Showing posts with label Menulislah. Show all posts
Showing posts with label Menulislah. Show all posts

28 November 2018

Selamat Datang Blook di Era Industri 4.0

Selamat Datang Blook di Era Industri 4.0

Anda tahu apa itu “Blook” (baca: bluk)? Istilah ini menurut Wikipedia, ialah objek yang dibuat guna meniru buku, diterbitkan secara online melalui blog, atau buku cetak yang didasarkan pada konten blog. Istilah “blook” digunakan sejak tahun 1990-an, oleh pustakawan, Mindell Dubansky. “Blook” ialah nama lain dari look like a book (tampak seperti buku). “Blook” juga berasal dari penggabungan “blog” dan “book” sehingga menjadi “Blook”. Tepatnya 2002, Tony Pierce mengompilasi postingan di blog dan mengoleksinya jadi buku yang diberi judul “Blook”. Judul ini diberikan pembacanya, Jeff Jarvis dari BuzzMachine, dalam sebuah ajang bertajuk Pierce Award.

Era 4.0 sekali lagi ialah ruang “kekitaan” bukan “keakuan”. Postingan di web komunitas atau weblog mengindikasikan terselenggaranya ruang “kekitaan” tersebut. Sebab, konten situs ditentukan sang pengguna (user generated).  Setiap orang wajib berbagi informasi, ide, gagasan, dan kritik yang diposting melalui tulisan, video, audio, maupun photo. Nah, kalau tradisi 2.0 – berbagi bersama – digunakan setiap penerbit buku, akan banyak melahirkan buku yang disusun bersama pembaca.

Pelibatan konsumen

Kadang, saya berpikir sejenak tentang penerbitan buku di masa mendatang. Di era 2.0 seharusnya sebuah buku disusun bersama-sama; antara penulis dan pembaca. Menerbitkan tulisan berkala di blog menjadi buku (Blook), tentunya harus dikemas interaktif. Sebab, filosofi era 2.0 terletak pada interaktivitas. Pada bagian lay out isi, setelah tulisan berkala itu selesai akan terasa hebat dan menjanjikan apabila disertakan kolom komentar laiknya web 2.0. Sehingga pembaca akan mendapatkan ruang privat untuk memberi kritik, saran, dan apresiasi terhadap kompilasi tulisan tersebut.

Sang pembaca, sebagai ukuran naskah dikategorikan marketable, tentunya di era 2.0 mesti dilibatkan. Partisipasi mereka ikhwal kemasan, tata letak, dan editing isi harus ditampung penerbit yang hendak menyambut banjir e-book reader di negeri kita. Akan tetapi, saya pikir tak akan ada penerbit mainstream yang melakukannya. Ketika Tim O’Relly menggagas web 2.0 – dalam konteks penerbitan – ialah cermin sebuah buku yang melibatkan penerbit, penulis dan pembaca. Inilah yang disebut dengan ruang “kekitaan”.

Bayangkan, apabila itu dilakukan. Kita tidak memaksakan nilai-nilai subjektif kepada pembaca. Sebab, pembaca ketika selesai membaca bagian dari tulisan tersebut, mereka akan dengan senang hati menuliskan komentarnya di kolom yang disediakan pada kemasan isi buku tersebut. Itulah sekiranya yang menjadikan “blook” saya istilahkan dengan “buku era 2.0”. Karena buku cetak menjadi tempat terjadinya interaksi penulis dan pembaca. Pada akhirnya, pembaca ditempatkan sebagai fartner. Bukan “orang bodoh” yang dijadikan objek ceramah-tulisan.

Di negeri ini, hanya beberapa “blook” yang dicetak dengan menyertakan komentar pembaca terhadap tulisan di blog. Padahal, selain itu juga, kalau dikemas dengan menyertakan kolom komentar dalam tata letak dapat terjadi interaksi penulis-pembaca. Bukankah pada rilis 2010, Adobe Indesign CS5 sudah mengarah pada pengemasan buku interaktif dan touch eye berbasis digital? Entah berapa lama lagi revolusi buku terjadi, di mana layanan blog atau media sosial menyediakan aplikasi yang dapat dimanfaatkan perusahaan kartu seluler dan perangkat ebook reader untuk menjualnya dengan sistem registrasi. Kita tunggu saja bergulirnya era ini!

Bluk Indonesia

Di Indonesia, “Blook” mulai dikenal lewat karya Raditya Dika. Pemuda kelahiran 28 Desember 1984 ini ialah seorang penulis, komedian, penulis skrip komik/film, dan penggiat perbukuan. Lewat karya pertamanya, Kambingjantan (Gagasmedia, 2005), ia menjadi populer. Buku Kambingjantan ialah adaptasi dari blognya yang beralamat di www.kambingjantan.com. Dengan gaya menulis komedi yang lepas pakem dan apa adanya, Kambingjantan sukses menjadi National Bestseller. Setelah itu menyusul buku Cinta Brontosaurus (Gagasmedia, 2006), Radikus Makankakus (Gagasmedia, 2007), Babi Ngesot (Bukune, 2008), dan buku lainnya. Kini semua projek “blook” Raditya Dika dapat diakses di laman http://radityadika.com.

Satu lagi penulis “Blook” yang terbilang sukses di pasaran. Karya Trinity, yang mengulas perjalanan ke belahan Negara luar Indonesia, dengan kemasan bahasa yang lepas pakem, Bentang Pustaka menerbitkan buku The Naked Traveler. Kabarnya, “blook” ini hingga sekarang telah dicetak ulang sampai belasan kali. Kemudian, pada 2010 terbit kembali “blook” The Naked Traveler 2 dengan isi yang diambil dari postingannya di blog. Karya-karya Trinity, dapat Anda kunjungi di laman http://naked-traveler.com.

Bahkan, beberapa penulis di sebuah komunitas blogger menerbitkan “blook” dari konten blog. Chappy Hakim, sesama kontributor di www.kompasiana.com, misalnya, menerbitkan “blook” berjudul “Cat Rambut Orang Yahudi” (Gramedia, 2009). Kemudian, Prayitno Ramelan, menerbitkan “Intelejen Berthawaf” (Grasindo, 2009). Kedua buku tadi diterbitkan atas kerjasama Kompasiana dengan penerbit di Jakarta. Selain “blook” yang diterbitkan penerbit mainstream, kita juga dapat menemukan “blook” yang diterbitkan penerbit indie.

Berkaca dari kesuksesan “blook” atau buku era 2.0 di Indonesia, tak ada salahnya kalau kita semua berharap industri perbukuan di negeri ini bangkit. Kesuksesan penerbitan konten blog menjadi buku cetak tentu akan memacu blogger atau penulis (author) untuk memposting tulisan berkualitas dan mencerahkan. Wabilkhusus, tertantang untuk berbagi ide orisinal dengan para pembacanya ikhwal segala hal yang kadang dibungkus dengan gaya khas.

Selamat datang “blook”!

10 April 2010

Tambahlah Wawasan tentang “Life Motivation”

Tambahlah Wawasan tentang “Life Motivation”

Semangat belajar bagi siswa/siswi Sekolah Menengah Atas (SMA) mutlak diperlukan. Bagi lulusan jurusan Bimbingan Penyuluhan Islam UIN Bandung, itu merupakan tantangan yang perlu disikapi dengan pengadaan pelatihan-pelatihan motivasi. Dengan demikian, siswa/siswi dapat melaksanakan proses pembelajaran dengan menyenangkan. Islam, sebagai landasan pemberian konseling di lembaga pendidikan mengajarkan umatnya untuk menuntut ilmu secara sungguh-sungguh (mujahadah).

8 April 2010

Sang Penulis

Sang Penulis

Pertama kali saya menulis dimulai sejak akhir 2004. Tak terasa, Desember 2009 nanti 5 tahun saya telah menulis puluhan artikel kebudayaan, agama, politik, Sosial dan lingkungan. Menulis, bagi saya sudah menjadi kebiasaan dan kesederhanaan adalah filosofi menulis yang saya pegang sampai hari ini. Kendati, tidak sedikit saya juga memiliki kekurangpuasan terhadap tulisan yang dipublikasikan media. Sekarang saya sadar, menjadi penulis membutuhkan keikhlasan, karena bukan hanya uang yang dijadikan tujuan. Melainkan kepuasan eksistensial.

2 April 2010

Sepakbolaku Masuk “Top 20 Post”

Sepakbolaku Masuk “Top 20 Post”

Aha, tak saya sangka; artikel masuk jajaran 20 posting terkemuka. Tulisan ini dibikin untuk mengikuti lomba yang diadakan Sony Ericcson Extra Time di www.kompasiana.com. Lantas, sisi lain hati saya bertanya: “untuk apa kau menulis pengalaman bermain bola sesingkat itu?” Lintasan hati saya ketika pertama mengetik rangkai abjad untuk mengikuti lomba yang diprakarsai Kompasiana dan Sony Ericcson. Namun, saya jawab sekenanya lintasan hati itu: “Ah iseng saja…”

14 March 2010

Semangat Menulis Siswa/Siswi SMA

Semangat Menulis Siswa/Siswi SMA

Seorang Siswi sedang mempresentasikan karya tulisnya
Tanggal 1 Maret lalu, saya diberi kesempatan untuk menjadi juri dalam lomba penulisan karya ilmiah. Wah, senang juga. Sebab, adik-adik saya di Jurusan Bimbingan dan Penyuluhan Islam, Fakultas Dakwah dan Komunikasi UIN SGD Bandung, membuat sesuatu yang baru. Baru, karena peserta lombanya berasal dari siswa/siswi SMA. Selain, presentasinya yang bagus dan bernas. Tulisannya juga terbilang bagus untuk kelas siswa/i SMA. Saya jadi terharu nih….!