Showing posts with label Pendidikan. Show all posts
Showing posts with label Pendidikan. Show all posts

17 December 2018

Pendidikan, Jembatan Masa Depan Anak Bangsa

Pendidikan, Jembatan Masa Depan Anak Bangsa


Saya terenyuh dan miris membaca berita tentang perjuangan dan semangat lima siswa SD di daerah pedalaman. Mereka harus menyebrangi sungai untuk sampai ke sekolah karena dipisahkan sungai. Seperti diungkapkan anak-anak di dalam sebuah acara televisi, “Sekolah adalah jembatan masa depan yang akan mengantarkan aku menggapai cita-cita”. Kalimat ini seolah menggiring kesadaran kita bahwa sekolah adalah ruh peradaban yang mesti dijaga keberlangsungannya. Kalimat yang sarat akan petatah-petitih tersebut, merangsek masuk ke aras jiwa dan membuka katup cakrawala pemahaman. Bahwa tanpa sekolah – peradaban masa depan bangsa yang terletak di pundak generasi muda – tentunya akan porak-poranda.

Di Kabupaten Ciamis, Jawa Barat, ada juga puluhan siswa SMP yang mesti berjalan tujuh kilo meter untuk sampai ke sekolah. Semangat tanpa kenal lelah karena harus menghabiskan jatah waktu sekira 2,5 jam untuk sampai ke sekolah mirip dengan usaha mendorong batu besar yang dilakukan Sisifus, tokoh dalam mitologi Yunani. Ia (Sisifus) setiap hari harus mendorong batu besar ke puncak gunung. Sebelum sampai ke puncak, Sisifus harus kembali melihat batu itu menggelinding ke kaki gunung meninggalkannya sendirian. Ia pun kembali berjalan ke kaki gunung hendak membawa batu besar itu. Begitulah seterusnya! Ia harus sedemikian rela melakukannya karena sedang menjalani proses hukuman yang dibebankan para dewa.

Namun, anak bangsa di daerah pelosok itu tidak sedang menjalani proses hukuman dari sang dewa. Ini semua terjadi akibat tidak tersedianya akses pelayanan publik di pedesaan yang kebanyakan terisolasi sehingga menjadikan mereka harus serba kekurangan dan berposisi sama seperti Sisifus. Mereka berjalan sejauh tujuh kilo meter dan berenang mengarungi derasnya air sungai untuk menunaikan tugas sebagai manusia yang mesti berilmu, berwawasan luas, dan berkepribadian luhung. Maka ketika jauhnya jarak dan aneka macam bahaya menghadang mereka, tak membuat mereka berputus asa dan kehilangan semangat berpendidikan. Mereka yakin bahwa berjalan bolak-balik sejauh belasan kilo meter dan menyebrangi sungai ialah awal menggapai cita-cita.

Dengan membangun jembatan atau mengadakan angkutan pedesaan, umpamanya, mereka yang terisolasi dan marjinal akan secepat kilat menggapai indahnya cita-cita. Maka, saya pikir merehabilitasi sekolah, menyediakan angkutan pedesaan, dan mengaspal jalan yang berlobang adalah medium komunikasi dialog kritis-emansipatoris dalam menghantarkan mereka mewujudkan cita-cita. Menyediakan sarana dan prasarana sekolah yang representatif, saya pikir sebuah usaha pembebasan yang menjabarkan kata-kata menjadi sebuah tindakan nyata.

Paulo Freire (Pedagogy of The Opressed, 1972) mengatakan, tidak ada kata sejati yang pada saat bersamaan nihil dari dunia praksis. Ia menegaskan, bahwa sebuah kata sejati adalah kemampuan mengubah dunia. Sebab praksis adalah penyatuan antara tindakan dan refleksi atau kesatupaduan antara kata dengan karya sehingga menghasilkan usaha-usaha praksis pembebasan.

Di Indonesia masih banyak anak ndeso yang mengharapkan belas kasih yang tidak hanya tersimpan di racauan mulut. Fenomena seperti ini bagaikan gunung es, di mana hanya terlihat bagian kecilnya saja. Padahal, jika ditelisik sampai ke seluruh Indonesia , anak-anak yang bernasib sama dengan mereka sangat banyak. Andai saja pemerintahan tidak mempasilitasi mereka dengan sarana dan prasarana sekolah yang representatif dan pelbagai alat penghantarnya, sama saja membunuh penantian futuristik mereka untuk mengangkat dirinya dari jurang keterpurukan harkat dan martabat.

Pendidikan ialah investasi peradaban bangsa di masa mendatang. Indonesia dengan jumlah penduduk sekitar 230 juta jiwa lebih, yang terdiri dari generasi muda sebagai cikal bakal pemimpin masa depan berpotensi besar menjadikan negeri adil dan makmur. Namun, realitas pendidikan di Indonesia saat ini agak mengkhawatirkan, di mana jumlah siswa miskin di Indonesia hampir mencapai 50 juta. Jumlah tersebut terdiri dari 27,7 juta siswa di bangku tingkat SD, 10 juta siswa tingkat SMP, dan 7 juta siswa setingkat SMA. Dari jumlah itu, sedikitnya ada sekitar 2,7 juta siswa tingkat SD dan 2 juta siswa setingkat SMP yang terancam putus sekolah.

Hal itu berimplikasi terhadap pembangunan di negeri Indonesia. Dalam Human Development Raport (HDR) dari United Nation Development Programme (UNDP) menutup angka Human Development Index ( HDI) Indonesia tahun 2010 di posisi 108 dengan angka 0.600 dari 169 negara yang disurvei. Angka ini menunjukkan bahwa sumber daya manusia Indonesia masih memperihatin jika tidak mau dikatakan terbelakang. Pembangunan infrastruktur yang dilakukan pemerintah di sebuah daerah, misalnya, tanpa ketersediaan SDM tentunya pembangunan tidak akan menciptakan pertumbuhan positif.

Ada beberapa alasan yang menyebabkan 80 persen jumlah anak putus sekolah, yaitu : kesulitan ekonomi (baik yang tidak punya dana untuk beli pakaian seragam, buku, transport) atau kesulitan ekonomi keluarga (anak-anak bekerja sehingga tidak mungkin bersekolah). Selain itu, faktor eko-geografis karena berada di daerah pedalaman yang jarak sekolah dengan rumah jauh. Untuk menciptakan akses pendidikan untuk semua kalangan (education for all) diperlukan kebijakan strategis melalui penuntasan wajib belajar dasar 9 tahun. Pelaksanaan wajib belajar itu ditangani secara lokal kabupaten sehingga lebih memudahkan pengelolaannya.

Dengan memerhatikan dunia pendidikan anak-anak, sebetulnya kita tengah berinvestasi bagi masa depan Indonesia yang lebih baik. Tugas kita bersama, para stakeholders untuk menciptakan pendidikan berkualitas, dengan ketersediaan sarana dan prasarana pendidikan yang baik, serta tenaga pengajar (guru) yang telah memenuhi standar kualitas, baik dari sisi wawasan, ilmu, dan kesejahteraan hidupnya. Mari kita jadikan pendidikan sebagai jembatan masa depan anak bangsa, sehingga mereka mampu menghadapi kompleksitas kehidupan di masa mendatang. Wallahua’lam

30 November 2018

Sudahkah Jadi Pendidikan Pancasilais?

Sudahkah Jadi Pendidikan Pancasilais?



Realitas pendidikan bangsa seolah tak kunjung membaik. Cobalah kita tengok ke pelosok daerah. Dengan sangat mudah akan menemukan anak-anak usia sekolah yang bekerja guna meringankan beban orang tua. Ketika anak lain seusia dengannya sedang menikmati masa bermain dan berpendidikan, mereka harus rela menggadaikannya dengan meninggalkan sekolah. Memang tidak semua anak bangsa seperti ini.

Orang tua mereka resah dan gelisah menghadapi masa depan anaknya. Kendati sekolah hingga perguruan tinggi, kini hal itu tidak menjadi jaminan masa depan yang lebih baik sebab pemerintah belum mampu menyediakan lapangan pekerjaan yang layak. Malahan, sejak abad 21 ini lahir istilah “pengangguran terdidik”, untuk menyebut masyarakat berpendidikan yang tak memiliki pekerjaan tetap. Tak heran sebagian warga miskin beralasan: menyekolahkan anaknya, tidak akan mengubah garis kemiskinan mereka. Jangan heran juga lahir pesimisme, “ngapaian sekolah” mending juga “bekerja membantu orang tua” daripada selepas sekolah tak kunjung mendapatkan kerja. 

Memang betul bila dana BOS dikucurkan, namun hal ini belum mengubah akses rakyat memeroleh pendidikan murah, mudah, dan berkualitas. Pasalnya, biaya tak mencukupi untuk membayar pendaftaran, bangunan; atau membeli seragam, tas, alat tulis dan buku. Inilah realitas pendidikan di negeri nan kaya raya, sekolah negeri (milik pemerintah) tidak lagi murah-meriah, lebih pas disebut sekolah mahal-meriah. Warga miskin terpinggir harus puas hanya dapat melanjutkan ke sekolah yang tak diperhitungkan, bahkan terkesan asal-asalan.

Selebihnya, tak banyak yang beralasan kalau melanjutkan sekolah guna memeroleh ilmu, meluaskan wawasan, dan membentuk diri menjadi manusia bijaksana. Bahkan hanya hitungan persen, yang mencoba mendirikan usaha mandiri. Di negeri ini – karena alasan biaya mahal – untuk dapat bertahan hidup, mereka rela membuang harapan futuristik sang anak, guna mengeluarkan keluarganya dari jerat kemiskinan dengan tidak bersekolah.

Pendidikan

Lantas, mau menjadi apa bangsa ini ke depan? Apabila sekolah tidak lagi dipandang sebagai sesuatu yang urgen. Mau menjadi apa bangsa ini di masa depan? Apabila kita merecoki ikhwal sistem pendidikan dengan standar Ujian Nasional (UN), tanpa memberikan rasa aman kepada warga Indonesia dengan menyediakan lapangan kerja. Terakhir, mau menjadi apa bangsa ini di masa mendatang? Apabila pemimpin negeri ini tak menempatkan pendidikan sebagai panglima peradaban.

Semangat belajar anak bangsa merupakan “daya gugah” yang mampu menciptakan stamina kebudayaan kita hingga peradaban di Indonesia menggeliat bangkit. Apalagi untuk anak-anak. Tentunya harapan dan keinginan melanjutkan sekolah ke jenjang lebih tinggi mesti diakomodasi dan diaplikasikan secara praktis. Sebab, mereka adalah bagian dari bangsa yang sangat mengidamkan kebahagiaan hidup dan dipenuhi aneka penantian futuristik.

Orang yang puas dengan masa kini tidaklah memiliki penantian futuristik. Puas dengan kemiskinan, puas dengan kejumudan, puas dengan kondisi saat ini, saya pikir terkategori manusia konservatif. Mengapa demikian? Sebab, ia takut atas masa depan dan khawatir atas segala peristiwa yang terjadi. Ia lebih menyukai status quo dan mencoba mempertahankannya. Membiarkan mereka hanya menikmati kekayaan alam (SDA) tanpa bisa menikmatinya, adalah kejahatan terselubung. Karena itu, semestinya pemerintah  mulai mengevaluasi kinerja ketika gejala ketidakmerataan hak berpendidikan di pelosok meruak ke permukaan.

Jangan menjadikan vox vopuli vox dei (suara rakyat, suara Tuhan) hanyalah bualan sloganistis tak membumi ke dalam laku politik. Dalam konteks keindonesiaan tentunya masih banyak anak ndeso yang mengharapkan belas kasih yang tidak hanya tersimpan di racauan mulut. Fenomena seperti ini juga bagaikan gunung es, karena hanya terlihat bagian kecilnya saja. Padahal, jika ditelisik sampai ke seluruh wilayah di Indonesia, anak-anak yang bernasib sama (tidak mampu mengakses pendidikan) sangatlah banyak.

Bangsa yang mementingkan pendidikan anak-anaknya di atas kepentingan material telah memberikan ajaran etis “bagaimana mencari kerja”. Tidak seperti ajaran-ajaran dogmatis yang mencerca dosa tetapi melupakan inti moralitas dan etika dalam sebuah proses panjang pendidikan manusia. Ketika bangsa tak hanya menghafal pelajaran – melainkan hingga memahami – saya pikir terhampar masa depan indah gemilang di kehidupan mendatang anak-anak bangsa.

Pancasilais atau pancasialkah?

Daniel Dhakidae (1979) menulis, “Ideologi adalah alam pikiran, bukan sanjungan dalam madah puja-pujian. Ideologi adalah sikap dan prinsip hidup. Dan, sejarah menunjukkan bahwa hampir semua ideologi yang hidup di Nusantara bertumbuh dari jenis ideologi penantang, termasuk pancasila” (Jurnal Prisma, 08/08/1979). Dia menyimpulkan pancasila sebagai ideologi sejatinya terbenam dalam jiwa sehingga membentuk sikap dan prinsip hidup. Persoalan kini, pancasila ditetapkan sebagai ideologi NKRI-pemerintah, yang dicurigai hanya menempatkan butir-butir pancasila sebagai sesuatu yang patut dipuja-puji selangit. Tetapi mereka lupa: disamping puja dan puji, nilai yang dikandung pancasila luput dari kesadaran alam pikir.

Dalam bahasa lain, pancasila menjadi ideologi mapan, dan berhadapan dengan ideologi-ideologi yang terserak di Nusantara untuk menggulingkannya. Pada kalimat akhir, Daniel Dhakidae, menjelaskan bahwa secara historik, sebuah ideologi, termasuk pancasila, lahir karena ada gugatan dan penentangan rakyat atas ideologi mapan. Ini artinya, ketika pancasila telah menjadi bagian dari kemapaman, dan rakyat tidak merasa puas dengan efek samping bagi pejabat dalam bernegara, boleh jadi akan memicu kemunculan ideologi-ideologi baru.

Kasarnya, pancasila terancam menjadi seonggok landasan negara yang tersingkirkan dari negara, seperti halnya – dalam catatan historik – bahwa pancasila pernah menggulingkan ideologi kolonialisme kaum penjajah yang tengah berkuasa. Apabila pancasila tidak ingin terpinggir di negeri ini, para pemangku amanat negara wajib menjadikan pancasila sebagai landasan menerapkan kebijakan, termasuk kebijakan pendidikan bagi kalangan miskin.

W.S Rendra berteriak, “Siallah pendidikan yang aku terima” dalam bait-bait Sajak Gadis dan Majikan, “diajar aku berghitung, mengetik, bahasa asing, dan tata cara”. “Tetapi...” lanjutnya, “lupa diajarkan: bila dipeluk majikan dari belakang/lalu sikapku bagaimana!”. Dia melanjutkannya “Mereka ajarkan aku membenci dosa/ tetapi lupa mereka ajarkan bagaimana mencari kerja.” Karena itulah, jangan jadikan “pancasila” sebagai “pancasial” yang menutup potensi bangsa ini untuk merangkai masa depan. Pendidikan kalau hanya dijadikan projek kelompok atau pribadi, pantas disebut “pendidikan pancasialis”, bukan “pendidikan pancasilais”. Seperti dibilang Rendra, ajarkanlah “bagaimana mencari kerja” bukan “pokoknya gue harus kerja”.

29 November 2018

Membaca Kunci Peradaban

Membaca Kunci Peradaban

“ The man who does not read good books  has no advantage over the man who cannot read them “ (orang yang tidak membaca buku bagus tak ada bedanya dengan mereka yang tak bisa membacanya) -Mark Twain-

Pada dasarnya manusia terlahir dalam keadaan tidak tahu. Kemudian, lahir proses pencarian hingga mengantarkannya pada pengetahuan tentang segala sesuatu. Salah satu pencarian tersebut terdapat dalam aktivitas membaca.

Ungkapan Mark Twain di atas sangat jelas, membaca merupakan kewajiban umat manusia yang berperadaban. Ketika kita tak menyukai aktivitas membaca padahal mampu melakukan, posisinya sama dengan orang yang buta huruf. Sederhananya, kalau ingin mengetahui sebuah Negara atau pemikiran seseorang, kita tidak perlu mengunjungi Negara atau orang tersebut, tetapi bisa mengetahui lewat karya tulis yang dibuatnya.

Membaca tidak hanya identik dengan buku, ataupun karya orang lain dalam bentuk tulisan, akan tetapi saat kita memperhatikan keadan terus memikirkanya itupun sudah dikatakan membaca yaitu dengan cara membaca situasi dan keadaan. Kalau dikaitkan membaca dengan peradaban, tentunya tidak bisa lepas dari kebudayaan. Sebab kebudayaan melahirkan peradaban. Pun sebaliknya, peradaban adakalanya melahirkan kebudayaan.

Seperti dijelaskan Selo Soemardjan dan Soelaeman, kebudayaan ialah karya, rasa, dan cipta manusia. Sedangkan peradaban lebih pada kemajuan dan kesempurnaan. Jelasnya peradaban identik dengan kemajuan yang dihasilkan kebudayaan. Apabila kita hubungkan dengan membaca, sangat erat kaitannya. Karena semua karya, baik itu lisan maupun tulisan akan diketahui dengan membaca. Dan dari budaya membaca ini, setiap manusia berusaha mengukir peradabannya.

Betul apabila ada yang mengatakan, membaca merupakan kunci peradaban dan buku sebagai gudang peradaban. Berdasarkan pengalaman, membaca memiliki nilai dan pengaruh pada sikap seseorang. Ketika seorang anak (sebut saja si A) dididik semenjak usia dini untuk membaca, itu akan berbeda dengan si B yang tidak dididik untuk membaca. Tidaklah heran kalau ada anak usia tujuh tahun sampai hapal Al-Qur’an. Itu terjadi karena adanya aktivitas membaca, sehingga membuat anak tersebut menghafalnya.

Proses membaca akan mengubah dan merubah pola pikir setiap orang, tanpa memandang usia. Sehingga pempukan gizi intelektual merupakan langkah awal  dari tidak tahu menjadi tahu  salah satunya dengan membaca. Untuk menunjang aktivitas membaca  harus ada instrument (pelengkap) yang mendukung, seperti perpustakaan, taman baca, dan sebagainya.
Kehadiran Kampung Belajar yang digagas Roni Tabroni dkk, merupakan bentuk kerja suci dari segelintir anak muda negeri ini. Dengan menjadikan Kampung Belajar sebagai daerah binaan, ke depan diharapkan akan melahirkan tradisi membaca di kalangan masyarakat marjinal. Dengan memudahkan akses mereka membaca buku, itu cikal bakal melahirkan peradaban gemilang di masa mendatang. Wallahu’alam
Kekerasan Remaja Masa Kini

Kekerasan Remaja Masa Kini

Masa remaja sering disebut sebagai masa ”storm and stress”, di mana pada masa ini mereka sedang menghadapi persoalan pencarian identitas yang rumit. Dengan kompleksitas permasalahan identitas inilah, tak heran apabila remaja banyak yang terjerumus pada pergaulan tanpa batas. Salah satu bukti berbahaya adalah keikutsertaan mereka dalam sebuah kelompok yang populer disebut geng, di mana mereka banyak menampakkan kekerasan yang meresahkan masyarakat.

Geng motor XTC dan Brigez, misalnya, merupakan fenomena sosial yang mencerminkan kepribadian remaja banyak meluapkan agresivitas, sadisme, dan antisosial. Tak hanya pada geng motor saja, di Kota Bandung juga sekarang marak sekelompok remaja yang bergabung dengan suporter Viking, dan sering melakukan hal-hal yang bertentangan dengan norma-norma sosial yang berlaku di masyarakat.

Bisa disaksikan sendiri ketika tim kesayangan mereka, Persib Maung Bandung, bermain di stadion Jalak Harupat. Sudah dapat dipastikan kalau jalanan akan macet dan terdengar suara knalpot motor yang meraung-raung yang mengganggu kenyamanan pengguna jalan lain. Apalagi kalau tim kesayangan mereka kalah telak, kekesalan bobotoh akan dilampiaskan secara membabi buta pada toko-toko yang berada di pinggir jalan raya.

Dari fenomena kenakalan remaja itulah, penulis hendak menganalisisnya dari pendekatan psikologi aliran psikoanalisa yang digawangi Erich Fromm. Kenapa penulis memilih tokoh ini, bukan Sigmund Freud? Karena ada cita rasa berbeda yang ditemukan dalam pemikiran dan gagasan tentang kepribadian yang ditawarkan Erich Fromm. Dia memandang kepribadian manusia bukan hanya luap ”libido seksual”, seperti yang diungkapkan Sigmund Freud. Tetapi, lebih dari itu.

Kepribadian manusia ditentukan oleh situasi kemanusiaan (human condition) yang berlaku sepanjang hidupnya. Human condition dalam perspektif Erich Fromm merupakan kekhususan yang terjadi pada diri manusia dan dialaminya semata-mata dalam taraf manusiawi, dan sebagai karakteristik eksistensi manusia.

Menurut Erich Fromm, manusia berlainan dengan hewan. Sejak lahir manusia dilengkapi seperangkat kemampuan naluriah yang ”siap pakai” untuk bertahan hidup dan menyesuaikan diri dengan lingkungannya. Namun, secara biologis manusia merupakan makhluk yang lemah. Sehingga yang diperlukan untuk tetap survive dalam kehidupannya adalah memanfaatkan kemampuan yang luar biasa dalam dirinya.

Erich Fromm dalam buku berjudul Man for Himself, menyebutkan tiga kemampuan khas insani yang membedakan manusia dengan hewan, yakni: kesadaran diri (self awareness), akal budi (reason), dan daya khayali (imagination). Setiap kemampuan manusiawi tersebut berperan dalam membentuk kepribadian seorang manusia. Pun begitu dengan remaja. Ketika kesadaran diri, akal budi, dan daya khayali tidak dapat digunakan untuk mengembangkan kepribadian yang positif, tentunya akan menyebabkan seorang remaja memegang teguh kepribadian yang tak berkualitas.

Remaja sejati, ialah seorang manusia yang mampu sadar diri, berakal budi, dan memiliki imajinasi yang luas...seluas samudera di lautan. Bahkan, harus lebih........!

28 November 2018

"Fatihah" Bencana

"Fatihah" Bencana

SILIH bergantinya bencana di bumi Indonesia, kendati tidak sehebat gempa di Jawa Barat, Padang, dan Tsunami di Aceh; bukan berarti optimisme hidup kita mesti berhenti. Masih segar dalam ingatan kolektif, longsor di Kabupaten Bandung beberapa minggu ke belakang. Beberapa hari ini, guyuran hujan lebat dibarengi kilatan petir dan gemuruh angin juga, sejatinya tak membuat kita dipenuhi kegelisahan dan putus asa. Bencana, dalam doktrin ajaran Islam, ialah ”kiamat shugra” yang dapat menyadarkan kita ikhwal substansi kehidupan yang kerap kita abaikan.

Bencana dalam kehidupan dapat berfungsi sebagai pemantik kesadaran ekologis sekaligus kesadaran teologis dalam diri umat manusia. Kesadaran yang sempat mengendap menjadi reflika tak tersentuh refleksi itu, ketika bencana ujug-ujug muncul ke alam sadar tanpa kendali. Adakah perilaku destruktif umat manusia yang mengakibatkan alam kembali menyemburkan aneka bencana?

Pakar sufisme, Seyyed Hossein Nasr, dalam buku “The Garden of Truth; Mereguk Sari Tasawuf” (Mizan, 2010) mengetengahkan penafsiran maknawi terhadap surah al-Fatihah. Surah Al-Quran yang sering dibaca minimal 17 kali oleh umat Islam tersebut, katanya, mengandung konsep tauhid yang bersifat ekologis. Manusia yang menyadari bahwa Tuhan pencipta alam raya, ia akan memahami hubungan yang dibina dengan alam haruslah bersifat keilahiyan. Ini artinya, memosisikan alam sejajar dengan eksistensi dirinya sebagai makhluk Tuhan yang perlu dihormati.

Kesadaran eco(teo)logis

Pendapat Seyyed Hossein Nasr itu berpijak pada kalimat “alhamdulillahi rabbi al-alamin” dalam surah al-Fatihah sebagai inti pentingnya kesadaran ekologis yang bersifat ilahiyah (eco-teologis). Kalimat pujian “alhamdulillah” kemudian dilanjutkan dengan kalimat “rabbi al-alamin” menunjukkan umat manusia sejatinya menempatkan alam sebagai bagian dari-Nya. Sebab “rabbi al-alamin” secara etimologis berarti: pemelihara, penjaga, atau laiknya ibu yang melahirkan alam ini. Menghormati alam berarti menghormati sang pemelihara, sang pemilik atau sang penjaga alam (Allah).

Namun, keserakahan umat manusia menyebabkan alam ini mulai mengidap kesakitan di setiap rusuk, sehingga ekosistem tidak berjalan seimbang. Ketika musim hujan tiba, tumpukan sampah mengakibatkan aliran air tak mengalir di tempat semestinya. Alhasil, banjir dan longsor tentunya merebak pada musim ini sebagai pemantik kesadaran kita bahwa mesti mewaspadai labilitas topografi alam. Seandainya surah al-Fatihah dipahami secara maknawi oleh ratusan juta umat Islam Indonesia. Entah itu oleh pejabat, tokoh masyarakat, rakyat, agamawan, dan yang lainnya. Di dalamnya ada pemantik yang siap menyalakan kesadaran umat manusia: membina hubungan yang harmonis dengan alam adalah misi suci ajaran Islam.

Di kedalaman jiwa umat manusia tersimpan reflika kesadaran yang terpendam. Tuhan, sang pemilik alam raya, sebelum umat manusia lahir ke muka bumi meniupkan ruh “kesadaran” untuk berelasi seharmonis mungkin dengan alam sekitar. Namun, karena syahwat atau nafsu keserakahan sedemikian kuat dalam diri manusia akhirnya kesadaran tersebut terpendam, kemudian menghilang. Manusia, pada posisi ini, mengagungkan peradaban material sehingga alam menjadi objek eksploitasi “seksis” yang berujung pada kerusakan ekologis.

Tugas suci kita, sebagai makluk-Nya adalah memperjuangkan ide, harapan, cita-cita, resolusi diri, dan imajinasi kesejahteraan bangsa agar mewujud dalam bentuk nyata. Dalam bahasa lain, memungut kembali ”reflika kesadaran” sebagai manusia berkesadaran ekologis harus mulai dicamkan tanpa henti di sanubari. Bukan lantas menjadi angan yang bersifat fana dan tiada. Apalagi di tengah ketidakseimbangan ekosistem, cuaca yang tak terprediksi, bencana alam terjadi di hampir setiap daerah; kita sejatinya bahu membahu membenahi ”relasi tak seimbang” untuk menghormati saudara kita (alam sekitar).

Peradaban

Indonesia memiliki potensi besar menjadi negara hebat di dunia kalau ditopang dengan konstruksi peradaban utama. Tentunya tanpa mengabaikan tradisi ketimuran (misalnya local wisdom, spiritualitas dan immaterial), peradaban yang kita bangun sejatinya tak bersifat eksploitatif dan dekonstruktif.

Dalam upaya mewujudkan peradaban utama, ormas dan tokoh Islam sepatutnya mengejawantahkan visi pembebasan. Ketika pengrusakan alam merajalela, agama sejatinya memberikan advokasi yang membebaskan alam dari tangan-tangan tak bertangungjawab manusia. Al-quran, khususnya surah Al-Fatihah, me­negaskan individu harus berterima kasih atas pemberian alam oleh Tuhan dalam kehidupan ini. ”Fatihah bencana” bagi kita ialah melakukan pendobrakan atas logika pembangunan bangsa ini dari yang mengeksploitasi alam ke arah logika pemeliharaan agar pembangunan menjadi berkelanjutan (sustainable).

Kesadaran seperti itulah yang sepatutnya kita punguti bersama. Tuhan menempatkan manusia sebagai faktor penentu kelahiran sebuah perubahan dalam se­jarah kehidupan. Hancur dan bangkitnya peradaban manusia ditentukan sikap, mental, dan paradigma yang kita bangun dalam menggulirkan pembangunan. Karena itu, sebuah keniscayaan bagi umat manusia kembali meresapi tujuan diciptakan dirinya ke muka bumi.

Selain menebarkan benih ”rahmat” bagi alam sekitar (rahmatan lil alamin), dalam surah Al-Fatihah tujuan kita diciptakan ialah bersyukur atas pemberian-Nya berupa alam (alhamdulillahi rabbi al-alamin), di mana hidup kita bergantung kepadanya. Tak heran jika Tuhan sangat mencela manusia yang melakukan pembunuhan (terhadap manusia) dan merusak (alam sekitar). Wallahua’lam