Showing posts with label Sastra. Show all posts
Showing posts with label Sastra. Show all posts

17 December 2018

Tahun Baru, Hidup Harus Lebih Baru

Tahun Baru, Hidup Harus Lebih Baru


Tahun baru Masehi bagi saya tidak hanya pesta sesaat dengan meniup terompet dan menyalakan kembang api di tempat-tempat keramaian. Tahun baru bagi saya ialah awal menggantungkan harapan hidup untuk menjadi lebih baik lagi. Harapan hidup ialah modal, capital, mesin, dan daya luar biasa yang mampu menggerakkan aktivitas kita. Ketika tak ada satu pun harapan yang kita susun dalam hidup ini, saya jamin Anda tidak akan lagi betah mengarungi hidup ini. Anda akan putus asa, lemah, tak bersemangat, dan memahami bahwa hidup tak layak dijalani.

Tahun baru diawali dengan nama dewa Janus, yang memiliki dua kepala. Yang satu menghadap ke depan. Satunya lagi mengarah ke belakang. Ini artinya ketika mendekati bulan Januari, kita sejatinya melakukan refleksi diri ikhwal kehidupan yang telah dan akan kita jalani. Masa lalu, memang telah terjadi dan tidak mungkin lagi kembali. Masa depan tidak mungkin terjadi kalau harapan kita tidak ada sama sekali.

Jadi, susunlah harapan untuk memodali semangat hidup kita. Sesekali melihatlah ke belakang untuk dipelajari agar ke depan kesalahan yang pernah kita lakukan tidak terjadi lagi. Tahun Baru, harapan pun harus lebih baru. Setuju bro!

30 November 2018

Orang Tamak Mah Begini ya

Orang Tamak Mah Begini ya


Tuhan dipenjara seluruh ketamakanmu. Dia menjadi tak berarti apa-apa di kedalaman sinabarmu. Tempat suci-Nya kini menjadi panggung politik kepentingan. Pertunjukan atraktif di gedung-gedung masjid yang sejatinya bersih dari nafsu-nafsu berkuasa. Kita seolah menjadikan bebangunan beratap menara bulan bintang itu sebagai rebutan orang-orang. Madjid berkata, “Islam Yes!” sementara “Partai Islam No”.

Adalah kepicikan ketika ruh coba-coba dilumuri nenafsu manusiawi berbalut angkara murka. Nilai agama menjadi jualan politik yang tak lagi seseksi Dewi Persik. Se-ngetren Ahmad Dani dan Luna Maya. Laiknya Ariel yang tak lagi percaya diri untuk berkarya: Agama menjadi mati suri. Mati dari keberfungsian hakikinya sebagai mesin penggerak umat manusia untuk mentransformasi.

Tak usah kau salahkan Agama. Salahkan saja manusia-manusia yang lunglai ketika menafsir mesin penggerak Agama. Matilah jiwa. Matilah rasa. Matilah sinabar di otak kepalamu. Daya dobrak Agama pun tak lagi seperkasa Hercules menghancurkan benteng-benteng yang dibangun ayahnya, Zeus.

Mereka hanya bisa berkata, “Negaraku”, seraya menerawang ke angkasa, “adalah jamrud khatulistiwa yang mencekam.” Tak ada lagi harapan yang tersimpan di dada setiap insan negara: “Aku berteriak: Matilah Agama”...Matilah engkau di dunia ini akibat ulah manusia bermental raksasa angkara murka.

Engkau kini tertindih nyeri. Menggerinjal ingin membebaskan diri jerat tali temali besi. Namun si dia hanya tertawa senang, kadang riang. Gigi bergerigi dan mulutnya yang penuh keserakahan terlihat menyebalkan. Sangat menyebalkan serupa orang dewasa yang mengambil ludo, monopoli, dan ular tangga milik adiknya secara paksa. Sementara itu, di luar, orang-orang keparat hanya bernyanyi riang tak kenal lelah. Rasa dan jiwanya tak bergelinjal keluar ubun-ubun kesadaran manusiawi. Membiarkan suara engkau menjadi parau...sangat parau...dan lambat laun tak terdengar segemercik apa pun.

Bebatuan itu terasa berat menindih lekat. Memberati tubuh ringkih berkalung derita. Penderitaan yang dirangkai secara sengaja oleh babi-babi berdasi. Rakyat kini tak lagi berpunya kedaulatan. Semuanya habis digerus keserakahan kaum dewa yang bermuram durja.  Merana dan merona tak ada bedanya. Blur dengan suara isak tangis engkau yang terus-terusan mengeras. Membahana. Dan menghiasi alam ini. Semakin keras dan membahana; semakin tak terdengar teriak penderitaan. Petani, guru honorer, pengangguran, tukang angkot, pemboseh becak, dan si dekil hanya bisa berteriak hingga parau, serak dan lantas meringkuk kikuk di pembaringan.

Engkau bersuara seperti halnya si bisu yang tak sudi berkata-kata. Meracau karena engkau dianggapnya super gila bagi orang-orang yang kini duduk tersenyum di kursi empuk kekuasaan. Tak lupa dibalik senyum dan simpati mereka, terselip sebatang cerutu yang mengepulkan asap kemunafikan.

Bandung, Juni 2011

Sajak Tragis

Sajak Tragis

kesucian mengalir
hingga memenuhi urat nadi
mencengkram menelusuri sinabar hati
semuanya memahat diri mengukir eksistensi
menjadi manusia dilumuri spirit ilahi

tapi, aku dan kau kini menutupnya
dengan sejuta paksa
memenjarakannya dengan terali keangkaraan
untuk kemudian berakhir tragis.....
sanubariku dan sanubarimu kini tak memancarkan cahaya
membunuhnya hingga mati tak dapat menari-nari asyik
di alam realitas...

aku dan kau, kini, tak mampu
mengukir karya berbalut ruh mengilahi
karena tengah mengkhianati titah Rabbi

Bandung, Juni 2011

29 November 2018

Kuntum Bunga Kampung (1928-2009)

Kuntum Bunga Kampung (1928-2009)


ah itu burung bercengkrama riang
membedah rasa yang diaduk kesepian
di depan pusaramu aku melayang
berimajinasi meneteskan selaksa harapan

rekahan jiwa ini mengembung pilu
menari di atas selubung kerinduan
mencari sepercik hati berdawai ngilu
perkuburanmu kini sisakan kemasaman


masihkah kudekap erat kegelisahan berbalut harapan?
adakah kau rasakan suasana batin yang sama laiknya kurasakan?
ah pastinya kau tak merasakan?
aku yakin kau pun tak berpengharapan seperti yang kuharapkan!

batu nisan ini menjadi saksi bisu
di gelaran hatiku bersemayam keresahan
berpendaran menjadi tangisan menggunung
di dalam diri ini aku hanya bisa berdecak kagum
kadang rasa tak percaya mengulum sinabar

Oo, di......kampung ini telah lahir
manusia yang resah dan jengah atas kemiringan
yang tak pernah berhenti menetaskan
kederitaan dan penderitaan hidup dibalut refleksi agung

Oo, di.....kampung ini juga dirimu telentang kaku
mencoba bertamu sekaligus bercengkrama
dengan tetanggamu yang mencium harum
kuntum bunga yang puluhan tahun tak pernah tercium

selamat jalan sang maestro (1928-2009)
selamat bercengkrama dengan-Nya
akankah aku di sini menjadi gelisah sepercis dirimu.....?

Garut, 22 September 2009

28 November 2018

Gangsingku dicuri orang*

Gangsingku dicuri orang*

Aku susun pakem permainan gangsing buat melawan orang yang berusaha mencurinya dariku. Dari saluran FM sebuah radio swasta memberitakan bahwa gangsingku akan dicuri bangsa lain. Bangsa yang tak punya kreativitas budaya setinggi saudara-saudaraku di Indonesia.

Aku kembali mengukuhkan bahwa aku dan saudara-saudaraku adalah para pencipta permainan gangsing. Tak sudi kalau nasibnya seperti angklung dan kain batik, yang distempeli cap Ki Malaya. Aku susun buku tentang tata-aturan bermain gangsing, jangan-jangan ada maling yang hendak mencuri di tengah kelengahan. Kan mereka bakal malu kalau mencuri, sementara bukti tertulis ada dihadapan mata setengah memandangnya itu.

Ini lho buku Panduan bermain Gangsing!
-- 03 November 2007 

* judul ini terinspirasi oleh pencurian-pencurian kekayaan intelektual bangsa Indonesia oleh bangsa luar.