Showing posts with label Renungan. Show all posts
Showing posts with label Renungan. Show all posts

17 December 2018

Tahun Baru, Hidup Harus Lebih Baru

Tahun Baru, Hidup Harus Lebih Baru


Tahun baru Masehi bagi saya tidak hanya pesta sesaat dengan meniup terompet dan menyalakan kembang api di tempat-tempat keramaian. Tahun baru bagi saya ialah awal menggantungkan harapan hidup untuk menjadi lebih baik lagi. Harapan hidup ialah modal, capital, mesin, dan daya luar biasa yang mampu menggerakkan aktivitas kita. Ketika tak ada satu pun harapan yang kita susun dalam hidup ini, saya jamin Anda tidak akan lagi betah mengarungi hidup ini. Anda akan putus asa, lemah, tak bersemangat, dan memahami bahwa hidup tak layak dijalani.

Tahun baru diawali dengan nama dewa Janus, yang memiliki dua kepala. Yang satu menghadap ke depan. Satunya lagi mengarah ke belakang. Ini artinya ketika mendekati bulan Januari, kita sejatinya melakukan refleksi diri ikhwal kehidupan yang telah dan akan kita jalani. Masa lalu, memang telah terjadi dan tidak mungkin lagi kembali. Masa depan tidak mungkin terjadi kalau harapan kita tidak ada sama sekali.

Jadi, susunlah harapan untuk memodali semangat hidup kita. Sesekali melihatlah ke belakang untuk dipelajari agar ke depan kesalahan yang pernah kita lakukan tidak terjadi lagi. Tahun Baru, harapan pun harus lebih baru. Setuju bro!
Memberi Itu Harus Memberdayakan

Memberi Itu Harus Memberdayakan

“Hai orang-orang beriman, janganlah kamu menghilangkan (pahala) sedekahmu dengan menyebut-nyebutnya dan menyakiti (perasaan si penerima), seperti orang yang menafkahkan hartanya karena ria kepada manusia dan dia tidak beriman kepada Allah dan hari kemudian. Maka perumpamaan orang itu seperti batu licin yang di atasnya ada tanah, kemudian batu itu ditimpa hujan lebat, lalu menjadilah dia bersih (tidak bertanah). Mereka tidak menguasai sesuatu pun dari apa yang mereka usahakan; dan Allah tidak memberi petunjuk kepada orang-orang yang kafir,”  (QS. Al-Baqarah [2]: 264).

PERILAKU mulia nan indah tapi serasa sulit dilaksanakan ialah “memberi”. Berbeda dengan menerima. Setiap orang pasti berebut bila saja mengurusi segala hal yang berkaitan dengan penerimaan. Entah itu ketika menerima jabatan, harta kekayaan, atau materi yang disedekahkan orang lain.

Di dalam Islam, amal kebajikan yang tinggi ialah praktik memberi melalui perintah zakat, infaq dan sedekah. Bahkan, memberi tidak harus menunggu kita menjadi orang yang kaya raya. Ini telah dicontohkan oleh panutan umat Islam, Rasulullah SAW, sepanjang hayatnya. Betapa tidak, saking gemarnya memberi, baginda Rasulullah sampai menangis saat menyaksikan seorang yatim dan miskin terlantar di jalanan. Beliau pun dengan sigap langsung menawarkan istrinya, Aisyah, untuk menjadi ibu angkat bagi anak yatim yang terlantar tadi.

Bahkan, tak jarang demi kegiatan memberi ini, Rasulullah SAW rela mengganjal perutnya dengan batu kerikil untuk menahan lapar. Padahal, manusia sekelas Nabi, bukan tak punya makanan. Tetapi makanan itu diberikan kepada fakir miskin.

Di dalam ayat di atas, setinggi apa pun keinginan untuk memberi tetap saja kita sebagai pemberi perlu mengindahkan perasaan hati si penerima. Memberi dengan cara menghardik atau memamer-mamerkan apa yang telah kita berikan merupakan perilaku yang dapat mengundang rasa sakit hati si penerima. Karena itu, alangkah bijaksana apabila memberi dilakukan dengan niat ikhlas, menolong orang ke luar dari rasa sedih, khawatir, dan resah. Inilah yang membuat perilaku memberi menjadi tidak mudah. Sebab, sedikit saja tergelincir dari niat, kita malah akan terjebak pada perilaku riya (ingin terlihat baik oleh orang lain).

Praktik memberi laksana matahari menyinari bumi. Bayangkan, dengan cahayanya yang kadang terasa menyengat, matahari melepaskan seluruh makhluk bumi dari ancaman kematian. Tanpa matahari, alam semesta akan kehilangan energi yang mampu memberikan kekuatan untuk bergerak. Hebatnya, sebanyak apa pun matahari melepaskan cahayanya, ia tak pernah meminta balasan.

Dalam konteks filantrofis, maka si penerima, kurang pantas jika menolak pemberian orang atau meminta lebih dari apa yang orang lain berikan. Sebab, menolak rezeki lewat tangan orang lain juga tidak disukai oleh Rasulullah. “Janganlah me­nolak permintaan seseorang, walaupun kamu melihatnya memakai se­pasang gelang emas,” begitulah salah satu sabda Rasulullah SAW.

Hanya, satu catatan perlu diingat; jangan sampai membuat orang keasyikan dengan kebiasaan menerima pemberian. Sebab, dalam ajaran Islam, praktik meminta-minta tidak begitu disenangi. Rasulullah Saw. berwasiat: “Siapa yang meminta guna memper­banyak apa yang dimilikinya, maka se­sungguh­nya ia hanya mengumpulkan bara api (ne­raka).” Karena itu, pemberi yang baik adalah pemberi yang sekaligus mampu memberdayakan si penerima hingga mampu hidup mandiri, seperti matahari.

Hal ini dikatakan Moeslim Abdurrahman dalam bukunya Islam sebagai Kritik Sosial (1996: 41) sebagai Muslim “organik”. Yakni kegiatan tolong menolong antarsesama yang dapat menciptakan ikatan masyarakat yang teguh di tengah kondisi lemah. Dalam arti lain; masyarakat yang mampu memaksimalkan segala sumber daya manusia (SDM) dan sumber daya alam (SDA) yang ada untuk menopang kebutuhan hidup.

Karena itu kita kerap kali memandang sepele praktik memberi. Notabene masyarakat kita begitu asyik memaknai bahwa memberi sekadar memberi; bukan memberi dengan cara memberdayakan. Karena itu, gagasan konsepsional Moeslim Abdurrahman dalam rangka membangun Muslim “organik” patut menjadi petunjuk guna mewujudkan kesejahteraan hidup. Artinya, tidak ada alasan lagi bagi kita berkeluh kesah dan mengharap belas kasih orang lain. Akan tetapi menanamkan keyakinan bahwa kita harus menjadi pemberi yang tak sekadar memberi; tetapi memberi dengan cara yang memberdayakan.

Rasulullah SAW bersabda, “Tangan di atas (pemberi yang memberdayakan) lebih baik daripada tangan yang di bawah (peminta)?”

Allah SWT berfirman, ”Dan carilah pada apa yang telah Allah karuniakan kepadamu (kebahagiaan) negeri akhirat, dan janganlah kamu melupakan bagianmu dari (kenikmatan) duniawi, dan berbuat baiklah (kepada orang lain) sebagaimana Allah telah berbuat baik kepadamu, dan janganlah kamu berbuat kerusakan di (muka) bumi. Sesungguhnya Allah tidak menyukai orang-orang yang berbuat kerusakan,” (Q.S. Al-Qashas [28]: 77). Wallahua’lam

30 November 2018

Kesulitan Hidup Harus Dihadapi Secara Optimis

Kesulitan Hidup Harus Dihadapi Secara Optimis


Hidup yang kita jalani, dipenuhi rintangan dan membutuhkan kekuatan diri untuk keluar dari rintangan yang mengadang. Kesulitan ekonomi, penderitaan, dan ketidakse suaian harapan dengan kenyataan adalah bentuk konkrit rintangan tersebut. Bagi orang yang lemah jiwanya, rintangan di pahami sebagai 'batu sandungan' yang sulit dilalui.

Fenomena bunuh diri, misalnya, nota bene diinisiasi kelemahan jiwa semacam ini. Karena impitan ekonomi, tak sedikit bunuh diri menjadi jalan menyelesaikan masalah kehidupan. Allah SWT berfirman: "Sesungguhnya manusia diciptakan ber sifat keluh kesah lagi kikir. Apabila ia di tim pa kesusahan ia berkeluh kesah, dan apabila ia mendapat kebaikan ia amat ti d ak mau menyampaikannya kepada orang lain (kikir)." (QS. Al-Maa'arij [70]:19-21)

Ayat di atas mengindikasikan bahwa kerapuhan jiwa dapat mengakibatkan lahir nya keluh kesah yang tak produktif. Ketika kesusahan hidup menerpa, tali ke kang moral agama menjadi longgar. Tak ayal lagi, kehidupan menjadi barang mu rah yang sedemikian tak berharga untuk dijaga kelangsungannya.

Seorang gadis, rela melompat dari gedung bertingkat hanya diakibatkan masalah sepele: putus dengan kekasih nya. Seorang pengusaha melakukan hal yang sama, karena sedang menghadapi kemelut masalah di perusahaannya. Me reka memahami hidup hanya dengan meng gunakan rumus keinginan mesti berbuah kenyataan.

Padahal, rumus kehidupan tidak se per ti itu. Adakalanya keinginan melahir kan kegagalan atau ketidaksesuaian de ngan realitas hidup. Maka, sewajibnya mo ralitas agama diperkokoh kembali dalam diri kita. Sehingga hidup mewujud dalam bentuk yang asyik-masyuk.

Ruang dan waktu yang dijalani dengan keikhlasan penuh bahwa Dia (Allah) se dang menguji kadar keimanan kita pada-Nya. Ingat, lemparan batu tentu saja tidak se mua nya akan mengenai target yang sama. Artinya, pengharapan adakalanya ti dak sesuai dengan yang kita rancang. Pada posisi ini, kesabaran dan ketabahan merupakan benteng pertahanan yang su per-duper efektif meredam keinginan mengakhiri hidup kala masalah menerpa.

Seorang Muslim sejati, adalah individu yang dapat mengoptimalkan potensi diri untuk mewujudkan harapan, tanpa terpa ku pada hasil. Dia (Allah) akan membe ri kan berkah tak terkira meskipun harapan itu gagal terwujud. Karena dengan ke ga galan itu, kita dapat mempela jari kekurangan sehingga di lain waktu dapat dikurangi. Inilah letak keberkahan tak ter kira. Kita, dengan kegagalan yang menim pa akan membentuk jiwa hingga menjadi kokoh.

Alhasil, muncul sikap hati-hati, awas dan waspada ketika menyusun program kerja kehidupan. Dalam pepatah disebut kan, seorang manusia bijaksana adalah orang yang tidak akan terperosok pada lubang yang sama. Di dalam Alquran pula dijelaskan: "Dan jiwa serta penyempur na annya (ciptaannya), maka Allah mengil hamkan (memberi potensi) pada jiwa kefasikan (pengingkaran terselubung) dan ketakwaan. Sesungguhnya beruntunglah orang yang menyucikan jiwa dan merugi lah orang yang mengotorinya." (QS. Asy- Syams [91]: 7-10).

Term takwa memiliki arti dasar, se buah ketakutan jiwani. Ketika rasa takut dikelola secara bijak, positif dan siste matis, tentunya lahirlah sebuah kondisi psikologis yang awas dan waspada. Na mun, ketika perasaan takut tidak dikelola secara bijak, positif dan sistematis akibat nya akan melahirkan keluh kesah, putus asa, dan bosan menjalani kehidupan.

Tak heran kalau bunuh diri menjadi solusi favorit orang semacam ini. Kekuat an dalam dirinya telah hilang dan berang sur-angsur membawanya jadi zombie yang tak sadar antara ide dan realitas ka dang tidak sesuai.

Kita mesti memompa potensi diri se hingga terbentuk 'modal spiritual' agar dapat memahami hidup sebagai ladang beramal saleh. Tanpa memiliki modal se perti ini, mind set kita akan menempatkan hidup sebagai barang murah yang dapat diakhiri dengan bunuh diri. Pola pikir se perti inilah yang mesti ditumpurludeskan dari dalam diri. Sebab, pesimisme dalam Islam tak dianjurkan. Islam hanya me ng ajarkan doktrin kehidupan optimisme.

Masa depan merupakan 'bumbu kehi dupan' yang dapat melecut gairah menja lani realitas kehidupan. Kewajiban kita se bagai manusia beragama salah satunya menabur benih-benih optimisme guna meng gapai keberkahan hidup. Bukankah Alquran mengingatkan: "Hai orang-orang yang beriman, bertakwalah kepada Allah dan hendaklah setiap diri memperhatikan apa yang telah diperbuat nya untuk hari esok (akhirat); dan bertak walah kepada Allah, sesungguhnya Allah Maha menge tahui apa yang kamu kerja kan." (QS. Al- Hasyr [59]:18). Wallahua'lam.

9 February 2018

Kerjalah, Karena Allah Yang Nentuin Rezeki

Kerjalah, Karena Allah Yang Nentuin Rezeki

SEMANGAT bekerja jadi sebuah keniscayaan bagi seorang manusia yang menghendaki kesuksesan menghampiri hidupnya. Kita, ketika menghendaki kesuksesan harus rela menjalani proses terlebih dahulu. Jangan “ujug-ujug” ingin sukses. Ingat, bahwa kesuksesan tidak didapatkan hanya dengan lamunan; tetapi harus diusahakan secara maksimal dan sabar. Insyaallah, ketika kita sabar menjalani proses mencari rezeki dan bekerja dengan sungguh-sungguh, hidup kita akan menjadi lebih mudah dan berfaedah.

Kendati rezeki ditentukan Allah Swt., namun Rasulullah Saw. memberikan beberapa kiat mendapatkan kemudahan memperoleh rezeki, dan keluar dari kesulitan hidup. Beliau bersabda, “Barangsiapa tertimpa kemiskinan, kemudian ia mengadukannya kepada sesama manusia, maka tidak akan tertutup kemiskinannya itu. Namun, siapa saja yang mengadukannya kepada Allah, maka Allah akan memberikannya rezeki, baik segera ataupun lambat.” (HR. Abu Dawud dan Tarmidzi).

10 April 2010

Naungan Allah

Naungan Allah

Suatu ketika, Nabi Muhammad SAW bersabda: “Allah akan menaungi tujuh orang pada hari di mana tak ada lagi naungan selain naungan-Nya. Mereka itu di antaranya: 1). Pemimpin yang adil, 2). Pemuda yang menggunakan masa mudanya dengan beribadah pada Allah, 3). Orang yang memakmurkan mesjid, 4). Dua orang yang berkasih sayang karena Allah, dan berpisah karena-Nya, 5). Seorang laki-laki yang diajak berbuat maksiat oleh wanita kaya dan cantik, tetapi ia menjawab “Aku takut pada Allah”, 6. Orang yang bersedekah, hingga tidak diketahui tangan kiri apa yang disedekahkan-nya, dan 7). Orang yang mengingat Allah ketika sendirian kemudian ia menangis.” (HR. Bukhari dan Muslim).