Karena itu, sisi fungsional polisi tidur harus kita resapi, hayati dan amalkan dalam kehidupan sehari-hari. Kalau polisi tidur mampu tidur dari praktik pemungutan liar (pungli) di jalan raya, kenapa kita tidak bisa menggenjot “Roh kejujuran” dalam hidup? Polisi tidur yang berasal dari makhluk tak memiliki roh, toh masih memiliki “Roh kejujuran”.

Lantas, bagaimana dengan kita?

Tentunya kalau mengaku manusia yang berjiwa, mesti menanamkan kejujuran dalam hidup mulai detik ini. Karena ketika kita tidak jujur dalam hidup, sama juga dengan mengingkari diri bahwa setiap manusia memiliki potensi kebaikan. Maka, kata “tidur” juga mesti kita tafsirkan sedang beristirahatnya diri ini dari segala praktik ketidakberartian hidup.

Pertanyaannya, mampukah kita semua bersikap dan bertindak seperti polisi tidur? Walaupun polisi tidur posisinya bagaikan orang yang sedang tidur, tapi tak pernah tidur-tiduran ketika mengatur lalu lintas kendaraan di jalan raya. Bahkan, ketika ada pencuri yang mencoba kabur, pengendara yang ngebut terus, ia selalu siap mencegahnya tanpa mempermasalahkan uang bayaran.

Bagi para pembaca, mungkinkah dengan kondisi ekonomi yang karut-marut ini jiwa kita masih bisa kokoh, kuat dan teguh untuk menjalankan fungsi kemanusiaan secara jujur? Kita berdoa dan berusaha saja, mudah-mudahan kita bisa berperilaku seperti halnya polisi tidur. Kokoh, kuat, disiplin, ulet dan jujur meskipun sengatan matahari siang hari panasnya tak terkirakan. Tapi tidur-tiduran polisi tidur tak harus kita tiru tanpa bisa menorehkan segenap keberartian dalam hidup.

Asyik rasanya kalau kita tiru kekokohannya, kedisiplinannya, tanggungjawabnya, keuletannya, dan terarkhir, kejujurannya. Itulah manusia yang memiliki arti dan makna hidup. Ayo, bikin hidup anda lebih berarti dan bermakna!




14 June 2009

Manohara dan Kebijakan Sikap

Manohara dan Kebijakan Sikap

Ingat Manohara, ingat juga gadis belia di pelosok Wanaraja, Kabupaten Garut, di bawah kaki Gunung Talaga Bodas. Mereka sama-sama masih usia belasan tahun. Mereka sama-sama menikah dan menjadi janda di usia remaja bau kencur. Tapi, ada bedanya, dong. Manohara terlihat seperti gadis dewasa dengan paras putih, bersih, cantik lagi.

Sementara di Wanaraja – naik sedikit ke arah gunung Talaga Bodas – tidak seberuntung model yang pernah tercatat sebagai 100 model Indonesia yang diperhitungkan. Setiap hari mereka pergi ke kebun membantu suaminya, kadang juga mengangkat karung berisi rumput untuk makan hewan ternak.
Manohara, kata teman saya (sesama blogger) seksi dan cantik. Sayangnya di usia remaja, sudah dikawin orang lain. Padahal ketika usia 16 tahun, semestinya ia menikmati masa muda dengan menimba ilmu. Bukan menikah dengan anak pangeran yang “gagah perkosa”.

Eh…gagah perkasa, ya?

Betul juga, Jang. Kalau pangeran itu gagah perkosa. Wong, hubungan suami istri saja kayak memperkosa anak orang lain.

“Hehe. Bisa benar. Bisa juga tidak”, jawabnya.

Ada seribu kemungkinan yang belum terkuak dalam kasus ini. Siapa yang bersalah, saya tidak tahu. Yang jelas, ini pelajaran buat laki-laki bagaimana membina hubungan dengan perempuan secara adil dan berkeadaban. Saya teringat Emanuel Levinas – semoga tidak salah – bahwa meskipun manusia itu memiliki perbedaan, tapi tetap harus menempatkannya berposisi sama seimbang. Saya memahami penghormatan terhadap perempuan adalah misi yang diemban agama mana pun.

Tidak ada pembedaan terhadap perempuan, sehingga hubungan suami-istri juga harus didasari oleh penghormatan. Sehingga lahir relasi yang berimbang dan proporsional, tidak mengintimidasi satu sama lain. Dalam kasus Manohara ini, kita dapat belajar emosi itu gampang disulut dengan pendekatan geografis-kultural. Artinya, kewilayahan dapat membuat orang tidak berpikir rasional.

Jadi kalem, tenang, easy, dan gak usah cepat terpancing emosi; membenci Malaysia. Karena banyak warga Indonesia yang bisa hidup dari negeri ini. Negeri saudara termuda kita!!!! Betul ya

1 June 2009

Vita Activa…YUK!

Vita Activa…YUK!

SUKRON ABDILAH

Tidak ada kata istirahat dalam hidup. Itulah kesimpulan pertama yang saya peroleh ketika tadi siang (Jumat, 29 Mei 2009) berbincang ringan bersama Bambang Q-Anees. Ditemani kawan saya, Ibn Ghifarie, blogger dan penulis lepas dari UIN Bandung, siang itu saya mendapatkan pencerahan. Entah kenapa, selalu saja ada keterkaitan literatur dalam seluruh gerak aktivitas saya. Bukan kebetulan, lho.

Malam tadi, saya membaca buku lawas (terbitan 1984) karangan M.A.W. Brouwer, judulnya Studi Budaya Dasar. Mungkin di pasaran buku ini akan sulit ditemukan seperti mencari jarum ditumpukan jerami. Pusing deh!!! Tidak kebetulan, dari buku itu, saya menemukan satu istilah yang pas untuk melegitimasi kehidupan tanpa jeda istirahat. Terus-menerus melaju memproduksi tanda adanya peradaban manusia: kebudayaan.

Hannah Arendt menyebut aktivitas ini dengan istilah Vita Activa! Peradaban adalah hasil dari sebuah aktivitas kontemplasi yang dipadukan dengan praxica. Sebetulnya oborolan siang itu, hanya membincangkan projek idealis kami dalam membangun web komunitas www.sunangungungdjati.com. Dari petuah berharga yang diberikan kang BQ – sapaan akrab saya – ke depan, web ini akan memokuskan pada pembahasan buku. Sebab, dari ratusan web komunitas di Indonesia, saya dan Ibn Ghifarie melihat peluang besar untuk mengembangkan konten web yang khusus membahas dan membincangkan seputar buku.

Dengan demikian, harapan pengelola web komunitas ini adalah terpeliharanya aspek literasi di kalangan civitas akademik. Semoga projek ini dapat berjalan lancar seperti halnya kebudayaan yang tanpa kenal lelah terus lahir karena ada aktivitas dialektik dengan literatur. Bagi mahasiswa UIN Bandung, silakan bertukar informasi seputar buku yang sedang, telah dan akan dibaca. Membagikan pengetahuan kepada orang lain adalah aktivitas yang tiada pernah berhenti.

Vita activa – seperti dikatakan Hannah Arendt – yang tanpa kebetulan saya peroleh dari buku terbitan tahun 1980-an. Meskipun buku itu sudah lama, tapi substansi keilmuannya berjalan tanpa kenal lelah menerobos lorong waktu dan ruang sempit realitas kebudayaan kini. Kami tunggu informasi dan dialektika pemikirannya. Hatur nuhun kang BQ sumbangan ide konstruktifnya. Cag sakitu!!!