Showing posts with label Kolom. Show all posts
Showing posts with label Kolom. Show all posts

17 December 2018

Tahun Baru, Hidup Harus Lebih Baru

Tahun Baru, Hidup Harus Lebih Baru


Tahun baru Masehi bagi saya tidak hanya pesta sesaat dengan meniup terompet dan menyalakan kembang api di tempat-tempat keramaian. Tahun baru bagi saya ialah awal menggantungkan harapan hidup untuk menjadi lebih baik lagi. Harapan hidup ialah modal, capital, mesin, dan daya luar biasa yang mampu menggerakkan aktivitas kita. Ketika tak ada satu pun harapan yang kita susun dalam hidup ini, saya jamin Anda tidak akan lagi betah mengarungi hidup ini. Anda akan putus asa, lemah, tak bersemangat, dan memahami bahwa hidup tak layak dijalani.

Tahun baru diawali dengan nama dewa Janus, yang memiliki dua kepala. Yang satu menghadap ke depan. Satunya lagi mengarah ke belakang. Ini artinya ketika mendekati bulan Januari, kita sejatinya melakukan refleksi diri ikhwal kehidupan yang telah dan akan kita jalani. Masa lalu, memang telah terjadi dan tidak mungkin lagi kembali. Masa depan tidak mungkin terjadi kalau harapan kita tidak ada sama sekali.

Jadi, susunlah harapan untuk memodali semangat hidup kita. Sesekali melihatlah ke belakang untuk dipelajari agar ke depan kesalahan yang pernah kita lakukan tidak terjadi lagi. Tahun Baru, harapan pun harus lebih baru. Setuju bro!

29 November 2018

Lionel Messi “yang dijanjikan”

Lionel Messi “yang dijanjikan”

Seandainya sepakbola adalah “Agama” dan dalam setiap agama mesti ada yang membawa risalah; maka Lionel Messi bisa kita umpamakan sebagai seorang Nabi bagi agama baru sepakbola. Puncaknya pada pertandingan besar di Liga Champion kemarin melawan Arsenal. Lionel Messi, yang terlihat main luar biasa; membuat saya berdecak kagum. Sehingga pelatih Barca Pep Guardiola sesumbar, “Tak ada cara untuk mendeskripsikan penampilan Messi. Tak ada kata yang pas. Anda hanya harus melihatnya sendiri.”

Bayangkan, selama 80 menit pertandian lebih, Messi mencetak empat gol dengan pantastis. Saya yang tak terbiasa menjadi pengamat sepakbola – ketika menonton atraksi Messi – dibikin geleng-geleng kepala. Bukan benci. Melainkan takjub atas skill-kemampuan Messi mengolah si kulit bundar hingga membuahkan gol. Namun, di Piala Dunia mendatang apakah dia mampu mengantarkan negaranya, Argentina untuk menjuarai kembali piala bergensi antar Negara ini?

Tak tahulah. Tapi sebagai pendukung fanatik Argentina, saya sangat berharap prestasi Messi di liga Eropa tersebut dapat mengantarkan negaranya menjadi juara. Apalagi, Maradona “si Tangan Tuhan” ialah pelatih tim nasional. Ketika “si tangan Tuhan” berdampingan dengan “sang messiah sepakbola” bukan tidak mungkin akan mengejutkan publik pecinta sepakbola di dunia. Meskipun, beberapa pengamat dan media massa di Argentina meragukan keberhasilan Maradona dan penampilan Messi; saya tetap mendukung Argentina menjadi juara Piala Dunia 2010.

Pada tahun 90 saja Argentina bisa mengejutkan dunia, meskipun pada awalnya tim nasional Argentina harus melalui babak Playoff untuk menjadi peserta piala dunia 1990. Kini, 30 tahun berlalu. Maka bukan tidak mungkin lagi tim Nasional Argentina akan menjadi juara. Setelah Argentina, saya mengidolakan Spanyol, Perancis, Brazil, dan Portugal. Ah, sepakbola pada Juni mendatang akan menjadi ritual “keagamaan” di berbagai penjuru dunia. Para pemain, ibadahnya adalah mengocek dan mengoper bola; kalau bisa mencetak gol. Sementara itu, bagi penonton atau penggemar, cukup hanya dengan sebungkus rokok, berteriak-teriak, kadang mencaci, bahkan sambil menghisap rokok. Mereka seolah sedang melaksanakan ibadah yang sering memenuhi sistem keagamaannya.

Ah, okelah kalo begitu….    

7 February 2018

Matinya Visi Kerakyatan

Matinya Visi Kerakyatan

PEMBANGUNAN bangsa (nation building) yang dilakukan harus mengarah pada kesejahteraan masyarakat sehingga diperlukan visi yang bersih dari anasir-anasir kekuasan. Dengan visi inilah, kiranya gerak pemimpin menjadi jelas dan terarah karena yang dilakukan hanya untuk membangun dan menyejahterakan rakyat. Secara eksistensial, visi diawali dengan adanya “ide-ide murni” yang berisi harapan atas perubahan dari satu kondisi ke kondisi lain.

Namun, kemurnian ide kerap kali dikotori nafsu, ego, dan obsesi pribadi sehingga penyusunan visi seorang pemimpin tak bisa dilepaskan dari muatan politis. Visi utama  memang luhung dan luhur. Visi dan seorang pemimpin bagaikan dua sisi mata uang tak terpisahkan. Ketika seorang pemimpin hanya merancang visi berdasarkan ego kekuasaan, dapat dipastikan bahwa bangsa ini hanya akan menjadi tempat menciptakan eksploitasi destruktif.

Visi juga, saya pikir, mirip dengan gagasan sang Indonesianis, Benedict Anderson, ikhwal komunitas-komunitas terbayang (immagined communities). Sederhananya, istilah immagined communities, menggambarkan adanya kesatuan kolektif berbangsa dan bernegara. Dalam bahasa lain, menjadi seorang nasionalis adalah memimpin dengan visi yang jelas dan demi kesejahteraan rakyat. Ketika visi dilandaskan pada semangat ini, tentu saja harapan menciptakan sebuah masyarkat maju dan berkeadilan akan terwujud.

Kerja untuk rakyat
Ignas Kleden (2007) mengatakan, kalau demokrasi sebagai sistem politik, maka pemimpin yang demokratis adalah seseorang yang berasal dari rakyat (bukan dari kalangan bangsawan), diawasi rakyat (bukan mengawasi dirinya sendiri), dan bekerja untuk rakyat (bukan untuk dirinya sendiri dan kelompok yang dekat dengan dirinya).

Disahkannya UU Pilkada yang mengembalikan pada pemilihan kepala daerah oleh DPRD tentunya tidak demokratis dan merampas hak politik rakyat. Dengan cara ini, kehadiran mereka sebagai anggota bangsa dan negara seolah menjadi tidak berarti apa-apa. Rakyat menjadi objek kebijakan tidak populis karena peran politik mereka digantikan oleh anggota DPRD yang “menghamba” dan mengekor kepentingan partai politik. Dalam perspektif negara maju, hal ini merupakan wujud dari bangkitnya kekuasaan yang tidak murni mengatasnamakan rakyat.

Kita tahu, bahwa ketidakpekaan atas realitas kerakyatan para anggota dewan mengakibatkan di masyarakat tersebar persepsi: “politik itu kotor”. Padahal, kalau saja mereka lebih memperhatikan rakyat bukan saja saat kampanye, hal itu akan melahirkan kedekatan emosional dan kepercayaan antara warga dengan parpol karena saling memberi dan menerima (take and give). Dan, inilah yang disebut dengan “kampanye bukan tebar janji”; melainkan “tebar bukti kongkrit” yang dapat menjawab kebutuhan warga.

Secara historik, lahirnya parpol di wilayah negara-bangsa (nation-state) ialah untuk mewujudkan aspirasi publik dalam memeroleh kesejahteraan, kedamaian, dan kesentosaan hidup. Maka, dalam konteks kepolitikan, simpati rakyat merupakan tujuan inti (ultimate goal) yang menjadi latarbelakang pendirian parpol. Kendati jumlah parpol di negeri ini beragam, namun tujuannya seragam yakni berdiri untuk dijadikan semacam ruang aspirasi publik yang diperjuangkan demi terciptanya kemajuan bangsa dan Negara.

Tanpa mengurangi rasa hormat kepada para anggota dewan dari Koalisi Merah Putih, karena itulah kita, sebagai rakyat, mesti bergerak menolak pemilihan kepada daerah oleh anggota DPRD. Pemilihan model begini, hendaknya disimpan ke dalam “tong sampah” tatkala dalam mengejawantahkan visi kepolitikan, bila saja memimpin itu ialah sebuah tugas suci mengabdikan diri kepada rakyat. Pemimpin itu ialah budak rakyat, yang mengabdikan diri pada kepentingan kerakyatan. 

Empati pemimpinEmpati yang pasti hadir di dalam diri setiap pemimpin mestinya hadir ke permukaan alam sadar. Seorang pemimpin yang sadar atas realitas kemiskinan yang terjadi, misalnya, pasti akan merajut berjuta visi untuk kesejahteraan di masa depan. Kalau zaman pra-kemerdekaan, ketidaksejahteraan rakyat akan melahirkan semangat heroik “berani mati demi tanah air”; pasca kemerdekaan tentunya berubah menjadi “mencipta visi keadilan bagi negeri hingga mati”.

Kepentingan rakyat bagi seorang pemimpin merupakan keniscayaan tak nisbi, yang harus diprioritaskan dalam memajukan bangsa dan negara. Seorang pemimpin visioner ialah orang yang mampu membayangkan dan mewujudkan masa depan bangsanya menjadi sejahtera.Visinya tidak sekadar janji-janji kosong yang hanya memenuhi imajinasi warga.

O Jeff Harris, dalam buku People of Work (1976) mengatakan bahwa memilih seorang pemimpin harus mempunyai kualifikasi: kemauan memikul tanggung jawab, mampu memahami realitas kehidupan rakyat, mampu melihat persoalan secara objektif, mampu memprioritaskan sesuatu secara tepat, dan memiliki kemampuan berkomunikasi (verbal dan nonverbal).

Kualifikasi pemimpin di atas, lahir dari sebuah proses demokrasi, yang menempatkan kehendak rakyat untuk memilih secara langsung. Memang secara finasial, untuk menemukan pemimpin ideal tersebut sangat besar. Akan tetapi, pilihan rakyat akan menentukan arah kebijakan mereka karena lahir dari keputusan rakyat. Merebaknya kemiskinan, pengangguran, amoralitas, korupsi, kolusi, dan nepotisme; mengindikasikan lemahnya jiwa kerakyatan dalam diri pemimpin.

Dengan pemilihan langsung oleh rakyat, akan menjadikan kejelasan visi setiap pemimpin yang menempatkan rakyat sebagai tujuan kebijakan. Namun, ketika UU Pilkada yang menyerahkan pemilihan kepala daerah kepada anggota DPRD, ini namanya bukti dari matinya visi kerakyatan di Indonesia.

14 November 2010

Belajarlah Pada Induk Ayam Wahai Koruptor!

Belajarlah Pada Induk Ayam Wahai Koruptor!

Siang itu terik matahari menyengat kulitku yang tak seputih dan sehalus Luna Maya. Jalanan yang agak becek membuat saya agak menyingsingkan celana jeans belel ke betis, yang semirip betis Diego Armando Maradona. Kekar, berotot, dan padat berisi laiknya olahragawan. Di depan saya terlihat Mang Adang sedang memberi makan ayam-ayam peliharaannya. Saya pun terus berjalan melewati pekarangan rumah Mang Adang yang dikerubuti sekelompok Ayam itu. Tak jauh dari kerumunan mereka, sekitar setengah meter, berkumpul induk ayam sedang mengasuh putera-puterinya yang dia cintai dan sayangi.

“Assalamu’alaikum, nuju maraban hayam yeuh?” Itu saya yang bertanya basa-basi kepada Mang Adang. 

13 November 2010

Slilit Koruptor

Slilit Koruptor

Saya mencoba meresapi salah satu esay yang ditulis Cak Nun dalam buku berjudul: “Slilit sang Kyai”. Merinding, takut, ngeri, dan lahirlah kesadaran purba bahwa hidup tak seharusnya menjadi budak harta. Slilit, adalah sisa-sisa makanan yang masih menyempil di setiap sudut gigi kita.