Showing posts with label Pendidikan. Show all posts
Showing posts with label Pendidikan. Show all posts

17 December 2018

Pendidikan, Jembatan Masa Depan Anak Bangsa

Pendidikan, Jembatan Masa Depan Anak Bangsa


Saya terenyuh dan miris membaca berita tentang perjuangan dan semangat lima siswa SD di daerah pedalaman. Mereka harus menyebrangi sungai untuk sampai ke sekolah karena dipisahkan sungai. Seperti diungkapkan anak-anak di dalam sebuah acara televisi, “Sekolah adalah jembatan masa depan yang akan mengantarkan aku menggapai cita-cita”. Kalimat ini seolah menggiring kesadaran kita bahwa sekolah adalah ruh peradaban yang mesti dijaga keberlangsungannya. Kalimat yang sarat akan petatah-petitih tersebut, merangsek masuk ke aras jiwa dan membuka katup cakrawala pemahaman. Bahwa tanpa sekolah – peradaban masa depan bangsa yang terletak di pundak generasi muda – tentunya akan porak-poranda.

Di Kabupaten Ciamis, Jawa Barat, ada juga puluhan siswa SMP yang mesti berjalan tujuh kilo meter untuk sampai ke sekolah. Semangat tanpa kenal lelah karena harus menghabiskan jatah waktu sekira 2,5 jam untuk sampai ke sekolah mirip dengan usaha mendorong batu besar yang dilakukan Sisifus, tokoh dalam mitologi Yunani. Ia (Sisifus) setiap hari harus mendorong batu besar ke puncak gunung. Sebelum sampai ke puncak, Sisifus harus kembali melihat batu itu menggelinding ke kaki gunung meninggalkannya sendirian. Ia pun kembali berjalan ke kaki gunung hendak membawa batu besar itu. Begitulah seterusnya! Ia harus sedemikian rela melakukannya karena sedang menjalani proses hukuman yang dibebankan para dewa.

Namun, anak bangsa di daerah pelosok itu tidak sedang menjalani proses hukuman dari sang dewa. Ini semua terjadi akibat tidak tersedianya akses pelayanan publik di pedesaan yang kebanyakan terisolasi sehingga menjadikan mereka harus serba kekurangan dan berposisi sama seperti Sisifus. Mereka berjalan sejauh tujuh kilo meter dan berenang mengarungi derasnya air sungai untuk menunaikan tugas sebagai manusia yang mesti berilmu, berwawasan luas, dan berkepribadian luhung. Maka ketika jauhnya jarak dan aneka macam bahaya menghadang mereka, tak membuat mereka berputus asa dan kehilangan semangat berpendidikan. Mereka yakin bahwa berjalan bolak-balik sejauh belasan kilo meter dan menyebrangi sungai ialah awal menggapai cita-cita.

Dengan membangun jembatan atau mengadakan angkutan pedesaan, umpamanya, mereka yang terisolasi dan marjinal akan secepat kilat menggapai indahnya cita-cita. Maka, saya pikir merehabilitasi sekolah, menyediakan angkutan pedesaan, dan mengaspal jalan yang berlobang adalah medium komunikasi dialog kritis-emansipatoris dalam menghantarkan mereka mewujudkan cita-cita. Menyediakan sarana dan prasarana sekolah yang representatif, saya pikir sebuah usaha pembebasan yang menjabarkan kata-kata menjadi sebuah tindakan nyata.

Paulo Freire (Pedagogy of The Opressed, 1972) mengatakan, tidak ada kata sejati yang pada saat bersamaan nihil dari dunia praksis. Ia menegaskan, bahwa sebuah kata sejati adalah kemampuan mengubah dunia. Sebab praksis adalah penyatuan antara tindakan dan refleksi atau kesatupaduan antara kata dengan karya sehingga menghasilkan usaha-usaha praksis pembebasan.

Di Indonesia masih banyak anak ndeso yang mengharapkan belas kasih yang tidak hanya tersimpan di racauan mulut. Fenomena seperti ini bagaikan gunung es, di mana hanya terlihat bagian kecilnya saja. Padahal, jika ditelisik sampai ke seluruh Indonesia , anak-anak yang bernasib sama dengan mereka sangat banyak. Andai saja pemerintahan tidak mempasilitasi mereka dengan sarana dan prasarana sekolah yang representatif dan pelbagai alat penghantarnya, sama saja membunuh penantian futuristik mereka untuk mengangkat dirinya dari jurang keterpurukan harkat dan martabat.

Pendidikan ialah investasi peradaban bangsa di masa mendatang. Indonesia dengan jumlah penduduk sekitar 230 juta jiwa lebih, yang terdiri dari generasi muda sebagai cikal bakal pemimpin masa depan berpotensi besar menjadikan negeri adil dan makmur. Namun, realitas pendidikan di Indonesia saat ini agak mengkhawatirkan, di mana jumlah siswa miskin di Indonesia hampir mencapai 50 juta. Jumlah tersebut terdiri dari 27,7 juta siswa di bangku tingkat SD, 10 juta siswa tingkat SMP, dan 7 juta siswa setingkat SMA. Dari jumlah itu, sedikitnya ada sekitar 2,7 juta siswa tingkat SD dan 2 juta siswa setingkat SMP yang terancam putus sekolah.

Hal itu berimplikasi terhadap pembangunan di negeri Indonesia. Dalam Human Development Raport (HDR) dari United Nation Development Programme (UNDP) menutup angka Human Development Index ( HDI) Indonesia tahun 2010 di posisi 108 dengan angka 0.600 dari 169 negara yang disurvei. Angka ini menunjukkan bahwa sumber daya manusia Indonesia masih memperihatin jika tidak mau dikatakan terbelakang. Pembangunan infrastruktur yang dilakukan pemerintah di sebuah daerah, misalnya, tanpa ketersediaan SDM tentunya pembangunan tidak akan menciptakan pertumbuhan positif.

Ada beberapa alasan yang menyebabkan 80 persen jumlah anak putus sekolah, yaitu : kesulitan ekonomi (baik yang tidak punya dana untuk beli pakaian seragam, buku, transport) atau kesulitan ekonomi keluarga (anak-anak bekerja sehingga tidak mungkin bersekolah). Selain itu, faktor eko-geografis karena berada di daerah pedalaman yang jarak sekolah dengan rumah jauh. Untuk menciptakan akses pendidikan untuk semua kalangan (education for all) diperlukan kebijakan strategis melalui penuntasan wajib belajar dasar 9 tahun. Pelaksanaan wajib belajar itu ditangani secara lokal kabupaten sehingga lebih memudahkan pengelolaannya.

Dengan memerhatikan dunia pendidikan anak-anak, sebetulnya kita tengah berinvestasi bagi masa depan Indonesia yang lebih baik. Tugas kita bersama, para stakeholders untuk menciptakan pendidikan berkualitas, dengan ketersediaan sarana dan prasarana pendidikan yang baik, serta tenaga pengajar (guru) yang telah memenuhi standar kualitas, baik dari sisi wawasan, ilmu, dan kesejahteraan hidupnya. Mari kita jadikan pendidikan sebagai jembatan masa depan anak bangsa, sehingga mereka mampu menghadapi kompleksitas kehidupan di masa mendatang. Wallahua’lam

30 November 2018

Sudahkah Jadi Pendidikan Pancasilais?

Sudahkah Jadi Pendidikan Pancasilais?



Realitas pendidikan bangsa seolah tak kunjung membaik. Cobalah kita tengok ke pelosok daerah. Dengan sangat mudah akan menemukan anak-anak usia sekolah yang bekerja guna meringankan beban orang tua. Ketika anak lain seusia dengannya sedang menikmati masa bermain dan berpendidikan, mereka harus rela menggadaikannya dengan meninggalkan sekolah. Memang tidak semua anak bangsa seperti ini.

Orang tua mereka resah dan gelisah menghadapi masa depan anaknya. Kendati sekolah hingga perguruan tinggi, kini hal itu tidak menjadi jaminan masa depan yang lebih baik sebab pemerintah belum mampu menyediakan lapangan pekerjaan yang layak. Malahan, sejak abad 21 ini lahir istilah “pengangguran terdidik”, untuk menyebut masyarakat berpendidikan yang tak memiliki pekerjaan tetap. Tak heran sebagian warga miskin beralasan: menyekolahkan anaknya, tidak akan mengubah garis kemiskinan mereka. Jangan heran juga lahir pesimisme, “ngapaian sekolah” mending juga “bekerja membantu orang tua” daripada selepas sekolah tak kunjung mendapatkan kerja. 

Memang betul bila dana BOS dikucurkan, namun hal ini belum mengubah akses rakyat memeroleh pendidikan murah, mudah, dan berkualitas. Pasalnya, biaya tak mencukupi untuk membayar pendaftaran, bangunan; atau membeli seragam, tas, alat tulis dan buku. Inilah realitas pendidikan di negeri nan kaya raya, sekolah negeri (milik pemerintah) tidak lagi murah-meriah, lebih pas disebut sekolah mahal-meriah. Warga miskin terpinggir harus puas hanya dapat melanjutkan ke sekolah yang tak diperhitungkan, bahkan terkesan asal-asalan.

Selebihnya, tak banyak yang beralasan kalau melanjutkan sekolah guna memeroleh ilmu, meluaskan wawasan, dan membentuk diri menjadi manusia bijaksana. Bahkan hanya hitungan persen, yang mencoba mendirikan usaha mandiri. Di negeri ini – karena alasan biaya mahal – untuk dapat bertahan hidup, mereka rela membuang harapan futuristik sang anak, guna mengeluarkan keluarganya dari jerat kemiskinan dengan tidak bersekolah.

Pendidikan

Lantas, mau menjadi apa bangsa ini ke depan? Apabila sekolah tidak lagi dipandang sebagai sesuatu yang urgen. Mau menjadi apa bangsa ini di masa depan? Apabila kita merecoki ikhwal sistem pendidikan dengan standar Ujian Nasional (UN), tanpa memberikan rasa aman kepada warga Indonesia dengan menyediakan lapangan kerja. Terakhir, mau menjadi apa bangsa ini di masa mendatang? Apabila pemimpin negeri ini tak menempatkan pendidikan sebagai panglima peradaban.

Semangat belajar anak bangsa merupakan “daya gugah” yang mampu menciptakan stamina kebudayaan kita hingga peradaban di Indonesia menggeliat bangkit. Apalagi untuk anak-anak. Tentunya harapan dan keinginan melanjutkan sekolah ke jenjang lebih tinggi mesti diakomodasi dan diaplikasikan secara praktis. Sebab, mereka adalah bagian dari bangsa yang sangat mengidamkan kebahagiaan hidup dan dipenuhi aneka penantian futuristik.

Orang yang puas dengan masa kini tidaklah memiliki penantian futuristik. Puas dengan kemiskinan, puas dengan kejumudan, puas dengan kondisi saat ini, saya pikir terkategori manusia konservatif. Mengapa demikian? Sebab, ia takut atas masa depan dan khawatir atas segala peristiwa yang terjadi. Ia lebih menyukai status quo dan mencoba mempertahankannya. Membiarkan mereka hanya menikmati kekayaan alam (SDA) tanpa bisa menikmatinya, adalah kejahatan terselubung. Karena itu, semestinya pemerintah  mulai mengevaluasi kinerja ketika gejala ketidakmerataan hak berpendidikan di pelosok meruak ke permukaan.

Jangan menjadikan vox vopuli vox dei (suara rakyat, suara Tuhan) hanyalah bualan sloganistis tak membumi ke dalam laku politik. Dalam konteks keindonesiaan tentunya masih banyak anak ndeso yang mengharapkan belas kasih yang tidak hanya tersimpan di racauan mulut. Fenomena seperti ini juga bagaikan gunung es, karena hanya terlihat bagian kecilnya saja. Padahal, jika ditelisik sampai ke seluruh wilayah di Indonesia, anak-anak yang bernasib sama (tidak mampu mengakses pendidikan) sangatlah banyak.

Bangsa yang mementingkan pendidikan anak-anaknya di atas kepentingan material telah memberikan ajaran etis “bagaimana mencari kerja”. Tidak seperti ajaran-ajaran dogmatis yang mencerca dosa tetapi melupakan inti moralitas dan etika dalam sebuah proses panjang pendidikan manusia. Ketika bangsa tak hanya menghafal pelajaran – melainkan hingga memahami – saya pikir terhampar masa depan indah gemilang di kehidupan mendatang anak-anak bangsa.

Pancasilais atau pancasialkah?

Daniel Dhakidae (1979) menulis, “Ideologi adalah alam pikiran, bukan sanjungan dalam madah puja-pujian. Ideologi adalah sikap dan prinsip hidup. Dan, sejarah menunjukkan bahwa hampir semua ideologi yang hidup di Nusantara bertumbuh dari jenis ideologi penantang, termasuk pancasila” (Jurnal Prisma, 08/08/1979). Dia menyimpulkan pancasila sebagai ideologi sejatinya terbenam dalam jiwa sehingga membentuk sikap dan prinsip hidup. Persoalan kini, pancasila ditetapkan sebagai ideologi NKRI-pemerintah, yang dicurigai hanya menempatkan butir-butir pancasila sebagai sesuatu yang patut dipuja-puji selangit. Tetapi mereka lupa: disamping puja dan puji, nilai yang dikandung pancasila luput dari kesadaran alam pikir.

Dalam bahasa lain, pancasila menjadi ideologi mapan, dan berhadapan dengan ideologi-ideologi yang terserak di Nusantara untuk menggulingkannya. Pada kalimat akhir, Daniel Dhakidae, menjelaskan bahwa secara historik, sebuah ideologi, termasuk pancasila, lahir karena ada gugatan dan penentangan rakyat atas ideologi mapan. Ini artinya, ketika pancasila telah menjadi bagian dari kemapaman, dan rakyat tidak merasa puas dengan efek samping bagi pejabat dalam bernegara, boleh jadi akan memicu kemunculan ideologi-ideologi baru.

Kasarnya, pancasila terancam menjadi seonggok landasan negara yang tersingkirkan dari negara, seperti halnya – dalam catatan historik – bahwa pancasila pernah menggulingkan ideologi kolonialisme kaum penjajah yang tengah berkuasa. Apabila pancasila tidak ingin terpinggir di negeri ini, para pemangku amanat negara wajib menjadikan pancasila sebagai landasan menerapkan kebijakan, termasuk kebijakan pendidikan bagi kalangan miskin.

W.S Rendra berteriak, “Siallah pendidikan yang aku terima” dalam bait-bait Sajak Gadis dan Majikan, “diajar aku berghitung, mengetik, bahasa asing, dan tata cara”. “Tetapi...” lanjutnya, “lupa diajarkan: bila dipeluk majikan dari belakang/lalu sikapku bagaimana!”. Dia melanjutkannya “Mereka ajarkan aku membenci dosa/ tetapi lupa mereka ajarkan bagaimana mencari kerja.” Karena itulah, jangan jadikan “pancasila” sebagai “pancasial” yang menutup potensi bangsa ini untuk merangkai masa depan. Pendidikan kalau hanya dijadikan projek kelompok atau pribadi, pantas disebut “pendidikan pancasialis”, bukan “pendidikan pancasilais”. Seperti dibilang Rendra, ajarkanlah “bagaimana mencari kerja” bukan “pokoknya gue harus kerja”.

29 November 2018

Membaca Kunci Peradaban

Membaca Kunci Peradaban

“ The man who does not read good books  has no advantage over the man who cannot read them “ (orang yang tidak membaca buku bagus tak ada bedanya dengan mereka yang tak bisa membacanya) -Mark Twain-

Pada dasarnya manusia terlahir dalam keadaan tidak tahu. Kemudian, lahir proses pencarian hingga mengantarkannya pada pengetahuan tentang segala sesuatu. Salah satu pencarian tersebut terdapat dalam aktivitas membaca.

Ungkapan Mark Twain di atas sangat jelas, membaca merupakan kewajiban umat manusia yang berperadaban. Ketika kita tak menyukai aktivitas membaca padahal mampu melakukan, posisinya sama dengan orang yang buta huruf. Sederhananya, kalau ingin mengetahui sebuah Negara atau pemikiran seseorang, kita tidak perlu mengunjungi Negara atau orang tersebut, tetapi bisa mengetahui lewat karya tulis yang dibuatnya.

Membaca tidak hanya identik dengan buku, ataupun karya orang lain dalam bentuk tulisan, akan tetapi saat kita memperhatikan keadan terus memikirkanya itupun sudah dikatakan membaca yaitu dengan cara membaca situasi dan keadaan. Kalau dikaitkan membaca dengan peradaban, tentunya tidak bisa lepas dari kebudayaan. Sebab kebudayaan melahirkan peradaban. Pun sebaliknya, peradaban adakalanya melahirkan kebudayaan.

Seperti dijelaskan Selo Soemardjan dan Soelaeman, kebudayaan ialah karya, rasa, dan cipta manusia. Sedangkan peradaban lebih pada kemajuan dan kesempurnaan. Jelasnya peradaban identik dengan kemajuan yang dihasilkan kebudayaan. Apabila kita hubungkan dengan membaca, sangat erat kaitannya. Karena semua karya, baik itu lisan maupun tulisan akan diketahui dengan membaca. Dan dari budaya membaca ini, setiap manusia berusaha mengukir peradabannya.

Betul apabila ada yang mengatakan, membaca merupakan kunci peradaban dan buku sebagai gudang peradaban. Berdasarkan pengalaman, membaca memiliki nilai dan pengaruh pada sikap seseorang. Ketika seorang anak (sebut saja si A) dididik semenjak usia dini untuk membaca, itu akan berbeda dengan si B yang tidak dididik untuk membaca. Tidaklah heran kalau ada anak usia tujuh tahun sampai hapal Al-Qur’an. Itu terjadi karena adanya aktivitas membaca, sehingga membuat anak tersebut menghafalnya.

Proses membaca akan mengubah dan merubah pola pikir setiap orang, tanpa memandang usia. Sehingga pempukan gizi intelektual merupakan langkah awal  dari tidak tahu menjadi tahu  salah satunya dengan membaca. Untuk menunjang aktivitas membaca  harus ada instrument (pelengkap) yang mendukung, seperti perpustakaan, taman baca, dan sebagainya.
Kehadiran Kampung Belajar yang digagas Roni Tabroni dkk, merupakan bentuk kerja suci dari segelintir anak muda negeri ini. Dengan menjadikan Kampung Belajar sebagai daerah binaan, ke depan diharapkan akan melahirkan tradisi membaca di kalangan masyarakat marjinal. Dengan memudahkan akses mereka membaca buku, itu cikal bakal melahirkan peradaban gemilang di masa mendatang. Wallahu’alam
Kekerasan Remaja Masa Kini

Kekerasan Remaja Masa Kini

Masa remaja sering disebut sebagai masa ”storm and stress”, di mana pada masa ini mereka sedang menghadapi persoalan pencarian identitas yang rumit. Dengan kompleksitas permasalahan identitas inilah, tak heran apabila remaja banyak yang terjerumus pada pergaulan tanpa batas. Salah satu bukti berbahaya adalah keikutsertaan mereka dalam sebuah kelompok yang populer disebut geng, di mana mereka banyak menampakkan kekerasan yang meresahkan masyarakat.

Geng motor XTC dan Brigez, misalnya, merupakan fenomena sosial yang mencerminkan kepribadian remaja banyak meluapkan agresivitas, sadisme, dan antisosial. Tak hanya pada geng motor saja, di Kota Bandung juga sekarang marak sekelompok remaja yang bergabung dengan suporter Viking, dan sering melakukan hal-hal yang bertentangan dengan norma-norma sosial yang berlaku di masyarakat.

Bisa disaksikan sendiri ketika tim kesayangan mereka, Persib Maung Bandung, bermain di stadion Jalak Harupat. Sudah dapat dipastikan kalau jalanan akan macet dan terdengar suara knalpot motor yang meraung-raung yang mengganggu kenyamanan pengguna jalan lain. Apalagi kalau tim kesayangan mereka kalah telak, kekesalan bobotoh akan dilampiaskan secara membabi buta pada toko-toko yang berada di pinggir jalan raya.

Dari fenomena kenakalan remaja itulah, penulis hendak menganalisisnya dari pendekatan psikologi aliran psikoanalisa yang digawangi Erich Fromm. Kenapa penulis memilih tokoh ini, bukan Sigmund Freud? Karena ada cita rasa berbeda yang ditemukan dalam pemikiran dan gagasan tentang kepribadian yang ditawarkan Erich Fromm. Dia memandang kepribadian manusia bukan hanya luap ”libido seksual”, seperti yang diungkapkan Sigmund Freud. Tetapi, lebih dari itu.

Kepribadian manusia ditentukan oleh situasi kemanusiaan (human condition) yang berlaku sepanjang hidupnya. Human condition dalam perspektif Erich Fromm merupakan kekhususan yang terjadi pada diri manusia dan dialaminya semata-mata dalam taraf manusiawi, dan sebagai karakteristik eksistensi manusia.

Menurut Erich Fromm, manusia berlainan dengan hewan. Sejak lahir manusia dilengkapi seperangkat kemampuan naluriah yang ”siap pakai” untuk bertahan hidup dan menyesuaikan diri dengan lingkungannya. Namun, secara biologis manusia merupakan makhluk yang lemah. Sehingga yang diperlukan untuk tetap survive dalam kehidupannya adalah memanfaatkan kemampuan yang luar biasa dalam dirinya.

Erich Fromm dalam buku berjudul Man for Himself, menyebutkan tiga kemampuan khas insani yang membedakan manusia dengan hewan, yakni: kesadaran diri (self awareness), akal budi (reason), dan daya khayali (imagination). Setiap kemampuan manusiawi tersebut berperan dalam membentuk kepribadian seorang manusia. Pun begitu dengan remaja. Ketika kesadaran diri, akal budi, dan daya khayali tidak dapat digunakan untuk mengembangkan kepribadian yang positif, tentunya akan menyebabkan seorang remaja memegang teguh kepribadian yang tak berkualitas.

Remaja sejati, ialah seorang manusia yang mampu sadar diri, berakal budi, dan memiliki imajinasi yang luas...seluas samudera di lautan. Bahkan, harus lebih........!

28 November 2018

"Fatihah" Bencana

"Fatihah" Bencana

SILIH bergantinya bencana di bumi Indonesia, kendati tidak sehebat gempa di Jawa Barat, Padang, dan Tsunami di Aceh; bukan berarti optimisme hidup kita mesti berhenti. Masih segar dalam ingatan kolektif, longsor di Kabupaten Bandung beberapa minggu ke belakang. Beberapa hari ini, guyuran hujan lebat dibarengi kilatan petir dan gemuruh angin juga, sejatinya tak membuat kita dipenuhi kegelisahan dan putus asa. Bencana, dalam doktrin ajaran Islam, ialah ”kiamat shugra” yang dapat menyadarkan kita ikhwal substansi kehidupan yang kerap kita abaikan.

Bencana dalam kehidupan dapat berfungsi sebagai pemantik kesadaran ekologis sekaligus kesadaran teologis dalam diri umat manusia. Kesadaran yang sempat mengendap menjadi reflika tak tersentuh refleksi itu, ketika bencana ujug-ujug muncul ke alam sadar tanpa kendali. Adakah perilaku destruktif umat manusia yang mengakibatkan alam kembali menyemburkan aneka bencana?

Pakar sufisme, Seyyed Hossein Nasr, dalam buku “The Garden of Truth; Mereguk Sari Tasawuf” (Mizan, 2010) mengetengahkan penafsiran maknawi terhadap surah al-Fatihah. Surah Al-Quran yang sering dibaca minimal 17 kali oleh umat Islam tersebut, katanya, mengandung konsep tauhid yang bersifat ekologis. Manusia yang menyadari bahwa Tuhan pencipta alam raya, ia akan memahami hubungan yang dibina dengan alam haruslah bersifat keilahiyan. Ini artinya, memosisikan alam sejajar dengan eksistensi dirinya sebagai makhluk Tuhan yang perlu dihormati.

Kesadaran eco(teo)logis

Pendapat Seyyed Hossein Nasr itu berpijak pada kalimat “alhamdulillahi rabbi al-alamin” dalam surah al-Fatihah sebagai inti pentingnya kesadaran ekologis yang bersifat ilahiyah (eco-teologis). Kalimat pujian “alhamdulillah” kemudian dilanjutkan dengan kalimat “rabbi al-alamin” menunjukkan umat manusia sejatinya menempatkan alam sebagai bagian dari-Nya. Sebab “rabbi al-alamin” secara etimologis berarti: pemelihara, penjaga, atau laiknya ibu yang melahirkan alam ini. Menghormati alam berarti menghormati sang pemelihara, sang pemilik atau sang penjaga alam (Allah).

Namun, keserakahan umat manusia menyebabkan alam ini mulai mengidap kesakitan di setiap rusuk, sehingga ekosistem tidak berjalan seimbang. Ketika musim hujan tiba, tumpukan sampah mengakibatkan aliran air tak mengalir di tempat semestinya. Alhasil, banjir dan longsor tentunya merebak pada musim ini sebagai pemantik kesadaran kita bahwa mesti mewaspadai labilitas topografi alam. Seandainya surah al-Fatihah dipahami secara maknawi oleh ratusan juta umat Islam Indonesia. Entah itu oleh pejabat, tokoh masyarakat, rakyat, agamawan, dan yang lainnya. Di dalamnya ada pemantik yang siap menyalakan kesadaran umat manusia: membina hubungan yang harmonis dengan alam adalah misi suci ajaran Islam.

Di kedalaman jiwa umat manusia tersimpan reflika kesadaran yang terpendam. Tuhan, sang pemilik alam raya, sebelum umat manusia lahir ke muka bumi meniupkan ruh “kesadaran” untuk berelasi seharmonis mungkin dengan alam sekitar. Namun, karena syahwat atau nafsu keserakahan sedemikian kuat dalam diri manusia akhirnya kesadaran tersebut terpendam, kemudian menghilang. Manusia, pada posisi ini, mengagungkan peradaban material sehingga alam menjadi objek eksploitasi “seksis” yang berujung pada kerusakan ekologis.

Tugas suci kita, sebagai makluk-Nya adalah memperjuangkan ide, harapan, cita-cita, resolusi diri, dan imajinasi kesejahteraan bangsa agar mewujud dalam bentuk nyata. Dalam bahasa lain, memungut kembali ”reflika kesadaran” sebagai manusia berkesadaran ekologis harus mulai dicamkan tanpa henti di sanubari. Bukan lantas menjadi angan yang bersifat fana dan tiada. Apalagi di tengah ketidakseimbangan ekosistem, cuaca yang tak terprediksi, bencana alam terjadi di hampir setiap daerah; kita sejatinya bahu membahu membenahi ”relasi tak seimbang” untuk menghormati saudara kita (alam sekitar).

Peradaban

Indonesia memiliki potensi besar menjadi negara hebat di dunia kalau ditopang dengan konstruksi peradaban utama. Tentunya tanpa mengabaikan tradisi ketimuran (misalnya local wisdom, spiritualitas dan immaterial), peradaban yang kita bangun sejatinya tak bersifat eksploitatif dan dekonstruktif.

Dalam upaya mewujudkan peradaban utama, ormas dan tokoh Islam sepatutnya mengejawantahkan visi pembebasan. Ketika pengrusakan alam merajalela, agama sejatinya memberikan advokasi yang membebaskan alam dari tangan-tangan tak bertangungjawab manusia. Al-quran, khususnya surah Al-Fatihah, me­negaskan individu harus berterima kasih atas pemberian alam oleh Tuhan dalam kehidupan ini. ”Fatihah bencana” bagi kita ialah melakukan pendobrakan atas logika pembangunan bangsa ini dari yang mengeksploitasi alam ke arah logika pemeliharaan agar pembangunan menjadi berkelanjutan (sustainable).

Kesadaran seperti itulah yang sepatutnya kita punguti bersama. Tuhan menempatkan manusia sebagai faktor penentu kelahiran sebuah perubahan dalam se­jarah kehidupan. Hancur dan bangkitnya peradaban manusia ditentukan sikap, mental, dan paradigma yang kita bangun dalam menggulirkan pembangunan. Karena itu, sebuah keniscayaan bagi umat manusia kembali meresapi tujuan diciptakan dirinya ke muka bumi.

Selain menebarkan benih ”rahmat” bagi alam sekitar (rahmatan lil alamin), dalam surah Al-Fatihah tujuan kita diciptakan ialah bersyukur atas pemberian-Nya berupa alam (alhamdulillahi rabbi al-alamin), di mana hidup kita bergantung kepadanya. Tak heran jika Tuhan sangat mencela manusia yang melakukan pembunuhan (terhadap manusia) dan merusak (alam sekitar). Wallahua’lam
Televisi dan Pendidikan

Televisi dan Pendidikan

KENDATI televisi bukan media massa yang pertama kali ada, namun perkembangannya dari masa kemasa sangat cepat. Usia televisi di Indonesia, baru berumur 45 tahun. Akan tetapi, dengan kurun yang relative singkat itu, televisi terus mengalami perkembangan. Dari fitur layer hitam putih, sampai televisi corak warna. Tadinya hanya ada satu chanel, kini terdapat banyak chanel. Mungkin di Indoensia sendiri terdapat puluhan chanel. Dari perusahan penyiaran televisi raksasa sampai yang lokal. 

Sebenarnya, keberadaan televisi di Indonesia, karena pemerintah pada tahun 1961 mendapat proyek Asean Games. Acara ini ingin disiarkannya kedaerah yang terjangkau oleh satelit televisi yang waktu itu masih sangat bersifat lokal. Maka diputuskanlah menghadirkan media massa yang sarat dengan manfaat dan kemewahan ini. Kemudian di bangun Panitia Persiapan Pengembangan Televisi Indonesia pada tahun 1961. barulah pada tanggal 20 Oktober 1963 didirikan yayasan TVRI—Televisi Republik Indonesia—berdasarkan keputusan Menteri No. 215/ 1963. sejak itu, televisi sudah bisa dimanfaatkan (ditonton), kendati masih sangat sederhana.

Dari awal keberadaanya sampai sekarang, televisi adalah media massa yang sangat digemari masyarakat. Maka tidak heran jika televisi menjadi icon utama media massa dibanding dengan surat kabar, majalah, bahkan internet sekalipun. Dengan kemewahan ini, maka tujuan pemerintah menghadirkannya tiada lain untuk edutaitment—mendidik sekaligus menghibur. Bahkan, keberadaan yayasan TVRI (1963) pertama kali ada karena untuk mempersatukan bangsa dengan pesan-pesan pendidikan yang ditayangkannya.

Menurut Drs. Darwanto, S.S, “salah satu alasan kenapa televisi bisa dijadikan sebagai media pendidikan, karena televisi mempunyai karakteristik tersendiri. Audio visual yang lebih dirasakan perannya dalam mempengaruhi masyarakat. sehingga dapat dimanfaatkan oleh pemerintah dalam menyukseskan pembangunan Negara dalam bidang pendidikan, melalui televisi sebagai sarana pendukungnya.”

Televisi era modern

Sejalan dengan arus modernitas, perkembangan, televisi bukan hanya dari hardware saja. Bahkan sekarang menjadi kebutuhan primer bukan sekunder atau tersier apalagi kebutuhan mewah. Tayangan-tayangannya pun berkembang. Memang ini sangat wajar, karena televisi selalu menayangkan perkembangan manusia dari masa kemasa. Namun, jika pertama kali kemunculannya syarat akan nilai pendidikan, sekarang dengan perkembangannya televisi cenderung menyajikan tayangan hiburan tanpa memperhatikan nilai pendidikan. Tayangan berita, dialog, potret kehidupan budaya, olahraga, drama pendidikan misalnya, cenderung lebih longgar jam tayangnya dibanding dengan sajian yang hanya mengutamakan sisi hiburan yang kurang mendidik. Memang masih ada chanel yang kental dengan tayangan pendidikanya, tapi, chanel yang menayangkan sisi hiburan lebih banyak.

Realita tayangan televisi era modern, menyudutkannya pada media pendidikan yang tidak lebih baik dari Koran, majalah pendidikan dan buletin pendidikan. Dalam kata lain nilai pendidikanya menurun. Karakteristik audio-visual televisi memang salah satu kemewahanya dan sangat kuat mempengari khalayak. Akan tetapi, jika dibidik sebagai media pendidikan zaman sekarang yang paling baik, sepertinya perlu ditinjau kembali? Antara tayangan yang mendidik dan hanya hiduran semata—yang terkadang tidak memuat nilai pendidikan sama sekali—dengan tidak mengatakan semua tayangannya amoral.

Tayangan televisi tidak terlepas dari tayangan-tayangan yang menarik dan cenderung menghibur, itu memang seharusnya untuk sebuah media massa. Tetapi, disamping menarik juga harus edukatif sebagai tontonan masyarakat umum. Jika ada satu sajian televisi yang syarat dengan nilai negatife, misalnya sinetron yang menayangkan tentang pacaran anak sekolah yang terlalu bebas. Hal ini akan mudah dicerna oleh anak-anak sekolah karena pengaruh televisi sangat kuat. Untuk itu, sejatinya orang yang berperan dibelakang layer atau perusahaan penyiaran televisi untuk tidak menayangkan hal tersebut.

Dimasyarakat yang kaya akan nilai kearifan budaya dan agama, tayangan tersebut sangat tidak baik. Bisa-bisa mengikis etis-moral masyarakat yang arif. Televisi (produksi tayangan) harus bisa memberi kontribusi pada masarakat dengan mengetengahkan nilai-nilai pendidikan. Memberi hiburan pada masyarakat, benar itu sebuah kontribusi. Namun, kalau mempengaruhi masyarakat jadi tidak beretika—sesuai dengan kearifan budaya dan agama—itu kontribusi atau racun sosial?

Tugas masyarakat sebagai konsumen televisi, harus bisa memilah dan memilih tayangan yang selayaknya ia konsumsi. Jangan sampai menyalahkan media televisi—asumsi sebagian masyarakat sekarang—sedangkan dia sendiri terpengaruhi. Ariflah dalam memilih tayangan, jadikan tontonan sebuah tuntunan, bukan hiburan semata. Belajarlah dari televisi dengan mencari tayangan yang mendidik.


Pesantren Dan Tantangan Era Modern

Pesantren Dan Tantangan Era Modern

M Dawam Rahardjo (1995: 3) mengungkapkan bahwa pesantren adalah lembaga yang mewujudkan proses wajah perkembangan sistem pendidikan Nasional. Secara historis pesantren tidak hanya mengandung makna keislaman an sich, melainkan menampakkan keaslian (indegeneous) daerah Indonesia; sebab lembaga yang serupa sudah terdapat pada masa kekuasaan Hindu-Budha, sedangkan Islam meneruskan dan mengislamkannya.

Pondok pesantren Islam sebetulnya banyak berperan mendidik sebagian bangsa Indonesia sebelum lahirnya lembaga-lembaga pendidikan lain yang cenderung mengikuti pola “Barat” yang modern. Oleh karena itu, lembaga pendidikan pesantren acapkali dijuluki sebagai basis pendidikan tradisional yang khas Indonesia. Pondok pesantren berkembang pesat dan lebih dikenal kegiatannya kira-kira sejak tahun 1853 dengan jumlah santri sekitar 16.556 dan tersebar pada 13 kabupaten di pulau Jawa (Z. Dhofier; 1994).

Dari tahun ke tahun jumlahnya mengalami peningkatan yang signifikan, hingga pada tahun 1981 terdaftar hampir sekitar 5.661 pondok pesantren dengan jumlah santri 938.597 yang diasuh dan dididik pesantren (A. Syamsuddin, 1989). Dan, sudah dapat dipastikan jika pada tahun 2000-an jumlahnya telah mencapai ratusan ribu pesantren di seluruh Indonesia dengan puluhan juta santri yang telah dan sedang dididik oleh pesantren.

Lantas, pertanyaan yang patut diajukan dalam tulisan ini adalah: bagaimana peta tantangan yang akan dihadapi oleh lembaga pendidikan warisan dari perpaduan budaya asli Indonesia dan khazanah keislaman dalam menjawab tantangan modernitas? Apakah mesti menyesuaikan (ngigeulan) zaman ataukah sampai pada mengelola tantangan era modern yang cenderung menggusur manusia pada pemahaman positivistik?

Sebab, sebagai satu-satunya lembaga pendidikan swasta, pesantren memiliki kekuatan yang teramat dahsyat hasil dari motivasi dari para pendirinya (founding fathers) untuk mencerdaskan bangsa tanpa mengurusi “tetek bengek” keuntungan ekonomis. Melainkan menjalankan amanat pendidikan pofetik yang digariskan oleh ajaran Islam sebagai penghantar terwujudnya manusia yang memiliki harkat, derajat dan martabat yang sangat urgen untuk dimiliki oleh setiap manusia di era modern ini. Seperti yang terdapat dalam sebuah pepatah Rasulullah yang memerintahkan setiap muslim untuk mencari dan mengajarkan ilmu dari mulai lahir sampai desah nafas tidak lagi terdengar (baca: wafat).

Pesantren dan Santri

Menurut catatan sejarah, pesantren merupakan lembaga pendidikan Islam yang diwariskan oleh Syeikh Maulana Malik Ibrahim sekitar abad 16-17 M, seorang guru “walisongo” yang menyebarkan ajaran Islam di tanah Jawa. Sedangkan secara kebahahasaan, pesantren berasal dari kata “santri” yang berarti guru mengaji (bahasa tamil) dengan awalan “pe” dan akhiran “an” yang berarti tempat tinggal (mondok moe) para santri. Dengan demikian, pesantren merupakan mesin copy-an yang bertugas mem-print out manusia yang pintar agama (tafaquh fi al-din) dan mampu menyampaikan keluhungan ajaran Islam serta populer disebut dengan “santri”.

Sebagai ladang penghasil santri, tentunya pesantren harus menghasilkan santri (output) yang berkualitas dan bermanfaat bagi masyarakat sekitar. Output tersebut selain berimplikasi secara personal, juga berdampak positif secara sosial. Adapun hasil implikasi tersebut dapat dilihat dari intensitas keuntungan yang besar yang diproduksi pesantren terhadap lingkungan sekitar, di antaranya berupa keuntungan pragmatis bagi aspek yang berdimensi budaya, edukatif dan sosial.

Dalam dimensi kultural, kehidupan seorang santri di pesantren ternyata seringkali dihiasi dengan prinsip hidup yang mencerminkan kesederhanaan dan kebersamaan melalui aktivitas “mukim”. Kalau saja “abdi negara” ataupun masyarakat modern mampu melakukan hal seperti mereka, akan muncul solidaritas sosial terhadap sesama manusia. Lalu, dari aspek edukatif pesantren juga mampu menghasilkan calon pemimpin agama (religious leader) yang piawai menaungi kebutuhan praktik keagamaan masyarakat sekitar, hingga aktivitas kehidupannya mendapat berkah dari Tuhan. Sedangkan dalam aspek sosial, keberadaan pesantren seakan telah menjadi semacam “community learning centre” (pusat kegiatan belajar masyarakat) yang berfungsi menuntun masyarakat hingga memiliki life style agar hidup dalam kesejahteraan.

Namun, kendati secara output tidak selalu sesuai dengan kebutuhan, setidak-tidaknya secara ideal pendidikan di Pesantren mampu mencetak calon-calon ahli agama yang siap diterjunkan ke masyarakat. Tidaklah heran jika pesantren sebagai “laboratorium sosial” banyak membidani kelahiran tokoh-tokoh yang dihormati serta ikut andil dalam pembangunan bangsa lewat sumbangsih pemikiran yang brilian.

Misalnya saja, K.H.A.Dahlan (pendiri Muhammadiyah), K.H.A.Hasan (tokoh Persatuan Islam), Hasyim Asy’ari (pendiri NU), H.O.S Tjokroaminoto (pencetus SI), Muhammad Natsir (bekas Perdana menteri), Dien Syamsuddin, Abdurrahman Wahid, Nurchalis Madjid dan yang lainnya merupakan aktor intelektual yang dididik oleh lembaga pendidikan Islam seperti Pesantren.

Dalam Al-Quran dijelaskan bahwa: “ Hendaklah ada di antara kamu sekalian segolongan ummat yang menyeru kepada kebaikan, menyeru kepada yang ma’ruf dan mencegah dari yang mungkar, merekalah orang-orang yang beruntung” (Q.S. Ali-Imran, 3 : 104). Artinya, dengan kreasi kultural berupa pendirian pesantren dalam khazanah Islam Indonesia merupakan misi profetik untuk mengaplikasikan kebaikan-kebaikan hingga dapat bermanfaat bagi tegaknya nilai-nilai kemanusiaan di tubuh dan jiwa umat, bangsa dan warga masyarakat.

Tantangan Modernisasi

Jika mencari lembaga pendidikan yang asli Indonesia dan berakar kuat dalam masyarakat, tentu akan menempatkan pesantren di tangga teratas. Namun, ironisnya lembaga yang dianggap merakyat ini ternyata masih menyisakan keberbagaian masalah dan diragukan kemampuannya dalam menjawab tantangan zaman, terutama ketika berhadapan dengan arus modernisasi. Untuk mengubah image yang agak miring ini tentunya memerlukan proses yang panjang dan usaha tidak begitu mudah.

Proses modernisasi telah menguatkan subjektivitas individu atas alam semesta, tradisi, dan agama. Manusia dalam subjektivitas dengan kesadarannya dan dalam keunikannya telah menjadi titik acuan pengertian terhadap realitas. Manusia memandang alam, sesama manusia, dan Tuhan mengacu pada dirinya sendiri. Manusia juga menjadi bebas dalam merealisasikan kehidupannya tanpa campur tangan kekuatan lain di luar dirinya sendiri. Modernitas sebagai periode sejarah yang khas dan superior telah membuat orang percaya bahwa zaman modern lebih baik, lebih maju, dan memiliki referensi kebenaran lebih banyak dari zaman sebelumnya. Selain itu, modernitas menciptakan sikap optimisme dan berbagai kualitas positif tentang masa depan serta kemajuan menjadi tema utama peradaban sejarah umat manusia (Fahrizal A. Halim, 2002: 19-20).

Dalam tradisi pesantren terdapat kaidah hukum yang menarik untuk diresapi dan diaplikasikan oleh pesantren sebagai lembaga pendidikan yang mesti merespon tantangan dan “kebaharuan” zaman. Kaidah itu berbunyi, “Al-Muhafadzatu ‘ala al-qadim al-ashalih wa al-akhzu bi al-jadid al-ashlah”, artinya: melestarikan nilai-nilai Islam lama yang baik dan mengambil nilai-nilai baru yang lebih baik. Hal ini berarti pesantren patut memelihara nilai-nilai tradisi yang baik sembari mencari nilai-nilai baru yang sesuai dengan konteks zaman agar tercapai akurasi motodologis dalam mencerahkan peradaban bangsa.

Ulil Abshar Abdalla (2000) mengatakan bahwa jika tradisi besar Islam yang direproduksi dan diolah kembali, umat Islam akan memeroleh keuntungan yang besar sekali, di antaranya adalah memiliki “tradisi baru” yang lebih baik. Pesantren ketika tampil dengan wajah baru akan menimbulkan apa yang disebut oleh Cak Nur dengan psychological striking force (daya gugah baru).

Untuk itu, tidak layak kiranya jika para pengelola pesantren mengabaikan arus modernitas sebagai penghasil nilai-nilai baru yang baik – meskipun ada sebagian yang buruk – kalau pesantren ingin maju untuk mengimbangi perubahan zaman. Namun, jika tidak mau maju sedikit pun di era yang serba maju ini, silahkan menutup diri dari nilai-nilai baru dan peliharalah nilai-nilai lama yang telah ketinggalam zaman (out of date).

Persoalan ini tentu saja berkorelasi positif dengan konteks pengajaran di pesantren. Di mana, secara tidak langsung mengharuskan adanya pembaharuan (modernisasi)-kalau boleh dikatakan demikian-dalam pelbagai aspek pendidikan di dunia pesantren. Misalnya, mengenai kurikulum, sarana-prasarana, tenaga administrasi, guru, manajemen (pengelolaan), sistem evaluasi dan aspek-aspek lainnya dalam penyelenggaraan pendidikan di pesantren.

Jika aspek-aspek pendidikan seperti di atas tidak mendapatkan perhatian yang proporsional untuk segera dimodernisasi, atau minimal disesuaikan dengan kebutuhan dan tuntutan masyarakat (social needs and demand), tentu akan mengancam survival pesantren di masa depan. Masyarakat (baca: kaum muslimin Indonesia) akan semakin tidak tertarik dan lambat laun akan meninggalkan pendidikan pesantren, kemudian lebih memilih institusi pendidikan yang lebih menjamin kualitas output-nya.

Pada taraf ini, pesantren berhadap-hadapan dengan dilema antara tradisi dan modernitas. Ketika pesantren tidak mau beranjak ke modernitas, dan hanya berkutat dan mempertahankan otentisitas tradisi pengajarannya yang khas tradisional, dengan pengajaran yang melulu bermuatan al-Qur’an dan al-Hadis serta kitab-kitab klasiknya, tanpa adanya pembaharuan metodologis, maka selama itu pula pesantren harus siap ditinggalkan oleh masyarakat.

Pengajaran Islam tradisional dengan muatan-muatan yang telah disebutkan di muka, tentu saja harus lebih dikembangkan agar penguasaan materi keagamaan anak didik (baca: santri) dapat lebih maksimal, di samping juga perlu memasukkan materi-materi pengetahuan non-agama dalam proses pengajaran di pesantren.

Dengan tidak meninggalkan ciri khas lokal, pesntren juga mesti merespon perkembangan zaman dengan cara-cara yang kreatif, inovatif, dan transformatif. Alhasil, persoalan tantangan zaman modern yang secara realitas seakan menciptakan segala produk yang menyibakkan tirai-tirai batas ruang dan waktu seperti dalam gejala global media infromasi dapat dijawab secara akurat, tuntas dan tepat. Wallahua’lam

Kepustakaan

1. M. Dawam Rahardjo; Pesantren dan Pembaharuan, PT Pustaka LP3ES, Jakarta: 1995.

2. Fahrizal A. Halim; Beragama dalam Belenggu Kapitalisme, Penerbit Indonesia Tera, Magelang, 2002.

3. Karel A Steenbirk; Pesantren Madrasah Sekolah, LP3ES, Jakarta, 1994.

4. Sukron Abdilah; Pesantren, Santri dan Modernitas, Surat Kabar Mingguan Medikom, edisi 182 Tahun III 3-9 Juli 2006.

5. H.M. Yacub; Pondok Pesantren dan Pembangunan Masyarakat, Penerbit Angkasa, Bandung, 1985.

6. Zamakhsyari Dhofier; Tradisi Pesantren Studi Tentang Pandangan Hidup Kyai, LP3ES, Jakarta, 1994.

27 November 2018

Ibu, Sekolah Awal untuk Anaknya

Ibu, Sekolah Awal untuk Anaknya

Rentang masa perkembangan anak mestinya dipenuhi kegembiraan, sehingga berpengaruh positif bagi jiwanya. Akan tetapi, kecemasan dan ketakutan anak-anak sekarang hadir di mana-mana. Di sekolah, di jalanan, bahkan di rumah yang dihuni orang tuanya sekalipun. Kak Seto, dalam suatu kesempatan pernah mengklaim bahwa kekerasan terhadap anak yang dilakukan orang tua mencapai angka 80 persen. Saya pikir, ketika anak-anak akrab dengan kekerasan, ancaman kehilangan jati diri, kepercayaan, dan kemandirian dalam dirinya akan menghilang.

Maka, menciptakan lingkungan yang menentramkan anak-anak adalah keniscayaan yang tak bisa ditawar-tawar. Sebab, tanpa situasi tentram dan tenang; anak akan merasa tertekan sehingga berakibat pada terganggunya perkembangan jiwa. Jangan heran jika pribadi anak di masa mendatang akan memantulkan laku yang keras dan otoriter. Ia akan berubah jadi warga keras, tidak toleran, pendendam, dan antisosial. Bahkan, fanatisme berlebihan terhadap keyakinannya sehingga menyelesaikan konflik dengan cara-cara yang mengarah pada kekerasan.  

Kekerasan terhadap anak secara fisik atau psikis, adalah perilaku masyarakat jahiliyah dan tidak berbudaya. Melakukan kekerasan sangat berbahaya bagi perkembangan jiwa anak dan harus kita redam. Mencaci, berkata-kata kotor, tidak sopan, dan menjewer anak akan membentuknya jadi seorang anak yang tidak disiplin. Paling berbahaya lagi, kekerasan fisik dan psikis terhadap anak akan melahirkan suatu generasi yang menyelesaikan sengketa dengan kekerasan juga.

Ibu dan lembaga pendidikan memiliki peran yang hampir sama dalam dunia anak-anak. Setiap anak yang lahir ke muka bumi, tak bisa melepaskan diri dari dua penentu kehidupan tersebut. Seorang ibu mengandung, melahirkan, membimbing, dan mendidik anaknya hingga dapat hidup mandiri. Pun demikian dengan pendidikan. Hampir sama dengan peran seorang ibu; lembaga pendidikan di tiap jenjang (SD, SMP, SMA, dan Perguruan Tinggi) juga berharap mewujudnya kemandirian pada setiap anak didik. 

Tak salah kiranya keberhasilan warga negeri ini mengenyam pendidikan hingga perguruan tinggi, ditentukan tingkat kepedulian seorang Ibu atas dunia pendidikan. Dengan kasih dan sayangnya, seorang anak merasakan ketenangan dan ketentraman ketika mengarungi hidup. Betapa besar peran ibu dalam kehidupan seorang anak, hingga ada pepatah mengatakan, al-ummu madrasatun (ibu adalah tempat belajar atau sekolah). 

Sekolah di sini artinya ialah pendidikan informal yang memengaruhi karakter, kepribadian, wawasan, life skill dan sikap hidup seorang anak di masa mendatang. Karena itu, semangat belajar seorang anak terletak pada kepedulian ibunya terhadap pendidikan. Peran ibu bagi anaknya bagaikan akar pohon yang menumbuhkan pepohonan hingga tinggi menjulang. 

Kebaikan sikap, pengetahuan luas, dan kebijaksanaan seorang anak di masa depan – dalam perspektif behaviorisme – ditentukan lingkungan keluarga. Dalam hal ini, seorang ibu adalah lingkungan pertama yang menentukan kultur, psikologi, keberagamaan, interaksi sosial dan wawasan-pengetahuan anak. Pun begitu, sebagai lingkungan terdekat dengan anak, seorang ibu juga menentukan pandangan anak terhadap pentingnya menimba ilmu di lembaga pendidikan.

Karena itu, menjadi keniscayaan bagi seorang ibu memperkaya anaknya tentang wawasan pendidikan. Sebab – tanpa menapikan peran seorang Ayah – yang paling banyak berinteraksi dengan anaknya ialah sang ibu. Mendidik dan membimbing anak bagi seorang ibu merupakan misi suci yang harus dipegang kuat dalam paradigma pendidikan di rumahnya. Rasulullah Saw. pernah menjawab pertanyaan sahabat tentang siapa yang wajib ditaati dan diprioritaskan dalam hidup dengan menyebut tiga kali kata “ibu” lebih banyak ketimbang kata “ayah”. 

Seorang ibu seyogyanya membekali diri dengan kesadaran sebagai pendidik anaknya sehingga mereka menjadi anak mandiri, sehat, ulet, bijaksana, dan berpikiran luas. Maka, Indonesia ke depan akan berada di posisi sejajar dengan Negara maju, kalau setiap ibu memiliki kualitas pemahaman sebagai agen pendidikan. Kualitas ibu seperti itu, dapat diperoleh dari berbagai sumber. Misalnya, menghadiri seminar tentang anak dan pendidikan, workshop, dan pelatihan. Kemudian mengakses informasi dari internet, buku, majalah, Koran, dan media lainnya. Dengan begini, wawasan luas tentang dunia anak dapat dijadikan acuan menggenjot mereka untuk terus belajar. 

Tidak ada kesenjangan mengakses pengetahuan seputar dunia anak. Setiap orang dapat dengan mudah memperoleh informasi yang disediakan media. Maka, diharapkan ke depan, pihak pemerintah memerhatikan kesadaran dan pemahaman ibu dalam mendidik anak-anaknya. Ini dilakukan agar tercipta generasi yang dapat memajukan Indonesia. Dan, untuk mewujudkannya kita harus bekerja sama (baca: pemerintah, LSM, lembaga pendidikan, masyarakat) memberikan pemahaman kepada ibu-ibu dalam mendidik anak. Ibu sejati mampu membimbing anak-anaknya memaknai hidup, ibarat matahari yang menyinari tanpa berharap menerima kembali. 

Seorang anak diarahkan agar termotivasi mengenyam pendidikan guna meraih cita-cita. Selain itu, seorang ibu juga seyogyanya menjaga kesehatan fisik anak dengan memberikan makanan yang bergizi. Wawasan seputar kesehatan dan perkembangan jiwa anak merupakan kewajiban seorang ibu. Kalau betul, kasih ibu sepanjang hayat dan “al-ummu madrasatun”; maka fungsi ibu dalam mendukung kemajuan bangsa ini mesti diberikan porsi di dunia pendidikan. Tanpa kepedulian atas kualitas pendidikan, kualitas bangsa di masa depan juga bakal terpuruk.

Negara-negara yang tergolong maju, begitu menekankan pentingnya kualitas pendidikan. Negeri Jepang, misalnya, meletakkan kepercayaan pada kualitas pendidikan yang didukung para ibu dan pemerintahan. Setiap anak di Jepang diberikan pendidikan dan bimbingan yang tak mematikan kreativitas. Hal ini dilakukan setelah Nagasaki dan Hirosima dibombardir Amerika Serikat. Bangsa Jepang sadar, bahwa kemajuan negaranya terletak di pundak generasi muda, yang saat itu hanya menyisakan anak-anak. Dan, kerja keras mereka mendidik anak dapat dirasakan setelah puluhan tahun.

Jadi, betul rasanya kalau disimpulkan anak merupakan investasi berharga bagi rancang bangunan sebuah Negara. Kemajuan dan kemunduran terletak pada kualitas pendidikan yang diberikan saat ini oleh lembaga pendidikan dan lingkungan keluarga. Semoga kita menyadari peran mendidik dan membimbing anak-anak agar mampu menjalani kehidupan masa depan yang penuh kompleksitas.  

28 June 2018

Cita-cita Setinggi Langit bisa Bikin Sakit

Cita-cita Setinggi Langit bisa Bikin Sakit



Kemarin baru saja saya selesai merangkai cita-cita. Ya..., tidak setinggi langit karena takut jatuh dari ketinggian.Tingginya cukup sampai atap rumah saya saja. Paling 3,5 meteran. Selama saya hidup, karena berasal dari perkampungan; tidak begitu "gila" dengan keinginan dan harapan. Saya selalu berusaha agar tidak disakiti hati dengan keinginan menggebu. Trik praktis hidup agar tidak diperdaya harapan adalah mengetahui rangkaian cita-cita. Seberapa tinggi kah kita harus merangkai cita-cita tersebut. Seperti halnya angin, air, dan bumi; selalu menempati ruang yang sesuai.

Buku yang saya tulis dengan nama pena Sabil el-Ma'rufie, Dahsyatnya Shalat Dhuha, ketika pertama kali ditulis tidak terbesit cita-cita untuk dicetak sampai enam kali (2007-2009). Waktu itu saya hanya menuliskan ide-nya. Dicetak ulang 3 kali adalah cita-cita saya waktu itu. Coba bayangkan kalau saya bercita-cita dicetak ulang 12 kali dalam 3 tahun. Pasti rasanya saya akan dijajah bentuk lain dari harapan dan keinginan itu. Hari ini juga kekecewaan pasti terus menyelimuti.

Begitu pun kemarin ketika saya merangkai cita-cita menerbitkan sendiri naskah saya menjadi buku. Saya -- sebagai penyuka angin -- selalu mengubah dalam waktu sedetik cita-cita yang sudah dirangkai sehari-semalam. Memiliki penerbitan sendiri untuk karya teman-teman saya di Irfani Writing Club; adalah cita-cita yang selesai saya rangkai. Konsep penerbitannya mencaplok manajemen kebebasan (indie). Bahkan, di otak ini ada serangkai konsep menerbitkan buku per 500 eksemplar terlebih dahulu. Jujur saja..., karena saya pernah menulis buku di DARMizan, selalu saja ada yang menyetorkan naskah secara pribadi. Saya akan menyerahkannya ke teman editor saya, untuk dievaluasi. Kalau terlihat seksi, naskah itu akan "bernasib" baik hingga layak diterbitkan. Tapi, karena tidak terlihat "seksi" oleh penerbit dan katanya, oleh pasar pembaca; banyak yang ditolak. Ya...itu risiko buat penulis pemula. Bahkan, saya juga sering ditolak mentah-mentah hingga tidak terhitung naskah yang mendekam di ruangan komputer.

Berangkat dari itulah; saya bercita-cita mendirikan penerbitan indie, Irfani Publishing House, khusus menerbitkan karya saya dan kawan-kawan secara terbatas. Tidak muluk-muluk ingin menjadi penerbit besar...karena semakin besar modal dikeluarkan; harga jual buku bakal semakin mahal. Cukup saja lima ratus eksemplar dengan memanfaatkan teknologi cetak POD. Nah, untuk teknologi cetak buku ini, saya belum mengetahui sedikit pun.

Seandainya cita-cita itu melebihi target; saya gembira. Dari setinggi atap rumah saya, cita-cita dalam kenyataannya dapat menggapai langit yang super duper tinggi. Berbeda ketika saya -- misalnya -- bercita-cita setinggi langit. Namun, pada tataran riil, target itu hanya sampai atap rumah saja. Kecewa dong pastinya. Bahkan, boleh jadi saya akan sakit-sakitan. Padahal, cita-cita itu bukan setinggi langit. Tapi setakterbatas ketinggian alam ini.

Kalau masih pusing dengan cita-citamu...ikuti seri tulisan ini selanjutnya...(BERSAMBUNG)

Capek Juga Mencuci Pakaian Sendiri

Capek Juga Mencuci Pakaian Sendiri



SUDAH tiga hari ini Kota Bandung cuacanya mendung kelabu. Tiga hari juga pakaian yang saya cuci belum dijemur. Mencuci memang pekerjaan yang membuat otot bagian belakang saya keram-keram. Meskipun sudah lama malang melintang mencuci pakaian sendiri, kadang saya mencela pekerjaan ini. Mungkin, saya adalah laki-laki. Di mana dalam sebagian mindset warga kita, mencuci adalah pekerjaan wanita.



Jujur saja, saya salut kepada ibu di kampung yang selama puluhan tahun selalu mencuci pakaian kotor anak-anaknya. Ketika pakaian saya, adik, dan kakak saya atau ayah saya sudah sedemikian kotor, ia rela mewakafkan tenaganya. Ini pekerjaan mulia. Betapa tidak, dengan tumpukan pakaian kotor itu, ibu saya dan wanita lain dapat mengelola emosinya. Tidak seperti kebanyakan laki-laki yang menggerutu ketika membersihkan pakaian kotor.

Hari ini ketika saya tidak bisa menyelesaikan pekerjaan mencuci karena mendung menyelimuti kota Bandung, berpikir sejenak. Atas jasa ibu saya, kakak saya, dan adik saya yang tidak menggerutu ketika mencuci pakaian. Mereka tidak meminta bayaran atas kerja ini. Mereka juga tidak pernah meminta balas jasa berbentuk materi. Bahkan, lihat hasil cucian mereka. Bersih, harum, dan indah terlihat. Tidak seperti pakaian yang dicuci laki-laki. Sedikit bersih, agak kusut tak beraturan, dan kadang aromanya tidak seharum yang dicuci kaum hawa.

Hal itu bukan berarti saya setuju dengan pandangan bahwa wanita pekerjaannya di dapur, di sumur, dan di kasur. Tidak seratus persen. Maka, dengan bekal pengalaman mencuci yang dimiliki, saya akan rela membagi tugas rumah tangga dengan istri saya kelak. Sebab, saya sudah terbiasa sejak menginjak SMP mencuci pakaian sendiri. Tapi, harus tahu risikonya, bahwa cucian saya tidak akan sebersih cucianmu…, sayang.
Begitu pun ketika istri saya tidak sempat memasak makanan, karena kesibukan mengejar karir, saya akan bersedia memasak. Ya, paling juga saya memasak tumis kangkung, sambal goreng tempe, ceplok telur, sambal goang, dan satu lagi, makanan kesukaan saya “cobe belut”. Hehe

Karena kebiasaan saya selalu menunggu tiga hari mencuci pakaian, ingin rasanya mendapatkan trik dan tips supaya dapat mencuci pakaian sebersih yang dilakukan ibu saya dan calon istri saya. Mereka berdua mencuci pakaian hingga bersih dengan cara yang berbeda. Ibu saya, selalu menggunakan sikat ketika menggosok pakaian. Hingga kotoran yang menempel di pakaian menjadi bersih. Kalau calon istri saya, mencucinya dengan menggunakan teknologi modern, yakni menggunakan mesin cuci. Ah, tapi dua-duanya memang hebat. Mampu mencuci pakaian hingga terlihat bersih kembali. 


8 February 2018

Waspada Dunia Maya akan Semakin Gaduh

Waspada Dunia Maya akan Semakin Gaduh

KINI, ketika layanan internet merasuki aktivitas kehidupan. Kita seolah menciptakan fragmen kehidupan menjadi: realita dan maya. Bahkan, bagi sebagian orang aktivitas dunia maya telah menjadi realita mengeksiskan diri. Eksis dan non-eksis diukur melalui intensitas keaktifan diri yang narsis di situs jejaring sosial seperti upload photo, update status, kirim tautan, men-tag catatan, dan mengomentari status di wall profil pengguna lain.

Entah itu di situs facebook, twitter, koprol, linkedin, Hi5, dan platform jejaring sosial lain yang kini tengah menjamur di dunia maya. Gossip seputar aktris, misalnya, kini tak hanya dapat disaksikan di televisi. Akan tetapi merambah hingga ke media internet. Irfan Bachdim, Gonzales, dan timnas Indonesia pernah menjadi perbincangan hangat (trending topic) di situs microblogging twitter.

Rahma Azhari juga sama. Bahkan lebih heboh lagi, karena dirinya berbagi link photo syur dengan, Mcmenemy, pelatih Timnas Filipina di sebuah Bar yang sempat menghangatkan suasana mayantara. Syahrini juga, baru-baru ini menuai popularitas ketika photo dirinya dengan seorang pria dipublikasikan di internet. Inilah yang disebut dengan “era cybertainment”, yang kerap menghebohkan dan mengalihkan kesadaran warga atas kenaikan BBM serta kebutuhan pokok.

Kehebohan di dunia maya ternyata menguntungkan kebijakan pemerintah. Ada semacam peralihan konsentrasi rakyat terhadap peneluran kebijakan pemerintah yang tidak pro-rakyat. Efektivitas demonstrasi, yang dulu sempat menjadi senjata terakhir dalam menentang kebijakan pemerintah, kini seolah tak berfungsi efektif. Gerakan massa pun, dikalahkan gegap gempita gerakan-gerakan mayantara pada isu-isu narsistik, entertaint, selebrasi, dan hedonis.

Dalam bahasa lain, bangsa ini seolah tak peduli dengan penindasan struktural yang dilakukan di dunia nyata. Akibatnya, rancangan kebijakan pemerintah dapat melenggang tanpa melewati sensor kerakyatan karena kita asyik mengakses informasi yang menghebohkan itu.

Coba buktikan, seberapa ramaikah topic perbincangan di twitter yang mengangkat isu-isu kebijakan pemerintah yang tidak pro rakyat?  Saya menjamin, isu tersebut tidak akan direspon dan tidak marketable di mata pengguna, sehingga tak pernah menjadi “trending topic”. Realitas ini mengindikasikan generasi muda – karena notabene pemilik akun adalah kalangan muda – meminjam terminologi Paulo Freire, terjebak pada kesadaran magis dan bahkan kesadaran semu.

Mereka terninabobokan kehebatan arus informasi yang cenderung mengeksplorasi kenarsisan, keartisan, dan popularitas seseorang. Alhasil realitas keaslian hidup warga miskin direpresi ke alam bawah sadar.  Inilah konsekuensi telah merajalelanya cybertainment di dunia maya, di mana marketing khas keartisan merasuki internet untuk membuat kita amnesia. Melupakan penderitaan orang di sekitar, karena kita lama terbuai keindahan mayantara.

Padahal secara psikologis kepribadian mayantara merupakan manifestasi dari kehidupan asli dirinya di dunia nyata. Sigmund Freud, misalnya, menawarkan metode “asosiasi bebas” dalam menerapi pasiennya untuk menyembuhkan kesakita jiwanya. Dengan menerapkan langkah-langkah “katarsis diri”, apa yang ada dibalik jiwa individu dapat diekeluarkan ke permukaan alam sadar.

Dalam konteks berjejaring di situs social network, update status, upload photo, komentar, dan menulis catatan merupakan satu bentuk katarsis kejiwaan. Segala kekesalan, rumitnya persoalan hidup, dan suasana jiwa dapat dilihat dari profil pengguna jejaring sosial. Tak heran ketika Rahma Azhari membagikan link photonya di twitter, dan seorang fans member komentar “kurang hot”, ia kembali membalasnya dengan enteng, “Mau….? Upload nggak ya?!!!”.

Nah, ketika para pengguna internet lebih asyik menjelajahi kehidupan di dunia manyantara. Kemudian melupakan realitas asli penderitaan sesamanya di alam nyata. Hal itu merupakan satu bentuk represi semangat kemanusiaan – sebagai inti kehidupan – dengan menenggelamkannya di alam bawah sadar. Dalam posisi ini, kebijakan diskriminatif terhadap kalangan lemah dapat dikalahkan dengan popularitas yang hanya mengantarkan kenikmatan personal. Sehingga terbentuklah kesadaran magis dan kesadaran semu dalam diri setiap warga kota, yang berakibat pada langgengnya laku menindas dari aparat struktural negeri ini.

Mungkin, mengakhiri tulisan ini, kita sejatinya menggenjot diri agar memiliki kesadaran kritis (critical consciousness) ketika menggunakan, memanfaatkan, dan mengeksplorasi segala media yang hadir saat ini. Ketika kita tidak bersikap kritis terhadap informasi yang diberikan oleh media tentunya keaslian sebagai manusia akan tenggelam. Bukankah, keaslian diri sebagai manusia itu dalam agama dijelaskan “Individu yang bermanfaat bagi orang lain”? kalau begitu, manfaatkanlah media yang hadir di internet untuk kemashlahatan orang banyak. Wallahua’lam

7 February 2018

Mari Tumbuhkan Kesadaran Berpendidikan Pada Anak

Mari Tumbuhkan Kesadaran Berpendidikan Pada Anak

SEORANG ibu seyogyanya membekali diri dengan kesadaran sebagai pendidik anaknya sehingga mereka menjadi anak mandiri, sehat, ulet, bijaksana, dan berpikiran luas. Maka, Indonesia ke depan akan berada di posisi sejajar dengan Negara maju, kalau setiap ibu memiliki kualitas pemahaman sebagai agen pendidikan. Kualitas ibu seperti itu, dapat diperoleh dari berbagai sumber. Misalnya, menghadiri seminar tentang anak dan pendidikan, workshop, dan pelatihan. Kemudian mengakses informasi dari internet, buku, majalah, Koran, dan media lainnya. Dengan begini, wawasan luas tentang dunia anak dapat dijadikan acuan menggenjot mereka untuk terus belajar.

Tidak ada kesenjangan mengakses pengetahuan seputar dunia anak. Setiap orang dapat dengan mudah memperoleh informasi yang disediakan media. Maka, diharapkan ke depan, pihak pemerintah memerhatikan kesadaran dan pemahaman ibu dalam mendidik anak-anaknya. Ini dilakukan agar tercipta generasi yang dapat memajukan Indonesia. Dan, untuk mewujudkannya kita harus bekerja sama (baca: pemerintah, LSM, lembaga pendidikan, masyarakat) memberikan pemahaman kepada ibu-ibu dalam mendidik anak. Ibu sejati mampu membimbing anak-anaknya memaknai hidup, ibarat matahari yang menyinari tanpa berharap menerima kembali.

Seorang anak diarahkan agar termotivasi mengenyam pendidikan guna meraih cita-cita. Selain itu, seorang ibu juga seyogyanya menjaga kesehatan fisik anak dengan memberikan makanan yang bergizi. Wawasan seputar kesehatan dan perkembangan jiwa anak merupakan kewajiban seorang ibu. Kalau betul, kasih ibu sepanjang hayat dan “al-ummu madrasatun”; maka fungsi ibu dalam mendukung kemajuan bangsa ini mesti diberikan porsi di dunia pendidikan. Tanpa kepedulian atas kualitas pendidikan, kualitas bangsa di masa depan juga bakal terpuruk.

Negara-negara yang tergolong maju, begitu menekankan pentingnya kualitas pendidikan. Negeri Jepang, misalnya, meletakkan kepercayaan pada kualitas pendidikan yang didukung para ibu dan pemerintahan. Setiap anak di Jepang diberikan pendidikan dan bimbingan yang tak mematikan kreativitas. Hal ini dilakukan setelah Nagasaki dan Hirosima dibombardir Amerika Serikat. Bangsa Jepang sadar, bahwa kemajuan negaranya terletak di pundak generasi muda, yang saat itu hanya menyisakan anak-anak. Dan, kerja keras mereka mendidik anak dapat dirasakan setelah puluhan tahun.

Jadi, betul rasanya kalau disimpulkan anak merupakan investasi berharga bagi rancang bangunan sebuah Negara. Kemajuan dan kemunduran terletak pada kualitas pendidikan yang diberikan saat ini oleh lembaga pendidikan dan lingkungan keluarga. Semoga kita menyadari peran mendidik dan membimbing anak-anak agar mampu menjalani kehidupan masa depan yang penuh kompleksitas.

Ibu Itu Seperti Madrasah bagi Anaknya!

Ibu Itu Seperti Madrasah bagi Anaknya!

RENTANG masa perkembangan anak mestinya dipenuhi kegembiraan, sehingga berpengaruh positif bagi jiwanya. Akan tetapi, kecemasan dan ketakutan anak-anak sekarang hadir di mana-mana. Di sekolah, di jalanan, bahkan di rumah yang dihuni orang tuanya sekalipun. Kak Seto, dalam suatu kesempatan pernah mengklaim bahwa kekerasan terhadap anak yang dilakukan orang tua mencapai angka 80 persen. Saya pikir, ketika anak-anak akrab dengan kekerasan, ancaman kehilangan jati diri, kepercayaan, dan kemandirian dalam dirinya akan menghilang.

Maka, menciptakan lingkungan yang menentramkan anak-anak adalah keniscayaan yang tak bisa ditawar-tawar. Sebab, tanpa situasi tentram dan tenang; anak akan merasa tertekan sehingga berakibat pada terganggunya perkembangan jiwa. Jangan heran jika pribadi anak di masa mendatang akan memantulkan laku yang keras dan otoriter. Ia akan berubah jadi warga keras, tidak toleran, pendendam, dan antisosial. Bahkan, fanatisme berlebihan terhadap keyakinannya sehingga menyelesaikan konflik dengan cara-cara yang mengarah pada kekerasan.

Kekerasan terhadap anak secara fisik atau psikis, adalah perilaku masyarakat jahiliyah dan tidak berbudaya. Melakukan kekerasan sangat berbahaya bagi perkembangan jiwa anak dan harus kita redam. Mencaci, berkata-kata kotor, tidak sopan, dan menjewer anak akan membentuknya jadi seorang anak yang tidak disiplin. Paling berbahaya lagi, kekerasan fisik dan psikis terhadap anak akan melahirkan suatu generasi yang menyelesaikan sengketa dengan kekerasan juga.

Ibu dan lembaga pendidikan memiliki peran yang hampir sama dalam dunia anak-anak. Setiap anak yang lahir ke muka bumi, tak bisa melepaskan diri dari dua penentu kehidupan tersebut. Seorang ibu mengandung, melahirkan, membimbing, dan mendidik anaknya hingga dapat hidup mandiri. Pun demikian dengan pendidikan. Hampir sama dengan peran seorang ibu; lembaga pendidikan di tiap jenjang (SD, SMP, SMA, dan Perguruan Tinggi) juga berharap mewujudnya kemandirian pada setiap anak didik.

Tak salah kiranya keberhasilan warga negeri ini mengenyam pendidikan hingga perguruan tinggi, ditentukan tingkat kepedulian seorang Ibu atas dunia pendidikan. Dengan kasih dan sayangnya, seorang anak merasakan ketenangan dan ketentraman ketika mengarungi hidup. Betapa besar peran ibu dalam kehidupan seorang anak, hingga ada pepatah mengatakan, al-ummu madrasatun (ibu adalah tempat belajar atau sekolah).

Sekolah di sini artinya ialah pendidikan informal yang memengaruhi karakter, kepribadian, wawasan, life skill dan sikap hidup seorang anak di masa mendatang. Karena itu, semangat belajar seorang anak terletak pada kepedulian ibunya terhadap pendidikan. Peran ibu bagi anaknya bagaikan akar pohon yang menumbuhkan pepohonan hingga tinggi menjulang.

Kebaikan sikap, pengetahuan luas, dan kebijaksanaan seorang anak di masa depan – dalam perspektif behaviorisme – ditentukan lingkungan keluarga. Dalam hal ini, seorang ibu adalah lingkungan pertama yang menentukan kultur, psikologi, keberagamaan, interaksi sosial dan wawasan-pengetahuan anak. Pun begitu, sebagai lingkungan terdekat dengan anak, seorang ibu juga menentukan pandangan anak terhadap pentingnya menimba ilmu di lembaga pendidikan.

Karena itu, menjadi keniscayaan bagi seorang ibu memperkaya anaknya tentang wawasan pendidikan. Sebab – tanpa menapikan peran seorang Ayah – yang paling banyak berinteraksi dengan anaknya ialah sang ibu. Mendidik dan membimbing anak bagi seorang ibu merupakan misi suci yang harus dipegang kuat dalam paradigma pendidikan di rumahnya. Rasulullah Saw. pernah menjawab pertanyaan sahabat tentang siapa yang wajib ditaati dan diprioritaskan dalam hidup dengan menyebut tiga kali kata “ibu” lebih banyak ketimbang kata “ayah”.

8 April 2010

Taman Baca yang Asyik!

Taman Baca yang Asyik!

Kampung belajar dirancang sejak 2007 dan baru terwujud tahun 2008.  Sedikitnya ada delapan metode peningkatan belajar masyarakat, seperti aktivitas membaca, menulis, nonton film, berceritera, pengenalan alam termasuk flora dan fauna, lomba, out bound dan keterampilan. emua kegiatan itu dilakukan dengan pendekatan informal. Kampung Belajar juga membimbing anak yang sudah sekolah tetapi belum bisa membaca.