28 November 2018

Selamat Datang Blook di Era Industri 4.0

Selamat Datang Blook di Era Industri 4.0

Anda tahu apa itu “Blook” (baca: bluk)? Istilah ini menurut Wikipedia, ialah objek yang dibuat guna meniru buku, diterbitkan secara online melalui blog, atau buku cetak yang didasarkan pada konten blog. Istilah “blook” digunakan sejak tahun 1990-an, oleh pustakawan, Mindell Dubansky. “Blook” ialah nama lain dari look like a book (tampak seperti buku). “Blook” juga berasal dari penggabungan “blog” dan “book” sehingga menjadi “Blook”. Tepatnya 2002, Tony Pierce mengompilasi postingan di blog dan mengoleksinya jadi buku yang diberi judul “Blook”. Judul ini diberikan pembacanya, Jeff Jarvis dari BuzzMachine, dalam sebuah ajang bertajuk Pierce Award.

Era 4.0 sekali lagi ialah ruang “kekitaan” bukan “keakuan”. Postingan di web komunitas atau weblog mengindikasikan terselenggaranya ruang “kekitaan” tersebut. Sebab, konten situs ditentukan sang pengguna (user generated).  Setiap orang wajib berbagi informasi, ide, gagasan, dan kritik yang diposting melalui tulisan, video, audio, maupun photo. Nah, kalau tradisi 2.0 – berbagi bersama – digunakan setiap penerbit buku, akan banyak melahirkan buku yang disusun bersama pembaca.

Pelibatan konsumen

Kadang, saya berpikir sejenak tentang penerbitan buku di masa mendatang. Di era 2.0 seharusnya sebuah buku disusun bersama-sama; antara penulis dan pembaca. Menerbitkan tulisan berkala di blog menjadi buku (Blook), tentunya harus dikemas interaktif. Sebab, filosofi era 2.0 terletak pada interaktivitas. Pada bagian lay out isi, setelah tulisan berkala itu selesai akan terasa hebat dan menjanjikan apabila disertakan kolom komentar laiknya web 2.0. Sehingga pembaca akan mendapatkan ruang privat untuk memberi kritik, saran, dan apresiasi terhadap kompilasi tulisan tersebut.

Sang pembaca, sebagai ukuran naskah dikategorikan marketable, tentunya di era 2.0 mesti dilibatkan. Partisipasi mereka ikhwal kemasan, tata letak, dan editing isi harus ditampung penerbit yang hendak menyambut banjir e-book reader di negeri kita. Akan tetapi, saya pikir tak akan ada penerbit mainstream yang melakukannya. Ketika Tim O’Relly menggagas web 2.0 – dalam konteks penerbitan – ialah cermin sebuah buku yang melibatkan penerbit, penulis dan pembaca. Inilah yang disebut dengan ruang “kekitaan”.

Bayangkan, apabila itu dilakukan. Kita tidak memaksakan nilai-nilai subjektif kepada pembaca. Sebab, pembaca ketika selesai membaca bagian dari tulisan tersebut, mereka akan dengan senang hati menuliskan komentarnya di kolom yang disediakan pada kemasan isi buku tersebut. Itulah sekiranya yang menjadikan “blook” saya istilahkan dengan “buku era 2.0”. Karena buku cetak menjadi tempat terjadinya interaksi penulis dan pembaca. Pada akhirnya, pembaca ditempatkan sebagai fartner. Bukan “orang bodoh” yang dijadikan objek ceramah-tulisan.

Di negeri ini, hanya beberapa “blook” yang dicetak dengan menyertakan komentar pembaca terhadap tulisan di blog. Padahal, selain itu juga, kalau dikemas dengan menyertakan kolom komentar dalam tata letak dapat terjadi interaksi penulis-pembaca. Bukankah pada rilis 2010, Adobe Indesign CS5 sudah mengarah pada pengemasan buku interaktif dan touch eye berbasis digital? Entah berapa lama lagi revolusi buku terjadi, di mana layanan blog atau media sosial menyediakan aplikasi yang dapat dimanfaatkan perusahaan kartu seluler dan perangkat ebook reader untuk menjualnya dengan sistem registrasi. Kita tunggu saja bergulirnya era ini!

Bluk Indonesia

Di Indonesia, “Blook” mulai dikenal lewat karya Raditya Dika. Pemuda kelahiran 28 Desember 1984 ini ialah seorang penulis, komedian, penulis skrip komik/film, dan penggiat perbukuan. Lewat karya pertamanya, Kambingjantan (Gagasmedia, 2005), ia menjadi populer. Buku Kambingjantan ialah adaptasi dari blognya yang beralamat di www.kambingjantan.com. Dengan gaya menulis komedi yang lepas pakem dan apa adanya, Kambingjantan sukses menjadi National Bestseller. Setelah itu menyusul buku Cinta Brontosaurus (Gagasmedia, 2006), Radikus Makankakus (Gagasmedia, 2007), Babi Ngesot (Bukune, 2008), dan buku lainnya. Kini semua projek “blook” Raditya Dika dapat diakses di laman http://radityadika.com.

Satu lagi penulis “Blook” yang terbilang sukses di pasaran. Karya Trinity, yang mengulas perjalanan ke belahan Negara luar Indonesia, dengan kemasan bahasa yang lepas pakem, Bentang Pustaka menerbitkan buku The Naked Traveler. Kabarnya, “blook” ini hingga sekarang telah dicetak ulang sampai belasan kali. Kemudian, pada 2010 terbit kembali “blook” The Naked Traveler 2 dengan isi yang diambil dari postingannya di blog. Karya-karya Trinity, dapat Anda kunjungi di laman http://naked-traveler.com.

Bahkan, beberapa penulis di sebuah komunitas blogger menerbitkan “blook” dari konten blog. Chappy Hakim, sesama kontributor di www.kompasiana.com, misalnya, menerbitkan “blook” berjudul “Cat Rambut Orang Yahudi” (Gramedia, 2009). Kemudian, Prayitno Ramelan, menerbitkan “Intelejen Berthawaf” (Grasindo, 2009). Kedua buku tadi diterbitkan atas kerjasama Kompasiana dengan penerbit di Jakarta. Selain “blook” yang diterbitkan penerbit mainstream, kita juga dapat menemukan “blook” yang diterbitkan penerbit indie.

Berkaca dari kesuksesan “blook” atau buku era 2.0 di Indonesia, tak ada salahnya kalau kita semua berharap industri perbukuan di negeri ini bangkit. Kesuksesan penerbitan konten blog menjadi buku cetak tentu akan memacu blogger atau penulis (author) untuk memposting tulisan berkualitas dan mencerahkan. Wabilkhusus, tertantang untuk berbagi ide orisinal dengan para pembacanya ikhwal segala hal yang kadang dibungkus dengan gaya khas.

Selamat datang “blook”!

27 November 2018

Ibu, Sekolah Awal untuk Anaknya

Ibu, Sekolah Awal untuk Anaknya

Rentang masa perkembangan anak mestinya dipenuhi kegembiraan, sehingga berpengaruh positif bagi jiwanya. Akan tetapi, kecemasan dan ketakutan anak-anak sekarang hadir di mana-mana. Di sekolah, di jalanan, bahkan di rumah yang dihuni orang tuanya sekalipun. Kak Seto, dalam suatu kesempatan pernah mengklaim bahwa kekerasan terhadap anak yang dilakukan orang tua mencapai angka 80 persen. Saya pikir, ketika anak-anak akrab dengan kekerasan, ancaman kehilangan jati diri, kepercayaan, dan kemandirian dalam dirinya akan menghilang.

Maka, menciptakan lingkungan yang menentramkan anak-anak adalah keniscayaan yang tak bisa ditawar-tawar. Sebab, tanpa situasi tentram dan tenang; anak akan merasa tertekan sehingga berakibat pada terganggunya perkembangan jiwa. Jangan heran jika pribadi anak di masa mendatang akan memantulkan laku yang keras dan otoriter. Ia akan berubah jadi warga keras, tidak toleran, pendendam, dan antisosial. Bahkan, fanatisme berlebihan terhadap keyakinannya sehingga menyelesaikan konflik dengan cara-cara yang mengarah pada kekerasan.  

Kekerasan terhadap anak secara fisik atau psikis, adalah perilaku masyarakat jahiliyah dan tidak berbudaya. Melakukan kekerasan sangat berbahaya bagi perkembangan jiwa anak dan harus kita redam. Mencaci, berkata-kata kotor, tidak sopan, dan menjewer anak akan membentuknya jadi seorang anak yang tidak disiplin. Paling berbahaya lagi, kekerasan fisik dan psikis terhadap anak akan melahirkan suatu generasi yang menyelesaikan sengketa dengan kekerasan juga.

Ibu dan lembaga pendidikan memiliki peran yang hampir sama dalam dunia anak-anak. Setiap anak yang lahir ke muka bumi, tak bisa melepaskan diri dari dua penentu kehidupan tersebut. Seorang ibu mengandung, melahirkan, membimbing, dan mendidik anaknya hingga dapat hidup mandiri. Pun demikian dengan pendidikan. Hampir sama dengan peran seorang ibu; lembaga pendidikan di tiap jenjang (SD, SMP, SMA, dan Perguruan Tinggi) juga berharap mewujudnya kemandirian pada setiap anak didik. 

Tak salah kiranya keberhasilan warga negeri ini mengenyam pendidikan hingga perguruan tinggi, ditentukan tingkat kepedulian seorang Ibu atas dunia pendidikan. Dengan kasih dan sayangnya, seorang anak merasakan ketenangan dan ketentraman ketika mengarungi hidup. Betapa besar peran ibu dalam kehidupan seorang anak, hingga ada pepatah mengatakan, al-ummu madrasatun (ibu adalah tempat belajar atau sekolah). 

Sekolah di sini artinya ialah pendidikan informal yang memengaruhi karakter, kepribadian, wawasan, life skill dan sikap hidup seorang anak di masa mendatang. Karena itu, semangat belajar seorang anak terletak pada kepedulian ibunya terhadap pendidikan. Peran ibu bagi anaknya bagaikan akar pohon yang menumbuhkan pepohonan hingga tinggi menjulang. 

Kebaikan sikap, pengetahuan luas, dan kebijaksanaan seorang anak di masa depan – dalam perspektif behaviorisme – ditentukan lingkungan keluarga. Dalam hal ini, seorang ibu adalah lingkungan pertama yang menentukan kultur, psikologi, keberagamaan, interaksi sosial dan wawasan-pengetahuan anak. Pun begitu, sebagai lingkungan terdekat dengan anak, seorang ibu juga menentukan pandangan anak terhadap pentingnya menimba ilmu di lembaga pendidikan.

Karena itu, menjadi keniscayaan bagi seorang ibu memperkaya anaknya tentang wawasan pendidikan. Sebab – tanpa menapikan peran seorang Ayah – yang paling banyak berinteraksi dengan anaknya ialah sang ibu. Mendidik dan membimbing anak bagi seorang ibu merupakan misi suci yang harus dipegang kuat dalam paradigma pendidikan di rumahnya. Rasulullah Saw. pernah menjawab pertanyaan sahabat tentang siapa yang wajib ditaati dan diprioritaskan dalam hidup dengan menyebut tiga kali kata “ibu” lebih banyak ketimbang kata “ayah”. 

Seorang ibu seyogyanya membekali diri dengan kesadaran sebagai pendidik anaknya sehingga mereka menjadi anak mandiri, sehat, ulet, bijaksana, dan berpikiran luas. Maka, Indonesia ke depan akan berada di posisi sejajar dengan Negara maju, kalau setiap ibu memiliki kualitas pemahaman sebagai agen pendidikan. Kualitas ibu seperti itu, dapat diperoleh dari berbagai sumber. Misalnya, menghadiri seminar tentang anak dan pendidikan, workshop, dan pelatihan. Kemudian mengakses informasi dari internet, buku, majalah, Koran, dan media lainnya. Dengan begini, wawasan luas tentang dunia anak dapat dijadikan acuan menggenjot mereka untuk terus belajar. 

Tidak ada kesenjangan mengakses pengetahuan seputar dunia anak. Setiap orang dapat dengan mudah memperoleh informasi yang disediakan media. Maka, diharapkan ke depan, pihak pemerintah memerhatikan kesadaran dan pemahaman ibu dalam mendidik anak-anaknya. Ini dilakukan agar tercipta generasi yang dapat memajukan Indonesia. Dan, untuk mewujudkannya kita harus bekerja sama (baca: pemerintah, LSM, lembaga pendidikan, masyarakat) memberikan pemahaman kepada ibu-ibu dalam mendidik anak. Ibu sejati mampu membimbing anak-anaknya memaknai hidup, ibarat matahari yang menyinari tanpa berharap menerima kembali. 

Seorang anak diarahkan agar termotivasi mengenyam pendidikan guna meraih cita-cita. Selain itu, seorang ibu juga seyogyanya menjaga kesehatan fisik anak dengan memberikan makanan yang bergizi. Wawasan seputar kesehatan dan perkembangan jiwa anak merupakan kewajiban seorang ibu. Kalau betul, kasih ibu sepanjang hayat dan “al-ummu madrasatun”; maka fungsi ibu dalam mendukung kemajuan bangsa ini mesti diberikan porsi di dunia pendidikan. Tanpa kepedulian atas kualitas pendidikan, kualitas bangsa di masa depan juga bakal terpuruk.

Negara-negara yang tergolong maju, begitu menekankan pentingnya kualitas pendidikan. Negeri Jepang, misalnya, meletakkan kepercayaan pada kualitas pendidikan yang didukung para ibu dan pemerintahan. Setiap anak di Jepang diberikan pendidikan dan bimbingan yang tak mematikan kreativitas. Hal ini dilakukan setelah Nagasaki dan Hirosima dibombardir Amerika Serikat. Bangsa Jepang sadar, bahwa kemajuan negaranya terletak di pundak generasi muda, yang saat itu hanya menyisakan anak-anak. Dan, kerja keras mereka mendidik anak dapat dirasakan setelah puluhan tahun.

Jadi, betul rasanya kalau disimpulkan anak merupakan investasi berharga bagi rancang bangunan sebuah Negara. Kemajuan dan kemunduran terletak pada kualitas pendidikan yang diberikan saat ini oleh lembaga pendidikan dan lingkungan keluarga. Semoga kita menyadari peran mendidik dan membimbing anak-anak agar mampu menjalani kehidupan masa depan yang penuh kompleksitas.  

Penjara, HAMKA, dan Al-Azhar

Penjara, HAMKA, dan Al-Azhar

Aku menyisir rambut yang tergurai laiknya nyiur kelapa dengan sisir ompong berwarna kemerahan. Rambut hitam yang sedari tadi melambai-lambai kini terlihat mengkilat dan setia mengarah ke kiri dan ke kanan membentuk simbol cinta. Kalau saja diolesi minyak rambut LaVender warisan ayahku pasti terlihat seperti Alpacino yang terkenal itu. Ya, andai saja tak ada merek minyak rambut selain Lapender, maka hingga hari ini aku akan memakainya setia sampai mati.

Untungnya kini terdapat banyak merek minyak rambut. Dan, jujur saja; sejak aku menjadi mahasiswa tak pernah memakai minyak rambut. Selain ribet bin susah; aku juga tak mau ambil pusing mengeluarkan biaya buat rambutku. Biarkanlah rambut ini tumbuh sesuai kodrat Ilahi. Soal ketombe. Itu adalah soal estetika dan seni Ilahi. Biarlah Dia bermain-main dengan rambutku. Toh, ada beragam merek shampo cukup terkenal yang siap menyelesaikan pekerjaan. Cukup dengan 500 rupiah dan rambutku sudah bersih dari ketombe.

Kemudian kulihat bentuk wajahku. Hatiku berbisik, alhamdulillah, ternyata Tuhan masih memberikan anugerah dan kenikmatan tak terkira. Lubang hidungku masih mengarah ke arah bawah. Coba saja kalau lubangnya menganga ke atas. Boleh lah kalian bayangkan kalau aku akan kelimpungan menjaga agar hidungku ndak kemasukan air hujan. Tapi teman disampingku unjuk pendapat, “pake payung saja bos”.

Selesai bercermin, aku pergi ke warung untuk membeli panganan kecil, kopi hitam, dan beberapa batang rokok. Kemudian ku lihat matahari hari ini dari jalanan. Terlihat malu-malu dan agak pelit bersedekah karena tak seperti biasanya; matahari unjuk rasa tak mau memberi cahaya. Ndak tahu marah atau kesal dengan manusia. Yang pasti hari ini cahaya matahari terlihat sedikit saja. Hanya mendung kelabu brader!
***
“Sampurasun…”

“Rampes…” jawab temanku, yang tadi mengusulkan untuk membawa payung ketika air hujan turun. Sayang sekali, usulnya tak pernah ku gubris. Sebab, lubang hidungku masih mengarah ke bawah.

“Dari mana saja euy?” lanjutnya sambil membuka halaman Koran Kompas.

“Udah tahu nanya. Dasar urang Sunda. Senangnya basa-basi.”

Temanku hanya “seri koneng” karena begitulah kondisi sebenarnya. Suku yang terkenal senang basa-basi adalah suku Sunda. Ketika menawari makanan saja, hanya di mulut. Tapi tidak semua orang Sunda begitu. Aku termasuk urang Sunda yang tak senang berbasa-basi. Kalau punya uang dan kesempatan akan kutawari. Tetapi giliran sedang bokek, berubah menjadi manusia sombong.
***
Hari ini aku berjumpa lagi dengan HAMKA lewat Tafsir Al-Azhar jilid satu. Tak tahu berapa jilid jumlahnya, yang jelas aku mendapat kabar bahwa tafsir tersebut disusun ketika beliau sedang mendekam di penjara. Gaya penafsiran HAMKA menggunakan model tafsir tematis dan kontekstual. Inilah yang mengakibatkan aku sedemikian mengagumi tafsir beliau.

Bayangkan. Pengapnya penjara, kotor, jorok, sempit, dan tak ada fasilitas mesin tik ternyata tak menghalangi HAMKA untuk berkarya. Ketika dirinya dijenguk sang keluarga, kerabat, dan sahabat; ia selalu memesan dibawakan buku dan kitab. Beliau tidak meminta amnesti dari pemerintah. Di tengah sepi dan gelapnya malam, di dalam penjara dia merenung dan memeras pikirannya untuk bertafakur membedah kehidupan yang hipokrit.

Ia kemudian mengingat kisah tragis ulama pujaannya, Syeikh Ibn Taimiyah, yang menghasilkan karya berupa kitab dari balik terali besi. Motivasi berkhidmat untuk umat dan bangsa menyeruak ke alam karsa Buya HAMKA. Dari sanalah keinginan menyusun kitab tafsir hadir kembali setelah bertahun-tahun beliau tak memperoleh kesempatan untuk menyusunnya.

Seperti yang beliau ungkapkan dalam sebuah karyanya, “Apa jadinya pabila aku tak mendekam di penjara. Sangat boleh jadi Tafsir Al-Azhar tak akan pernah aku selesaikan. Terima kasih karena Engkau telah memberikan tempat yang sepi dan intim untuk menyusun ilmu pengetahuan Islam dengan mengkaji ilmu-Mu.”

Setelah ia merasa putus asa, ternyata keimanan HAMKA mampu mengalahkan bisikan untuk bunuh diri dari Syetan terlaknat. HAMKA berbeda dengan Socrates, sang filsuf Yunani Kuno, yang memandang bunuh diri sebagai jalan untuk mengakhiri hidup. Coba bayangkan, bisik HAMKA, kalau saja Socrates tak melakukan bunuh diri. Sudah dapat dipastikan karyanya bisa dinikmati hingga kini. Tidak seperti yang dikabarkan Plato dalam berbagai karyanya. HAMKA adalah sang pemegang teguh optimisme dalam hidup. Bukan pemegang filsafat hidup pesimisme seperti yang diajarkan Schopenhuer.

Mulai sejak itu, HAMKA menekadkan diri bahwa penjara bukan akhir dari kreativitas. Bukan akhir dari semangat berkarya. Dan, bukan akhir dari dirinya sebagai manusia. Penjara, demikian tekadnya, mesti menjadi tempat untuk merenungi segala laku pada masa lalu hingga dapat melihat masa depan dengan cerah benderah.
***
HAMKA…..Kini, setiap ku baca karyamu, selalu kusempatkan untuk menciumi sampul bukumu. ku selami pengalaman hidupmu. Ku telusuri jejak langkahmu. Ku simpan setiap wejanganmu yang berharga ini. Ku hormati segala gagasanmu…, HAMKA. 

Dan….., ku sisiri kembali rambutku yang mulai memanjang tak beraturan. Ku semproti badanku dengan parfum kembali karena baunya minta ampun…!
Kakek Saya “Tukang Cukur” Lho!

Kakek Saya “Tukang Cukur” Lho!


MESKIPUN ayah saya seorang guru kepala di sebuah sekolah dasar, tetapi ibu saya berasal dari keturunan tukang cukur karena ayahnya (kakek saya) berprofesi sebagai tukang cukur. Tak hanya kakek saya, uniknya lagi, hampir seratus persen warga asli di kampung saya, berprofesi sebagai tukang cukur. Bahkan, tahun 2002 pun, selepas menyelesaikan studi Pesantren di Garut, saya sempat mencicipi lebih kurang selama 6 bulan, bagaimana rasanya menjadi tukang cukur di Bekasi Timur, Cibeureum, Sukajadi, dan terakhir di Ujungberung.  

Setelah berhasil melaksanakan prosesi ngider ke daerah Cibatu, untuk belajar bagaimana memangkas rambut anak-anak, saya pun berangkat ke kota dengan harapan bisa bekerja di sebuah kios pangkas rambut. Jujur saja, saya sempat beberapa kali mengalami kejadian lucu dan menakutkan.

Suatu ketika, ada seorang tentara TNI, yang hendak memotong rambutnya. Tanpa menanyakan model potongan rambut yang diinginkannya, saya langsung membabat habis rambutnya menjadi plontos khas Prajurit ABRI. Pada saat sedang dicukur itu, ada keganjilan, dari baju yang dia pakai; setelah saya perhatikan, ternyata pangkatnya bukan Kopral; tetapi lebih tinggi lagi, kalau tidak salah, pangkatnya Letnan Kolonel.

Singkat cerita, setelah selesai memangkas rambutnya, dia pun saya persilahkan untuk membayar kepada kasir. Tak dinyana, eh, tentara itu malah mencak-mencak karena tidak terima kalau rambutnya dipangkas mengikuti pangkat kopral.

Sambil berteriak kepada saya, bapak tentara itu bilang, “Hey...kamu nggak becus potong rambut, ya?”  

“Emang kenapa pak?” jawab saya keheranan.

“Lihat potongan rambutnya.” Ujarnya sambil marah-marah. “Ini model ABRI pangkat Kopral.” Lanjutnya.

“Ya, betul pak. Kan, bapak tentara. Ini model prajurit.” Jawab saya polos.

“Kamu nggak tahu, ya. Pangkat saya, bukan Kopral.” Bentaknya.

“Lihat, pangkat saya adalah Letnan Kolonel...” sambungnya sambil menodongkan pistol.

Atas bantuan teman saya, sesama tukang cukur, akhirnya saya bisa kabur tunggang langgang, menjauhi bapak Letnan Kolonel yang marah-marah karena rambutnya pelontos seperti Prajurit.
***
BICARA tentang tukang cukur, kita tidak boleh mengenyahkan Garut dalam lanskap historiografi jasa pangkas rambut di Priangan. Termasuk kalau kita bicara pertumbuhan jasa mencukur di kota-kota besar Indonesia. Kita tidak bisa memungkiri kalau Garut merupakan salah satu daerah penghasil tukang cukur terbesar di Jawa Barat, bahkan di Indonesia.
  
Salah satu daerah penghasil tukang cukur itu, ialah kampung saya, yang terletak di Desa Binakarya, Kecamatan Banyuresmi, Kabupaten Garut, berdekatan dengan daerah penghasil tukang cukur lainnya, yakni desa Bagendit.

Secara historis, tukang cukur di Kota Bandung, erat kaitannya dengan peristiwa pemberontakan DI/TII di Jawa Barat, pimpinan Sekarmadji Maridjan (SM) Kartosoewirjo (1949-1950-an). Konflik tersebut menyebabkan warga Garut banyak yang bermigrasi ke daerah lain, termasuk ke daerah Bandung. Para imigran dari Garut ini, untuk mempertahankan hidup, mereka bekerja menjadi tukang cukur pindah profesi dari petani karena harus melangsungkan hidup di daerah perantauan.

Ternyata hasil dari nyukur, sangat menggiurkan, dan dari situlah berdatangan imigran dari Garut ke kota-kota besar lain untuk menjadi tukang cukur; mencoba peruntungan hidup.  

Saking ngetren profesi tukang cukur di Garut, saat SM Kartosoewiryo menghadiri sidang pertama, dia pernah disentil Hakim untuk memastikan identitas Kartosoewiryo yang asli, “Jangan sampai yang dihadirkan dalam sidang ini adalah Kartosoewirjo tukang cukur, bukan Kartosoewirjo pemimpin gerombolan.”

Dengan pernyataan tersebut, mengindikasikan pada saat itu profesi tukang cukur di Garut dapat menghidupkan harapan hidup layak masyarakat. Profesi tukang cukur pun menjadi sumber penghasilan warga di kecamatan Banyuresmi, Garut.   

***
Sejauh ini, belum ada catatan pasti kapan pertama kali sejarah para tukang cukur rambut muncul di Indonesia. Namun, dalam banyak sumber-sumber lisan maupun dokumentas foto-foto menyebutkan bahwa sebenarnya budaya tukang cukur yang ada di Indonesia berasal dari daratan Tiongkok (Cina). Di Indonesia, jejak tukang cukur jalanan bisa ditemukan pada dokumentasi foto-foto zaman kolonial Belanda milik KITLV (Koninklijk Instituut voor Taal-, Land- en Volkenkunde) yang bermarkas di Leiden, Belanda.

Lembaga itu menyimpan banyak koleksi foto para tukang cukur rambut jalanan di beberapa kota besar Indonesia mulai periode 1911 hingga 1930-an. Misalnya foto aktivitas orang Madura di Surabaya yang berprofesi sebagai tukang cukur pada 1911 dan tukang cukur rambut asal Tiongkok di Medan pada 1931.

Tukang cukur memang pernah identik dengan orang Madura. Seperti ditulis Muh Syamsuddin dalam jurnalnya berjudul: Agama, Migrasi dan orang Madura pada 2007 lalu. Dia menganalisis bahwa perjalanan migrasi orang-orang dari pulau garam itu terjadi sejak konflik antara Trunojoyo dan Amangkurat II pada 1677. Konflik itu menyebabkan para pengikut Trunojoyo enggan kembali ke Madura.

Orang-orang ini pada beberapa masa kemudian memilih mencari nafkah di sektor informal, seperti tukang soto, tukang sate, dan tukang cukur. Selain kuatnya tradisi migrasi itu merupakan bentuk jawaban terhadap kondisi ekologis pulau Madura yang gersang dan tandus.

Haryoto Kunto dalam bukunya berjudul: Wajah Bandoeng Tempo Doeloe (1984), pernah menuliskan bahwa orang Tiongkok di Bandung pada masa lalu ternyata juga dikenal menguasai profesi sebagai pemangkas rambut dan mengorek kotoran telinga dengan alat yang disebut "kili-kili."

Orang-orang Tiongkok zaman dulu juga banyak yang menjadi tukang cukur. Persebaran orang-orang dari daratan Tiongkok ini memang terjadi sejak berabad-abad lampau lamanya. Mereka bermigrasi dan menyebar ke banyak negara, termasuk ke pelosok-pelosok wilayah Nusantara.

Selain orang Madura dan Tiongkok, dalam buku itu Haryoto juga menyebut bahwa beberapa orang Jepang juga memiliki toko pangkas rambut di alun-alun Bandung pada 1932, misalnya Toko Tjijoda, Toko Nanko, dan Toyama.

Bahkan, karena banyaknya orang Garut menjadi tukan cukur, sampai-sampai dijadikan bahan banyolan hakim yang memimpin sidang kasus pemberontakan Kartosoewirjo. Seperti ditulis dalam buku Tempo berjudul "Kartosoewirjo: mimpi negara Islam".

Di buku itu ditulis cerita dari sumber resmi tentara yang banyak dikutip di koran-koran pada waktu itu, yang menyebutkan bahwa pada sidang perdana, Kartosoewirjo ditanyai soal kejelasan identitas dan perkara yang dia hadapi. "Jangan sampai yang dihadirkan dalam sidang ini adalah Kartosoewirjo tukang cukur, bukan Kartosoewirjo pemimpin gerombolan," kata Hakim sidang waktu itu.

Pada jaman penjajahan Belanda juga sudah banyak jasa untuk pangkas rambut, ini terbukti dengan adanya foto ketika memotong rambut di pinggiran jalan raya. Foto tersbut diambil dari tahun 1911 hingga 1930.

Di Indonesia sendiri tukang cukur identik dengan Madura. Ini terbukti dengan banyaknya kios tukang cukur Madura di berbagai pelosok baik pasar, gang, kota besar, desa dan lain-lain. Sejarah mencatat bahwa pada tahun 1677 waktu itu terdapat perang antara 2 kubu. Pada intinya orang Madura yang telah pergi dari tempat mereka tidak mau pulang kembali ke tempat mereka dan memilih untuk tetap tinggal untuk merantau. Alhasil banyak sekali mereka yang berusaha bisnis dagang seperti dagang sate dan tukang cukur rambut. 

Tahun 1844 di Bandung ada seorang Tiongkok Cina yang bekerja sebagai tukang pangkas rambut dan pembersih kotoran kuping. Selain Madura dan Tiongkok, pangkas rambut juga dipopulerkan oleh warga Garut. Ceritanya hampir sama dengan Madura, dikarenakan adanya konflik yang berkepanjangan maka warga Garut bermigrasi ke tempat lain untuk menyelamatkan diri. Untuk bertahan hidup maka orang garut tersebut mulai untuk berbisnis yang salah satunya yaitu menjadi tukang cukur rambut. 


Menyegarkan Intelektualisme IMM

Menyegarkan Intelektualisme IMM


Saya selalu bangga, bahwa dalam catatan histori kehidupan pribadi, pernah merasakan bagaimana suasana intelektualisme yang riuh di salah satu ortom Muhammadiyah, yakni Ikatan Mahasiswa Muhammadiyah (IMM). Saat itu, di sekretariat IMM Korkom UIN Bandung, saya mendapatkan semangat intelektualisme dari para senior, yang selalu mengutip filsuf, pemikir, dan teoritikus dalam berbagai disiplin ilmu ketika sedang mengadakan rapat dan kajian kritis tentang suatu hal.

Tak hanya bercuap-cuap untuk menunjukkan bahwa IMM ialah gerakan intelektual, di IMM Korkom UIN Bandung juga, saya mendapatkan semangat untuk menuliskan pemikiran, ide, dan opini saya tentang fenomena dan noumena. Meskipun, saya tidak dibimbing langsung oleh para senior untuk mampu merangkai kata, tetapi dari mereka lah saya mendapatkan semangat, energi, dan obsesi di dunia tulis menulis. Disinilah, saya mendapatkan skill menulis, dan sampai hari ini, dari menulislah saya dapat hidup berdaya, bermanfaat, dan bermartabat: tanpa bergantung pada belas kasih orang lain.

Sejak tahun 2003 akhir, kalau tak salah, saya mulai merasakan atmosfer kemahasiswaan yang lekat dengan kegiatan intelektual di IMM. Saya banyak belajar teologi pembebasan, fiqh kebhinekaan, filsafat sosial, aktivisme intelektual organik, dan sejumlah wacana pemikiran kiri dari interaksi intelektual saya dengan buku dan senior di sekretariat IMM. Saat itu, saya menjadikan sekretariat sebagai kampus pertama – kampus keduanya adalah kelas di jurusan – untuk mengasah daya analitik keilmuan saya terhadap fenomena sosial.  
Islam bagi saya, saat itu dan hingga kini, berwajah pembebasan, fungsionalisme, fenomenologik, liberatif dan transformatif. Sederhana, Islam adalah agama yang berdampak positif terhadap hidup dan kehidupan manusia di muka bumi. Apabila Islam tidak berdampak apa-apa terhadap kehidupan di muka bumi, hingga hari ini saya meyakini bahwa kita – sebagai penganutnya – telah salah kaprah memaknai intisari keberislaman. Karena Islam diturunkan ke muka bumi, sehingga sebagai penganutnya, kita harus membebaskan bumi dari segala bentuk penindasan dan ketidaktentraman.

Dalam pandangan saya, Islam adalah kebudayaan ilahiyah yang lahir atas kerjasama manusia dengan Tuhan dalam membetulkan struktur kehidupan. Utusan Tuhan (baca: para nabi) adalah segelintir manusia yang mendapatkan kehormatan untuk berdiskusi dengan-Nya tentang bagaimana merancang agar kehidupan tidak karut-marut. Itulah kenapa agama diartikan sebagai “tidak hancur” dan dalam bahasa Inggris berarti religion, yang berarti religere (mengikat).

Ketika umat manusia tidak mampu meresapi saripati keagamaannya dalam hidup, posisinya sama dengan manusia yang lumpuh dan tak berdaya. Islam, ketika dianut dalam kehidupan harus membuahkan karya nyata, sehingga agama ini berfungsi secara manusiawi. Agama serupa garam yang mampu meresap ke setiap sektor kehidupan, menghidupkan semangat kemanusiaan, dan membebaskan manusia dari segala wujud penindasan.

Islam harus menjadi solusi bagi setiap persoalan yang mendera kehidupan, dan hal ini membutuhkan peran para intelektual yang mampu memproduksi pemikiran-pemikirannya untuk melakukan pembaharuan, tajdid, dan ijtihad kemanusiaan. Hal ini dilakukan karena tidak semua persoalan dalam hidup bisa kita temukan jawabannya di dalam Al-Quran dan Hadits, sehingga diperlukan kehadiran generasi ulul al-bab, yang mampu menjawab tantangan zaman dengan bekal kemampuan intelektual yang selalu dibimbing Allah. Kesalehan individual harus selalu menyertai kesalehan intelektual, sehingga dapat menjawab tantangan zaman atas ridha Allah. 

Tak hanya saleh individual dan intelektual saja. Kita juga harus memiliki kesalehan sosial dalam menjalani kehidupan yang serba fana ini. Sebab, hanya dengan kesalehan sosial, setiap persoalan yang berkaitan dengan pelanggaran-pelanggaran kemanusiaan dapat kita tanggulangi bersama.  

Saya pribadi, tidak setuju bila IMM dijadikan sebagai suplier kader politik tanpa menempa mereka dengan analisa sosial politik yang memuat ajaran teologi pembebasan. IMM, harus menjadi suplier kader politik yang tak hanya mengurusi jabatan, tak hanya gila kekuasaan, dan selalu melakukan intrik politik busuk; tetapi suplier kader politik yang selalu mengutamakan rakyat di atas kepentingan partai politik, golongan, dan pribadi.

Coba saksikan realitas kepolitikan di negeri kita yang kian tidak mengutamakan laku politik adiluhung. Kita juga bisa merasakan bahwa kader politik di negeri ini sudah sedemikian rusak karena ketiadaan idealisme murni dalam hatinya. Kita menjadi bangsa yang rabun idealisme, tuna moral, dan tiada tuntunan suci dalam beraktivitas di ranah kepolitikan. Tetapi, kondisi ini, jangan lantas membuat gerakan IMM nihil dari aktus intelektual, nihil idealisme, dan tiada semangat untuk menanamkan nilai-nilai adiluhung dalam berpolitik.

Setiap kader IMM yang terjun di ranah kepolitikan harus menjadi suri teladan bagi kader politik lainnya sehingga kehadiran IMM mewarnai dengan kebajikan laku berpolitik. Sebab, sebagai organisasi otonom, IMM didirikan oleh beberapa tokoh Muhammadiyah untuk memelihara idealisme bermuhammadiyah, merawat aktivisme berislam, dan menanam gerakan sosial untuk kehidupan di Indonesia yang lebih baik. Kader IMM jangan lantas terbawa arus gelombang zaman yang nihil dari kegiatan idealisme, intelektualisme, dan aktivisme sosial karena ruh ber-IMM terletak di dalam tiga ranah tersebut.

Untuk konteks Jawa Barat, kita sangat merindukan suatu masa, di mana IMM telah melahirkan tokoh-tokoh nasional yang memiliki kapasitas keilmuan yang mumpuni di bidang masing-masing. Salah satu tokoh dari Jawa Barat itu ialah Prof Ahmad Mansur Suryanegara, seorang sejarahwan Muslim yang sangat diperhitungkan di benua Asia. Kekuatan nalarnya sungguh luar biasa, dimana usia sepuh tidak mempengaruhi daya ingatnya yang sungguh menakjubkan.

IMM Jawa Barat harus melahirkan tokoh seperti halnya Prof Ahmad Mansur Suryanagara dengan menyegarkan kembali gerakan intelektualisme di tubuh organisasi ini. Saya hanya memberikan saran kepada IMM Jawa Barat, untuk menyegarkan kembali aktivitas intelektualisme di tubuh IMM.

Pertama, Hidupkan kembali lingkar kajian yang dapat memperkaya khazanah keilmuan di IMM Jawa Barat dengan membentuk majelis intelektual cendekia; dimana dalam langkah praktisnya setiap kegiatan harus sesuai dengan silabus pengkajian sesuai prinsip gerakan IMM. Bentuk kajian bersifat intensif agar apa yang telah dijadikan silabus pengkajian dapat menambah khazanah keilmuan para anggotanya. Jangka waktu pelaksanaannya diadakan seminggu sekali selama enam bulan, dengan mengundang alumni yang memiliki kompetensi sesuai dengan silabus pengkajian.

Kedua, ciptakan budaya menuliskan pemikiran ke dalam bentuk artikel, yang dikirim ke berbagai surat kabar atau media lainnya, dimana isi kandungan artikel merupakan hasil dari kajian yang dilakukan oleh lingkar kajian di IMM. Kita juga bisa menerbitkan media sebulan sekali yang memuat pemikiran-pemikiran yang dihasilkan oleh kader IMM Jawa Barat dalam bentuk buku, kemudian disebarkan ke berbagai daerah di Jawa Barat.

Ketiga, para alumni IMM yang tergabung dalam Fokal IMM Jawa Barat, harus memberikan dukungan berupa moril dan material untuk menopang kegiatan lingkar kajian yang dilaksanakan oleh DPD IMM Jawa Barat. Dukungan moril bisa berupa menyediakan pembicara atau pemateri yang siap mengisi diskusi dan kajian di DPD IMM Jawa Barat. Adapun dukungan material bisa dengan cara memberikan kompensasi kepada DPD IMM Jawa Barat untuk menyelenggarakan kegiatannya tanpa harus menengadahkan tangan kepada orang lain.

Untuk saat ini, sekian dulu catatan dari saya. Secara pribadi, saya berhutang budi kepada IMM. Berkat aktif di organisasi ini, saya mendapatkan kekayaan intelektual.

Lantas, kenapa saya berhutang budi?

Sebab, dari IMM lah, saya mendapat suntikan semangat untuk membaca, berdiskusi, dan menulis.

Dari kader senior di IMM juga, saya bisa mengenal media untuk mempublikasikan ide dan pemikiran saya saat menjadi mahasiswa dulu. Bahkan, pekerjaan saya di bidang penulisan juga, sababiyah-nya karena keaktifan di IMM.

Untuk mental, dari IMM lah, saya mendapatkan kepercayaan diri. Dari IMM pula, saya dapat berguru kepada kesalehan sosial KH. Ahmad Dahlan. Bahkan, dari IMM juga, saya merasa menjadi seorang manusia.

Satu hal yang tak saya dapatkan dari IMM.

Apakah itu?

Hehehe...Isteri. ***        

SUKRON ABDILAH
Mantan Ketua Lembaga Pers Ikatan (LPI) PC. IMM Kota Bandung (2005-2006)

26 November 2018

HAMKA; Aku Bukan Pengkhianat Negara!

HAMKA; Aku Bukan Pengkhianat Negara!

Almari buku milik ayahku setelah kewafatannya pada tahun 1987 terlihat kosong molompong. Hanya beberapa buku karangan Buya Hamka yang masih tertata rapi. Kendati seorang kepala sekolah di pelosok perkampungan, ayahku masih sempat membeli buku-buku karangan tokoh Muhammadiyah, NU, dan Persatuan Islam. Mataku tertuju pada tiga buku karangan sastrawan terkemuka yang mendapatkan gelar Doktor honoris Causa dari Universitas Al-Azhar, Cairo dan Universitas Kebangssaan Malaysia; sang ulama dan sastrawan, Buya HAMKA.

Buku pertama adalah roman klasik “Tenggelamnya Kapal Van Der Wijck”, buku kedua “Di Bawah Lindungan Ka’bah” dan buku ketiga “Tasauf Moderen”. Beliau dijuluki sebagai Hamzah Fansuri abad 20 oleh pecinta dan pemerhati dunia sastra. Muhammadiyah, umat, bangsa, dan Negara pasti bangga pernah melahirkan tokoh super kharismatik ini. Dua romannya yang menggugah telah kubaca sejak masa menjadi santri di Pesantren Persatuan Islam No. 19 Garut, 12 tahun silam. Ketika membaca roman “Tenggelamnya Kapal Van Der Wijck” aku menangis, meneteskan air mata, dan mengharu biru. Ya, buku itu merupakan roman yang menggambarkan adanya ketidakadilan hukum adat bagi sepasang kekasih. Cinta terhijabi kasta kelas sosial yang tak menempatkan manusia sebagai makhluk yang memiliki kesamaan derajat.

HAMKA adalah seorang ulama, sastrawan, wartawan, dan pecinta khazanah keilmuan hebat yang dimiliki bangsa ini. Karyanya mencapai 200-an judul buku. Sangat produktif seperti halnya ulama-ulama salaf shaleh pada masa Islam sedang berada di puncak peradaban. Aku tak bisa membaca dan menelaah karya-karyanya semua yang banyak itu. Hanya tiga buku yang tersisa di almari almarhum ayahku - yang pernah kutamatkan - karena ayahku mengidolkan buya HAMKA.

***

Tepatnya saat lebaran kemarin, buku yang sempat hilang, “Tasauf Moderen” mendadak bersilaturahim kembali ke rumahku. Aku pun tanpa berpikir panjang mengambilnya, mengelus dan menciumi buku tersebut. Saat di pesantren dulu, aku tak banyak memahami isi buku ini. Kini, setelah kubaca kembali muncul kesimpulan: HAMKA memang seorang ulama yang berprinsip “ambillah ilmu walaupun datangnya dari negeri Barat”. Terlepas dari kontroversi fatwa haram “Selamat Natal” pada tahun 80-an, aku masih tetap mengaguminya. HAMKA itu bukan pendendam. Bukan pengkhianat Negara seperti yang dituduhkan rezim orde lama kepadanya pada tahun 1964, hingga membuatnya mendekam di balik terali besi. Ketika Presiden Soekarno wafat saja, buya HAMKA memimpin shalat Jenazah.

Pada buku “Tasauf Moderen” cetakan XVII tahun 1980, aku menemukan pendahuluan yang ditulis Buya HAMKA ketika dirinya mendapatkan pengalaman menyakitkan di balik terali besi (Penjara). Pendahuluan itu ditulisnya pada tahun 1970. Aku tahu, bahwa buya HAMKA adalah penggemar Ibn Al-Qayyim Al-Jauziyah. Di dalam pendahuluannya itu aku menemukan beberapa substansi dan redaksi yang dikutip beliau berdasarkan ungkapan Ibn Al-Qayyim Al-Jauziyah dalam kitab Shadir Al-Khatir. Aku baru tahu, buya HAMKA diinterogasi oleh aparat karena dirinya dicurigai sebagai pengkhianat Negara. Delik tuduhannya ialah, HAMKA mengkhianati Negara karena telah menjual Negara kepada Malaysia.

Di dalam penjara itu, beliau mendapatkan beberapa pertanyaan yang diakui Buya sangat diada-adakan. Parahnya lagi, sang integrator yang kejam menanyakan sesuatu yang tidak pernah beliau lakukan. Tak sampai disitu, sang aparat juga memaksa buya HAMKA untuk menandatangani pernyataan telah menjual Negara agar dirinya mendekam di balik penjara. Dalam masa itu, ketika sedang gencar-gencarnya kemerdekaan Malaysia, buya HAMKA seakan telah dikambing-hitamkan. Dengan 1001 pertanyaan selama 15 hari 15 malam itu, ujar HAMKA telah dirancang bahwa dirinya bersalah. Kendati dirinya tidak bersalah, kekuasaan Negara menghendaki HAMKA sebagai orang bersalah yang layak di penjara. Bahkan kalau belum mengaku bersalah, tidur beliau pun diganggu.

Suatu hari beliau pernah dibentak, “Saudara pengkhianat, menjual Negara kepada Malaysia!”

Bagaikan disambar geledek di siang bolong. HAMKA tak menyangka bahwa dirinya akan mendapatkan tuduhan seperti itu. Dengan kesedihan yang mendera, ia pun menjawab tuduhan tersebut.

“Janganlah aku disiksa seperti ini. Buatkan saja satu pengakuan bagaimana baiknya, akan aku tanda tangani. Tapi, tolong, kata-kata demikian janganlah saudara ulangi.”

“Memang saudara pengkhianat.” Balas sang integrator sambil pergi seraya menghempaskan pintu. Gebrakkk….remuk rasanya hati Buya HAMKA saat itu.

***

Selama satu jam lamanya, terjadi peperangan batin (kebajikan dan kebatilan) dalam jiwa Buya HAMKA. Beliau mengaku sudah membuat surat wasiat kepada keluarganya di rumah. SYETAN membisikkan ke dalam hati HAMKA sesuatu yang dilarang Islam: bunuh diri di tengah keputusasaan. Di dalam sakunya waktu itu tersimpan silet, yang akan dijadikan senjata untuk memotong urat nadi. Biar orang tahu, kata HAMKA, bahwa dirinya mati karena tidak tahan menderita (disiksa). Saat itu Alhamdulillah, keimanan HAMKA memenangi pertarungan dahsyat dengan bisikan SYETAN.

Beliau pun berkata dalam hatinya, “Kalau kamu mati bunuh diri karena tidak tahan dengan penderitaan batin, niscaya mereka akan menyusun berita yang indah ihwal kematianmu. Kamu melakukan upaya bunuh diri karena malu kepergok setelah polisi mengeluarkan bukti atas pengkhianatanmu. Maka hancurlah nama yang telah kau ukir dengan segala perjuangan, penderitaan, keringat, dan kerja keras selama berpuluh tahun. Kemudian ada selentingan warga yang berkata: “Dengan bukunya “Tasauf Moderen” dia membimbing orang lain agar sabar, tabah dan teguh bila menderita. Orang yang membaca bukunya itu semua selamat, sedang dirinya sendiri memilih jalan yang sesat. Pembacanya masuk surga karena bimbingannya, dan dia di akhir hayatnya memilih neraka.”

Bahkan, anak-anakmu dan seluruh keluargamu akan menderita serta menanggung malu atas keputusanmu, kemudian menyumpahi kamu. Tetapi, Alhamdulillah perdaya SYETAN itu dapat ditangkis oleh Buya HAMKA, sehingga beliau memenangi pertempuran itu. Saat itu, buya HAMKA merasa memerlukan buku karangannya sendiri, “Tasauf Moderen”. Dan, ketika keluarganya membesuk beliau, diutarakanlah keinginannya untuk dibawakan “Tasauf Moderen” yang fenomenal tersebut.

Setelah buku tersebut berada di tangan Buya HAMKA, beliau menelaahnya, membaca, merenungi, dan mencoba menghayatinya; kemudian tak lupa juga beliau membaca kitab Al-Quran. Sehingga suatu ketika datang seorang kawannya untuk membesuk beliau dan mendapati HAMKA sedang membaca buku “Tasauf Moderen”. Kawannya tersebut seraya berguyon berkata, “Eh, Pak HAMKA sedang membaca (karangan) pak HAMKA.”

Waktu itu, seraya tersenyum teduh nan indah, beliau menjawabnya: “Memang betul..HAMKA sedang memberikan nasihat kepada diri sendiri setelah sekian lamanya memberikan nasihat pada orang lain. Dia hendak mencari ketenangan jiwa dengan buku ini. Sebab telah banyak orang mmeberitahukan kepadanya bahwa mereka mendapat ketenangannya kembali karena membaca buku “Tasawuf Moderen” ini!”

Buya HAMKA dengan curhatnya di dalam buku “Tasauf Moderen” itu seolah menyadarkan kita, keputusasaan tak seharusnya melahirkan teologi bunuh diri yang sesat seperti dilakukan teroris yang mengatasnamakan Islam. Buya HAMKA, kendati pernah dituduh sebagai pengkhianat Negara tidak membuatku mempercayainya sepenuh hati. Aku masih menjadikan dan menempatkan HAMKA sebagai pahlawan kesusastraan dan ilmu-ilmu agama yang mulia. Muhammadiyah, Islam, bangsa dan Negara sangat beruntung memiliki ulama seperti beliau, terlepas dari fatwa haram “Selamat Natal” oleh lembaga MUI, yang diketuainya pada tahun 80-an. Yang jelas, ketika fatwa itu dicurigai dapat memantik kekerasan atas nama agama karena bertentangan dengan prinsip toleransi. Buya HAMKA dengan legowo dan lapang dada bersedia menanggalkan jabatan ketua MUI untuk mengamalkan toleransi dalam kehidupannya. Bagi HAMKA, daripada kepemimpinannya di lembaga tertinggi umat Islam ini dapat merusak stabilitas Negara; mendingan dia turun dari jabatan. Satu bentuk moral sosial yang tak dimiliki ulama-ulama saat ini. Wallahua’lam bishshawwab
Pembangunan Berbasis Ekologis

Pembangunan Berbasis Ekologis

BENCANA alam, dalam doktrin ajaran Islam, disebut juga dengan “kiamat sughra” yang sejatinya menyadarkan kita ikhwal pentingnya memiliki kesadaran ekologis dan kesadaran teologis dalam menjalankan aktivitas kehidupan di dunia. Kesadaran ekologis dan teologis, biasanya baru muncul ke permukaan alam sadar, ketika bencana alam terjadi di sekitar kita. Pasca terjadinya banjir dan longsor di suatu daerah, misalnya, ada dua paradigma kehidupan yang mengemuka: menyalahkan takdir Tuhan (teologis) dan perilaku perusakan alam (ekologis). 

Bencana dalam kehidupan dapat berfungsi sebagai pemantik kesadaran ekologis sekaligus kesadaran teologis dalam diri kita. Kesadaran yang sempat mengendap menjadi reflika tak tersentuh refleksi itu, sehingga penghargaan terhadap alam begitu minim, maka ketika bencana ujug-ujug muncul; akhirnya sebagai manusia, kita kerap melakukan refleksi ekologis dan teologis. Pertanyaan kritis dari dalam diri pun muncul, adakah perilaku destruktif yang mengakibatkan alam menghadirkan bencana ataukah ini hanya bentuk azab dari Tuhan?

Banjir dan longsor di Garut hingga Sumedang memberi pesan pada kita, bahwa dibalik takdir Tuhan (alasan teologis) juga ada keserakahan manusia terhadap nafsu duniawi (alasan ekologis) karena kondisi gunung dan pembangunan di Garut tidak lagi mengindahkan kelestarian alam, sehingga aliran air hujan menjadi berlebih debitnya dan mengakibatkan banjir bandang sungai Cimanuk. Badan SAR Nasional (Basarnas) Bandung hingga Senin (26/9) meliris korban bencana banjir bandang di Kabupaten Garut, Jawa Barat, yakni mencapai 34 orang, sedangkan 19 masih dilaporkan hilang (antaranews.com). 

Bencana banjir di tanah Garut ini sebetulnya sudah lama diprediksi karena alih fungsi lahan hutan, yang mengakibatkan rusaknya Daerah Aliran Sungai (DAS) Cimanuk, sehingga sejak 1980-an, Sungai ini dinyatakan sebagai Daerah Aliran Sungai (DAS) kritis. Karena itu, ketika musim hujan tiba, debit air berlebih mengakibatkan sungai Cimanuk tidak mampu menampung air hujan yang mengalir ke hilir, sehingga banjir dan longsor tentunya kerap terjadi pada musim hujan. Tugas suci kita, khususnya pihak pemerintahan, sebagai makhluk-Nya adalah memperjuangkan Cimanuk agar menjadi sungai yang dapat menyeimbangkan ekosistem alam di Garut. 

Dalam bahasa lain, memungut kembali ”reflika kesadaran” sebagai manusia berkesadaran ekologis yang bisa ditancapkan dalam sanubari para pemimpin di berbagai daerah rawan bencana, salah satunya dengan menelurkan kebijakan pro lingkungan. Kita tidak boleh mengagungkan peradaban material sehingga alam menjadi objek eksploitasi “seksis” yang berujung pada kerusakan ekologis. 

Tuhan menempatkan kita – manusia – sebagai katalisator penentu kelahiran sebuah perubahan dalam sejarah kehidupan. Hancur dan bangkitnya peradaban manusia ditentukan sikap, mental, dan paradigma yang kita bangun dalam menggulirkan pembangunan khususnya di Kabupaten Garut. Menurut data Dinas Sumber Daya Air dan Pertambangan Kabupaten Garut, bahwa wilayah Garut memiliki 33 buah Sungai dan 101 buah anak sungai yang memiliki panjang sekira 1,403.35 km (garutkab.go.id). Hal ini mengindikasikan bahwa para pejabat dan pemimpin di Kabupaten Garut harus sadar bahwa dalam menelurkan kebijakan di daerah menggunakan paradigm kebencanaan dengan mewaspadai labilitas topografi alam. 

Pakar sufisme kontemporer, Seyyed Hossein Nasr, dalam buku “The Garden of Truth; Mereguk Sari Tasawuf” (Mizan, 2010) mengetengahkan penafsiran maknawi terhadap surah al-Fatihah. Surah Al-Quran yang sering dibaca minimal 17 kali oleh umat Islam tersebut, katanya, mengandung konsep tauhid yang bersifat ekologis. Pendapat Seyyed Hossein Nasr ini berpijak pada kalimat “alhamdulillahi rabbi al-alamin” dalam surah al-Fatihah sebagai inti pentingnya kesadaran ekologis yang bersifat ilahiyah (eco-teologis). Kalimat pujian “alhamdulillah” kemudian dilanjutkan dengan kalimat “rabbi al-alamin” menunjukkan umat manusia sejatinya menempatkan alam sebagai bagian dari-Nya. Sebab “rabbi al-alamin” secara etimologis berarti: pemelihara, penjaga, atau laiknya ibu yang melahirkan alam ini. Menghormati alam berarti menghormati sang pemelihara, sang pemilik atau sang penjaga alam, yakni Allah rabbu al-alamin.

Karena itu, sebuah keniscayaan bagi kita untuk meresapi tujuan diciptakan ke muka bumi, yakni menjadi pemelihara kelestarian alamnya (khalifah fi al-ardh) sebagai wujud daripada ibadah. Al-Quran, khususnya surah Al-Fatihah, menegaskan individu harus berterima kasih atas pemberian alam oleh Tuhan dalam kehidupan ini. Pesan utama surah Al-Fatihah ini bagi kita ialah melakukan pendobrakan atas logika pembangunan bangsa dari yang mengeksploitasi alam ke arah logika pemeliharaan agar pembangunan menjadi berkelanjutan (sustainable). Kesadaran seperti inilah yang sepatutnya kita punguti bersama.

Seandainya surah al-Fatihah dipahami secara maknawi oleh ratusan juta umat Islam Indonesia. Entah itu oleh pejabat, tokoh masyarakat, rakyat, agamawan, dan yang lainnya. Di dalamnya ada pemantik yang siap menyalakan kesadaran kita: membina hubungan yang harmonis dengan alam adalah misi suci yang dititahkan Tuhan. Selain menebarkan benih “rahmat” bagi alam sekitar (rahmatan lil alamin), dalam surah Al-Fatihah tujuan kita diciptakan ialah untuk bersyukur atas pemberian-Nya dengan menjaga alam agar tetap lestari (alhamdulillahi rabbi al-alamin. Tak heran jika Tuhan – di dalam Al-Quran – melarang kita untuk merusak alam sekitar, dengan kalimat, “Wa laa tufsidu fi al-ardh” – dan janganlah kalian berbuat kerusakan di muka bumi. Wallahua’lam 

Informasi yang Serba Digital

Informasi yang Serba Digital

PERKEMBANGAN teknologi digital merangsek tiadahenti ke tiap penjuru kehidupan umat manusia. Informasi pun kena imbasnya.Koran berkonvergensi dengan media online (epaper). Radio menjadi lebih mudahdengan menggunakan teknologi internet (i-radio). Televisi jugamenyertakan teknologi digital sehingga bisa dinikmati tanpa menggunakan antena(TV internet). Salah satu TV LCD merek Samsung, misalnya, telah menanamkanjaringan internet didalamnya sehingga aktivitas bowsing, berjejaring,dan mengirim surat elektronik bisa dilakukan dari perangkat televisi denganmenyentuh layar (touchscreen). Mengakses informasi pun tidak meluluhanya menggunakan komputer, notebook dan mobile phone.

Itulah realitas informasi yang semakinmengarah pada kemudahan, instan dan “mendigital”. Tak heran jika teknologimanual mulai berganti dengan teknologi digital. Kita tidak bisa menolakkemajuan ini. Kita harus beradaptasi dengan perkembangan teknologi. Realitasmembuktikan setiap individu tidak mau berlepas diri dari gadget-gadget cerdasketika mengakses informasi. Cukup dengan menyentuh ikon bergambar surat, makahanya dalam hitungan detik, teks dapat terkirim ke tujuan. Di sekitar pusatkota kita dengan mudah menyaksikan “generasi menunduk” yang begitu piawaimenggunakan perangkat teknologi digital.

Media informasi dalam kehidupan kitajuga terkena imbas. Kalau sepuluh tahun lalu, kita tidak begitu akrab denganmedia online. Kini kita tengah berada di dua arus kebudayaan dalam halmengakses informasi, antara kebudayaan masyarakat digital dengan kebudayaan masyarakatanalog.

Bagi masyarakat digital tidakmembutuhkan energi lebih untuk melipat kertas, ketika perangkat Ipad digunakanuntuk mengakses koran elektronik. Begitu juga tidak perlu menggunakan bersusahpayah menekan tombol keyboard untuk memutar chanel radio di mobile phone.Dalam masyarakat digital, seorang individu menjadi terintegrasi dengan segalahal berbau teknologi sehingga kehidupan serasa instan dan mudah ketika hendak mengaksesinformasi.

Sementara itu karakter masyarakat analogmasih tidak bisa meninggalkan segala hal yang bersifat manual. Mereka masihmenyenangi lipatan kertas, bersusah payah memutar perangkat analog di televisi,dan gerak tubuhnya lebih energik ketimbang masyarakat digital. Karena kitasedang berada di ruang perkembangan dan perubahan hidup, dari “manual” menuju“digital”. Perubahan ini tentunya menciptakan generasi baru ketika mengaksesinformasi.

Tak heran jika kita seolah tidak mampumemisahkan diri dengan kode-kode digital, yang dibenamkan ke dalam gadgetcerdas untuk digunakan mengonsumsi informasi tanpa menggunakan kertas.Koran-koran online begitu ramai berseliweran di internet memburu gaya hidup “masyarakatdigital” dengan sejumlah inovasi teknologis berbasis rekayasa kode yang dapatdibaca gadget dan smartphone. Entah itu berupa aplikasi, situs mobile,dan sistem operasi untuk program lintas gadget seperti Android.  

Akhirnya, membaca dan mencariinformasi pun tidak sepenuhnya bergantung pada keberadaan kertas. Tanpa kertas,seluruh teks informasi masih bisa dinikmati karena perangkat digital mampu memenuhidahaga informasi dari masyarakat digital. Kebangkitan internet dan mulailunturnya ketergantungan umat manusia pada alat baca kertas (cetak),mengokohkan keyakinan kita bahwa mesti ada upaya konvergensi agar perusahaanmedia cetak tidak mati. Perkembangan teknologi yang terjadi harus disiasatiseluruh perusahaan media agar tidak ketinggalan dan mati ditelan zaman.

Pada era serba digital inilah, bisnismedia dipenuhi tantangan sekaligus peluang dalam menghadirkan inovasi untukmenyambut kebudayaan masyarakat digital yang mengakrabi kultur digital. Dalam perspektifsosiologis, realitas perkembangan teknologi digital selalu berjalan beriringandengan kultur masyarakat setempat. Migrasi kebudayaan masyarakat dari “analog” menuju“digital” merupakan iklim positif bagi tumbuh-kembangnya bisnis media diIndonesia dalam memproduksi informasi.

Di era digital, seluruh informasitentu akan menjadi serba digital dan cepat disajikan; kecuali makanan danminuman saja yang tidak serba digital. Selamat menikmati menu informasi! ***

Dimuat di HU Pikiran Rakyat, Senin 2 September 2013 @ rubrik JEJARING.
Green Life: Lingkungan Juga Punya Hak Asasi

Green Life: Lingkungan Juga Punya Hak Asasi

Lingkungan hidup di sekitar Anda memiliki hak untuk tetap lestari dan hidup. Seperti halnya manusia yang juga memiliki hak asasi. Stabilitas dan keseimbangan alam harus dijaga umat manusia untuk menciptakan kedamaian. Semangat menjaga ini tidak hanya dilaksanakan pada saat hari Peringatan Hari Lingkungan Hidup sedunia saja; tetapi sepanjang hayat dikandung badan.

Realitas lingkungan hidup di negeri kita semakin rusak karena ulah segelintir manusia. Kita, kerap memahami lingkungan sebagai benda mati yang diposisikan sebagai objek yang bebas dieksploitasi. Entah itu dengan cara menambang perut bumi tanpa kontrol, menggunduli hutan tanpa kompromi, mencemari air tanpa kendali, dan kesewenangan lainnya. Padahal dalam konsep Islam, dikenal sebuah doktrin mulia, “al-islamu rahmatan lil alamin”, di mana “rahmat” Islam bukan hanya untuk manusia saja; tetapi berlaku juga bagi lingkungan hidup.

Hal itu menunjukkan bahwa lingkungan hidup juga memiliki hak bernaturalisasi dan berevolusi, sesuai kodrat alam: berkembang dan lestari. Karena itu ketika kita tidak berusaha mewujudkan kelestarian alam sekitar, hal itu tentu saja merupakan wujud pelanggaran terhadap hak asasi lingkungan hidup. Sebab ketika kita tidak menjaganya akan mengakibatkan bencana, baik alami (natural disaster) maupun perbuatan manusia (human eror/disaster), karena dapat menelan korban manusia. Inilah kenapa perusakan lingkungan hidup dikategorikan sebagai pelanggaran terhadap hak asasi manusia (HAM) dengan dampak destruktif terhadap kehidupan manusia yang berada disekitarnya.

Melestarikan, menjaga, dan memelihara berarti menghormati hak asasi lingkungan hidup sebagai ejawantah “rahmah dan rahim” di muka bumi, yang dilakukan oleh umat manusia. Manusia wajib melakukan kontrol atas perilaku manusia lain agar dapat memperlakukan lingkungan dengan cara bijaksana. Kebijaksanaan tersebut ialah dengan cara memahami lingkungan hidup sebagai makhluk-Nya yang sederajat dengan kita; sehingga dapat mencapai keseimbangan harmonis antara manusia-alam.

Pada 1972 saat Konferensi Perserikatan Bangsa-Bangsa tentang Lingkungan dan Manusia di Stockholm, Swedia, dicetuskan Deklarasi Stockholm, sebagai pijakan awal kesadaran manusia internasional atas lingkungan hidup sebagai pemenuhan HAM. Alasannya kualitas lingkungan hidup menentukan penghormatan atas HAM, dan HAM tidak bisa diperoleh tanpa lingkungan yang baik dan aman. Jadi, penghormatan, perlindungan, penegakan, dan pemenuhan HAM sangat bergantung pada lingkungan hidup yang sehat. Ketika ekosistem rusak, mustahil kita memperoleh hak untuk hidup, seperti kesehatan, keamanan, dan kecukupan pangan.

Karena itu, ketika kita melakukan gerakan perlindungan lingkungan; berarti kita telah menjaga terpenuhinya hak asasi manusia. Lingkungan hidup ditempatkan sebagai subjek dinamis yang mempunyai hak asasi seperti halnya manusia. Mari mulai hari ini kita bergerak untuk kelestarian lingkungan dengan cara sederhana: menghijaukan rumah Anda dengan tanaman. Ini akan mengajarkan pada anak Anda, pentingnya kelestarian alam di sekitar mereka.