Showing posts with label Lingkungan. Show all posts
Showing posts with label Lingkungan. Show all posts

26 November 2018

Pembangunan Berbasis Ekologis

Pembangunan Berbasis Ekologis

BENCANA alam, dalam doktrin ajaran Islam, disebut juga dengan “kiamat sughra” yang sejatinya menyadarkan kita ikhwal pentingnya memiliki kesadaran ekologis dan kesadaran teologis dalam menjalankan aktivitas kehidupan di dunia. Kesadaran ekologis dan teologis, biasanya baru muncul ke permukaan alam sadar, ketika bencana alam terjadi di sekitar kita. Pasca terjadinya banjir dan longsor di suatu daerah, misalnya, ada dua paradigma kehidupan yang mengemuka: menyalahkan takdir Tuhan (teologis) dan perilaku perusakan alam (ekologis). 

Bencana dalam kehidupan dapat berfungsi sebagai pemantik kesadaran ekologis sekaligus kesadaran teologis dalam diri kita. Kesadaran yang sempat mengendap menjadi reflika tak tersentuh refleksi itu, sehingga penghargaan terhadap alam begitu minim, maka ketika bencana ujug-ujug muncul; akhirnya sebagai manusia, kita kerap melakukan refleksi ekologis dan teologis. Pertanyaan kritis dari dalam diri pun muncul, adakah perilaku destruktif yang mengakibatkan alam menghadirkan bencana ataukah ini hanya bentuk azab dari Tuhan?

Banjir dan longsor di Garut hingga Sumedang memberi pesan pada kita, bahwa dibalik takdir Tuhan (alasan teologis) juga ada keserakahan manusia terhadap nafsu duniawi (alasan ekologis) karena kondisi gunung dan pembangunan di Garut tidak lagi mengindahkan kelestarian alam, sehingga aliran air hujan menjadi berlebih debitnya dan mengakibatkan banjir bandang sungai Cimanuk. Badan SAR Nasional (Basarnas) Bandung hingga Senin (26/9) meliris korban bencana banjir bandang di Kabupaten Garut, Jawa Barat, yakni mencapai 34 orang, sedangkan 19 masih dilaporkan hilang (antaranews.com). 

Bencana banjir di tanah Garut ini sebetulnya sudah lama diprediksi karena alih fungsi lahan hutan, yang mengakibatkan rusaknya Daerah Aliran Sungai (DAS) Cimanuk, sehingga sejak 1980-an, Sungai ini dinyatakan sebagai Daerah Aliran Sungai (DAS) kritis. Karena itu, ketika musim hujan tiba, debit air berlebih mengakibatkan sungai Cimanuk tidak mampu menampung air hujan yang mengalir ke hilir, sehingga banjir dan longsor tentunya kerap terjadi pada musim hujan. Tugas suci kita, khususnya pihak pemerintahan, sebagai makhluk-Nya adalah memperjuangkan Cimanuk agar menjadi sungai yang dapat menyeimbangkan ekosistem alam di Garut. 

Dalam bahasa lain, memungut kembali ”reflika kesadaran” sebagai manusia berkesadaran ekologis yang bisa ditancapkan dalam sanubari para pemimpin di berbagai daerah rawan bencana, salah satunya dengan menelurkan kebijakan pro lingkungan. Kita tidak boleh mengagungkan peradaban material sehingga alam menjadi objek eksploitasi “seksis” yang berujung pada kerusakan ekologis. 

Tuhan menempatkan kita – manusia – sebagai katalisator penentu kelahiran sebuah perubahan dalam sejarah kehidupan. Hancur dan bangkitnya peradaban manusia ditentukan sikap, mental, dan paradigma yang kita bangun dalam menggulirkan pembangunan khususnya di Kabupaten Garut. Menurut data Dinas Sumber Daya Air dan Pertambangan Kabupaten Garut, bahwa wilayah Garut memiliki 33 buah Sungai dan 101 buah anak sungai yang memiliki panjang sekira 1,403.35 km (garutkab.go.id). Hal ini mengindikasikan bahwa para pejabat dan pemimpin di Kabupaten Garut harus sadar bahwa dalam menelurkan kebijakan di daerah menggunakan paradigm kebencanaan dengan mewaspadai labilitas topografi alam. 

Pakar sufisme kontemporer, Seyyed Hossein Nasr, dalam buku “The Garden of Truth; Mereguk Sari Tasawuf” (Mizan, 2010) mengetengahkan penafsiran maknawi terhadap surah al-Fatihah. Surah Al-Quran yang sering dibaca minimal 17 kali oleh umat Islam tersebut, katanya, mengandung konsep tauhid yang bersifat ekologis. Pendapat Seyyed Hossein Nasr ini berpijak pada kalimat “alhamdulillahi rabbi al-alamin” dalam surah al-Fatihah sebagai inti pentingnya kesadaran ekologis yang bersifat ilahiyah (eco-teologis). Kalimat pujian “alhamdulillah” kemudian dilanjutkan dengan kalimat “rabbi al-alamin” menunjukkan umat manusia sejatinya menempatkan alam sebagai bagian dari-Nya. Sebab “rabbi al-alamin” secara etimologis berarti: pemelihara, penjaga, atau laiknya ibu yang melahirkan alam ini. Menghormati alam berarti menghormati sang pemelihara, sang pemilik atau sang penjaga alam, yakni Allah rabbu al-alamin.

Karena itu, sebuah keniscayaan bagi kita untuk meresapi tujuan diciptakan ke muka bumi, yakni menjadi pemelihara kelestarian alamnya (khalifah fi al-ardh) sebagai wujud daripada ibadah. Al-Quran, khususnya surah Al-Fatihah, menegaskan individu harus berterima kasih atas pemberian alam oleh Tuhan dalam kehidupan ini. Pesan utama surah Al-Fatihah ini bagi kita ialah melakukan pendobrakan atas logika pembangunan bangsa dari yang mengeksploitasi alam ke arah logika pemeliharaan agar pembangunan menjadi berkelanjutan (sustainable). Kesadaran seperti inilah yang sepatutnya kita punguti bersama.

Seandainya surah al-Fatihah dipahami secara maknawi oleh ratusan juta umat Islam Indonesia. Entah itu oleh pejabat, tokoh masyarakat, rakyat, agamawan, dan yang lainnya. Di dalamnya ada pemantik yang siap menyalakan kesadaran kita: membina hubungan yang harmonis dengan alam adalah misi suci yang dititahkan Tuhan. Selain menebarkan benih “rahmat” bagi alam sekitar (rahmatan lil alamin), dalam surah Al-Fatihah tujuan kita diciptakan ialah untuk bersyukur atas pemberian-Nya dengan menjaga alam agar tetap lestari (alhamdulillahi rabbi al-alamin. Tak heran jika Tuhan – di dalam Al-Quran – melarang kita untuk merusak alam sekitar, dengan kalimat, “Wa laa tufsidu fi al-ardh” – dan janganlah kalian berbuat kerusakan di muka bumi. Wallahua’lam 

Green Life: Lingkungan Juga Punya Hak Asasi

Green Life: Lingkungan Juga Punya Hak Asasi

Lingkungan hidup di sekitar Anda memiliki hak untuk tetap lestari dan hidup. Seperti halnya manusia yang juga memiliki hak asasi. Stabilitas dan keseimbangan alam harus dijaga umat manusia untuk menciptakan kedamaian. Semangat menjaga ini tidak hanya dilaksanakan pada saat hari Peringatan Hari Lingkungan Hidup sedunia saja; tetapi sepanjang hayat dikandung badan.

Realitas lingkungan hidup di negeri kita semakin rusak karena ulah segelintir manusia. Kita, kerap memahami lingkungan sebagai benda mati yang diposisikan sebagai objek yang bebas dieksploitasi. Entah itu dengan cara menambang perut bumi tanpa kontrol, menggunduli hutan tanpa kompromi, mencemari air tanpa kendali, dan kesewenangan lainnya. Padahal dalam konsep Islam, dikenal sebuah doktrin mulia, “al-islamu rahmatan lil alamin”, di mana “rahmat” Islam bukan hanya untuk manusia saja; tetapi berlaku juga bagi lingkungan hidup.

Hal itu menunjukkan bahwa lingkungan hidup juga memiliki hak bernaturalisasi dan berevolusi, sesuai kodrat alam: berkembang dan lestari. Karena itu ketika kita tidak berusaha mewujudkan kelestarian alam sekitar, hal itu tentu saja merupakan wujud pelanggaran terhadap hak asasi lingkungan hidup. Sebab ketika kita tidak menjaganya akan mengakibatkan bencana, baik alami (natural disaster) maupun perbuatan manusia (human eror/disaster), karena dapat menelan korban manusia. Inilah kenapa perusakan lingkungan hidup dikategorikan sebagai pelanggaran terhadap hak asasi manusia (HAM) dengan dampak destruktif terhadap kehidupan manusia yang berada disekitarnya.

Melestarikan, menjaga, dan memelihara berarti menghormati hak asasi lingkungan hidup sebagai ejawantah “rahmah dan rahim” di muka bumi, yang dilakukan oleh umat manusia. Manusia wajib melakukan kontrol atas perilaku manusia lain agar dapat memperlakukan lingkungan dengan cara bijaksana. Kebijaksanaan tersebut ialah dengan cara memahami lingkungan hidup sebagai makhluk-Nya yang sederajat dengan kita; sehingga dapat mencapai keseimbangan harmonis antara manusia-alam.

Pada 1972 saat Konferensi Perserikatan Bangsa-Bangsa tentang Lingkungan dan Manusia di Stockholm, Swedia, dicetuskan Deklarasi Stockholm, sebagai pijakan awal kesadaran manusia internasional atas lingkungan hidup sebagai pemenuhan HAM. Alasannya kualitas lingkungan hidup menentukan penghormatan atas HAM, dan HAM tidak bisa diperoleh tanpa lingkungan yang baik dan aman. Jadi, penghormatan, perlindungan, penegakan, dan pemenuhan HAM sangat bergantung pada lingkungan hidup yang sehat. Ketika ekosistem rusak, mustahil kita memperoleh hak untuk hidup, seperti kesehatan, keamanan, dan kecukupan pangan.

Karena itu, ketika kita melakukan gerakan perlindungan lingkungan; berarti kita telah menjaga terpenuhinya hak asasi manusia. Lingkungan hidup ditempatkan sebagai subjek dinamis yang mempunyai hak asasi seperti halnya manusia. Mari mulai hari ini kita bergerak untuk kelestarian lingkungan dengan cara sederhana: menghijaukan rumah Anda dengan tanaman. Ini akan mengajarkan pada anak Anda, pentingnya kelestarian alam di sekitar mereka. 

8 February 2018

Pentingnya “Corporate Social Responsibility”

Pentingnya “Corporate Social Responsibility”

SALAH satu bentuk kepedulian perusahaan terhadap kesejahteraan masyarakat dapat kita lihat dari konsep Corporate Social Responsibility (CSR). Terlepas dari kepentingan bisnis dan promosi, yang jelas cetusan luhung ini dapat meringankan beban penderitaan warga miskin di desa maupun kota. Realisasi tanggung jawab sosial perusahaan ini dapat kita rasakan dari sumbangan dana bagi pemberdayaan dalam bidang pendidikan, kesehatan dan ekonomi warga.

Misalnya, memberikan beasiswa kepada pelajar atau mahasiswa, membantu membangun pasilitas pelayanan publik, dan bekerjasama dengan masyarakat dalam menumbuh-kembangkan sektor perekonomian. Program tanggung jawab sosial perusahaan (Corporate Social Responsibility) ini dicetuskan pihak terkait, semestinya,  untuk menjawab persoalan-persoalan yang berkembang di sekitar masyarakat.

Ketika program luhung ini digulirkan, pihak perusahaan tidak semestinya berorientasi murni bisnis. Harus memprioritaskan kepentingan masyarakat sehingga proses pemberdayaan tidak hanya terasa sesaat. Bahkan, teramat jahat rasanya jika tanggung jawab sosial perusahaan banyak dimanfaatkan oleh pihak-pihak tertentu untuk mengeruk keuntungan pribadi dan kelompok.  Selain itu, program ini juga tidak arif rasanya jika nihil dari upaya pemberdayaan yang memandirikan warga. Tanpa ada usaha ini, posisi masyarakat bagai seorang manusia yang terus-menerus diberikan ikan tetapi alat pancingnya tidak. Setelah ikan tersebut habis, maka mereka akan kembali meminta kepada orang yang memberikan. Tetapi, jika telah diberikan alat pancing, mereka hanya tinggal mencari ikan tersebut tanpa bantuan orang lain.

Mengapa harus demikian? Sebab, kelemahan mental bangsa – meski tidak keseluruhan – acap kali mengharapkan datangnya bantuan dari orang lain. Ini dapat dilihat dari jumlah warga miskin yang berebutan jatah bantuan tunai langsung (BLT) terus merangkak naik. Tetapi di tempat lain, kita juga mesti “mengacungkan jempol”  terhadap semangat para pekerja yang banting tulang mencari uang meskipun jauh dari standar kesejahteraan.

Peduli masyarakat

Andai saja tidak ada upaya penanggulangan dari berbagai pihak, saya pikir semangat hidup warga akan meredup sehingga keterpecahan relasi sosial akan menggejala. Dengan bertebarannya warga miskin juga akan mengakibatkan daya beli melemah. Alhasil, dengan kondisi ini akan mengurangi pemasukan (income) untuk pihak perusahaan. Maka, terwujudnya perusahaan yang peduli terhadap kesejahteraan masyarakat adalah peletakan batu pertama bagi menguatnya daya beli masyarakat.

Untuk itu, arif rasanya jika perusahaan memupuk sejak dini rasa berkepedulian terhadap masyarakat yang jarang tersentuh program pemberdayaan dari pemerintah. Sebab, keberadaan korporasi tidak melulu harus mengeruk kekayaan alam, melainkan harus juga berposisi sebagai “mitra sejajar” masyarakat. Dari sinilah, pola gerak perusahaan sangat perlu memasukkan program Corporate Social Responsibility sebagai bentuk dari kepedulian ketika melangsungkan praktik pengolahan alam sekitar. Menyisihkan beberapa persen saja dari keuntungan yang diperoleh untuk kemashlahatan masyarakat secara berkesinambungan.

Oleh sebab itu, langkah mulia dari perusahaan untuk menyisihkan sebagian dari keuntungan kepada masyarakat mesti didukung berbagai pihak secara jujur. Tanpa ada penyelewengan-penyelewengan yang bersifat politis dan ideologis. Mulai dari pemerintahan, LSM, warga dan pihak perusahaan harus saling mengontrol agar arah gerak program Corporate Social Responsibilty tepat sasaran. Para pengusaha yang mengedepankan keuntungan kolektif – meminjam slogan salah satu iklan pelumas – sehingga kita untung, bangsa juga untung, merupakan bentuk ideal dari mitra negara dan bangsa.  

Para pengusaha juga seyogyanya terenyuh rasa untuk memberikan bantuan, umpamanya, ketika masyarakat yang berhak mengembangkan diri, memenuhi kebutuhan hidup, berpendidikan dan memeroleh manfaat keilmuan (Pasal 28 Ayat 1 UUD 1945) tidak nyata terjadi. Caranya juga bisa beragam bentuk, yang terpenting program Corporate Social Responsibility (yang dijabarkan oleh perusahaan) tidak hanya terasa sesaat oleh masyarakat.

Misalnya, memberikan bantuan modal kerja lunak bagi para petani, nelayan, pengusaha kecil, dan orang yang kesulitan modal untuk membiayai usahanya. Atau, yang lebih penting dan mendesak diimplementasikan saat ini adalah memelihara kondisi alam agar tetap dalam kondisi yang seimbang sehingga terasa secara berkelanjutan. Pada posisi demikian, perusahaan telah ikut serta meningkatkan pertumbuhan ekonomi (Economic Growth) masyarakat dari segi ekonomis dan ekologis.

Kepentingan bersama

Kita tahu bahwa fungsi ideal perusahaan adalah sebagai mediator untuk menciptakan kesejahteraan sosial bagi warga yang berada di sekitar perusahaan secara berkelanjutan. Persoalan kemiskinan, umpamanya, harus dapat dientaskan sehingga kondisi masyarakat sedikit demi sedikit beringsut ke arah kesejahteraan. Maka, daya beli masyarakat juga akan meningkat dan menguntungkan pihak perusahaan, kalau orientasinya bisnis.

Sebuah perusahaan jangan pernah mengidap penyakit amputasi sosial, yakni kelumpuhan rasa untuk menolong ketika menyaksikan warga miskin disekitarnya. Sebab, hal ini dapat mengundang bertebarannya konflik horizontal sehingga perusahaan akan merasa dirugikan oleh sikap dan perilaku merusak warga. Hal ini bisa dilihat, misalnya, pada masyarakat Papua yang menuntut perusahaan Freefort secara anarkis dan chaos karena telah sedemikian gerah dengan eksploitasi perusahaan terhadap potensi alam daerah, sementara itu kesejahteraan warga tidak beringsut ke arah lebih baik.

Demi terjaganya keberlanjutan lingkungan sekitar sehingga dapat dirasakan manfaatnya oleh generasi masa depan, pihak perusahaan harus mengelola alam secara bijaksana.  Jangan terjadi perusakan-perusakan alam yang membabi buta – meminjam bahasa Franz Magnis-Suseno – jangan lantas berprinsip “apres nous le deluge, biarlah air bah menerjang asalkan sesudah kami” atau jangan pula bersikap “rampas yang perlu, buanglah yang tak perlu lagi”.

Jika saja paradigma kapitalistik dianut setiap perusahaan, tentunya akan menciptakan generasi berjiwa laiknya tikus-tikus “Lemming” yang setahun sekali bergerombol ratusan ribu jumlahnya untuk terjun ke jurang (bunuh diri). Sebab, ketika logika kapitalistik mendeterminasi setiap perusahaan atau para pengusaha, tentunya akan mengkibatkan ketersediaan potensi alam terkuras habis, sehingga secara psikologis masyarakat akan banyak mengidap ketidaktentraman memandang masa depan.

Tidaklah heran jika dalam gagasan Corporate Social Responsibility terkandung nilai kebersamaan yang dapat mempererat ikatan emosional antara perusahaan dengan masyarakat. Itulah keuntungan yang akan diperoleh perusahaan yang peduli terhadap persoalan masyarakat seperti yang tercermin pada program pengentasan kemiskinan dari konsep CSR. Sehingga perusahaan bakal lekat di hati dan membekas di kedalaman rasa masyarakat. Eksistensi perusahaan semacam inilah yang bisa menjembatani “jurang perpecahan” di antara perusahaan dan warga sekitar.

7 February 2018

Tegakkan Ekoteologi

Tegakkan Ekoteologi

SILIH bergantinya bencana di bumi Indonesia, kendati tidak sehebat gempa di Jawa Barat, Padang, dan Tsunami di Aceh; bukan berarti optimisme hidup kita mesti berhenti. Beberapa hari ini, guyuran hujan lebat dibarengi kilatan petir dan gemuruh angin juga, sejatinya tak membuat kita dipenuhi kegelisahan dan putus asa. Bencana, dalam doktrin ajaran Islam, ialah “kiamat sughra” yang dapat menyadarkan kita ikhwal substansi ilahiyah dalam kehidupan yang kerap kita abaikan.

Bencana dalam kehidupan dapat berfungsi sebagai pemantik kesadaran ekologis sekaligus kesadaran teologis dalam diri kita. Kesadaran yang sempat mengendap menjadi reflika tak tersentuh refleksi itu, sehingga penghargaan terhadap alam begitu minim, maka ketika bencana ujug-ujug muncul; akhirnya sebagai manusia, kita kerap melakukan refleksi ekologis dan teologis. Pertanyaan kritis dari dalam diri pun muncul, adakah perilaku destruktif yang mengakibatkan alam menghadirkan bencana?

Pakar sufisme kontemporer, Seyyed Hossein Nasr, dalam buku “The Garden of Truth; Mereguk Sari Tasawuf” (Mizan, 2010) mengetengahkan penafsiran maknawi terhadap surah al-Fatihah. Surah Al-Quran yang sering dibaca minimal 17 kali oleh umat Islam tersebut, katanya, mengandung konsep tauhid yang bersifat ekologis. Manusia yang menyadari bahwa Tuhan pencipta alam raya, ia akan memahami hubungan yang dibina dengan alam haruslah bersifat keilahiyan. Ini artinya, memosisikan alam sejajar dengan eksistensi dirinya sebagai makhluk Tuhan yang perlu dihormati.

Pendapat Seyyed Hossein Nasr itu berpijak pada kalimat “alhamdulillahi rabbi al-alamin” dalam surah al-Fatihah sebagai inti pentingnya kesadaran ekologis yang bersifat ilahiyah (eco-teologis). Kalimat pujian “alhamdulillah” kemudian dilanjutkan dengan kalimat “rabbi al-alamin” menunjukkan umat manusia sejatinya menempatkan alam sebagai bagian dari-Nya. Sebab “rabbi al-alamin” secara etimologis berarti: pemelihara, penjaga, atau laiknya ibu yang melahirkan alam ini. Menghormati alam berarti menghormati sang pemelihara, sang pemilik atau sang penjaga alam, yakni Allah rabbu al-alamin.

Namun, keserakahan umat manusia menyebabkan alam ini mulai mengidap kesakitan di setiap rusuk, sehingga ekosistem tidak berjalan seimbang. Ketika musim hujan tiba, tumpukan sampah mengakibatkan aliran air tak mengalir di tempat semestinya. Alhasil, banjir dan longsor tentunya merebak pada musim penghujan sebagai pemantik kesadaran kita bahwa mesti mewaspadai labilitas topografi alam. Seandainya surah al-Fatihah dipahami secara maknawi oleh ratusan juta umat Islam Indonesia. Entah itu oleh pejabat, tokoh masyarakat, rakyat, agamawan, dan yang lainnya. Di dalamnya ada pemantik yang siap menyalakan kesadaran kita: membina hubungan yang harmonis dengan alam adalah misi suci yang dititahkan Tuhan.

Tugas suci kita, sebagai makluk-Nya adalah memperjuangkan ide, harapan, cita-cita, resolusi diri, dan imajinasi kesejahteraan bangsa agar mewujud dalam bentuk nyata. Dalam bahasa lain, memungut kembali ”reflika kesadaran” sebagai manusia berkesadaran ekologis harus mulai dicamkan tanpa henti di sanubari. Bukan lantas menjadi angan yang bersifat fana dan tiada. Apalagi di tengah ketidakseimbangan ekosistem, cuaca yang tak terprediksi, bencana alam terjadi di hampir setiap daerah; kita sejatinya bahu membahu membenahi ”relasi tak seimbang” untuk menghormati saudara kita (alam sekitar).

Di kedalaman jiwa kita tersimpan reflika kesadaran yang terpendam. Tuhan, sang pemilik alam raya, sebelum kita lahir ke muka bumi meniupkan ruh “kesadaran” untuk berelasi seharmonis mungkin dengan alam sekitar. Namun, karena syahwat atau nafsu keserakahan sedemikian kuat dalam diri manusia akhirnya kesadaran tersebut terpendam, kemudian menghilang. Manusia, pada posisi ini, mengagungkan peradaban material sehingga alam menjadi objek eksploitasi “seksis” yang berujung pada kerusakan ekologis.

Indonesia memiliki potensi besar menjadi negara hebat di dunia kalau ditopang dengan konstruksi peradaban utama. Tentunya tanpa mengabaikan tradisi ketimuran (misalnya local wisdom, spiritualitas, perenialisme dan perspektif immaterial), peradaban yang kita bangun sejatinya tak bersifat eksploitatif dan dekonstruktif. Dalam upaya mewujudkan peradaban utama, ormas dan tokoh Islam sepatutnya mengejawantahkan visi pembebasan. Ketika pengrusakan alam merajalela, agama sejatinya memberikan advokasi yang membebaskan alam dari tangan-tangan tak bertangungjawab manusia.

Al-Quran, khususnya surah Al-Fatihah, menegaskan individu harus berterima kasih atas pemberian alam oleh Tuhan dalam kehidupan ini. Pesan utama surah Al-Fatihah ini bagi kita ialah melakukan pendobrakan atas logika pembangunan bangsa dari yang mengeksploitasi alam ke arah logika pemeliharaan agar pembangunan menjadi berkelanjutan (sustainable). Kesadaran seperti inilah yang sepatutnya kita punguti bersama.

Tuhan menempatkan kita – manusia – sebagai katalisator penentu kelahiran sebuah perubahan dalam sejarah kehidupan. Hancur dan bangkitnya peradaban manusia ditentukan sikap, mental, dan paradigma yang kita bangun dalam menggulirkan pembangunan. Karena itu, sebuah keniscayaan bagi umat manusia kembali meresapi tujuan diciptakan dirinya ke muka bumi.

Selain menebarkan benih “rahmat” bagi alam sekitar (rahmatan lil alamin), dalam surah Al-Fatihah tujuan kita diciptakan ialah untuk bersyukur atas pemberian-Nya dengan menjaga alam agar tetap lestari (alhamdulillahi rabbi al-alamin), di mana hidup kita bergantung kepadanya. Tak heran jika Tuhan sangat mencela manusia yang melakukan pembunuhan (terhadap manusia) dan merusak (alam sekitar). Wallahua’lam

1 February 2010

Sweger-nya Musim Hujan

Sweger-nya Musim Hujan

“Aha…! akhirnya turun hujan”, begitulah kata si petani di kampung saya.

“Aduh…, kok hujan sih!”, ujar seorang karyawan sebuah perusahaan di Bandung.

“Alhamdulillah…, semoga air hujan sekarang tidak menjadi adzab”, nah inilah seorang ustadz yang kemarin baru melepas masa lajang ikut berpendapat.

Saya hanya bisa terdiam. Kehabisan kalimat…sebab apalagi yang harus saya katakan. Kecuali…, selamat datang musim hujan. Salah satu musim yang sering saya tunggu-tunggu ketika masa kecil dulu.

8 October 2009

Misi Suci “Human Rescue”

Misi Suci “Human Rescue”

“Menjadi relawan harusnya didasari panggilan kewajiban demi kemanusiaan.Semoga bukan tujuan lain yang dicari, tetapi mengejar nilai ideal dari hati.” (HU Pikiran Rakyat, 4/10/09).

KUTIPAN di atas saya ambil dari berita harian ini, Minggu (4/10/09), yang menyoal kedatangan relawan dari berbagai negara menyusul musibah gempa di Padang. Bencana alam berupa gempa dengan kekuatan 7,6 SR itu bak magnet yang menarik simpati dan empati manusia lain. Tak hanya warga negara Indonesia saja. Warga asing pun “terenyuh” hingga cepat betul mendatangkan bala bantuan guna menanggulangi kerusakan akibat gempa dahsyat ini.

Kedatangan tim penyelamat dari negara Swiss yang bernama Swiss Rescue, misalnya, memberi pesan bahwa manusia di dasar hatinya ada tersimpan solidaritas kemanusiaan. Terlepas dari kepentingan lain, penanggulangan bencana kini menjadi persoalan yang mesti ditanggulangi bersama. Koordinasi antara pemerintah, lembaga kemanusiaan, dan stakeholders merupakan wujud realisasi semangat kemanusiaan. Triliunan dana sumbangan untuk korban bencana, tak pantas rasanya kalau disunat di pertengahan jalan sehingga warga semakin terimpit kesulitan.

Persoalan bencana yang menelan korban manusia, tanggung jawab kemanusiaan yang mesti dilandasi kebeningan yang tanpa “selubung niat” keuntungan materi. Apalagi bantuan asing berupa materi, yang berdatangan ke daerah Padang dan sekitar, dengan jumlah yang tidak kecil. Maka, jangan lantas timbul niat “menyunat” dana kemanusiaan untuk kepentingan pribadi dan kelompok. Bangsa beradab ini tidak pantas mengambil kesempatan di atas kesempitan warga Sumatera Barat. Memperkaya diri, menambah penghasilan, dan memperoleh sejumlah fee yang menyebabkan projek pembangunan tersendat-sendat.

Mendasarkan aktivitas penanggulangan bukan atas dasar kebeningan hati, saya pikir itu merupakan laku merusak di muka bumi. Di dalam Al-Quran kita diingatkan, “Allah SWT tidak menyukai orang-orang yang berbuat kerusakan (di muka bumi)” (QS. Al-Qashash; 77). Maka, proses penanggulangan bencana di berbagai daerah, khususnya di Jawa Barat, Padang, serta daerah lain tidak menghasilkan kekecewaan berbagai pihak. Kalau hal itu terjadi, sama saja dengan menodai sifat kemanusiaan kita.

John M Echols dan Hassan Shadily (1997) mengartikan kata “human” dengan manusia yang bisa berubah menjadi “kepentingan manusia” jika ditambah dengan kata “interest”. Manusia, dalam bahasa apa pun adalah subjek yang mestinya tidak egoistik. Dari kata humane, humanism, humanist, humanitarian, humanitarianism, dan humanize; maknanya tertuju pada mewujudkan sifat perikemanusiaan di muka bumi. Ini artinya sifat perikemanusiaan telah melekat pada diri manusia dan terbentuk sejak alam lahir sampai bertemu azal. Jadi berdatangannya relawan ke ranah Minang, menggambarkan masih terhunjamnya rasa kemanusiaan pada umat manusia.

Memang, bencana di muka bumi banyak memupus harapan manusia untuk mengukir arti dalam hidup. Tak sedikit, akibat bencana orang silap dengan penderitaan, hingga jiwanya tertekan. Akibatnya, bencana alam banyak menyisakan luka jiwa yang sulit disembuhkan. Namun, saya yakin warga Minang adalah manusia teguh-kuat-bersemangat. Bencana, tak akan memupus harapan mereka – untuk kembali membangun ranah Minang – yang terkenal dengan produsen pemikir, tokoh bangsa dan para penggerak sektor perekonomian bangsa. Kita lihat saja, hampir di seluruh kepulauan Nusantara, khususnya di Jawa Barat, rumah makan khas Padang demikian menjamur. Nah, bukankah hal itu merupakan indikasi warga Padang berperan dalam menggerakkan sektor perekonomian setiap daerah?

Tugas bangsa ini adalah menjaga dan menyirami harapan warga korban bencana secara telaten sehingga dapat tumbuh berkembang laiknya pepohonan yang disirami air secara rutin. Mengutip kata-kata sakti mendiang Martin Luther King, “We must accept finite dissappointment, but never lose infinite hope.” (Kita boleh menerima kekecewaan sementara, namun jangan sampai kehilangan harapan yang tak berbatas). Oleh karena itu, memanfaatkan kesempatan di balik kesempitan orang lain tanda tidak berfungsinya dimensi kemanusiaan kita. Sebab, di imaji hanya ada kerja yang bergepok dana. Bukan menjadikannya sebagai kerja yang berpahala.

Seperti diberitakan sebuah media Nasional, warga China di daerah Padang-Pariaman, mendapatkan perlakuan diskriminatif ketika toko dan gedungnya roboh. Mereka, diwajibkan membayar ratusan ribu agar gedungnya yang rubuh tersebut diangkat oleh oknum petugas yang tak berperkemanusiaan.

Di dalam Al-Quran dijelaskan, “Hai orang-orang yang beriman, rukuklah kamu, sujudlah kamu, sembahlah Tuhanmu, dan berbuat baiklah. Supaya kamu mendapat kemenangan” (QS. Al-Hajj: 77). Ayat ini memberi pesan kepada kita untuk mendasarkan aktivitas berbuat baik dengan landasan keikhlasan atau kebeningan hati. Kalau saja datangnya ke daerah bencana bukan hanya menanggulangi, tapi mencari keuntungan di balik reruntuhan dan mayat yang tertimbun. Beningkan hati, luruskan niat, mari kita menyelamatkan manusia bukan hanya diinisiasi kepentingan duniawi sesaat. Namun, atas panggilan kemanusiaan sebagai misi suci ideal yang terhunjam di dalam hati.

Penyelamat manusia, adalah yang mampu menyelamatkan korban bencana tanpa melihat suku, ras, Agama, Ideologi, haluan politik, dan “tetek bengek hijab” yang di medan sosial kerap menjadi sekat hingga menghalangi berbuat kebajikan pada sesama manusia. Bencana yang bertubi-tubi ini, seperti halnya ujian bagi seorang siswa. Dalam bahasa lain, kesucian niat kita sedang diuji kawan!!! Wallahua’lam

6 October 2009

Hentikan Penderitaan Warga Padang

Hentikan Penderitaan Warga Padang

Belum reda dengan efek dahsyat gempa bumi, warga Padang mesti menghadapi kesulitan memeroleh kebutuhan pokok. Pada berita harian Tempo (Senin, 5/10/09), penderitaan warga di ranah Minang semakin menebal bagai kabut di pegunungan. Ratusan korban jiwa melayang. Belum lagi gedung dan toko yang luluhlantak dalam hitungan detik. Di tengah derita akibat bencana gempa, ada yang membuat saya bersedih. Harga kebutuhan pokok di sana melambung tinggi dari harga semula.

Bahkan, air minum saja harganya menanjak naik sampai tiga kali lipat. Mie instan dua kali lipat dari harga biasa. Belum lagi minyak goreng, cabai merah, dan sayur mayur. Semua kebutuhan pokok itu kini tak mengakrabi kehidupan warga Padang. Pemerintah, ketika terjadi kenaikan seperti ini, seharusnya bisa menanggulanginya secara elegan. Seperti halnya ketika ada rumor tiket penerbangan yang naik menjadi 3 juta per penerbangan ke Padang. Pemerintah dapat menghentikan para pebisnis untuk mengambil keuntungan dari sebuah bencana alam.

Sejatinya, persoalan kenaikan harga bahan pokok ini diselesaikan pula. Jangan sampai larut karena akan menambah penderitaan warga hingga berlipat-lipat. Pasokan dari daerah Jawa, yang sehari bisa tiga mobil dan sejak bencana terjadi hanya berjumlah dua mobil, sebetulnya dapat ditanggulangi secara baik oleh pemerintahan. Ketika terjadi kendala dalam hal transfortasi darat, saya pikir masih ada moda angkutan udara. Perizinan di tengah kondisi darurat harus dipermudah. Jangan dipersulit sehingga lahir kelancaran distribusi kebutuhan pokok.

Dengan demikian, persoalan membengkaknya harga kebutuhan pokok dapat ditekan ketika terjadi bencana alam. Bergerak cepat adalah rumus pertama ketika sebuah negara tertimpa bencana alam. Perizinan yang berbelit hanya akan melahirkan penderitaan terus-terusan korban bencana. Kita, tidak ingin, kan, kalau dicap sebagai negeri atau bangsa yang lalai? Makanya, bagi pemerintahan bergerak cepat ketika musibah menerjang sebuah wilayah adalah ciri dari tanggung jawab sebagai instansi kerakyatan yang “ngemongi” rakyat. Bukan menjadi lembaga yang “ngedalangi” rakyat agar sedih dalam penderitaan yang semakin besar ketika musibah datang.

Bukankah persoalan klasik, dari dulu sampai sekarang, ketika terjadi musibah kita terkendala oleh putusnya jalur transfortasi darat? Nah, untuk itulah negara ini memiliki jalur transfortasi udara. Tujuannya untuk dijadikan jalur alternatif ketika jalur darat dan laut tidak berjalan baik akibat rusak. Sehingga warga korban bencana dapat menikmati harga normal kebutuhan pokok. Bantuan makanan juga kalau dapat didistribusikan secara lancar, warga tidak akan bersusah payah mendapatkan kebutuhan pokok. Sumbangan dari pihak asing juga, jangan lantas “disunat” sehingga sampai di daerah bencana. Kebiasaan negeri korup adalah menelikung setiap dana yang mengalir ke departemennya. Bencana alam di Indonesia jangan dijadikan komoditas bisnis oleh bangsa ini, khususnya oleh pemerintah dan pengusaha.

Cobalah ketuk hati kita masing-masing. Sudikah diri ini ketika keluarga atau sanak saudara berada pada posisi korban bencana? Ataukah anda sendiri yang merasakan seperti yang saudara kita rasakan hari ini. Bencana seharusnya melahirkan rasa simpati dan empati sehingga membentuk rasa kemanusiaan dalam diri. Harapan warga di Padang kini, jangan lantas dikhianati dengan laku korup. Ketika hal itu dilakukan, tidak ada bedanya kita dengan serigala berbulu domba. Bahkan, lebih buas daripada hewan yang seringkali dijadikan prototype ketakmanusiwian diri. Terima kasih!!!!

Sukron Abdilah
E-mail sukron.abdilah@gmail.com
Blogger pengelola http://sakola-sukron.blogspot.com

13 September 2009

Kabuyutanku adalah Hutan

Kabuyutanku adalah Hutan

Berbicara tentang hutan di daerah kita memang menyedihkan. Pada tahun 2000-an, sekira 101, 3 juta hektar hutan dan lahan rusak. Memang manusia makhluk serakah. Segala yang diberikan Tuhan semuanya dihabiskan tanpa pemikiran ke depan. Ah, sebetulnya ini ulah manusia modern yang banyak mengagungkan pendekata positivistik-teknologis. Coba, kalau masih pengkuh memegang ajaran Karuhun bahwa hutan juga merupakan kabuyutan (dalam term urang Sunda). Maka menjaga dan memelihara hutan akan berdengung sampai ke seantero Indonesia.

Kabuyutan seperti ka'bah. Daerah Mekkah -- kata sebagian hadits -- tidak boleh dimasuki oleh orang-orang yang kerjaannya merusak. Bahkan, sang dajjal pun tak bisa memasuki daerah suci ini. Tapi, nasibnya tak sama dengan hutan sebagai kabuyutan yang tak boleh dieksploitasi. Per menit saja, di Indonesia hutan sudah berkurang ratusan meter. Bahkan, ketika saya melihat peta pulau Kalimantan, warnanya tidak hijau lagi. Berubah menjadi putih kehitam-hitaman alias hutannya gundul.

Memang kita -- bangsa -- yang tak menghargai tradisi pemeliharaan hutan yang diwariskan orang-orang terdahulu. Sehingga hutan dari tahun ke tahun terus terdegradasi. Padahal hutan adalah kabuyutan-nya orang Indonesia. Ketika kabuyutan itu tidak dipelihara dan dijaga eksistensinya, tentu saja Negara Indonesia -- seperti yang dikatakan ibu saya -- akan menjadi Negara pertama yang dihancurkan Tuhan ketika sangkakala ditiupkan.

Aktivitas menebang pun tanpa disertai penanaman pohon yang seimbang. Menebang dalam satu hari menghabiskan jutaan ton kubik. Sementara itu, menanamnya tidak sampai jutaan pohon perhati. Kalaupun sampai jutaan, harus menunggu berapa tahun lagi agar berjalan di jalan-jalan tanpa kepanasan karena ada rerimbunan pohon.

Jadi, kabuyutan itu bukan hanya universitas, gedung kebudayaan, dan kampung adat saja; tapi hutan belantara yang rimbun juga adalah kabuyutan. Terserah anda mau menyalahkannya, tapi menurut saya -- bahkan sampai mati -- akan menjadikan hutan di seluruh Indonesia sebagai kabuyutan. Tak akan pernah saya membiarkan dajjal atau perusak hutan terus merajalela mendegradasi alam sekitarnya.

Sebab, dalam hadits yang diperoleh dari ulama-ulama tradisional salafiyah di perkampungan, dajjal itu akan selalu menghancurkan gunung. Dan, akan berhenti menghancurkannya tatkala terdengar suara adzan. Aktivitas merusak hutan yang dilakukan oleh dajjal berwujud manusia bisa berhenti dengan meneriakkan pembelaan terhadap lingkungan sekitar (Adzan). Meneriakkan bahwa merusak hutan itu sama seperti merusak kabuyutan sendiri dan dilarang oleh norma Agama.

"Walaa tufsidu fi al-ardh". Artinya, janganlah kalian semua (umat manusia) merusak dan melakukan upaya-upaya eksploitasi di muka bumi. Ok, dulur?

1 April 2009

Ih…Selain Dingin Hujan Bisa Ngundang Bencana

Ih…Selain Dingin Hujan Bisa Ngundang Bencana

Oleh SUKRON ABDILAH
(Baca juga di Kompasiana)

Di luar hari ini hujan turun deras sekali. Saking besarnya, saya jadi sedikit agak takut nih. Biasa…karena musim hujan di Indonesia, selalu menyisakan bencana alam. Seperti halnya terjadi di beberapa daerah di Indonesia, Banjir bandang beserta lumpur banyak memakan korban jiwa dan harta bendanya. Pikiran buruk ini muncul ketika musim hujan akhir-akhir ini selalu membuat macet jalan raya, air sungai meluap, dan bukit yang longsor. Kemarin juga, saya melihat di daerah Garut, ada gunung yang longsor ratusan meter. Musim hujan bagi saya selalu menyisakan degupan kencang dari dada. Malam tak bisa tidur, siang tidurnya pulas kayak mayat.

Hujan kalau dipikir-pikir memberikan dua rasa bagi saya: takut dan senang. Takut karena jangan-jangan tanpa disangka daerah tinggal saya akan terkena bencana. Senang, karena bisa menghirup udara yang sejuk. Bau air hujan juga saya rasa sangat nikmat. emmm…! untung tidak diminum.

Selain dingin, hujan juga untuk sekarang ini bisa mengundang adanya bencana alam. Kalau berada di daerah yang rawan bencana. Seharusnya BMG tanggap terhadap kondisi alam setiap daerah. Apakah di daerah saya itu, misalnya, rawan banjir atau longsor. Sehingga masyarakat dapat mewaspadai setiap hal yang akan menimpa dirinya. Tentunya kalau sudah diberi pengarahan, tentang potensi kerawanan suatu daerah terhadap salah satu dari berbagai bencana, kita bisa berwaspada atuh.

Itu dilakukan agar tidak terlalu banyak memakan korban. Karena masyarakat sudah mengetahui bencana apa saja yang akan menimpanya: banjir, longsor, atau angin puting beliung. Ini sudah dilakukan oleh bangsa Jepang, yang secara topografis daerahnya rawan gempa. Sehingga ada sebagian orang yang berlatih menghadapi gempa. Nah, karena sekarang sedang hujan, saya belajar berlari; karena jangan-jangan ada air bah yang menyerang. Ini bukan berarti saya suudzan kepada Tuhan. Ya, karena Nabi utusan-Nya sudah habis, hanya kewaspadaanlah yang harus dimiliki umat manusia.

Btw, ketika saya masih kecil kampung waruga (tempat tinggal saya) pernah terkena bencana angin puting beliung. Ketika orang tua rame-rame mengumandangkan adzan — meskipun tidak pernah kelihatan shalat berjamaah — saya dan teman-teman malah asyik huhujan. Kadung saja, ada teman saya yang terbang karena memegang payung besar berwarna hitam. Lucunya lagi, teman saya itu sedang buang air besar di pesawahan. Dan, saya melihatnya terbang beberapa meter; setelah itu akhirnya ia melepaskan payung tersebut.

Ceburrrrrrr…, badannya jatuh ke kubangan sawah. Waktu itu juga ada teman saya yang terseret angin besar sampai ke kebun awi (bambu). Saya bersama dua orang teman saya, sibuk memunguti buah-buahan yang jatuh menumpuk di tanah miliknya pak Adang. Ketika kecil, hujan telah mengakrabi hidup saya. Dan, baru mengenal bencana Tsunami pada tahun 2004 saja. jujur saja. saya tidak pernah mengenal istilah Tsunami sebelum bencan di Aceh. Sekarnag, dengan jebolnya Situ Gintung, saya juga tersadar: jangan-jangan waduk jatiluhur juga bakal bernasib sama. Andai boleh usul nih, bagaimana kalau setiap rumah membeli sekoci.

Tapi, kalau sudah diserahkan kepada Tuhan. Ya…, kita hanya bisa pasrah sumerah. Ini sudah takdir…, katanya. “Oh…..begitu ya pak ustadz?”, jawab saya, “pantesan Islam nggak maju-maju”.

7 March 2009

Ciliwung...Membigungkankah?

Ciliwung...Membigungkankah?

Oleh SUKRON ABDILAH

Baca juga di Kompasiana.com

Sungai Ciliwung yang mengalir dari daerah puncak Bogor, menyisakan pelbagai soal yang memusingkan warga yang teraliri di daerah hilir. Seperti halnya sungai-sungai besar di Indonesia, Ciliwung adalah aset berharga bagi lahirnya kebudayaan. Daerah saya yang terlewati aliran sungai Cimanuk, misalnya, memiliki peran dalam melahirkan budaya masyarakat.

Bahasa, falsafah hidup, keyakinan, cerita mitis, dan seni lahir berkat kehadiran sungai dalam hidup warga di sekitar daerah aliran sungai (DAS). Saya rasa, begitu juga dengan sungai Ciliwung yang mengalir ke daerah Jakarta. Ada kebudayaan masyarakat yang dibentuk karena interaksi antara manusia dengan sungai Ciliwung.

Sebetulnya, sungai di Bogor - yang dahulu kala - adalah pusat mandala kerajaan Sunda bernama Pakuan, ada dua jenis. Pertama, Cisadane yang berarti tempat suci, sakral, atau sungai yang bersih. Sungai lainnya adalah Ciliwung. Airnya kotor, keruh, dan berwarna sehingga tepat diberi nama Ciliwung. Sebab, “Ci(ha)liwung” berarti kotor, profan, dan membingungkan. Dalam kamus bahasa Sunda, “liwung” berarti membingungkan.

Lantas kenapa sungai Ciliwung membingungkan? Ya, dari sungai ini banyak manusia - karena tidak bisa menangkap tanda-tanda alam - dibikin pusing tujuh keliling. Tapi ini juga akibat dari perilaku kotor dan merusak yang dipraktikkan manusia. Kita lihat realitas saat ini. Dalam laporan ekspedisi Ciliwung yang digagas Harian Kompas, kondisi air yang mengalir dari Ciliwung terdegradasi.

Secara hermeneutis, ini mengindikasikan bahwa dunia profan atau bumi bagi manusia, kalau tidak mampu diurai tanda-tanda alamnya, akan mengakibatkan mereka berlaku kotor dan merusak. Seperti yang dilakukan pada sungai Ciliwung kini, sehingga menyisakan persoalan membingungkan bagi masyarakat dan - katanya - pemerintah.

Mungkinkah Ciliwung ke depan tidak membingungkan lagi? Semoga bisa! Agar warga sekitar merasa nyaman dengan ketidaknyamanan bau Ciliwung yang tidak pantas dibahas dalam tulisan ini.

6 March 2009

Buanglah Sampah (Bukan) Pada Tempatnya ?

Buanglah Sampah (Bukan) Pada Tempatnya ?

ADA satu hal yang membuat saya tertawa kecil-geli. Tentang budaya atau kebiasaan masyarakat kita. Ketika masyarakat membaca tulisan “dilarang buang sampah di tempat ini”, maka dalam sekejap tempat itu akan dipenuhi sampah. Akan tetapi, tong sampah atau los sampah besar, yang disekitarnya terpampang tulisan “Buanglah sampah pada tempatnya” tidak sejorok tempat yang pertama.

Itulah kebiasaan kita hari ini. Selalu menentang aturan yang diberikan secara terbalik. Ketika dilarang membuang sampah di suatu tempat, selalu saja ada orang yang nekat melakukannya. Seperti halnya mengisap rokok. Meskipun MUI mengeluarkan fatwa haram terhadap rokok, tidak mengurangi kebengalan seseorang mengisapnya di tempat-tempat yang dilarang. Di ruang publik, terminal, WC umum, bus, angkutan umum, dan di sekitar mesjid serta kampus, selalu ditemukan orang yang seenaknya mengganggu perokok pasif.

Begitu pun ketika membuang sampah. Kita, karena sudah melekat menjadi kebudayaan jelek, kalau membuang sampah selalu bukan pada tempatnya. Apabila ada suatu tempat yang bertuliskan “dilarang buang sampah di tempat ini”, akan terlihat secara tidak indah tumpukan sampah. Padahal, di samping kirinya ada tempat pembuangan sampah. Akibatnya, tempat itu terlihat semakin melebar saja kejorokannya.

Mungkin, untuk sekadar mengibuli orang-orang yang suka melakukan hal itu adalah menuliskan di tempat pembuangan sampah, “dilarang buang sampah di sini”. Dan, tentunya jangan menuliskan di tempat yang seharusnya bebas dari sampah, tulisan “silahkan buang sampah di sini”. Sebab, bangsa kita selalu mengambil enaknya saja. Ya, dalam pikiran kita sampah itu harus dibuang bukan pada tempatnya. Ironis sekali, bung!




1 February 2009

Gunung Guntur, Tempat Wisata Spiritual

Gunung Guntur, Tempat Wisata Spiritual


Oleh SUKRON ABDILAH

Terhitung dari kelas 1 SMA sampai kelas 3 SMA, karena tinggal di Garut, saya pernah mendaki puncak gunung Cikuray, Papandayan, Talaga Bodas, dan Gunung Guntur. Kabupaten Garut, tempat bertenggernya Gunung Guntur adalah tempat wisata spiritual. Secara topografis, wilayah ini kaya dengan gunung, sawah, dan sumber air bersih sebagai petanda Tuhan menciptakannya tidak sia-sia.

Ketika berada di puncak pegunungan, besarnya kasih-sayang Allah tidak akan terhitung. Sebelum kaki ini menginjakkan puncak gunung yang menjulang tinggi, tenaga saya terkuras. Lelah, capai, tetapi tetap semangat karena hendak menuju puncak ketinggian. Kemudian sesampainya di puncak, saya dan kawan-kawan mendirikan tenda dan menginap.

Keindahan matahari terbenam (sunset) dan bintang-bintang malam di gunung akan indah terlihat. Pada waktu pagi hari sinar matahari (sunrise) yang terlihat berada di sebelah Timur hendak menyampaikan betapa agung dan indah ciptaan-Nya. Awan yang menggulung membentuk ombak di langit terlihat indah betul hingga tak terkatakan lisan.

Subhanalah, segarnya udara pagi di pegunungan pun mengalahkan rasa kantuk untuk menikmati setetes dari percikan Mahakarya Tuhan yang dipamerankan di gunung Guntur tersebut. Lisan pun terkunci namun hati tetap melantunkan kalimat thayyibah sbb "Rabbana ma khalaqta hadza bathila subhanaka faqina adzaba al-nar". Saya jadi berbisik di hati, “Apabila anugerah keindahan alam ini tidak ingin mubadzir, mestinya dijadikan sebagai sesuatu yang bisa mengokohkan keimanan untuk terus taqarrub pada sang pencipta. Jahat dan kufur saya pikir ketika keindahan dan kekayaan gunung Guntur dieksploitasi demi sesuatu yang tak abadi.

Andai tidak tersedia keindahan di lautan, pegunungan, perkebunan, pesawahan dan padang rerumputan yang bisa disaksikan dari Curug Citiis (kaki gunung Guntur); keimanan itu tidak akan mampir di hati. Saat keimanan bertambah (yazid), saya rajin bersyukur karena mentafakuri keindahan Gunung Guntur. Namun, ketika keindahan gunung Guntur dan gunung-gunung lainnya sedemikian rusak, apa yang bisa dijadikan media untuk merenung dan bertafakur?

Sebab, dengan alam yang lestari, indah, dan kaya tentunya hal itu akan menjadi obat penggenjot keimanan kita agar terus bertambah. Kondisi alam di gunung Guntur yang menghampar indah adalah tanah pusaka yang mesti dipelihara, sebagai wujud syukur kepada sang pencipta alam Raya, Gusti Allah Nu Maha Suci. Bukan digali seperti yang terjadi sekarang, untuk mencari pasir dan batu dengan mengabaikan kehidupan alam dan manusia sekitar.

Saya – sebagai warga asli Garut – sangat berharap Aceng-Dicki bisa membenahi dan menjentik kerakusan pengusaha Garut yang memugari gunung Guntur untuk keuntungan pribadi. Kalau gunung Guntur longsor, daerah wisata Cipanas saya rasa akan terkubur dan ada beberapa perkampungan yang akan tertimbun. Demi cinta saya kepada gunung Guntur, agar bisa tenang kembali untuk didaki, stop penggalian pasir di Gunung Guntur.

Menurut Eef Saefullah Fatah dalam artikelnya: Menimbang “Biokrasi” (Kompas, 4 Mei 2007), kegagalan demokrasi berdamai dengan lingkungan menyadarkan pentingnya menimbang lingkungan hidup dalam kerja demokrasi. Ia (demokrasi) dituntut membangun sistem politik sensitif lingkungan, keaktifan partai politik mengusung isu lingkungan sebagai platform utamanya, dan anggaran belanja negara atau daerah (APBN dan APBD) pun menimbang aspek pengelolaan lingkungan. Para pejabat publik dan politisi juga dituntut memiliki sensitivitas lingkungan yang layak (green politicians) agar keberlangsungan alam dapat dipertahankan. Inilah apa yang disebut oleh para pengamat politik dengan model pemerintahan “biokrasi”.
“Telah tampak kerusakan di darat dan di laut karena ulah (eksploitasi dan eksplorasi tak berkaidah) manusia, supaya Allah merasakan kepada mereka (akibat) perbuatannya, agar mereka kembali (ke program konservasi alam)”. (QS Ar-Ruum: 41).


22 November 2008

Mengarifi Musim Hujan?

Mengarifi Musim Hujan?

Oleh SUKRON ABDILAH
(Artikel ini dimuat Kompas Jabar, Senin, 24 November 2008)

Saat musim hujan tiba, biasanya menyisakan secercah kesadaran purba bahwa menjaga, memelihara dan melestarikan lingkungan adalah kemutlakan yang tidak dapat diganggu gugat. Sebab, realitas di lapangan menuntut setiap orang memikirkan laku lampah yang selama musim kemarau apatis terhadap kondisi alam yang kian rusak, akibat eksploitasi manusia yang mengagungkan peradaban material dan antroposentris. Tidaklah heran ketika musim hujan tiba, ragam bencana alam mewujud dalam ragam bentuk yang mengkhawatirkan, bahkan membuat bulu kuduk merinding.



Longsor, banjir, gempa dan bertebarannya penyakit mengancam ketenangan dan ketentraman hidup manusia. Pada posisi ini, kesadaran ekologis di setiap batin umat manusia saat musim hujan adalah kenisbian yang tidak mutlak dalam misi kemanusiaan. Tanpa hunjaman kesadaran ekologis, bahwa lingkungan hidup perlu dijaga, dipelihara dan dilestarikan; musim hujan bakal berubah menjadi hari-hari yang dijibuni keberbagaian musibah alam (natural disaster).

Berkah atau musibah?

Musim hujan di bulan ini dan pada bulan selanjutnya bakal menyisakan berkah di satu sisi dan musibah di sisi lain. Berkah tak terkira bagi para petani karena dapat memulai aktivitas bercocok tanam, dan menjadi musibah bagi mereka yang terkena banjir dan longsor akibat rusaknya vegetasi alam. Bahkan, penyakit demam berdarah, diare dan infeksi saluran pernapasan akut (ISPA) juga mengindikasikan hubungan kita dengan alam tidak berjalan mulus. Maka, air hujan dalam pandangan petani desa dan warga kota akan berbeda laiknya dua sisi mata uang koin.

Dengan dua gejala paradok itu, arif rasanya jika kita menyikapi turunnya air hujan sebagai anugerah Tuhan untuk kemudian mempersiapkan diri berjaga-jaga agar ciptaan-Nya (baca: air hujan) tidak lantas menjadi musibah. Cara sederhananya, bagi warga kota, adalah dengan membersihkan saluran air, selokan, dan tempat pembuangan sampah dari serakan sampah yang dapat menghalangi laju air hujan. Atau bagi pemerintah, semestinya memperbaiki kondisi jalan yang "bolong-bolong" agar genangan air (cileuncang) tidak jadi pemandangan sehari-hari di sepanjang ruas jalan raya.

Sebab, ketika musim hujan tiba, persediaan air bakal berlebihan dan tak heran jika di wilayah perkotaan banyak terjadi banjir. Hal ini logis terjadi karena secara topografis, kota (dayeuh) banyak dikelilingi gedung dan lantai yang berstruktur beton, sehingga air hujan tidak dapat meresap ke dalam tanah. Atau, bisa juga disebabkan saluran air (drainase), selokan dan sungai di daerah perkotaan sedemikian dijejali sampah hingga berujung pada banjirnya daerah hilir di sekitar kota.

Pun demikian, eksistensi air hujan dalam kehidupan petani desa menjadi berkah, tidak menjadi musibah. Sebab, dengan memasuki musim hujan, seorang petani akan merasa terbebaskan dari beban penderitaan kekurangan air, sehingga sawahnya tidak kering lagi. Maka, mereka pun akan dipenuhi aneka perasaan yang memantulkan kegembiraan karena bisa memulai kembali aktivitas mencari bekal hidup dengan bercocok tanam, nyawah, bertani atau tatanen.

Menurut catatan, sekitar 30 persen lebih penduduk di tatar Sunda menjalani profesi sebagai petani, entah itu sebagai buruh tani atau juga petani mandiri. Yang jelas, daerah yang kerap dijuluki sentra produksi pangan/padi ini ketika musim hujan tiba, hari-harinya bakal dijibuni ragam kosakata tentang pesawahan. Maka, air hujan dalam pandangan petani menjadi berkah karena mereka dapat mengelola kembali sawahnya yang telah berbulan-bulan tidak tergarap.

Lantas, bagaimana seharusnya kita menyikapi kedatangan musim hujan (usum ngijih) sehinggga menjadi berkah, bukan musibah? Sebab, kita juga mafhum, ketika bulan-bulan ke belakang tidak turun hujan, aktivitas hidup serasa tidak enak berasa. Misalnya, tubuh terasa panas dengan cuaca yang ngaheab atau gagal panen (baca: puso) bagi para petani di pedesaan. Jadi, saya pikir, kita perlu mengarifi musim hujan dengan kembali menengok perlakuan masyarakat lokal terhadap ekosistem lingkungannya.

"Pakasaban" dan kearifan lokal

Kearifan masyarakat desa, khususnya para petani, terhadap alam sekitar tercermin dari cara mereka mengelola pesawahan atau perkebunan. Aktivitas pengelolaan itu dalam bahasa Sunda dikenal dengan sebutan "pakasaban". Istilah "pakasaban" adalah salah satu tanda, para petani sangat menjunjung tinggi semangat mempertahankan hidup. Sebab, kata "kasab" yang dibubuhi imbuhan "pa" dan "an", artinya sama dengan pekerjaan yang dilakoni manusia, selain untuk memenuhi kebutuhan-kebutuhan fisik, juga untuk pemenuhan aspek psikis dan spiritual di kehidupannya.

Tidaklah heran jika di daerah Kanekes, Banten; aktivitas bertani (tatanen) adalah pekerjaan yang mulia dan bernilai ibadah karena diturunkan Sanghyang Nu Ngersakeun kepada orang yang di daerahnya terhampar sawah dan kebun. Di dalam ajaran Islam juga terdapat perintah untuk mencari penghasilan dan pendapatan (pakasaban) agar kebutuhan hidupnya terpenuhi meskipun dengan ngala suluh (mencari kayu bakar) di pegunungan. Ini mengindikasikan bahwa dalam sistem sosial-kemasyarakatan petani, "pakasaban" adalah sebuah kewajiban umat manusia agar dirinya dapat survive mempertahankan diri.

Dikarenakan sektor pertanian di Jabar adalah profesi "primadona", maka hal itu banyak menyisakan kearifan mengelola lahan yang diberikan Tuhan. Sebab, kalau saja alam (sawah dan kebun) tidak dipelihara (dipupusti), mereka tidak akan memperoleh manfaat, sehingga kehidupannya bakal terancam. Kearifan pengelolaan itu, misalnya nyacar, nyebor, macul, ngawaluku, ngabibit, tandur, ngarambet, dan sebagainya. Semua kosakata tadi adalah daur ulang kehidupan yang harus dilakukan ketika memperlakukan areal sawah sebagai bentuk pemeliharaan secara teratur, agar menumbuhkan tanaman yang subur dan bermanfaat bagi mereka.

Itulah kearifan ekologis petani dengan mengelola alam pemberian Tuhan secara teratur. Alam, untuk meningkatkan produktivitas dan kualitas hasil tatanen, tidak boleh dirusak dan dihancurkan untuk kepentingan pribadi. Maka, setiap warga mesti melakukan aktivitasnya masing-masing kendati musim hujan; apalagi bagi petani, musim ini harus menjadi waktu tepat menikahkan padi dengan bumi (tatanen). Sebab, hujan dalam perspektif manusia arif adalah juru selamat kehidupan, yang diturunkan Tuhan Sanghyang Widi! Itulah bentuk syukur tertinggi kita. Wallahua'lam

18 November 2008

Kemana Perginya Pepohonan

Kemana Perginya Pepohonan

Oleh SUKRON ABDILAH

GEMERCIK air hujan membasahi sekujur tubuh yang sedang kusandarkan pada pohon "nangka" yang daunnya kering berguguran akibat kemarau panjang. Lalu kupandangi sekeliling alam yang dipenuhi pepohonan, rerumputan dan dedaunan yang tak seindah dulu lagi. Tak terasa terbersit ungkapan dari dasar hati yang terdalam, "manusia keenakan, sementara kamu kesakitan, wahai alamku".



Katanya mereka beragama, tapi kenapa aktusnya tak mencerminkan kemaha pengasihan "al-Rabb al-alamin", Tuhan pemelihara alam semesta raya? katanya mereka orang yang memegang teguh budaya ketimuran, toh kenapa masih ada saja aktus yang merusak tubuhmu, wahai alam? Mungkinkah kita memerlukan pembaharuan (baca: reformasi) pemikiran bangsa dengan berwawaskan lingkungan? Dengan tersenyum lebar, engkau pun seolah mengiyakan pertanyaanku.

Terhentak sudah diriku ketika kuperhatikan kondisi wajahmu yang tak seperti sepuluh tahun kebelakang. Bahkan ketika kupandangi tubuhmu, maka semuanya menampakkan carut-marutnya keadaanmu, wahai alam. Sepuluh tahun kebelakang, ketika aku pulang dari sekolah, tubuhmu yang tinggi serta dedaunanmu yang rindang seakan melindungiku dari derasnya guyuran air hujan.

Malahan tatkala ibuku memerlukanmu, maka aku terus-menerus mencari sebongkah tanganmu yang kering untuk menyalakan perapian. Sekarang pun engkau telah menyelamatkan hidup warga di kampungku dari "himpitan" mahalnya BBM. Ketika aku dan para warga ingin menyeduh kopi hangat, menanak nasi dan menghilangkan rasa dingin di tubuh, tangan-tanganmulah yang menghidupkan kobaran api. Sedemikian berperannya dirimu, hingga aku pun lebih mencintaimu seperti halnya aku mencintai hidup ini.

Kakiku berlari kearah pohon "jati" yang daunnya seakan lekang oleh panasnya terik matahari pada musim kemarau yang berkepanjangan. Tentunya sembari ku lirik pohon "mahoni" yang berjejer kuat menjulang ke angkasa raya. Ah...ternyata pikiran itu mulai lagi memenuhi isi kepalaku. Akankah kondisimu kembali pada ruang dan waktu sepuluh tahun kebelakang? Seraya tersipu malu dan sedih, engkau pun menggelengkan kepala.

Sementara itu, kawanku Hendi yang sedang berteduh di bawah pohon "nangka" yang lain sambil memakan buahnya, menyeringai dan berujar, "wah sekarang ini susah banget nyari pohon buat berteduh, Ron?". Aku hanya bisa mengiyakan pertanyaannya yang terasa amat bodoh untuk diungkapkan. Sebab, aku yakin bahwa pohon-pohon pun tak membutuhkan omong kosong yang "kering" dari nilai-nilai praksis. Ungkapan yang hanya mempertanyakan kondisi alam tanpa menciptakan perubahan adalah kepicikan.

Sama seperti para "anggota legislatif" yang kerjaannya berwacana tanpa mengindahkan dunia nyata, lho. Aku saksikan orang yang kesakitan karena bencana yang telah engkau timpakan kepada kami. Tapi, bukan berarti aku menyalahkan kemurkaan yang engkau tampakkan di wilayah Tuhan ini. Melainkan hanya menggugat pemahaman semua orang yang sudah tak peduli lagi dengan kondisi pepohonan di alam raya.

Aku sudah muak dengan illegal loging (baca: penebangan liar) dan pembangunan tak berkaidah yang sering dilegalisir dengan sebuah konstitusi. Bahkan lebih muak lagi ketika aku menyaksikan sejumlah LSM yang telah tergadaikan oleh "segepok" uang "kadeudeuh", hingga rela mengorbankan alam di sekitar.

Aku pun mulai berkata pada temanku, "Hen, mungkin kita memerlukan seorang Tarzan kota?". Mengapa? Karena ketika setiap orang di zaman ini tidak lagi mengindahkan alam, maka Tarzan pun akan beraksi kembali memperjuangkan kebebasan alam yang dahulu kala di junjung tinggi.

Kamu tahu nggak kalau nenek moyang kita menciptakan sistem kepercayaan "animisme" untuk mencegah perusakan hutan?. Pada hari kemarin aku baca buku Sigmund Freud, judulnya Totem and Tabo. Beliau menganggap bahwa orang yang punya sistem kepercayaan "animisme" masuk kategori manusia primitf, lho?. Tapi, aku nggak setuju dengannya,
Hen, karena pada saat alam sudah tidak lagi di urus, maka sistem kepercayaan itu harus mulai kita gembor-gemborkan. Biar setiap orang tidak berani lagi menebangi rimbunnya pepohonan, bahkan pohon "nangka" ini juga tidak akan ditebang.

Seraya mengamini pernyataanku, ia pun berkata, "seandainya semua orang menganggap bahwa pohon memiliki jiwa, tentu saja orang bakal segan ketika mau menebangi pepohonan".

Betul juga katamu, tapi kalau melihat ajaran agama Islam, aku lebih yakin lagi bahwa Tuhan (Allah) menciptakan alam, hanya untuk dipelihara. Bukan untuk dieksploitasi, bahkan untuk dihancurkan seperti yang banyak dilakukan para pengusaha taman wisata sekarang. Pernyataan ini muncul bukan berarti aku seorang manusia yang "kolot" sehingga tidak boleh memajukan sektor pariwisata. Melainkan hanya untuk menggugah jiwa para pengusaha agar membangun kawasan hutan dan pegunungan dengan berwawasan lingkungan.

Aku akan lebih gembira lagi bila para ulama memberikan fatwa "haram" bagi orang yang melakukan praktek penebangan pohon secara liar, biar mereka takut disiksa Allah. Bukankah Dia berfirman’ “wa la tufsidu fi al-ardh”, janganlah kamu sekalian membuat kerusakan di muka bumi?

Harapanku, para pemikir (ahli agama) mampu menciptakan sistem teologi yang membahas hubungan manusia dengan alam sekitar secara serius. Sehingga perusakan dan pencemaran lingkungan di bumi Indonesia bisa terminimalisir. Amiin
Bila saja kita membiarkan lingkungan tak ramah lagi, aku jamin hidupku pun bakal terancam laiknya berjalan di sebrang sarang serigala. Bahkan tak sampai disitu, kondisi geografis pun bakal bergetar ketika resapan air tak mampu ditampung pepohonan karena kemalasan dan ketidakpedulian mengurus panorama alam sekitar.

Akhirnya bencana alam datang laiknya ritual rutin tahunan.
Jangan biarkan terulang kembali hutan longsor di Kadungora pada dua tahun yang lalu, banjir di Jawa Tengah, Jakarta dan Aceh yang mengakibatkan warga tak berdosa menjadi korban. Bahkan sekali lagi, jangan biarkan kondisi pepohonan kita gundul seperti halnya di hutan Kalimantan sana .

Aku masih yakin bahwa Tuhan menimpakan bencana dikarenakan ulah tangan manusia sendiri. Tanpa menyadari peran serta manusia dalam membenahi kondisi lingkungan menuju perbaikan, tak bisa disangkal lagi bahwa bencana pun akan bertubi-tubi menimpa warga tak berdosa.

Sekarang kita membutuhkan Lembaga Swadaya Masyarakat (LSM) semacam WALHI, Green Peace, bahkan pecinta kelestarian alam lainnya di bumi pertiwi ini. Kalau boleh memberi penghargaan, secara simbolik mereka aku kasih gelar "Tarzan Kota". Karena perjuangan mulianya dalam menjaga kelestarian alam mirip dengan pribadi "Tarzan" yang hidup dalam wilayah modernitas (baca: kota ) tetapi berwawasan lingkungan.

Alhasil, kita tidak akan pernah lagi berlari-lari menghindari guyuran air hujan. Karena dulu juga ketika kita pulang sekolah, pas hujan turun, bisa berteduh di bawah pohon "nangka". Tapi sekarang ini, ketika mencari pepohonan untuk berteduh saja terasa seperti mencari minyak tanah. Saking susahnya, lho.
Semoga alamku sembuh dan lestari kembali. ***

12 November 2008

Haruskah Menggagas "Biokrasi"?

Haruskah Menggagas "Biokrasi"?

Oleh SUKRON ABDILAH

Kita tahu bahwa kesejahteraan ekonomi dari hasil pemanfaatan hutan yang diperoleh warga bukan untuk hari ini saja. Melainkan untuk keberlangsungan hidup dan kesejahteraan generasi mendatang (sustainable). Hal ini akan terrealisasi jika saja kita sudi menengok kembali kondisi hutan dan lingkungan hidup lainnya dalam mengeluarkan setiap kebijakan. Ya, kebijakan dari pemerintahan yang sensitif lingkungan tentunya.



Menurut Eef Saefullah Fatah (2007), kegagalan demokrasi berdamai dengan lingkungan telah menyadarkan tentang pentingnya menimbang lingkungan hidup dalam kerja demokrasi. Ia (demokrasi) dituntut membangun sistem politik sensitif lingkungan, keaktifan partai politik untuk mengusung isu lingkungan sebagai platform utamanya, dan anggaran belanja negara atau daerah (APBN dan APBD) pun harus menimbang aspek pengelolaan lingkungan. Maka, para pejabat publik dan politisi juga dituntut memiliki sensitivitas lingkungan yang layak (green politicians) agar keberlangsungan alam dapat dipertahankan. Inilah apa yang disebut oleh para pengamat politik dengan model pemerintahan "biokrasi".

Sebetulnya kita juga bisa meneladani kebijakan yang pernah dilontarkan oleh Nabi Muhammad Saw ketika umat Islam akan pergi berperang, di mana beliau selalu memeringatkan kaum muslim untuk tidak menghancurkan dan merusak pepohonan, bangunan rumah dan segala hal yang berkaitan dengan penyangga keseimbangan alam. Ini mengindikasikan bahwa secara historik, 1400 tahun lebih yang lalu kita telah diberi petunjuk (term of reference) untuk selalu memperlakukan alam sebagaimana kita berhubungan dengan sesama manusia lain.

Maka, model pemerintahan demokrasi yang mendesak diwujudkan saat ini adalah yang menempatkan eksistensi lingkungan hidup sebagai bahan dasar dari peramuan kebijakan. Mengapa? Sebab, kekayaan ekologis di negeri ini merupakan titipan dari anak cucu kita dan mestinya dipelihara agar kelak mereka dapat bersenyum ria pada kehidupan. Untuk mewujudkan generasi makmur dan sentosa juga, bijaksana rasanya jika semangat untuk berharmoni dengan alam mulai pada bulan ini kita tancapkan dalam diri.

Alhasil, konstruksi ideologis kebijakan pembangunan akan berpijak pada paradigma agama, kearifan masyarakat lokal dan perhatian penuh terhadap kelangsungan alam. Oleh karena itu, mari kita hunjamkan dalam diri bahwa saat inilah moment tepat untuk memelihara hutan karena merupakan tugas mulia dari Allah SWT yang mesti dijabarkan dalam hidup keseharian. Dengan memeliharanya agar tidak tumpur-ludes, kita tentunya sedang menunaikan perintah suci dari sang pencipta alam raya ini, Allah SWT.

Jadi, sebagai seorang muslim tak selayaknya melakukan perusakan terhadap alam, sebab ia (alam) merupakan penopang kehidupan kita. Hutan, air, hewan dan tumbuhan adalah sesuatu yang diciptakan-Nya di muka bumi untuk kita kelola dan manfaatkan sebaik-baiknya. Mujiyono Abdillah (2001) menafsrikan Surat Al Jaatsiyah ayat 13 sebagai berikut; "Dan Allah telah menjadikan sumber daya alam dan lingkungan sebagai daya dukung lingkungan bagi kehidupan manusia. Yang demikian hanya ditangkap oleh orang-orang yang memiliki daya nalar memadai." Pertanyaannya, sudahkah kita menangkap pesan al-Quran yang memerintahkan umat manusia untuk menjaga keseimbangan alam sekitar? Wallahua'lam

Penulis, Kader Muda Muhammadiyah, Bergiat di Tepas Institute Bandung.