Showing posts with label Media. Show all posts
Showing posts with label Media. Show all posts

17 December 2018

Ramainya "Twit War" SARA

Ramainya "Twit War" SARA


Situs microblog sekelas twitter di era demokrasi dapat dijadikan medium menciptakan iklim kedamaian dan perdamaian, sekaligus mengundang malapetaka bagi ajegnya perdamaian di Indonesia. Dengan karakter postingan twitter yang tidak lagi personal — kecuali diatur pengguna twitter untuk melindungi privacy dirinya — setiap kicauan tentunya akan menjadi konsumsi publik. Kicauan tweeps dapat dibaca oleh siapa saja, tanpa kecuali.

Karena itu, menyerang seseorang dengan update status bernuansa suku, agama, ras, dan antargolongan (SARA) ialah tindakan yang menggambarkan bahwa seseorang tidak memiliki wawasan kebangsaan yang mumpuni. Apalagi bila kicauan SARA dilakukan pejabat Negara. Seperti yang terjadi baru-baru ini dunia maya diramaikan dengan sebuah kicauan di twitter yang mencederai iklim positif perdamaian dan kebebasan beragama.

Melalui akun twitternya @dipoalam49 itu, Dipo Alam, yang menjadi pejabat Negara seolah tidak memiliki wawasan kebangsaan dengan kicauan tendensius dan SARA ketika menanggapi keberatan Romo Franz Magnis Suseno (FMS) atas rencana penghargaan kepada SBY oleh. Dipo Alam pun sewot. Alhasil, dua kicauan di twitter yang diupdate pada Selasa, 21 Mei 2013 mengindikasikan ketidakdewasaan berbangsa dan bernegara, “Masalah khilafiyah antar umat Islam di Indonesia begitu banyak, jangan dibesarkan oleh non-muslim seolah simpati minoritas diabaikan.” Kicauanya.

Satu lagi kicauannya di twitter yang menyinggung prinsip toleransi di Indonesia, yakni “umaro, ulama, dan umat Islam di Indonesia secara umum sudah baik, mari lihat ke depan, tidak baik pimpinannya dicerca oleh non-muslim FMS”. Kalimat “dicerca oleh non-muslim” dalam kicauan Dipo, tentunya mengundang tanda tanya besar, pantaskah pejabat Negara diskriminatif?

Kasus yang dilakukan Dipo Alam, juru bicara presiden SBY, dengan menulis twit SARA via akun @dipoalam49 ketika menanggapi protes Romo Franz Magnis Suseno atas rencana pemberian anugrah World Statesman Award kepada SBY oleh lembaga Asing, Appeal of Conscience Foundation (ACF) yang berdiri di New York, Amerika Serikat.

Bagi Romo FMS, surat terbuka keberatan kepada Appeal of Conscience Foundation (ACF), berdasarkan pada ketidakseriusan SBY selama 8,5 tahun masa kepemimpinannya membenahi hubungan antar dan intra umat beragama. Kasus bernuansa SARA seperti pengusiran, pengrusakan, dan kekerasan terhadap jamaah Ahmadiyah dan Muslim Syiah di Indonesia tidak diselesaikan secara serius.

Alasan ketidaksetujuan Romo Magnis, memang logis. Sebab menurut catatan Komnas HAM, kasus pelanggaran kebebasan beragama mengalami peningkatan pada 2012. Dari 541 pelanggaran kebebasan beragama, sekira 274 kasus terjadi tahun 2012. Bahkan, dalam sidang empat tahunan Evaluasi Periodic Universal dewan HAM PBB, pada bulan Juli 2012, Indonesia mendapat rapor merah sebagai Negara yang angka pelanggarannya tinggi.

Twit atau kicauan di twitter ialah representasi diri. Ketika seorang pejabat memutuskan membuat akun di twitter, sebetulnya harus siap bahwa apa yang dikicaukannya akan selalu menyita perhatian publik. Azas kehati-hatian berkicau mesti dipegang teguh sang pejabat. Sebab, apa saja yang dikicaukan akan berdampak secara sosial di kehidupan riil.

Ketika Dipo Alam berkicau seperti itu, akhirnya muncul penilaian bahwa seorang pejabat Negara lemah wawasannya tentang pluralitas yang tumbuh di Indonesia, sehingga lahir penilaian bahwa ia merupakan sosok manusia intoleran yang hanya memilah hubungan sosial kebangsaan menjadi “mayoritas-minoritas”.

Tak hanya kasus yang menimpa Dipo Alam, di negeri ini juga beberapa kasus perang kicauan (twit war) meramaikan jagad twitter. Dari mulai penetapan sebagai tersangka Farhat Abbas, karena melalui akun twitternya menyebut Ahok, wakil gubernur DKI Jakarta dengan sebutan rasial.

Kemudian, serangan frontal kicauan juga terjadi antara Marissa Haque kepada Joko Anwar, melalui twit yang kasar dan tak pantas dilakukan seorang publik figur. Twitter juga, sebagai media untuk mengungkapkan kebebasan berpendapat telah menjadikan iklim hukum di Indonesia berubah. Atas nama pencemaran nama baik, misalnya, Misbakhum melaporkan akun twitter @benhan, karena telah menuduh dan mencercanya melalui situs microblog twitter.

Fenomena twit SARA dan perang kicauan atau twit war di dunia maya — meminjam istilah Prof Yasraf Amir Piliang — ialah wujud kekerasan dan kekejaman digital. Dalam konteks social media, dengan karakternya yang mudah digunakan setiap orang demikian mudah melakukan kekerasan bahasa (language violence), kekerasan citra (image violence), dan kekerasan digital (digital violence).

Di dalam buku berjudul Sebuah Dunia yang Menakutkan (2001), istilah “kekerasan” menurut Prof Yasraf, yakni “perlakuan dengan cara pemaksaan”, sehingga apa pun bentuk pemaksaan dapat dikategorikan sebagai kekerasan. Oleh sebab itu, tidak hanya kekerasan fisik dengan senjata dalam memaknai “kekerasan”; di era yang lebih internet dan budaya teknologis ini, wujud kekerasan dapat berubah menjadi kekerasan non-fisik.

Kekerasan yang jauh lebih besar dampaknya bagi kehidupan seseorang. Sebab, ragam kekerasan dalam wujud kekerasan bahasa (language violence), kekerasan simbolik (simbolic violence), kekerasan citra (image violence), dan kekerasan digital (digital violence), semuanya dapat menghancurkan jiwa dan kepribadian seseorang.

Jadi jangan mentang-mentang twitter itu bebas, kita pun bebas berkicau tanpa panduan nilai, moralitas, dan etika sosial. Sebagai bangsa plural, sejatinya kita saling menghargai dan bijak menyikapi perbedaan. Termasuk bijak menggunakan media sosial, dengan status yang tidak menyerang seseorang. ***

Artikel ini dimuat di Rubrik @Jejaring HU Pikiran Rakyat Edisi Senin 27 Mei 2013
Gerakan "Petisi Online" Babakan Siliwangi

Gerakan "Petisi Online" Babakan Siliwangi


HARI Jumat pekan lalu (31/05), smartphone berbunyi karena ada pesan masuk ke kotak masuk. Ternyata undangan penandatanganan petisi online menolak komersialisasi Babakan Siliwangi (Baksil). Ketika saya mengklik laman situs http://www.change.org/SaveBaksil pada hari itu juga ternyata sudah terkumpul 5.751 tanda tangan netizen yang mendukung petisi penolakan komersialisasi Baksil yang digagas Forum Warga Peduli Babakan Siliwangi (FWBS). Empat hari kemudian terkumpul sekitar 7.550 tanda tangan.

Di era digital ini, setiap aktivis dapat memulai kampanye ketidakadilan dengan mengetengahkan abstraksi permasalahan sebagai pesan kritis publik kepada pemerintahan melalui new media.

Situs change.org — sebagai new media — dapat digunakan publik atau aktivis menuntut kebijakan yang tidak pro-rakyat. Gerakan petisi online sebagai upaya memanfaatkan teknologi media sosial tentunya harus kita ramaikan sebab ini merupakan pertanda tingkat melek media warga yang tinggi. Ketika di tataran praksis sosial, gugatan warga kepada pemerintah tidak begitu dihiraukan, dengan dukungan dari pengguna internet maka gerakan sosial diharapkan dapat dijalankan agar segala kebijakan pemerintah menjadi pro rakyat.

Petisi online Babakan Siliwangi yang bertajuk, “Selamatkan Hutan Kota Dunia dari Ancaman Komersialiasi” ini dalam konteks demokrasi ialah salah satu bentuk kebebasan berpendapat warga kota Bandung melakukan gugatan pada pemerintah untuk tetap menjaga kelestarian alam. Sebab, sebagai “hutan kota”, daerah Baksil harus bebas dari beton dan bangunan.

Forum Warga Peduli Babakan Siliwangi pun menjelaskan alasan kenapa harus mengeluarkan petisi online di change.org. Mereka menuntut Pemerintah Kota — sebagai abdi rakyat — seharusnya menyediakan Ruang Terbuka Hijau (RTH) Publik minimal 30 persen dari seluruh wilayah. Namun pada kenyataannya, Kota Bandung yang luasnya sekitar 17.000 hektare baru memenuhi sekitar 7 persen RTH.

Demi masa depan bersama, petisi online di situs change.org itu harus efektif dan efisien untuk melahirkan perubahan bagi Kota Bandung yang lebih baik dan lestari. Kehadiran situs http://www.change.org di tengah masyarakat demokratis, menjadi media kampanye sosial efektif untuk menggalang kekuatan sosial yang mewakili suara publik. Situs ini merupakan social media yang banyak digunakan sebagai media demonstrasi online publik atas kebijakan pemerintah di berbagai daerah. Tak heran jika user atau pengguna situs terdiri dari warga biasa, aktivis LSM, aktivis sosial, dan netizen yang memiliki basis gerakan sosial.

Situs change.org didirikan pada tahun 2007, oleh Ben Rattrey (31) dan berhasil menyabet penghargaan sebagai B Corporation – sebuah hibrida perusahaan nirlaba dan amal, yang berusaha membuat keuntungan untuk kebaikan sosial – dan pada tahun 2011 situs ini menembus harga 5 juta dollar AS. Tahun 2012, sekira 20 juta pengguna dari 196 negara mendaftar menjadi user.

Ben Rattray, pendiri change.org, seperti ditulis Nicholas D. Kristof dalam kolom di nytimes.com bertajuk, “After Recess: Change the World” (4/02/2012) mendirikan situs ini untuk memudahkan warga biasa menggugat korporasi dan pemerintahan melalui dukungan online. Kristof menjelaskan bagaimana peran social campaign situs change.org, mampu mengubah sikap korporasi ketika 14 anak-anak siswa kelas 4 SD di Brookline, Massachusets; berhasil memenangkan petisi mereka yang ditujukan kepada studio film, Universal Studios.

Melalui internet, mereka menyuarakan ketidaksetujuan ketika membaca cerita “The Lorax”, karya Dr. Seuss, yang akan difilmkan Universal Studios dan dirilis pada bulan Maret 2012. Ketidaksetujuan mereka ketika membuka laman situs Universal Studios tidak mencantumkan pesan lingkungan; di mana “The Lorax”  ialah pelindung alam. Sebulan kemudian, anak-anak memulai sebuah petisi di Change.org, menuntut agar Universal Studios “membiarkan Lorax berbicara untuk pohon.” Petisi itu dengan cepat beredar dan berhasil mengumpulkan lebih dari 57.000 tanda tangan. Kemudian pihak Universal Studio pun memperbarui situs film dengan pesan lingkungan seperti yang dituntut oleh anak-anak.

Lantas, bagaimana dengan petisi online yang dilakukan Forum Warga Peduli Babakan Siliwangi? Akankah pemerintah kota Bandung – dalam hal ini Walikota – mengabulkan tuntutan mereka untuk membatalkan izin mendirikan bangunan dengan PT EGI? Mungkin, pihak pemerintah dan korporasi harus menonton film bertajuk, The Lorax, sehingga akan menyadari bagaimana keserakahan korporasi berbahaya bagi lingkungan sekitar. Kalau diizinkan membangun beton di Baksil, akan tumbuh seribu beton lagi ke depannya. Maju terus kang Tisna Sanjaya, untuk Kota Bandung yang hijau, resik dan sejuk. []

Sumber:Rubrik Jejaring, 10 Juni 2013 di HU Pikiran Rakyat

28 November 2018

Selamat Datang Blook di Era Industri 4.0

Selamat Datang Blook di Era Industri 4.0

Anda tahu apa itu “Blook” (baca: bluk)? Istilah ini menurut Wikipedia, ialah objek yang dibuat guna meniru buku, diterbitkan secara online melalui blog, atau buku cetak yang didasarkan pada konten blog. Istilah “blook” digunakan sejak tahun 1990-an, oleh pustakawan, Mindell Dubansky. “Blook” ialah nama lain dari look like a book (tampak seperti buku). “Blook” juga berasal dari penggabungan “blog” dan “book” sehingga menjadi “Blook”. Tepatnya 2002, Tony Pierce mengompilasi postingan di blog dan mengoleksinya jadi buku yang diberi judul “Blook”. Judul ini diberikan pembacanya, Jeff Jarvis dari BuzzMachine, dalam sebuah ajang bertajuk Pierce Award.

Era 4.0 sekali lagi ialah ruang “kekitaan” bukan “keakuan”. Postingan di web komunitas atau weblog mengindikasikan terselenggaranya ruang “kekitaan” tersebut. Sebab, konten situs ditentukan sang pengguna (user generated).  Setiap orang wajib berbagi informasi, ide, gagasan, dan kritik yang diposting melalui tulisan, video, audio, maupun photo. Nah, kalau tradisi 2.0 – berbagi bersama – digunakan setiap penerbit buku, akan banyak melahirkan buku yang disusun bersama pembaca.

Pelibatan konsumen

Kadang, saya berpikir sejenak tentang penerbitan buku di masa mendatang. Di era 2.0 seharusnya sebuah buku disusun bersama-sama; antara penulis dan pembaca. Menerbitkan tulisan berkala di blog menjadi buku (Blook), tentunya harus dikemas interaktif. Sebab, filosofi era 2.0 terletak pada interaktivitas. Pada bagian lay out isi, setelah tulisan berkala itu selesai akan terasa hebat dan menjanjikan apabila disertakan kolom komentar laiknya web 2.0. Sehingga pembaca akan mendapatkan ruang privat untuk memberi kritik, saran, dan apresiasi terhadap kompilasi tulisan tersebut.

Sang pembaca, sebagai ukuran naskah dikategorikan marketable, tentunya di era 2.0 mesti dilibatkan. Partisipasi mereka ikhwal kemasan, tata letak, dan editing isi harus ditampung penerbit yang hendak menyambut banjir e-book reader di negeri kita. Akan tetapi, saya pikir tak akan ada penerbit mainstream yang melakukannya. Ketika Tim O’Relly menggagas web 2.0 – dalam konteks penerbitan – ialah cermin sebuah buku yang melibatkan penerbit, penulis dan pembaca. Inilah yang disebut dengan ruang “kekitaan”.

Bayangkan, apabila itu dilakukan. Kita tidak memaksakan nilai-nilai subjektif kepada pembaca. Sebab, pembaca ketika selesai membaca bagian dari tulisan tersebut, mereka akan dengan senang hati menuliskan komentarnya di kolom yang disediakan pada kemasan isi buku tersebut. Itulah sekiranya yang menjadikan “blook” saya istilahkan dengan “buku era 2.0”. Karena buku cetak menjadi tempat terjadinya interaksi penulis dan pembaca. Pada akhirnya, pembaca ditempatkan sebagai fartner. Bukan “orang bodoh” yang dijadikan objek ceramah-tulisan.

Di negeri ini, hanya beberapa “blook” yang dicetak dengan menyertakan komentar pembaca terhadap tulisan di blog. Padahal, selain itu juga, kalau dikemas dengan menyertakan kolom komentar dalam tata letak dapat terjadi interaksi penulis-pembaca. Bukankah pada rilis 2010, Adobe Indesign CS5 sudah mengarah pada pengemasan buku interaktif dan touch eye berbasis digital? Entah berapa lama lagi revolusi buku terjadi, di mana layanan blog atau media sosial menyediakan aplikasi yang dapat dimanfaatkan perusahaan kartu seluler dan perangkat ebook reader untuk menjualnya dengan sistem registrasi. Kita tunggu saja bergulirnya era ini!

Bluk Indonesia

Di Indonesia, “Blook” mulai dikenal lewat karya Raditya Dika. Pemuda kelahiran 28 Desember 1984 ini ialah seorang penulis, komedian, penulis skrip komik/film, dan penggiat perbukuan. Lewat karya pertamanya, Kambingjantan (Gagasmedia, 2005), ia menjadi populer. Buku Kambingjantan ialah adaptasi dari blognya yang beralamat di www.kambingjantan.com. Dengan gaya menulis komedi yang lepas pakem dan apa adanya, Kambingjantan sukses menjadi National Bestseller. Setelah itu menyusul buku Cinta Brontosaurus (Gagasmedia, 2006), Radikus Makankakus (Gagasmedia, 2007), Babi Ngesot (Bukune, 2008), dan buku lainnya. Kini semua projek “blook” Raditya Dika dapat diakses di laman http://radityadika.com.

Satu lagi penulis “Blook” yang terbilang sukses di pasaran. Karya Trinity, yang mengulas perjalanan ke belahan Negara luar Indonesia, dengan kemasan bahasa yang lepas pakem, Bentang Pustaka menerbitkan buku The Naked Traveler. Kabarnya, “blook” ini hingga sekarang telah dicetak ulang sampai belasan kali. Kemudian, pada 2010 terbit kembali “blook” The Naked Traveler 2 dengan isi yang diambil dari postingannya di blog. Karya-karya Trinity, dapat Anda kunjungi di laman http://naked-traveler.com.

Bahkan, beberapa penulis di sebuah komunitas blogger menerbitkan “blook” dari konten blog. Chappy Hakim, sesama kontributor di www.kompasiana.com, misalnya, menerbitkan “blook” berjudul “Cat Rambut Orang Yahudi” (Gramedia, 2009). Kemudian, Prayitno Ramelan, menerbitkan “Intelejen Berthawaf” (Grasindo, 2009). Kedua buku tadi diterbitkan atas kerjasama Kompasiana dengan penerbit di Jakarta. Selain “blook” yang diterbitkan penerbit mainstream, kita juga dapat menemukan “blook” yang diterbitkan penerbit indie.

Berkaca dari kesuksesan “blook” atau buku era 2.0 di Indonesia, tak ada salahnya kalau kita semua berharap industri perbukuan di negeri ini bangkit. Kesuksesan penerbitan konten blog menjadi buku cetak tentu akan memacu blogger atau penulis (author) untuk memposting tulisan berkualitas dan mencerahkan. Wabilkhusus, tertantang untuk berbagi ide orisinal dengan para pembacanya ikhwal segala hal yang kadang dibungkus dengan gaya khas.

Selamat datang “blook”!

17 November 2010

Kompasiana, Hadiah, dan Kultur Menulis

Kompasiana, Hadiah, dan Kultur Menulis

Ketika saya memutuskan untuk bergabung dengan kompasiana, ada satu karir kepenulisan yang saya tinggalkan. Pada tahun 2008, tulisan saya banyak dimuat di Kompas Biro Jawa Barat dan media lokal lainnya. Saya ketagihan dengan tren menulis di blog media sosial seperti kompasiana. Satu hal yang membedakan Kompasiana dengan media cetak. Ketika saya mengirim artikel ke media cetak, paling cepat artikel itu dimuat 3-5 hari sejak pengiriman. Bahkan, ada yang sampai menunggu sebulan lebih.

Berbeda dengan kompasiana, waktu itu. Saya hanya menunggu kiriman artikel beberapa menit saja. Dan, tak lama setelah itu artikel saya muncul. Kini, dengan fitur yang lebih hebat lagi; kompasiana memberikan hak pemilihan kepada kompasianer untuk menerbitkan tulisannya atau tidak (unpublished or publish). Tak hanya itu, fitur kompasiana dengan dashboard baru, yang diliris awal november ini, membuat kompasianer terangsang untuk menyutubuhi kompasiana.  Tak heran apabila sejumlah kompasianer, seperti Omjay, Kate, Nurtjahjadi, Mukti Ali, dan masih banyak lagi menjadi produktif menulis.

Inovasi tim kompasiana yang dinakhodai kang Haji Pepih Nugraha, kini menuai hasil. Ada pergeseran budaya yang saya rasakan dalam hal tulis-menulis. Dulu, sebelum bergabung dengan kompasiana, saya lebih asyik menulis untuk media cetak. Kendati saat itu, saya memiliki blog dan sering berkunjung ke laman blog kang Pepih Nugraha, karena saya sering membaca tulisannya di Kompas Cetak. Kini saya lebih asyik mempublikasikan tulisan via media daring alias online; entah itu weblog personal saya, web komunitas, atau sekadar di media yang saya rancang sekadar hobi saja.

Selama saya bergabung dengan kompasiana, selain kepuasan eksistensial; karena karya saya diakui oleh pemilik media dan pengguna media. Saya juga sudah dua kali — tepatnya beruntung — menjuarai lomba yang diadakan kompasiana.  Lomba pertama adalah tetang sepakbola dan lomba kedua tentang Bank Syariah. Hehe, jujur saja. Sebetulnya saya malu sekali. Sebab, sudah dua kali mendapatkan sejumlah materi dari kompasiana tetapi tidak pernah sowan ke Jakarta. Bukan karena apa-apa. Tetapi karena apakah saya pantas berkumpul dengan kompasianer lain di Jakarta yang pada hebat-hebat. Dalam bahasa sederhana, saya “minder” barangkali. Hahaha

Saya jarang menulis di kompasiana karena sedang membimbing junior saya di organisasi di bidang new media ini. Saya coba-coba mengkampanyekan tentang kompasiana kepada mereka. Dan, saya merasakan perasaan anak-anak muda itu. “Gampang terangsan, tetapi gampang layu juga”. Itu risiko…., sebab mereka masih dalam tahap pencarian. Mencari kepuasan dari suatu aktivitas. Dan, setelah mereka merasakan kepuasan yang nyata dari aktivitas menulisnya, insyaallah mereka akan terus bersemangat.

Dengan tulisan ini, saya hanya ingin mengucapkan terima kasih kepada kompasiana, hadiah, dan kepuasan eksistensial yang sudah saya peroleh. Mari kita ciptakan tren kebudayaan menulis secara daring. Saya berkesimpulan bahwa para blogger, penulis online, dan kompasianer memiliki kualitas keimanan yang berbeda dengan para penulis di media cetak. Kita (Kompasianer) ketika menulis tidak ada pikiran “duit” dalam menuangkan ide. Tetapi, penulis di media cetak; selain “duit” dan kepentingan material lainnya, mereka juga sering bertanya pada saya: “Menulis di internet atau blog itu berapa ratus ribu dibayarnya?”.

“Dasar penulis mata duitan….” bisik saya dalam hati.

Padahal, setiap karya yang dipublikasikan adalah cermin bagi publik. Dan, banyak kasus penulis mata duitan ini. Untuk memenuhi target keuangan segala jalan dan cara dilakukan; termasuk melakukan epigonisme dan plagiasisme. Epigon adalah meniru dengan cara mengubah struktur kalimatnya. Sementara itu, plagiasi adalah mengaku bahwa kalimat itu bikinannya sendiri. Nah, satu lagi yang saya peroleh dari kompasiana. Saya lebih memiliki khas penulisan naratif apabila dibandingkan dengan tahun 2008 yang lebih bersifat tesis-spekulatif. Dengan menulis di Kompasiana, saya juga lebih dapat menuangkan ide-ide secara sederhana. Tidak super duper memusingkan pembaca seperti yang banyak dilakukan Mahasiswa dan dosen di perguruan tinggi.

20 June 2010

Perkenalkan Majalah JejaringKu Edisi 2

Perkenalkan Majalah JejaringKu Edisi 2

Menulis di era 2.0 berpegang pada prinsip berbagi dan berjejaring. Saya pribadi, termasuk orang yang memegang teguh prinsip ini. Menulis, bagi saya, tak sekadar kompetisi mencari kepuasan material. Dimuat dan tidak mendapatkan honor dari tulisan saya tak akan menghalangi saya untuk terus berkarya. Meskipun hanya catatan sederhana, bagi saya, itu merupakan karya tak terkira. Disamping beberapa media cetak yang telah menerbitkan tulisan saya [kendati jarang sujarang], Kompasiana salah satu media yang menghargai karya tulis saya. Dalam hitungan detik, tulisan saya sudah tampil di “blog atau situs kroyokan” ini.

18 June 2010

“Berkah” Ngeblog di Kompasiana

“Berkah” Ngeblog di Kompasiana

Dalam khazanah kepesantrenan, “berkah” ialah bertambah dan menetapnya suatu kebaikan (tsubut al-khair). Aktivitas yang terkategori baik secara etis maupun moral di lingkungan masyarakat kalau dilakukan terus-menerus akan mengundang berdatangannya kebaikan. Ngeblog merupakan salah satu bentuk aktivitas tersebut. Kebudayaan yang lahir dari kecerdasan manusia dalam mengelola perangkat komunikasi teknologis.

16 June 2010

Pengguna Twitter Indonesia Peringkat Ke-2 Se-Asia

Pengguna Twitter Indonesia Peringkat Ke-2 Se-Asia

Wabah kebiasaan berkicau via twitter kini memasuki Indonesia. Situs microblogging yang didirikan Maret 2006 oleh Evan Williams, Jack Dorsey, dan Biz Stone, menjadi tempat pergaulan anak muda di internet. Sejak pembentukannya, Twitter telah menjadi sangat populer di seluruh dunia. Twitter kini semakin riuh. Di Indonesia, jumlah penggunanya naik terus secara eksponensial dalam satu tahun belakangan ini. Pada bulan yang sama tahun lalu diperkirakan jumlahnya hanya 500 ribuan, namun kini sudah lebih dari 5 juta.

6 June 2010

Bolehkah Berbagi Artikel Majalah Zaman (1983)?

Bolehkah Berbagi Artikel Majalah Zaman (1983)?

Ikatan Mahasiswa Muhammadiyah (IMM), bagi saya telah menjadi bagian hidup. Saya sadar kemampuan menulis, kebiasaan berdiskusi, dan pemahaman “Islam jalan tengah” diperoleh ketika aktif di organisasi ini. Kini, setelah saya tak lagi menjadi mahasiswa perasaan kangen memuncaki ubun-ubun. Saya merindukan suasana itu terulang kembali. Di kompasiana inilah saya kembali bertemu dengan senior saya, kang Syafaat. Rasanya, dialah yang telah membentuk saya untuk menjadi full writer ketika aktif di organisasi kemahasiswaan ini.

9 April 2010

Asyiknya Tulisan Nongkrong di Headline

Asyiknya Tulisan Nongkrong di Headline

Kompasianer yang berbahagia, hati saya kok berbunga-bunga ya? Apa penyebabnya? Apakah saya sedang berbahagia? Iya dong. Hari ini saya sedang berbahagia. Tulisan saya berjudul, “Mengintip Peluang Penerbitan Bukumu” bertengger di Headline kompasiana. Puas rasanya, karena ada di posisi paling atas web ini. Entah kebetulan atau tidak. Yang jelas, pengalaman ini harus dibagi-bagi ya…?

3 April 2010

Assegaf Kenapa Kau Ini?

Assegaf Kenapa Kau Ini?

Ada sesuatu yang aneh, dari postingan Assegaf malam ini di visibaru.com. Judulnya, “Peci Putih Menipu Tuhan”. Saya baru sadar, bahwa pernah membaca tulisannya yang terlihat santun pada kisah seorang katolik pembela muslim, di Kompasiana. Faizal Assegaf tak saya percayai memposting tulisan yang agak provokatif dan menebar kebencian. Omjay, yang dalam tulisan Assegaf, diberi gambar seekor anjing sedang menggigit tulang, pantas saja merasa terlihat lemas. Saya mencoba menyelami perasaan Omjay, sahabatku ini, “Kenapa blogger bisa berbuat begitu. Mengatakan saya sebagai penjilat konglomerat?” 

26 February 2010

Mewaspadai Kejahatan Mayantara

Mewaspadai Kejahatan Mayantara

Situs jejaring sosial Facebook, kini menjadi ikon pergaulan generasi abad 21 di Indonesia. Komunikasi, interaksi, bergosip, dan membina cinta juga banyak dilakukan melalui situs jejaring terbesar di dunia ini. Namun, terbongkarnya kasus pengedar obat terlarang, sindikat human traficking, prostitusi, penculikan, dan kejahatan lain pertanda sisi negatif jejaring sosial mesti kita waspadai.

1 February 2010

Mengolah Tulisan Kompasianer (Omjay) Jadi Buku

Mengolah Tulisan Kompasianer (Omjay) Jadi Buku


Ribuan artikel sejak www.kompasiana.com diluncurkan telah menghiasi dunia maya. Satu di antara kompasianer yang cukup rajin memposting tulisan adalah Omjay. Dan, tentunya dengan tulisan itulah omjay sudah meninggalkan jejak pemikirannya di dunia maya. Sebagai seorang guru TIK, ia patut dihargai oleh siapa saja. Termasuk saya! Karena itulah, beberapa minggu ke belakang saya mengumpulkan tulisan Omjay yang diposting pada kategori edukasi.

Cukup memuaskan, saya mendapatkan sekitar 32 artikel tentang pendidikan yang menurut saya pantas dikumpulkan. Padahal jumlahnya sekitar 100an lebih. Puluhan artikel lainnya, karena saking banyak, tak mampu saya kumpulkan. Alhasil, hanya 32 artikel saja yang saya edit, lay out, dan dikasih sampul.

28 January 2010

Ngeblog Itu…Kompasiana; Lebih Beretika Dong!

Ngeblog Itu…Kompasiana; Lebih Beretika Dong!

Teman: “Dari mana saja kamu. Kemarin, kok, nggak datang ke kantor?”

Saya: “Maaf, kang, saya ketiduran. Ngeblog sampai subuh!”

Teman:“Ah..kamu memang kurang kerjaan. Mendingan menulis di media cetak daripada di blog. Selain terkenal….dapet honorarium lagi.”

Saya : “Ini soal idealisme, kang. Bagi saya eksistensi di dunia maya juga penting. Ini era internet. Semua orang telah terintegrasi dengan dunia maya ini. Lihatlah kekuatan dunia maya yang mampu mengumpulkan sekitar satu milyar untuk Prita Mulyasari. Soal materi adalah nomor kesekian…”

12 January 2010

Dakwah Versus Internet

Dakwah Versus Internet

Kemajuan teknologi informasi dan komunikasi (TIK), utamanya internet, jangan dipahami sebagai ancaman bagi berlangsungnya syiar Islam (baca: dakwah). Internet dalam konteks dakwah Islam mesti dijadikan media menyampaikan nilai, norma, pengetahuan, dan terbentuknya wawasan islami. Oleh karena itu, sebagai penyampai ajaran Islam, seorang da’i mesti memahami, mengetahui dan menguasai TIK guna memuluskan prosesi dakwah. Dengan demikian, pengguna internet dapat memperoleh informasi yang positif guna membimbingnya ke jalan yang diridhai Allah Swt.

Menurut Suparlan Suhartono, dalam buku Filsafat Ilmu Pengetahuan (2005) konsekuensi kemajuan di bidang teknologi informasi global mengakibatkan sistem komunikasi bersifat praktis, individual, private, bahkan masuk ke benak kaum “melek internet” tanpa ada sensor nilai-nilai sosial-kultural dan sosial-religius. Alhasil, dengan watak teknologi yang memiliki produktivitas tinggi ini berpengaruh pada terbentuknya pola sikap sekuler-hedonistik.

14 November 2009

Silaturahim Produktif Khas PIKI

Silaturahim Produktif Khas PIKI

Silaturahim dalam konteks masyarakat modern bisa beragam bentuk dan wujud. Diskusi, sharing pemikiran, kerjasama, kencan, makan bersama, dan sebagainya. Meskipun, kita tidak dapat menafikan dalam “silaturahim” itu kerap bersemayam kepentingan tertentu. Yang pasti, sebagai manusia beradab, aktivitas “silaturahim” mesti menelurkan peradaban baru yang mencerahkan.

Hari Kamis kemarin (13/11/2009), pengurus Harian Online Blogger Sunan Gunung Djati diundang oleh Pusat Informasi dan Kajian Islam (PIKI) UIN Sunan Gunung Djati Bandung. PIKI mengaku memiliki konsep dan gagasan tentang pengembangan Kampus, namun sampai sekarang sulit terlaksana karena berbagai kendala. Maka untuk mewujudkan gagasan tersebut, pihak PIKI menjajaki kerjasama dengan komunitas Blogger yang dikelola alumni dan mahasiswa, yakni www.sunangunungdjati.com.


Lembaga yang dipimpin Drs.H. Darun Setiadi, M.Si, ini merasa perlu melakukan hearing dengan team Sunan Gunung Djati. Sebab, team yang dinakhodai Ibn Ghifarie ini merupakan potret semangat terpendam civitas akademika UIN Bandung dalam membangun UIN Bandung di dunia cyber. “Mereka ini adalah contoh dari the lost generation, yang dapat pergi begitu saja karena berbagai kendala. Oleh karena itu PIKI perlu mengembangkan potensi yang terpendam untuk membentuk citra UIN Bandung ke depan.” Ujar Darun Setiadi di sela-sela silaturahim dengan team Sunan Gunung Djati selama 3,5 jam tersebut.

Pada kesempatan tersebut, 10 orang hadir di Kantor Pusat Informasi dan Kajian Islam (PIKI), lantai I gedung Al-Jamiah UIN Bandung. Kesepuluh orang tersebut masing-masing terdiri dari 5 orang pihak PIKI dan 5 orang dari pengurus www.sunangunungdjati.com. Pada kesempatan itu juga, PIKI berharap komunitas blogger ini dapat mengejawantahkan gagasan besar PIKI untuk menyosialisasikan pemikiran “Madzhab Cipadung”.

“Kita tidak perlu berwacana tentang pendirian Madzhab Cipadung. Kita akan memberikan kontribusi kongkrit tentang madzhab dan pemikiran kita, inilah madzhab kita yang sesungguhnya dan inilah buktinya. ” Ujar Darun Setiadi sambil menunjuk laman web www.sunangunungdjati.com.

Dasar pemikiran pembangunan situs www.sunangunungdjati.com adalah sebagai respons kreatif karena ada tren kecenderungan berkonvergensinya media cetak dan media online. Oleh karena itu, silaturahim PIKI dengan Sunan Gunung Djati mesti diarahkan pada sesuatu yang produktif. Maka pada pertemuan itu terlaksana silaturahim produktif sebagai kontrak kerja awal antara PIKI dengan pihak www.sunangunungdjati.com.

Sebagai langkah awal, Drs.H. Darun Setiadi, M.Si, selaku Ketua PIKI akan mencoba membuka kanal di www.sunangunungdjati.com. Kanal ini untuk dijadikan media interaksi dengan mahasiswanya, baik menyangkut keperluan tugas, materi, ujian, dan lain-lain. Hal ini bagus dilakukan menyosialisasikan pemikiran civitas akademika UIN Bandung agar tidak terus berwacana tentang pendirian madzhab. *** [Sukron Abdilah]

Ayo Ngeblog, Ayo Berkarya!
Siapa yang akan menyusul langkah PIKI? Hehe…mari bercipika-cipiki dengan Sunan Gunung Djati.

1 November 2009

1926 Aisyiyah Berjuang Lewat Pena

1926 Aisyiyah Berjuang Lewat Pena

“Deradjat kaoem iboe di tanah Arab zaman dahoeleoe orang telah mengetahoei boeroeknja. Orang perempoean disamakan dengan binatang ternak dan sesamanja. Pada zaman itoe orang Arab soedah djadi kebiasaannja memboenoeh anaknja jang keloear perempoean meskipoen ta’berdosa.” (Soeara Aisyiyah, No.1-4/ September 1929).

Kutipan di atas saya peroleh dari artikel Soedarmah Solo berjudul, Kemoeliaan Kaoem Iboe. Saya bersyukur karena beberapa bulan yang lalu, Syafaat R Selamet, alumni IMM Jawa Barat memberikan naskah mentah penelitiannya tentang kiprah ’Aisyiyah di dunia pers. Coba Anda bayangkan, sebegitu besar peran perempuan Muhammadiyah bagi bangsa ini. Di tengah dominasi pemahaman maskulin suara pena ’Aisyiyah menjadi gerbang awal memasuki kesadaran perempuan di Indonesia.


Artikel dalam Soeara ’Aisyiyah itu ditulis sebelum negeri ini merdeka. Perempuan di era prakemerdekaan eksistensinya masih tak dihargai. Karena itulah kemudian KH Ahmad Dahlan meningkatkan gerak perempuan Muhammadiyah, yang waktu itu dikenal dengan perkumpulan Sopo Tresno. Perkumpulan kaum perempuan ini kemudian berubah menjadi ‘Aisyiyah pada 22 April 1917.

Di bawah ini saya sertakan ringkasan yang dihasilkan teman saya, Syafaat R Selamet, tentang kiprah Soeara ‘Aisyiyah dalam dunia pers. Semoga saja, hasil penelitian ini dapat menyadarkan bangsa atas peran perempuan pada masa prakemerdekaan sampai negeri ini merdeka. Untuk menghemat kavling atau ruang bagi artikel ini saya ringkas seringkas-ringkasnya. Silakan anda nikmati, telaah dan resapi, peran ‘Aisyiyah bagi pengokohan nasionalisme perempuan di negeri ini.
***

Perkumpulan Aisyiyah adalah organisasi otonom Muhammadiyah yang bercita-cita ‘memperbaharui’ aspek pemahaman dan pengembangan agama Islam di dalam masyarakat untuk dikembalikan pada ajaran Islam murni yang bersumber dari Al-Qur’an dan Sunnah. Dalam rentang waktu 3 tahun (1917-1920), Aisyiyah bergerak menyertai gerakan Muhammadiyah. Utamanya setelah bergerak di Pulau Jawa sejak tahun 1920. Aisyiyah mengalami perkembangan sangat pesat bukan saja di Yogyakarta. Tapi juga di luar itu. Terutama perkembangan ini setelah Kongres Muhammadiyah ke-11 tahun 1923 di Yogyakarta.

Pada kongres tersebut, setiap cabang dan groep Muhammadiyah wajib mengadakan bagian Aisyiyah, sehingga perkembangan organisasi perempuan Muhammadiyah ini semakin pesat. Anggota-anggotanya tidak saja gadis-remaja. Melainkan juga ibu-ibu rumahtangga. Bahkan dua tahun setelah Aisyiyah berdiri (1919), Aisyiyah sudah merintis Pendidikan Anak Usia Dini (PAUD) semacam Play Group. Yang kemudian berkembang menjadi Taman Kanak-Kanak bernama TK Bustanul Athfal yang tersebar di seluruh Hindia Belanda. Selain itu pula mendirikan Siswo Proyo Wanito, sebuah perkumpulan murid-murid puteri di luar sekolah. Perkumpulan ini kemudian tahun 1930 berkembang menjadi Nasyi’atul ‘Aisyiyah (NA).

Tahun 1922 Aisyiyah berkembang pesat terutama di daerah kelahirannya. Kondisi ini mendorong pengurusnya untuk semakin intensif melakukan pertemuan, rapat-rapat persiapan untuk melakukan kegiatan-kegiatan. Aisyiyah berhasil mendirikan tempat pertemuan dan pendidikan khusus kalangan perempuan, yang dikenal dengan Masjid (Mushala) Isteri. Sebagai satu-satunya Masjid Perempuan pertama di Indonesia.
Mushala ini menjadi sentral kegiatan Aisyiyah dalam merencanakan kegiatan-kegiatannya. Dari sinilah muncul ide-ide baru untuk membuka amal usaha organisasi.
Setahun kemudian, Aisyiyah mengadakan pemberantasan buta huruf. Baik pemberantasan buta huruf Latin ataupun Arab. Upaya ini diharapkan dapat menghilangkan kebodohan, karena dengan membaca dan menulis, orang dapat menggali ilmui-ilmu yang bermanfaat. Upaya buta huruf yang dilakukan Aisyiyah memberikan bukti bahwa Aisyiyah memang benar-benar berperan dalam memajukan bangsa. Setelah 9 tahun berdirinya, tahun 1926, Aisyiyah berkembang pesat. Aisyiyah mengiringi perkembangan Muhammadiyah selama 9 tahun (1917-1926).

Maka pada bulan Oktober tahun 1926 yang bertepatan dengan bulan Jumadil Akhir tahun 1345 H, Aisyiyah menerbitkan majalah organisasi yang bernama Soeara Aisyiyah.
Majalah organisasi yang sederhana, menggunakan bahasa daerah (bahasa Jawa). Dengan menerbitkan majalah ini berarti Aisyiyah benar–benar memahami perlunya alat komunikasi yang dengan cepat sampai kepada umat, karena pada waktu itu Aisyiyah sudah mulai berkembang jauh dari Yogyakarta. Dengan demikian Aisyiyah dapat memberikan informasi kemajuan organisasi ataupun penjelasan–penjelasan kepada umat lewat media massa Majalah Soeara Aisyiyah tersebut. Majalah ini berisi tentang penyebaran agama Islam, misalnya, agar kaum wanita menutup aurat, memakai kerudung, menjauhi pergaulan bebas, menaati adat sopan santun keislaman, dan sebagainya.
Majalah ini juga dijadikan alat dakwah melalui media massa dan menjadi bacaan bagi ibu–ibu murid atau pengikut Aisyiyah Maghribi School (AMS).

Menarik dicermati, waktu itu belum ada sebuah penerbitan yang dikelola langsung oleh sebuah organisasi kaum wanita. Kalau pun ada sebelumnya yang bergerak dalam dunia pers, itu belum berbentuk organisasi dalam pengertian modern. Tetapi perkumpulan sederhana belum memiliki tata aturan organisasi, Anggaran Dasar dan Rumah Tangga serta Program Organisasi. Misalnya koran Poetri Hindia (PH) yang terbit tahun 1908 itu karena dirintis RM. Tirto Adhi Soerjo, bukan oleh sebuah organisasi wanita.

Disinilah letak keistimewaan gerakan pena yang digagas ’Aisyiyah, di mana organisasi ini merupakan fartner dari gerakan Muhammadiyah yang lahir karena ingin memberikan pendidikan dan kesadaran kepada kaum perempuan. Dengan wahana sebuah penerbitan berkala Majalah Soeara ’Aisyiyah cita-cita itu dapat tersampaikan ke setiap pelosok di bumi nusantara, sehingga terjadi semacam pembentukan kesadaran kolektif, bahwa perempuan juga mesti berperan dalam kebangunan negara Indonesia, di mana pada masa prakemerdekaan perempuan nasibnya masih di dominasi kaum laki-laki.
***

Itulah ringkasan penelitian tentang majalah Soeara ’Aisyiyah yang dilakukan Syafaat R Selamet dan D. Anindita. Bagi yang berminat untuk menyegarkan kembali gerakan perempuan di tubuh Muhammadiyah, jelang seabad, naskah yang sudah saya edit ini dapat dijadikan telaah awal dalam merancang gerak perempuan di Muhammadiyah.





24 October 2009

Kompasiana Makin Seksi

Kompasiana Makin Seksi


Dewi Persik ataukah Sharah Azhari wanita terseksi di jagad mayantara? Jawaban pribadi saya, ya, Dewi Persik dong. Tapi, jawaban Anda bisa beragam. Luna Maya kah, Cinta Laura kah, atau Zaskia Meeca. Itu terserah Anda. Yang jelas setiap orang memiliki ukuran masing-masing untuk menyebut wanita terseksi. Pun begitu dengan tren media baru (new media) di dunia cyber.

User terus disuguhi tarian seksi media baru. Media baru itu di antaranya Friendster, Facebook, Twitter, Plurk, dan masih banyak lagi. Masing-masing media menari di depan netter agar dapat menarik perhatian mereka. Tarian seksi media baru, tentu saja menyedot perhatian bangsa Indonesia. Pengguna facebook di Indonesia saja mencapai 9,6 juta. Dari 55 juta pengguna Twitter, bangsa kita menempati posisi kelima. Hebat bukan?

Namun, bagaimana dengan nasib media bikinan bangsa kita sendiri, misalnya, situs sosial www.koprol.com? Sepertinya bisa dianalogikan penyuka wanita luar negeri ketimbang asli pribumi. Tapi, soal selera tidak ada larangan. Semakin dilarang, selera itu akan semakin kuat keinginan untuk memenuhinya. Menarik tidaknya media baru dapat diukur dari interaktivitas dan kemudahan menggunakannya. Orang sekarang lebih menyukai kemudahan karena ingin segalanya serba instan.

Dengan kreativitas media baru yang kian melesat, tampilan baru kompasiana sekarang terlihat seksi. Praktisi media, seperti halnya kang Pepih, mampu menangkap itu semua. Sampai tulisan ini dibuat, www.kompasiana.com menghadirkan rasa baru sehingga merangsang blogger, penulis, akademisi, profesional, pejabat, dan kalangan lainnya untuk bertukar informasi. Di Kompasiana inilah kita menemukan usaha serius kang Pepih dkk untuk menciptakan media “super seksi”. Usahanya itu berhasil karena beberapa kontributor yang tadinya “berpaling” ke media lain, kembali melirik. Sesekali bersuit-suit ria (ngoment) dan bahkan mencolek-colek kompasiana (memposting).

Kompasiana menjadi semacam blog social network sebuah gabungan weblog dengan jejaring sosial di internet. Ketika saya mengklik profil, misalnya, wah photonya keren banget. Deskripsi profilnya juga menghadirkan semacam penjelasan untuk mengetahui siapa sih si pembikin artikel itu. Ada daftar teman segala, sehingga agak mirip Facebook dan Friendster. Tak hanya itu, tulisan saya sudah berjejer rapi secara hirarkis di laman http://kompasiana.com/sukron. Saya merasa dihormati, dihargai, dan diakui oleh kompasiana. Dengan inilah mungkin, interaktivitas kontributor dengan pembaca akan terjalin secara jujur, sopan, intelek, dan saling menghargai.

Mungkin, tidak akan ada kasus, si pemberi komentar bentak-bentak emosional sembari menyembunyikan identitas. Seperti halnya di multiply.com orang yang ingin memberi komentar mesti mendaftarkan diri menjadi pengguna kompasiana.com. Ah, tidak menutupkemungkinan hal itu akan tetap ada sebab netter kan bisa mengisi biodata palsu. Kalau itu, sih, kembali kepada hati nurani masing-masing. Dikembalikan pada etika sosial masing-masing. Masihkah perlu menyembunyikan identitas di dunia yang sekarang menuju kenyataan hiperrealitas? Walahua’lam saya kira!

Kenapa saya memberi judul “Kompasiana Makin Seksi”? itu ada sebabnya lah. Ini standar keseksian sebuah media baru menurut saya. Karena saya bukan ahli media, mohon dimaafkan kalau ada kesalahan dan kekurang-tepatan.

1. Aksesable…..mudah digunakan dan diakses oleh siapa pun.

2. Interaktif……dapat berfungsi secara interaktif.

3. Menguntungkan…..kalau tidak secara materi, ya saya sih, mengharapkan ada keuntungan secara eksistensial.

4. User Friendly…..bersahabat dalam hal konten ataupun bentuk perwajahan. Mudah dimanfaatkan oleh orang awam sekalipun.

5. Promotif….mampu menjadi media mempromosikan diri, pemikiran, dan gagasan. Meskipun terlihat seperti gejala orang yang narsis, di era Cyber narsis adalah bukti dari eksistensi.

6. Silakan tambah lagi oleh Anda. Saya tidak akan menuntut anda meskipun mencaci kriteria kenapa media bisa dibilang “super seksi”.

Benarkah Kompasiana makin seksi? Ya, dibandingkan tampilan yang dulu, sekarang terlihat lebih seksi…bahkan super..super seksi. Namun, ukuran keseksian sebuah media baru akan terus berkembang dan bertambah. Tidak hanya aksesable, interaktif, menguntungkan, user friendly, dan promotif. Ada standar-standar baru yang terus diminati para pengguna internet, khususnya blogger dan berbagai kalangan yang menggandrungi budaya tulis-menulis. Hari ini kompasiana terlihat seksi, entah beberapa tahun ke depan, mungkin kalau tidak melakukan inovasi dan kreativitas, akan terlihat menua. Dan, kang Pepih bersama kawan-kawan di kompas.com sudah membuktikan bahwa ide dan gagasan kreatif memegang peranan penting dalam melahirkan media baru.

Mari berkreasi, mengalirkan gagasan terus-menerus, karena seperti diungkapkan pemilik Kompas Group, Jacoeb Oetama, ide tidak akan pernah habis kecuali kematian hadir. Bahkan, meskipun sudah mati, ide dan gagasan kreatif akan terus dikonsumsi untuk melahirkan ide dan gagasan baru yang sesuai dengan perkembangan zaman.

Bravo kompasiana…bravo kang pepih…bravo saya sendiri. Ooo…bravo untuk Anda sekalian.

Saya Mengelola http://sakola-sukron.blogspot.com

http://www.sunangunungdjati.com

http://kompasiana.com/sukron

15 October 2009

Dakwah Cyberspace

Dakwah Cyberspace

REALITAS peradaban hari ini mengindikasikan kemajuan yang sangat pesat, terutama dalam hal teknologi informasi dan komunikasi. Di dunia maya (cyberspace) arus komunikasi dan informasi umat manusia mengalami perkembangan mencengangkan. Saat ini, praktik komunikasi tidak hanya terpaku pada pengertian tatap muka secara fisik saja. Dalam hitungan detik atau menit, bahkan tanpa hitungan, setiap orang bisa bertatap wajah dengan lawan bicaranya meskipun keduanya saling berjauhan jarak. Sehingga format dakwah di era ini harus dirumuskan sesuai dengan ruang dan waktu yang berlaku. Sebab, di dalam ajaran Islam kita mengenal pepatah shalih likulli zaman wa makan.

Dengan kemajuan sisi teknologi internet dalam kehidupan berkomunikasi manusia modern, keniscayaan bahwa dakwah harus mulai memasuki kehidupan masyarakat "melek internet" yang mempraktikkan komunikasi virtual. Dalam keseharian masyarakat model ini, arus informasi sedemikian cepat dapat diakses, sehingga membentuk pola hidup yang serba instan. Maka, model dakwah juga mestinya diformulasikan secara cepat dengan memanfaatkan akses internet agar dapat memeroleh informasi seputar keislaman secara cepat.

Namun, ketika internet telah dimasuki oleh laman website yang menghadirkan hal-hal pornografis dan pornoaksionis, tentunya akan membuat para pemakainya terkurung abjeksi moral. Sikap dan keterampilan moral yang ada dalam dirinya akan tergerus ke arah degradatif. Maka, proteksi berbasis nilai-nilai normatif berbasis agama melalui pembentukan etika literacy bagi pengguna internet harus dilakukan oleh organisasi Islam seperti NU dan Muhammadiyah. Sebab, merespon perkembangan atau kemajuan teknologi informasi dan komunikasi adalah keniscayaan, tetapi kita juga harus menggunakan batas-batas etika dalam memanfaatkannya.

Paradigma dakwah

Ketika Rancangan Undang-Undang Informasi dan Transaksi Eleketronik (RUU-ITE) disahkan menjadi Undang-Undang (25/03/2008), banyak pihak pro dan kontra. Pihak pertama, pro karena alasan banyak munculnya kriminalitas di dunia maya (cyber crime) sehingga penting melakukan pencegahan protektif lewat jalur konstitutional (cyber law). Sementara itu, pihak yang kontra beralasan bahwa UU ITE akan mengancam kebebasan pers sehingga upaya demokratisasi sebagai wacana nation-state akan terjegal karena sensor yang berlebihan dari pemerintah. Lantas, bagaimana dengan tanggapan umat Islam atas lahirnya UU ITE ini?

Sejatinya, kita mengapresiasi kelahiran UU ITE secara kritis. Di satu sisi kelahiran UU tersebut memang perlu, tetapi dengan menelurkan garis-garis konstitutional tanpa adanya upaya praksis membentuk moral pengguna internet, UU tersebut eksistensinya akan sia-sia. Sebab, ada sekitar 13.422.659.310.152.401 kombinasi situs yang dapat dibuat, dan laman situs porno akan terus merebak karena diakali dengan cara penggantian domain yang baru. Maka, kehadiran UU ITE ini akan memeroleh aneka penggagalan dari internet provider service (ISP) yang memberikan liberalisasi seksual, sehingga diperkirakan jumlah situs porno akan terus berkambang biak.

Jadi, selain payung hukum di dunia maya (cyber law), kita membutuhkan bentuk dakwah berbasis etika praksis yang dijejalkan pada generasi muda, karena ke depan mereka akan menjadi warga "melek internet". Caranya, Departemen Komunikasi dan Infromasi (Depkominfo) menggalang kerjasama dengan organisasi Islam atau agama lain untuk melakukan upaya sosialisasi dan pelatihan praktis menggunakan internet dengan "akal sehat". Pihak ormas Islam pun pada posisi demikian, mestinya tanggap terhadap arus globalisasi informasi yang sedemikian cepat meracuni pola pikir manusia modern.

Salah satunya dengan cara melakukan upaya penyadaran kolektif lewat pelatihan internet sehat untuk setiap jamaahnya. Alhasil, ketika mereka menggunakan akses internet di rumahnya, akan melakukan bimbingan kepada anaknya agar memanfaatkannya secara sehat. Mengapa hal ini harus dilakukan? Sebab, -- mengutip istilah Yasraf A Piliang – bahwa di era cyberspace, setiap bentuk seksualitas bisa saja dijadikan alat pemenuhan kebutuhan ekonomi oleh kaum kapitalis atau dikenal dengan "libidonomics". Sehingga, setiap orang yang tidak memiliki landasan etika pemakaian internet, ia akan terjebak pada konsumer pasif dunia "esek-esek" dan meracuni pola sikap, tindakan dan pemikirannya ke arah liberalis-individualis.

Maka, saya pikir kita (umat Islam) perlu melakukan upaya-upaya pembentukan gerakan internet sehat dikalangan jamaahnya. Tujuannya agar kita tidak terjebak pada reifikasi (pemberhalaan) seksualitas demi mencari keuntungan ekonomis lewat bisnis yang menggerus umat manusia ke arah abjeksi moral. Allah SWT berfirman, sbb: "Maka pernahkah kamu melihat orang yang menjadikan hawa nafsunya sebagai Tuhannya dan Allah membiarkannya sesat berdasarkan ilmu-Nya" (Q.S. Al-Jaasiyah: 23).

Menggelorakan "etika literacy"

Term etika berasal dari bahasa Yunani ethikhos yang berarti adat-kebiasaan, namun seiring perkembangan zaman, istilah ini berkembang dan ekuivalen dengan moralitas. Kalau mengacu pada pengertian etimologis, etika adalah serentetan perilaku yang telah mendarah daging pada diri manusia. Perilaku etis sangat berkaitan dengan mempraktikkan nilai-nilai yang baik dan benar dalam kehidupan sehari-harinya. Secara filosofis, etika mempertanyakan bagaimana sebaiknya manusia bertingkah laku (how men ought to act in general)?

Etika harus dimasukkan ke benak para pengguna internet, yang punya peluang besar memanfaatkan internet sebagai media mengakses hal-hal pornografis. Tugas organisasi Islam di Indonesia adalah membuat pertahanan diri lewat penggodogan format etika bagi masyarakat "melek internet". Apalagi bagi pengguna internet dari kalangan remaja, gagasan pemblokiran situs porno adalah langkah awal untuk mencegah terdegradasinya moralitas generasi muda. Namun, akan lebih kokoh lagi jika ulama atau tokoh masyarakat memberikan arahan kepada mereka seputar nilai-nilai etis dalam menggunakan internet.

Sebab, kemajuan teknologi informasi global mengakibatkan sistem komunikasi bersifat praktis, individual, private, bahkan masuk ke benak kaum "melek internet" tanpa ada sensor nilai-nilai sosial-kultural dan sosial-religius. Alhasil, dengan watak teknologi yang memiliki produktivitas tinggi ini berpengaruh pada terbentuknya pola sikap sekuler-hedonistik (Suparlan Suhartono, Filsafat Ilmu Pengetahuan, 2005). Para pengguna internet tentunya akan bersikap hedonistik ketika secara kultural berselancar (surfing) tanpa ada pegangan nilai-nilai normatif, baik diambil dari etika normatif maupun yang diambil dari etika kreatif (metaetika).

Andreas Harefa dalam bukunya Menjadi Manusia Pembelajar (2002: 101) mengatakan, internet bisa dimanfaatkan untuk mengubah "sikap hidup" dan "keterampilan untuk hidup" setiap pemakainya. Ia membaginya ke dalam tiga bentuk pembelajaran. Pertama, para pengguna internet (user) sedang "belajar melakukan". Kedua, mereka sedang menambah pengetahuan dengan cara mencari informasi tanpa beranjak dari meja dan kursi (belajar tentang). Dan, ketiga, dengan menggunakan internet mereka sedang belajar mempraktikkan dan belajar tentang pelbagai teori, sehingga dapat dipastikan jika itu akan mengubah sikap dan keterampilan hidup pemakai internet.

Maka, menggelorakan etika literacy di Indonesia adalah suatu keniscayaan. Mari kita gagas "etika literacy" buat pengguna internet, supaya kita tidak jadi manusia yang dilingkari ketakberadaban sikap dan laku. Akhirnya, layak saya pikir jika kita merenungi pepatah-petitih Ali Syari'ati, sang filosof Iran, "….semakin tinggi perkembangan sains dan teknologi, maka semakin tinggi pula manusia menuju kebiadaban". Agar kemajuan teknologi dan sains tidak menjadikan kita sebagai manusia biadab, UU ITE sejatinya dibarengi dengan pemberian langkah-langkah etis dan moralistik ketika berselancar di dunia maya. Wallahua'lam

3 September 2009

Ngabuburit sambil Ngeblog

Ngabuburit sambil Ngeblog

Bulan Ramadan bagi umat Islam adalah bulan penuh berkah. Segala aktivitas di bulan ini akan berbuah pahala. Menjadi keniscayaan bagi seluruh umat Islam yang akil-baligh untuk memanfaatkan moment Ramadan dengan aktivitas bermanfaat.

Menahan lapar, haus, dan nafsu jasadi, untuk saat sekarang bisa dilakukan dengan cara yang beragam. Bagi masyarakat kampung, mengisi Ramadan seringkali diisi dengan acara ngabuburit.

Teknis ngabuburit-nya di setiap daerah akan berebeda. Ada yang sekadar jalan-jalan, mengikuti pengajian sore, tadarus Al-Quran atau sekadar ngobrol ngalor-ngidul dengan tetangga sekitar.

Dengan latar belakang pendidikan umat Islam yang beragam, maka acara ngabuburit juga akan diisi dengan cara yang sesuai dengan hobi dan minat masing-masing. Salah satunya dengan melakukan aktivitas ngeblog (blogging). Meskipun bagi masyarakat di perkampungan ngeblog adalah entri aneh untuk dipahami, namun, bagi sebagian masyarakat kota, ngeblog telah menjadi bagian hidupnya.

Jauh sebelum bulan Ramadan tiba, generasi muda Islam telah terbiasa mengupdate blog dengan tulisan, photo, gambar atau sekadar catatan pengalaman hidup. Era internet (cyberspace) ini telah mengubah cara anak muda mengisi waktu menjelang Maghrib dengan menongkrongi layar monitor PC atau notebook. Seperti yang dilakukan sebagian anak-anak muda Islam, mahasiswa Universitas Islam Negeri (UIN) Sunan Gunung Djati dalam mengisi acara ngabuburit. Mereka sebagai generasi muda Islam “melek internet” menunggu waktu Maghrib tiba dengan cara ngeblog. Dengan ngeblog, waktu yang terus berjalan pelan seakan tak terasa karena sedang terkoneksi ke dunia luar (internet).

Ponggawa website Sunan Gunung Djati (web komunitas Blogger Kampus UIN SGD Bandung), Ibn Ghifarie malah telah menjalani aktivitas ngabuburit sambil ngeblog sejak 2006. Melalui laman blognya, http://www.boeldzh.blogspot.com, ia mencurahkan minat studinya terhadap gerakan antikekerasan dan studi agama-agama. Dengan ngeblog, ujarnya, dia bisa menjalin relasi ke berbagai pelosok di Indonesia. “Pemikiran-pemikiran saya tentang projek agama yang antikekerasan dapat diakses dan dikritisi oleh pembaca blog di luar Bandung.” Jawabnya, ketika ngobrol dengan saya ihwal rencana Blogshop Sunan Gunung Djati dengan tema kampanye Ayo Ngeblog, Ayo Berkarya.

Berbeda halnya dengan Cecep Hasanuddin, ia baru setahun rajin mengupdate blog-nya karena motivasi senior di Ikatan Mahasiswa Muhammadiyah UIN SGD Bandung. Sekarang, dengan rajin memposting tulisan, ada semacam kepuasan yang tak kalah hebat ketika artikel dimuat media cetak. “Dulu, saya susah sekali menuangkan ide menjadi sebuah tulisan. Alhamdulillah setelah terbiasa menuliskannya di weblog kesayangan, saya sudah bisa menulis. Meskipun tidak sepenuhnya bagus.” Ujarnya seraya memberikan alamat blognya http://iramakata.blogspot.com.

Lain halnya dengan Reza S Nugraha, mahasiswa jurusan Bahasa dan Sastra Arab ini memiliki blog karena tuntutan aktivitasnya di dunia pers kampus. Selama menjadi Pemimpin redaksi majalah Suaka, ia menjadi akrab dengan media online ini. Karena tren media mengarah ke interaktivitas dan kecepatan mengakses informasi, ia tidak bisa tidak, mesti mampu menguasai media cyber. Tuturnya yang bisa dilihat tulisannya di laman http://elfarizi.wordpress.com.

Sementara itu Dasam Syamsuddin, Amin R Iskandar, Jajang Badruzaman dan Badru Tamam Mifka merasakan hal yang sama dengan generasi muda “melek internet” lainnya. Mereka merasa telah mendapatkan kepuasaan yang sulit digambarkan ketika tulisan di blognya dikomentari pengunjung dan dengan itulah terjadi diskusi yang hangat. Namun, ketika ditanya ihwal publikasi tulisan di media cetak, mereka belum merasa percaya diri untuk mengirimkan tulisan ke media cetak. Meskipun dari beberapa anggota komunitas blogger kampus UIN SGD Bandung, tulisannya ada yang dimuat Koran.

Dengan alasan itulah, web komunitas Blogger Kampus UIN SGD Bandung lahir. Mereka semua berharap, media tempat berkumpulnya pemikiran civitas akademika UIN SGD Bandung dapat diakses setiap orang. Apalagi ketika sedang menunaikan ibadah puasa di bulan Ramadan ini. Boleh jadi, aktivitas memposting tulisan di blog pribadi atau web komunitas, www.sunangunungdjati.com, bernilai pahala di sisi Allah SWT.

Manfaat blog di Bulan Ramadan

Bagi generasi muda Islam “melek internet” blogging di bulan Ramadan ini banyak dimanfaatkan untuk mengisi waktu dengan kegiatan bermanfaat. Kalau dahulu kala, orang tua kita ngabuburit dengan cara mengunjungi sebuah tempat yang ramai dijejali orang-orang. Sekarang, bagi generasi cyber, ngabuburit tidak hanya dilakukan secara berkelompok atau berjamaah. Dengan bekal notebook atau ngerental di warnet saja, mereka sudah bisa ngabuburit dengan menjalankan aktivitas ngeblog.

Alhasil, kegiatan nongkrong yang banyak tidak bermanfaatnya ketimbang manfaat, di bulan Ramadan ini diarahkan ke dalam bentuk yang bermanfaat. Adapun secara empiris, manfaat blog di bulan Ramadan adalah sebagai berikut:

1. Kemampuan menuangkan ide menjadi tulisan akan terasah

2. Dapat menjadi wahana bertukar ilmu pengetahuan dengan sesama blogger

3. Catatan online yang memiliki potensi untuk dijadikan pelajaran oleh kita dan pengunjung

4. Tempat mencari dan berbagi informasi seputar trik dan tips meningkatkan kualitas puasa kita

5. Sebagai ruang untuk katarsis (pembebasan) jiwa dari segala bentuk tekanan

6. Dan manfaat lainnya yang tak akan habis ditulis

Akhirul kalam, mengisi aktivitas ngabuburit dengan ngeblog dapat membentuk dan memperkokoh kualitas puasa kita. Itu juga kalau kita mendasarkan aktivitas ngeblog pada suara keilahiyan. Nusyuki, mahyaya, wa mamati lillahirrabilalamin (segala aktivitas, hidup, dan mati hanya diserahkan bagi Allah pemelihara alam raya). Artinya, ngeblog di bulan Ramadan dan bulan-bulan selanjurnya mesti didasari niat untuk menggapai ridha Allah SWT. Inilah yang saya sebut hasil dari ngabuburit sambil ngeblog seorang generasi muda Islam “melek internet”.

29 August 2009

Kepada Redaksi; Kategori “Internet Literacy” Mana?

Kepada Redaksi; Kategori “Internet Literacy” Mana?

Setelah kecapean mencari titik hot spot di UIN Bandung, saya, Cecep, dan Badru akhirnya menemukannya di sekitar fakultas Ushuludin.

Mungkin sedang gangguan, kata saya, karena hampir tiap titik hotspot di sekitar Masjid, Saintek, dan Al-Jamiah tidak terkoneksi secara memuaskan.

Alhamdulillah, saya bertemu juga dengan Badru, yang saat itu menyarankan segala hal untuk meningkatkan trafik web Sunan Gunung Djati. Di antara gagasan brilian itu adalah membuat kategori tentang pengenalan dunia internet kepada mahasiswa.

Maka pada laporan yang saya tulis ini, pengelola hendaknya membuat kategori dengan sebutan “Internet Literacy”. Dengan adanya kategori ini, diharapkan mahasiswa dan dosen bisa mengenal lebih dekat dunia internet. Apalagi, kampus UIN Bandung merupakan gerbong intelektual Islam. Boleh jadi kalau ranah mayantara tidak dikuasai - minimalnya tidak gagap teknologi - kita bakal kalah melangkah. Pada akhirnya, kita layak berdiam diri di tempurung yang tak pernah terbuka lebar.

Saya dan Ibn Ghifarie kerap bercanda ketika menggambarkan kondisi kampus Islam, di mana masih banyak dihuni civitas akademik yang gaptek. Suatu hari, ini cerita anekdot lho, seorang dosen atau guru besar di sebuah perguruan tinggi didatangi pemeriksa dari instansi pemerintahan. Maksud kedatangannya tiada lain untuk menilik kesiapan kampusnya agar bisa terakreditasi secara memuaskan.

Singkat cerita, sang dosen atau guru besar itu ditanya oleh penilik dari Depdiknas, “maaf pak…blognya mana ya?”

Tanpa disangka dosen kampus Islam itu menjawab, “Oh…nggak dibawa pak. Lupa disimpan di perpustakaan pribadi rumah saya.”

Kendati itu anekdot, tapi kita mesti belajar dari kisah itu. Bahwa penguasaan internet bagi inelektual mutlak diperlukan. Minimalnya, dengan kategori “Internet Literacy”, bisa mengantarkan mereka yang masih awam agar dapat belajar lewat website ini. Sebab, saya tidak mengada-ada, di almamater kita masih ada dosen atau mahasiswa yang tidak bisa membuat e-mail, apalagi mengelola weblog. Pernah suatu ketika saya bertukar pikiran dengan seorang dosen di sebuah perguruan tinggi. Dengan mengejutkan, dia mengatakan bahwa yang penting buka e-mail, untuk mengirim dan menerima. Selebihnya, seperti ngeblog dan berjejaringan, itu adalah kebutuhan tersier (nggak penting).

Jujur saja, saya sempat marah. Namun, karena tidak mau membuat masalah, saya hanya diam saja. Seraya berbisik di dalam hati, “Lihat saja nanti. Apakah ngeblog dan berinternet merupakan kebutuhan tersier ataukah primer.” Secara material mungkin tidak begitu menguntungkan. Namun, keuntungan atau laba bukan hanya bersifat material. Ada banyak keuntungan yang akan diperoleh ketika kita aktif memanfaatkan internet. Salah satunya adalah membangun jaringan. Jangan terjadi, kejadian ketika akan mengembangkan jurusan kita gelagapan karena tidak mengetahui orang penting di sebuah media. H. Budhiana, guru saya di Harian Pikiran Rakyat, menyebut keuntungan tersebut menjadi filosofi laba-laba. Laba di sini, laba di sana.

Dengan web komunitas blogger Sunan Gunung Djati ini, dari dulu sampai sekarang saya menjadikannya sebagai kebutuhan primer. Tidak ada kamus kebutuhan tersier dalam hal kreativitas. Semuanya adalah penting sehingga dibangun secara sungguh-sungguh. Hari ini, Sunan Gunung Djati, tidak seksi untuk dilirik, namun beberapa bulan ke depan, dari web ini akan mendapatkan keuntungan-keuntungan yang tanpa dirasa telah kita peroleh. Minimalnya…, ada yang mentraktir makan siang di rumah makan demi mendengarkan cerita tentang proses menulis di web ini.

Jadi, bagi saya internet adalah kebutuhan yang tak bisa dilepaskan begitu saja oleh seorang intelektual. Oleh karena itu, kepada pengelola, saya hanya bisa menyampaikan usulan Badru, “Mangga ah…urang ngadamel kategori Internet Literacy”. Untuk sementara, penanggungjawab isinya bisa oleh siapa saja. Yang jelas, kita memberikan semacam panduan membuat civitas akademik melek internet. Di sini kan, ada TI? Kita todong saja mereka untuk membuat tulisan yang sederhana tentang penggunaan internet (e-mail, blog, digital social network, dsb).

Hatur nuhunnnn!

Ayo Ngeblog, Ayo Berkarya (Komunitas Blogger Sunan Gunung Djati)