29 November 2018

Shalat for Succes

Shalat for Succes

Buku ini memuat rahasia di balik shalat dalam Islam. Selain sebagai sebuah kewajiban, shalat lima waktu, misalnya, kalau ditunaikan secara konsisten berdampak pada munculnya potensi sukses. Betapa tidak, shalat di dalam bacaan dan gerakannya menyimpan energi dahsyat untuk mengubah kehidupan si pengamal.

Satu alasan yang mesti dicamkan ketika menunaikah shalat, yakni menguatkan rasa cinta kepada-Nya. Itulah kenapa Allah mewajibkan shalat bagi hamba-Nya. Karena Allah ingin bertegur sapa dengan ummat yang mencintai-Nya, maka disediakanlah waktu khusus, lima kali dalam sehari. Bukti shalat adalah cinta-Nya, dipenuhilah shalat itu dengan energi yang dahsyat, yang mampu membendung semua kejahatan dari diri pelakunya, dan membawa mereka menuju kebahagiaan.

Dengan syarat: Jika shalat itu dikerjakan juga dengan penuh cinta: ikhlas hanya pada-Nya. Di dalam Al-Quran dijelaskan, “ Sesungguhnya Shalat itu mencegah dari perbuatan keji dan munkar”. (QS. Al-Ankabuut: 45). Ayat ini mengindikasikah shalat memiliki potensi pengubah. Bagi yang ingin sukses dunia dan akhirat, shalat adalah satu jalan menggapainya selain berusaha sungguh-sungguh.

Derajat shalat seperti itulah yang harus dicapai oleh kita! Tetapi, ternyata banyak dari kita yang gagal mencapainya, lebih karena ”sekedar gugur tanggung jawab” saja, tidak serius dengan upaya ”mendirikan” shalat. Padahal, cinta-Nya tak akan sampai kepada orang-orang yang tidak bersungguh-sungguh. Apalagi untuk orang yang sama sekali tidak pernah melakukannya.

Buku ini mengajarkan satu hal, bahwa karena shalat merupakan tanda cinta-Nya. Marilah kita shalat dengan penuh cinta, sehingga Dia, sang pemilik kerajaan langit dan bumi ini, berkenan menemui kita dan melimpahkan cinta-Nya. Buku ini terbilang unik dan menghadirkan perspektif baru tentang shalat. Sebab, shalat meskipun berdampak positif terhadap hidup, mesti diinisiasi dengan cinta berbalut keikhlasan. Tak hanya ritual, shalat juga merupakan obat jiwa dan sarana pelatihan menuju puncak kesuksesan.

Testimoni di bawah ini menjadikan buku popular dan memandu ini layak Anda miliki.

"Buku ini menegaskan shalat bukan hanya sekadar ritual, tapi juga syifa' (pengobatan spiritual) dan riyadhah (pelatihan) untuk meraih kesuksesan dan kebahagiaan.” --Prof. DR. K. H. Miftah Faridl, Cendekiawan.

"Hal baru tentang shalat dikaitkan dengan cinta. Buku ini bermanfaat untuk menaikkan derajat cinta kita." --H. Roni Tabroni, penulis Mukjizat Shalat Malam for Teens.

"Shalat akan semakin khusyuk dan penuh cinta." -- Ayi Yunus, penulis Dahsyatnya Istikharah.

Silakan rasakan energi shalat dalam hidup Anda dengan membeli dan membaca buku ini. Dijamin mencerahkan dan memuaskan dahaga jiwa!

Judul: Energi Shalat; Bangkitkan Potensi Suksesmu Melalui Shalat Lima Waktu
Penulis: Sabil el-Ma'rufie
Penyunting: Doel Wahab
Penerbit: Mizania, 2009
Harga: 31.000
Santun Berislam Kunci Kedamaian

Santun Berislam Kunci Kedamaian

MENJALANI kehidupan di tengah perselisihan, pertengkaran, peperangan, dan kecamuk nafsu egois memang sangat menjengahkan. Pluralitas menjadi patologis dalam pandangan warga. Kebenaran (al-haqq) didominasi kaum mayoritas, yang kadang mengejawantahkan arogansi pikir, sikap, dan laku. Manusia yang sejatinya selalu mendamba kedamaian membumi di kehidupan sehari-hari tak lagi memenuhi setiap ruang di kedalaman jiwa.

Kita menjadi manusia yang merasa paling benar dan paling shaleh; paling layak memonopoli ruangan mewah nan indah di alam surgawi. Bahkan, Tuhan yang paling berhak menunjuk apakah seorang hamba layak memasuki surga ataukah tidak; digantikan secara paksa oleh kepongahan kita. Singgasana peradilan Tuhan direbut manusia yang berteriak “Akulah yang Maha benar” di medan kehidupan hingga tidak menyisakan ruangan untuk peace, shalom, shanti, dan salam, seperti yang diajarkan dalam Kekristenan, Yudaisme, Hindu, dan Islam kepada para penganutnya.

Islam mengajarkan umatnya untuk meluapkan kesantunan dalam aktivitas hidup. Kedamaian merupakan Realitas Ilahi yang membumi karena memantulkan keindahan mutlak yang bermuara dari kebenaran Ilahi (al-haqq). Kedamaian, harmonitas atau ketentraman berarti wujud Tuhan di muka bumi. “Tiada ketentraman kecuali di dalam Kebenaran Ilahi (al-haqq)”, ujar Rumi. Karenanya, ketika seorang manusia mencoba menghancurkan kedamaian, harmonitas, dan ketentraman; mereka berarti telah menghancurkan realitas Tuhan di muka bumi.

Kedamaian ialah hasil dari upaya perdamaian yang diupayakan umat manusia. Namun, karena manusia kerap mengklaim kebenaran secara “hitam putih” akibatnya lahirlah kekerasan dan penyesatan yang mencederai kedamaian dan perdamaian itu sendiri. Kebenaran beragam wajah dan plural bentuknya. Bukan milik manusia yang serba terbatas, serba emosional, dan rentan terganggu saluran ketika berkomunikasi (noise) dengan teks-teks keagamaan. Kebenaran merupakan potret keindahan ilahi, yang sejuk dan tenang serta damai (salam); sehingga tidak pernah menyisakan ruang untuk kebencian dan kekerasan.

Di dalam Al-Quran dan sebuah hadis Nabi, para penghuni surga diriwayatkan selalu mengucapkan salam atau damai di dunia maupun di akhirat. Kaum Sufi Asia Tengah menyebutnya dengan perdamaian universal (shulh-i kull), yang diraih ketika dualisme, kondisi berlawanan atau ketegangan bertemu (coincidentia oppositorum).

Kedamaian yang dihasilkan dari berislam ini perwujudan dari nama Allah, as-salam, yang berarti pemberi kedamaian karena Dia adalah sumber keindahan dan kebenaran. “Dialah yang telah menurunkan ketenangan (al-sakinah) ke dalam hati orang-orang mukmin.” (QS. Al-Fath [48]:4), yang menginisiasi seorang hamba memancarkan kedamaian berbalut rahmat yang bersifat surgawi. Terma sakinah sinonim dengan shekinah, yang menurut Kabbalis, berarti kedamaian bersifat surgawi dan berpadu dengan rahmat, karena Allah ialah sumber langsungnya. (Seyyed Hossein Nasr, The Garden of Truth, Mizan, 2010: 105-107).

Karena itulah – meminjam istilah Seyyed Hossein Nasr – keberislaman yang hakiki ialah keberislaman yang mengaktualkan rahman dan rahim Allah, di mana kesantunan sikap, pikir, dan laku lampah merupakan visi kebumian yang diemban seorang muslim. Fenomena ISIS dan bermunculannya umat Islam intoleran, merupakan wujud dari patologis keberislaman, karena mereka menjustifikasi kekerasan dengan balut teks yang sudah menjadi ideologi.

Kekerasan atas nama apapun kalau tidak ditanggulangi secara proaktif akan menjadi bom yang dapat meletus kapan saja dan merusak praktik hidup berbangsa dan bernegara. Keberlainan yang niscaya dimiliki bangsa-negara (nation-state) dipandang sebagai “anomali sosial” yang harus diberantas.

Saya pikir, ketika umat atau bangsa tidak meyakini, tidak mengakui, tidak menghargai dan tidak memelihara keragaman; kekerasan akan menjalar di tubuh bangsa. Akibatnya, arogansi laku bakal mengotori Indonesia yang plural, majemuk, dan dihiasi keberbedaan.

Secara kemanusiaan setiap agama tidak pernah melegitimasi praktik kekerasan. Apalagi dalam konteks keragaman yang menghiasi negeri ini. Si “liyan” adalah fartner yang mesti diajak bekerjasama melakukan kerja praksis emansipatoris dalam membebaskan bangsa dari impitan ekonomi yang menyengsarakan.

Kebajikan itulah, saya pikir, yang masih bisa menyatukan kita!

Jalan menuju kebenaran memang beragam dan kita sebagai manusia sejatinya tidak mudah mengklaim bahwa kebenaran mutlak ialah milik kita, sedangkan pemahaman orang lain sesat dan menyesatkan. Kesadaran bahwa perbedaan merupakan anugrah tak terkira dari Tuhan mesti dijaga dan dipelihara demi terwujudnya kedamaian di negeri plural Indonesia ini. ***
Kebijaksanaan Manusia Sunda

Kebijaksanaan Manusia Sunda

Kebenaran Sunda sebagai kebudayaan tak arif bila ditempatkan sebagai kebenaran hidup mutlak. Meminjam analisis Hannah Arendt, kebudayaan-dalam hal ini Sunda ialah rutinitas umat manusia yang dapat diramalkan dan dipelajari. Ini mengindikasikan ketidakmutlakan Sunda sebagai jalan hidup. Dalam bahasa lain, kesundaan dapat ditafsirkan dengan kerangka pemikiran masing-masing, baik dari perspektif subyektivitas maupun intersubyektivitas. Dari sinilah lahir kesundaan yang beragam dan majemuk.

Contoh konkretnya adalah persoalan undak-usuk basa yang terfragmentasi menjadi tiga jenis hierarki berbahasa, yakni kasar, loma, dan lemes. Bagi urang Sunda Priangan, lafal bahasa Sunda akan berbeda dengan Sunda pakidulan seperti penutur basa Sunda di Banten, Sukabumi, dan Bogor. Ketika yang dijadikan acuan keberadaban berbahasa Sunda diarahkan pada dialek Priangan, hal ini tentu menafikan perspektif Sunda yang lian. Tak bijaksana rasanya ketika menafikan perspektif Sunda the other sehingga mengakibatkan lahirnya bentuk Sunda yang tertutup, kaku, bengis, keras, sombong, dan tidak dinamis.

Dalam bahasa lain, pandangan ihwal kesundaan mesti mengakui penafsiran yang berbeda dengan pemahaman kita tentang Sunda. Itulah wujud Ki Sunda sesungguhnya. Manusia asak ku pangalaman sehingga pandangan hidupnya dipenuhi kebijaksanaan, hubungan kolektif-kolegial, sifat mementingkan orang banyak, dan sejumlah perilaku positif lainnya.

Makna Ki Sunda

Saya agak heran mengapa disebut Ki Sunda, bukan Mang Sunda, Jang Sunda, atau Uwak Sunda? Tetapi, keheranan tadi terjawab karena di dalam alur kehidupan, sebutan "Ki" merupakan representasi dari kedewasaan, asak pangalaman, kebijaksanaan, pandangan visioner, dan tidak terjebak pada penilaian "hitam-putih". Term "Ki" adalah sebutan lain dari "Aki" karena dirinya menjadi tokoh masyarakat yang dijadikan pusat kehidupan. Karena telah memahami intisari kesundaan, ia memiliki keluhuran ilmu pengetahuan, kekayaan khazanah, dan perspektif yang majemuk ihwal realitas kebudayaan Sunda.

Alhasil, dirinya menjadi aktor penggerak masyarakat Sunda sehingga memiliki tradisi dan sikap hidup yang santun. Karakter Ki Sunda yang bijaksana tersebut lahir akibat dirinya telah menjalani pengembaraan yang luas di muka bumi hingga mengenal dan memahami berbagai kebudayaan. Sampai hari ini saya masih menempatkan tokoh historis Sunda-siapa pun dan dari daerah mana pun atau dalam naskah apa saja-sebagai manusia biasa yang niscaya terbuka untuk dikritisi. Bahkan, dalam tradisi hermeneutis, seorang nabi tak luput dari kritik. Tanpa mengabaikan penafsiran Sunda sebagai gerakan ideologis, kita juga tentunya tak boleh menutup mata bahwa Sunda merupakan gerak kebudayaan yang dinamis.

Apabila Sunda dipahami hanya sebagai gerakan ideologis, hal itu akan menancapkan stigma Sunda sebagai suku yang kaku, eksklusif, tidak ramah, rasis-fasis, bahkan tertutup terhadap nilai dan budaya baru. Satu tokoh Sunda tidak dapat dijadikan sebagai dasar untuk menjustifikasi bahwa Sunda harus seperti yang diperjuangkan sang tokoh. Alih-alih menjadikan manusia Sunda sebagai manusia neobijaksana, yang terjadi adalah menggusur pemahaman kesundaan pada sikap yang serasa menjauh dari ajen-inajen urang Sunda. Nanjerkeun kesundaan tak harus dengan jalan perang dan keras.

Nanjerkeun kesundaan ialah dengan cara membumikan konsep hidup yang kerap diejawantahkan Ki Sunda secara elegan dan luhung. Ia mampu menyikapi perbedaan secara legowo dan mengakuinya sebagai bagian dari hidup urang Sunda meskipun berasal dari kebudayaan luar Sunda. Itulah yang dikatakan sebagai manusia Sunda genuine.

Memang begitulah seharusnya kebudayaan lahir dan hidup. Itu karena culture lebih dekat secara semantik dengan nature, yang berarti berjalan mengikuti alur alami kehidupan. Sunda itu dinamis dan tidak tertutup terhadap kebudayaan luar. Selama hal itu baik bagi eksistensinya di masa mendatang, urang Sunda sejatinya memahami warisan budaya dan bakal terus berdinamisasi dengan perkembangan zaman.

Penafsiran "hitam-putih"

Penafsiran tunggal terhadap warisan Sunda akan melahirkan fanatisme kesukuan yang akut dalam diri warga Sunda ke depan sehingga Sunda sebagai kebudayaan diklaim milik salah satu elite kelompok tertentu. Karena itu, kajian terhadap Sunda, bila menggunakan penafsiran "hitam-putih", berubah menjadi kebudayaan barbarian, tidak toleran, asa aing, adigung-adiguna, dan tidak respons terhadap kebudayaan luar, apalagi bila menggunakan kacamata radikalisme pemikiran yang menempatkan manusia lian ti urang Sunda sebagai manusia biadab.

Hal itu tidak ada bedanya dengan gerakan ideologis yang kadang memakan korban dari warga am yang tak berdosa. Dalam catatan historis, kerap terjadi "benturan fisik" dan penyelesaian barbarian antarsesama karena diinisiasi perbedaan ideologi. Sunda hari ini adalah cermin dari mental, sikap, dan laku lampah Ki Sunda baheula. Itu memang betul sehingga ada kesimpulan menjadikan tokoh historis Sunda sebagai tolok ukur sikap dan laku manusia dalam konteks kiwari. Itu juga saya pikir agak betul.

Namun, apakah yang harus dijadikan model manusia Sunda kiwari itu hanya tersentralisasi pada satu tokoh historis ataupun tokoh fiktif dalam kajian naskah Sunda? Urang Sunda ternyata majemuk sebagai representasi keunikan manusiawi. Ada yang sahaok dua gaplok, ada yang hare-hare tai hayam, bahkan tak sedikit yang teu langkung kanu dibendo. Memersepsi manusia Sunda sehistoris dan seheroik apa pun mesti dibarengi pendekatan yang kritis dengan mempertanyakan motif apakah yang tersembunyi darinya? Tidak ada yang final dalam memahami kebudayaan yang lahir dari suku apa saja dan di mana saja sehingga kebudayaan akan terus mengepakkan sayap untuk terus berdialektika dengan kekinian zaman.

Ketika ada generasi muda Sunda yang gelagapan dengan bahasa Sunda yang dijadikan patokan keabsahan sebagai urang Sunda asli, sejatinya kita tidak mengklaim bahwa orang tersebut tidak nyunda. Konsekuensi perubahan zaman adalah keniscayaan tak nisbi dalam setiap kebudayaan, termasuk Sunda, yang saya pikir akan terus mencari bentuk akibat perubahan zaman.

Sunda tidak mengklaim dan diklaim sebagai milik orang-orang tertentu, Sunda nu aing, Sunda nu maneh, dan Sunda nu urang kabeh. Namun, celakanya, Sunda nu aing banyak diklaim sebagai Sunda nu urang kabeh. Akibatnya, yang tak sepaham dan tak sehaluan dengannya disebut sebagai "tidak nyunda". Sayang rasanya kalau nasib Sunda seperti ini.

Kekerasan Remaja Masa Kini

Kekerasan Remaja Masa Kini

Masa remaja sering disebut sebagai masa ”storm and stress”, di mana pada masa ini mereka sedang menghadapi persoalan pencarian identitas yang rumit. Dengan kompleksitas permasalahan identitas inilah, tak heran apabila remaja banyak yang terjerumus pada pergaulan tanpa batas. Salah satu bukti berbahaya adalah keikutsertaan mereka dalam sebuah kelompok yang populer disebut geng, di mana mereka banyak menampakkan kekerasan yang meresahkan masyarakat.

Geng motor XTC dan Brigez, misalnya, merupakan fenomena sosial yang mencerminkan kepribadian remaja banyak meluapkan agresivitas, sadisme, dan antisosial. Tak hanya pada geng motor saja, di Kota Bandung juga sekarang marak sekelompok remaja yang bergabung dengan suporter Viking, dan sering melakukan hal-hal yang bertentangan dengan norma-norma sosial yang berlaku di masyarakat.

Bisa disaksikan sendiri ketika tim kesayangan mereka, Persib Maung Bandung, bermain di stadion Jalak Harupat. Sudah dapat dipastikan kalau jalanan akan macet dan terdengar suara knalpot motor yang meraung-raung yang mengganggu kenyamanan pengguna jalan lain. Apalagi kalau tim kesayangan mereka kalah telak, kekesalan bobotoh akan dilampiaskan secara membabi buta pada toko-toko yang berada di pinggir jalan raya.

Dari fenomena kenakalan remaja itulah, penulis hendak menganalisisnya dari pendekatan psikologi aliran psikoanalisa yang digawangi Erich Fromm. Kenapa penulis memilih tokoh ini, bukan Sigmund Freud? Karena ada cita rasa berbeda yang ditemukan dalam pemikiran dan gagasan tentang kepribadian yang ditawarkan Erich Fromm. Dia memandang kepribadian manusia bukan hanya luap ”libido seksual”, seperti yang diungkapkan Sigmund Freud. Tetapi, lebih dari itu.

Kepribadian manusia ditentukan oleh situasi kemanusiaan (human condition) yang berlaku sepanjang hidupnya. Human condition dalam perspektif Erich Fromm merupakan kekhususan yang terjadi pada diri manusia dan dialaminya semata-mata dalam taraf manusiawi, dan sebagai karakteristik eksistensi manusia.

Menurut Erich Fromm, manusia berlainan dengan hewan. Sejak lahir manusia dilengkapi seperangkat kemampuan naluriah yang ”siap pakai” untuk bertahan hidup dan menyesuaikan diri dengan lingkungannya. Namun, secara biologis manusia merupakan makhluk yang lemah. Sehingga yang diperlukan untuk tetap survive dalam kehidupannya adalah memanfaatkan kemampuan yang luar biasa dalam dirinya.

Erich Fromm dalam buku berjudul Man for Himself, menyebutkan tiga kemampuan khas insani yang membedakan manusia dengan hewan, yakni: kesadaran diri (self awareness), akal budi (reason), dan daya khayali (imagination). Setiap kemampuan manusiawi tersebut berperan dalam membentuk kepribadian seorang manusia. Pun begitu dengan remaja. Ketika kesadaran diri, akal budi, dan daya khayali tidak dapat digunakan untuk mengembangkan kepribadian yang positif, tentunya akan menyebabkan seorang remaja memegang teguh kepribadian yang tak berkualitas.

Remaja sejati, ialah seorang manusia yang mampu sadar diri, berakal budi, dan memiliki imajinasi yang luas...seluas samudera di lautan. Bahkan, harus lebih........!
Kuntum Bunga Kampung (1928-2009)

Kuntum Bunga Kampung (1928-2009)


ah itu burung bercengkrama riang
membedah rasa yang diaduk kesepian
di depan pusaramu aku melayang
berimajinasi meneteskan selaksa harapan

rekahan jiwa ini mengembung pilu
menari di atas selubung kerinduan
mencari sepercik hati berdawai ngilu
perkuburanmu kini sisakan kemasaman


masihkah kudekap erat kegelisahan berbalut harapan?
adakah kau rasakan suasana batin yang sama laiknya kurasakan?
ah pastinya kau tak merasakan?
aku yakin kau pun tak berpengharapan seperti yang kuharapkan!

batu nisan ini menjadi saksi bisu
di gelaran hatiku bersemayam keresahan
berpendaran menjadi tangisan menggunung
di dalam diri ini aku hanya bisa berdecak kagum
kadang rasa tak percaya mengulum sinabar

Oo, di......kampung ini telah lahir
manusia yang resah dan jengah atas kemiringan
yang tak pernah berhenti menetaskan
kederitaan dan penderitaan hidup dibalut refleksi agung

Oo, di.....kampung ini juga dirimu telentang kaku
mencoba bertamu sekaligus bercengkrama
dengan tetanggamu yang mencium harum
kuntum bunga yang puluhan tahun tak pernah tercium

selamat jalan sang maestro (1928-2009)
selamat bercengkrama dengan-Nya
akankah aku di sini menjadi gelisah sepercis dirimu.....?

Garut, 22 September 2009
Seandainya Barack Obama Dinaturalisasi

Seandainya Barack Obama Dinaturalisasi

Hmm, suara ngebas khas Barack Obama ketika berpidato memang membuat saya kesem-sem. Tak hanya itu setelah 500 lebih hari dirinya memimpin negeri Super Power, tak lantas membuatnya terlihat gembuk dan gembrot. Ia terlihat masih selincah ketika dirinya berorasi memukau para pendukungnya saat Pemilihan Presiden.  Saya melihat Barack Obama seperti warga Indonesia, yang kebetulan — entah satu keturunan — memang mirip dengan wajah sang presiden AS itu. Apalagi ketika dirinya sangat murah senyum dengan mengumbar lambaian tangan disertai pengucapan “Assalamualaikum” kepada rakyat Indonesia.

Saya menjadi sangat bersemangat seandainya Barack Obama dinaturalisasi. Ini seandainya lho. Bukan sungguhan. Kalau memang betul bahwa alasan untuk melakukan naturalisasi dalam sepak bola berkaitan dengan prestasi. Sebagai seorang pemimpin yang pernah menjadi warga Indonesia. Pernah menyukai Nasi goreng seperti saya. Dia juga menyukai Bakso seperti halnya isteri saya. Bahkan, emping dan rambutan juga merupakan makanan pavorit saya. Tetapi kualitas kepemimpinannya tak usah diragukan. Dia adalah satu dari Presiden AS yang ramah, plural, popular, bahkan membela warga negaranya dari ancaman bahaya. Seperti asuransi kesehatan buat warga miskin. Tetapi, entah kenapa kini Barack Obama dapat bergandengan dengan orang seganteng SBY. Indonesia dua hari ini disorot media dari berbagai penjuru dunia.

Saya sering mendengarkan pidato Barack Obama via Youtube. Di situ video social network tersebut pasti Anda akan memperoleh sebanyak-banyaknya pidato Obama. Sampai-sampai saya bisa menirukan suara yang keluar dari tenggorokan Obama. Sayangnya, meskipun bahasa Inggris Obama terdengar jelas dan mudah; saya tak bisa mengucapkannya kembali. Karena pidato seorang presiden tidak seperti album rekaman atau lagu-lagu yang mudah diingat karena berulang-ulang diucapkan.

Dengan realitas bahwa (maaf) kotoran Obama pernah menghiasi wilayah Menteng. Air seninya juga pasti telah membuat tanah di sekitar rumahnya menjadi subur. Ia juga pernah luka sebagian tubuhnya akibat bermain dengan teman-temannya. Ia — meskipun saya tak sempat bertatap wajah — adalah idola saya. Dan, seandainya dia bisa dinaturalisasi untuk memimpin negeri ini; hehe saya adalah orang pertama yang mendukungnya. Biar pun saya diklaim “kafir” oleh muslim fundamentalis, oleh aktivis kiri dan oleh kaum “berjenggot” mana pun. yang jelas, saya mengidolakan satu sisi dari sang presiden AS ini.

Apakah yang diidolakan saya? SENYUMANNYA ITU BRADER!!!!!!!!!!!!!!! Maka tak salah apabila Michelle terus setia menemaninya. Di India, Barack Obama dan istrinya menari tarian India. Di sini, karena sedang terjadi bencana atau ada kesibukan lain, Obama hanya satu hari dua hari saja menghirup udara Jakarta yang tak seindah dahulu. Kalau mau main lumpur-lumpuran seperti dulu, mungkin harus agak lebih lama, ya, kangjeng Obama tinggal disini. Syukur-syukur dirinya betah dan mau dinaturalisasi. Ah…harapan naif saya pikir. Tapi tak apa-apa, yang jelas saya akan bersaing dengan kompasianer yang masih mengelu-ngelukan SBY dan kroni-kroninya.

Tulisan ini hanya seandainya. Seandainya kepolitikan Indonesia mengakui “naturalisasi politikus” untuk memperbaiki kinerja pemerintahan dalam menjaga kesejahteraan rakyat. Kalau pemimpin dari bangsa sendiri tidak bisa menjadi pemimpin yang baik, tak ada salahnya kalau kita mengimpor politisi yang berkualitas dari luar negeri. Nanti, anggota DPR, MPR, Menteri, Wakil dan Presiden, keren kan, kalau terdapat politikus asing. Ah, dasar kau ini…seperti dalam sepakbola saja. Hahaha
Lionel Messi “yang dijanjikan”

Lionel Messi “yang dijanjikan”

Seandainya sepakbola adalah “Agama” dan dalam setiap agama mesti ada yang membawa risalah; maka Lionel Messi bisa kita umpamakan sebagai seorang Nabi bagi agama baru sepakbola. Puncaknya pada pertandingan besar di Liga Champion kemarin melawan Arsenal. Lionel Messi, yang terlihat main luar biasa; membuat saya berdecak kagum. Sehingga pelatih Barca Pep Guardiola sesumbar, “Tak ada cara untuk mendeskripsikan penampilan Messi. Tak ada kata yang pas. Anda hanya harus melihatnya sendiri.”

Bayangkan, selama 80 menit pertandian lebih, Messi mencetak empat gol dengan pantastis. Saya yang tak terbiasa menjadi pengamat sepakbola – ketika menonton atraksi Messi – dibikin geleng-geleng kepala. Bukan benci. Melainkan takjub atas skill-kemampuan Messi mengolah si kulit bundar hingga membuahkan gol. Namun, di Piala Dunia mendatang apakah dia mampu mengantarkan negaranya, Argentina untuk menjuarai kembali piala bergensi antar Negara ini?

Tak tahulah. Tapi sebagai pendukung fanatik Argentina, saya sangat berharap prestasi Messi di liga Eropa tersebut dapat mengantarkan negaranya menjadi juara. Apalagi, Maradona “si Tangan Tuhan” ialah pelatih tim nasional. Ketika “si tangan Tuhan” berdampingan dengan “sang messiah sepakbola” bukan tidak mungkin akan mengejutkan publik pecinta sepakbola di dunia. Meskipun, beberapa pengamat dan media massa di Argentina meragukan keberhasilan Maradona dan penampilan Messi; saya tetap mendukung Argentina menjadi juara Piala Dunia 2010.

Pada tahun 90 saja Argentina bisa mengejutkan dunia, meskipun pada awalnya tim nasional Argentina harus melalui babak Playoff untuk menjadi peserta piala dunia 1990. Kini, 30 tahun berlalu. Maka bukan tidak mungkin lagi tim Nasional Argentina akan menjadi juara. Setelah Argentina, saya mengidolakan Spanyol, Perancis, Brazil, dan Portugal. Ah, sepakbola pada Juni mendatang akan menjadi ritual “keagamaan” di berbagai penjuru dunia. Para pemain, ibadahnya adalah mengocek dan mengoper bola; kalau bisa mencetak gol. Sementara itu, bagi penonton atau penggemar, cukup hanya dengan sebungkus rokok, berteriak-teriak, kadang mencaci, bahkan sambil menghisap rokok. Mereka seolah sedang melaksanakan ibadah yang sering memenuhi sistem keagamaannya.

Ah, okelah kalo begitu….    
Sari Kebijaksanaan di Taman Kebenaran

Sari Kebijaksanaan di Taman Kebenaran

DOKTRIN sufi yang terkenal adalah mengenal proses penciptaan sebagai ketetapan dan Entifikasi-Diri dari nama dan Sifat Tuhan ke dalam ranah arketifal (al-a’yan al-tsabitah) yang kekal dari semua ciptaan. Inilah yang disebut Seyyed Hossein Nasr dengan al-fayadh al-aqdas (pancaran tersuci) dalam setiap makhluk Tuhan. Kemudian arketif kekal tersebut, menurut Nasr dimasuki “ruh Maha Penyayang” Tuhan, sehingga lahirlah segala bentuk-wujud yang ada di muka bumi.

Alam semesta, termasuk apa yang ada di dalamnya (manusia, hewan, tumbuhan, bebatuan, dsb) adalah hasil dari tiupan Tuhan dengan nafas al-rahman. Oleh karena itulah, semua yang ada di alam semesta hakikatnya merupakan nafas Allah. Realitas kealaman, bagi Nasr, merupakan pantulan dari kesucian ilahi (teofani) yang sejatinya mendapat perlakuan yang bijaksana dan arif dari sang khalifah fi al-ardh (umat manusia). Secara indah, Seyyed Hossein Nasr, dalam buku ini menyitir rangkaian sastrawi Matsnawi karya Jalaluddin Rumi: Andaikan segala yang ada memiliki lidah/Maka akan tersingkaplah seluruh tirai dari segala yang ada//.

Seyyed Hossein Nasr, adalah guru besar studi Islam di Universitas George Town. Ia seorang akademis yang berpuluh tahun mereguk ilmu-ilmu tradisional dan modern dari Barat. Bagi dunia, Nasr ialah juru bicara utama ikhwal spiritualitas dan filsafat Islam dengan bahasa modern, kontemporer nan canggih. Baginya, tradisi tasawuf telah dilestarikan selama berabad-abad dengan memadukan daya inisiasi (wilayah/walayah) dan berkat (al-barakah) yang diperlukan untuk bekal perjalanan spiritual umat manusia.

Yang menarik dari buku ini. Selain bahasanya yang reflektif dan spiritualistis; Seyyed Hossein Nasr – seperti ditulis Prof. Komaruddin Hidayat – mampu mengangkat kebenaran perennial tasawuf secara modern. Tak hanya itu, di tengah krisis lingkungan yang mendera muka bumi ini dengan beragam atribut: pemanasan global (global warming), bencana (natural disaster), dan perilaku merusak alam oleh segelintir umat manusia. Nasr, menyadarkan kita bahwa sesungguhnya hakikat alam, baik makrokosmos maupun mikrokosmos adalah pancaran ruh ilahi. Segala yang ada di muka bumi, dalam bahasa lain, sebagai “wujud lain” Tuhan.

Hal itu mengindikasikan laku eksploitatif dan destruktif yang kita lakukan pada ekosistem kehidupan (alam sekitar) – untuk dalih pembangunan – merupakan bentuk pengkhianatan terkejam pada eksistensi Tuhan. Ini dikarenakan manusia terhijab keangkaramurkaan, keangkuhan, dan kesombongan. Dengan gamblang, ia menopang hipotesis kesufiannya secara modern dengan pendekatan filsafat analitik-religius. Ia – dalam buku ini – memandang bahwa wujud memiliki tingkatan-tingkatan yang menandai bentuk realitas tertinggi. Realitas terbawah (alam ini), bagi pakar Sufisme ini, diselubungi hijab tetapi sekaligus mengungkapkan realitas tertinggi (sang Pencipta).

Tujuan dari kehidupan spiritual untuk mengangkat atau mendobrak tabir yang menyelubungi kesadaran manusia atas realitas yang sedang dijalaninya. Maka, tasawuf eksistensinya adalah sebagai alat dobrak yang dirancang secara spiritual. Tasawuf, dalam buku ini, seperti diungkapkan Seyyed Hossein Nasr, berbicara tentang yang tampak (al-zahir) dan yang tersembunyi (al-bathin) yang tak hanya menyangkut hubungan manusia dengan Tuhan, akan tetapi dengan seluruh Makhluk-Nya (hlm. 69).

Beliau (Nasr) pun mengutip syair sastrawi psikospiritual dari filsuf dan penyair Persia abad 11, Nashiri Khusraw: Pandanglah kenyataan batiniah dunia dengan mata/yang memandang ke dalam/Karena dengan mata yang memandang ke luar engkau takkan pernah/dapat melihat yang di dalam//. Tabir yang menyelubungi kesadaran perennial manusia dapat disingkapkan (kasf al-mahjub) dengan menjelajahi taman kebenaran. Segala yang ada, termasuk Hadirat Yang Satu akan tersingkap.

Buku versi Indonesia yang diterbitkan penerbit Mizan ini tak berlebihan jika menjadi koleksi bacaan buku-buku spiritualitas Anda. Sebab, di dalamnya terkandung intisari kehidupan yang dibutuhkan manusia modern yang serba sibuk. Seyyed Hossein Nasr, dalam buku ini, berhasil mengetengahkan khazanah sufistik dalam bahasa yang canggih. Selamat mereguk sari tasawuf yang nikmat untuk dikonsumsi ruhani Anda.

dimuat Harian Republika, Jumat 09 April 2010.

Judul                : The Garden of Truth; Mereguk Sari Tasawuf
Judul Asli         : The Garden of Truth; The Vision and Promise of Sufism, Islam’s Mystical Tradition
Penulis             : Seyyed Hossein Nasr
Penerjemah    : Yuliani Liputo
Penerbit          : Mizan, Bandung
Cetakan           : I, Januari 2010
Tebal               : 304 hlm
Harga              : Rp. 57500

28 November 2018

"Fatihah" Bencana

"Fatihah" Bencana

SILIH bergantinya bencana di bumi Indonesia, kendati tidak sehebat gempa di Jawa Barat, Padang, dan Tsunami di Aceh; bukan berarti optimisme hidup kita mesti berhenti. Masih segar dalam ingatan kolektif, longsor di Kabupaten Bandung beberapa minggu ke belakang. Beberapa hari ini, guyuran hujan lebat dibarengi kilatan petir dan gemuruh angin juga, sejatinya tak membuat kita dipenuhi kegelisahan dan putus asa. Bencana, dalam doktrin ajaran Islam, ialah ”kiamat shugra” yang dapat menyadarkan kita ikhwal substansi kehidupan yang kerap kita abaikan.

Bencana dalam kehidupan dapat berfungsi sebagai pemantik kesadaran ekologis sekaligus kesadaran teologis dalam diri umat manusia. Kesadaran yang sempat mengendap menjadi reflika tak tersentuh refleksi itu, ketika bencana ujug-ujug muncul ke alam sadar tanpa kendali. Adakah perilaku destruktif umat manusia yang mengakibatkan alam kembali menyemburkan aneka bencana?

Pakar sufisme, Seyyed Hossein Nasr, dalam buku “The Garden of Truth; Mereguk Sari Tasawuf” (Mizan, 2010) mengetengahkan penafsiran maknawi terhadap surah al-Fatihah. Surah Al-Quran yang sering dibaca minimal 17 kali oleh umat Islam tersebut, katanya, mengandung konsep tauhid yang bersifat ekologis. Manusia yang menyadari bahwa Tuhan pencipta alam raya, ia akan memahami hubungan yang dibina dengan alam haruslah bersifat keilahiyan. Ini artinya, memosisikan alam sejajar dengan eksistensi dirinya sebagai makhluk Tuhan yang perlu dihormati.

Kesadaran eco(teo)logis

Pendapat Seyyed Hossein Nasr itu berpijak pada kalimat “alhamdulillahi rabbi al-alamin” dalam surah al-Fatihah sebagai inti pentingnya kesadaran ekologis yang bersifat ilahiyah (eco-teologis). Kalimat pujian “alhamdulillah” kemudian dilanjutkan dengan kalimat “rabbi al-alamin” menunjukkan umat manusia sejatinya menempatkan alam sebagai bagian dari-Nya. Sebab “rabbi al-alamin” secara etimologis berarti: pemelihara, penjaga, atau laiknya ibu yang melahirkan alam ini. Menghormati alam berarti menghormati sang pemelihara, sang pemilik atau sang penjaga alam (Allah).

Namun, keserakahan umat manusia menyebabkan alam ini mulai mengidap kesakitan di setiap rusuk, sehingga ekosistem tidak berjalan seimbang. Ketika musim hujan tiba, tumpukan sampah mengakibatkan aliran air tak mengalir di tempat semestinya. Alhasil, banjir dan longsor tentunya merebak pada musim ini sebagai pemantik kesadaran kita bahwa mesti mewaspadai labilitas topografi alam. Seandainya surah al-Fatihah dipahami secara maknawi oleh ratusan juta umat Islam Indonesia. Entah itu oleh pejabat, tokoh masyarakat, rakyat, agamawan, dan yang lainnya. Di dalamnya ada pemantik yang siap menyalakan kesadaran umat manusia: membina hubungan yang harmonis dengan alam adalah misi suci ajaran Islam.

Di kedalaman jiwa umat manusia tersimpan reflika kesadaran yang terpendam. Tuhan, sang pemilik alam raya, sebelum umat manusia lahir ke muka bumi meniupkan ruh “kesadaran” untuk berelasi seharmonis mungkin dengan alam sekitar. Namun, karena syahwat atau nafsu keserakahan sedemikian kuat dalam diri manusia akhirnya kesadaran tersebut terpendam, kemudian menghilang. Manusia, pada posisi ini, mengagungkan peradaban material sehingga alam menjadi objek eksploitasi “seksis” yang berujung pada kerusakan ekologis.

Tugas suci kita, sebagai makluk-Nya adalah memperjuangkan ide, harapan, cita-cita, resolusi diri, dan imajinasi kesejahteraan bangsa agar mewujud dalam bentuk nyata. Dalam bahasa lain, memungut kembali ”reflika kesadaran” sebagai manusia berkesadaran ekologis harus mulai dicamkan tanpa henti di sanubari. Bukan lantas menjadi angan yang bersifat fana dan tiada. Apalagi di tengah ketidakseimbangan ekosistem, cuaca yang tak terprediksi, bencana alam terjadi di hampir setiap daerah; kita sejatinya bahu membahu membenahi ”relasi tak seimbang” untuk menghormati saudara kita (alam sekitar).

Peradaban

Indonesia memiliki potensi besar menjadi negara hebat di dunia kalau ditopang dengan konstruksi peradaban utama. Tentunya tanpa mengabaikan tradisi ketimuran (misalnya local wisdom, spiritualitas dan immaterial), peradaban yang kita bangun sejatinya tak bersifat eksploitatif dan dekonstruktif.

Dalam upaya mewujudkan peradaban utama, ormas dan tokoh Islam sepatutnya mengejawantahkan visi pembebasan. Ketika pengrusakan alam merajalela, agama sejatinya memberikan advokasi yang membebaskan alam dari tangan-tangan tak bertangungjawab manusia. Al-quran, khususnya surah Al-Fatihah, me­negaskan individu harus berterima kasih atas pemberian alam oleh Tuhan dalam kehidupan ini. ”Fatihah bencana” bagi kita ialah melakukan pendobrakan atas logika pembangunan bangsa ini dari yang mengeksploitasi alam ke arah logika pemeliharaan agar pembangunan menjadi berkelanjutan (sustainable).

Kesadaran seperti itulah yang sepatutnya kita punguti bersama. Tuhan menempatkan manusia sebagai faktor penentu kelahiran sebuah perubahan dalam se­jarah kehidupan. Hancur dan bangkitnya peradaban manusia ditentukan sikap, mental, dan paradigma yang kita bangun dalam menggulirkan pembangunan. Karena itu, sebuah keniscayaan bagi umat manusia kembali meresapi tujuan diciptakan dirinya ke muka bumi.

Selain menebarkan benih ”rahmat” bagi alam sekitar (rahmatan lil alamin), dalam surah Al-Fatihah tujuan kita diciptakan ialah bersyukur atas pemberian-Nya berupa alam (alhamdulillahi rabbi al-alamin), di mana hidup kita bergantung kepadanya. Tak heran jika Tuhan sangat mencela manusia yang melakukan pembunuhan (terhadap manusia) dan merusak (alam sekitar). Wallahua’lam
Religiusitas Pembangunan Bangsa

Religiusitas Pembangunan Bangsa

KEMAJUAN sebuah Bangsa-Negara (nation-state) terletak pada tersedianya sumber daya insani yang berkualitas dan menjunjung tinggi moralitas-etika dalam kesehariannya. Karena itulah, arah pembangunan bangsa mesti dibarengi dengan masyarakat berkualitas dan bertumpu pada nilai-nilai religiusitas. Kita tahu bahwa persoalan yang melilit bangsa ini; baik di ranah politik, ekonomi, budaya, hukum, dan kinerja birokrat berangkat dari minimnya kesadaran moral.
Apabila ditinjau dari sumber daya alam, Negara kita terdiri dari wilayah yang dipenuhi potensi kekayaan dahsyat. Namun, yang terjadi adalah sebaliknya. Potensi alam itu tidak dapat dimanfaatkan secara maksimal karena kita tidak memiliki karakter kebangsaan yang kuat dan kokoh. Ini terlihat dari pembangunan yang ditelorkan pemerintah belum pro-rakyat, sebab masih diinisiasi kepentingan sektoral yang bersifat pribadi dan kelompok.
Tak heran bila prestasi human index development di setiap daerah menggambarkan kesenjangan secara massif. Merebaknya kemiskinan, pengangguran, amoralitas, korupsi, kolusi, dan nepotisme; mengindikasikan lemahnya kualitas manusia Indonesia. Minimnya keteladan birokrat juga seakan menjadi akar penyebab kehilangan publik figur (lost figure) sehingga banyak generasi muda yang tidak mengoptimalkan potensi diri, malah terjebak pada anarkisme diri, yang mengakibatkan lahirnya aksi chaos dalam kesehariannya.
Karena itulah, pembangunan karakter bangsa, sejatinya mengikutsetakan nilai-nilai Islam. Sebab, mayoritas penduduk negeri ini terdiri dari umat Islam, sehingga tidak salah bila menyertakan nilai-nilai keislaman ketika merumuskan karakter bangsa (nation character building) untuk kepentingan publik.
Krisis keteladanan
Dalam menanggulangi carut-marut di negeri ini, kita memerlukan kerja kolektif antara pemerintah dan masyarakat dengan mengembangkan karakter luhung. Misalnya, dengan menghidupkan sikap jujur (shidiq), akuntabel (amanah), transparan (tabligh), dan kualitas-kompetensi-kapasitas diri (fathanah). Sebab, yang dihadapi bangsa hari ini – dengan merebaknya dehumanisasi – berangkat dari krisis keteladanan, sehingga kemiskinan bukan hanya miskin secara material, tapi miskin dari “stok manusia ideal”. Dalam bahasa lain, birokrat di negeri ini tidak menjadikan Agama sebagai falsafah hidup (way of life).
Ada beberapa karakteristik keteladanan, sebagai salah satu bentuk upaya membangun karakter bangsa. Islam, sebagai Agama yang dianut mayoritas rakyat Indonesia, sejatinya berperan-serta merumuskan pembebasan manusia Indonesia dari belenggu kemiskinan dan ketiadaan tokoh yang patut diteladani. Pada posisi demikian, kerjasama birokrasi pemerintah dengan lembaga dakwah serta instansi lembaga pendidikan tinggi Islam mesti dibangun agar terselenggara proses karakterisasi bangsa religius, kompeten, dan berkualitas.
Nurcholis Majdid (2010) mengatakan, salah satu segi kelebihan Islam, ialah terletak pada keuniversalan nilai yang dikandungnya dalam kehidupan manusia di jagad raya. Seraya mengutip ayat Al-Quran, Cak Nur, melegitimasi hal ini dengan Surah Saba (34) ayat 28 sbb: “Kami (Allah) tidak mengutus engkau (Muhammad) melainkan untuk seluruh umat manusia, sebagai kegembiraan dan pembawa ancaman”. Kemudian, ia juga mengutip surah al-Anbiya (21) ayat 107, sbb: “Tidaklah Kami (Allah) mengutus engkau (Muhammad) melainkan sebagai rahmat untuk seluruh alam”.
Ayat tersebut mengindikasikan adanya kesadaran sangat umum di kalangan umat Islam, bahwa ajaran Islam mengandung universalitas yang patut menjadi bahan renungan, landasan pembebasan, dan sumber penyelesaian persoalan yang melilit umat manusia sampai akhir zaman. Kesadaran pentingnya nilai etika yang diambil dari semangat keagamaan dalam konteks kebangsaan, memegang peran penting guna menciptakan kualitas imani, akhlaqi, dan aqli warga-bangsa. Kesadaran eksistensial seperti ini salah satunya yang dapat menggiring kesadaran warga menanggalkan kesadaran material.
Dengan demikian, kesadaran ini dapat menuntun seorang warga Negara, baik pejabat maupun birokrat mengejawantahkan prinsip keadilan (al-adalah) dalam kehidupan praksis. Allah Swt., berfirman sbb: “Dan Allah telah meninggikan langit dan Dia meletakkan neraca (keseimbangan) supaya kamu tidak melampaui batas terhadap neraca itu. Dan tegakkanlah neraca keadilan itu dengan seksama, dan janganlah kamu mengurangi neraca itu.” (QS. Al-Rahman [55]: 7-9).
Pesan ilahi di atas, mengindikasikan religiusitas harus menjawab semua pertanyaan tentang bagaimana seharusnya yang dilakukan, sehingga menempatkan akal-pikiran pada koridor keadilan untuk umat manusia. Menjalankan keadilan dapat menempatkan kerja sebagai manifestasi cinta terhadap sesama. Sebab, manusia pada dasarnya merupakan makhluk super bajik, apabila radar hatinya dihidupkan secara optimal.

Menjunjung keadilan
Kita sejatinya mendukung lahirnya manusia-manusia yang menempatkan keadilan sebagai misi hidup, dengan mengoptimalkan keyakinan ukhrawi, hingga mengejawantahkan aktus bermanfaat untuk semesta alam (rahmatan lil alamin). Di dalam Al-Quran ada yang disebut dengan hayat al-dunya dan akhirat. Ketika seorang manusia mampu menyadari fungsi dirinya untuk menerapkan ajaran kemanfaatan kepada sesama, hal itu mengindikasikan kehidupan rendah (hayat al-dunya) menjadi jalan mulus untuk menuju puncak kehidupan sempurna.
Nurcholis Madjid, dalam buku berjudul “Islam Agama Kemanusiaan” (2010:183) berpendapat menegakkan keadilan ialah bagian dari sunnatullah, hukum objektif, immutable (tidak pernah berubah), bagian dari hukum kosmis, yakni hukum keseimbangan (al-mizan) di jagad raya. Dalam konteks kebangsaan, konsep al-mizan (keseimbangan) ialah elemen fundamental, yang mampu mengejawantahkan prinsip-prinsip keadilan hingga dapat menciptakan kesejahteraan dalam sebuah tatanan Negara-bangsa.
Ketika tidak menjalankan keadilan dalam hidup keseharian, hal itu menandakan kita tengah melawan hukum-Nya. Apa yang dijelaskan Cak Nur di atas, memang betul. Bahwa misi kemanusiaan merupakan sunnatullah yang mesti diejawantahkan dalam diri, sebab merupakan bagian dari pengamalan ajaran Tuhan.
Bagi kita, mengejawantahkan misi kemanusiaan yang tercermin dalam agama (Islam) untuk kepentingan rakyat ialah kemutlakan. Oleh karena itu, kerja politik setiap parpol -- baik nasionalis maupun Islam -- sejatinya diarahkan untuk memberdayakan warga. Sehingga dapat dirasakan bukti kongkritnya oleh warga di tiap daerah. Tak arif rasanya apabila warga hanya dimanfaatkan ketika sedang melaksananakan pesta demokrasi alias pemilihan umum saja. Sebab, hal itu merupakan pengingkaran terhadap prinsip demokrasi, misi kemanusiaan, dan perintah untuk berlaku adil. Wallahua’lam
Gangsingku dicuri orang*

Gangsingku dicuri orang*

Aku susun pakem permainan gangsing buat melawan orang yang berusaha mencurinya dariku. Dari saluran FM sebuah radio swasta memberitakan bahwa gangsingku akan dicuri bangsa lain. Bangsa yang tak punya kreativitas budaya setinggi saudara-saudaraku di Indonesia.

Aku kembali mengukuhkan bahwa aku dan saudara-saudaraku adalah para pencipta permainan gangsing. Tak sudi kalau nasibnya seperti angklung dan kain batik, yang distempeli cap Ki Malaya. Aku susun buku tentang tata-aturan bermain gangsing, jangan-jangan ada maling yang hendak mencuri di tengah kelengahan. Kan mereka bakal malu kalau mencuri, sementara bukti tertulis ada dihadapan mata setengah memandangnya itu.

Ini lho buku Panduan bermain Gangsing!
-- 03 November 2007 

* judul ini terinspirasi oleh pencurian-pencurian kekayaan intelektual bangsa Indonesia oleh bangsa luar. 
Televisi dan Pendidikan

Televisi dan Pendidikan

KENDATI televisi bukan media massa yang pertama kali ada, namun perkembangannya dari masa kemasa sangat cepat. Usia televisi di Indonesia, baru berumur 45 tahun. Akan tetapi, dengan kurun yang relative singkat itu, televisi terus mengalami perkembangan. Dari fitur layer hitam putih, sampai televisi corak warna. Tadinya hanya ada satu chanel, kini terdapat banyak chanel. Mungkin di Indoensia sendiri terdapat puluhan chanel. Dari perusahan penyiaran televisi raksasa sampai yang lokal. 

Sebenarnya, keberadaan televisi di Indonesia, karena pemerintah pada tahun 1961 mendapat proyek Asean Games. Acara ini ingin disiarkannya kedaerah yang terjangkau oleh satelit televisi yang waktu itu masih sangat bersifat lokal. Maka diputuskanlah menghadirkan media massa yang sarat dengan manfaat dan kemewahan ini. Kemudian di bangun Panitia Persiapan Pengembangan Televisi Indonesia pada tahun 1961. barulah pada tanggal 20 Oktober 1963 didirikan yayasan TVRI—Televisi Republik Indonesia—berdasarkan keputusan Menteri No. 215/ 1963. sejak itu, televisi sudah bisa dimanfaatkan (ditonton), kendati masih sangat sederhana.

Dari awal keberadaanya sampai sekarang, televisi adalah media massa yang sangat digemari masyarakat. Maka tidak heran jika televisi menjadi icon utama media massa dibanding dengan surat kabar, majalah, bahkan internet sekalipun. Dengan kemewahan ini, maka tujuan pemerintah menghadirkannya tiada lain untuk edutaitment—mendidik sekaligus menghibur. Bahkan, keberadaan yayasan TVRI (1963) pertama kali ada karena untuk mempersatukan bangsa dengan pesan-pesan pendidikan yang ditayangkannya.

Menurut Drs. Darwanto, S.S, “salah satu alasan kenapa televisi bisa dijadikan sebagai media pendidikan, karena televisi mempunyai karakteristik tersendiri. Audio visual yang lebih dirasakan perannya dalam mempengaruhi masyarakat. sehingga dapat dimanfaatkan oleh pemerintah dalam menyukseskan pembangunan Negara dalam bidang pendidikan, melalui televisi sebagai sarana pendukungnya.”

Televisi era modern

Sejalan dengan arus modernitas, perkembangan, televisi bukan hanya dari hardware saja. Bahkan sekarang menjadi kebutuhan primer bukan sekunder atau tersier apalagi kebutuhan mewah. Tayangan-tayangannya pun berkembang. Memang ini sangat wajar, karena televisi selalu menayangkan perkembangan manusia dari masa kemasa. Namun, jika pertama kali kemunculannya syarat akan nilai pendidikan, sekarang dengan perkembangannya televisi cenderung menyajikan tayangan hiburan tanpa memperhatikan nilai pendidikan. Tayangan berita, dialog, potret kehidupan budaya, olahraga, drama pendidikan misalnya, cenderung lebih longgar jam tayangnya dibanding dengan sajian yang hanya mengutamakan sisi hiburan yang kurang mendidik. Memang masih ada chanel yang kental dengan tayangan pendidikanya, tapi, chanel yang menayangkan sisi hiburan lebih banyak.

Realita tayangan televisi era modern, menyudutkannya pada media pendidikan yang tidak lebih baik dari Koran, majalah pendidikan dan buletin pendidikan. Dalam kata lain nilai pendidikanya menurun. Karakteristik audio-visual televisi memang salah satu kemewahanya dan sangat kuat mempengari khalayak. Akan tetapi, jika dibidik sebagai media pendidikan zaman sekarang yang paling baik, sepertinya perlu ditinjau kembali? Antara tayangan yang mendidik dan hanya hiduran semata—yang terkadang tidak memuat nilai pendidikan sama sekali—dengan tidak mengatakan semua tayangannya amoral.

Tayangan televisi tidak terlepas dari tayangan-tayangan yang menarik dan cenderung menghibur, itu memang seharusnya untuk sebuah media massa. Tetapi, disamping menarik juga harus edukatif sebagai tontonan masyarakat umum. Jika ada satu sajian televisi yang syarat dengan nilai negatife, misalnya sinetron yang menayangkan tentang pacaran anak sekolah yang terlalu bebas. Hal ini akan mudah dicerna oleh anak-anak sekolah karena pengaruh televisi sangat kuat. Untuk itu, sejatinya orang yang berperan dibelakang layer atau perusahaan penyiaran televisi untuk tidak menayangkan hal tersebut.

Dimasyarakat yang kaya akan nilai kearifan budaya dan agama, tayangan tersebut sangat tidak baik. Bisa-bisa mengikis etis-moral masyarakat yang arif. Televisi (produksi tayangan) harus bisa memberi kontribusi pada masarakat dengan mengetengahkan nilai-nilai pendidikan. Memberi hiburan pada masyarakat, benar itu sebuah kontribusi. Namun, kalau mempengaruhi masyarakat jadi tidak beretika—sesuai dengan kearifan budaya dan agama—itu kontribusi atau racun sosial?

Tugas masyarakat sebagai konsumen televisi, harus bisa memilah dan memilih tayangan yang selayaknya ia konsumsi. Jangan sampai menyalahkan media televisi—asumsi sebagian masyarakat sekarang—sedangkan dia sendiri terpengaruhi. Ariflah dalam memilih tayangan, jadikan tontonan sebuah tuntunan, bukan hiburan semata. Belajarlah dari televisi dengan mencari tayangan yang mendidik.


Pesantren Dan Tantangan Era Modern

Pesantren Dan Tantangan Era Modern

M Dawam Rahardjo (1995: 3) mengungkapkan bahwa pesantren adalah lembaga yang mewujudkan proses wajah perkembangan sistem pendidikan Nasional. Secara historis pesantren tidak hanya mengandung makna keislaman an sich, melainkan menampakkan keaslian (indegeneous) daerah Indonesia; sebab lembaga yang serupa sudah terdapat pada masa kekuasaan Hindu-Budha, sedangkan Islam meneruskan dan mengislamkannya.

Pondok pesantren Islam sebetulnya banyak berperan mendidik sebagian bangsa Indonesia sebelum lahirnya lembaga-lembaga pendidikan lain yang cenderung mengikuti pola “Barat” yang modern. Oleh karena itu, lembaga pendidikan pesantren acapkali dijuluki sebagai basis pendidikan tradisional yang khas Indonesia. Pondok pesantren berkembang pesat dan lebih dikenal kegiatannya kira-kira sejak tahun 1853 dengan jumlah santri sekitar 16.556 dan tersebar pada 13 kabupaten di pulau Jawa (Z. Dhofier; 1994).

Dari tahun ke tahun jumlahnya mengalami peningkatan yang signifikan, hingga pada tahun 1981 terdaftar hampir sekitar 5.661 pondok pesantren dengan jumlah santri 938.597 yang diasuh dan dididik pesantren (A. Syamsuddin, 1989). Dan, sudah dapat dipastikan jika pada tahun 2000-an jumlahnya telah mencapai ratusan ribu pesantren di seluruh Indonesia dengan puluhan juta santri yang telah dan sedang dididik oleh pesantren.

Lantas, pertanyaan yang patut diajukan dalam tulisan ini adalah: bagaimana peta tantangan yang akan dihadapi oleh lembaga pendidikan warisan dari perpaduan budaya asli Indonesia dan khazanah keislaman dalam menjawab tantangan modernitas? Apakah mesti menyesuaikan (ngigeulan) zaman ataukah sampai pada mengelola tantangan era modern yang cenderung menggusur manusia pada pemahaman positivistik?

Sebab, sebagai satu-satunya lembaga pendidikan swasta, pesantren memiliki kekuatan yang teramat dahsyat hasil dari motivasi dari para pendirinya (founding fathers) untuk mencerdaskan bangsa tanpa mengurusi “tetek bengek” keuntungan ekonomis. Melainkan menjalankan amanat pendidikan pofetik yang digariskan oleh ajaran Islam sebagai penghantar terwujudnya manusia yang memiliki harkat, derajat dan martabat yang sangat urgen untuk dimiliki oleh setiap manusia di era modern ini. Seperti yang terdapat dalam sebuah pepatah Rasulullah yang memerintahkan setiap muslim untuk mencari dan mengajarkan ilmu dari mulai lahir sampai desah nafas tidak lagi terdengar (baca: wafat).

Pesantren dan Santri

Menurut catatan sejarah, pesantren merupakan lembaga pendidikan Islam yang diwariskan oleh Syeikh Maulana Malik Ibrahim sekitar abad 16-17 M, seorang guru “walisongo” yang menyebarkan ajaran Islam di tanah Jawa. Sedangkan secara kebahahasaan, pesantren berasal dari kata “santri” yang berarti guru mengaji (bahasa tamil) dengan awalan “pe” dan akhiran “an” yang berarti tempat tinggal (mondok moe) para santri. Dengan demikian, pesantren merupakan mesin copy-an yang bertugas mem-print out manusia yang pintar agama (tafaquh fi al-din) dan mampu menyampaikan keluhungan ajaran Islam serta populer disebut dengan “santri”.

Sebagai ladang penghasil santri, tentunya pesantren harus menghasilkan santri (output) yang berkualitas dan bermanfaat bagi masyarakat sekitar. Output tersebut selain berimplikasi secara personal, juga berdampak positif secara sosial. Adapun hasil implikasi tersebut dapat dilihat dari intensitas keuntungan yang besar yang diproduksi pesantren terhadap lingkungan sekitar, di antaranya berupa keuntungan pragmatis bagi aspek yang berdimensi budaya, edukatif dan sosial.

Dalam dimensi kultural, kehidupan seorang santri di pesantren ternyata seringkali dihiasi dengan prinsip hidup yang mencerminkan kesederhanaan dan kebersamaan melalui aktivitas “mukim”. Kalau saja “abdi negara” ataupun masyarakat modern mampu melakukan hal seperti mereka, akan muncul solidaritas sosial terhadap sesama manusia. Lalu, dari aspek edukatif pesantren juga mampu menghasilkan calon pemimpin agama (religious leader) yang piawai menaungi kebutuhan praktik keagamaan masyarakat sekitar, hingga aktivitas kehidupannya mendapat berkah dari Tuhan. Sedangkan dalam aspek sosial, keberadaan pesantren seakan telah menjadi semacam “community learning centre” (pusat kegiatan belajar masyarakat) yang berfungsi menuntun masyarakat hingga memiliki life style agar hidup dalam kesejahteraan.

Namun, kendati secara output tidak selalu sesuai dengan kebutuhan, setidak-tidaknya secara ideal pendidikan di Pesantren mampu mencetak calon-calon ahli agama yang siap diterjunkan ke masyarakat. Tidaklah heran jika pesantren sebagai “laboratorium sosial” banyak membidani kelahiran tokoh-tokoh yang dihormati serta ikut andil dalam pembangunan bangsa lewat sumbangsih pemikiran yang brilian.

Misalnya saja, K.H.A.Dahlan (pendiri Muhammadiyah), K.H.A.Hasan (tokoh Persatuan Islam), Hasyim Asy’ari (pendiri NU), H.O.S Tjokroaminoto (pencetus SI), Muhammad Natsir (bekas Perdana menteri), Dien Syamsuddin, Abdurrahman Wahid, Nurchalis Madjid dan yang lainnya merupakan aktor intelektual yang dididik oleh lembaga pendidikan Islam seperti Pesantren.

Dalam Al-Quran dijelaskan bahwa: “ Hendaklah ada di antara kamu sekalian segolongan ummat yang menyeru kepada kebaikan, menyeru kepada yang ma’ruf dan mencegah dari yang mungkar, merekalah orang-orang yang beruntung” (Q.S. Ali-Imran, 3 : 104). Artinya, dengan kreasi kultural berupa pendirian pesantren dalam khazanah Islam Indonesia merupakan misi profetik untuk mengaplikasikan kebaikan-kebaikan hingga dapat bermanfaat bagi tegaknya nilai-nilai kemanusiaan di tubuh dan jiwa umat, bangsa dan warga masyarakat.

Tantangan Modernisasi

Jika mencari lembaga pendidikan yang asli Indonesia dan berakar kuat dalam masyarakat, tentu akan menempatkan pesantren di tangga teratas. Namun, ironisnya lembaga yang dianggap merakyat ini ternyata masih menyisakan keberbagaian masalah dan diragukan kemampuannya dalam menjawab tantangan zaman, terutama ketika berhadapan dengan arus modernisasi. Untuk mengubah image yang agak miring ini tentunya memerlukan proses yang panjang dan usaha tidak begitu mudah.

Proses modernisasi telah menguatkan subjektivitas individu atas alam semesta, tradisi, dan agama. Manusia dalam subjektivitas dengan kesadarannya dan dalam keunikannya telah menjadi titik acuan pengertian terhadap realitas. Manusia memandang alam, sesama manusia, dan Tuhan mengacu pada dirinya sendiri. Manusia juga menjadi bebas dalam merealisasikan kehidupannya tanpa campur tangan kekuatan lain di luar dirinya sendiri. Modernitas sebagai periode sejarah yang khas dan superior telah membuat orang percaya bahwa zaman modern lebih baik, lebih maju, dan memiliki referensi kebenaran lebih banyak dari zaman sebelumnya. Selain itu, modernitas menciptakan sikap optimisme dan berbagai kualitas positif tentang masa depan serta kemajuan menjadi tema utama peradaban sejarah umat manusia (Fahrizal A. Halim, 2002: 19-20).

Dalam tradisi pesantren terdapat kaidah hukum yang menarik untuk diresapi dan diaplikasikan oleh pesantren sebagai lembaga pendidikan yang mesti merespon tantangan dan “kebaharuan” zaman. Kaidah itu berbunyi, “Al-Muhafadzatu ‘ala al-qadim al-ashalih wa al-akhzu bi al-jadid al-ashlah”, artinya: melestarikan nilai-nilai Islam lama yang baik dan mengambil nilai-nilai baru yang lebih baik. Hal ini berarti pesantren patut memelihara nilai-nilai tradisi yang baik sembari mencari nilai-nilai baru yang sesuai dengan konteks zaman agar tercapai akurasi motodologis dalam mencerahkan peradaban bangsa.

Ulil Abshar Abdalla (2000) mengatakan bahwa jika tradisi besar Islam yang direproduksi dan diolah kembali, umat Islam akan memeroleh keuntungan yang besar sekali, di antaranya adalah memiliki “tradisi baru” yang lebih baik. Pesantren ketika tampil dengan wajah baru akan menimbulkan apa yang disebut oleh Cak Nur dengan psychological striking force (daya gugah baru).

Untuk itu, tidak layak kiranya jika para pengelola pesantren mengabaikan arus modernitas sebagai penghasil nilai-nilai baru yang baik – meskipun ada sebagian yang buruk – kalau pesantren ingin maju untuk mengimbangi perubahan zaman. Namun, jika tidak mau maju sedikit pun di era yang serba maju ini, silahkan menutup diri dari nilai-nilai baru dan peliharalah nilai-nilai lama yang telah ketinggalam zaman (out of date).

Persoalan ini tentu saja berkorelasi positif dengan konteks pengajaran di pesantren. Di mana, secara tidak langsung mengharuskan adanya pembaharuan (modernisasi)-kalau boleh dikatakan demikian-dalam pelbagai aspek pendidikan di dunia pesantren. Misalnya, mengenai kurikulum, sarana-prasarana, tenaga administrasi, guru, manajemen (pengelolaan), sistem evaluasi dan aspek-aspek lainnya dalam penyelenggaraan pendidikan di pesantren.

Jika aspek-aspek pendidikan seperti di atas tidak mendapatkan perhatian yang proporsional untuk segera dimodernisasi, atau minimal disesuaikan dengan kebutuhan dan tuntutan masyarakat (social needs and demand), tentu akan mengancam survival pesantren di masa depan. Masyarakat (baca: kaum muslimin Indonesia) akan semakin tidak tertarik dan lambat laun akan meninggalkan pendidikan pesantren, kemudian lebih memilih institusi pendidikan yang lebih menjamin kualitas output-nya.

Pada taraf ini, pesantren berhadap-hadapan dengan dilema antara tradisi dan modernitas. Ketika pesantren tidak mau beranjak ke modernitas, dan hanya berkutat dan mempertahankan otentisitas tradisi pengajarannya yang khas tradisional, dengan pengajaran yang melulu bermuatan al-Qur’an dan al-Hadis serta kitab-kitab klasiknya, tanpa adanya pembaharuan metodologis, maka selama itu pula pesantren harus siap ditinggalkan oleh masyarakat.

Pengajaran Islam tradisional dengan muatan-muatan yang telah disebutkan di muka, tentu saja harus lebih dikembangkan agar penguasaan materi keagamaan anak didik (baca: santri) dapat lebih maksimal, di samping juga perlu memasukkan materi-materi pengetahuan non-agama dalam proses pengajaran di pesantren.

Dengan tidak meninggalkan ciri khas lokal, pesntren juga mesti merespon perkembangan zaman dengan cara-cara yang kreatif, inovatif, dan transformatif. Alhasil, persoalan tantangan zaman modern yang secara realitas seakan menciptakan segala produk yang menyibakkan tirai-tirai batas ruang dan waktu seperti dalam gejala global media infromasi dapat dijawab secara akurat, tuntas dan tepat. Wallahua’lam

Kepustakaan

1. M. Dawam Rahardjo; Pesantren dan Pembaharuan, PT Pustaka LP3ES, Jakarta: 1995.

2. Fahrizal A. Halim; Beragama dalam Belenggu Kapitalisme, Penerbit Indonesia Tera, Magelang, 2002.

3. Karel A Steenbirk; Pesantren Madrasah Sekolah, LP3ES, Jakarta, 1994.

4. Sukron Abdilah; Pesantren, Santri dan Modernitas, Surat Kabar Mingguan Medikom, edisi 182 Tahun III 3-9 Juli 2006.

5. H.M. Yacub; Pondok Pesantren dan Pembangunan Masyarakat, Penerbit Angkasa, Bandung, 1985.

6. Zamakhsyari Dhofier; Tradisi Pesantren Studi Tentang Pandangan Hidup Kyai, LP3ES, Jakarta, 1994.