Showing posts with label Sastra. Show all posts
Showing posts with label Sastra. Show all posts

17 December 2018

Tahun Baru, Hidup Harus Lebih Baru

Tahun Baru, Hidup Harus Lebih Baru


Tahun baru Masehi bagi saya tidak hanya pesta sesaat dengan meniup terompet dan menyalakan kembang api di tempat-tempat keramaian. Tahun baru bagi saya ialah awal menggantungkan harapan hidup untuk menjadi lebih baik lagi. Harapan hidup ialah modal, capital, mesin, dan daya luar biasa yang mampu menggerakkan aktivitas kita. Ketika tak ada satu pun harapan yang kita susun dalam hidup ini, saya jamin Anda tidak akan lagi betah mengarungi hidup ini. Anda akan putus asa, lemah, tak bersemangat, dan memahami bahwa hidup tak layak dijalani.

Tahun baru diawali dengan nama dewa Janus, yang memiliki dua kepala. Yang satu menghadap ke depan. Satunya lagi mengarah ke belakang. Ini artinya ketika mendekati bulan Januari, kita sejatinya melakukan refleksi diri ikhwal kehidupan yang telah dan akan kita jalani. Masa lalu, memang telah terjadi dan tidak mungkin lagi kembali. Masa depan tidak mungkin terjadi kalau harapan kita tidak ada sama sekali.

Jadi, susunlah harapan untuk memodali semangat hidup kita. Sesekali melihatlah ke belakang untuk dipelajari agar ke depan kesalahan yang pernah kita lakukan tidak terjadi lagi. Tahun Baru, harapan pun harus lebih baru. Setuju bro!

30 November 2018

Orang Tamak Mah Begini ya

Orang Tamak Mah Begini ya


Tuhan dipenjara seluruh ketamakanmu. Dia menjadi tak berarti apa-apa di kedalaman sinabarmu. Tempat suci-Nya kini menjadi panggung politik kepentingan. Pertunjukan atraktif di gedung-gedung masjid yang sejatinya bersih dari nafsu-nafsu berkuasa. Kita seolah menjadikan bebangunan beratap menara bulan bintang itu sebagai rebutan orang-orang. Madjid berkata, “Islam Yes!” sementara “Partai Islam No”.

Adalah kepicikan ketika ruh coba-coba dilumuri nenafsu manusiawi berbalut angkara murka. Nilai agama menjadi jualan politik yang tak lagi seseksi Dewi Persik. Se-ngetren Ahmad Dani dan Luna Maya. Laiknya Ariel yang tak lagi percaya diri untuk berkarya: Agama menjadi mati suri. Mati dari keberfungsian hakikinya sebagai mesin penggerak umat manusia untuk mentransformasi.

Tak usah kau salahkan Agama. Salahkan saja manusia-manusia yang lunglai ketika menafsir mesin penggerak Agama. Matilah jiwa. Matilah rasa. Matilah sinabar di otak kepalamu. Daya dobrak Agama pun tak lagi seperkasa Hercules menghancurkan benteng-benteng yang dibangun ayahnya, Zeus.

Mereka hanya bisa berkata, “Negaraku”, seraya menerawang ke angkasa, “adalah jamrud khatulistiwa yang mencekam.” Tak ada lagi harapan yang tersimpan di dada setiap insan negara: “Aku berteriak: Matilah Agama”...Matilah engkau di dunia ini akibat ulah manusia bermental raksasa angkara murka.

Engkau kini tertindih nyeri. Menggerinjal ingin membebaskan diri jerat tali temali besi. Namun si dia hanya tertawa senang, kadang riang. Gigi bergerigi dan mulutnya yang penuh keserakahan terlihat menyebalkan. Sangat menyebalkan serupa orang dewasa yang mengambil ludo, monopoli, dan ular tangga milik adiknya secara paksa. Sementara itu, di luar, orang-orang keparat hanya bernyanyi riang tak kenal lelah. Rasa dan jiwanya tak bergelinjal keluar ubun-ubun kesadaran manusiawi. Membiarkan suara engkau menjadi parau...sangat parau...dan lambat laun tak terdengar segemercik apa pun.

Bebatuan itu terasa berat menindih lekat. Memberati tubuh ringkih berkalung derita. Penderitaan yang dirangkai secara sengaja oleh babi-babi berdasi. Rakyat kini tak lagi berpunya kedaulatan. Semuanya habis digerus keserakahan kaum dewa yang bermuram durja.  Merana dan merona tak ada bedanya. Blur dengan suara isak tangis engkau yang terus-terusan mengeras. Membahana. Dan menghiasi alam ini. Semakin keras dan membahana; semakin tak terdengar teriak penderitaan. Petani, guru honorer, pengangguran, tukang angkot, pemboseh becak, dan si dekil hanya bisa berteriak hingga parau, serak dan lantas meringkuk kikuk di pembaringan.

Engkau bersuara seperti halnya si bisu yang tak sudi berkata-kata. Meracau karena engkau dianggapnya super gila bagi orang-orang yang kini duduk tersenyum di kursi empuk kekuasaan. Tak lupa dibalik senyum dan simpati mereka, terselip sebatang cerutu yang mengepulkan asap kemunafikan.

Bandung, Juni 2011

Sajak Tragis

Sajak Tragis

kesucian mengalir
hingga memenuhi urat nadi
mencengkram menelusuri sinabar hati
semuanya memahat diri mengukir eksistensi
menjadi manusia dilumuri spirit ilahi

tapi, aku dan kau kini menutupnya
dengan sejuta paksa
memenjarakannya dengan terali keangkaraan
untuk kemudian berakhir tragis.....
sanubariku dan sanubarimu kini tak memancarkan cahaya
membunuhnya hingga mati tak dapat menari-nari asyik
di alam realitas...

aku dan kau, kini, tak mampu
mengukir karya berbalut ruh mengilahi
karena tengah mengkhianati titah Rabbi

Bandung, Juni 2011

29 November 2018

Kuntum Bunga Kampung (1928-2009)

Kuntum Bunga Kampung (1928-2009)


ah itu burung bercengkrama riang
membedah rasa yang diaduk kesepian
di depan pusaramu aku melayang
berimajinasi meneteskan selaksa harapan

rekahan jiwa ini mengembung pilu
menari di atas selubung kerinduan
mencari sepercik hati berdawai ngilu
perkuburanmu kini sisakan kemasaman


masihkah kudekap erat kegelisahan berbalut harapan?
adakah kau rasakan suasana batin yang sama laiknya kurasakan?
ah pastinya kau tak merasakan?
aku yakin kau pun tak berpengharapan seperti yang kuharapkan!

batu nisan ini menjadi saksi bisu
di gelaran hatiku bersemayam keresahan
berpendaran menjadi tangisan menggunung
di dalam diri ini aku hanya bisa berdecak kagum
kadang rasa tak percaya mengulum sinabar

Oo, di......kampung ini telah lahir
manusia yang resah dan jengah atas kemiringan
yang tak pernah berhenti menetaskan
kederitaan dan penderitaan hidup dibalut refleksi agung

Oo, di.....kampung ini juga dirimu telentang kaku
mencoba bertamu sekaligus bercengkrama
dengan tetanggamu yang mencium harum
kuntum bunga yang puluhan tahun tak pernah tercium

selamat jalan sang maestro (1928-2009)
selamat bercengkrama dengan-Nya
akankah aku di sini menjadi gelisah sepercis dirimu.....?

Garut, 22 September 2009

28 November 2018

Gangsingku dicuri orang*

Gangsingku dicuri orang*

Aku susun pakem permainan gangsing buat melawan orang yang berusaha mencurinya dariku. Dari saluran FM sebuah radio swasta memberitakan bahwa gangsingku akan dicuri bangsa lain. Bangsa yang tak punya kreativitas budaya setinggi saudara-saudaraku di Indonesia.

Aku kembali mengukuhkan bahwa aku dan saudara-saudaraku adalah para pencipta permainan gangsing. Tak sudi kalau nasibnya seperti angklung dan kain batik, yang distempeli cap Ki Malaya. Aku susun buku tentang tata-aturan bermain gangsing, jangan-jangan ada maling yang hendak mencuri di tengah kelengahan. Kan mereka bakal malu kalau mencuri, sementara bukti tertulis ada dihadapan mata setengah memandangnya itu.

Ini lho buku Panduan bermain Gangsing!
-- 03 November 2007 

* judul ini terinspirasi oleh pencurian-pencurian kekayaan intelektual bangsa Indonesia oleh bangsa luar. 

27 November 2018

Penjara, HAMKA, dan Al-Azhar

Penjara, HAMKA, dan Al-Azhar

Aku menyisir rambut yang tergurai laiknya nyiur kelapa dengan sisir ompong berwarna kemerahan. Rambut hitam yang sedari tadi melambai-lambai kini terlihat mengkilat dan setia mengarah ke kiri dan ke kanan membentuk simbol cinta. Kalau saja diolesi minyak rambut LaVender warisan ayahku pasti terlihat seperti Alpacino yang terkenal itu. Ya, andai saja tak ada merek minyak rambut selain Lapender, maka hingga hari ini aku akan memakainya setia sampai mati.

Untungnya kini terdapat banyak merek minyak rambut. Dan, jujur saja; sejak aku menjadi mahasiswa tak pernah memakai minyak rambut. Selain ribet bin susah; aku juga tak mau ambil pusing mengeluarkan biaya buat rambutku. Biarkanlah rambut ini tumbuh sesuai kodrat Ilahi. Soal ketombe. Itu adalah soal estetika dan seni Ilahi. Biarlah Dia bermain-main dengan rambutku. Toh, ada beragam merek shampo cukup terkenal yang siap menyelesaikan pekerjaan. Cukup dengan 500 rupiah dan rambutku sudah bersih dari ketombe.

Kemudian kulihat bentuk wajahku. Hatiku berbisik, alhamdulillah, ternyata Tuhan masih memberikan anugerah dan kenikmatan tak terkira. Lubang hidungku masih mengarah ke arah bawah. Coba saja kalau lubangnya menganga ke atas. Boleh lah kalian bayangkan kalau aku akan kelimpungan menjaga agar hidungku ndak kemasukan air hujan. Tapi teman disampingku unjuk pendapat, “pake payung saja bos”.

Selesai bercermin, aku pergi ke warung untuk membeli panganan kecil, kopi hitam, dan beberapa batang rokok. Kemudian ku lihat matahari hari ini dari jalanan. Terlihat malu-malu dan agak pelit bersedekah karena tak seperti biasanya; matahari unjuk rasa tak mau memberi cahaya. Ndak tahu marah atau kesal dengan manusia. Yang pasti hari ini cahaya matahari terlihat sedikit saja. Hanya mendung kelabu brader!
***
“Sampurasun…”

“Rampes…” jawab temanku, yang tadi mengusulkan untuk membawa payung ketika air hujan turun. Sayang sekali, usulnya tak pernah ku gubris. Sebab, lubang hidungku masih mengarah ke bawah.

“Dari mana saja euy?” lanjutnya sambil membuka halaman Koran Kompas.

“Udah tahu nanya. Dasar urang Sunda. Senangnya basa-basi.”

Temanku hanya “seri koneng” karena begitulah kondisi sebenarnya. Suku yang terkenal senang basa-basi adalah suku Sunda. Ketika menawari makanan saja, hanya di mulut. Tapi tidak semua orang Sunda begitu. Aku termasuk urang Sunda yang tak senang berbasa-basi. Kalau punya uang dan kesempatan akan kutawari. Tetapi giliran sedang bokek, berubah menjadi manusia sombong.
***
Hari ini aku berjumpa lagi dengan HAMKA lewat Tafsir Al-Azhar jilid satu. Tak tahu berapa jilid jumlahnya, yang jelas aku mendapat kabar bahwa tafsir tersebut disusun ketika beliau sedang mendekam di penjara. Gaya penafsiran HAMKA menggunakan model tafsir tematis dan kontekstual. Inilah yang mengakibatkan aku sedemikian mengagumi tafsir beliau.

Bayangkan. Pengapnya penjara, kotor, jorok, sempit, dan tak ada fasilitas mesin tik ternyata tak menghalangi HAMKA untuk berkarya. Ketika dirinya dijenguk sang keluarga, kerabat, dan sahabat; ia selalu memesan dibawakan buku dan kitab. Beliau tidak meminta amnesti dari pemerintah. Di tengah sepi dan gelapnya malam, di dalam penjara dia merenung dan memeras pikirannya untuk bertafakur membedah kehidupan yang hipokrit.

Ia kemudian mengingat kisah tragis ulama pujaannya, Syeikh Ibn Taimiyah, yang menghasilkan karya berupa kitab dari balik terali besi. Motivasi berkhidmat untuk umat dan bangsa menyeruak ke alam karsa Buya HAMKA. Dari sanalah keinginan menyusun kitab tafsir hadir kembali setelah bertahun-tahun beliau tak memperoleh kesempatan untuk menyusunnya.

Seperti yang beliau ungkapkan dalam sebuah karyanya, “Apa jadinya pabila aku tak mendekam di penjara. Sangat boleh jadi Tafsir Al-Azhar tak akan pernah aku selesaikan. Terima kasih karena Engkau telah memberikan tempat yang sepi dan intim untuk menyusun ilmu pengetahuan Islam dengan mengkaji ilmu-Mu.”

Setelah ia merasa putus asa, ternyata keimanan HAMKA mampu mengalahkan bisikan untuk bunuh diri dari Syetan terlaknat. HAMKA berbeda dengan Socrates, sang filsuf Yunani Kuno, yang memandang bunuh diri sebagai jalan untuk mengakhiri hidup. Coba bayangkan, bisik HAMKA, kalau saja Socrates tak melakukan bunuh diri. Sudah dapat dipastikan karyanya bisa dinikmati hingga kini. Tidak seperti yang dikabarkan Plato dalam berbagai karyanya. HAMKA adalah sang pemegang teguh optimisme dalam hidup. Bukan pemegang filsafat hidup pesimisme seperti yang diajarkan Schopenhuer.

Mulai sejak itu, HAMKA menekadkan diri bahwa penjara bukan akhir dari kreativitas. Bukan akhir dari semangat berkarya. Dan, bukan akhir dari dirinya sebagai manusia. Penjara, demikian tekadnya, mesti menjadi tempat untuk merenungi segala laku pada masa lalu hingga dapat melihat masa depan dengan cerah benderah.
***
HAMKA…..Kini, setiap ku baca karyamu, selalu kusempatkan untuk menciumi sampul bukumu. ku selami pengalaman hidupmu. Ku telusuri jejak langkahmu. Ku simpan setiap wejanganmu yang berharga ini. Ku hormati segala gagasanmu…, HAMKA. 

Dan….., ku sisiri kembali rambutku yang mulai memanjang tak beraturan. Ku semproti badanku dengan parfum kembali karena baunya minta ampun…!

26 November 2018

HAMKA; Aku Bukan Pengkhianat Negara!

HAMKA; Aku Bukan Pengkhianat Negara!

Almari buku milik ayahku setelah kewafatannya pada tahun 1987 terlihat kosong molompong. Hanya beberapa buku karangan Buya Hamka yang masih tertata rapi. Kendati seorang kepala sekolah di pelosok perkampungan, ayahku masih sempat membeli buku-buku karangan tokoh Muhammadiyah, NU, dan Persatuan Islam. Mataku tertuju pada tiga buku karangan sastrawan terkemuka yang mendapatkan gelar Doktor honoris Causa dari Universitas Al-Azhar, Cairo dan Universitas Kebangssaan Malaysia; sang ulama dan sastrawan, Buya HAMKA.

Buku pertama adalah roman klasik “Tenggelamnya Kapal Van Der Wijck”, buku kedua “Di Bawah Lindungan Ka’bah” dan buku ketiga “Tasauf Moderen”. Beliau dijuluki sebagai Hamzah Fansuri abad 20 oleh pecinta dan pemerhati dunia sastra. Muhammadiyah, umat, bangsa, dan Negara pasti bangga pernah melahirkan tokoh super kharismatik ini. Dua romannya yang menggugah telah kubaca sejak masa menjadi santri di Pesantren Persatuan Islam No. 19 Garut, 12 tahun silam. Ketika membaca roman “Tenggelamnya Kapal Van Der Wijck” aku menangis, meneteskan air mata, dan mengharu biru. Ya, buku itu merupakan roman yang menggambarkan adanya ketidakadilan hukum adat bagi sepasang kekasih. Cinta terhijabi kasta kelas sosial yang tak menempatkan manusia sebagai makhluk yang memiliki kesamaan derajat.

HAMKA adalah seorang ulama, sastrawan, wartawan, dan pecinta khazanah keilmuan hebat yang dimiliki bangsa ini. Karyanya mencapai 200-an judul buku. Sangat produktif seperti halnya ulama-ulama salaf shaleh pada masa Islam sedang berada di puncak peradaban. Aku tak bisa membaca dan menelaah karya-karyanya semua yang banyak itu. Hanya tiga buku yang tersisa di almari almarhum ayahku - yang pernah kutamatkan - karena ayahku mengidolkan buya HAMKA.

***

Tepatnya saat lebaran kemarin, buku yang sempat hilang, “Tasauf Moderen” mendadak bersilaturahim kembali ke rumahku. Aku pun tanpa berpikir panjang mengambilnya, mengelus dan menciumi buku tersebut. Saat di pesantren dulu, aku tak banyak memahami isi buku ini. Kini, setelah kubaca kembali muncul kesimpulan: HAMKA memang seorang ulama yang berprinsip “ambillah ilmu walaupun datangnya dari negeri Barat”. Terlepas dari kontroversi fatwa haram “Selamat Natal” pada tahun 80-an, aku masih tetap mengaguminya. HAMKA itu bukan pendendam. Bukan pengkhianat Negara seperti yang dituduhkan rezim orde lama kepadanya pada tahun 1964, hingga membuatnya mendekam di balik terali besi. Ketika Presiden Soekarno wafat saja, buya HAMKA memimpin shalat Jenazah.

Pada buku “Tasauf Moderen” cetakan XVII tahun 1980, aku menemukan pendahuluan yang ditulis Buya HAMKA ketika dirinya mendapatkan pengalaman menyakitkan di balik terali besi (Penjara). Pendahuluan itu ditulisnya pada tahun 1970. Aku tahu, bahwa buya HAMKA adalah penggemar Ibn Al-Qayyim Al-Jauziyah. Di dalam pendahuluannya itu aku menemukan beberapa substansi dan redaksi yang dikutip beliau berdasarkan ungkapan Ibn Al-Qayyim Al-Jauziyah dalam kitab Shadir Al-Khatir. Aku baru tahu, buya HAMKA diinterogasi oleh aparat karena dirinya dicurigai sebagai pengkhianat Negara. Delik tuduhannya ialah, HAMKA mengkhianati Negara karena telah menjual Negara kepada Malaysia.

Di dalam penjara itu, beliau mendapatkan beberapa pertanyaan yang diakui Buya sangat diada-adakan. Parahnya lagi, sang integrator yang kejam menanyakan sesuatu yang tidak pernah beliau lakukan. Tak sampai disitu, sang aparat juga memaksa buya HAMKA untuk menandatangani pernyataan telah menjual Negara agar dirinya mendekam di balik penjara. Dalam masa itu, ketika sedang gencar-gencarnya kemerdekaan Malaysia, buya HAMKA seakan telah dikambing-hitamkan. Dengan 1001 pertanyaan selama 15 hari 15 malam itu, ujar HAMKA telah dirancang bahwa dirinya bersalah. Kendati dirinya tidak bersalah, kekuasaan Negara menghendaki HAMKA sebagai orang bersalah yang layak di penjara. Bahkan kalau belum mengaku bersalah, tidur beliau pun diganggu.

Suatu hari beliau pernah dibentak, “Saudara pengkhianat, menjual Negara kepada Malaysia!”

Bagaikan disambar geledek di siang bolong. HAMKA tak menyangka bahwa dirinya akan mendapatkan tuduhan seperti itu. Dengan kesedihan yang mendera, ia pun menjawab tuduhan tersebut.

“Janganlah aku disiksa seperti ini. Buatkan saja satu pengakuan bagaimana baiknya, akan aku tanda tangani. Tapi, tolong, kata-kata demikian janganlah saudara ulangi.”

“Memang saudara pengkhianat.” Balas sang integrator sambil pergi seraya menghempaskan pintu. Gebrakkk….remuk rasanya hati Buya HAMKA saat itu.

***

Selama satu jam lamanya, terjadi peperangan batin (kebajikan dan kebatilan) dalam jiwa Buya HAMKA. Beliau mengaku sudah membuat surat wasiat kepada keluarganya di rumah. SYETAN membisikkan ke dalam hati HAMKA sesuatu yang dilarang Islam: bunuh diri di tengah keputusasaan. Di dalam sakunya waktu itu tersimpan silet, yang akan dijadikan senjata untuk memotong urat nadi. Biar orang tahu, kata HAMKA, bahwa dirinya mati karena tidak tahan menderita (disiksa). Saat itu Alhamdulillah, keimanan HAMKA memenangi pertarungan dahsyat dengan bisikan SYETAN.

Beliau pun berkata dalam hatinya, “Kalau kamu mati bunuh diri karena tidak tahan dengan penderitaan batin, niscaya mereka akan menyusun berita yang indah ihwal kematianmu. Kamu melakukan upaya bunuh diri karena malu kepergok setelah polisi mengeluarkan bukti atas pengkhianatanmu. Maka hancurlah nama yang telah kau ukir dengan segala perjuangan, penderitaan, keringat, dan kerja keras selama berpuluh tahun. Kemudian ada selentingan warga yang berkata: “Dengan bukunya “Tasauf Moderen” dia membimbing orang lain agar sabar, tabah dan teguh bila menderita. Orang yang membaca bukunya itu semua selamat, sedang dirinya sendiri memilih jalan yang sesat. Pembacanya masuk surga karena bimbingannya, dan dia di akhir hayatnya memilih neraka.”

Bahkan, anak-anakmu dan seluruh keluargamu akan menderita serta menanggung malu atas keputusanmu, kemudian menyumpahi kamu. Tetapi, Alhamdulillah perdaya SYETAN itu dapat ditangkis oleh Buya HAMKA, sehingga beliau memenangi pertempuran itu. Saat itu, buya HAMKA merasa memerlukan buku karangannya sendiri, “Tasauf Moderen”. Dan, ketika keluarganya membesuk beliau, diutarakanlah keinginannya untuk dibawakan “Tasauf Moderen” yang fenomenal tersebut.

Setelah buku tersebut berada di tangan Buya HAMKA, beliau menelaahnya, membaca, merenungi, dan mencoba menghayatinya; kemudian tak lupa juga beliau membaca kitab Al-Quran. Sehingga suatu ketika datang seorang kawannya untuk membesuk beliau dan mendapati HAMKA sedang membaca buku “Tasauf Moderen”. Kawannya tersebut seraya berguyon berkata, “Eh, Pak HAMKA sedang membaca (karangan) pak HAMKA.”

Waktu itu, seraya tersenyum teduh nan indah, beliau menjawabnya: “Memang betul..HAMKA sedang memberikan nasihat kepada diri sendiri setelah sekian lamanya memberikan nasihat pada orang lain. Dia hendak mencari ketenangan jiwa dengan buku ini. Sebab telah banyak orang mmeberitahukan kepadanya bahwa mereka mendapat ketenangannya kembali karena membaca buku “Tasawuf Moderen” ini!”

Buya HAMKA dengan curhatnya di dalam buku “Tasauf Moderen” itu seolah menyadarkan kita, keputusasaan tak seharusnya melahirkan teologi bunuh diri yang sesat seperti dilakukan teroris yang mengatasnamakan Islam. Buya HAMKA, kendati pernah dituduh sebagai pengkhianat Negara tidak membuatku mempercayainya sepenuh hati. Aku masih menjadikan dan menempatkan HAMKA sebagai pahlawan kesusastraan dan ilmu-ilmu agama yang mulia. Muhammadiyah, Islam, bangsa dan Negara sangat beruntung memiliki ulama seperti beliau, terlepas dari fatwa haram “Selamat Natal” oleh lembaga MUI, yang diketuainya pada tahun 80-an. Yang jelas, ketika fatwa itu dicurigai dapat memantik kekerasan atas nama agama karena bertentangan dengan prinsip toleransi. Buya HAMKA dengan legowo dan lapang dada bersedia menanggalkan jabatan ketua MUI untuk mengamalkan toleransi dalam kehidupannya. Bagi HAMKA, daripada kepemimpinannya di lembaga tertinggi umat Islam ini dapat merusak stabilitas Negara; mendingan dia turun dari jabatan. Satu bentuk moral sosial yang tak dimiliki ulama-ulama saat ini. Wallahua’lam bishshawwab

25 November 2018

bukan segumpal daging

bukan segumpal daging

Lumpur..
Lelumpur yang hitam legam
Membalut hatimu
hingga ari-ari kebijaksanaanmu tak menyatu
dengan jiwa dan tubuh……………………

Semut di pinggir selokan itu terlihat kusut. Rupanya dia tadi malam tak bisa tidur. Badannya super basah. Kepalanya yang mungil tertutup lumpur yang mulai mengering terkena sinar matahari. Ditemani segelas susu madu, ia menatap pilu nan sendu reruntuhan rumahnya yang tergerus gelombang air dari selokan Citanduy.

Sementara aku sibuk membereskan onggokan sampah yang membentuk gunung krakatau steel di halaman rumah. Sesekali kupandangi semut itu dengan rasa haru. Lama-kelamaan muncul rasa iba. Makin lama…makin terasa tetes air mata menggenangi pipiku.

“Ah…cengeng amat kau ini,” bisik sang ego keserakahanku.

“Diammm…tak usah kau ikut campur..” teriakku lantang.
Kesalehan Berduri

Kesalehan Berduri


dia bilang aku adalah penasihat
ongkang-ongkangan
tunjuk sana tunjuk sini

surga milikku
neraka tempatmu
aku selamat
kamu celaka
di dalam jilat api neraka

elia sang Nabi tidak pede
apakah aku manusia super pede ?
lidahku dan hatiku kini mulai dipenuhi dedurian yang tajam
membunuh keragaman, kemajemukan, dan keberbedaan
menjadi berkeping-keping…!

Mei 2009

23 February 2010

Mengenang “Bad System”

Mengenang “Bad System”

Menyambung notes (catatan) saya kemarin, barudak “Bad System” jadi kawan menambah wawasan seputar “Punk N Skins”. Asep “Oncom” saat itu jadi guru pertama yang menjejali otak saya dengan genre Punk Rock. Karakter musik “BS” saat saya masih menjadi pembetot bass, memang agak nyantai. Hit song (hehe seperti band label saja) yang kerap kami bawakan pada saat latihan adalah, wah...lupa lagi nih. Pokoknya dibawakan band Keparat dan Runtah.

Keras, anarkis, chaos, dan memberontak! Itulah kesan pertama saya saat berinteraksi dengan demo mereka. Apalagi kalau mendengarkan kembali demo Runtah berjudul, “Mega”. Demo band asal Bandung ini menjadi menu pembuka dan penutup kala latihan di studio Mega.

18 February 2010

Nostalgia Underground Movement #1

Nostalgia Underground Movement #1

Saya sering lupa. Ini risiko jadi manusia. Tuhan, sih, bikin manusia yang cenderung berbuat salah dan lupa. Jadi ketika Kaka Jibril (saya usulkan namanya ditambah Mikail) meminta tulisan biographi, lupa bahwa 1998an pernah jadi pemain band. Susah sebetulnya mengembalikan pikiran saya ke ruang dan waktu 12 tahun ke belakang. Saya tidak ingin terjebak pada romantisme historis. Seperti halnya agamawan yang menganggap penafsiran ulama berabad-abad sebagai sumber pijakan. Apalagi ini pengalaman yang coba saya kubur dalam-dalam beberapa tahun ini.

19 November 2009

Anjing Pengabdi

Anjing Pengabdi

Marwati suaranya terdengar merintih nikmat. Aku saat itu hanya mendengkur di belakang rumah. Di atas kubangan lumpur yang mengering saat kemarau. Telingaku kembali mendengar rintihan itu. Semakin lama semakin keras. Hingga bikin aku tak bisa tertidur. Lama suara itu diakhiri dengan kata yang tak kumengerti, “oh yes”.

Bahasa manusia yang satu-satunya kumengerti adalah apa yang diucapkan Sumardi. Selain itu, aku hanya bisa mendengus, sesekali menggelengkan kepala, menjulurkan lidah, bahkan harus lari terbirit-birit ketika ada batu kerikil melesat ke arah tubuhku.

Malam ini, aku baru mendengar suara yang agak aneh Marwati dari balik jendela. Kata Sumardi, dia adalah istrinya dan sedang menginginkan seorang anak. Kau tahulah, sejak pernikahannya, dia kerap dimarahi tanpa alasan jelas oleh Marwati. Tak heran jika Sumardi sering menghabiskan waktu mengobrol denganku.

Aku menjadi tahu segala masalah yang menggelisahkan majikanku itu. Dia sering mencurahkan isi hatinya kepadaku. Aku dan Sumardi laiknya dua sosok makhluk berbeda yang akrab menjalin persahabatan. Hebatnya, tanpa sekat kemanusiaan dan kebinatangan. Aku adalah anjing terbahagia yang pernah ada di muka bumi. Merasakan betapa perhatiannya Sumardi padaku. Bahkan, dia tak segan meminta pendapatku ketika ditempa pelbagai masalah.

Siang tadi Sumardi tertunduk lesu. Matanya terlihat sayu. Ia terlihat letih.

***

“Guk..guk…guk.” Aku bertanya kepada Sumardi malang.

“Oh..tidak ada apa-apa, Ziko. Aku hanya kurang tidur tadi malam.”

“Guk..guk…guk…guk.” Aku kembali bertanya padanya.

“Hehe ini namanya emosi Ziko. Setiap manusia yang berbalut masalah hidup kerap terlihat tak semangat. Kesedihan memang satu emosi yang banyak melahirkan pembunuhan absurd. Tak heran jika banyak orang yang melakukan bunuh diri.” Ujar Sumardi menjawab pertanyaanku tadi secara rinci.

“Guk..” Terdiam aku menatapnya sendu. Sesekali kukibaskan ekorku yang pendek terpotong sebilah golok. Kata Sumardi, ekorku dipotong sejak kecil guna menambah stamina. Bukan karena dia membenciku.

“Hahaha..tak usah khawatir Ziko. Aku tak akan melakukannya. Aku masih memiliki keimanan. Meskipun Tuhan jadi sandaran hidup, tak pernah terbersit setitik pun untuk mengakhiri hidup ini. Keputusasaan hidup adalah petanda kepengecutan.”

“Guk…guk”, aku terdiam tanda mengerti. Namun, tiba…tiba.

Kuhentikan langkah kaki. Hidungku mencium bau yang asing dari arah perkebunan. Ya, tidak salah lagi bau itu berasal dari bangunan tua di sebelah Timur kebun milik Sumardi. Asing dan aneh karena bau ini berbeda dengan manusia lain. Sangat berbeda dengan bau badan Sumardi, Marwati, pak Ijo, bahkan si Dukok yang sering melempariku dengan batu.

Tanpa pikir panjang. Aku berlari mengejar bebauan asing ini. Tak kupedulikan teriakan dan jerit Sumardi yang membahana. Aku, kadung dengan janji seiya semati ketika beberapa tahun ke belakang, Sumardi memercayakan keamanan kebun ini padaku.

Rumput ilalang yang tinggi pun diterabas tanpa alih perhatian. Pepohonan dan batu kulompati bagai di dalam pacuan kuda. Nafas kebencianku memuncaki ubun-ubun. Mengejar bau, yang kusangka berasal dari keringat para pencuri. Atau, keringat para pejabat korup. Bau amisnya menyengat sampai ke dalam perutku yang ramping. Mengocok isi perut hingga tak enak berasa. Namun aku harus mengusir bau ini dari kebun Sumardi. Jangan-jangan dia adalah ketua gerombolan pencuri kekayaan alam Sumardi yang tersesat.

Singat cerita, bau itu semakin mendekat. Mendekat. Dan kembali mendekat. Aku merasakan punggung dipenuhi semilir hawa ketakutan. Bergejolak dengan gen keberanian yang angkara murka dalam diriku. Mereka bertarung untuk menentukan siapa yang menang dan kalah. Kalau gen keberanianku kalah. Bisa engkau bayangkan. Aku akan telungkup di samping Sumardi ketika ada bebauan yang membahayakan nyawa majikanku ini. Lantas berteriak lantang. Aku akan berkorban demi majikan. Biarlah mati berkalang kepahlawanan daripada hidup menyisakan kepedihan.

Kuterobos rumput ilalang kembali. Sekitar sepuluh meter kulihat sosok manusia sedang termangu. Dia membelakangiku. Menyisakan ketakutan bercampur rasa benci.

“Guk…guk…guk…!” aku berteriak lantang kepadanya.

Setelah mendekat, sang kakek tua itu pun membalikkan tubuhnya yang kering kerontang. Kemudian dia berujar padaku, “Ada apa Ziko? Ini aku…majikanmu. Sedang di mana anakku, Sumardi.”

“Guk..guk…guk!”

“Apa…kau tak mengenaliku sekarang Ziko? Lihatlah baik-baik. Aku ini majikanmu yang dulu. Ingatkah kau tentang kisah peri seribu bayangan? Kisah dewa yang hidup di kahyangan?”

“Guk…!”

“Oh ternyata kau ini anjing pelupa Ziko. Aku kecewa denganmu. Bagaimana mau menjaga Sumardi dan kebunnya, kalau saja kau anjing pelupa.”

“Grrrrrrrrrrrrrrrrrr”

“Walah..walah. Kau ini memang sudah pikun. Apa maksudmu tak memercayai omonganku? Nanti kalau Sumardi sudah berada di sini, aku akan bilang padanya untuk memecatmu. DASAR ANJING KURAP!!!”

Tanpa pikir panjang. Kaki belakangku ditekan kuat. Pundukku sedikit ditarik ke arah bawah. Kubuka mulutku yang dipenuhi jajaran taringan gigi-gigi yang super tajam. Sesekali kuhenduskan nafas dari hidungku mirip pertunjukan Rodeo di Mexico. Kulihat sekeliling. Pohon berjejer laksana penonton yang bersorak-sorai.

“Tunggu dulu”, bisik hatiku pelan, “kenapa orang tua ini tahu namaku. Dia juga bilang bahwa Sumardi adalah anaknya”.

Hmm.., rasa-rasanya kukenal suara kakek peyot ini. Dasar tak tahu malu. Batinku meradang. Dia adalah Ki Sudji. Tapi kenapa dia ada di sini. Bukankah dia sudah mati sejak lima tahun yang lalu? O iya, Ki Sudji adalah ayahnya Sumardi yang meninggal karena dibunuh perompak kampungan. Kulenturkan syaraf-syaraf amarahku. Sebab, tahu bahwa Ki Sudji adalah majikan ibuku.

Tanpa basa-basi kupeluk Ki Sudji dengan haru.

“Hehehe…begitu dong Ziko. Kau memang bukan anjing amnesia. Kau adalah anjing hebat yang pernah kupelihara dan kubantu kelahiran ke dunia ini. Itu baru anjingku yang manis.” Ujar Ki Sudji sembari mengelus-elus tubuhku yang basah karena tadi menerobos ilalang yang masih basah dipenuhi embun.

***
[Bersambung....!]

13 November 2009

Perempuan (IQRA' 4)

Perempuan (IQRA' 4)

Tak terasa, waktu pun bergulir cepat. Kami bertiga telah menyelesaikan shalat subuh. Seperti biasanya, pendaran masalah yang menghantui pikiran kami akan dibahas dan ditanyakan kepada kyai Ilman Nusyifa. Tiga tahun lamanya kami berinteraksi dengan beliau membedah persoalan agama dengan sejuta wawasan Qur’ani yang tidak memihak salah satu jenis kelamin.

Aku, Askar dan Ibnu hari itu tengah mendiskusikan film berjudul, “Perempuan Berkalung Sorban”. Film layar lebar yang diangkat dari novel karya Afifah Afra itu menyisakan pertanyaan bagi kami. Betulkah sedemikian tertindasnya perempuan di bumi Nusantara ini? Bagaimana pendapat Al-Quran tentang kedudukan perempuan? Sebab, banyak yang mengatakan perempuan di dalam masyarakat Islam banyak yang ditindas? Seperti yang diceritakan film tersebut.

Perempuan, telah menjadi korban dari eksploitasi pemahaman keagamaan yang bias gender. Mengerdilkan peran perempuan dengan legitimasi dalil-dalil hadits dan Al-Quran. Kami memerlukan tafsir Quran yang memihak perempuan!

***

“Hmm…ada persoalan apa sekarang anak-anak?” tanya Kyai Ilman kepada kami.

Selain pengusaha, ia juga pandai dalam ilmu keagamaan. Itulah sebabnya kami sering memanggilnya dengan sebutan Kyai. Ceritanya biar agak lebih ngeindonesia. Lebih enak memanggilnya Kyai daripada ustadz. Meskipun seringkali dia tidak setuju dipanggil kyai oleh kami bertiga.

Askar waktu itu menjawab pertanyaan Kyai Ilman, “Hari ini kita sedang membahas perempuan yang banyak ditindas dengan legitimasi dalil naqli.”

“Iya, nih, apakah pemahaman tersebut berbahaya bagi kelangsungan peradaban Islam?” aku menambahkan pertanyaan untuk memperjelas duduk persoalan.

“Oke kalau begitu, mari kita telaah ayat Quran ini. Hai sekalian manusia, bertakwalah kepada Tuhanmu yang telah menciptakan kamu dari jenis yang sama dan darinya Allah menciptakan pasangannya dan dari keduanya Allah memperkembangbiakkan lelaki dan perempuan yang banyak. (QS Al-Nisâ’ (4) : 1).”

Islam memberikan perhatian sangat besar dan menghormati perempuan. Di dalam film The Message, saya mendapatkan dialog yang pantas untuk menggambarkan kedudukan perempuan dalam Islam. Ketika sahabat berdialog dengan raja Habasyah, mengatakan bahwa perempuan itu berbeda dengan lelaki, tetapi memiliki derajat yang sama.

Muhammad Al-Ghazali, salah seorang ulama besar Islam, Mesir, menulis, “Kalau kita mengembalikan pandangan ke masa sebelum seribu tahun, maka kita akan menemukan perempuan menikmati keistimewaannya dalam bidang materi dan sosial yang tidak dikenal oleh perempuan-perempuan di kelima benua. Ke­adaan mereka ketika itu lebih baik dibandingkan dengan keadaan perempuan-perempuan Barat dewasa ini, asal saja kebebasan dalam ber­pakaian serta pergaulan tidak dijadikan bahan perbandingan.”

Ada ketidakpahaman terhadap ajaran Islam sehingga menyebabkan kedudukan perempuan ditempatkan di bawah laki-laki. Pandangan itu dibantah Al­Quran, melalui ayat pertama surah Al-Nisa’, Hai sekalian manusia, bertakwalah kepada Tuhanmu yang telah menciptakan kamu dari jenis yang sama dan darinya Allah menciptakan pasangannya dan dari keduanya Allah memperkembangbiakkan lelaki dan perempuan yang banyak.

Ayat di atas berisi bantahan terhadap orang yang mem­bedakan (lelaki dan perempuan) secara tegas. Ayat tersebut mengatakan perempuan dan laki-laki berasal dari jenis yang sama dan dari keduanya bakal berkembang keturunan baik laki-laki maupun perempuan. Benar bahwa ada hadis, Saling pesan-memesanlah untuk berbuat baik kepada perempuan, karena mereka diciptakan dari tulang rusuk yang bengkok. (Diriwayat­kan oleh Bukhari, Muslim dan Tirmidzi). Tapi bukan berarti kedudukan perempuan lebih rendah ketimbang laki-laki. Hadits ini hanya menggambarkan karakter psikologis perempuan.

Dalam Al-Quran ditegaskan, Sesungguhnya Kami telah memuliakan anak-anak Adam. Kami angkut mereka di daratan dan di lautan (untuk memudahkan mencari kehidupan). Kami beri mereka rezeki yang baik-baik dan Kami lebih­kan mereka dengan kelebihan yang sempurna atas kebanyakan makhluk-makhluk yang Kami ciptakan. (QS Al-Israa’[17]: 70). Kalimat “anak-anak Adam” mencakup laki-laki dan perempuan, lho. Dan penghormatan Tuhan diberikan kepada seluruh anak Adam, baik perempuan maupun laki-laki.

Pendapat ini dipertegas ayat, Sesungguhnya Allah tidak menyia-nyiakan amal orang-orang yang beramal, baik lelaki maupun perempuan (QS Âli Imrân [3] : 195). Maka, Al-Quran sangat mengecam orang yang bergembira dengan kelahiran anak laki-laki, tetapi bersedih ketika istrinya melahirkan anak perempuan. Informasi ini bisa dilihat dari ayat berikut, Dan apabila seorang dari mereka diberi kabar dengan kelahiran anak perempuan, hitam-merah padamlah wajahnya dan dia sangat ber­sedih (marak). Ia menyembunyikan dirinya dari orang banyak disebab­kan “buruk “-nya berita yang disampaikan kepadanya itu. (Ia berpikir) apakah ia akan memeliharanya dengan menanggung kehinaan ataukah menguburkannya ke dalam tanah (hidup-hidup). Ketahuilah! Alangkah buruk apa yang mereka tetapkan itu (QS (16) : 58-59).

Al-Quran berbicara tentang perempuan dalam berbagai ayat. Pembicaraan tersebut menyangkut berbagai sisi kehidupan. Ada ayat yang berbicara tentang hak dan kewajiban, ada pula yang mengurai­kan keistimewaan tokoh perempuan dalam sejarah agama atau kemanusiaan.

Salah satu ayat yang seringkali dikemukakan berkaitan dengan hak kaum perempuan adalah yang tertera dalam surah Al-Taubah ayat 71, Dan orang-orang yang beriman, lelaki dan perempuan, sebagian mereka adalah awliya’ bagi sebagian yang lain. Mereha menyuruh untuk mengerjakan yang ma’ruf, mencegah yang munkar, mendirikan shalat, menunaihan zakat, dan mereka taat kepada Allah dan Rasul-Nya. Mereka itu akan diberi rahmat oleh Allah. Sesungguhnya Allah Maha­perkasa lagi Mahabijaksana.

Secara umum, ayat di atas dipahami sebagai gambaran bekerja sama antara laki-laki dan perempuan di ber­bagai bidang kehidupan. Pesan ini disampaikan kalimat “menyuruh mengerjakan yang ma’ruf dan mencegah yang munkar”. Jadi, bisa disimpulkan laki-laki dan perempuan memiliki hak yang sama, karena tidak ditemukan satu ketentuan agama yang melarang perempuan beraktivitas di berbagai bidang kehidupan. Bahkan sebaliknya, sejarah Islam menunjukkan betapa kaum perempuan terlibat dalam berbagai bidang kemasyarakatan, tanpa kecuali. [Bersambung]

12 November 2009

Cinta (IQRA’ 3)

Cinta (IQRA’ 3)

Askar minggu-minggu ini terlihat murung. Tak seperti biasa, wajahnya diselimuti mendung yang menggunung. Sesekali matanya dipenuhi asap hitam menggumpal hingga tetesan air matanya membasahi pipi. Aku dan Ibnu hanya tersenyum. Kadang mengejek. Kadang juga memotivasinya agar tetap semangat.

Tahukah kamu, begitu kata Askar, aku begini karena cintaku kandas di tengah jalan. Si Fitri ternyata menolak mentah-mentah perasaan cintaku padanya.

Sebagai teman, aku dan Ibnu merasakan kesedihan yang dialami Askar. Tapi apa daya, kami berdua tak mau dan tak mampu memaksa Fitri untuk menerima lamaran cinta Askar. Tidak ada paksaan dalam cinta, Kar! Hehehe

“Katanya cinta bukan sekadar rasa sayang kepada lawan jenis saja, Kar.” Aku memulai topik pembicaraan selepas shalat Isya.

“Kalau begitu, tolong jelaskan makna cinta menurut kamu? Sebab, banyak yang menggunakan kata cinta hanya untuk menyebutkan jalinan kasih antara wanita dan laki-laki.” Askar bertanya kepadaku dengan nada kesal.

“Tidak selalu begitu, Kar!” Ibnu menimpal.

“Makna cinta itu seluas samudera tak berbatas. Setiap objek ciptaan-Nya adalah tempat bermuara cinta. Salah dong kalau kamu hanya memahami cinta sebagai perasaan kangen pada wanita saja.” Lanjut Ibnu berapi-api.

“Sudah-sudah kalau begitu mari kita lihat apa yang bisa diberikan Al-Quran dalam menjawab tentang cinta yang multipemahaman ini.” Ujarku sambil mengambil kitab Al-Quran, menciumnya, dan membuka halamannya dengan khidmat.

Ketika tiba pada surah Ali ‘Imran [3] ayat 31, aku pun menemukan sepenggal ayat sbb, “Kalau kamu mencintai Allah, maka ikutilah aku, niscaya Allah mencintai kamu.”
Setelah membaca dan menuliskannya di papan tulis, kami bertiga mulai asyik membincangkan makna di balik cinta.

“Cinta adalah dasar dan prinsip perjalanan menuju Allah. Semua keadaaan dan peringkat yang dialami oleh pejalan, adalah tingkat-tingkat cinta kepada-Nya, dan semua peringkat (maqâm) dapat mengalami kehancuran, kecuali cinta. Ia tidak bisa hancur dalam keadaan apa pun selama jalan menuju Allah tetap ditelusuri.” Saya menyimpulkan diskusi waktu itu yang terhenti karena harus segera membuka gawean dari sekolah.

***

Singkat cerita, waktu subuh tiba. Askar, yang saat itu sedang tergila-gila pada Fitri mengumandangkan adzan. Suaranya lembut, indah, dan merdu; gambarkan jiwanya yang sendu akibat cinta bertepuk sebelah tangan. Ilman Nursifa terlihat memasuki serambi masjid. Menyalami Ibnu dan aku. Tangannya lembut. Tidak kasar seperti tanganku yang sejak kecil sering bekerja kasar. Sampai sekarang, deterjen itu menghancurkan tanganku. Kulitnya mengelupas dan pecah-pecah. Namun, meskipun tangannya lembut, dia tidak pilih kasih menyalami orang, sekalipun pengemis yang mangkal di depan masjid.

“Laa ilaaha illallah”, Askar mengakhiri suara merdunya.

Kami pun mengulangi adzan yang dikumandangkan Askar, kecuali pada kalimat “hayya ala shalah” dan “hayya ala falah”. Kenapa tidak diucapkan? Hatiku berbisik, “mungkin shalat dan menggapai kebahagiaan bukan kerja lisan. Tapi kerja seluruh anggota jasad: dilaksanakan.” Setelah mengucapkan kembali “laa ilaaha illallah”, kami serempak membaca doa selepas adzan. Kemudian, menunaikan shalat sunah qabla subuh alias shalat fajar.

“Allahu Akbar. Asyhadu anla ilaaha illallah. Asyhadu ana muhammadarrasulullah. Hayya alash sahalah. Hayya alal falah. Qadqamati shalah. Qadqamati shalah. Allahu Akbar. Laa ilaaha illallah.” Itu yang iqamat adalah Askar.

Aku, Ibnu dan Askar seolah hanyut dengan bacaan Ilman Nursifa, tepatnya, surah Ar-Rahman dan rakaat kedua surah At-Tiin. Selesai menunaikan shalat, selepas zikir secukupnya; Ilman Nursyifa bertanya kepada Askar.

“Ada apa, Kar? Kok terlihat murung begitu.”

“Hehe…????” Askar setengah malu-malu tersenyum pilu.

“Ah…paling si Askar masih kecewa dengan sikap Fitri pak Kyai!”, ujar Ibnu sambil setengah cekikikan.

“Memangnya ada apa dengan Fithri, Bil?” tanya Ilman sembari menengok ke arah ku yang saat itu sedang tertunduk menulis di karpet, dengan jari tanpa tinta.

“Eu…ini pak kyai,” sambil menengok ke arah Askar, “Askar ditolak cintanya oleh Fitri. Hihihi” jawabku sambil diakhiri tawa yang tertahan beban.

“Iya nih…pak kyai. Aku kecewa. Mau obatnya biar tidak kecewa. Ya, kalau bisa mohon penjelasan tentang cinta menurut Al-Quran.” Timpal Askar setengah emosi karena ketahuan oleh pak kyai.

“Pertanyaan tadi memang jarang dilontarkan anak muda. Remaja seumuran kamu, bahkan saya sekalipun, akan berbeda memaknai cinta. Apalagi dengan makna cinta menurut Al-Quran. Sebetulnya, pertanyaan bagaimana makna cinta menurut Al-Quran, sangat sulit dijawab. Cinta, tergantung kepada orang yang sedang mengalaminya dalam kehidupan secara real time (nyata). Perlu kamu ketahui, deretan kata atau kalimat dalam Al-Quran akan dipahami secara berbeda oleh setiap orang. ”

“Bagi saya,” lanjut Ilman, “cinta adalah salah satu dorongan dalam hidup manusia. Tanpa memiliki perasaan cinta, kamu akan berada pada ketidakpastian. Semangat hidup juga tidak akan nampak ke permukaan. Cinta, objeknya berbeda-beda. Bisa harta benda, suami, istri, anak, atau kekasih. Cinta seperti ini berkaitan dengan kesenangan duniawi. Dan, saya rasa setiap manusia pasti memiliki cinta terhadap kesenangan duniawi.” Jelas Ilman seraya berhenti sebentar menghela jeda berbicara.

Dengan semangat membara, Ilman Nursyifa, melanjutkan kembali ceramahnya sbb, “Hal itu diinformasikan Al-Quran sebagai berikut, Dijadikan indah pada pandangan manusia kecintaan kepada apa-apa yang diingini, yaitu: wanita-wanita (dan pria-pria), anak-anak lelaki (dan anak-anak perempuan), harta yang banyak dari jenis emas, perak, kuda pilihan, binatang-binatang ternak, dan sawah ladang. Itulah kesenangan hidup duiniawi; dan di sisi Allahlah tempat kembali yang baik (surga dan kenikmatan hidup ukhrawi) (QS Âli ‘Imrân [3]: 14).”

“Nah, cinta juga bisa terhadap segala hal yang telah berjasa besar dalam mengarahkan hidupmu. Misalnya, mencintai Nabi Muhammad Saw., meskipun beliau sudah tidak ada dihadapanmu lagi. Cinta seperti ini muncul dari kekaguman dan penghormatan. Ini juga diinformasikan dalam Al-Quran, Kalau kamu mencintai Allah, maka ikutilah aku, niscaya Allah mencintai kamu (QS Âli ‘Imrân [3]: 31).”

“Kemudian, Allah Swt. memberikan evaluasi terhadap kekuatan cintamu dengan cara membandingkan. Di sini, cintamu diuji. Apakah kamu lebih mencintai harta, jabatan, suami, istri, anak, atau pasanganmu ketimbang Allah dan Muhammad Saw. Kalau saja lebih mencintai objek selain Allah dan Muhammad Saw., kamu termasuk orang fasiq. Mereka mengetahui mencintai Allah dan Rasul-Nya adalah keniscayaan tetapi dalam praktik keseharian tidak menghiraukan ajaran-Nya.”

“Nah, begitulah cinta menurut Al-Quran. Kamu, mesti mencintai hidup untuk mengabdikan secara penuh kepada sang pencipta, Allah Swt. Caranya dengan meneladani kepribadian Muhammad Saw. dalam kehidupan sehari-hari.” Ilman membuka telapak tangannya. Sesekali tersenyum kepada kami. Menggelengkan kepala. Dan, memberikan pandangan yang semenjuk.

“Oooo….begitu ya??” Askar terlihat puas tapi masih terlihat gurat di wajahnya bertebaran rasa kecewa.

“Tuh…makanya, cinta itu jangan berlebihan, Kar” Ibnu terlihat puas dengan uraian Ilman Nursyifa.

Kyai muda itu mengakhiri bedah masalah kehidupan dengan pisau analisis ayat-ayat Al-Quran hari itu. Di dalam Al-Quran dijelaskan, “Katakanlah: Jika bapak-bapak, anak-anak, saudara-saudara, pasangan-pasangan, harta kekayaan yang kamu usahakan, perniagaan yang kamu khawatiri kerugiannya, dan rumah-rumah tempat tinggal yang kamu sukai, lebih kamu cintai daripada Allah dan Rasul-Nya dan (dari) berjihad di jalan-Nya, maka tunggulah sampai Allah mendatangkan keputusan-Nya. Allah tidak memberi petunjuk kepada orang-orang fasiq (QS Attaubah [9]: 24).”

“Puaskah kalian, wahai pemuda Islam?”

“Hmmmm….ya…ya…ya!” aku hanya mengangguk setuju saja. [Bersambung]

11 November 2009

Aborsi? (IQRA’ 2)

Aborsi? (IQRA’ 2)

Cericit burung di pekarangan masjid al-Munawarah terdengar indah mengalun. Kebiasaan kami; dua temanku, aku dan Ilman Nursyifa, selalu berdiskusi selepas shalat subuh. Biasanya, diskusi ini akan berakhir pada pukul 6.00 WIB. Dan, kami bertiga harus bersiap-siap menuju ke sekolah.

“Apakah boleh seseorang melakukan aborsi? Bagaimana pandangan menurut Al-Quran? Tolong jelaskan, karena banyak terjadi praktik aborsi di kalangan anak muda sekarang. Khususnya teman-temanku di sekolah, pak kyai?” tanyaku kepada Ilman Nursyifa mengawali topik diskusi pada waktu subuh itu.

Janggut Ilman Nursyifa terlihat bercahaya keputihan. Air wudhu saya rasa pasti selalu membasahinya. Selain seorang pengusaha, ia juga seorang lulusan sebuah perguruan tinggi. Rajin menulis, berdiskusi dengan kaum muda, dan gandrung akan perubahan. Asyiknya lagi, dia bukan tipe kyai panatis. Sedemikian terbukanya, hingga ringkak polahnya terlihat dinamis.

“Tergantung tempat dan kondisi, Bil.” Jawabnya.

Ooo…iya…namaku Abil Ma’rufie. Kedua temanku, memiliki nama Ibnu Halah dan Askar Madani. Kami bertiga satu sekolah dan kebetulan tinggal di masjid al-Munawarah dekat sebuah perguruan tinggi Islam.

“Jadi boleh dilakukan dan haram dilakukan kalau kondisi menuntutnya” aku mencoba mencerna maksud omongan Ilman Nursyifa.

“Betul. Tapi, asal sebuah pembunuhan dalam agama apapun itu terlarang. Coba kamu buka kitab Al-Quran itu” Dia menyuruhku membuka kitab Al-Quran yang sudah dilengkapi tafsir dan terjemahannya.

Dia mengambil nafas sedalam 3 cm kemudian menuliskan terjemahan ayatnya sbb, “Karena dosa apakah dia (anak perempuan) dibunuh (dikuburkan hidup-hidup)?” (QS At-Takwîr [81]: 9).

“Wah, praktik aborsi ujung-ujungnya sama dengan membunuh. Kalau tanpa ada alasan yang kuat, berkaitan dengan mati atau hidupnya seseorang, aborsi tidak boleh dilakukan. Maksudnya gimana kyai?” Desakku sedikit penasaran.

Ilman Nursyifa tersenyum kecil. Mungkin dia kagum kepadaku karena memiliki rasa ingin tahu yang gede. “Ayat Al-Quran yang saya tulis tadi, sudah jelas, kan, memaparkan membunuh merupakan tindakan yang dibenci Tuhan. Saking tercela dan terkutuknya membunuh, dalam ayat tersebut, Allah Swt. menyusun kalimat berbentuk pertanyaan.”

“Tahu tidak,” lanjutnya, “kenapa Allah menggunakan kalimat pertanyaan dalam redaksi ayat di atas? Yups, karena pelakunya — siapa pun dia — pasti melanggar dan akan mendapat murka-Nya. Ketika dalam ayat Al-Quran redaksinya mempertanyakan tentang perbuatan tercela, ini mengisyaratkan betapa besar murka Allah. Sehingga, si pelaku tidak pantas diajak berdialog oleh Allah. Menurut pakar tafsir, redaksi Surah At-Takwir, “Disebabkan dosa apakah anak perempuan itu dibunuh?” bukan saja mengisyaratkan larangan pembunuhan anak. Tapi, mengajak si pembunuh menyadari keburukan perbuatannya. Bahkan, ia harus memahami mengapa pantas menerima hukuman.”

“Bagaimana Bil, Ibnu, Aksar? Apakah masih harus dilanjutkan tafsiran ayatnya ?” tanyanya.

“Lanjutkan….” Ujar kami bertiga serentak menjawab.

Tanpa pikir panjang, dia pun melanjutkan omongannya, “Maka ketika di Arab jahilyah terjadi penguburan anak-anak perempuan awal surah ini menyebutkan, Tiap-tiap jiwa akan mengetahui dampak baik atau buruk dari apa yang dikerjakannya (QS At-Takwîr [81]: 14). Nah, berarti, pembunuhan bayi atau anak perempuan pada masa turunnya Al-Quran, akan mendapat hukuman di dunia dan akhirat. Kalau saja dahulu perbuatan itu dilarang secara tegas dalam Al-Quran, berarti sekarang juga masih dilarang oleh-Nya, dong.”

“Para pakar berdiskusi tentang boleh-tidaknya mengaborsi kandungan sebelum ditiupkan ruh kepada janin, yakni sebelum 120 hari dari pertemuan sperma dan ovum. Diskusi ini tidak berkaitan dengan masalah dosa atau tidak. Tapi tentang kadar dosa dan sangsi hukum yang harus dikenakan kepada para pelaku. Jadi, jangan menduga bahwa aborsi dibolehkan. Ia tetap dilarang dan dibenci.”

“Hanya saja kadar dosanya bisa berbeda dengan dosa pembunuhan setelah kelahiran.

Sementara itu, sebagian pakar Islam membenarkan praktik aborsi untuk menyelamatkan nyawa ibu, dengan syarat dokter yang tepercaya menduga keras, kehamilan akan membahayakan jiwa seseorang. Misalnya, kalau diduga keras janin akan lahir dalam keadaan cacat berat, atau mengidap penyakit serius. Sehingga kalau kelak lahir dan dewasa, ia tidak berfungsi sebagaimana layaknya seorang manusia.”

“Nah, tanpa ada alasan yang kuat untuk menyelamatkan seseorang dari kematian, praktik aborsi dilarang agama. Jadi, jangan sekali-kali melakukan aborsi tanpa alasan yang kuat. Dan, yang paling penting adalah menjauhi pergaulan bebas karena bisa memicu seseorang menggugurkan kandungannya. Dunia berkata apa dong, kalau tetap melakukan praktik aborsi tanpa alasan yang kuat.”

Penjelasannya itu cukup memuaskan hati kami bertiga. Seraya mendekat kepada kami, dia mengakhiri khutbahnya saat itu. “Bukankah mengandung, melahirkan dan menyusui adalah jihad bagi seorang ibu? Kalau seorang ibu tidak mau menanggung risiko kematian karena mengandung dan melahirkan anak, sama saja dengan tidak memercayai takdir-Nya. Sebab, hidup dan mati berada dalam genggaman Allah Swt. Mahya wa mamati lillahi rabbilalamin!”

“Iya..ya pengecut dong”, ujar si Askar.

“Huss….nggak boleh bilang gitu”, Ibnu menimpali.

“Hmmm….” Aku hanya mengangguk-angguk mendengar penjelasan pak kyai, seorang pengusaha muda yang pintar dan mengagumkan itu. [Bersambung]

30 October 2009

Maaf-Memaafkan (IQRA’ 1)

Maaf-Memaafkan (IQRA’ 1)

Suatu hari aku pernah diejek dan difitnah seorang teman. Aku sakit hati banget. Setelah beberapa bulan, temanku itu meminta maaf. Apa yang harus aku lakukan? Apakah aku harus memaafkannya? Salahkah kalau tidak memberinya maaf? Sebab, aku masih merasa sakit hati.

Selang beberapa hari, aku merasa gelisah. Hati merasa berat untuk memaafkannya.
Kemudian, aku teringat dengan kitab suci Al-Quran. Oh…di sana mungkin aku bisa mencari jawaban atas kebimbangan bersikap ini. Bisikku waktu itu. Ya…, mencari kata “maaf” yang sekarang masih memberatkan hatiku hingga tidak mau memaafkan temanku itu.

Mataku…akhirnya sampai pada ayat suci Al-Quran berikut, “Hendaklah mereka memberi maaf dan melapangkan dada, tidakkah kamu ingin diampuni oleh Allah?” (QS Al-Nûr [24]:22). Hmmm, rasanya Tuhan juga telah memberikan jawaban tentang pentingnya memaafkan ini.

***

Karena ingin lebih jelas tentang makna ayat tadi, aku pun berusaha mencari referensi tentang tafsir ayat itu. Dari beberapa bahan bacaan itu, aku mendengar suara sang guruku, Ilman Nursyifa, suaranya menggelegar mencoba menjelaskan makna ayat di atas.

Beliau dengan sorban putih membelit kepalanya. Bersila, memegang kitab suci Al-Quran dan mencoba mulai menafsirkan ayat tersebut. Wajahnya bercahaya, damai, dan tidak terlihat sangar. Seraya membetulkan sorbannya, dia memulai pembicaraan itu.

“Tahu tidak,” katanya.

“Tidak kyai.” Jawabku sambil menggelengkan kepala, karena jujur tidak tahu jawabannya.

Ilman Nursyifa menghela nafas. Kemudian bangkit dari tempat duduknya dan mulai berceramah sejuk, “Allah Swt. memerintahkanmu agar membina hubungan yang harmonis ketika mengarungi kehidupan ini. Kamu, harus saling membebaskan diri dari segala dosa dan kesalahpahaman. Juga, harus menyadari kesalahan sendiri, kemudian berusaha mendekati orang yang pernah kamu lukai hatinya. Maka, tak salah kalau agama Islam, mensyariatkan melakukan “shilaturrahim” dan saling memaafkan.”

“Bagaimana?” tanya beliau kepadaku.

“Masih tetap berat memaafkannya kyai”, ujarku sambil menundukkan kepala.

Saat itu aku lihat, Ilman Nursyifa, kyai muda berusia 35 tahun, mengerutkan dahi. Memegang dagunya dan sesekali menggaruk dadanya. Kemudian meneruskan lagi ceramah penafsiran ayat yang aku temukan tadi.

“Memberi maaf seharusnya bukan sesuatu yang sulit dilakukan. Apalagi kalau yang pernah menyakiti hatimu sudah meminta maaf. Bukankah memberi maaf kepada seseorang yang bersalah, ada di dalam Al-Quran. Seperti yang terkandung dalam makna “shilaturrahim”. Istilah ini bukan hanya sikap membalas kunjungan atau mempererat hubungan yang telah terjalin saja. Tapi bisa juga menyambung yang telah terputus.”

Dia berhenti sedikit. Mencoba mengingat ayat suci yang mengandung kata “shilaturahrahim”. Dengan wajah yang sedikit berseri sambil menuliskannya di papan tulis dia berujar.

“Di dalam Al-Quran Al-Karim diisyaratkan pentingnya memelihara “shilaturrahim”, seperti pada Surah Al-Nisâ’ [4], ayat 1, Bertakwalah kepada Allah yang dengan mempergunakan nama-Nya kamu saling meminta satu sama lain (dan peliharalah hubungan) rahim. Sesungguhnya Allah selalu menjaga dan mengawasi kamu.”
Sebelum meneruskan…..ia menghela nafas..

“Selain ayat tadi, ada juga ayat yang mengecam orang yang suka memutuskan tali persaudaraan, seperti, Maka apakah kiranya jika kamu berkuasa akan membuat kerusakan di bumi dan memutuskan hubungan kekeluargaan? Mereka itulah orang-orang yang dikutuk Allah; ditulikan-Nya telinga mereka dan dibutakan-Nya pula mata mereka (QS Muhammad [47] : 22-23).”

Kemudian ia meminum air putih yang diletakkan di meja….dan melanjutkannya.

“Bahkan, Al-Quran mewajibkan hubungan yang serasi setelah terjadi keretakan. Cobalah kamu perhatikan ayat berikut, Allah mengetahui bahwa kamu tadinya mengkhianati dirimu sendiri (tidak dapat menahan nafsumu sehingga bersetubuh di malam hari bulan Ramadhan dengan dugaan bahwa hal itu diharamkan), maka Allah memaafkan (QS Al-Baqarah [2]: 187).”

Seraya membuka sebuah buku tebal Ilman Nursyifa kemudian melantunkan ayat yang lain, Balasan dari kejahatan adalah kejahatan setimpal, tetapi siapa yang memaafkan dan berbuat baik, maka ganjarannya ditanggung oleh Allah (QS Al-Syûrâ [42]: 40).

“Nah, tidak ditemukan satu ayat pun yang menggunakan kata harus menunggu permintaan maaf sesama manusia. Yang ada hanya perintah memberi maaf, Hendaklah mereka memberi maaf dan melapangkan dada, tidakkah kamu ingin diampuni oleh Allah?” (QS An-Nuur [24]: 22). Dalam ayat ini, kamu dianjurkan untuk memberi maaf (al-afw) dan berlapang dada (al-shaft), yakni perintah memberi maaf sebelum berlapang dada menandakan pentingnya memberi pengampunan kepada seseorang.”

“Bagaimana sekarang? Apakah kamu masih tidak mau mmaafkan temanmu itu? Kalau kamu tidak mau memaafkannya, berarti kamu mengkhianati pesan suci Al-Quran, dong?”

Aku menghela nafas. Mencoba menekan perasaan agar bersikap bijak. Memaafkan adalah suatu keniscayaan. Tanpa keharmonisan maka dunia ini akan dipenuhi permusuhan.
Kemudian aku menyimpulkan penjelasan sang kyai muda bersahaja itu.

“Ya.., pesan yang dikandung ayat-ayat tersebut juga adalah tidak menanti permohonan maaf dari seseorang, tapi memberinya sebelum diminta.”

“Ya, betul sekali.” Ujar Ilman Nursyifa.

Ia melanjutkan, “Coba kamu amati juga Surah Âli ‘Imrân (3), ayat 134, yang mengemukakan sifat-sifat muttaqiin, antara lain: Yang mampu menahan amarah dan memaafkan manusia (yang bersalah). Allah menyenangi orang-orang muhsin (yang berbuat baik). Dalam ayat ini, kamu dapat melihat tiga bentuk sikap positif terhadap orang yang bersalah. Pertama, sikap terendah adalah “menahan amarah”, karena kamu belum bisa menghapus luka hatinya. Kedua, “memaafkan”, kalau belum bisa memulihkan hubungan harmonis. Ketiga, yang tertinggi dan dicintai Allah Swt. adalah sikap orang muhsin, yakni berbuat kebajikan terhadap yang pernah bersalah.”

Aku menyela sang kyai, “jadi, memaafkan adalah sebentuk laku kebajikan sehingga kita layak dikategorikan muhsinin? Seperti dijelaskan Al-Quran, Maafkanlah mereka dan biarkan mereka, Sesungguhnya Allah menyukai orang-orang yang berbuat baik. (QS Al-Maaidah [5]: 13). “ itulah kesimpulan yang kuketengahkan padanya waktu itu.

Ilman Nursyifa kemudian berpesan, “Nah, kalau begitu, apa susahnya, sih, kamu memberinya maaf, meskipun dia belum datang memintanya. Sebab, yang paling penting adalah terciptanya hubungan harmonis antar sesama. Saya berharap kamu kembali membangun hubungan harmonis sebagaimana seorang insan beriman, hingga kedamaian menyelubungi hidupmu, kalbumu, dan bahkan menaungi semesta alam raya. Kalau masih bermusuhan dan tidak mau saling memaafkan, apa kata dunia!”.

“Hehehe….” Kami berdua tersenyum girang.

“Hahaha….” Temanku dari luar Masjid melompat-lompat kegirangan. [Bersambung]

16 October 2009

Puisi 2007

Puisi 2007

Dulu, terlihat saya tak bisa berpuisi. Sekarang apalagi. namun, puisi bukan menyoal tentang bagus dan tidaknya; melainkan ada yang ingin kita sampaikan pada dunia. Inilah inisiator saya menulis puisi, puisi 2007 ini hanya beberapa saja yang dapat saya posting di weblog ini. Ada banyak kumpulan puisi saya yang nggan diterbitkan secara cetak. Karena, ya itu tadi, puisi saya jelek semua. hahaha

#1
Hilang

suara parau itu mati juga
bosan aku terus berteriak lantang
tak didengar meski itu meneriaki ketulianmu
kesal aku melemparkan kepalan tangan ke angkasa
yang berbalas letupan-letupan senapan
dengan gagah perkasa

akhirnya, suaraku makin parau; tak terdengar
di tengah-tengah genjlong yang mengguncang dunia maya
bahkan dengan pekik histeris pun tak kunjung membuka lem perekat
di telinga kiri dan kananmu yang tuli dan tak mendengar

suara parauku sekarang tak pernah terdengar berteriak-teriak
mungkin, telah mati diterjang peluru panas yang mengganas
innalillahi wa inna ilaihi raaji'un!!!

suara perjuanganku kini tengah duduk di sisi tuhan
2007



#2
tempatku di sini


tempatku di sini
lahir dan mati
tak kan kutinggalkan
kendati kekumuhan menghantui

tempatku di sini
berkeluarga dan beranak pinak
menuliskan tinta takdir kehidupan
yang berjibun ketidakpastian

gerangan kuhampiri wajah jijikmu
kusemburkan ludah bau
dan kulepaskan kepalan tinju
karena aku hanya akan terus menetap
hidup di sini dan mati pun aku mau di sini

di kampung tempatku berdendang teduh
yang pancari hidup dengan cahaya ke seluruh tubuh yang ringkih
seringkih tiang dari bambu kuning!
2007



#3
Pesan dari Kampung

aku mulai membosani tingkah polah
yang datang bertubi dari ketakmanusiawian diri
kepulan asap dari dapur, hanya kepulan kesedihan
pembunuh kepercayaan

kata-katamu hanya disimpan di bawah bantal
yang tebarkan harum pesona
wajahmu jernih tak sejernih hati
hingga aku menolak buncahkan kata
yang berjibun kekaguman



kau tersenyum,
aku ketus tersenyum dalam hati
kau melambaikan tangan,
aku kepalkan tangan kebencian dibelakangmu
kau sorotkan pandang kebahagiaan,
aku tersedu-sedu seminggu setelah kunjunganmu itu berlalu
pesanku ternyata tak kau baca!

2007


#4
Surau Kotor

kotoran hidup jengahi tuhan
atap genteng dari keringat kemunafikan,
menghisap ketulusikhlasan;
tembikar dari penghisapan kaum miskin
tak dikehendaki tuhan. korupsi!

2007



#5
Lelah pada Hidup

terkungkung jiwa dan rasaku
menukik aku ke dasar alam bawah sadar
namun tak kutemukan secuil pun
kebebasan rasa

aku hanya lilitkan kelelahan rasa
di kedua belah mata
yang kosong dari cahaya kehidupan
2007



#5
Aku Bukan Sisifus

aku mengangguk,
bahwa hidup tak semestinya begini terus-menerus
karena aku bukan sisifus
manusia yang terjebak rutinitas
dan nihil kreativitas

tapi kegembiraan hidupnya adalah aku
yang berwujud orang lain
karena ingar-bingar jiwanya seroboti
semangat diri yang telah sekian lama
terpendam di relung-relung ketakberdayaan
2007



#6
Bebatuan Rasa

manusia batu yang memendam kegelisahan di pagi, siang, sore
dan malam hari; hanya sekadar menumpuki diri
dengan jutaan kilogram harta

mencekik inti diri ketuhanan
hingga mati dari sisi kemanusiaan
urat nadi dan hati tak berdegup,
mati merasai kehadiran sisi kemanusiaannya
nafas kepeduliaan di hati sanubari pun tertimbun lapisan ruang
dan waktu; mati tak menjelajahi sisi ketuhanan di kedalaman spiritualitas

pancaroba membentuk hatinya sekeras batu
sembilu yang tak merasai norma, etika dan nilai-nilai kehidupan
rengekan mereka, adalah milik mereka
tak sudi hantarkan kegelisahan manusiawi,
karena telanjur ku menjadi manusia dari bebatuan rasa
yang miskin dari empati
2007



#7
mencari makan

cari makan halal saja susahnya minta ampun!
bagaimana dengan yang haram?
ah, sama saja susahnya

kalau tidak ada kesejahteraan, nirkeadilan
dan dikejar-kejar orang berdasi
2007



#8
Nasi Aking

lari kecilmu menahan lapar. Ma aku ingin makan!
tak ada apa-apa di rumah! Jawabnya.
hanya sisa-sisa nasi kemarin ditinggali jamur, lumutan,
dan kekuning-kuningan hampari jutaan harap di dasar keramaian.


ambil! Marilah masak rame-rame
biar dunia tahu
kemunafikan masih menjadi
jadi menu sistem nilai bangsa ini
sudah tiga bulan hujan tak kunjung mengunjungi

lihatlah sawah, masih sisakan retakan-retakan menyayat hati
ketika hujan guyuri tanah ini, benih dan pupuk pun susah kugenggam
jengah ema-mu ini de!

makanan sehari-hari juga nasi aking.
bagaimana kamu mau pintar, nak!
2007



#9
Hemat Kata

itu saja judul puisi yang kutulis
di atas kertas putih
tak sudi kuhambur-hamburkan isi kepala
kalau saja masih sisakan kepedihan
2007

15 October 2009

Puisi Redamkan Kekecewaan

Puisi Redamkan Kekecewaan

Ah, sejak kecil saya selalu bisa menahan kecewa. Dalam puisi terkandung kekecewaan yang meluapkan kata-kata. Dalam puisi saya bebas mengekspresikan kekecewaan tersebut. Tanpa adanya puisi, saya rasanya akan terus terdiam, terpekur, dan merenung tentang ketidakadilan yang terus bertebaran bagai jagung yang dijadikan pakan ayam dan burung merpati.

berkepala dua

aku bukan munafik berkepala dua
benci kebatilan hanya dalam kata-kata

aku bukan anggota tim sukses berkepala dua
janji di mulut hanya penarik massa

aku bukan penguasa Indonesia
perjuangkan rakyat tak seindah dikira

aku, pokoknya, bukan aku yang menggadaikan jiwa
aku, keteguhan yang ditanam di jiwa manusia

keberanian berkata “tidak” untuk kejahatan
keperkasaan yang memorak-morandakan
kebatilan kaum otoritarian
Garut, Maret 2009

bukan atas nama Surga

kalau bersembahyang karena surga
Rabiah Al-Adawiyah akan membakarnya
menjadi berkepingan lebur bersama keserakahan
Garut, Maret 2009

menjenguk Indonesia

jarak tempuh serasa jauh dan menanjak
hembusan angin nusantara tak sesejuk tahun lalu
aku berguling
menungging
lari kecil-kecil
dan merebahkan badan
di atas alas kardus
dan plastik yang bergeresekan

sumpek betul rasanya Indonesia
sumpek karena dipenuhi pejabat korup !
Bandung, Maret 2009

Olah jiwa

ruang jiwaku dipenuhi kepompong
yang siap menyemai dirinya jadi kupu-kupu indah
namun di tengah perjalanan setapak jiwa

ia berhenti memerhatikan segurat keserakahan
lantas kemudian menancapkan belati hingga letih
menjalar merenggut nyawa dari persendian nadi

sumpah misi itu kembali “ter”nina-bobokan
di dalam sekantong biji hati yang membusuk

Tuhan…, hidupkanlah biji-biji itu
menjadi tanaman indah yang setiap hari
dapat menghidupi dua ratus juta jiwa manusia
di Indonesia tercinta
Bandung, Maret 2009

Ekstase jiwa

isi hatiku dengan cuka asmara
pikir sejenak apakah aku jalang
yang kebinatang-binatangan ?

aku rasa bukan !
tapi besar kemungkinan
seperti gunung yang menjulang

gila kiranya aku berhenti berefleksi
mati rasanya hati dari sepercik yang suci

dosa dan kejahatan menjadi karat
dalam hati hingga tak ada kebenaran
selain dari sang diri sendiri

rigid, kakuk, kikuk, reaktif dan fanatis !!!!!!
Bandung, Maret 2009

Sukron Abdilah, Lahir di Garut 22 Maret 1982. Mengedit buku agama
remaja, menulis artikel tentang budaya, media, informasi, sosial dan
agama di media cetak dan online. Ia alumni Universitas Islam Negeri
(UIN) Bandung (2007), bergiat di komunitas Wau Qasam.

7 October 2009

Sedekat urat nadi

Sedekat urat nadi

Tuhan ternyata asyik untuk dijadikan objek penumpahan ide berpuisi atau bersajak. Ada Muhammad Iqbal, Jalaluddin Rumi, Ibn Arabi, Umar khayam, Hamzah Fanshuri, dsb. Seperti halnya sang Adam yang merasa rindu dan kadang berputus asa soal kesempatan bertemu kembali dengan-Nya. Pun begitu saya. Kadang kerinduan pada-Nya -- meskipun tak pernah bermuwajahah -- ternyata Dia terus menggodaku untuk tersendat-sendat mengingat-Nya. Semoga puisi di bawah ini di akhirat menjadi bukti...bahwa saya adalah hamba-Nya..

berapakah nomor Hand Phone-MU?
dimanakah alamat rumah-Mu?
akun facebook-Mu apa ya?

aku tahu Engkau tak pernah marah
meski tak tahu juga Engkau adalah sang Pemarah

bolehkah kukirim short message service permohonanku?
tak marahkah Engkau jika surat ini esok dikirim?
ah..rasanya setiap waktu aku akan chating dengan-Mu?

aku tahu Engkau bukan jauh di sana
di sini…di sinabar
Engkau bersemayam menggenggam urad nadi
25 September 2009

6 October 2009

Menulis Puisi Itu Bebas

Menulis Puisi Itu Bebas

Ah…, rasanya nikmat ketika saya menulis puisi atau sajak. Meski secara teoritis saya tak begitu memahami struktur puisi dan sajak, toh saya masih bisa menikmati rangkaian kata hasil buah gagasan saya. Anda boleh tidak setuju dengan saya. Apalagi kalau melihat puisi bikinan saya yang tidak seindah pujangga angkatan 45. Saya memegang kepercayaan menulis puisi itu mesti bebas menggambarkan keresahan jiwa atas segala bentuk realitas maupun non-realitas. Disinilah letak ketertarikan saya terhadap puisi. Saya tidak mau didikte oleh vakum-aturan dalam membuat puisi. Makanya, puisi saya adalah khas deskripsi saya sendiri. Bukan berdasarkan aturan yang digariskan sebuah media massa atau penerbitan.

Saya sedemikian senang ketika rangkaian kata dari dasar jiwa itu tersusun. Meskipun tidak seindah, seapik, dan sedramatis sastrawan mainstream. Inilah puisi-puisi saya….! Coba kau nikmati kalau kau tertarik. Kalau tak tertarik, tak apalah kau berpindah ke halaman lain.

Ingat…aku tak bisa tidur

aku tak kunjung tertidur
ingat ayah, ingat ibu, ingat kakak, ingat adik
kupejamkan mata, tapi masih tak tertidur juga
ingat kekasih, ingat janji, ingat obat-obatan

suara cericit burung, mendenging
namun aku tak kuasa menutupkan mata ini
ingat kesengsaraan, ingat kekuasaan, ingat wara-wiri politik,
ingat sby, ingat utang, ingat jk, ingat puisi, ingat kampung halaman,
ingat kpk, ingat rapbn, ingat 2010, ingat notebook, ingat calon istri,
ingat gawean, ingat tak bisa mengingat, ingat dompet, ingat almari,
ingat kawan, ingat dosen, ingat mahasiswa, ingat pengamen, ingat pengemis,
ingat…..capek ngetiknya.

Bandung, 18 Agustus 2009

Indonesia 64
ah, guratan itu tanda kepedihanmu
sebab ada di sekitar pipi
lingkaran di dadamu juga gambarkan kepedihan
karena menjadi borok yang mencengkram

64 usiamu kini tak berarti
terlihat tubuh yang ramping semampai
17 kelahiranmu tak sisakan jiwa muda untuk mendaki
kekayaan, kesejahteraan, apalagi martabat

Bandung, 18 Agustus 2009

Puisi tak selesai
hanya itu yang dapat kutulis
selebihnya aku mengeja kata
MER-DE-KA

Bandung, 18 Agustus 2009

KAU
dulu kau adalah penjara
kau adalah selaksa jiwa
kau adalah mayat tak hidup
kau adalah wasit kehidupan
kau adalah “tuhan” kecil
kau adalah kebenaran mutlak
kau adalah kini
kau adalah maju
kau adalah beradab
kau adalah jujur
kau adalah sepatu hebring
kau adalah signal kuat
kau adalah tak terpikir
kau adalah atasan segala sesuatu
kau adalah sombong
kau adalah tanah airku

kau adalah tak bisa kutuliskan
kau adalah semuanya…
kau adalah tak kan pernah habis-habisnya
kau….bikin capek ku berpuisi
Bandung, 18 Agustus 2009

Ayat-ayat Antiteror

bom di sini, bom di sana
teroris atas nama agama harus diberantas tuntas
pak korup, memang berdasi
tapi bukan berarti tak boleh diberantas tuntas

teror tidak berdasar pikiran luhur
semangat persatuan adalah tanda pikiran mulia
kebencian bukan berbalas kebencian
kebencian mesti dibalas cinta kasih karena kekal abadi

teror bukan sikap yang mulia, ia adalah tanda keasusilaan
mati dan hidup adalah firman tuhan
urusan tuhan hingga membunuh adalah dosa besar

teror bukan laku kekudusan
sebab manusia adalah muara ajaran hidup damai
ramahlah pada setiap orang
berkasih sayanglah pada si congkak
karena tuhan maha pengampun

Muhammad berkhutbah
berlaku adillah
berbuat bajiklah
jangan berbuat keji, mungkar dan saling memusuhi
karenanya mereka dibenci Allah sang rabbulalamin

mari renungkan ayat-ayat anti-teror
agar tidak menjadi pelaku teror

Bandung, 20 Agustus 2009

Angkara
kini kutertegun pandangi sejumput ilalang
keramahan pun menjadi kadung menghilang

kini kuterpekur menatap gorong-gorong jiwa
kekudusan diperkosa manisnya kata

kini kuhela napas sedalam samudera
namun tak kuasa kuhirup udara keserakahan
yang memorakporandakan keharmonisan
hingga bercampur darah kemurkaan

aku melingkari logika tak beraturan
kenapa sampai hidup di jejaran manusia angkara?
Bandung, 20 Agustus 2009

Sukron Abdilah. Lahir di Garut 22 Maret 1982. Ketua Insitute for Religion and Future Analisys (Irfani) Bandung. Alumni Universitas Islam Negeri (UIN) Bandung (2007). Mengasah kemampuan menulis puisinya di komunitas sastra Wau Qasam (Bandung). Karya tulisnya pernah dimuat di Pikiran Rakyat, Kompas Jabar, SINDO, Pelita, Galamedia, Tribun Jabar, SKM Medikom, Majalah Suara Muhammadiyah, Percikan Iman, Tabloid Al-Hikmah, dsb. Sekarang mengelola www.sunangunungdjati.com. No kontak 081322151160.