Showing posts with label Renungan. Show all posts
Showing posts with label Renungan. Show all posts

17 December 2018

Tahun Baru, Hidup Harus Lebih Baru

Tahun Baru, Hidup Harus Lebih Baru


Tahun baru Masehi bagi saya tidak hanya pesta sesaat dengan meniup terompet dan menyalakan kembang api di tempat-tempat keramaian. Tahun baru bagi saya ialah awal menggantungkan harapan hidup untuk menjadi lebih baik lagi. Harapan hidup ialah modal, capital, mesin, dan daya luar biasa yang mampu menggerakkan aktivitas kita. Ketika tak ada satu pun harapan yang kita susun dalam hidup ini, saya jamin Anda tidak akan lagi betah mengarungi hidup ini. Anda akan putus asa, lemah, tak bersemangat, dan memahami bahwa hidup tak layak dijalani.

Tahun baru diawali dengan nama dewa Janus, yang memiliki dua kepala. Yang satu menghadap ke depan. Satunya lagi mengarah ke belakang. Ini artinya ketika mendekati bulan Januari, kita sejatinya melakukan refleksi diri ikhwal kehidupan yang telah dan akan kita jalani. Masa lalu, memang telah terjadi dan tidak mungkin lagi kembali. Masa depan tidak mungkin terjadi kalau harapan kita tidak ada sama sekali.

Jadi, susunlah harapan untuk memodali semangat hidup kita. Sesekali melihatlah ke belakang untuk dipelajari agar ke depan kesalahan yang pernah kita lakukan tidak terjadi lagi. Tahun Baru, harapan pun harus lebih baru. Setuju bro!
Memberi Itu Harus Memberdayakan

Memberi Itu Harus Memberdayakan

“Hai orang-orang beriman, janganlah kamu menghilangkan (pahala) sedekahmu dengan menyebut-nyebutnya dan menyakiti (perasaan si penerima), seperti orang yang menafkahkan hartanya karena ria kepada manusia dan dia tidak beriman kepada Allah dan hari kemudian. Maka perumpamaan orang itu seperti batu licin yang di atasnya ada tanah, kemudian batu itu ditimpa hujan lebat, lalu menjadilah dia bersih (tidak bertanah). Mereka tidak menguasai sesuatu pun dari apa yang mereka usahakan; dan Allah tidak memberi petunjuk kepada orang-orang yang kafir,”  (QS. Al-Baqarah [2]: 264).

PERILAKU mulia nan indah tapi serasa sulit dilaksanakan ialah “memberi”. Berbeda dengan menerima. Setiap orang pasti berebut bila saja mengurusi segala hal yang berkaitan dengan penerimaan. Entah itu ketika menerima jabatan, harta kekayaan, atau materi yang disedekahkan orang lain.

Di dalam Islam, amal kebajikan yang tinggi ialah praktik memberi melalui perintah zakat, infaq dan sedekah. Bahkan, memberi tidak harus menunggu kita menjadi orang yang kaya raya. Ini telah dicontohkan oleh panutan umat Islam, Rasulullah SAW, sepanjang hayatnya. Betapa tidak, saking gemarnya memberi, baginda Rasulullah sampai menangis saat menyaksikan seorang yatim dan miskin terlantar di jalanan. Beliau pun dengan sigap langsung menawarkan istrinya, Aisyah, untuk menjadi ibu angkat bagi anak yatim yang terlantar tadi.

Bahkan, tak jarang demi kegiatan memberi ini, Rasulullah SAW rela mengganjal perutnya dengan batu kerikil untuk menahan lapar. Padahal, manusia sekelas Nabi, bukan tak punya makanan. Tetapi makanan itu diberikan kepada fakir miskin.

Di dalam ayat di atas, setinggi apa pun keinginan untuk memberi tetap saja kita sebagai pemberi perlu mengindahkan perasaan hati si penerima. Memberi dengan cara menghardik atau memamer-mamerkan apa yang telah kita berikan merupakan perilaku yang dapat mengundang rasa sakit hati si penerima. Karena itu, alangkah bijaksana apabila memberi dilakukan dengan niat ikhlas, menolong orang ke luar dari rasa sedih, khawatir, dan resah. Inilah yang membuat perilaku memberi menjadi tidak mudah. Sebab, sedikit saja tergelincir dari niat, kita malah akan terjebak pada perilaku riya (ingin terlihat baik oleh orang lain).

Praktik memberi laksana matahari menyinari bumi. Bayangkan, dengan cahayanya yang kadang terasa menyengat, matahari melepaskan seluruh makhluk bumi dari ancaman kematian. Tanpa matahari, alam semesta akan kehilangan energi yang mampu memberikan kekuatan untuk bergerak. Hebatnya, sebanyak apa pun matahari melepaskan cahayanya, ia tak pernah meminta balasan.

Dalam konteks filantrofis, maka si penerima, kurang pantas jika menolak pemberian orang atau meminta lebih dari apa yang orang lain berikan. Sebab, menolak rezeki lewat tangan orang lain juga tidak disukai oleh Rasulullah. “Janganlah me­nolak permintaan seseorang, walaupun kamu melihatnya memakai se­pasang gelang emas,” begitulah salah satu sabda Rasulullah SAW.

Hanya, satu catatan perlu diingat; jangan sampai membuat orang keasyikan dengan kebiasaan menerima pemberian. Sebab, dalam ajaran Islam, praktik meminta-minta tidak begitu disenangi. Rasulullah Saw. berwasiat: “Siapa yang meminta guna memper­banyak apa yang dimilikinya, maka se­sungguh­nya ia hanya mengumpulkan bara api (ne­raka).” Karena itu, pemberi yang baik adalah pemberi yang sekaligus mampu memberdayakan si penerima hingga mampu hidup mandiri, seperti matahari.

Hal ini dikatakan Moeslim Abdurrahman dalam bukunya Islam sebagai Kritik Sosial (1996: 41) sebagai Muslim “organik”. Yakni kegiatan tolong menolong antarsesama yang dapat menciptakan ikatan masyarakat yang teguh di tengah kondisi lemah. Dalam arti lain; masyarakat yang mampu memaksimalkan segala sumber daya manusia (SDM) dan sumber daya alam (SDA) yang ada untuk menopang kebutuhan hidup.

Karena itu kita kerap kali memandang sepele praktik memberi. Notabene masyarakat kita begitu asyik memaknai bahwa memberi sekadar memberi; bukan memberi dengan cara memberdayakan. Karena itu, gagasan konsepsional Moeslim Abdurrahman dalam rangka membangun Muslim “organik” patut menjadi petunjuk guna mewujudkan kesejahteraan hidup. Artinya, tidak ada alasan lagi bagi kita berkeluh kesah dan mengharap belas kasih orang lain. Akan tetapi menanamkan keyakinan bahwa kita harus menjadi pemberi yang tak sekadar memberi; tetapi memberi dengan cara yang memberdayakan.

Rasulullah SAW bersabda, “Tangan di atas (pemberi yang memberdayakan) lebih baik daripada tangan yang di bawah (peminta)?”

Allah SWT berfirman, ”Dan carilah pada apa yang telah Allah karuniakan kepadamu (kebahagiaan) negeri akhirat, dan janganlah kamu melupakan bagianmu dari (kenikmatan) duniawi, dan berbuat baiklah (kepada orang lain) sebagaimana Allah telah berbuat baik kepadamu, dan janganlah kamu berbuat kerusakan di (muka) bumi. Sesungguhnya Allah tidak menyukai orang-orang yang berbuat kerusakan,” (Q.S. Al-Qashas [28]: 77). Wallahua’lam

30 November 2018

Kesulitan Hidup Harus Dihadapi Secara Optimis

Kesulitan Hidup Harus Dihadapi Secara Optimis


Hidup yang kita jalani, dipenuhi rintangan dan membutuhkan kekuatan diri untuk keluar dari rintangan yang mengadang. Kesulitan ekonomi, penderitaan, dan ketidakse suaian harapan dengan kenyataan adalah bentuk konkrit rintangan tersebut. Bagi orang yang lemah jiwanya, rintangan di pahami sebagai 'batu sandungan' yang sulit dilalui.

Fenomena bunuh diri, misalnya, nota bene diinisiasi kelemahan jiwa semacam ini. Karena impitan ekonomi, tak sedikit bunuh diri menjadi jalan menyelesaikan masalah kehidupan. Allah SWT berfirman: "Sesungguhnya manusia diciptakan ber sifat keluh kesah lagi kikir. Apabila ia di tim pa kesusahan ia berkeluh kesah, dan apabila ia mendapat kebaikan ia amat ti d ak mau menyampaikannya kepada orang lain (kikir)." (QS. Al-Maa'arij [70]:19-21)

Ayat di atas mengindikasikan bahwa kerapuhan jiwa dapat mengakibatkan lahir nya keluh kesah yang tak produktif. Ketika kesusahan hidup menerpa, tali ke kang moral agama menjadi longgar. Tak ayal lagi, kehidupan menjadi barang mu rah yang sedemikian tak berharga untuk dijaga kelangsungannya.

Seorang gadis, rela melompat dari gedung bertingkat hanya diakibatkan masalah sepele: putus dengan kekasih nya. Seorang pengusaha melakukan hal yang sama, karena sedang menghadapi kemelut masalah di perusahaannya. Me reka memahami hidup hanya dengan meng gunakan rumus keinginan mesti berbuah kenyataan.

Padahal, rumus kehidupan tidak se per ti itu. Adakalanya keinginan melahir kan kegagalan atau ketidaksesuaian de ngan realitas hidup. Maka, sewajibnya mo ralitas agama diperkokoh kembali dalam diri kita. Sehingga hidup mewujud dalam bentuk yang asyik-masyuk.

Ruang dan waktu yang dijalani dengan keikhlasan penuh bahwa Dia (Allah) se dang menguji kadar keimanan kita pada-Nya. Ingat, lemparan batu tentu saja tidak se mua nya akan mengenai target yang sama. Artinya, pengharapan adakalanya ti dak sesuai dengan yang kita rancang. Pada posisi ini, kesabaran dan ketabahan merupakan benteng pertahanan yang su per-duper efektif meredam keinginan mengakhiri hidup kala masalah menerpa.

Seorang Muslim sejati, adalah individu yang dapat mengoptimalkan potensi diri untuk mewujudkan harapan, tanpa terpa ku pada hasil. Dia (Allah) akan membe ri kan berkah tak terkira meskipun harapan itu gagal terwujud. Karena dengan ke ga galan itu, kita dapat mempela jari kekurangan sehingga di lain waktu dapat dikurangi. Inilah letak keberkahan tak ter kira. Kita, dengan kegagalan yang menim pa akan membentuk jiwa hingga menjadi kokoh.

Alhasil, muncul sikap hati-hati, awas dan waspada ketika menyusun program kerja kehidupan. Dalam pepatah disebut kan, seorang manusia bijaksana adalah orang yang tidak akan terperosok pada lubang yang sama. Di dalam Alquran pula dijelaskan: "Dan jiwa serta penyempur na annya (ciptaannya), maka Allah mengil hamkan (memberi potensi) pada jiwa kefasikan (pengingkaran terselubung) dan ketakwaan. Sesungguhnya beruntunglah orang yang menyucikan jiwa dan merugi lah orang yang mengotorinya." (QS. Asy- Syams [91]: 7-10).

Term takwa memiliki arti dasar, se buah ketakutan jiwani. Ketika rasa takut dikelola secara bijak, positif dan siste matis, tentunya lahirlah sebuah kondisi psikologis yang awas dan waspada. Na mun, ketika perasaan takut tidak dikelola secara bijak, positif dan sistematis akibat nya akan melahirkan keluh kesah, putus asa, dan bosan menjalani kehidupan.

Tak heran kalau bunuh diri menjadi solusi favorit orang semacam ini. Kekuat an dalam dirinya telah hilang dan berang sur-angsur membawanya jadi zombie yang tak sadar antara ide dan realitas ka dang tidak sesuai.

Kita mesti memompa potensi diri se hingga terbentuk 'modal spiritual' agar dapat memahami hidup sebagai ladang beramal saleh. Tanpa memiliki modal se perti ini, mind set kita akan menempatkan hidup sebagai barang murah yang dapat diakhiri dengan bunuh diri. Pola pikir se perti inilah yang mesti ditumpurludeskan dari dalam diri. Sebab, pesimisme dalam Islam tak dianjurkan. Islam hanya me ng ajarkan doktrin kehidupan optimisme.

Masa depan merupakan 'bumbu kehi dupan' yang dapat melecut gairah menja lani realitas kehidupan. Kewajiban kita se bagai manusia beragama salah satunya menabur benih-benih optimisme guna meng gapai keberkahan hidup. Bukankah Alquran mengingatkan: "Hai orang-orang yang beriman, bertakwalah kepada Allah dan hendaklah setiap diri memperhatikan apa yang telah diperbuat nya untuk hari esok (akhirat); dan bertak walah kepada Allah, sesungguhnya Allah Maha menge tahui apa yang kamu kerja kan." (QS. Al- Hasyr [59]:18). Wallahua'lam.

9 February 2018

Kerjalah, Karena Allah Yang Nentuin Rezeki

Kerjalah, Karena Allah Yang Nentuin Rezeki

SEMANGAT bekerja jadi sebuah keniscayaan bagi seorang manusia yang menghendaki kesuksesan menghampiri hidupnya. Kita, ketika menghendaki kesuksesan harus rela menjalani proses terlebih dahulu. Jangan “ujug-ujug” ingin sukses. Ingat, bahwa kesuksesan tidak didapatkan hanya dengan lamunan; tetapi harus diusahakan secara maksimal dan sabar. Insyaallah, ketika kita sabar menjalani proses mencari rezeki dan bekerja dengan sungguh-sungguh, hidup kita akan menjadi lebih mudah dan berfaedah.

Kendati rezeki ditentukan Allah Swt., namun Rasulullah Saw. memberikan beberapa kiat mendapatkan kemudahan memperoleh rezeki, dan keluar dari kesulitan hidup. Beliau bersabda, “Barangsiapa tertimpa kemiskinan, kemudian ia mengadukannya kepada sesama manusia, maka tidak akan tertutup kemiskinannya itu. Namun, siapa saja yang mengadukannya kepada Allah, maka Allah akan memberikannya rezeki, baik segera ataupun lambat.” (HR. Abu Dawud dan Tarmidzi).

10 April 2010

Naungan Allah

Naungan Allah

Suatu ketika, Nabi Muhammad SAW bersabda: “Allah akan menaungi tujuh orang pada hari di mana tak ada lagi naungan selain naungan-Nya. Mereka itu di antaranya: 1). Pemimpin yang adil, 2). Pemuda yang menggunakan masa mudanya dengan beribadah pada Allah, 3). Orang yang memakmurkan mesjid, 4). Dua orang yang berkasih sayang karena Allah, dan berpisah karena-Nya, 5). Seorang laki-laki yang diajak berbuat maksiat oleh wanita kaya dan cantik, tetapi ia menjawab “Aku takut pada Allah”, 6. Orang yang bersedekah, hingga tidak diketahui tangan kiri apa yang disedekahkan-nya, dan 7). Orang yang mengingat Allah ketika sendirian kemudian ia menangis.” (HR. Bukhari dan Muslim).

16 March 2010

Membagi; Bukan Menumpuk-numpuk!

Membagi; Bukan Menumpuk-numpuk!

Nju di Papandayan tahun 2000
Obrolan sore tadi, dengan sang teman membikin hati berkedip-kedip. Susah betul menangkap sinyal kehidupan yang kadang kembang kempis dalam hidup ini. "Benarkah kaya lekat dengan kelimpahan materi? Kalau itu yang kau kehendaki, berarti Agama tak berfungsi alias mati. Adakah pemahamanmu yang baru, yang dapat mengobati hatiku, yang saat ini tengah gelisah? Pasalnya, aku hidup di tengah harga diri tinggi bernama masyarakat metropolitan, Jakarta."

4 January 2010

Amanah Kepemimpinan

Amanah Kepemimpinan

Keteladanan pemimpin di negeri seolah sulit dicari. Rakyat cerdas akan kesusahan mencarinya bagai mencari jarum kecil dalam tumpukan jerami. Ini indikasi keteladanan pemimpin di negeri ini berada pada puncak kepurbaan yang langka. Seseorang dapat dikatakan pemimpin panutan (yang layak diteladani) apabila melakukan kebajikan yang patut diteladani karena dirinya memantulkan laku baik dan benar. Baik bukan untuk diri sendiri dan kelompoknya. Tetapi, baik bagi seluruh rakyat Indonesia.

Suatu hari, Imam Al-Ghazali pengarang kitab Ihya Ulumuddin, berkumpul dengan murid-muridnya. Kemudian beliau bertanya kepada mereka, “Apa yang paling berat di dunia ini?”

5 November 2009

Intermezzo Keberagamaan

Intermezzo Keberagamaan

Pada tahun yang lalu, saya pernah dikirimi Majalah Madina. Katanya, sih, majalah ini sekarang sudah gulung tikar. Sangat disayangkan, karena secara substansial majalah ini menghadirkan Islam yang ramah terhadap pluralitas pemahaman. Dengan kiriman majalah ini juga, saya bisa ber-Islam sesantai mungkin. Apalagi, ketika membaca rubrik Humor. Saya jadi tidak memandang Tuhan dan ajaran Islam sebagai dua kekuatan yang menyeramkan.

Humor - dalam perspektif psikoanalisa Freud - adalah media untuk mengeluarkan sejumput keruwetan hidup (termasuk soal teologis) yang direpresi ke alam bawah sadar. Saya, secara pribadi merasa bahwa beban hidup sedikit berkurang ketika membaca dialog-dialog segar di dalam rubrik Humor.

Tuhan, malaikat, Nabi dan ulama dalam rubrik humor serasa dijungkirbalikkan. Keempat penentu eksistensi sebuah agama itu berubah menjadi sesuatu yang terjangkau dan kadang digambarkan sebagai manusia biasa. Tak terkecuali dengan Tuhan. Saya, yang tidak fundamental dalam ber-Islam merasa itu sebagai hal biasa. Tidak tahu dengan saudara-saudara seiman yang menganut fundamentalisme Islam.

Pertanyaannya, apakah ketakterbatasan zat Tuhan bisa didobrak oleh keterbatasan logika manusia? Saya melihat ada semacam menempatkan Tuhan sebagaimana halnya manusia yang bisa dikibuli dalam rubrik Humor. Padahal ketika kita menipu Tuhan, Dia bakal membalas menipu kita. Dalam bahasa lain, Dia tidak bisa ditipu dan dikibuli. Sebelum kita menipu dan mengibuli-Nya, secepat kilat Dia akan menipu dan mengibuli kita.

Karena Tuhan Mahakuasa, tak pantas rasanya jika bisa dikalahkan oleh manusia, malaikat, dan kaum pendosa. Tapi, karena Tuhan yang Mahatahu atas kondisi makhluq-Nya saya pikir Dia tidak akan marah ketika di rubrik Humor dikibuli dan dikalahkan umat manusia. Intermezzo keberagamaan itu memang perlu agar kita santai mengibadahi-Nya. Tidak grasak-grusuk. Bukankah tumaninah dalam ibadah adalah prasarat esoteris yang diberikan sang Nabi?

Tetapi ruginya orang yang suka ngelucu di hadapan Tuhan adalah ketika Tuhan tahu bahwa kita muslim humoris. Hehe, tentunya ibadah kita akan dipandang sebagai ketaksungguh-sungguhan. Misalnya suatu hari kita menunaikan shalat Tahajud dan berdoa. Waktu itu malaikat tahu bahwa kita sedang ada kebutuhan. Serta merta Tuhan dan malaikat bareng menjawab setiap permintaan yang kita panjatkan, “ah, paling juga kamu sedang bercanda ya!”




25 September 2009

Pesan Kenabian

Pesan Kenabian


Ramadan kini telah meninggalkan kita. Namun, suasananya masih tetap terasa. Bahkan masih menempel di katup pikir dan memori kesadaran setiap umat Islam, khususnya yang hidup dan berkarya di bumi Nusantara ini.

Pertanyaannya, akankah semangat keberagamaan kita pada bulan Syawal meningkat/ menguat sehingga memeroleh semacam kebahagiaan hidup, seperti dijanjikan Allah bagi orang yang menunaikan puasa?

Term “syawal” secara etimologis berarti peningkatan. Ini artinya di bulan syawal sisi keberagamaan kita mesti meningkat. Ramainya suasana keagamaan di bumi Nusantara tak seharusnya hanya ketika Ramadan hadir saja. Masjid penuh hanya saat Ramadan, pengajian pun sama, begitu juga dengan aktivitas politik. Tak seharusnya setelah Ramadan usai, kita melupakan semangat kenabian dalam seluruh gerak hidup ini. Kumandang takbir, tak hanya bersifat formalitas dan tekstual; melainkan dipahami secara substantif. Artinya, pengagungan terhadap Zat yang Maha Kuasa adalah proses tanpa henti.

Khalid Muhammad Khalid dalam buku, Tentara Langit di Karbala (Mizania, 2007), mengatakan kenabian berbeda dengan kerajaan. Kenabian lebih suci, jika dibandingkan dengan kerajaan yang dinastik. Sebab, kenabian berasal dari wahyu, bimbingan, dan keadilan. Sedangkan, kerajaan diinisiasi nafsu berkuasa dan ambisi membabi buta. Maka, kekuasaan yang dibingkai semangat kenabian semestinya bukan ladang pembantaian; bukan juga pencipta huru-hara, tapi sebuah amanah suci dari-Nya untuk mencipta keharmonisan.

Idulfitri kemarin, kesadaran kita dijentik. Bahwa berjibunnya masyarakat di depan pemerintahan DKI Jakarta hingga menelan korban luka adalah gambaran kemiskinan yang masih tetap ada di Indonesia. Mungkin Tuhan sedang menjentik eksistensi kita. Dia mencoba mengingatkan bahwa “ego keserakahan” sedemikian akut menyergap laku kita. Puasa yang seharusnya dijadikan ritual mengasah kepedulian, tidak kita hayati sungguh-sungguh.

Ribuan orang rela berdesak-desak dan saling menginjak hanya untuk uang 40 ribu. Heran saya, di tengah bulan kemenangan (syawal) kita tidak memenangkan pertarungan antara kesombongan dan kesederhanaan. Akibatnya, pembagian paket uang dilakukan di dalam sebuah kantor pemerintahan. Kalau saja kita memenangi pertempuran dengan kesombongan di bulan Ramadan, tidak ada salahnya kalau hendak membagi angpaw, dilakukan dari pintu ke pintu. Pemimpin yang baik adalah seorang manusia yang tidak mementingkan diri sendiri, namun mementingkan orang banyak.

Kali ini, dengan berusaha menyentuh relung hati kita yang terdalam. Cobalah sentuh hati kita dengan menumbuhkan kembali ’sense of crisis’ dalam diri. Kemiskinan ada karena masih berkeliaran “ego keserakahan” dalam diri segelintir manusia. Belenggu keserakahan sedemikian menggurita mencengkram jiwa, hingga pengemis pun dilarang di bumi Nusantara. Sedemikian serakahnya kita, hingga tak sudi memberikan uang receh bagi si miskin, yang siapa tahu mereka mengemis karena di negeri kita susah mencari pekerjaan? Susah mencari modal untuk membuka usaha? Bahkan, susah menjadi manusia sejahtera? Wallahua’lam

13 September 2009

Baik Budi Nggak Rugi Lho

Baik Budi Nggak Rugi Lho

JIKA kita berbudi baik pasti dibalas baik. Budi buruk berbalas buruk pula. Pepatah yang mengindikasikan hubungan sebab-akibat. Pun demikian dalam gerak hidup ini. Budi seseorang akan menyisakan bekas mendalam dikedalaman hati. Seorang pelancong yang tersesat di kota besar, umpamanya. Ia akan merasa berutang budi kepada orang yang menunjukkan arah jalan. Bentuk balas budinya bisa lewat materi atau jasa. Minimalnya, dapat tumpangan gratis. Asyik bukan?

Kanjeng Nabi Muhammad adalah manusia berbudi luhur. Beliau tak pernah membalas budi ketus, dengan keketusan. Tak bertindak gegabah, ketika tekanan fisik diperoleh. Bahkan, caci-maki acap kali berbalas pantun yang menyejukkan hati. Tak heran ketika Siti Aisyah ditanya perihal pribadi Rasul Saw, ia menjawab: laksana al-Quran berjalan. Saking baik dan sempurnanya akhlaq sang baginda, lho.

Keselarasan antara karya dan kata menjadi daya tarik masyarakat jahiliyah untuk berbondong-bondong mengucapkan dua kalimah syahadat. Ketika memimpin juga, beliau senantiasa melindungi rakyat miskin. Apalagi jika menyaksikan ada masyarakat tak makan seharian. Sembari meneteskan air mata, beliau lantas memberikan jatah makannya. Mulia bukan?

Ketika baginda bersabda: "Aku diutus Allah untuk menyempurnakan akhlaq", jauh hari pribadinya mencerminkan kesempurnaan pribadi. Buktinya, gelar orang terpercaya (al-amin) dari pemuka Quraisy pernah disandangnya. Tak berlebihan kiranya. Jika saya dan anda – meskipun tak pernah ber-muwajahah dengannya – merasa berutang budi. Kita hampir tiap hari melantunkan salawat atasnya. Minimal tiap kali ibadah salat pada tahiyatul awal dan akhir. Itu adalah bentuk dari balas budi kita. Atas jasanya yang telah menerangi kegelapan hati manusia. Ya, lintas generasi hingga 1428 tahun lamanya.

Mengapa kita harus bersalawat kepadanya? Kata beberapa pemuka agama Islam (ulama) di Timur Tengah, karena berkah beliau bagaikan air di dalam gelas. Ketika kita mengisinya, maka air itu akan tumpah mengenai meja. Dalam bahasa lain, kita bersalawat atas pribadi Rasul Saw, rahmat dan berkahnya akan kita dapatkan. Maka, beliau telah memberikan manfaat kepada kita. Itu namanya budi. Jadi, betul kiranya jika kita setiap kali menunaikan ibadah salat selalu melantunkan salawat kepada Nabi Saw?

Lantas, mampukah kita menauladani budinya? Sebagian saja, ataukah keseluruhan pribadinya? Apalagi di tengah kenihilan suri tauladan pemimpin di medio era reformasi ini. Kita membutuhkan cermin keteladanan nyata. Bukan hanya kata-kata ajimat dan keramat. Apalagi sekadar mantra. Bukan. Bukan itu saya pikir! Yuresprudensi (hukum) Islam mesti diaktualisasikan. Bukan hanya tertulis di atas kertas.

Ketika posisi kita sebagai seorang pemimpin, kepercayaan rakyat mesti berbalas budi baik. Misalnya, menanggalkan sikap sok birokratis, menelurkan kebijakan pro rakyat, dan mengangkat warga dari jurang kemiskinan. Itu semua, tidak disimpan dalam teks konstitusi semata. Butuh realisasi!

Andai tak dapat memenuhi tuntutan rakyat, kita adalah pemimpin yang bermental lemah (lack of the leadership). Karena kita hanya menghitung apa yang diberikan. Bukan apa yang bisa diberikan. Akibatnya, budi baik berbalas buruk. Melenceng dari pepatah-petitih hidup. Kepercayaan memberikan amanah kepada pemimpin untuk ngemong rakyat, umpamanya, disikapi bagaikan anjing menggonggong kapilah berlalu.

Setelah anjing itu menggonggong, pemimpin kita tenang kembali berbuat makar. Tapi, rakyat bukan seekor anjing. Ia manusia yang memiliki hati dan nurani. Maka, budi baik pemimpin akan menolong dari pertanggungjawaban di akhirat kelak dan penghakiman rakyat. Nabi Muhammad bersabda: "Kullukum raain, wa kullukum mas'ulun an raaiyatihi", setiap orang adalah pemimpin dan akan diminta pertanggung-jawaban atas kepemimpinannya.

Memimpin satu orang saja akan dimintai pertanggungjawaban. Apalagi jika puluhan juta? Hayo, pasti engkog-engkogan untuk jadi pemimpin. Ya, jika dikedalaman hati ini masih menyisakan tanggung jawab atas amanah kepemimpinan. Dan, masih menghayati makna inti dari salawat yang setiap kali salat, kita baca. Sebab, salawat merupakan kerangka acuan sistem nilai hidup.

Buya Syafii Ma'arif (2004) menyatakan bahwa Agama atau iman yang berfungsi secara benar akan mendorong pemeluknya berperilaku lurus dan jujur. Ia juga akan berani mengatakan yang benar itu benar dan yang salah itu salah, tidak larut dalam kerancuan sistem nilai. Maka, jika saja kita ingin membalas budi baik sang Nabi, adalah dengan menauladani kearifan laku dan kata yang beliau wariskan. Membaca, memahami dan mengamalkan makna inti salawat kepadanya.

Lantas, apa sih pesan inti dari salawat kepadanya? Ya, bahwa dalam kepribadiannya tercermin keluhungan yang patut ditauladani. Oleh siapa saja. Politikus, pengusaha, pejabat, aparat, akademisi, mahasiswa, dan masyarakat cacah sekalipun. Ia sangat terbuka untuk kita tauladani hingga memicu semangat profetik dalam diri. Semangat untuk terus menanamkan bahwa hidup itu mesti diisi dengan misi dan visi keilahian. Itulah bentuk nyata dari balas budi kita pada jasa-jasa Rasul Saw dan penghargaan atas anugerah hidup dari-Nya. Wallahua'lam

Penulis, Pegiat Tepas Intitute.

9 September 2009

Pesan Kemanusiaan Puasa

Pesan Kemanusiaan Puasa

Islam – meminjam bahasa Dawam Rahardjo – merupakan agama pembebasan, baik dari kebodohan maupun perbudakan, karena itu Islam yang membebaskan dan emansipatoris bukanlah pengertian yang abstrak. Namun, Islam sebagai kekuatan pembebas dan emansipatoris kini telah menjadi abstrak. Buktinya, perhatian umat masih terpusat kepada Tuhan, sementara sisi horizontal terlupakan. (M Dawam Rahardjo, Paradigma Al-Quran, 2004).

Berhala kekuasaan dan harta merajalela, karena dengan mendewakan kekuasaan dan harta itulah, sisi kepedulian atas kesedihan, keperihan dan kesengsaraan rakyat miskin cerai berai. Gejala seperti ini melahirkan manusia yang memakan harta warisan secara rakus, tidak bertanggung jawab terhadap kemiskinan, dan tidak mau menyantuni rakyat miskin walaupun hanya sekadar memenuhi kebutuhan pokok sehari-hari.

Pendusta agama

Kehilangan terbesar seorang manusia adalah tidak mampu melepaskan penjajahan nafsu-keserakahan, hingga mengakibatkan menyeruaknya penindasan. Dengan demikian, realitas sosial bangsa-negara saat ini membutuhkan peran agama yang membebaskan rakyat dari penjajahan dan kemiskinan. Sebab, perilaku kapitalistik, yakni menumpuk-numpuk harta dengan cara mencekik nafas kesejahteraan rakyat merupakan bentuk perilaku kongkret dari "mendustakan agama".

Dengan puasa sebulan penuh, sisi kemanusiaan kita sebagai implikasi kesalehan ketika menjawab permasalahan sosial menampakkan geliat yang membebaskan manusia dari determinasi berhala-berhala menjajah (thagut). Berhala tersebut bisa berupa apa saja; harta dan tahta yang merembet ke seluruh aras kehidupan seperti: politik, ekonomi, budaya serta institusi-institusi sosial kemasyarakatan.

Pesan moral Ramadhan, kita tidak boleh menjadikan perut sebagai kuburan orang lain. Jangan jadikan perut kita sebagai kuburan orang-orang miskin. Jangan pindahkan tanah dan ladang milik mereka ke perut kita. Itulah pesan moral Ramadhan, yang menurut saya, relevan dengan kondisi saat ini. Ketika kita dikejar-kejar konsumtivisme (senang pesta dan berbelanja barang-barang yang tidak bermanfaat) dan dikejar-kejar upaya meningkatkan status sosial, tidak jarang kita berani memakan hak orang lain.

Tidak cukup hanya sampai disitu. Ibadah puasa juga mengajarkan kendati harta itu milik kita, kita tidak boleh memakannya sendiri. Saya ingin mengutip ucapan Imam Ali karamallahuwajh, “Tidak pernah aku melihat ada orang yg memperoleh harta yg melimpah kecuali di sampingnya ada hak orang lain yang ia sia-sia kan”. Kita tidak usah menjadi Marxis untuk menyadari bahwa keuntungan yang berlimpah ruah dimiliki orang-orang kaya yang tinggal di negara-negara miskin, misalnya, karena upah buruh yang murah sehingga si pemilik perusahaan memperoleh keuntungan yang besar.

Seandainya kita memperoleh gaji yang tinggi, di dalam Islam, kita tidak boleh memakan semua yang kita terima walaupun itu hasil jerih payah kita sendiri. Bagi yang mempunyai gaji berlebih, ia berkewajiban menyantuni orang-orang miskin. Puasa tidak akan bermakna apa-apa sebelum kita memberikan perhatian yang tulus kepada orang-orang yang menderita di sekitar kita. Itu pesan moral ibadah puasa.

Kalau seseorang puasanya cacat, atau puasanya batal, atau melakukan hal-hal yg dilarang dalam ketentuan fiqih, maka tebusannya adalah menjalankan pesan moral puasa itu. Kalau tak mampu berpuasa berturut-turut selama satu bulan, dia diwajibkan menyedekahkan hartanya kepada kaum miskin. Memperhatikan orang-orang lapar dan menyantuni fakir miskin adalah pesan moral puasa.

Nilai kemanusiaan

Nilai-nilai kemanusiaan sebagai ciri kebumian doktrin langit, jika tak terperiksa secara kritis akan terseret arus kepentingan sesaat. Relasi sosial bakal dijibuni sekat-sekat kepentingan yang mengenyampingkan eksistensi wong cilik sebagai tanda menggejalanya dehumanisasi. Tak salah jika Socrates pernah berujar, hidup yang tak terperiksa tidak layak untuk diteruskan. Maka, salah satu jalan untuk memeriksa diri dan menghidupkan rasa kemanusiaan adalah dengan berpuasa, karena ibadah ini bisa dikategorikan sebagai personal religiousity dan social religiousity.

Artinya, kesalehan individual yang mampu berefek samping terhadap pola interaksi sosial seorang manusia. Dengan berlapar-lapar, haus dan menahan hasrat-nafsu, kita bisa belajar mengempati orang lain dan menahan diri untuk tidak berlaku jahat dan korup. Kita juga bakal menyadari bahwa hidup di dunia profan sangat memerlukan kehadiran orang lain. Ini artinya, sebagai seorang manusia, mesti mempertanyakan apa dan bagaimana fungsi kita di dunia profan ini.

Lantas, sudahkah puasa kita mengantarkan diri menyadari fungsi kemanusiaan di dunia? Karena, tak bisa kita sangkal ajaran Tuhan diturunkan ke dunia. Bukan ke akhirat sana. Jadi, seharusnya keberagamaan kita menampakkan semangat kemanusiaan. Manusia, secara eksistensial selalu punya keterangan yang jelas tentang dirinya dan menunjukkan kesalinghubungan bersama melalui cara hidup dalam ruang sosial berhiaskan empati pada sesama.

Kalau saja dihayati, puasa ternyata mampu menempa diri setiap umat Islam untuk mengempati segala penderitaan rakyat miskin, sebagai misi kemanusiaan yang selama 11 bulan telah hilang dari jiwa kita. Dan, betul kiranya jika puasa dikatakan sebagai salah satu ritual personal dan sosial yang berfungsi menemukan sisi kemanusiaan yang hilang dari diri. Sebab, inti dari pembebanan (syari'at) ibadah puasa menyadarkan manusia, betapa dirinya mesti merasakan penderitaan sesama.

Imam Ali bin Musa Al-Ridha mengatakan, sebab diwajibkannya puasa adalah agar manusia merasakan kelaparan dan kehausan. Agar mereka mengetahui kerendahan, kehinaan dan kemiskinan dirinya. Juga mengetahui beratnya kehidupan akhirat, sehingga mampu meninggalkan pelbagai dosa dan maksiat. Utamanya dosa mengeksploitasi manusia liyan dengan cara-cara yang tak manusiawi. Wallahua’lam

7 September 2009

Meniru “Puasanya” Tuhan

Meniru “Puasanya” Tuhan

Pernahkah kita melihat Tuhan sedang makan? Ataukah meminum air zam-zam di tanah Suci ketika kita ber-haji? Lantas, bagaimana laku Tuhan yang Esa ketika ingin bercengkrama dengan pasangan-Nya? Pertanyaan-pertanyaan setengah gila – dari saya – yang miskin landasan teologis ini relevan dibahas pada bulan Ramadhan kali ini. Karena Tuhan bukanlah seperti manusia yang punya segudang nafsu, pertanyaan-pertanyaan itu validitasnya bisa dikesampingkan.

Namun, ada kecocokan dengan syariat puasa bagi umat Islam dan umat beragama lain yang diwajibkan menahan nafsu kejasadan. Misalnya menangguhakan jam makan, minum, berhubungan intim, dan yang lebih esoteris – menahan diri melakukan tindak amoral sebagai tanda kesucian diri. Kunci pengosongan (takhalli) diri dari segala bentuk praktik kenafsuan binatang dalam diri manusia selama sebulan penuh adalah misi menghadirkan Tuhan dalam hidup.

Ketika kondisi kita sedang dalam keadaan lapar, biasanya Tuhan menjelma hadir di dalam akal-pikiran. Apa pun agamanya, Tuhan-nya menghadir selama seseorang sedang berlapar ria. Pantas sekali jika ada pepatah bijak yang mengatakan Tuhan hadir di dalam diri manusia fakir dan miskin. Rabbul mustadz’afin.

Saya, tak pernah mengira bahwa Tuhan suka makan dan minum seperti halnya dewa yang memproklamirkan diri sebagai wakil Tuhan di muka bumi. Saya juga – boro-boro sampai berpikir – tidak percaya Tuhan memiliki segudang nafsu keserakahan. Apalagi membayangkan Tuhan yang sedang melahap makanan kecil ketika sedang menonton panggung sandiwara manusia yang disutradarai-Nya. Tuhan adalah zat yang tak terjangkau yang tak bisa diutak-atik hingga menyerupai manusia berkaki, bertangan, bertelinga, bermulut, berhidung dan bernafsu.

Kesucian-Nya tak terjamah manusia setingkat Nabi, wali, dan malaikat sekalipun. Dia mengindependenkan diri-Nya sebagai pencipta yang Mahasuci dan tidak bernafsu keserakahan yang manusiawi. Dia Mahasuci dan bersifat ilahiyah.
Si miskin yang jarang makan adalah manusia terdekat dengan-Nya. Apalagi bagi orang yang tersesat di padang pasir. Mereka akan menjelmakan sang penolong dalam hidupnya.

Ketika tidak ada seorang pun yang mampu menolongnya dari kesusahan, Tuhanlah satu-satunya sang penolong itu. Puasa – yang didalam syari’atnya – tak boleh makan, minum, bersetubuh pada jam-jam tertentu adalah pembelajaran bagi ruhani kita agar kita sadar. Bahwa Tuhan itu ada. Tuhan yang memelihara kesucian-Nya tanpa mengantarkan keinginan nafsu kejasadan.

Coba bayangkan seandainya Tuhan dalam ketakterbatasan asmaul husna-Nya terdapat label Tuhan yang Mahapemakan. Bukan boleh jadi dong dunia ini bakal habis ditelan bulat-bulat. Namun, Tuhan tidak seperti manusia yang harus makan dan minum. Dia tidak membutuhkan santapan jasadi. Melainkan santapan ruhani yang diperoleh tatkala umat manusia mempersembahkannya lewat praktik amal ibadah di dunia nyata. Dalam bahasa Qur’ani manusia harus menyerahkan segala amal ibadah, hidup dan matinya buat Allah semata. Itulah yang tidak mematikan eksistensi Tuhan dalam hidup keseharian.

Maka, ketika kita berlapar di siang hari – puasa – selama satu bulan penuh adalah medium untuk menghadirkan eksistensi Tuhan. Sebab, menjadi sebuah keniscayaan bahwa orang-orang lapar akan merasakan kedekatan dengan-Nya tanpa hijab selembar kain pun menutupi kesadaran ilahiyah (God Spot). Kaum sufi – untuk menggapai tingkat keruhanian seperti ini – rela tidak makan selama mungkin. Demi merasakan ketersiksaan diri kala kebutuhan jasadi sengaja tidak dipenuhi.

Nah, karena saya dan anda tidak bisa menyamai Tuhan, puasa di bulan Ramadhan cukup menjadi penghantar menemukan kesadaran ilahiyah yang hilang selama 11 bulan lamanya.

Tak perlu repot-repot puasa sehari semalam selama puluhan hari hanya untuk menggali God Spot yang terkubur itu. Sebab, kita bukan Tuhan yang tak pernah makan, tidak minum dan tidak bersetubuh. Fitrah manusia adalah makan dan minum secara teratur dan tidak berlebihan. Sahur, menahan lapar (imsak), dan berbuka (ifthar) adalah menu sehat lima sempurna yang harus dibarengi dengan shalat tarwih dan meninggalkan laku tak bermoral selama mungkin. Baru, dengan begitu kita mengaku bahwa Tuhan itu ada.

Dan puasa-nya Tuhan berbeda dengan puasa-nya umat manusia.


27 July 2009

Berhenti Menggonggong

Berhenti Menggonggong


Di salah satu rumah, dekat sebuah kolam; dua ekor anjing itu berhenti menggonggong. Dulu, saya memiliki tiga ekor anjing untuk menjaga kebun jeruk Garut dari sergapan maling. Kendati, sudah dijaga tiga ekor anjing masih ada saja yang mencoba mencurinya. Entah itu teman, warga kampung lain atau saya bersama kakak saya, Arif. Namun kedua anjing itu selalu menggongong kepada setiap orang. Termasuk dua kakak-beradik yang akan berangkat sekolah, yang kebetulan melewati rumah bercat putih indah tersebut.

Dalam menghadapinya, kakak beradik itu memiliki metode yang berbeda. Kalau sng adik selalu membawa beberapa potong singkong rebus. Kakaknya, membawa kerikil tajam.
Setiap berangkat sekolah kalau anjing itu menggonggong, sang adik melemparkan sepotong singkong. Sisanya, untuk nanti pas pulang dari sekolah. Alhasil, anjing itu berhenti menggonggong. Nah, anjing yang satunya lagi terus saja menggonggong sang kakak. Sebab, dia melemparkan batu kerikil ke depan anjing itu. Celakanya, sang kakak malah lari sehingga sang anjing mengejarnya. Dia pun terjatuh. Pakaiannya kotor.

Sementara sang adik, malah dijilati anjing yang menjulur-julurkan lidahnya. Dia berlari tidak cepat, karena anjing itu tidak menggonggongnya. Anjing itu sekejap mata menjadi jinak. Akhir cerita, anjing itu menjadi sahabat sang adik dan musuh bebuyutan sang kakak.

Wah, kisah di atas kendati sederhana memuat pelajaran berharga bagi kita. Bagi kaum agamawan, ketika mempraktikkan religiusitas, jangan mudah merendahkan agama lain. Jangan pernah keras dalam membimbing umat. Bahkan, jangan sekali-kali meligitimasi praktik terror. Itu tidak akan mengundang simpati. Melainkan aksi kebencian.

Kemudian, ini tafsir kisah yang sangat saya sukai. Kakak beradik itu kalau diumpamakan pemerintahan, hmmm, seperti praktik politik bapak-bapak kita. Ketika ada partai yang diindikasikan akan menggonggong terus-terusan, jabatan pun ditawarkan kepada mereka. Jabatannya pun yang sangat “basah”. Sehingga, sedikit demi sedikit suara gonggongannya meredup. Bahkan, tidak terdengar. Itulah tindakan elegan seperti yang dilakukan sang adik.

Nah, kalau sang kakak, mirip dengan pemerintahan otoriter. Setiap suara gonggongan ditekan secara keras agar tidak bersuara lagi. Banyak orang yang diculik, bahkan dibunuh, ada juga yang di penjara. Hal itu dilakukan supaya kaum oposan tidak bersuara lagi. Ngomongin pemilu kemarin, saya tak begitu jelas menyimak siapa yang menjadi penjaga suara kiritis rakyat. Sebab, politikus kita bukan satu spesies dengan hewan kesayangan saya ini.

Kita tunggu saja, bulan Oktober. Apakah ada yang terus menggonggong atau malah berbalik haluan mendukung gonggongan pemerintah. Gonggongan yang tidak dibarengi aksi nyata, karena sudah kenyang memakan singkong dari sang adik.


15 July 2009

Ciptakan Keharmonisan

Ciptakan Keharmonisan


Ayam, kucing, dan anjing saya selalu berdekatan mesra. Sang ayam tidak mematuk-matuk punggung kucing. Pun begitu dengan kucing. Tidak pernah mencakar dan mengunyah ayam yang masih hidup. Apalagi dengan si dogy. Dia tidak mengisi hari-harinya dengan mengejar ayam dan kucing. Tahukah kenapa mereka harmonis seperti itu?
Saya selalu memberi makan mereka bersama-sama. Sederhana bukan?

Namun manusia tidak sesederhana itu. Kendati kita hidup berdampingan dengan orang yang berbeda. Bertetangga. Berkawan. Dan berteman akrab. Ada satu hari yang tak bisa dilepaskan dari perkelahian. Karena kita memiliki hasrat, keinginan, dan kepentingan. Tak seperti hewan peliharaan saya. Hasrat ada, keinginan ada; namun kepentingan hanya nol persen. Kepentingan itu adalah membangun peradaban. Hewan tidak pernah berkepentingan untuk membangun peradaban. Sementara manusia, memiliki kepentingan yang mengarah pada pembangunan peradaban. Inilah yang melahirkan persaingan vis a vis.

Sebuah persaingan yang banyak membutakan nurani kita. Persaingan yang banyak melahirkan tindakan makar. Persaingan yang banyak memicu eksploitasi besar-besaran. Persaingan yang memunculkan segala tetek bengek problem dan ketakutan. Inilah yang diistilahkan dengan callenge. Tantangan yang didalamnya ada sejuta peluang. Untuk meyakinkan bahwa manusia harus melawan dan menaklukkan tantangan tersebut.

Mang Udin, si miskin dari kampung; ketika mencoba bekerja harus memutar otaknya untuk melawan eksploitasi bos perusahaan. Karena dia bekerja sebagai buruh tani, tentunya harus tunduk pada aturan yang diberikan sang pemilik sawah. Islam, agamaku sampai mati, mengajarkan relasi sama rata. Relasi yang tidak memilah-milah. Tidak ada istilah kaya-miskin. Tidak berlaku hukum sosiologis homo homoni lupus. Serigala – dalam Islam – semestinya dapat bergandengan dengan domba yang masih hidup.

Namun, itu sulit terealisasi. Harmonis lahir ketika sebelumnya terjadi pertentangan dan konflik. Tuhan selalu membuat manusia tertawa. Menertawakan perilaku yang tidak bisa dijaganya. Perilaku seperti apakah itu? Memberi optimisme hidup kepada orang-orang tak beruntung. Kepada si miskin. Kepada si pengangguran. Kepada siapa saja yang membutuhkan uluran tangan kita. Gitu aja kok repot!!!



14 July 2009

Pendekar Nggak Waras!

Pendekar Nggak Waras!


Pukul 00: 01 saya tertidur. Karena mimpi disabet pedang samurai oleh pendekar, saya jadi terbangun. Sabetan itu tepat mengenai sekitar jantung saya. Saya terkejut dan merasa dada bagai ditusuk beneran. Bangunnya sekitar pukul 02: 13. ih…dingin bener pagi ini. Sampai-sampai tulang saya merasa ngilu dan kulit sedikit gatal-gatal. Mimpi itu aneh. Saya dengan sang pendekar sangat bersahabat. Kenapa tahu bersahabat? Karena perasaan di mimpi itu dia adalah sahabat saya.

Suatu ketika kami bertiga, entah siapa yang satu lagi, burem; sedang mengejar penjahat. Tepatnya penjahat itu adalah dua orang pencuri pedang pusaka. Saya nggak tahu milik siapa pedang itu. Yang jelas, milik orang penting tapi terasa dekat bersama kami berdua (saya dan pendekar itu). Si pendekar, kendati tak pernah ngomong: takut banget pada sang pemilik pedang dengan serangka putih tulang kegadingan itu.

Singkat cerita, kami bertiga melihat sang pencuri itu. Mereka berdua. Tanpa berpikir panjang, mereka dikejar sang pendekar. Karena saya perokok aktif, tentunya tertinggal di belakang. Huhhh capek banget!!!

Sekitar lima meteran jarak kami. Meskipun di dalam mimpi sangat dekat. Sang pendekar dan teman saya yang satunya lagi menyabet dua pencuri itu. Belum juga terjadi pertarungan sengit, sang pendekar berbalik ke arah saya.

“Ciaaatttttt,” pedang itu secepat kilat menusuk dada saya.

“Astaghfirullah. Dasar pendekar nggak waras!” bisikku ketika terbangun dari mimpi.

Itulah itu, saya bilang. Mimpi yang multitafsir. Karena multitafsir itulah, saya jadi ingin menafsirkannya. Mimpi itu bisa persaingan ketat di dunia yang saya geluti. Bisa juga ada orang yang mencoba merebut calon istri saya. Gilanya lagi, boleh jadi ada teman berteriak teman di hadapan. Ketika saya lengah menusuk dari depan. Bukan dari belakang, karena saya tidak pernah bersenjata walau dalam mimpi. Jadi tokoh lain dalam mimpi saya bisa bebas melakukan apa pun.

Itulah itu, saya bilang. Mimpi yang mencoba merespon pengalaman tubuh dan jiwa saya di alam nyata. Malam itu mungkin udara dingin. Kalau dingin, bagi yang memiliki gangguan di sekitar paru-paru bakal terasa pengap. Belum lagi di kamar saya ada debu yang minta ampun membuat sesak nafas. Bisa juga mimpi itu adalah pendaman-pendaman keinginan saya terhadap sesuatu. Beberapa bulan ini saya selalu mengekori seseorang agar bisa bertahan hidup: kerja sampingan. Pedang yang dicuri itu, karena memiliki serangka putih gading, ya, rebutan manusia. Uang alias duit bin pulus! Bahkan boleh jadi serangka itu adalah jabatan atau posisi. Mungkin karena takut direbut saya, akhirnya dada ini tertusuk pedang juga.

Ah…, dasar mimpi. Dasar pendekar gila. Dasar saya juga yang banyak masalah menimpa. Mimpi itu membangunkan saya dari tidur lelap dan panjang, setelah pukul 20.00 WIB saya bersama kawan-kawan di IMM UIN Bandung bermain Futsal. Lelah adalah risiko kehidupan. Kadang ketika kita lelah, kekuatan yang masih terpancar dari dalam diri adalah intuisi. Makanya, sebelum tidur kita dianjurkan berdoa, “Biismika Allahumma ahya wa biismika aamuut”. Itu untuk merehatkan intuisi kita agar tidak segila di alam mimpi. Bingung dengan tulisan ini? Sama dong!!!

From “kamar sempit” 14 Juli 2009, pukul 03.00 WIB – 03.15 WIB.



13 July 2009

God and My Life

God and My Life


Bagi saya kehidupan laiknya luapan Lumpur Sidoarjo yang tak pernah bisa ditanggulangi pemerintah dan perusahaan Bakrie. Ada saat dimana saya – seperti halnya warga sekitar semburan Lumpur – bebas dari bencana. Namun, ada saatnya juga saya harus berjuang keluar dari impitan hidup. Saya merasa nyaman melupakan Tuhan ketika hidup ini senang dan bahagia. Tatkala ditempa derita, Tuhan menghadir kembali dalam benak. Itulah realita hidup. Tuhan kadang tenggelam dan muncul di ubun-ubun kesadaran kita.

Tuhan berbeda dengan pemerintah dan perusahaan pimpinan Abu Rizal Bakrie. Ketika menimpakan ujian dan cobaan, Dia tidak pernah angkat “tangan”. Lepas tanggung jawab begitu saja. Itu rumusan pertama kenapa Tuhan adalah sang pencipta kehidupan. Karena pemerintah dan pemilik modal bukan pencipta kehidupan, logis kiranya kalau kadang berbuat maker. Bikin kehidupan warga kelabakan menyadari makna kehidupan. Warga di Sidoarjo marah dan kesal? Itu wajar bin wajib!

Katak di dalam tempurung tidak akan tersadar atas realita kehidupan. Karena ia selalu bersemayam di dalam ruang sempit yang tertutup dengan dunia luar: realitas. Ia merasa nyaman dengan berada dibalik tempurung itu. Tak heran ketika berada di luar alam bebas, ia melompat-lompat ketakutan. Mungkin, inilah kenapa katak jalannya melompat-lompat. Untuk menghindarkan diri dari ancaman. Hehe.

Kangguru juga dong? Ya iyalah, karena kangguru melihat bahwa di hutan ada seribu satu marabahaya. Karena tangannya super duper pendek, ia menjadi piawai melompat. Ah…, ada-ada saja kau ini Sukron!

Itulah hidup saya bilang. Jalannya terjal penuh rintangan. Ketika kita tidak pandai melompat-lompat, boleh jadi tidak bakal mampu menjalani hidup ini. Begitu juga dengan keimanan dan keyakinan saya terhadap Tuhan. Di satu sisi kadang saya melupakannya. Ini jujur! Karena tidak mungkin ada orang yang terus menghadirkan-Nya dalam seluruh gerak kehidupan. Maksimalnya dari 60 detik tidak ada orang yang akan mampu mengingat-Nya. Kecuali orang yang berzikir terus selama satu hari satu malam. Itu juga kalau dia dapat bertahan dari kehausan dan kelaparan.

Makanya, dong, Tuhan membagi kehidupan saya menjadi dua: Dunia dan akhirat. Ketika berada di dunia, Tuhan bisa menolerir kelupaan yang dilakukan manusia. Wong, manusia itu mahalul khaththa wa nisyan. Seperti didendangkan band Kuburan – kuburan juga kadang kita lupakan sebagai bagian dari hal ukhrawi – lupa. Lupa…lupa…lupa. Lupa lagi syairnya! Itulah manusia kadang lupa bagaimana menyanyikan syair kehidupan.
Seperti halnya saya lupa bahwa di blog ini jarang menghadirkan Tuhan. Nah, mulai kemarin lusa sampai nanti, saya akan memposting hubungan akrab saya dengan Tuhan di blog ini. Karena Tuhan – kasihan juga – banyak dilupakan eksistensi-Nya di muka bumi ini.

Semoga Tuhan menghadir dalam hidup saya. Amiin!

Because Your (God) Miracle come to me every day. Bersyukurlah atas hidup!!!!



10 July 2009

God…, I Miss U

God…, I Miss U


Sakit di badan ternyata banyak bikin keki seorang manusia. Badan yang lemah sering kali membuat jiwanya lebih lemah dari benang pakaian. Banyak orang – termasuk teman spesial – yang menginginkan perhatian lebih. Maka, dalam agama saya, Islam, kita disunahkan untuk menjenguknya. Ini sekadar untuk memompa semangat hidupnya. Sudahkah kamu membaca buku Psikologi Kematian, karya mas Komeng (Komarudin Hidayat)?

Hmmm.., buku itu saking enaknya saya cerna dan dibaca berulang-ulang; saya membeli cetakan yang kesekian kalinya. Berbeda dengan cetakan pertama. Saya menemukan istilah baru bagi orang yang sakit: tentang mati suri. Ia menyebutnya sebagai ruh yang keluar dari badan (out of body). Terbayang oleh saya dan kamu. Ketika ruh ini keluar dari jasad, kesadaran ilahiyah tentunya menguat. Kalau tidak sempat terkubur kita akan semakin melekat dengan Tuhan. Disinilah letak kenikmatan orang sakit.

Ketika sakit menerpa. Kesadaran ilahiyah terus menguat dalam diri kita. Kepasrahan total atas segala kondisi ini semestinya membuahkan perbaikan. Tentunya perbaikan untuk menghadirkan kembali Tuhan dalam kehidupan kita. Bukankah banyak orang yang sakit setelah sembuh – minimalnya satu minggu – berubah keberagamaannya?

Satu lagi yang saya peroleh dari buku inspiratif karya mas Komeng. Kematian menanamkan ketakutan dalam diri manusia sehingga mengalahkan kecintaannya pada harta duniawi. Saya sempat iseng-iseng menghitung jumlah mobil yang terparkir di depan apotek Al-Ma’soem. Jumlahnya sangat banyak. Ini mengindikasikan orang kaya sangat takut dengan kematian. Saya bersyukur Tuhan menciptakan kematian. Sebab – seperti dikatakan M. Quraish Shihab – kematian dapat mengukuhkan agama di muka bumi.

Bayangkan kalau tak pernah ada kematian? Selain sumpek dunia ini, agama tidak akan dilirik satu kedipan pun oleh manusia. Saya jadi ingin berteriak, “God…, I Miss U so Much!” Nah, Bagamaimana dengan kamu? Sudahkah hari ini merasa rindu pada-Nya?
Sudahkah mengakui dalam hati bahwa Dia (Allah) sangat sayang padamu? Dengan merancang tubuhmu agar terkena suatu penyakit ketika Tuhan tidak disebut-sebut dalam aktivitas kehidupan?

God…, I Love You so Much!

God…, I Love You so Much!


Hari ini saya coba merenung tentang hidup. 27 tahun lebih saya diberi kepercayaan oleh Tuhan untuk bergerak dan menjejaki bumi ini. Namun, ada semacam ganjalan yang terus mengelabui pikiran saya. Ya, tentang segala hal yang tak pernah saya selesaikan. Segala hal yang tak pernah saya rancang sebelumnya, tapi tiba-tiba hal itu hadir dalam hidup ini. Sesuatu yang menghantam bangunan imajinasi yang saya rangkai hingga ancur berkeping-keping.

Dialektika yang terus terjadi adalah: keinginan dan harapan saya versus kehendak Tuhan. Saya berharap hari ini adalah A. Sedangkan sang pencipta saya, Allah Swt. berkehendak lain. Maka B tidak bisa tidak menghadir atau mengada dalam rangkaian hidup saya. Hmmm…, tak bijak rasanya kalau saya – yang lemah dan hina dina ini – melawan kehendak-Nya.

Seperti bencana Situ Gintung, Tsunami di Aceh, bahkan longsor di daerah tetangga saya di Garut. Saya tidak menyalahkan Tuhan atas ketaksesuaian keinginan dengan kehendak-Nya. Itu sah-sah saja dilakukan-Nya. Pada saat saya di pesantren dulu pernah membaca buku yang membahas konsep keadilan Tuhan. Si penanya mencoba menggugat ketidakadilan Tuhan atas bencana yang menimpa. Kemudian sang ulama penulis buku itu, kalau gak salah Ahmad Hassan, dari Bangil mencoba membela konsep keadilan Tuhan.

Katanya, “Tuhan bebas melakukan apa pun juga kepada seluruh ciptaan-Nya. Termasuk menghancurkan dirimu dan alam raya ini. Seperti halnya kita bebas menyembelih ayam peliharaan milik kita. Tidak ada yang akan menangkap kita karena kita telah menyembelih ayam.”

Ketika hari ini tidak seperti yang direncanakan hari kemarin, percayalah Tuhan mencatatnya sebagai satu kebaikan. Namun bukan berarti kita harus jadi manusia yang sibuk merangkai angan tanpa karya nyata. Tidak ! bukan itu maksud saya. Ini pelajaran bahwa hidup selalu memutarkan seseorang agar pusing tentang eksistensi Tuhan di muka bumi. Ketika ada ketidaksesuaian dalam hidup ini, banyak orang berakhir pada satu tesis kesimpulan hidup: Tuhan harus disingkirkan dalam hidup.

Saya jadi teringat seorang tua renta miskin di perkampungan sana. Seandainya saya menjadi dirinya, Tuhan sudah dibenamkan dalam-dalam di belakang otak saya. Penderitaannya melebihi penderitaan saya. Nasib kehidupannya tidak seberuntung hidup saya. Kesempatan mendapatkan pendidikan tidak seperti kesempatan saya. Hmmm…, kalau melihat mereka yang tak seberuntung saya; jadi muncul tesis: Gue sayang banget Tuhan gue.

God…, i love you so much!


17 June 2009

Memuliakan Perempuan

Memuliakan Perempuan

Oleh SUKRON ABDILAH

“Hai sekalian manusia, bertakwalah kepada Tuhanmu yang telah menciptakan kamu dari jenis yang sama dan darinya Allah menciptakan pasangannya dan dari keduanya Allah memperkembangbiakkan lelaki dan perempuan yang banyak.” (QS An-Nisâ’ [4] : 1)

Islam memberikan perhatian sangat besar dan menghormati perempuan. Di dalam film The Message, saya mendapatkan dialog yang pantas untuk menggambarkan kedudukan perempuan dalam Islam. Ketika sahabat berdialog dengan raja Habasyah, mengatakan bahwa perempuan itu berbeda dengan lelaki, tetapi memiliki derajat yang sama.

Muhammad Al-Ghazali, salah seorang ulama besar Islam, Mesir, bahkan pernah menulis, “Kalau kita mengembalikan pandangan ke masa sebelum seribu tahun, maka kita akan menemukan perempuan menikmati keistimewaannya dalam bidang materi dan sosial yang tidak dikenal oleh perempuan-perempuan di kelima benua. Ke¬adaan mereka ketika itu lebih baik dibandingkan dengan keadaan perempuan-perempuan Barat dewasa ini, asal saja kebebasan dalam ber¬pakaian serta pergaulan tidak dijadikan bahan perbandingan.”

Sebetulnya, ada ketidakpahaman terhadap ajaran Islam sehingga menyebabkan kedudukan perempuan ditempatkan di bawah laki-laki. Ayat yang saya kutip di atas berisi bantahan terhadap orang yang mem¬bedakan (lelaki dan perempuan) secara tegas. Ayat tersebut mengatakan perempuan dan laki-laki berasal dari jenis yang sama dan dari keduanya bakal berkembang keturunan, baik laki-laki maupun perempuan. Benar bahwa ada hadits, Saling pesan-memesanlah untuk berbuat baik kepada perempuan, karena mereka diciptakan dari tulang rusuk yang bengkok. (Diriwayat¬kan oleh Bukhari, Muslim dan Tirmidzi). Tapi bukan berarti kedudukan perempuan lebih rendah ketimbang laki-laki. Hadits ini menggambarkan karakter psikologis perempuan waktu itu.

Dalam Al-Quran ditegaskan, Sesungguhnya Kami telah memuliakan anak-anak Adam. Kami angkut mereka di daratan dan di lautan (untuk memudahkan mencari kehidupan). Kami beri mereka rezeki yang baik-baik dan Kami lebih¬kan mereka dengan kelebihan yang sempurna atas kebanyakan makhluk-makhluk yang Kami ciptakan. (QS Al-Israa’[17]: 70). Kalimat “anak-anak Adam” mencakup laki-laki dan perempuan, lho. Dan penghormatan Tuhan diberikan kepada seluruh anak Adam, baik perempuan maupun laki-laki.
Pendapat ini dipertegas ayat, Sesungguhnya Allah tidak menyia-nyiakan amal orang-orang yang beramal, baik lelaki maupun perempuan (QS Âli Imrân [3] : 195).

Maka, Al-Quran sangat mengecam orang yang bergembira dengan kelahiran anak laki-laki, tetapi bersedih ketika istrinya melahirkan anak perempuan. Informasi ini bisa dilihat dari ayat berikut, Dan apabila seorang dari mereka diberi kabar dengan kelahiran anak perempuan, hitam-merah padamlah wajahnya dan dia sangat ber¬sedih (marak). Ia menyembunyikan dirinya dari orang banyak disebab¬kan “buruk “-nya berita yang disampaikan kepadanya itu. (Ia berpikir) apakah ia akan memeliharanya dengan menanggung kehinaan ataukah menguburkannya ke dalam tanah (hidup-hidup). Ketahuilah! Alangkah buruk apa yang mereka tetapkan itu (QS [16] : 58-59).

Al-Quran berbicara tentang perempuan dalam berbagai ayat. Pembicaraan tersebut menyangkut berbagai sisi kehidupan. Ada ayat yang berbicara tentang hak dan kewajiban, ada pula yang mengurai¬kan keistimewaan tokoh perempuan dalam sejarah agama atau kemanusiaan. Salah satu ayat yang seringkali dikemukakan berkaitan dengan hak kaum perempuan adalah yang tertera dalam surah Al-Taubah ayat 71, Dan orang-orang yang beriman, lelaki dan perempuan, sebagian mereka adalah awliya’ bagi sebagian yang lain. Mereha menyuruh untuk mengerjakan yang ma’ruf, mencegah yang munkar, mendirikan shalat, menunaihan zakat, dan mereka taat kepada Allah dan Rasul-Nya. Mereka itu akan diberi rahmat oleh Allah. Sesungguhnya Allah Maha Perkasa lagi Maha Bijaksana.

Secara umum, ayat di atas dipahami sebagai gambaran bekerja sama antara laki-laki dan perempuan di ber¬bagai bidang kehidupan. Pesan ini disampaikan pada kalimat “menyuruh mengerjakan yang ma’ruf dan mencegah yang munkar”.
Jadi, bisa disimpulkan laki-laki dan perempuan memiliki hak yang sama, karena tidak ditemukan satu ketentuan agama yang melarang perempuan beraktivitas dalam berbagai bidang kehidupan bermasyarakat. Bahkan sebaliknya, sejarah Islam menunjukkan kaum perempuan terlibat dalam berbagai bidang kemasyarakatan, tanpa kecuali. Wallahua’lam

16 June 2009

Nurani Kebajikan

Nurani Kebajikan

Oleh SUKRON ABDILAH

Ma­nusia men­jadi saksi atas dirinya sendiri, walau­pun ia mengemukakan
dalih-dalihnya
(QS Al-Qiyâmah [75] : 14-15)

NURANI berasal dari kata nur, yang berarti cahaya. Jadi, nuraniyyun, ialah sesuatu yang bersifat cahaya. Menurut ahli tasawuf, manusia terdiri dari akal, hati, nurani, syahwat dan hawa nafsu. Akal untuk memecahkan masalah, hati untuk memahami realita, nurani adalah pandangan batin, syahwat penggerak tingkah laku atau motif, dan hawa nafsu ialah kekuatan membahayakan untuk menguji manusia.

Perangkat manusia tadi dipimpin hati, sehingga kalau hatinya baik, perilakunya juga baik. Sebaliknya, kalau hatinya buruk, perilakunya juga buruk. Makna nurani lebih dekat kepada hati, sehingga terkenal dengan istilah hati nurani. Sifatnya ruhaniah banget dan mengajak manusia agar berperilaku baik, membantunya mengatakan mana yang benar dan mana yang salah. Dia (nurani) bersemayam dalam diri semua orang. Nurani seseorang pada hakikatnya tidak pernah berbeda dengan nurani orang lain. Dengan kata lain, apa yang dirasa benar oleh nurani seseorang sebenarnya dirasa benar juga oleh orang lain asalkan berlaku kondisi dan situasi yang sama.

Allah Swt. berfirman, “Dan jiwa serta penyempurnaannya (ciptaannya). Maka Allah mengilhamkan jiwa itu (jalan) kefasikan dan ketakwaannya. Sesungguhnya beruntunglah orang yang menyucikan jiwa itu. Dan sesungguhnya merugilah orang yang megotorinya” (QS Syams : 7-10). Nurani sebagai petunjuk jalan menuju kebenaran adalah ilham dari Allah. Melalui nurani, Allah membiarkan kita tahu sikap dan perilaku terbaik dan paling indah. Nurani menjadikan manusia mendapatkan petunjuk guna menempuh jalan yang benar dan lurus. Seseorang yang mau mendengar hati nurani-nya akan mencari jawaban dan menjelajahi apa yang terlihat di sekelilingnya untuk kebenaran. Seseorang yang telah mengembangkan kepekaan ini akan dengan mudah merasakan dirinya tinggal di sebuah dunia yang tercipta tanpa cacat (baca: bersyukur).

Armahedi Mahzar (1983: 33), mengatakan seorang individu selalu berusaha menyesuaikan dirinya dengan etika yang berlaku di masyarakat. Kesadaran terhadap dirinya adalah hasil dari proses “akali-qalbi-nurani” dalam mengurai apa yang terdapat dalam diri. Dengan akali atau intelektualita seseorang terus digunakan untuk berpikir tentang dirinya. Qalbi atau sensibilita diarahkan untuk terus merenungkan kepribadian yang ditunjukkan kepada lingkungan masyarakat. Sedangkan nurani atau moralita dijadikan upaya untuk memadukan akali dan qalbi dengan mengetengahkan prinsip-prinsip moral.

Berpadunya intelektualita, sensibilita dan moralita dalam kehidupanmu memang sangat penting dilakukan. Nu­rani sangat menentukan kadar keimanan dan akhlak manusia, karena dapat menangkal bisikan hati yang buruk (dzulmani). Ary Ginanjar Agustian misalnya, mengartikan nurani sebagai bisikan kebaikan universal dalam diri manusia untuk mengisi hidup dengan perilaku mulia. Menghormati nurani kita berarti terus-menerus menjalankan perilaku yang tidak bertentangan dengan nilai-nilai Ilahi. Ketika kita sedang berjalan di trotoar jalanan yang ramai dengan kendaraan, kemudian melihat nenek-nenek yang akan menyebrang. Muncullah bisikan dari hati untuk segera membantunya. Sederhananya, itulah yang disebut dengan nurani. Ada semacam niat untuk menolong orang yang sedang membutuhkan pertolongan.

Begitu juga dengan keagamaan seseorang. Ketika kita mendengar dari sang ustadz bahwa Allah itu Maha Pengasih dan Maha Penyayang, ada dua bisikan hati: benar atau tidak. Apabila mengikuti hati nurani kita, akan mengikuti bisikan hati yang baik dan positif dalam meyakini sifat-sifat-Nya itu. Kita, tidak akan menolak dan menafikan sifat Rahman dan Rahim-Nya, Tuhan penguasa alam. Tetapi manusia diberikan kebebasan untuk memilih bisikan-bisikan hatinya dengan syarat bertanggung jawab atas pilihannya. Di dalam Al-Quran dijelaskan, Ma­nusia men­jadi saksi atas dirinya sendiri, walau­pun ia mengemukakan dalih-dalihnya (QS Al-Qiyâmah [75] : 14-15). Ketika kita tidak mendengarkan dan melaksanakan apa yang dibisikan nurani, itu sama saja dengan memasung hak nurani untuk memberikan arahan dalam hidup. Pemasungan nurani men­cabut totalitas kita sebagai manusia. Karena itu, agama Islam menegaskan siapa yang berbuat baik, kebaikan itu kem­bali kepada dirinya sendiri. Demikianlah agama memberikan kebebasan sekaligus meletakkan tanggung jawab kepada setiap individu.

Mengetahui apakah bisikan hati terkategori nurani adalah dengan mengetahui apakah bisikan hati itu baik dan bermanfaat untuk orang banyak ataukah tidak. Sebab, kalau bisikan hati cenderung kepada bisikan buruk dan jahat, itu dinamakan dengan dzulmani (kegelapan diri). Kalau seorang guru memberikan kunci jawaban ketika ujian tengah berlangsung apakah itu berdasarkan nurani ataukah dzulmani? Kalau seorang pejabat Negara memafaatkan jabatannya untuk kepentingan pribadi dan kelompok, apakah itu didasari nurani ataukah dzulmani? Hanya orang yang memahamilah yang mampu melihat di balik setiap tindak-tanduk ada bisikan untuk melakukan kebajikan. Bukan untuk membuat orang di sekitar merasa tidak nyaman berada di sampingnya. Wallahua’lam

Penulis, Bergiat pada Institute for Religion and Future Analisys (Irfani) Bandung.