Showing posts with label Menulislah. Show all posts
Showing posts with label Menulislah. Show all posts

28 November 2018

Selamat Datang Blook di Era Industri 4.0

Selamat Datang Blook di Era Industri 4.0

Anda tahu apa itu “Blook” (baca: bluk)? Istilah ini menurut Wikipedia, ialah objek yang dibuat guna meniru buku, diterbitkan secara online melalui blog, atau buku cetak yang didasarkan pada konten blog. Istilah “blook” digunakan sejak tahun 1990-an, oleh pustakawan, Mindell Dubansky. “Blook” ialah nama lain dari look like a book (tampak seperti buku). “Blook” juga berasal dari penggabungan “blog” dan “book” sehingga menjadi “Blook”. Tepatnya 2002, Tony Pierce mengompilasi postingan di blog dan mengoleksinya jadi buku yang diberi judul “Blook”. Judul ini diberikan pembacanya, Jeff Jarvis dari BuzzMachine, dalam sebuah ajang bertajuk Pierce Award.

Era 4.0 sekali lagi ialah ruang “kekitaan” bukan “keakuan”. Postingan di web komunitas atau weblog mengindikasikan terselenggaranya ruang “kekitaan” tersebut. Sebab, konten situs ditentukan sang pengguna (user generated).  Setiap orang wajib berbagi informasi, ide, gagasan, dan kritik yang diposting melalui tulisan, video, audio, maupun photo. Nah, kalau tradisi 2.0 – berbagi bersama – digunakan setiap penerbit buku, akan banyak melahirkan buku yang disusun bersama pembaca.

Pelibatan konsumen

Kadang, saya berpikir sejenak tentang penerbitan buku di masa mendatang. Di era 2.0 seharusnya sebuah buku disusun bersama-sama; antara penulis dan pembaca. Menerbitkan tulisan berkala di blog menjadi buku (Blook), tentunya harus dikemas interaktif. Sebab, filosofi era 2.0 terletak pada interaktivitas. Pada bagian lay out isi, setelah tulisan berkala itu selesai akan terasa hebat dan menjanjikan apabila disertakan kolom komentar laiknya web 2.0. Sehingga pembaca akan mendapatkan ruang privat untuk memberi kritik, saran, dan apresiasi terhadap kompilasi tulisan tersebut.

Sang pembaca, sebagai ukuran naskah dikategorikan marketable, tentunya di era 2.0 mesti dilibatkan. Partisipasi mereka ikhwal kemasan, tata letak, dan editing isi harus ditampung penerbit yang hendak menyambut banjir e-book reader di negeri kita. Akan tetapi, saya pikir tak akan ada penerbit mainstream yang melakukannya. Ketika Tim O’Relly menggagas web 2.0 – dalam konteks penerbitan – ialah cermin sebuah buku yang melibatkan penerbit, penulis dan pembaca. Inilah yang disebut dengan ruang “kekitaan”.

Bayangkan, apabila itu dilakukan. Kita tidak memaksakan nilai-nilai subjektif kepada pembaca. Sebab, pembaca ketika selesai membaca bagian dari tulisan tersebut, mereka akan dengan senang hati menuliskan komentarnya di kolom yang disediakan pada kemasan isi buku tersebut. Itulah sekiranya yang menjadikan “blook” saya istilahkan dengan “buku era 2.0”. Karena buku cetak menjadi tempat terjadinya interaksi penulis dan pembaca. Pada akhirnya, pembaca ditempatkan sebagai fartner. Bukan “orang bodoh” yang dijadikan objek ceramah-tulisan.

Di negeri ini, hanya beberapa “blook” yang dicetak dengan menyertakan komentar pembaca terhadap tulisan di blog. Padahal, selain itu juga, kalau dikemas dengan menyertakan kolom komentar dalam tata letak dapat terjadi interaksi penulis-pembaca. Bukankah pada rilis 2010, Adobe Indesign CS5 sudah mengarah pada pengemasan buku interaktif dan touch eye berbasis digital? Entah berapa lama lagi revolusi buku terjadi, di mana layanan blog atau media sosial menyediakan aplikasi yang dapat dimanfaatkan perusahaan kartu seluler dan perangkat ebook reader untuk menjualnya dengan sistem registrasi. Kita tunggu saja bergulirnya era ini!

Bluk Indonesia

Di Indonesia, “Blook” mulai dikenal lewat karya Raditya Dika. Pemuda kelahiran 28 Desember 1984 ini ialah seorang penulis, komedian, penulis skrip komik/film, dan penggiat perbukuan. Lewat karya pertamanya, Kambingjantan (Gagasmedia, 2005), ia menjadi populer. Buku Kambingjantan ialah adaptasi dari blognya yang beralamat di www.kambingjantan.com. Dengan gaya menulis komedi yang lepas pakem dan apa adanya, Kambingjantan sukses menjadi National Bestseller. Setelah itu menyusul buku Cinta Brontosaurus (Gagasmedia, 2006), Radikus Makankakus (Gagasmedia, 2007), Babi Ngesot (Bukune, 2008), dan buku lainnya. Kini semua projek “blook” Raditya Dika dapat diakses di laman http://radityadika.com.

Satu lagi penulis “Blook” yang terbilang sukses di pasaran. Karya Trinity, yang mengulas perjalanan ke belahan Negara luar Indonesia, dengan kemasan bahasa yang lepas pakem, Bentang Pustaka menerbitkan buku The Naked Traveler. Kabarnya, “blook” ini hingga sekarang telah dicetak ulang sampai belasan kali. Kemudian, pada 2010 terbit kembali “blook” The Naked Traveler 2 dengan isi yang diambil dari postingannya di blog. Karya-karya Trinity, dapat Anda kunjungi di laman http://naked-traveler.com.

Bahkan, beberapa penulis di sebuah komunitas blogger menerbitkan “blook” dari konten blog. Chappy Hakim, sesama kontributor di www.kompasiana.com, misalnya, menerbitkan “blook” berjudul “Cat Rambut Orang Yahudi” (Gramedia, 2009). Kemudian, Prayitno Ramelan, menerbitkan “Intelejen Berthawaf” (Grasindo, 2009). Kedua buku tadi diterbitkan atas kerjasama Kompasiana dengan penerbit di Jakarta. Selain “blook” yang diterbitkan penerbit mainstream, kita juga dapat menemukan “blook” yang diterbitkan penerbit indie.

Berkaca dari kesuksesan “blook” atau buku era 2.0 di Indonesia, tak ada salahnya kalau kita semua berharap industri perbukuan di negeri ini bangkit. Kesuksesan penerbitan konten blog menjadi buku cetak tentu akan memacu blogger atau penulis (author) untuk memposting tulisan berkualitas dan mencerahkan. Wabilkhusus, tertantang untuk berbagi ide orisinal dengan para pembacanya ikhwal segala hal yang kadang dibungkus dengan gaya khas.

Selamat datang “blook”!

10 April 2010

Tambahlah Wawasan tentang “Life Motivation”

Tambahlah Wawasan tentang “Life Motivation”

Semangat belajar bagi siswa/siswi Sekolah Menengah Atas (SMA) mutlak diperlukan. Bagi lulusan jurusan Bimbingan Penyuluhan Islam UIN Bandung, itu merupakan tantangan yang perlu disikapi dengan pengadaan pelatihan-pelatihan motivasi. Dengan demikian, siswa/siswi dapat melaksanakan proses pembelajaran dengan menyenangkan. Islam, sebagai landasan pemberian konseling di lembaga pendidikan mengajarkan umatnya untuk menuntut ilmu secara sungguh-sungguh (mujahadah).

8 April 2010

Sang Penulis

Sang Penulis

Pertama kali saya menulis dimulai sejak akhir 2004. Tak terasa, Desember 2009 nanti 5 tahun saya telah menulis puluhan artikel kebudayaan, agama, politik, Sosial dan lingkungan. Menulis, bagi saya sudah menjadi kebiasaan dan kesederhanaan adalah filosofi menulis yang saya pegang sampai hari ini. Kendati, tidak sedikit saya juga memiliki kekurangpuasan terhadap tulisan yang dipublikasikan media. Sekarang saya sadar, menjadi penulis membutuhkan keikhlasan, karena bukan hanya uang yang dijadikan tujuan. Melainkan kepuasan eksistensial.

2 April 2010

Sepakbolaku Masuk “Top 20 Post”

Sepakbolaku Masuk “Top 20 Post”

Aha, tak saya sangka; artikel masuk jajaran 20 posting terkemuka. Tulisan ini dibikin untuk mengikuti lomba yang diadakan Sony Ericcson Extra Time di www.kompasiana.com. Lantas, sisi lain hati saya bertanya: “untuk apa kau menulis pengalaman bermain bola sesingkat itu?” Lintasan hati saya ketika pertama mengetik rangkai abjad untuk mengikuti lomba yang diprakarsai Kompasiana dan Sony Ericcson. Namun, saya jawab sekenanya lintasan hati itu: “Ah iseng saja…”

14 March 2010

Semangat Menulis Siswa/Siswi SMA

Semangat Menulis Siswa/Siswi SMA

Seorang Siswi sedang mempresentasikan karya tulisnya
Tanggal 1 Maret lalu, saya diberi kesempatan untuk menjadi juri dalam lomba penulisan karya ilmiah. Wah, senang juga. Sebab, adik-adik saya di Jurusan Bimbingan dan Penyuluhan Islam, Fakultas Dakwah dan Komunikasi UIN SGD Bandung, membuat sesuatu yang baru. Baru, karena peserta lombanya berasal dari siswa/siswi SMA. Selain, presentasinya yang bagus dan bernas. Tulisannya juga terbilang bagus untuk kelas siswa/i SMA. Saya jadi terharu nih….!

1 February 2010

Mengolah Tulisan Kompasianer (Omjay) Jadi Buku

Mengolah Tulisan Kompasianer (Omjay) Jadi Buku


Ribuan artikel sejak www.kompasiana.com diluncurkan telah menghiasi dunia maya. Satu di antara kompasianer yang cukup rajin memposting tulisan adalah Omjay. Dan, tentunya dengan tulisan itulah omjay sudah meninggalkan jejak pemikirannya di dunia maya. Sebagai seorang guru TIK, ia patut dihargai oleh siapa saja. Termasuk saya! Karena itulah, beberapa minggu ke belakang saya mengumpulkan tulisan Omjay yang diposting pada kategori edukasi.

Cukup memuaskan, saya mendapatkan sekitar 32 artikel tentang pendidikan yang menurut saya pantas dikumpulkan. Padahal jumlahnya sekitar 100an lebih. Puluhan artikel lainnya, karena saking banyak, tak mampu saya kumpulkan. Alhasil, hanya 32 artikel saja yang saya edit, lay out, dan dikasih sampul.

14 November 2009

Silaturahim Produktif Khas PIKI

Silaturahim Produktif Khas PIKI

Silaturahim dalam konteks masyarakat modern bisa beragam bentuk dan wujud. Diskusi, sharing pemikiran, kerjasama, kencan, makan bersama, dan sebagainya. Meskipun, kita tidak dapat menafikan dalam “silaturahim” itu kerap bersemayam kepentingan tertentu. Yang pasti, sebagai manusia beradab, aktivitas “silaturahim” mesti menelurkan peradaban baru yang mencerahkan.

Hari Kamis kemarin (13/11/2009), pengurus Harian Online Blogger Sunan Gunung Djati diundang oleh Pusat Informasi dan Kajian Islam (PIKI) UIN Sunan Gunung Djati Bandung. PIKI mengaku memiliki konsep dan gagasan tentang pengembangan Kampus, namun sampai sekarang sulit terlaksana karena berbagai kendala. Maka untuk mewujudkan gagasan tersebut, pihak PIKI menjajaki kerjasama dengan komunitas Blogger yang dikelola alumni dan mahasiswa, yakni www.sunangunungdjati.com.


Lembaga yang dipimpin Drs.H. Darun Setiadi, M.Si, ini merasa perlu melakukan hearing dengan team Sunan Gunung Djati. Sebab, team yang dinakhodai Ibn Ghifarie ini merupakan potret semangat terpendam civitas akademika UIN Bandung dalam membangun UIN Bandung di dunia cyber. “Mereka ini adalah contoh dari the lost generation, yang dapat pergi begitu saja karena berbagai kendala. Oleh karena itu PIKI perlu mengembangkan potensi yang terpendam untuk membentuk citra UIN Bandung ke depan.” Ujar Darun Setiadi di sela-sela silaturahim dengan team Sunan Gunung Djati selama 3,5 jam tersebut.

Pada kesempatan tersebut, 10 orang hadir di Kantor Pusat Informasi dan Kajian Islam (PIKI), lantai I gedung Al-Jamiah UIN Bandung. Kesepuluh orang tersebut masing-masing terdiri dari 5 orang pihak PIKI dan 5 orang dari pengurus www.sunangunungdjati.com. Pada kesempatan itu juga, PIKI berharap komunitas blogger ini dapat mengejawantahkan gagasan besar PIKI untuk menyosialisasikan pemikiran “Madzhab Cipadung”.

“Kita tidak perlu berwacana tentang pendirian Madzhab Cipadung. Kita akan memberikan kontribusi kongkrit tentang madzhab dan pemikiran kita, inilah madzhab kita yang sesungguhnya dan inilah buktinya. ” Ujar Darun Setiadi sambil menunjuk laman web www.sunangunungdjati.com.

Dasar pemikiran pembangunan situs www.sunangunungdjati.com adalah sebagai respons kreatif karena ada tren kecenderungan berkonvergensinya media cetak dan media online. Oleh karena itu, silaturahim PIKI dengan Sunan Gunung Djati mesti diarahkan pada sesuatu yang produktif. Maka pada pertemuan itu terlaksana silaturahim produktif sebagai kontrak kerja awal antara PIKI dengan pihak www.sunangunungdjati.com.

Sebagai langkah awal, Drs.H. Darun Setiadi, M.Si, selaku Ketua PIKI akan mencoba membuka kanal di www.sunangunungdjati.com. Kanal ini untuk dijadikan media interaksi dengan mahasiswanya, baik menyangkut keperluan tugas, materi, ujian, dan lain-lain. Hal ini bagus dilakukan menyosialisasikan pemikiran civitas akademika UIN Bandung agar tidak terus berwacana tentang pendirian madzhab. *** [Sukron Abdilah]

Ayo Ngeblog, Ayo Berkarya!
Siapa yang akan menyusul langkah PIKI? Hehe…mari bercipika-cipiki dengan Sunan Gunung Djati.

1 November 2009

1926 Aisyiyah Berjuang Lewat Pena

1926 Aisyiyah Berjuang Lewat Pena

“Deradjat kaoem iboe di tanah Arab zaman dahoeleoe orang telah mengetahoei boeroeknja. Orang perempoean disamakan dengan binatang ternak dan sesamanja. Pada zaman itoe orang Arab soedah djadi kebiasaannja memboenoeh anaknja jang keloear perempoean meskipoen ta’berdosa.” (Soeara Aisyiyah, No.1-4/ September 1929).

Kutipan di atas saya peroleh dari artikel Soedarmah Solo berjudul, Kemoeliaan Kaoem Iboe. Saya bersyukur karena beberapa bulan yang lalu, Syafaat R Selamet, alumni IMM Jawa Barat memberikan naskah mentah penelitiannya tentang kiprah ’Aisyiyah di dunia pers. Coba Anda bayangkan, sebegitu besar peran perempuan Muhammadiyah bagi bangsa ini. Di tengah dominasi pemahaman maskulin suara pena ’Aisyiyah menjadi gerbang awal memasuki kesadaran perempuan di Indonesia.


Artikel dalam Soeara ’Aisyiyah itu ditulis sebelum negeri ini merdeka. Perempuan di era prakemerdekaan eksistensinya masih tak dihargai. Karena itulah kemudian KH Ahmad Dahlan meningkatkan gerak perempuan Muhammadiyah, yang waktu itu dikenal dengan perkumpulan Sopo Tresno. Perkumpulan kaum perempuan ini kemudian berubah menjadi ‘Aisyiyah pada 22 April 1917.

Di bawah ini saya sertakan ringkasan yang dihasilkan teman saya, Syafaat R Selamet, tentang kiprah Soeara ‘Aisyiyah dalam dunia pers. Semoga saja, hasil penelitian ini dapat menyadarkan bangsa atas peran perempuan pada masa prakemerdekaan sampai negeri ini merdeka. Untuk menghemat kavling atau ruang bagi artikel ini saya ringkas seringkas-ringkasnya. Silakan anda nikmati, telaah dan resapi, peran ‘Aisyiyah bagi pengokohan nasionalisme perempuan di negeri ini.
***

Perkumpulan Aisyiyah adalah organisasi otonom Muhammadiyah yang bercita-cita ‘memperbaharui’ aspek pemahaman dan pengembangan agama Islam di dalam masyarakat untuk dikembalikan pada ajaran Islam murni yang bersumber dari Al-Qur’an dan Sunnah. Dalam rentang waktu 3 tahun (1917-1920), Aisyiyah bergerak menyertai gerakan Muhammadiyah. Utamanya setelah bergerak di Pulau Jawa sejak tahun 1920. Aisyiyah mengalami perkembangan sangat pesat bukan saja di Yogyakarta. Tapi juga di luar itu. Terutama perkembangan ini setelah Kongres Muhammadiyah ke-11 tahun 1923 di Yogyakarta.

Pada kongres tersebut, setiap cabang dan groep Muhammadiyah wajib mengadakan bagian Aisyiyah, sehingga perkembangan organisasi perempuan Muhammadiyah ini semakin pesat. Anggota-anggotanya tidak saja gadis-remaja. Melainkan juga ibu-ibu rumahtangga. Bahkan dua tahun setelah Aisyiyah berdiri (1919), Aisyiyah sudah merintis Pendidikan Anak Usia Dini (PAUD) semacam Play Group. Yang kemudian berkembang menjadi Taman Kanak-Kanak bernama TK Bustanul Athfal yang tersebar di seluruh Hindia Belanda. Selain itu pula mendirikan Siswo Proyo Wanito, sebuah perkumpulan murid-murid puteri di luar sekolah. Perkumpulan ini kemudian tahun 1930 berkembang menjadi Nasyi’atul ‘Aisyiyah (NA).

Tahun 1922 Aisyiyah berkembang pesat terutama di daerah kelahirannya. Kondisi ini mendorong pengurusnya untuk semakin intensif melakukan pertemuan, rapat-rapat persiapan untuk melakukan kegiatan-kegiatan. Aisyiyah berhasil mendirikan tempat pertemuan dan pendidikan khusus kalangan perempuan, yang dikenal dengan Masjid (Mushala) Isteri. Sebagai satu-satunya Masjid Perempuan pertama di Indonesia.
Mushala ini menjadi sentral kegiatan Aisyiyah dalam merencanakan kegiatan-kegiatannya. Dari sinilah muncul ide-ide baru untuk membuka amal usaha organisasi.
Setahun kemudian, Aisyiyah mengadakan pemberantasan buta huruf. Baik pemberantasan buta huruf Latin ataupun Arab. Upaya ini diharapkan dapat menghilangkan kebodohan, karena dengan membaca dan menulis, orang dapat menggali ilmui-ilmu yang bermanfaat. Upaya buta huruf yang dilakukan Aisyiyah memberikan bukti bahwa Aisyiyah memang benar-benar berperan dalam memajukan bangsa. Setelah 9 tahun berdirinya, tahun 1926, Aisyiyah berkembang pesat. Aisyiyah mengiringi perkembangan Muhammadiyah selama 9 tahun (1917-1926).

Maka pada bulan Oktober tahun 1926 yang bertepatan dengan bulan Jumadil Akhir tahun 1345 H, Aisyiyah menerbitkan majalah organisasi yang bernama Soeara Aisyiyah.
Majalah organisasi yang sederhana, menggunakan bahasa daerah (bahasa Jawa). Dengan menerbitkan majalah ini berarti Aisyiyah benar–benar memahami perlunya alat komunikasi yang dengan cepat sampai kepada umat, karena pada waktu itu Aisyiyah sudah mulai berkembang jauh dari Yogyakarta. Dengan demikian Aisyiyah dapat memberikan informasi kemajuan organisasi ataupun penjelasan–penjelasan kepada umat lewat media massa Majalah Soeara Aisyiyah tersebut. Majalah ini berisi tentang penyebaran agama Islam, misalnya, agar kaum wanita menutup aurat, memakai kerudung, menjauhi pergaulan bebas, menaati adat sopan santun keislaman, dan sebagainya.
Majalah ini juga dijadikan alat dakwah melalui media massa dan menjadi bacaan bagi ibu–ibu murid atau pengikut Aisyiyah Maghribi School (AMS).

Menarik dicermati, waktu itu belum ada sebuah penerbitan yang dikelola langsung oleh sebuah organisasi kaum wanita. Kalau pun ada sebelumnya yang bergerak dalam dunia pers, itu belum berbentuk organisasi dalam pengertian modern. Tetapi perkumpulan sederhana belum memiliki tata aturan organisasi, Anggaran Dasar dan Rumah Tangga serta Program Organisasi. Misalnya koran Poetri Hindia (PH) yang terbit tahun 1908 itu karena dirintis RM. Tirto Adhi Soerjo, bukan oleh sebuah organisasi wanita.

Disinilah letak keistimewaan gerakan pena yang digagas ’Aisyiyah, di mana organisasi ini merupakan fartner dari gerakan Muhammadiyah yang lahir karena ingin memberikan pendidikan dan kesadaran kepada kaum perempuan. Dengan wahana sebuah penerbitan berkala Majalah Soeara ’Aisyiyah cita-cita itu dapat tersampaikan ke setiap pelosok di bumi nusantara, sehingga terjadi semacam pembentukan kesadaran kolektif, bahwa perempuan juga mesti berperan dalam kebangunan negara Indonesia, di mana pada masa prakemerdekaan perempuan nasibnya masih di dominasi kaum laki-laki.
***

Itulah ringkasan penelitian tentang majalah Soeara ’Aisyiyah yang dilakukan Syafaat R Selamet dan D. Anindita. Bagi yang berminat untuk menyegarkan kembali gerakan perempuan di tubuh Muhammadiyah, jelang seabad, naskah yang sudah saya edit ini dapat dijadikan telaah awal dalam merancang gerak perempuan di Muhammadiyah.





13 October 2009

Menunggu Genap 5 Tahun Menjadi Penulis

Menunggu Genap 5 Tahun Menjadi Penulis


Pertama kali saya menulis dimulai sejak akhir 2004. Tak terasa, Desember 2009 nanti 5 tahun saya telah menulis puluhan artikel kebudayaan, agama, politik, Sosial dan lingkungan. Menulis, bagi saya sudah menjadi kebiasaan dan kesederhanaan adalah filosofi menulis yang saya pegang sampai hari ini. Kendati, tidak sedikit saya juga memiliki kekurangpuasan terhadap tulisan yang dipublikasikan media. Sekarang saya sadar, menjadi penulis membutuhkan keikhlasan, karena bukan hanya uang yang dijadikan tujuan. Melainkan kepuasan eksistensial.

Saya berhutang budi kepada guru saya, Wapemred PR, H. Budhiana, Rahim Asyik, Samuel Lantu, H. Wakhudin, dan pihak redaksi Kompas Jabar. Saya sangat senang dan gembira, karena selama menjadi mahasiswa dulu, Koran banyak membantu menguatkan kondisi keuangan saya. Sehingga saya bisa memborong buku, beli baju, sandal, kantong, dan perangkat computer. Bahkan, ketika sebuah penerbitan meminta menulis buku juga, diawali dengan perkenalan sang editor dengan saya via Koran di HU Pikiran Rakyat.

Artikel saya pernah dimuat di HU Pikiran Rakyat, Kompas Jawa Barat, Galamedia, Tribun Jabar, SINDO, SKM Medikom, Majalah Suara Muhammadiyah, Percikan Iman, Gema Mujahidin, Jurnal Observasi. Di bawah ini terlampir daftar karya tulis yang pernah dimuat Koran dan majalah yang berhasil saya kumpulkan wujud fisiknya. Sebenarnya ada banyak tulisan saya, di harian Online, weblog pribadi, dan web komunitas. Bahkan, ada juga tulisan saya yang pernah dimuat beberapa harian, tapi tak berhasil diperoleh data kerasnya.

1.Atur Waktu untuk Raih Cita-Cita (HU Galamedia, Desember 2004)

Karya Tulis Tahun 2005
2.Sikap Pelajar pada Alam (HU Galamedia, April 2005)
3.Zikrullah dan “Zikir Sosial” (HU Pikiran Rakyat, Juli 2005)
4.Kearifan Budaya Sunda (HU Pikiran Rakyat, Juli 2005)
5.Salat, Resep Obat Penenang Jiwa (HU Pikiran Rakyat, September 2005)
6.Pendidikan, Kado untuk Bangsa (HU Pikiran Rakyat, November 2005)
7.Keluarga, Tempat Perlindungan Anak (HU Pikiran Rakyat, Desember 2005)

Karya Tulis Tahun 2006
8.Hadapi Musibah dengan Tabah (HU Pikiran Rakyat, Januari 2006)
9.Hargai Kearifan Ekologis Masyarakat (HU Kompas Jabar, Mei 2006)
10.Permainan Rakyat Sunda Edukatif (HU Kompas Jabar, Juni 2006)
11.Hidupkan Kembali “Leuweung” (HU Kompas Jabar, Agustus 2006)
12.Agustusan Pertegas Budaya Bangsa (HU Kompas Jabar, Agustus 2006)
13.Falsafah Kesundaan “Ngabuburit” (HU Kompas Jabar, September 2006)
14.Menakar Moralitas Pers Bangsa (SKM Medikom, Mei 2006)
15.Menimbang Eksistensi Koperasi (SKM Medikom, April 2006)
16.Cerdas dan Cermat Kelola Hidup (HU Pikiran Rakyat, November 2006)
17.Jangan Biarkan Warga Kelaparan (HU Pikiran Rakyat, Agustus 2006)
18.Waspadai Sampah Berlalat (HU Pikiran Rakyat, Mei 2006)
19.Sayangilah Anakmu (HU Pikiran Rakyat, Juni 2006)
20.Mudik, Kembalikan Jati Diri (HU Pikiran Rakyat, Oktober 2006)
21.Merindukan “Kanyaah Indung” (HU Pikiran Rakyat, Desember 2006)
22.Bekerjalah untuk Hidup (HU Pikiran Rakyat, Juli 2006)
23.Mari Berhemat Air (HU Pikiran Rakyat, April 2006)
24.“Curi-Curi” Cari Kesempatan (HU Pikiran Rakyat, September 2006)
25.“Quo Vadis” Air (Sungai) Citarum (HU Pikiran Rakyat, Desember 2006)
26.Kesenjangan di Tengah Krisis (SKM Medikom, Juni 2006)
27.Pesantren, Santri dan Modernitas (SKM Medikom, Juli 2006)
28.Gilir Giling Debit Air, Penting (HU Pikiran Rakyat, Juli 2006)

Karya Tulis Tahun 2007
29.Kaulinan Barudak Sunda (HU Pikiran Rakyat, Februari 2007)
30.Elastisitas Diri Ki Semar (HU Kompas Jabar, September 2007)
31.Luhungna Pantun Sunda (HU Kompas Jabar, Mei 2007)
32.Relasi Sosial Urang Sunda Semestinya (HU Kompas Jabar, November 2007)
33.Menggagas Pemahaman Multikultural (HU Kompas Jabar, Januari 2007)
34.“Sabilulungan” Tidak Punah? (HU Kompas Jabar, Juni 2007)
35.Watak Si Cepot buat Bangsa (HU Kompas Jabar, Juli 2007)
36.Tahun Hijriyah dan Semangat Perubahan (HU Pikiran Rakyat, Januari 2007)
37.Wudlu Lingkungan (HU Pikiran Rakyat, Januari 2007)
38.Semangat Berbagi di Bulan Rayagung (HU Pikiran Rakyat, 2007)
39.Pendidikan for All, Penting! (SKM Medikom, Mei 2007)
40.“Ngeunteung” Diri pada Si Kabayan (HU Kompas Jabar, Juni 2007)
41.Puasa dan Kemanusiaan (HU Pikiran Rakyat, September 2007)
42.Nasionalisme Mojang dan Jajaka (HU Kompas Jabar, Desember 2007)
43.Semangat Juang “Agustusan” (HU Pikiran Rakyat, Agustus 2007)
44.Membangkitkan Daya Hidup Bangsa (HU Pikiran Rakyat, Mei 2007)

Karya Tulis Saya Tahun 2008
45.Glokalisasi Urang Sunda (HU Kompas Jabar, Juni 2008)
46.Intelektualisme Muhammad Iqbal (HU Pikiran Rakyat, Mei 2008)
47.Mengakrabi Alam Ciptaan-Nya (HU Pikiran Rakyat, September 2008)
48.Puasa, Lahirkan Kepedulian Sosial (HU Pikiran Rakyat, September 2008)
49.Film Fitna yang Provokatif (HU Pikiran Rakyat, April 2008)
50.Cimanuk dan Bahasa Sunda (HU Kompas Jabar, April 2008)
51.“Pancakaki”, Silaturahim Urang Sunda (HU Kompas Jabar, November 2008)
52.Mengarifi Musim Hujan (HU Kompas Jabar, November 2008)
53.Tidak Ada Priveleges buat Koruptor (HU SINDO, Juli 2008)
54.Hermeneutika Naskah Sunda (HU Kompas Jabar, Juli 2008)
55.Nyanyian Religius Urang Sunda (HU Kompas Jabar, Mei 2008)
56.Harmonisasi Sunda dan Jawa (HU Kompas Jabar, Mei 2008)
57.Belajar Berdemokrasi dari Desa (HU Kompas Jabar, Agustus 2008)
58.Kolektivisme dalam Munggahan (HU Kompas Jabar, Agustus 2008)
59.“Kaulinan Barudak” Ketika Musim Hujan (HU Kompas Jabar, Januari 2008)
60.Bahasa dan Cerita “Monyet Jeung Kuya” (HU Kompas Jabar, Maret 2008)
61.Pemimpin Moralis dan Etika Politik Islam (Majalah SM, Juni 2008)
62.Dakwah Cyber di Era Informasi (Majalah SM, September 2008)
63.Sunda Kini dan Bahasa (HU Kompas Jabar, Desember 2008)

Karya Tulis Tahun 2009
64.Puasanya Manusia Beradab (HU Pikiran Rakyat, Agustus 2009)
65.Sunda dan Kemajemukan Budaya (HU Kompas Jabar, Juni 2009)
66.Industri Kreatif di Era Informasi (HU Tribun Jabar, Januari 2009)
67.Menyoal The Death University (HU Pikiran Rakyat, Februari 2009)
68.Ospek dan Relasi Tuan Budak (HU Pikiran Rakyat, Februai 2009)
69.(Si)Sindiran buat Caleg (HU Kompas Jabar, April 2009)
70.Musik (Berbudaya) Pop Sunda (HU Kompas Jabar, Maret 2009)
71.Sedekahnya Para Pemimpin (HU Pikiran Rakyat, April 2009)
72.Tafakur Tahun Baru (HU Pikiran Rakyat, Januari 2009)
73.Lembur dan Sastra Sunda (HU Kompas Jabar, Mei 2009)
74.Berzakatlah (HU Pikiran Rakyat, Oktober 2009)
75.Misi Suci “Human Rescue” (HU Pikiran Rakyat, Oktober 2009)

Semoga target 80 tulisan selama 5 tahun menjadi penulis dapat tercapai. Kalaupun tidak tercapai, saya masih dapat bergembira karena ada rumah virtual saya, di http://sakola-sukron.blogspot.com yang siap menampungnya. Selamat berjuang…menulis adalah tandanya orang beradab, seperti sering dibilang teman saya, Ibn Ghifarie, yang hari ini kian sumringah karena kehadiran sang Ade BA alis Ibnu Cilik si bayi mungil. Iraha nya…saya nyusul????

18 September 2009

Siaplah Menerbitkan Buku

Siaplah Menerbitkan Buku


Mas Jacob Soemardjo menyadarkanku, menulis di negeri kita, tidak akan mengubah si penulis menjadi kaya. Kendati Andrea Hirata, Dewi “Dee” Lestari, Ayu Utami, Habiburrahman el-Shirazy, dan banyak lagi mendulang uang dari karya novelnya. Adapun untuk penulis buku nonfiksi, laku 10.000 eksemplar juga masih untung. Kalau bukan Komarudin Hidayat, M. Quraish Shihab, Kang Jalal, atau penulis kahot, siap-siaplah bukunya kalau lambat berada di rak best seller.

Tapi kamu jangan berkecil hati. Buku nonfiksi, utamanya buku agama populer bakal terus dibutuhkan manusia zaman kiwari. Kecenderungan penerbit sekarang banyak yang melirik naskah buku yang nggak ribet dengan teori atau wacana. Masyarakat mungkin membutuhkan panduan keagamaan yang praktis.
Kamu kemudian bertanya semangat padaku, “Ayo teruskan bagaimana caranya menerbitkan buku?”

Aku hanya menjawab, “bikin naskahnya dulu. Setelah naskahmu beres, kemudian kirimkan hard copynya ke alamat redaksi penerbitan. Hard copy dikirim untuk menghindari tangan jahil. Sebab, siapa tahu idemu bagus, tapi mereka nggak kenal siapa kamu, kemudian menyuruh penulis kahot untuk membikin naskah yang mirip dengan ide kamu itu.”

“Kriteria naskah yang menarik hati penerbit itu yang bagaimana?” itu kamu yang
kembali bertanya lagi.

“Tergantung” jawab saya, “tergantung kepada penerbit jenis apa kamu mengirimkannya.
Kalau naskahmu novel atau buku akademik, jangan mengirimkannya ke penerbit buku-buku populer. Kecuali novel, substansinya mesti sesuai dengan visi misi penerbit buku populer itu. Eh iya, setiap penerbit memiliki lini khusus. Tidak hanya menerbitkan buku-buku berat saja. Kadang satu penerbit ada lini khusus remaja, dewasa, keagamaan, motivasi, how to, dsb.”

“Kalau begitu bisa dong mengirimkan naskah ke sebuah penerbitan.” Timpal kamu lagi.

“Ya…hanya penerbit-penerbit tertentu saja. Sebab, ada penerbit yang hanya mengkhususkan menerbitkan buku tertentu saja.”

“Misalnya?”

“Ah…pokoknya banyak. Nanti akan aku bahas pada tulisan selanjutnya. Tentang Penerbit di Indonesia, komplit dengan alamat, lini, imprint, dan laman web-nya. Karena aku menulis buku-buku populer keagamaan, tentunya penerbit Islam saja ya, yang aku bahas nanti.”

“Hmmm…oke deh.”

***

Itu adalah dialogku dengan kamu, beberapa saat yang lalu. Sekarang aku sedang
menulis artikel ini. Artikel bersiap-siaplah menerbitkan buku. Sudah punya naskah? Atau hanya ada ide di kepalamu saja, tetapi bingung mau kemana dikirimkannya? Ah, gampang selesaikan dulu naskahmu.

Anatomi naskahnya, bisa kamu baca di bawah ini. Mudah-mudahan langkah-langkah ini bermanfaat buatmu. Ini hanya pengalaman dari penulis lain. Karena aku adalah penulis yang mengambil “jalur cepat”. Hehe, jalur cepat ini aku lakukan dengan menghubungi langsung editor dan menawarkan jasa, tema apa yang sedang dibutuhkan penerbit. Cara ini ampuh juga lho. Hampir 30 persen naskahku diterbitkan menjadi buku. Yang 70 persen, ditolak juga sih. Hihihi….

Pertama, kamu bikin dulu judul atau tema apa yang akan diangkat dalam menyusun naskah. Aku tahu, kamu juga sudah terbiasa menulis makalah, skripsi, paper, laporan penelitian, artikel, puisi, cerpen atau tugas yang lain.

Kedua, setelah kamu memperoleh temanya, kemudian susunlah outline buku. Ini sebagai bahan rujukan, kemana arah isi bukumu nanti. Oke, misalnya, kamu punya pengetahuan tentang Al-Quran. Bikin saja, naskah tentang kekuatan Al-Quran bagi jiwa atau kesehatan. Tema seperti ini, kalau ditulis oleh yang memiliki basis ilmu kedokteran bakal bagus. Atau oleh peminat psikologi positif, bakal bagus juga sih. Kamu menulis outline tema pembahasan buku, dari mulai pengertian Al-Quran, adab membaca, mendengarkan, sampai efek terapi mendengarkan Al-Quran. Kamu juga bisa membahas kaitan Al-Quran dengan efek kejiwaan dan kesehatan mendengarkan musik klasik dari Kitaro, Mozart, dan Bethoven. Al-Quran itu mukjizatnya tak sekadar dalam hurup. Melainkan sampai dilipatgandakannya kebaikan bagi yang hanya mendengarkannya saja. Kebaikan itu kan masih umum. Nah, dalam buku itu kamu bahas secara khusus, bahwa salah satu kebaikan yaitu disehatkan jiwa dan raganya.

Ketiga, mulailah mencari sumber referensi dari buku, jurnal, pengalaman, dan internet tentang segala yang berkaitan dengan Al-Quran. Tulislah dari bagian satu ke bagian terakhir dari struktur bukumu. Ingat, angkat sesuatu yang bisa menumbuhkan minat pembaca untuk melakukan apa yang kamu gagas dalam buku itu. Ya, kecil-kecilan jadi motivator begitu. Hehe….seperti Mario Teguh saja ya.

Keempat, setelah selesai membuat naskahmu kemudian print menjadi sebundel naskah berbentuk hard copy. Lengkapi dengan surat pengantar, potensi pasar, rasionalisasi kenapa buku ini mesti diterbitkan. Biasanya, aku menuliskannya di prolog atau sinopsis naskah yang aku kirim. Buatlah semenarik mungkin pada sinopsis ini. Karena ketika sinopsisnya menggambarkan isi buku dan ada potensi keuntungan dalam menerbitkan naskah tersebut, ide kamu akan diterbitkan si penerbit.

Kelima, siapkan juga soft copy-an naskahmu. Ini untuk berjaga-jaga siapa tahu mereka tertarik dan kita akan dihubungi. Sehingga, tinggal kirim via e-mail. Beres deh…naskahmu asyiknya akan diterbitkan beberapa bulan setelah menandatangani Surat Perjanjian Penerbitan. Surat ini dibuat dan ditandatangani sebagai tanda bahwa kamu dan di dia (penerbit) bersepakat dalam satu hal. Hak kamu jangan diinjak-injak. Begitu pun dengan si Penerbit. Mereka tidak mau kamu injak-injak. Jadi, harus terjalin kesepakatan yang adil dan beradab.

Keenam, kalau kamu tidak mau ribet dengan langkah-langkah di atas, mending terbitin secara Indie. Dan, katanya ketika kita menerbitkan secara Indie, meskipun capeknya minta ampun; kita akan puas super puas lho. Ada kebahagiaan, ada kesenangan tak terkira, dan ada keuntungan yang berimbang tinimbang diterbitkan oleh penerbit yang memiliki modal. Sesuai pengalaman, dari satu judul buku, aku hanya dikasih 7 persen.

Sejak tahun 2008 sampai sekarang, naskahku yang terbit dihargai 8 persen dari setiap eksemplar yang terjual. Biasanya, laporan keuangan akan sampai pada kita. Tapi, banyak juga lho, penerbit yang curang. Mereka menerbitkan naskah kita. Dan, setelah itu, kita tidak mendapatkan apa-apa, selain rasa kesal dan kecewa. Pokoknya, jangan berputus asa. Teruslah menulis. Jadikanlah pengalaman pahit sebagai obat. Seperti halnya ketika kita sedang sakit. Si mamah dan si papah akan memberikan kita obat yang pahitnya minta ampun. Tetapi, kita harus meminumnya kalau mau sembuh dari penyakit.

Rumusanku tentang menulis buku adalah, “Let’s Write for Happiness”. Senang saja meskipun buku yang diterbitkan tidak menghasilkan uang. Maksimalnya, kita puas secara eksistensial. Eh..ngomong-ngomong, kok, aku membocorkan naskah garapanku, ya. Naskah tentang mukjizat Al-Quran bagi para pendengarnya. Judulnya, ah, rahasia dong. Kecuali kamu tertarik untuk menggarapnya denganku. Hahahahaha




17 September 2009

Kenali Siapa Pembacamu

Kenali Siapa Pembacamu


Pembaca adalah raja. Dan, mereka berhak menilai jajaran teks yang kamu rangkai. Dulu, waktu aku masih sekolah di pesantren, diterima tidaknya surat bergantung pada kepiawaian merangkai kata. Hehe, aku punya pengalaman buruk tentang hal itu. Sejak kelas 2 Tsanawiyah, suratku ditolak sekitar 14 santriwati. Hebat aku pikir.

Satu dari ribuan bakal calon penulis, hanya aku yang tidak pandai merangkai kata. Waktu itu, aku adalah penulis surat cinta yang buruk. Saking buruknya, setiap bersaing dengan temanku, setiap kali itu juga aku KO.

Di Indonesia, ada potensi jutaan pembaca siap melahap karyamu. Nah, bersiap-siaplah karyamu dibaca ribuan orang. Menulis buku, tidak berbeda dengan menulis surat cinta. Kamu hanya butuh mengetahui siapa yang akan kamu kirimi surat itu. Kalau si target menyukai puisi, bikin surat cinta seindah kacamata yang dipake nenekmu. Berbeda dengan “someone” yang cenderung berpikir logis. Kamu, hanya perlu mengutip penelitian-penelitian ilmiah dari negeri Barat.

Pasa pembaca juga begitu. Aku, menulis buku populer keagamaan. Dan, aku rasakan ada jutaan pembaca di negeri kita. Potensi inila yang aku manfaatkan untuk menuliskan pemikiran tentang tuntunan praktis beribadah. Tentunya, tuntunan yang diselingi kutipan-kutipan hadis, Al-Quran, dan tokoh ilmuwan. Lihatlah karya agung-nya Imam Al-Ghazali, Ihya Ulumuddin. Begitu banyak orang yang membacanya. Sebanyak semut mengerubuti gula-gula. Buku nonfiksi juga kalau dikemas secara praktis, sederhana, dan menggugah; tidak kalah dengan novel fiksi.

Jalaluddin Rakhmat adalah contoh kongkritnya. Buku nonfiksi sederhananya laku di pasaran dan hampir semua karya beliau masuk dalam jajaran buku-buku best seller. Buku Wawasan Al-Quran, karya M Quraish Shihab juga adalah satu dari sekian buku-buku yang masuk kategori laris manis tanjung pinang. Apalagi Indonesia sebagai negara mayoritas Islam. Kebutuhan terhadap buku-buku keagamaan, ke depan akan semakin meningkat.

Aku terbiasa menulis buku nonfiksi keagamaan populer. Agar lebih diterima pembaca dari kalangan beragama, buku populer tidak perlu terdiri dari teori-teori yang rumit. Semakin sederhana teks, semakin mudah dikonsumsi oleh pembaca. Dan, satu yang perlu diperhatikan ketika menulis buku nonfiksi keagamaan: siapa pembaca yang hendak kita jadikan pasar dari karya kita? Kalau remaja, yang dijadikan pembaca karya kita, maka fakta dan relevansi bahasan harus dikaitkan dengan konteks remaja. Pun begitu ketika yang dijadikan pasar pembaca adalah masyarakat umum atau orang dewasa. Konteks pembahasan mesti sesuai dengan pengalaman dan kejiwaan manusia dewasa.

Konteks adalah ruang dan waktu yang menjadi berlaku atau tidaknya suatu pembahasan sebuah buku. Di penerbit buku-buku remaja, biasanya, mereka mencap buku dengan label For Teens, sehingga masyarakat dewasa tidak menyentuhnya. Kalaupun menyentuh buku pasti untuk dihadiahkan kepada anaknya. Tapi, di Indonesia budaya menghadiahkan buku anak masih bisa dihitung jari. Ringkasnya begitu, kawan, menulis buku perlu kesadaran. Kepada siapa tulisanmu ditujukan.

Nanti aku bahas, tata cara mengirim buku ke penerbit.

Let’s Write for Happiness!!!

15 September 2009

Baca dan Menulislah

Baca dan Menulislah

KEMAJUAN peradaban ditentukan tiga kekuatan yang saling melengkapi. Posisinya juga bagaikan dua sisi mata uang yang tak bisa dipisahkan. Kesatu adalah buku, kemudian membaca, dan terakhir menuliskan ide. Berdasarkan pengalaman, menulis memerlukan semangat, tekad, dan keinginan kuat. Selain itu, kita harus rajin membaca dan berdiskusi atau mengikuti seminar yang berkaitan dengan materi yang akan kita tulis.

Sebab, modal utama menjadi penulis adalah memiliki kekayaan diksi, berwawasan luas, memiliki analisis yang tajam, dan ada tidaknya gagasan yang akan ditawarkan dalam suatu artikel. Itu semua bisa diperoleh ketika seseorang suka membaca buku. Membaca akan menambah perbendaharaan kata atau diksi yang disimpan di memori kita. Selain itu akan meluaskan cakrawala pengetahuan, dan mempertajam daya analisis sekritis mungkin terhadap fenomena atau gejala yang sedang terjadi.

Dengan membaca karya orang lain juga, memudahkan kita untuk meniru gaya tulisan si penulis. Sehingga lebih mudah menuangkan ide-gagasan menjadi sebentuk tulisan artikel yang komplit. Untuk mencoba cara ini, ambillah salah satu artikel yang telah dimuat di Koran atau media cetak lainnya. Pelajarilah kerangka atau struktur dan gaya tulisan di dalam artikel tersebut. Dari mulai judul, pendahuluan artikel, sub judul, sampai kepada penutup.

Agar bisa menuliskan ide dan gagasan menjadi tulisan, baik makalah, artikel, naskah buku, atau paper penelitian, diperlukan kebiasaan menulis setiap hari. Pokoknya, tuliskan ide-gagasan yang ada dibenak menjadi kalimat yang tersusun rapi. Nah, untuk pertemuan pertama, biar lebih memudahkan membiasanya tradisi menulis, kita memerlukan langkah-langkah berikut:

1). Menguatkan tekad, jadikanlah aktivitas menulis sebagai kewajiban moral.

2). Rajin membaca karya orang lain, seperti artikel, berita di Koran, buku dan novel.

3). Membiasakan menulis setiap hari. Satu jam per hari saja sudah lebih dari cukup.

4). Ciptakanlah lingkungan yang mendukung. Misalnya, membentuk komunitas menulis.

5). Arahkanlah materi tulisan pada bidang yang dikuasai. Contohnya, soal politik, budaya, agama, sosial dan ekonomi ataupun pemikiran.

6). Dirikanlah forum diskusi di antara teman-teman seangkatan. Kalau tulisan kita lebih mengarah pada nilai-nilai agama, misalnya buatlah kelompok diskusi bernama Lingkar Studi
Agama atau yang lainnya. Pokoknya, forum diskusi ini akan dipampang pada identitas penulis, yang terletak di paragraph akhir tulisan atau di awal tulisan.

7). Mengetahui Visi-Misi media, dengan cara rajin membaca artikel opini, tajuk rencana, dan berita-berita yang diterbitkan media bersangkutan. Ini berfungsi untuk menyelaraskan ide-gagasan kita dengan pihak media, yang berposisi sebagai pembentuk opini masyarakat. Sebab, mereka (redaktur dan pemilik perusahaan pers) adalah the man who know much.

8). Kirimkanlah artikel via-pos atau via e-mail. Dalam mengirimkannya, anda harus membuat kata pengantar – bagi sebagian media ada yang tidak perlu menggunakan surat pengantar – agar lebih etis. Apalagi bagi penulis pemula. Perlu menyertakan prolog tulisan kita supaya pihak redaktur bisa mengetahui arah tulisan.

9). Setelah mengirim tulisan, jangan menunggu artikel dimuat. Bacalah realitas dan buku, lalu menulis kembali dan kirimkanlah. Terus membaca, terus menulis, terus mengirimkannya ke media massa. Insyaallah, dengan kesabaran artikel anda akan ada yang dimuat. Amiin .

10). Kalau artikel ditolak dan dikembalikan, silahkan anda membuat weblog di layanan web hosting
gratisan. Anda bisa memampangnya melalui media internet, dan berfungsi untuk terus melihara tradisi menulis di dalam diri.

11). Ketika anda menulis, itu adalah bentuk dari ijtihad intelektual buat agama, bangsa, dan Negara!.
(Sukron Abdilah)

10 September 2009

Bukalah Hijab Komunikasimu

Bukalah Hijab Komunikasimu


Kemarin, kamu juga tahu, aku sudah menulis cara memaksamu menuliskan ide. Sekarang, alhamdulillah, aku akan meneruskan pembahasan soal menawarkan idemu ke penerbit. Aku khusnudzan saja, kamu sudah pada ahli menulis. Kamu sering menulis catatan harian, kisah pengalaman, dan artikel reflektif di blog kamu. Itu modal untuk calon naskahmu.

Sebetulnya blog kamu punya potensi untuk dilirik sebuah penerbitan. Syaratnya ada sesuatu yang bisa bikin pasar pembaca bergerombolan membelinya. Aku angkat jempol kaki buat si Raditya Dika. Dia menuliskan pengalaman ketololannya di sebuah blog, www.kambingjantan.com. Dengan berjuang mengirimkannya ke penerbitan dan ada penolakan, itu pesan bagimu. Bahwa idemu belum tentu diterima sebuah penerbitan. Namun, si Radithya tanpa putus asa, dia terus mengunjungi penerbitan dan memaparkan potensi naskahnya itu. Finally, naskahnya diterbitkan dengan judul, Kambing Jantan.

Aha…, kemudian kamu mengacungkan tangan. Bertanya padaku tentang cara menghadapi penolakan penerbit. Aku hanya bisa menjawab, redamlah kekecewaan dan hapuslah dalam beberapa detik. Kemudian, rajut kembali harapan dengan berkarya tanpa henti. Seperti dibilang mendiang Martin Luther King, “We must accept finite dissappointment, but never lose infinite hope.” Artinya, begini kawan, kita boleh menerima kekecewaan sementara, namun jangan sampai kehilangan harapan yang tak berbatas.

Kalau, toh, kamu sudah mengirim naskah ke penerbit tapi tak kunjung diterbitkan; itu bukan akhir dari sebuah proses berkarya. Teruslah pupuk harapan untuk menjadi penulis buku. Maka, secercah semangat akhirnya dapat membentuk gelombang-gelombang dahsyat berupa semangat menggebu melahirkan karya baru. Persoalan yang mesti kamu camkan kuat-kuat adalah membuka “hijab komunikasi” dengan pihak penerbit. Khususnya editor. Mereka tahu banyak tentang naskah yang layak diterbitkan penerbitan tempatnya bekerja.

Minimalnya kamu tahu alamat email dan no kontaknya. Atau bisa juga dengan cara datang langsung ke kantor redaksi penerbitan. Kamu mengobrol dengan editor tersebut, buku apa yang sedang dibutuhkan penerbit. Kemudian, mulailah menyusun naskahmu sehebat mungkin. Penulis modern, bukan hanya bertengger di atas kasur. Tetapi, proaktif menawarkan idenya kepada penerbit. Berdiskusi dengan editor perbukuan.

Bahkan, sekali-kali pergilah ke toko buku. Kalau mau menulis buku best seller, tinggal pelajari buku-buku yang bertengger di rak best seller. Mudah kan?
Nah, setelah bukumu terbit promosikan kepada komunitas, teman, saudara, dan jangan
lupa rajin bersedekah. Insyaallah bukumu akan menjadi sumber keberkahan.

Oh…, iya, terima kasih, kamu mengingatkanku tentang persoalan naskah yang ditolak penerbit. Dalam mata batinku, setiap naskah hebat-hebat. Tidak ada rumusan jelek dalam sebuah karya. Kenapa naskah ditolak, itu bisa berarti ada buku yang sama dengan naskahmu. Belum menyentuh pasar pembaca yang jelas. Tidak tepat mengirim naskahmu ke penerbit tersebut. Nggak mungkin, kan, kalau kamu menulis buku how to dan mengirimkan ke penerbit yang khusus menerbitkan buku wacana pemikiran.

Hijab komunikasi kalau sudah terbuka, akan memudahkanmu mengetahui naskah macam apa yang dibutuhkan penerbit. Pertama kali menulis buku di DAR!Mizan (kelompok Mizan) aku ditelpon editor, alumni UIN Bandung. Katanya, dia sedang membutuhkan penulis untuk sebuah buku. Sebetulnya, sebelum itu aku sudah menulis dua naskah buku di penerbitan, yang sekarang tidak jelas laporan royaltinya. Parahnya lagi, sampai sekarang buku itu tidak jelas juntrungannya. Naskahnya adalah, Tuhan Juga Nyuruhmu Kreatif dan Agar Cintamu Nggak Bikin Bete (2006).

Tanpa pikir panjang, aku pun menyanggupi tawaran editor DAR!Mizan tersebut. Maka lahirlah karya Hidup Sehat Ala Punk-Hardcore (DAR!Mizan, 2006). Namun, karena di pasaran buku ini slow moving (tidak laku. hehe) aku sempat tidak semangat menulis buku. Hingga akhirnya, pada tahun 2007 sang editor itu kembali menelponku untuk membuat naskah buku panduan agama. Terbitlah buku kedua, Dahsyat Shalat Dhuha dengan menggunakan nama pena Sabil el-Ma’rufie (2007). Buku ini sampai sekarang sudah 6 kali cetakan, dengan kategori best seller. 2008, aku kembali lagi ditelpon sang editor, sehingga terbit buku ketiga, La Tahzan for Teen’s Love. Tepatnya Agustus, terbit buku keempat, Energi Shalat; Bangkitkan Potensi Suksesmu melalui Shalat Lima Waktu (Mizania, 2009).

Jujur aku padamu, buku-buku itu berhasil diterbitkan karena sekian lama aku membina komunikasi dengan sang editor. Tepatnya, dia itu bisa dibilang idetor plus editor. Selain mencari naskah buku, menjadi pemantik lahirnya ide-ide penulisan sebuah buku. Maka, bukalah hijab komunikasimu dengan penerbit. Sekali-kali pelajarilah buku-buku terbitan sebuah penerbitan.

Gaya bahasanya, pembahasannya, tren perkembangan buku, dan tetek bengek penulisannya. Kalau malas membuka hijab itu, silakan kamu print out naskahmu, berikan surat pengantar, nomor HP, kemudian kirimkan ke alamat penerbitan itu. Kalau kamu beruntung, naskahmu akan diterbitkan. Utamanya, kalau bukumu sesuai permintaan pasar.

Bagaimana mengetahui pangsa pasar pembaca naskah-naskahmu? Itu akan aku bahas pada kesempatan yang lain. Ya, besok atau lusa. Ketika aku merasa terpaksa ataupun tidak merasa terpaksa. Yang jelas, sekarang aku sedang belajar membagi waktu yang sedari dulu tak bisa kubagi-bagi. Hehe

Ingat bukalah hijab komunikasimu. Mulailah bertanya dan mencari nama sang editor di akun facebook kamu. Setelah dikonfirmasi, dekatilah. Ucapkanlah sesuatu yang positif. Lantas, setelah ada kedekatan emosional tawarkanlah idemu itu. Inilah model nepotisme yang dihalalkan. Hahaha

Satu lagi catatan penting, cari nomor Hand Pone-nya, alamat emailnya, dan kalau perlu alamat weblognya. Berinteraksilah dengannya. Binalah hubungan yang akrab. Sembari memincingkan mata, buku apa yang sedang dibutuhkan pasar, kamu menyusunlah naskahmu sehebat mungkin. Percaya dirilah. Jangan gampang sakit hati. Seperti pepatah bijak yang aku kutip dari Martin Luther King, “We must accept finite dissappointment, but never lose infinite hope.”

Let’s Write for Happiness!!!!


7 September 2009

Paksalah Kamu Menulis Buku

Paksalah Kamu Menulis Buku

Kamu boleh tidak setuju dengan judul provokatif di atas. Namun, seperti halnya pemerintah, yang tak sudi menurunkan harga bahan pokok. Pun begitu denganku. Tak sudi menghentikan tulisan ini.

Kali kesempatan ini, aku terpaksa menulis tentang tahapan menulis buku. Aku yakin kamu sudah sedemikian mahir menyetubuhi notebook kamu, buku bacaan kamu, dan keyboard PC (Personal Computer) di rumah kamu. Dari persetubuhanmu itu, lahirlah jejeran teks buah karyamu. Formatnya bisa dalam bentuk catatan, diary, bahkan blog kamu yang aduhai mantapnya.

Nah, untuk menghasilkan buah persetubuhanmu dengan pengalaman, buku, dan refleksi hati butuh keterpaksaan. Hasil persetubuhan itu lahir kalau kamu terpaksa. Punya bakat terpaksa dalamdiri mesti dimanfaatkan. Misalnya, ketika kamu disuruh membuat makalah oleh guru atau dosen, kamu bisa menyelesaikannya. Kalau pacar kamu ngasih deadline untuk mengatakan “I Miss U”, kamu bisa menulis pesan singkat (SMS). Kala sedih menerpamu, buku catatan (online maupun offline) akan menjadi tempat curhat mengasyikanmu.

Jujur saja, aku terpaksa menulis buku karena punya kebutuhan. Kalau tidak sedang butuh uang, popularitas, dan peningkatan intelektual, aku tidak akan pernah menulis buku. Uang, popularitas, dan peningkatan intelektual (UPPI) adalah segerombolan motivator yang memaksaku menulis buku. Itulah hal pertama yang aku rasakan. Setelah, beberapa karya berupa buku lahir maka minimalnya per tiga bulan aku dapat memenuhi kebutuhan perut, jiwa, dan akalku. Bisa membeli buku, bisa nraktir kawan-kawan, bisa ngasih sedekah ke fakir miskin, utamanya nama kita bisa popular. Intelektualitasku juga semakin bertambah. Sebab, ada dorongan untuk menjejali diri dengan pengetahuan.
Malu, kan, kalau penulis tidak melek pengetahuan?

Terpaksa dalam bahasa penerbitan buku hampir sama dengan istilah “deadline”. Kalau kamu sudah berhadapan dengan penerbit harus siap dikejar “deadline”. Atau, siap-siap saja kamu kecapean mengejar si “deadline” itu. Aku kagum pada guruku, seniorku di dunia penulisan, namanya Bambang Q-Anees. Dia, mampu menghasilkan karya hampir puluhan buku dalam beberapa tahun. Belum lagi, puluhan artikelnya di koran dalam setahun. Sampai-sampai, aku memanggilnya soko guru dunia penulisan.

Aku yakin dia awal mulanya terpaksa menuliskan ide dan gagasannya karena kalau tidak, bisa sakit jiwa. Hehe. Aku yakin juga dia mengejar “Deadline” yang diberikan Tuhan untuk menelurkan karya sebagai tanda manusia beradab. Andai seluruh dosen di perguruan tinggi punya semangat seperti dia, walah…walah, TOP begete deh.
Lantas kamu bertanya padaku, “sudah berapa judul yang kamu tulis?”

Aku hanya bisa menjawab, “ah…tidak banyak. Karena kamu memaksaku berbagi pengalaman, aku rela membaginya. Jujur, kali ini, aku tidak merasa terpaksa. Mungkin aku sudah mendekati kedewasaan berpikir. Hehe! Terlalu murah mengukur sebuah karya dengan segepok uang.”

“Hahaha idealis banget deh.” Itu kamu yang menimpal perkataanku.

Aku teringat Umberto Eco, seorang kolumnis dari negeri seberang berujar, “menulis,” katanya, “adalah kewajiban moral.” Aku muslim, dan karena kemuslimanku ini hingga mendorongku untuk menulis buku.
Kemudian, kamu kembali bertanya, “bisa dibagi nggak pengalaman suka maupun duka hingga dapat menerbitkan buku?”

Hmmm, asyik juga tuh. Aku akan paksakan menulis trik, tips, dan bekal agar karyamu bisa diterbitkan sebuah penerbitan. Yang jelas, siapkan jiwa dan raga menghadapi penolakan-penolakan. Jangan pernah putus asa! Gugur satu tumbuh seribu pokoknya.

Mulailah menulis buku dengan terpaksa. Mumpung kamu masih bisa bernafas. Mumpung kamu bisa berpikir. Mumpung kamu punya tangan. Lihat Gola Gong, hanya dengan sebelah tangan, dia mampu menghasilkan karya agung. Lihat juga Andrea Hirata, yang tak pernah menulis buku sebelumnya, tapi melahirkan karya fenomenal, tetralogi Laskar Pelangi. Paksalah dirimu untuk menulis buku. Maka, akan lahir sebuah buku sebagai hasil persetubuhanmu dengan buku bacaan, pengalaman, dan keberfungsian hatimu. Setelah bukumu terbit, bahagia rasanya; meskipun kadang-kadang muncul ketidakpercayaan diri. Takut karyamu itu dibilang tidak berkualitas.

Biarkanlah mereka berkata seperti itu. Yang terpenting, gue udah mengada. Gue udah jadi manusia beradab. Gue udah menjalankan perintah “Iqra” dari Tuhan. Gue udah mampu mencapai puncak kebahagiaan. Setelah memaksakan diri, bahkan terpaksa menulis buku, lama-kelamaan kamu akan menemukan setitik air dari telaga kebahagiaan hidup: berkarya tanpa henti.

Sekian dulu cakap-cakap kita hari ini. Besok atau lusa, gue tulis lagi bagaimana langkah awal mengelola ide hingga menjadi buku. Ya, itung-itung belajar bareng bikin buku. Karena sampai saat ini aku juga tidak tahu, buku seperti apa yang ditolak dan diterima itu. Ditolak bukan berarti ide dan gagasanmu jelek. Diterima, bukan berarti juga naskah kamu itu bagus. Ada beberapa faktor yang menyebabkan lahirnya akibat-akibat tersebut (diterima dan ditolak). Dan, itu akan aku bahas pada tulisan nanti.

Let’s Write for Happiness!!!!

14 August 2009

Aep Kusnawan; Dari Masjid Ke Komunitas Intelektual

Aep Kusnawan; Dari Masjid Ke Komunitas Intelektual


Setiap orang pasti memiliki pengalaman hidup masing-masing. Tidak terkecuali pengalaman para penulis. Itulah yang dirasakan Aep Kusnawan, M.Ag, penulis dan dosen Fakultas Dakwah dan Komunikasi UIN Bandung. Di tengah kesibukannya sebagai sekretaris jurusan Bimbingan Penyuluhan Islam pada universitas yang sama (UIN Bandung), ia berbagi pengalaman seputar dunia menulis.

Ada banyak manfaat yang diperoleh ketika kita menggeluti dunia tulis menulis. Menulis, baginya adalah kerja intelektual yang berpahala. Dengan memberikan opini publik, masyarakat akan bertambah wawasannya sehingga terjadi transformasi sosial di berbagai ranah kehidupan.

Aep Kusnawan menekuni dunia tulis menulis sejak tahun 1991. Hingga kini, tidak kurang dari 100 tulisannya yang dimuat di berbagai media massa lokal maupun nasional, diantaranya: Suara Kampus (Bandung), Gema Karya (Bandung), Otentik (Bandung), Forum Remaja 21 (Bandung), Majalah Anida (Bandung), Majalah Kompak (Bandung), Majalah Nuqtah (Bandung), Majalah Kapinis, (Bandung) Media Pembinaan (Bandung), Risalah (Bandung), Suara Publik (Bandung), Gala Media (Bandung), Bandung Pos (Bandung), Pikiran Rakyat (Bandung), Harian Terbit (Jakarta), Majalah Panji Masyarakat (Jakarta), Media Indonesia (Jakarta), Kompas (Jakarta), dan Majalah Al-Muslimun (Bangil), Koran Pa Oles (Bali) serta Jurnal Ilmu Dakwah (Bandung), Jurnal Lektur (Cirebon) Jurnal Komunika (Purwokerto). Selain terdapat juga beberapa tulisannya yang dimuat pada sejumlah buletin, seperti: Da’watuna (Bandung), Fikri (Bandung), Jurnalistik (Bandung), Attaqwa (Ciamis), Ukhuwah (Ciamis), KBMDA (Ciamis), Lembur Kuring (Ciamis).

Ia juga sudah menerbitkan beberapa buku. Teknik Debat dalam Islam (Pustaka Setia: 2003), Berdakwah Lewat Tulisan (Mujahid Press: 2004), Ilmu Dakwah Kajian Berbagai Aspek (Pustaka Bani Quraisy: 2004), Komunikasi dan Penyiran Islam: Mengembangkan Dakwah melalui Media Mimbar, Cetak, Radio, Televisi, Film dan Media Digital (Benang Merah Press: 2004), Doa-Doa Sukses (Dar Mizan: 2007). Buku berbentuk modul, diantaranya: Strategi Pengembangan Ibadah Sosial Bi Ahsab Al-Qaul (Pusdiklat: 2007) dan Strategi Pengembangan Ibadah Sosial Bi Ahsab Al-Amal (Pusdiklat: 2007).

Ketika gayung bersambut, salah seorang seniornya, memiliki pikiran yang sama.
Keinginannya mengembangkan budaya tulis-menulis, disambut Prof. DR. Asep Saeful Muhtadi, MA, dengan mengajukan proposal ke LPTQ untuk membuka cabang baru Musabaqah Menulis Kandungan Quran (M2KQ). Seniornya pun mengajak Aep Kusnawan, bergabung sebagai tim dewan hakim M2KQ pada MTQ Tk Prov. Jawa Barat. Selain, sering menjadi dewan hakim M2KQ tingkat Kabupaten Bandung dan Kota Bandung, dia juga melakukan pembinaan kepada para calon peserta M2KQ yang berasal dari berbagai kabupaten kota di Jawa Barat.

Berangkat dari komunitas

Karir di dunia kepenulisan itu tidak datang dengan tiba-tiba. Seperti dikatakan Aep Kusnawan, itu merupakan hasil kerja kerasnya selama menjadi mahasiswa dalam memanfaatkan wadah berupa komunitas yang konsentrasi di dunia kepenulisan. Tepatnya 9 Agustus 1991, lima orang generasi muda Islam IAIN (sekarang UIN) Sunan Gunung Djati Bandung berkumpul di masjid kampus membicarakan berbagai masalah. Mulai krisis intelektual, penyimpangan birokrasi, dekadensi dan semangat ilmiah generasi muda Islam yang dirasa “kurang gereget”, merupakan masalah penting, yang menuntut pemecahan segera.

Dari kebiasaan diskusi tersebut lahir gagasan membentuk komunitas penulisan di UIN (saat itu masih IAIN). Sebagai follow up dari pertemuan tersebut, munculah nama Kelompok Pengkajian As-Shiddiq Bandung (KPAB). Mereka adalah Subhan Nurdin (Tafsir Hadits), Wahyu Jauhari (Dakwah), Kurdi Latif (Tafsir Hadits), M. Idris Muslim (Dakwah), dan Aep Kusnawan (Dakwah). Produk intelektual Aep dengan kawan-kawannya di “Ash-shiddiq” senantiasa menghiasi Koran dan Majalah.

Pada tahun 1993, “Ash-Shiddiq”, mengadakan pelatihan menulis dengan biaya sekitar Rp. 30.000. Di luar dugaan, mahasiswa yang mendaftar dan mengikutinya, sekitar 30, berasal dari berbagai jurusan dan Fakultas di IAIN SGD Bandung. Setiap peserta yang mengikuti pelatihan, menjadi anggota kelompok pengkajian As-Shiddiq. Karena itu, jumlah anggota Kelompok Pengkajian As-Shidiq bertambah, dari yang awalnya lima orang menjadi 35 mahasiswa. Salah satu alumni Ash-Shiddiq yang kini berhasil adalah Toha Nashruddin, lebih dikenal dengan nama pena Abu Al-Ghifari. Dia telah menulis lebih dari 45 buku. Ia juga memiliki penerbitan buku: Mujahid Press, Media Qalbu dan Salsabila Press.

Dalam usianya yang ke sembilan (tahun 2000), Ash-Shiddiq mengalami banyak perkembangan. Aep Kusnawan, bersama tim Ash-Shiddiq mengadakan bimbingan menulis baik via pos maupun langsung di sekretariat. Bahkan pernah bimbingan melalui Pos tahun 1996/1997 diikuti hampir 1000 orang, dari 20 provinsi. Banyak di antara mereka yang sukses. Pada program bimbingan 1997-1998, diikuti 2000 peserta dari 27 provinsi. Produk intelektual anggota Ash-Shidiq, waktu itu telah dipublikasikan puluhan Surat Kabar, 15 Majalah dan 9 tabloid, baik lokal maupun nasional, serta puluhan buku, karya asli dan terjemahan.

Keterbukaan yang digunakan, tiada lain karena keinginan untuk menebarkan kebaikan bagi sebanyak-banyaknya orang. Dengan bertambahnya anggota, untuk mengatasnamakan kelompok menjadi kurang memadai lagi. Tepat tanggal 17 April 1993, diperkenalkanlah nama baru, yaitu “As-Shiddiq Intellectual Forum” disingkat ASHIF, sebagai jawaban bahwa KPAB menjadi milik semua. Pada perjalanannya, ASHIF pun terus berkembang. Ash-Shiddiq berkembang bukan hanya dalam bidang penulisan di media massa, melainkan hingga ke penerbitan, percetakan, penerjemahan dan pelatihan, yang bermuara pada misi dakwah Islam.

Kini, ketika Ash-Shiddiq telah ditinggalkan anggota dan pendirinya, karena kesibukan masing-masing, Aep Kusnawan masih menginginkan terpeliharanya budaya menulis di kalangan mahasiswa. Harapan dan cita-citanya tersebut sudah disusun menjadi sebuah buku tentang pengelolaan komunitas penulisan. Kemudian disajikan dalam subjudul bukunya berjudul, “Komunikasi dan Penyiran Islam: Mengembangkan Dakwah melalui Media Mimbar, Cetak, Radio, Televisi, Film dan Media Digital (Benang Merah Press: 2004)”.

Ternyata dari kumpulan di serambi Masjid, berubah menjadi sebuah komunitas. Dan, dari sanalah keuntungan menulis dirasakan Aep Kusnawan sampai hari ini. Kita mengenal sejumlah tokoh Islam yang hidup beberapa ratus tahun lalu. Namun mereka tetap hidup bersama hingga saat ini, meskipun jasadnya telah terkubur tanah ratusan tahun silam. Al-Ghazali, misalnya, meninggal tahun 1111, tapi ia tetap hadir, karena tulisannya mengikat erat namanya untuk tetap hidup.

Nah, tertarik untuk menjadi penulis?